PELAKSANAAN PEMUNGUTAN DAN PENGHITUNGAN SUARA
B. Persiapan Pemungutan dan Penghitungan Suara
1. Penetapan jumlah TPS
Salah satu dasar KPU Kota Yogyakarta dalam perencanaan pemungutan suara pemilu legislatif adalah perencanaan jumlah TPS. Dalam PPKO 2004 yang disetujui untuk KPU Kota Yogyakarta bahwa jumlah TPS adalah 1150. Perencanaan angka 1150 ini berdasar dari hasil P4B tentang jumlah penduduk dan pemilih pada tahun 2003. Berdasarkan perhitungan matematika jumlah pemilih hasil P4B maka jumlah TPS yang dibutuhkan adalah 1039. Dengan pertimbangan adanya proses
pendaftaran pemilih tambahan, pemilih pemula, pemilih dari luar wilayah Kota Yogayakarta dan belum lagi TPS khusus di beberapa tempat, maka diusulkan kepada KPU jumlah TPS yang dibutuhkan adalah 1039 + (10 % x 1039) = 1039 + 103,9 = 1142,9 dibulatkan 1150. Alhamdullilah usulan ini disetujui KPU.
Perencanaan KPU Kota tentu harus diselaraskan dengan kondisi di lapangan yang tentu saja yang paling mengetahui adalah PPS dan PPK. Dalam berbagai pertemuan informal maupun formal selalu disampaikan kepada PPS maupun PPK bahwa ada jumlah standard TPS setiap kelurahan. Misalnya di kelurahan A, jumlah pemilih 9784 orang. Dengan ketentuan tiap TPS maksimal untuk 300 pemilih sesuai UU no 12 tahun 2003, maka untuk kelurahan A standard jumlah TPS adalah 9784 / 300 = 32,61 dibulatkan 33. Angka standard, yang didasarkan perhitungan matematis antara jumlah pemilih dibagi 300 lalu dibulatkan 1 keatas, inilah yang selalu diselaraskan dengan perencanaan PPS maupun PPK.
Apabila PPS mengajukan usulan jumlah TPS kurang dari angka standard maka diharuskan mengajukan usulan setara dengan angka standard. Sedangkan apabila usulan PPS lebih besar daripada angka standard maka untuk sementara dapat diterima, tetapi apabila ternyata banyak PPS yang mengusulkan lebih besar daripada angka standard dan akhirnya angka total melebihi 1150 maka akan diadakan rasionalisasi pengurangan jumlah TPS di beberapa PPS. Melalui proses penyetaraan inilah terkadang masih terjadi kesalahpahaman di tingkat PPS terutama PPS yang mengusulkan kurang dari angka standard. Bila ini disetujui tentu sudah dapat dipastikan akan ada TPS yang memiliki jumlah pemilih lebih dari 300. Sebuah resiko yang tidak akan pernah diambil oleh KPU Kota Yogyakarta apabila memungkinkan untukdihindari. Apapun alasan yang dikemukakan, mengapa sebuah PPS mengajukan usulan kurang dari angka standard, KPU Kota Yogyakarta tetap tidak dapat menerima.
