• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan melalui Hibah

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 77-99)

BAB II PENENTUAN LAHIRNYA HAK ATAS TANAH DAN

B. Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan melalui Hibah

Terdapat 2 (dua) cara dalam mendapatkan ataupun memperoleh hak atas tanah, yakni :

1. Dengan pengalihan, yang meliputi beralih dan dialihkan. Dalam hal ini berarti ada pihak yang kehilangan yaitu pemilik semula dan pihak lain yang mendapatkan suatu hak milik.

2. Terjadinya hak milik sesuai dengan Undang–Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 pada Pasal 22, yaitu:

a. Terjadinya hak milik menurut hukum adat yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Dalam hal ini berarti terjadinya hak milik tesebut, diawali dengan hak seorang warga untuk membuka hutan dalam lingkungan wilayah masyarakat hukum adat dengan persetujuan Kepala Desa.

Dengan dibukanya tanah tesebut, belum berarti orang tersebut langsung memperoleh hak milik. Hak milik akan dapat tercipta jika orang tersebut memanfaatkan tanah yang telah dibukanya, menanami dan memelihara tanah tersebut secara terus menerus dalam waktu yang sangat lama. Dari sinilah hak milik dapat tercipta, yang sekarang diakui sebagai hak milik menurut UUPA. Terjadinya hak milik dengan cara ini memerlukan waktu yang cukup lama dan tentunya memerlukan penegasan yang berupa pengakuan dari pemerintah.

b. Terjadinya hak milik karena penetapan pemerintah, yaitu yang diberikan oleh pemerintah dengan suatu penetapan menurut cara dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah. Dalam hal ini berarti pemerintah memberikan hak milik yang baru sama sekali. Pemerintah juga dapat memberikan hak milik berdasarkan perubahan dari suatu hak

yang sudah ada. Misalnya dengan peningkatan dari Hak Guna Usaha menjadi Hak Milik, Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik, Hak Pakai menjadi Hak Milik.

Bila ada kehendak yang disengaja dan disepakati atas sebidang tanah, maka didalamnya ada pengalihan hak atas tanah tersebut. Peralihan hak atas tanah menurut Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahn 1997 dapat dilakukan melalui perbuatan hukum seperti jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum lainnya yang dibuktikan dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).92

1. Hak atas Tanah dan Bangunan

Di dalam Burgerlijk Wetboek (yang selanjutnya disebut BW) ada dua istilah, yaitu benda (zaak) dan barang (goed).93 Pengertian yang paling luas dari istilah zaak ialah segala sesuatu yang dapat dihaki oleh orang. Disini benda berarti objek sebagai lawan dari subjek atau orang dalam hukum. Ada perkataan benda itu dipakai dalam artian sempit, yaitu sebagai barang yang terlihat saja, juga dipakai dengan maksud kekayaan seseorang. Jika perkataan benda dipakai dalam arti kekayaan seseorang maka perkataan itu meliputi barang-barang yang tak terlihat yaitu hak, misalnya hak piutang atau penagihan.94

92Mhd.Yamin Lubis dan Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, (Bandung:CV.Mandar Maju,2010), hal.276

93Mariam Darus, Badrulzaman , Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, (Alumni:Bandung, 2010) hal.35

94 Sri Soedewi Masjchoen, Hukum Benda, (Yogyakarta: Liberty,1981)hal.14

Pengertian tentang benda diatur pada Pasal 499 BW bahwa yang dinamakan kebendaan ialah tiap-tiap barang dan tiap-tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik.

Secara garis besar jenis-jenis benda yang dikenal BW adalah sebagai berikut :95 a. Benda berwujud dan benda tak berwujud (lihat Pasal 503 BW);

b. Benda bergerak dibedakan atas benda bergerak karena sifatnya menurut Pasal 509 BW, yang kedua benda bergerak karena ketentuan Undang-Undang menurut Pasal 511 BW, dan benda tidak bergerak dibedakan atas tak bergerak menurut sifatnya dan tak bergerak karena tujuannya ialah segala apa yang meskipun tidak secara sungguh-sungguh digabungkan dengan tanah atau bangunan dimaksudkan untuk mengikuti tanah atau bangunan itu untuk waktu yang agak lama, yaitu misalnya mesin-mesin dalam suatu pabrik, selanjutnya ialah tak bergerak karena memang demikian, diatur dalam Pasal 507 BW, dan tak bergerak menurut ketentuan Undang-Undang ini berwujud hak-hak atas benda yang tak bergerak, misal: hak memungut hasil atas benda tak bergerak, hak memakai atas benda tak bergerak, hipotik dan lain-lain.

c. Benda habis pakai dan Benda tidak habis pakai terdapat dalam Pasal 505 BW Perbedaan antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak penting karena adanya ketentuan-ketentuan hukum yang berbeda antara benda yang tidak bergerak dan benda bergerak yang berkaian dengan bezit, levering (penyerahan), verjaring (lewat waktu atau kadaluwarsa), dan bezwaring (pembebanan).

