• Tidak ada hasil yang ditemukan

Personal and General Affairs Department

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 66-74)

BAB 3. TINJAUAN KHUSUS PT PRADJA PHARIN (PRAFA)

3.7. Personal and General Affairs Department

Pesonnel and General Affairs Departement di PT Prafa adalah bagian dari

manajemen yang meliputi perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja. PGA juga bertanggung jawab atas pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja serta mengatasi segala bentuk permasalahan yang berhubungan dengan karyawan serta pemerintah setempat.

Gambar 3.13 Struktur organisasi Personal and General Affairs

Department.

Personal and General Affairs

Manager

Paymaster Administration Receptionist Cleaning & House Keeping

Laundry

PGA Department dipimpin seorang manager membawahi dua bagian,

yaitu bagian Human Resources and General Service (HR & GS) dan SHE (Safety,

Health, & Environment). Manajer PGA memberikan laporan langsung kepada Plant Manager. Manajer PGA bertugas untuk memimpin, mengarahkan,

mengevaluasi dan mengembangkan suatu tim yang terdiri dari staf-staf untuk memastikan bahwa manajemen dokumentasi ketenagakerjaan, proses, dan kegiatan administrasi lainnya telah sesuai dengan perencanaan dan prosedur yang telah ditetapkan.

Tugas utama dan tanggung jawab PGA, yaitu:

1. Menjaga hubungan yang kondusif antar karyawan dan hubungan dalam komunitas.

2. Menerapkan kebijakan SDM dan menyelenggarakan administratif dan kegiatan kesejahteraan di dalam pabrik.

3. Bertanggung jawab terhadap penilaian terhadap penampilan, pengembangan karier dan promosi, serta mengurus masalah kompensasi dan keuntungan administrasi.

4. Bertanggung jawab terhadap perencanaan tenaga kerja.

5. Memantau kegiatan sosial dan menangani keluhan dari karyawan.

6. Bekerjasama dengan manajer pabrik dalam menentukan penempatan karyawan, manajemen kerja, dan pembangunan budaya.

3.7.1 Human Resources and General Service (HR & GS)

Tugas subdepartemen Human Resources and General Service adalah menangani segala hal yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang ada di PT Prafa yang meliputi:

a. Membuat daftar gaji dan tunjangan jabatan serta menghitung pembayarannya setiap akhir bulan.

b. Membuat laporan jumlah karyawan dan mengecek absensi karyawan. c. Melakukan rekruitmen karyawan atas permintaan departemen lain yang

membutuhkan.

e. Menangani masalah kebersihan dan keamanan. f. Membuat laporan Jamsostek.

g. Administrasi kesekretariatan dan keuangan pabrik juga ditangani oleh bagian PGA yang meliputi surat masuk dan surat keluar, membuat laporan-laporan, dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan pengeluaran-pengeluaran pabrik.

h. Makan siang karyawan (catering), driver, dan laundry.

i. Menangani pemeliharaan gedung (Cleaning dan Housekeeping), security, serikat pekerja, serta kegiatan-kegiatan sosial.

Human Resources and General Service juga menangani hubungan dengan

pihak-pihak luar yaitu masyarakat, instansi pemerintah, ataupun instansi-instansi nonpemerintah lain, serta menagani keluhan-keluhan dari masyarakat sehubungan gangguan yang mungkin ditimbulkan dari pabrik ataupun limbahnya.

a. Cleaning, Housekeeping, dan Laundry

Bagian Cleaning dan Housekeeping bertanggung jawab atas kebersihan ruangan nonproduksi dan luar gedung serta pemeliharaan dan renovasi bangunan. PT Prafa memiliki ruang laundry untuk mencuci pakaian/seragam untuk staf produksi dan jas laboratorium. Untuk produksi sefalosporin dan betalaktam memiliki ruang laundry terpisah yang terletak di area produksi sefalosporin dan betalaktam.

b. Training

Training sangat dibutuhkan dalam rangka mengembangkan keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge) dan sikap (attitude) yang relevan dengan pekerjaan. Di PT Prafa beberapa pelatihan yang telah dilakukan, antara lain pelatihan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan membuka wacana para karyawan akan pentingnya mematuhi prosedur yang telah ditetapkan dalam melaksanakan proses produksi sehingga mutu produk yang dihasilkan tetap terjaga.

