Mahkamah Agung Republik Indonesiasurat Gugatan yang pada intinya menyatakan bahwa PARA
PERMOHONAN PUTUSAN SERTA MERTA DAN PEMBAYARAN UANG PAKSA (DWANGSOM) DALAM PERKARA AQUO BERTENTANGAN
DENGAN HUKUM YANG BERLAKU
39. Bahwa TERGUGAT 2 dengan tegas menolak dalil PARA PENGGUGAT pada butir VI angka 14 s/d 15 halaman 33, yang pada intinya memohon agar putusan atas perkara aquo dapat dijalankan terlebih dahulu atau
Serta merta...
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
serta merta (uitvoerbaar bijvoorraad), karena hal tersebut sangat berlebihan dan bertentangan dengan hukum yang berlaku;
40. Bahwa selain permohonan putusan serta merta yang diajukan PARA PENGGUGAT tidak memenuhi syarat yang ditentukan pasal 180 ayat (1) HIR, ternyata PARA PENGGUGAT juga tidak memberikan jaminan yang cukup untuk menjamin apabila putusan serta merta (uitvoerbaar bij
voorraad) tersebut dibatalkan oleh pengadilan, sebagaimana yang diatur
dalam Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) No. 3 Tahun 2000 Tentang Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) dan Provisionil dan SEMA No. 4 Tahun 2001 Tentang Permasalahan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) dan Provisionil;
SEMA No. 3 Tahun 2000 Tentang Putusan Serta Merta ((Uitvoerbaar Bij
Voorraad) dan Provisionil butir 7 :
"Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/objek eksekusi, sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain, apabila ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan Tingkat Pertama"
SEMA No. 4 Tahun 2001 Tentang Permasalahan Putusan Serta Merta
(Uitvoerbaar Bij Voorraad) dan Provisionil :
"Berhubung dengan hal tersebut, sekali lagi ditegaskan agar Majelis Hakim yang memutus perkara serta merta hendaknya berhati-hati dan dengan sungguh-sungguh memperhatikan dan berpedoman pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 3 Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan Provisionil terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) tersebut.
Setiap kali………...
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Setiap kali akan melaksanakan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) harus disertai penetapan sebagaimana diatur dalam butir 7 SEMA No. 3 Tahun 2000 yang menyebutkan :
"Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/objek eksekusi sehingga tidak menimbulkan kerugian pada pihak lain apabila ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan Tingkat Pertama"
Tanpa jaminan tersebut, tidak boleh ada pelaksanaan putusan serta merta."
Pasal 180 ayat (1) HIR :
"(1) Biarpun orang membantah putusan hakim pengadilan negeri atau meminta apel, maka pengadilan negeri itu boleh memerintahkan supaya putusan hakim itu dijalankan dahulu, jika ada surat vang sah, suatu surat tulisan yang menurut peraturan tentang hal itu boleh diterima sebagai bukti, atau jika ada keputusan hukuman lebih dahulu dengan putusan hakim vang sudah menjadi tetap, demikian pula jika dikabulkan tuntutan dahulu, lagi pula didalam perselisihan tentang hak milik"
41. Bahwa oleh karena permohonan putusan serta merta (uitvoerbaar bij
voorraad) yang diajukan PARA PENGGUGAT tidak mempunyai alasan
hukum yang kuat, bahkan bertentangan dengan hukum yang berlaku dan bertentangan dengan Putusan Kasasi No. 2446 K/Pdt/2009 dan Putusan Kasasi No. 2447 K/Pdt/2009, maka sangat berdasarkan hukum apabila permohonan putusan serta merta tersebut ditolak; 42. Bahwa dengan ini pula TERGUGAT 2 menyatakan dengan tegas
menolak tuntutan uang paksa (dwangsom) yang diajukan dalam Gugatan Aquo, karena jelas-jelas tuntutan uang paksa tersebut sangat tidak berdasar dan bertentangan dengan Putusan Kasasi No. 2446 K/Pdt/2009 dan Putusan Kasasi No. 2447 K/Pdt/2009 yang ternyata sama dengan perkara aquo;
43. Hal ini……....
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
43. Hal ini disebabkan tuntutan uang paksa (dwangsom) hanya dapat dijatuhkan terhadap putusan yang tidak bersifat hukuman untuk membayar sejumlah uang, sebagaimana diatur secara tegas dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. yang terkutip sebagai berikut: Putusan Mahkamah Agung RI No. 791 K/Sip/1972 tanggal 26 Februari 1973 dengan pertimbangan sebagai berikut :
"Uang paksa (dwangsom) tidak berlaku terhadap tindakan untuk membayar uang".
Putusan Mahkamah Agung RI No. 307 K/Sip/1976 tanggal 7 Desember 1976 dengan pertimbangan sebagai berikut :
"tuntutan akan uang paksa harus ditolak dalam hal putusan dapat dilaksanakan dengan eksekusi riil bila keputusan yang bersangkutan mempunyai kekuatan yang pasti".
44. Bahwa oleh karena permohonan putusan serta merta (uitvoerbaar bij
voorraad) dan pembayaran uang paksa (dwangsom) yang diajukan
PARA PENGGUGAT tidak mempunyai alasan hukum yang kuat bahkan bertentangan dengan hukum yang berlaku dan bertentangan dengan Putusan Kasasi No. 2446 K/Pdt/2009 dan Putusan Kasasi No. 2447 K/Pdt/2009, maka sangat berdasarkan hukum apabila permohonan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad) dan pembayaran uang paksa (dwangsom) tersebut ditolak;
Berdasarkan alasan-alasan yang telah diuraikan di atas TERGUGAT 2 dengan ini memohon agar Majelis Hakim Yang Terhormat yang memeriksa perkara ini dapat memberikan putusan sebagai berikut :