95Usanti, Trisadini P., et.al., Buku Ajar Hukum Perdata,( Surabaya: FH Universitas Airlangga. 2012) hal.40

Menurut hukum Perdata yang dimaksud dengan penyerahan (levering) itu adalah penyerahan suatu benda oleh pemilik atau atas namanya kepada orang lain, sehingga orang lain ini memperoleh hak milik atas benda itu. Dalam sistem hukum perdata Prancis tidak mengenal lembaga penyerahan ini. Misalnya dalam jual beli dengan adanya perjanjian jual beli saja haknya sudah beralih, tanpa adanya penyerahan. Sedangkan menurut sistem hukum Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dalam perjanjian jual beli harus diikuti penyerahan supaya terjadi pemindahan hak. Perjanjian jual beli hanya bersifat obligatoir saja yaitu hanya melahirkan kewajiban saja, ialah kewajiban untuk menyerahkan barangnya bagi penjual dari kewajiban untuk membayar harganya bagi pembeli, tidak berakibat berpindahnya hak milik atas barang. Hak milik atas barang baru berpindah kepada pembeli setelah adanya penyerahan. Penyerahan disini adalah perbuatan yuridis dalam arti transfering of ownership.96

Levering (penyerahan) benda bergerak dapat dilakukan dengan penyerahan nyata (fitelijk levering) sedangkan levering benda tidak bergerak harus dengan balik nama, misalnya hak milik atas tanah harus balik nama di Badan Pertanahan Nasional (BPN).97

Juridische levering adalah perbuatan hukum yang bertujuan untuk memindahkan hak kebendaan kepada orang lain. Perbuatan ini merupakan penyerahan secara formal atau resmi. Penyerahan hak kebendaan atas tanah secara

96Sri Soedewi Masjchoen,op.cit.hal.67

97Komariah, Hukum Perdata, (Malang:UMM Press, 2005), hal.91

fisik saja tidak cukup karena harus ada penyerahan secara yuridis untuk memindahkan hak kepada orang lain, yaitu dengan membuat surat penyerahan yang disebut dengan balik nama. Dengan membuat akta otentik, penyerahan hak kebendaan atas tanah harus dilakukan secara yuridische levering.98

Sebagai benda yang tidak bergerak tanah dan bangunan penyerahannya diatur dengan berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, bahwa benda tidak bergerak berupa tanah penyerahannya dilakukan dihadapan PPAT dengan pembuatan akta PPAT dan didaftarkan ke kantor pendaftaran tanah. Dengan demikian berarti bahwa penyerahan kebendaan tidak bergerak selain dilakukan secara nyata juga harus diikuti dengan penyerahan secara yuridis.

Tanah dan bangunan merupakan benda yang tidak bergerak yang memiliki keunikan yang berbeda dengan benda pada umumnya. Perbedaan antara tanah dengan benda-benda lain terlihat bentuk tubuh masing-masing benda. Benda yang bukan tanah selalu dapat dilihat kepribadiannya, sebagai contoh bahwa sebuah buku, meja, kursi terlihat dari batas-batasnya dari barang-barang yang ada disekitarnya, berbeda dengan tanah dan batas-batasnya dengan tanah sekitarnya hanya ada dalam pikiran manusia, artinya batas-batas yang diadakan antara berbagai bidang tanah

98Arus Akbar Silondae & Wirawan B. Ilyas, Pokok-Pokok Hukum Bisnis, (Jakarta: Salemba Empat,2012), hal.18.

hanya merupakan tanda bahwa dalam pikiran orang hak seseorang atas tanah hanya meluas sebatas itu.99

Tanah merupakan hal yang sangat kompleks karena menyangkut banyak segi kehidupan masyarakat. Setiap orang hidup membutuhkan tanah, baik sebagai tempat tinggal maupun tempat usaha. Semakin meningkatnya jumlah penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan atas tanah, padahal luas tanah wilayah Negara adalah tetap atau terbatas.