Proses penetapan jumlah TPS se-Kota Yogyakarta akhirnya dapat dirampungkan pada pertemuan hari Jum'at, tanggal 27 Pebruari 2004, pukul 14.00, bertempat di Ruang Rapat Utama Lantai Atas Komplek Balaikota Yogyakarta. Beberapa PPS yang mengajukan usulan kurang dari angka standard sempat mengajukan perdebatan alot dengan KPU Kota Yogyakarta mengenai keharusan mengajukan usulan setara dengan angka standard. Dengan dibantu pemahaman dari PPK akhirnya PPS seperti ini dapat menerima konsep KPU Kota Yogyakarta. Dalam pertemuan juga dibahas usulan adanya TPS khusus. Dari usulan TPS khusus yang langsung diajukan oleh PPK ada 2 usulan yang ditolak karena tidak ada ketentuan sebagaimana diatur dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 01 Tahun
2004, yaitu TPS khusus di terminal dan stasiun. Pertemuan menyepakati jumlah TPS se-Kota Yogayakarta adalah 1144 terdiri atas 1122 TPS biasa dan 22 TPS khusus. Angka 1144 ini tentunya masih dalam batas 1150 yang disetujui KPU. 2. Pembentukan KPPS
Keputusan KPU nomor 01 tahun 2004 menjadi dasar pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara pemilu legilatif. Satu langkah penting berikutnya setelah menetapkan jumlah TPS adalah membentuk KPPS yang akan menggawangi 1144 TPS tersebut. Total KPPS yang dibutuhkan adalah 1122 TPS x 7 orang ditambah 22 TPS x 3 orang = 7920 orang. Mencari orang sebanyak itu yang bersedia dan mampu menjadi KPPS tentu tidaklah mudah. Apalagi dalam syarat menjadi anggota KPPS salah satunya disebutan adalah tidak sedang menjadi pengurus partai politik. Pengurus yang dimaksud adalah pengurus dari tingkat DPP di tingkat Pusat sampai di tingkat terendah yaitu di tingkat Kelurahan (apapun namanya). Persyaratan ini semakin mempersempit jumlah anggota masyarakat yang berhak menjadi KPPS. Banyak masyarakat yang mempunyai kemampuan akan tetapi tergabung pada salah satu partai politik.
Mengikuti aturan dalam keputusan KPU nomor 01 maka usulan pembentukan KPPS adalah dari Lurah untuk ditetapkan oleh PPS. Di wilayah Kota Yogyakarta maka pola pendekatan yang dilakukan adalah melalui pengurus RW dan RT agar mereka mengajukan warganya untuk menjadi KPPS. KPU Kota Yogyakarta pun menginstruksikan kepada PPS agar segera berkoordinasi dengan Lurah maupun Ketua RW dan RT di wilayah setempat tentang pembentukan KPPS. Pertemuan-pertemuan intensif baik formal maupun informal pun diadakan. Posisi Lurah menjadi penting karena dalam peraturan yang berlaku memang merekalah yang berhak mengajukan usulan sejumlah anggota KPPS.
Secara umum proses perekrutan KPPS di wilayah Kota Yogyakarta tidak mengalami permasalahan yang berarti karena partisipasi pengurus RW dan RT yang mayoritas bergabung juga menjadi anggota KPPS. Pola pendekatan kepada RW dan RT ini berjalan efektif karena sejak tahun 2003 KPU Kota Yogyakarta juga telah mendekati mereka untuk keperluan sosialisasi.
3. Pelatihan Tatacara Pemungutan Suara
Sementara itu kejelasan tentang tata cara pengisian berita acara formulir C untuk KPPS masih simpang siur. Dengan adanya model coblosan untuk parpol maupun untuk caleg masih menimbulkan kontroversi tentang penghitungan suara. Ada 2 wacana yang saat itu beredar di kalangan penyelenggara pemilu.
♦ Versi pertama berpendapat bahwa :
1) Bila mencoblos parpol dan caleg, maka kolom parpol ditulis 1, kolom caleg juga ditulis 1.
2) Bila mencoblos parpol saja, maka kolom parpol ditulis 1, kolom caleg tidak ditulis.
♦ Versi kedua berpendapat bahwa :
1) Bila mencoblos parpol dan caleg, maka hanya ditulis pada kolom caleg. 2) Bila mencoblos parpol saja, maka hanya ditulis pada kolom parpol.
Versi pertama memang jauh lebih banyak dianut dibandingkan dengan versi kedua dengan alasan cara pertama lebih rasional dan praktis serta mudah bagi KPPS. Apabila versi kedua yang dipakai akan sangat menyulitkan pola pikir KPPS karena tentunya mereka secara praktis akan berpendapat bahwa apabila ada pemilih mencoblos parpol dan 1 nama caleg dibawahnya maka tentu saja kolom parpol harus dihitung dan kolom caleg juga harus dihitung. Sekali lagi standard yang harus dipakai adalah standard terendah.