Program training di PT Pradja Pharin terdiri dari tiga macam, yaitu: 1. Training Wajib

Pelatihan yang wajib diikuti oleh seluruh karyawan. Pelaksanaan training tersebut berdasarkan adanya program baik dari perusahaan (pusat) maupun program dari pabrik. Berikut merupakan contoh Training wajib yaitu:

 Pelatihan CPOB

 Pelatihan ISO 9000

 Pelatihan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

 Pelatihan Sanitasi dan Higiene

 Pelatihan 5R (Ringkas, Rajin, Rapi, Resik, Rawat) 2. Training Khusus

Pelatihan yang diberikan kepada karyawan dengan level/tingkat jabatan tertentu (Supervisor, Assistant Manager, Manager dan lain-lain). Materi

training khusus yang diberikan meliputi pengetahuan tentang pekerjaan

dan pengetahuan tambahan. Pengetahuan tentang pekerjaan diantaranya pengetahuan dasar yang wajib diketahui oleh karyawan dengan tingkat jabatan tertentu dan juga pengetahuan penunjang yang sekiranya juga harus diketahui oleh karyawan tersebut. Sedangkan untuk pengetahuan tambahan, materi yang diberikan terkait hal-hal teknis dan hal umum. 3. Training Penyegaran

Pelatihan penyegaran ini ditujukan untuk orientasi karyawan baru yang dilaksanakan pada saat karyawan baru masuk untuk pertama kalinya, bertujuan untuk memperkenalkan perusahaan kepada karyawan baru sehingga mereka tahu akan sistem dan kebijakan perusahaan sebelum mereka mulai bekerja. Pemberi materi adalah :

Plant Manager

PGA Manager / Assistant PGA Manager

3.7.2 Safety, Health, and Environment (SHE)

Kebijakan Safety, Health, and Environment meliputi :

 Memberikan perlindungan dan tempat pekerjaan yang layak untuk karyawan dan tamu serta mengurangi dampak lingkungan sampai pada pencegahan polusi yang dihasilkan dari limbah pabrik.

 Sasaran obyektif yang utama yaitu mengurangi sifat yang merugikan dan penyakit serta meminimalkan peristiwa lingkungan, berdasar pada filosofi bahwa semua peristiwa ini dapat dicegah.

Pengolahan limbah di PT Prafa berada dibawah tanggung jawab Departemen PGA dalam hal ini oleh bagian Safety, Health, and Environment (SHE) yang dibantu oleh Departemen QC dan Technical Service. Limbah PT Prafa terdiri dari limbah padat dan limbah cair. Cara penanganan limbah berbeda-beda tergantung jenis dan sifat bahannya.

Limbah padat berasal dari debu hasil proses produksi, sampah sisa kemasan, sampah dari lingkungan pabrik, produk reject dan obat yang telah kadaluarsa. Limbah padat yang masih dapat dimanfaatkan serta memiliki nilai jual seperti sisa kemasan (kaleng, drum, alumunium foil, plastik, botol, kardus) dikumpulkan di gudang khusus, kemudian dijual agar barang-barang tersebut dapat dimanfaatkan atau digunakan kembali (reuse) dan didaur ulang (recycle). Pembakaran produk reject dan obat yang telah kadaluarsa dilakukan dengan menggunakan incinerator pada suhu 550-1000oC selama 15–20 menit. Sisa bahan padat yang menempel pada wadah/peralatan dibersihkan dengan mesin penyedot debu/vacuum sebelum dicuci dengan air. Bila tidak tersedia vacuum, sisa-sisa serbuk yang menempel diambil dengan lap yang dibasahi alkohol 70% dan lap tersebut dicuci tersendiri. Sebagian limbah padat dibuang melalui PT Wastec Internasional.

Limbah cair berasal dari proses produksi, pencucian peralatan produksi, limbah laboratorium dan buangan lainnya. Limbah cair dari proses produksi betalaktam dan sefalosporin ditampung dalam bak ekualisasi setelah mendapat pretreatment. Pretreatment yaitu proses pemecahan rantai

betalaktam sebelum masuk ke bak ekualisasi dengan cara penambahan larutan NaOH hingga pH basa (pH 10-11) kemudian disirkulasi selama 120 menit. Selanjutnya pada bak ditambahkan larutan HCl sehingga larutan menjadi netral (pH 7) dan siap dialirkan ke bak ekualisasi. Tujuannya adalah untuk menginaktifkan kerja antibiotik untuk mencegah bakteri yang menguraikan limbah mati, resistensi bakteri, serta pencemaran lingkungan.

Proses pengolahan limbah cair dilakukan menggunakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Departemen QC bertugas membuat metode pengelolaan limbah, membuat metoda analisa air limbah, dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan limbah cair. Departemen QC bekerjasama dengan Departemen Technical Service dalam mencari dan menentukan metoda IPAL, Departemen Technical Service bertugas mengawasi IPAL dan mengawasi alat-alat pengelolaan air limbah cair. Departemen PGA bertugas menjaga kebersihan lingkungan di sekitar IPAL, pelaksana regenerasi saringan, dan pencucian bak serta sebagai pelaksana pengelolaan limbah cair.