Selanjutnya dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA ditentukan bahwa atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut dengan “tanah” hanya permukaan bumi yang merupakan bagian kecil dari sumber daya alam agraria.

Selain tanah, bangunan juga merupakan benda yang penting bagi manusia.

Beragam aktifitas yang dapat dilakukan didalam bangunan utnuk memenuhi kebutuhan manusia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pendalaman dan/atau laut.100

Hak atas tanah yang berlaku di Indonesia saat ini adalah hak atas tanah yang diatur dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Berdasarkan asal tanahnya hak atas tanah dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu hak atas tanah yang bersifat primer dan hak atas tanah yang bersifat sekunder. Hak atas tanah yang bersifat primer

99Marihot Pahala Siahaan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Teori dan Praktek, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2003),hal.30

100 Pasal 1 ayat (39) Undang-Undang 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

adalah hak atas tanah yang berasal dari tanah negara, yaitu hak milik, hak guna usaha, hak guna bangun atas tanah negara, dan hak pakai atas tanah negara. Hak atas tanah yang bersifat sekunder adalah hak atas tanah yang berasal dari tanah pihak lain, yaitu hak guna bangun atas hak pengelolaan, hak guna bangun atas tanah hak milik, hak pakai atas tanah pengelolaan, hak pakai atas tanah hak milik, hak sewa untuk bangunan, hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak menumpang dan hak sewa tanah pertanian.101

Berdasarkan Pasal 85 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 bahwa perolehan hak atas tanah yang dapat dikenakan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan adalah perolehan atas :

a. Hak Milik.

Hak milik adalah turun temurun, terkuat dan terpenuhi yang dapat dipunyai orang atas tanah dengan mengingat fungsi sosial. Pada asasnya hanya warga negara Indonesia yang dapat mempunyai hak milik atas tanah baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Disamping itu badan hukum yang bergerak dalam lapangan sosial dan keagamaan yang telah ditunjuk oleh pemerintah dapat memiliki hak milik atas tanah sepanjang tanahnya digunakan langsung dalam bidang sosial dan keagamaan.

b. Hak Guna Usaha

101 Urip Santoso, Pendaftaran dan Peralihan Hak atas Tanah, (Jakarta:Kencana, 2011), hal.52

Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah untuk perkebunan dan pertanian, dan lain-lain. Yang dapat mempunyai Hak Guna Usaha ialah Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia.

c. Hak Guna Bangun.

Hak Guna adalah hak mendirikan dan mempunyai bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu tertentu. Yang dapat mempunyai Hak Guna Bangunan adalah Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia serta berkedudukan di Indonesia.

d. Hak Pakai

Hak Pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut dari hasil tanah yang langsung dikuasai oleh negara atau tanah milik orang lain yang memberikan wewenangan dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan dalam pemberiannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian pengolahan tanah.

e. Hak Milik atas satuan Rumah Susun.

Hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan rumah susun yang bersifat perorangan dan terpisah.

f. Hak Pengelolaan

Hak Pengelolaan adalah hak untuk menguasai atas tanah yang langsung dikuasai oleh Negara yang memberikan wewenang kepada pemegang haknya untuk merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan, menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksana tugasnya, menyerahkan

bagian-bagian dari tanah itu kepada pihak ketiga dengan hak pakai dengan jangka waktu 6 Tahun (Peraturan Menteri Agraria Nomor 3 Tahun 1965), menerima uang pemasukan dan/atau uang wajib tahunan.

2. Peralihan atau pemindahan hak atas tanah

Suatu perolehan hak atas tanah dan bangunan pada dasarnya merupakan hasil dari proses peralihan hak. Peralihan hak dapat terjadi karena dua hal yaitu beralih dan dialihkan. Beralih adalah suatu peralihan hak yang dikarenakan seseorang yang mempunyai salah satu hak meninggal dunia sehingga haknya dengan sendirinya beralih menjadi hak ahli warisnya. Dengan kata lain bahwa peralihan hak itu terjadi dengan tidak sengaja dimana pihak yang satu tidak melakukan perbuatan untuk mendapatkan hak atas tanah tersebut atau terjadi karena proses alamiah. Sebaliknya yang dimaksud dengan dialihkan adalah suatu peralihan hak yang dilakukan dengan sengaja supaya hak tersebut terlepas dari pemilik asalnya dan menjadi hak pihak lain.