Sementara itu kontroversi lain juga muncul ketika VCD pelatihan bagi KPPS yang dibintangi Rano Karno memunculkan adegan penjelasan yang membingungkan. KPU Kota Yogyakarta sempat dibingungkan salah satu adegan ketika Rano Karno yang berperan sebagai Ketua KPPS menjelaskan sebagai berikut :
" pemilih yang tidak terdaftar dalam salinan DPT untuk TPS dan tidak mempunyai surat pemberitahuan, diperbolehkan memberikan suaranya dengan menunjukkan kartu pemilih ". Adegan ini dicurigai karena terlihat jelas adanya pemotongan diantara adegan. Apabila adegan ini dipegang betul oleh masyarakat dapat dipastikan akan terjadi mobilisasi pemilih secara besar-besaran karena hanya dengan cukup menunjukkan kartu pemilih maka pemilih sudah dapat memberikan suaranya. Sementara persediaan surat suara sangat terbatas cadangannya. Ketika dikonfirmasi kepada KPU ternyata KPU juga merasa kecolongan ketika ada adegan tersebut dan menginstruksikan kepada KPU Kabupaten / Kota untuk tidak menyebarluaskan adegan tersebut kepada khalayak umum maupun penyelenggara di tingkat bawah. Mensikapi hal ini, dikarenakan KPU Kota Yogyakarta telah menggandakan VCD pelatihan sebanyak jumlah TPS, maka KPU Kota Yogyakarta menginstruksikan kepada PPS maupun PPK apabila menggunakan VCD pelatihan sebagai salah satu materi, untuk menjelaskan pemahaman tentang adegan tadi. Kontoversi tentang tata cara pengisian formulir Model C, berakhir ketika KPU mengadakan pelatihan bagi KPU Kabupaten / Kota, yang khusus wilayah DIY-Jateng dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 20 Maret 2004 bertempat di Hotel
Century Saphir, Yogyakarta. Dalam pertemuan yang dihadiri anggota KPU maupun Sekretariat KPU, dijelaskan bahwa tata cara pengisian berita acara formulir model C untuk KPPS yang dipakai adalah versi pertama. Yaitu apabila ada pemilih mencoblos parpol dan caleg maka kolom parpol harus dihitung dan kolom caleg juga harus dihitung. Namun disayangkan dalam pelatihan ini penjelasan dari Sekretariat KPU kurang meyakinkan dan sempat menjadi pertanyaan dan perdebatan dari para peserta. Namun dengan adanya kejelasan dari KPU maka KPU Kota Yogyakarta menjadi mantap didalam mensosialisasikan materi ini kepada penyelenggara di bawah.
Segera setelah kejelasan didapatkan maka KPU Kota Yogyakarta segera meneruskan materi ini kepada PPK maupun PPS. Hal ini sangat perlu segera dilakukan karena sebelum diadakan pelantikan dan pelatihan KPPS maka yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah calon pelatih KPPS. Dalam kebijakan ini KPU Kota Yogyakarta memutuskan bahwa yang akan menjadi pelatih utama KPPS adalah anggota PPK dibantu anggota PPS. Pelatihan bagi PPK dan PPS berlangsung hari Selasa, tanggal 23 Maret 2004, pukul 10.00, bertempat di Ruang Rapat Utama Lantai Bawah Komplek Balaikota Yogyakarta.
Dengan menggunakan contoh berita acara yang akan dipakai, pelatihan terfokus pada tata cara pengisian formulir model C. Sedangkan tata cara pengisian formulir model D dan model DA, KPU Kota Yogyakarta menginstruksikan kepada PPS maupun PPK untuk lebih banyak belajar sendiri. Pertimbangan ini dikarenakan pertimbangan KPU Kota Yogyakarta tidak cukup mempunyai waktu lagi mengadakan pelatihan khusus bagi PPK maupun PPS. Masih banyak pekerjaan teknis lainnya yang belum terselesaikan utamanya pekerjaan menunggu datangnya logistik baik dari KPU maupun KPU Propinsi yang tidak pernah jelas kapan sampainya. Dikhawatirkan juga kedatangan yang mepet dan kemungkinan jumlah dan jenis yang tidak lengkap. Sehingga saat itu fokus adalah pelatihan bagi KPPS yang dirasa juga sudah mepet.