Pemeriksaan air hasil limbah dilakukan untuk memastikan bahwa hasil pengolahan tersebut memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, yang meliputi pemeriksaan parameter :

- Fisika : suhu, warna, bau, kekeruhan

- Kimia : pH, kandungan fenol, Total Dissolved Solid (TDS),

Biologycal Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand

(COD), dan Dissolved Oxygen (DO).

Pemeriksaan COD dan TDS dilakukan pada bak penyaringan dan pengeluaran air. COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan zat-zat organik dalam satu liter sampel air. TDS adalah zat total padat yang meliputi padatan terlarut dan tidak terlarut dalam air. Nilai COD dan TDS di bak pengeluaran air maksimal 100 ppm serta dibandingkan dengan nilai COD dan TDS di bak penyaringan sehingga dapat diketahui apakah pengolahan limbah berjalan dengan baik.

Proses pengolahan limbah cair yaitu : 1. Bak Ekualisasi

Unit penampungan utama limbah cair dari beberapa titik sumber penghasil limbah yang dialirkan melalui pipa utama (main pipe), dengan kapasitas 20 m3.

2. Bak Reaksi/Penetralan

Di dalam bak ini terjadi proses netralisasi sehingga diperoleh pH ± 7 (dengan penambahan NaOH 40% atau HCl 32%) karena pertumbuhan dan kemampuan kerja bakteri aerobik harus pada pH netral dengan suhu 25-350C.

3. Bak Separasi

Air limbah dari bak penetralan akan terpompa menuju bak separasi, melalui dua proses yaitu :

a. Pemisahan padatan halus, berat, dan materi-materi tidak larut

b. Pengendapan suspensi padat dan memisahkan/menahan materi ringan

dan berlemak. Air yang mengalir ini melintasi kanal berkisi-kisi (Fish

bone weir), di kanal ini gas-gas yang terkandung dalam air sebagian

akan mulai terurai. 4. Bak Aerasi 1

Pada bak ini ditambahkan PAC (Poly Alumunium Chloride) sebanyak tiga liter dosis 6% atau 12%. Kemudian, dilakukan pencampuran/pengadukan dengan menggunakan 8 buah diffuser selama satu jam. Selanjutnya air limbah didiamkan selama 1-2 jam dan gumpalan yang terbentuk akan turun karena gravitasi.

5. Bak Filtrasi 1

Bak ini berfungsi untuk proses penyaringan guna mendapatkan tingkat kejernihan air tertentu dengan menempatkan media berporositas yang tersusun dari karbon aktif (bagian atas) dan ijuk (bagian bawah).

6. Bak Aerasi 2

Pada bak ini ditambahkan bakteri SGB 104, yang berfungsi sebagai pengurai zat organik, mereduksi senyawa-senyawa fenol, dan beberapa senyawa kloro hidrokarbon. Proses pengadukan dilakukan dengan bantuan 10 buah diffuser. Pengadukan dilakukan selama lima menit kemudian didiamkan selama lima menit.

7. Bak Filtrasi 2

Berfungsi untuk penyaringan kedua dengan menggunakan karbon aktif. 8. Bak Settling

Bak ini merupakan sarana pengendapan partikel halus. Partikel-partikel yang masih lolos dari proses aerasi dan proses filtrasi akan terkoagulasi oleh koagulan membentuk flok (gumpalan halus) dan mengendap.

9. Bak Desinfektan

Berfungsi untuk mereduksi/menghilangkan bakteri patogen. Bak ini berisi ferrolite dilengkapi dengan tangki NaOCl 12%. Air dari bak settling dialirkan ke bak desinfektan dimana pada unit ini diinjekkan sejumlah NaOCl 12% menggunakan dosing pump.

10. Bak Stabilisasi

Bak berbentuk lingkaran yang berfungsi untuk menstabilkan akumulasi air yang telah diinjek NaOCl. Dalam bak ini, unsur chloride cenderung terurai menjadi Cl2 bebas, sedangkan unsur Na sebagai zat terlarut.

11. Kolam akhir (Effluent)

Sarana penampungan akhir dari semua proses. Dilengkapi unit sirkulasi air yang dipompakan ke udara untuk menguraikan Cl2 berlebih dan satu bak untuk pengontrolan akhir dari tempat pengambilan sampel air.

Pemeriksaan IPAL dilakukan oleh QC dengan mengambil sampel pada bak stabilisasi. Pemeriksaan limbah cair ini juga dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak eksternal yang terstandarisasi seperti IPB.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 66-74)

Dokumen terkait