Dengan kata lain terjadi karena adanya suatu perbuatan hukum tertentu seperti, wasiat, hibah, jual beli, tukar menukar, hibah dan hibah wasiat.102

Istilah peralihan hak atas tanah dengan pemindahan hak atas tanah tidak ada perbedaan yang tegas sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dan Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Terkadang peralihan terkesan bahwa peralihan hak dan pemindahan hak diartikan sama, terkadang peralihan hak bagian dari pemindahan hak dan sebaliknya, misalnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 pada

102K.Wantjik Saleh, Hak atas Anda Atas Tanah, (Jakarta:Galia Indonesia,1982)., hal. 180-190

Pasal 37 diberi judul pemindahan hak sedangkan dalam isi Pasalnya disebut peralihan hak.103

Untuk memudahkan pemahaman praktisnya, maka peralihan hak atas tanah adalah suatu perbuatan hukum yang dikuatkan dengan akta otentik yang dibuat oleh dan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang mengakibatkan beralihnya pemegang hak atas tanah kepada pihak lain. Pemindahan hak atas tanah adalah perbuatan hukum atau peristiwa hukum yang dikuatkan selain dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) seperti risalah lelang yang dibuat oleh pejabat lelang, akta otenik mengenai penyerahan hak dan ganti rugi dan juga tukar guling yang dibuat oleh Notaris, Surat Keterangan Ahli Waris, dan putusan pengadilan yang mengakibatkan berpindahnya pemegang hak kepada pihak lain.104

Perbuatan hukum Peralihan Hak untuk memindahkan hak atas tanah yang dimiliki kepada orang lain dapat dilakukan dengan cara:

a. Jual beli.

Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.

b. Pemasukkan dalam Perusahaan atau Inbreng.

c. Tukar-menukar.

103 Mhd.Yamin Lubis dan Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, (Bandung:CV.Mandar Maju,2010), hal.275.

104 Ibid, hal.276.

Pasal 1541 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa tukar-menukar ialah suatu perjanjian, dengan mana kedua belah pihak mengikatkan dirinya untuk saling memberikan suatu barang secara bertimbal-balik, sebagai gantinya suatu barang lain.

d. Hibah.

Pasal 1666 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, diwaktu hidupnya, dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu

e. Hibah wasiat (legaat).

Hibah wasiat adalah suatu pemberian yang dinyatakan ketika yang memberi itu masih hidup tetapi pelaksanaannya setelah yang memberi itu meninggal dunia.

3. Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah karena Perubahan data Yuridis yang disebabkan oleh Hibah Wasiat.

Dalam Pasal 19 Ayat (1) UUPA dinyatakan bahwa untuk menjamin Kepastian Hukum di bidang Pertanahan, maka oleh Pemerintah Indonesia diadakanlah Kegiatan Pendaftaran Tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Menurut A.P. Parlindungan, pendaftaran tanah berasal dari kata Cadastre (Bahasa Belanda Kadaster) suatu istilah teknis untuk suatu record (rekaman), menunjukkan kepada luas, nilai, kepemilikan (atau lain-lain atas hak) terhadap suatu

bidang tanah. Kata ini berasal dari bahasa latin “Capistratum” yang berarti suatu register atau capita atau unit yang dibuat untuk pajak tanah Romawi (Capotatio Terrens). Dalam arti yang tegas, Cadaster adalah record pada lahan-lahan, nilai daripada tanah dan pemegang haknya dan untuk kepentingan perpajakan. Dengan demikian, Cadastre merupakan alat yang tepat yang memberikan uraian dan identifikasi dari tersebut dan juga sebagai Continuous recoding (rekaman yang berkesinambungan ) dari hak atas tanah.105

Pendaftaran tanah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.106

Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah mengatur mengenai tujuan pendaftaran tanah, yaitu :

1. Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan;

105 A.P Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, (Bandung:Mandar Maju, 1999), hal.18-9

106Pasal 1 angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah.

2. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Pihak Ketiga) termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar;

3. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah data yang tersaji di Kantor Pertanahan adalah merupakan data yang sama dengan riwayat tanah yang terjadi di masyarakat.