Pelantikan Ketua KPPS yang sekaligus diikuti dengan pelatihan tentang tugas dan kewenangan KPPS berlangsung di masing-masing Kelurahan dengan pemateri adalah anggota PPK secara keseluruhan dan PPS sebagai penyelenggara. Pelantikan sekaligus pelatihan ini berlangsung antara tanggal 24-28 Maret 2004 di tiap Kelurahan. Dalam pelatihan kepada KPPS materi yang disampaikan adalah tata cara pemungutan suara, penghitungan suara sesuai dengan Keputusan KPU nomor 01 tahun 2004, serta tentu saja tata cara pengisian berita acara model C. Dalam beberapa kesempatan KPU Kota Yogyakarta menghadiri pelatihan bahkan
terkadang tidak jarang menajdi pemateri khususnya tentang keputusan-keputusan dan peraturan-peraturan dari KPU, agar KPPS mantap dalam melaksanakan tugas. 4. Masalah-masalah Menjelang Pemungutan Suara
Dalam masa menjelang pemungutan suara ada 2 issue besar yang kontra produktif bagi penyelenggara pemilu di semua tingkatan.
a. Issue pertama adalah kesiapan logistik yang mengkhawatirkan karena hanya dalam hitungan hari menjelang pemungutan suara masih saja ada beberapa jenis logistik yang belum diterima dan itupun apabila telah diterima masih belum ada kepastian juga apakah jumlah dan jenisnya telah sesuai dengan kebutuhan. Misalnya masalah kotak suara dan bilik suara tentu sangat menyulitkan KPU Kota Yogyakarta apabila kekurangan yang ada tidak bisa terpenuhi oleh KPU. Wacana memakai kotak suara dari kardus bekas bungkus mie instan pun mengemuka. Wacana bilik suara kembali seperti pemilu tahun-tahun sebelumnya juga telah disiapkan. Bahkan KPU Kota Yogyakarta telah membuat wacana adanya TPS kembar untuk mengantisipasi kekurangan kotak dan bilik apabila memang betul-betul terjadi. Terkadang KPU Kota Yogyakarta melempar kondisi ini apa adanya kepada media massa dengan pertimbangan dapat menjadi perhatian semua pihak, khususnya KPU dikarenakan ini merupakan imbas dari kebijakan sentralistis. Ternyata hal ini juga membawa manfaat karena terkadang KPU baru mengetahui kondisi di lapangan setelah mengetahui dari media massa.
b. Dengan adanya issue pertama maka konsekuensinya adalah munculnya issue penundaan pemungutan suara sampai adanya kesiapan logistik di seluruh wilayah. Mensikapi hal ini KPU Kota Yogyakarta selalu menyampaikan di berbagai kesempatan bahwa apapun situasi dan kondisi yang terjadi di wilayah lain maka di wilayah Kota Yogyakarta pemungutan suara dan penghitungan suara di tingkat TPS tetap harus dilangsungkan pada tanggal 5 April 2004. Secara singkat dapat disampaikan bahwa boleh saja di daerah lain ada penundaan pemilu tetapi demi kemanfaatan semuanya maka di wilayah Kota Yogyakarta pemungutan suara tetap seperti rencana semula yaitu 5 April 2004. Ketegasan KPU Kota Yogyakarta ini diperlukan agar semua penyelenggara di bawah juga mempunyai kepastian dan kemantapan dalam melaksanakan pemungutan suara.
Selain kedua issue tersebut masih ada satu kondisi riil di lapangan yang juga kontra produktif. Banyak keputusan, surat edaran dan radiogram dari KPU yang
turun secara parsial mendekati hari H dan bahkan terkadang antara satu dengan yang lainnnya saling bertentangan. Satu keputusan yang paling kontroversial adalah keputusan yang menyatakan bahwa apabila surat suara yang dicoblos di dalam kotak yang memuat gambar parpol dan dicoblos diantara 2 kotak yang memuat nama caleg, dinyatakan sah. Keputusan ini sendiri sudah bertentangan dengan keputusan KPU sebelumnya yaitu Keputusan nomor 01 tahun 2004. Secara singkat menurut Keputusan KPU nomor 01 tahun 2004, surat suara secara teknis sah apabila hasil coblosan adalah :
♦ Di dalam 1 kotak yang memuat lambang parpol dan di dalam 1 kotak yang memuat nama caleg dibawah lambang parpol tadi.
♦ Di dalam 1 kotak yang memuat lambang parpol saja.
Bila logika diatas dipakai maka bila ada lubang hasil coblosan yang berada diantara 2 kotak yang memuat nama caleg seharusnya dinyatakan tidak sah karena lubang hasil coblosan tidak berada dalam kotak.
Tetapi KPU Kota Yogyakarta harus memposisikan sebagai bagian dari KPU yang tentu saja juga harus turut serta meneruskan dan mengamankan semua keputusan yang telah diambil KPU kepada semua pihak yang terlibat. Walaupun posisi ini terasa menyulitkan karena KPU Kota Yogyakarta tentu juga membutuhkan waktu mensosialisasikan kepada aparat di bawah. Tidak jarang kebingungan masih sering terjadi karena turunnya keputusan yang mendekati hari H dan kadang bertentangan satu sama lain. Kondisi yang ironis adalah terkadang belum sempat KPU Kota Yogyakarta mengkaji dan mencermati satu keputusan dari KPU, tetapi karena didesak waktu yang semakin mepet dan persiapan logistik yang tidak kelar-kelar juga, memaksa KPU Kota Yogyakarta hanya tinggal meneruskan begitu saja keputusan KPU tanpa menganitisipasi dampak yang bisa ditimbulkan.
5. Apel Kesiapan Pelaksanaan Pemilu Legislatif
Kondisi tambal sulam ini seperti sebuah lingkaran setan yang susah dipotong. Tetapi dengan semangat tinggi dan komitmen bahwa pemilu legislatif di Kota Yogyakarta harus sukses, membuat KPU Kota Yogyakarta bekerja ekstra keras menutupi kekurangan semaksimal mungkin. Untuk menunjukkan kepada seluruh masyarakat Yogyakarta bahwa semua penyelenggara pemilu di wilayah Kota Yogyakarta siap untuk menyelengarakan pemungutan suara pada tanggal 5 April 2004 maka diadakan Apel Kesiapan Penyelenggara Pemilu Kota Yogyakarta pada hari Rabu, tanggal 31 Maret 2004, pukul 10.00, bertempat di halaman depan Balaikota Yogyakarta. Apel diikuti oleh seluruh Ketua KPPS, Ketua PPS dan Ketua PPK se-Kota Yogyakarta. Apel yang dipimpin langsung oleh Walikota Yogyakarta
sebagai inspektur upacara dilaksanakan bertepatan dengan hari ulang tahun Walikota Yogyakarta sekaligus sebagai momentum kesiapan pelaksanaan pemilu legislatif.
Dalam apel dilaporkan oleh Ketua KPU Kota Yogyakarta kepada Walikota tentang badan penyelenggara pemilu di Kota Yogyakarta, jumlah anggotanya, kesiapan logistik dan tekad melaksanakan pemungutan suara tetap pada tanggal 5 April 2004. Salah satu Ketua KPPS menjadi perwakilan menerima penyematan topi KPPS yang dilakukan oleh Walikota Yogyakarta. Apel ini juga untuk menunjukkan kepada seluruh KPPS sebagai ujung tombak bahwa issue-issue yang beredar menjelang pemungutan suara adalah tidak benar sekaligus memantapkan pelaksanaan tugas mereka nantinya pada hari H. Pada akhir apel sebagai bentuk perhatian kepada Walikota Yogyakarta, KPU Kota Yogyakarta memberikan hadiah ulang tahun yang bertepatan dengan hari pelaksanaan apel.