Objek Pendaftaran Tanah sesuai dengan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, meliputi:

1. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai;

2. Tanah hak pengelolaan;

3. Tanah wakaf;

4. Hak milik atas satuan rumah susun;

5. Hak tanggungan;

6. Tanah Negara.

Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah menyatakan bahwa pelaksanaan pendaftaran tanah meliputi kegiatan:

1. Pendaftaran Tanah untuk pertama kali.

Pendaftaran tanah untuk pertama kali merupakan kegiatan pendaftaran tanah yang dilakukan terhadap objek pendaftaran tanah yang belum didaftar.

Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali meliputi :

a. Pengumpulan dan pengolahan data fisik;

b. Pembuktian hak dan pembukuannya;

c. Penerbitan sertipikat;

d. Penyajian data fisik dan data yuridis;

e. Penyimpanan daftar umum dan dokumen.

2. Pemeliharaan Data pendaftaran tanah.

Pemeliharaan data pendaftaran tanah merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk menyesuaikan data fisik dan data yuridis dalam peta pendaftaran, daftar tanah, daftar nama, surat ukur, buku tanah, dan sertipikat dengan perubahan-perubahan yang terjadi kemudian.

Kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah meliputi : a. Pendaftaran peralihan dan pembebanan hak;

b. Pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah lainnya.

Perubahan data yuridis menurut Pasal 94 ayat (2) Peraturan Menteri Negara Agraria/kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1995, salah satunya adalah peralihan hak karena jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukkan dalam perusahaan, dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya.107

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, lembaga pendaftaran tidak semata-mata mengandung arti untuk memberikan alat bukti yang kuat, akan tetapi juga menciptakan hak kebendaan. Hak kebendaan atas suatu benda (tanah) terjadi pada saat pendaftaran dilakukan. Tanpa sifat kebendaan hak atas tanah belum mempunyai kaitan dengan milik. Hak milik itu merupakan istilah yang hampa, baru ada milik tetapi belum ada ”hak”. Hal tersebut hanya mempunyai arti terhadap pihak pribadi dan belum terhadap bendanya. Umum masih melihat milik itu masih merupakan hak

107Urip Santoso, ibid,hal.343.

dari pemilik asal. Umum belum mengetahui perubahan keadaan hukum dari benda (tanah) tersebut. Melalui pendaftaran ini lahirlah pengakuan umum terhadap sifat kebendaan atas benda (tanah). Pengakuan ini merupakan asas legalitas dari hak tersebut.108

Dalam arti selama pendaftaran belum dilakukan, hak hanya mempunyai arti terhadap para pihak pribadi, dan umum belum mengetahui perubahan status hukum dari benda. Pengakuan masyarakat baru terjadi pada saat hak milik atas benda tersebut didaftarkan. Melalui pendaftaran lahirlah pengakuan umum atas hubungan hak dengan benda.

Sehingga dalam kepemilikan suatu benda terlebih dahulu orang tersebut harus membuktikan kepemilikan benda tersebut. Hal tersebut juga diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1865 yang menegaskan bahwa :

”Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut.”.

Berdasarkan isi Pasal tersebut maka jelaslah bahwa dalam suatu peristiwa yang menimbulkan hak harus dibuktikan terlebih dahulu sehingga terdapat alas hak kepemilikan atas benda tersebut.

Sistem Pendaftaran tanah dapat dibedakan ke dalam 2 kelompok berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, yaitu :109

a. Sistem Pendaftaran Akta (Registration Of Deeds)

108Mariam Darus, Badrulzaman , Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, (Bandung:Alumni, 2010) hal.64.

109 Kartini Muljadi dan Gunawan Wijaya, Seri hukum harta kekayaan hak-hak atas tanah, (Jakarta:Prenada Media Group,2004) hal. 89-90

Dalam sistem pendaftaran akta, akta inilah yang didaftar oleh Pejabat Pendaftaran Tanah (PPT), dalam sistem ini PPT bersifat pasif. Ia tidak melakukan pengujian kebenaran data yang disebut dalam akta yang didaftar.

b. Sistem Pendaftaran Hak (Registration Of Titles)

Dalam sistem pendaftaran hak tiap pemberian atau menciptakan hak baru serta pemindahan dan pembebanannya dengan hak lain kemudian, harus dibuktikan dengan suatu akta.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang digunakan dalam sistem pendaftaran hak (Registration Of titles) pembukuan dalam buku tanah serta pencatatannya pada surat ukur tersebut

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang digunakan dalam sistem pendaftaran hak (Registration Of titles) pembukuan dalam buku tanah serta pencatatannya pada surat ukur tersebut

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 77-99)