6. Kondisi logistik menjelang hari H
Semakin mendekati hari H pemungutan suara kesibukan KPU Kota Yogyakarta dalam hal distribusi alat administrasi kelengkapan pemungutan dan penghitungan suara bukannya semakin berkurang tetapi justru semakin bertambah. Hal ini disebabkan karena, PPK sebagai pihak yang bertugas menyalurkan logistik kepada PPS, baru membagi logistik sesuai kebutuhan masing-masing PPS mendekati hari H. Dengan demikian terkadang kekurangan maupun ketiadaan satu atau beberapa jenis logistik pada PPK, baru dapat diketahui juga mendekati hari H. Padahal PPK masih harus membagi sesuai kebutuhan PPS di wilayah kerjanya dan mendistribusikan ke PPS lagi. Tidak jarang stok kebutuhan yang terdapat di gudang KPU Kota Yogyakarta juga telah habis atau tidak mencukupi permintaan. Untuk meminta kekurangan tentu membutuhkan waktu karena harus melalui KPU Propinsi atau KPU. Yang cukup mengherankan KPU Kota Yogyakarta adalah adanya beberapa PPK yang menyatakan tidak menerima sama sekali beberapa jenis logistik. Padahal ada tanda terima yang telah ditandatangani baik PPK sebagai penerima maupun KPU Kota Yogyakarta sebagai pengirim. Apabila kekurangan hanya beberapa item tertentu saja, maka KPU Kota Yogyakarta masih dapat memaklumi kemungkinan kesalahan hitung pada KPU Kota Yogyakarta. Tetapi mau tidak mau memang kekurangan seperti ini harus dipenuhi karena tidak ada waktu lagi untuk menyelidiki kemungkinan kesalahan yang terjadi. Proses permintaan penambahan kekurangan logistik ini berlangsung sampai Senin dini hari, 5 April 2004.
Kondisi ini diperparah juga kurangnya sosialisasi tentang penggunaan beberapa jenis logistik. Misalnya formulir model C untuk KPPS yang setiap jenisnya, untuk setiap TPS mendapat pasokan antara 20 - 25 bendel. Banyaknya bendel ini juga membingungkan KPPS karena tidak jelas peruntukannya. KPU Kota Yogyakarta sendiri tidak sempat mengkaji hal ini karena beruntunnya kedatangan satu logistik disusul jenis logistik lainnya mendekatui hari H. Yang terjadi adalah adanya kesan bahwa KPU Kota Yogyakarta menjadi seperti Kantor Pos, dimana harus siap setiap saat bertugas menerima kiriman logistik baik dari KPU maupun KPU Propinsi, untuk kemudian secepat mungkin membagi sesuai kebutuhan masing-masing PPS dan mengirimkannya kepada PPK. Tidak waktu untuk mencermati apalagi mengkaji dampak yang bisa ditimbulkan. Perceptan harus dilakukan dengan pertimbangan PPK pun masih butuh waktu lagi untuk mendistribusikan kepada PPS. Dan masih lagi PPS harus mendistribusikan kepada KPPS. Betul-betul seperti kantor pos. Proses peninjauan ke semua PPS menjelang hari H masih ditemui adanya beberapa PPS yang tidak mempersiapkan logistik semaksimal mungkin. Misalnya ada PPS yang belum juga merakit kotak suara pada hari H (-2). Tentu kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Pada malam sebelum pelaksanaan pemungutan suara, KPU Kota Yogyakarta mengadakan peninjauan kepada beberapa TPS yang diikuti oleh Walikota Yogyakarta bersama unsur Muspida. Dalam peninjauan masih ditemukan adanya TPS yang masih kekurangan satu atau beberapa jenis logistik tertentu. Untuk kebutuhan kecil dapat langsung dicukupi oleh mobil KPU Kota Yogyakarta yang pada saat berkeliling kebetulan membawa juga beberapa logistik tertentu.