HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pertambahan Tinggi Batang Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.)
Pengukuran tinggi tanaman sawi dimulai pada tanggal 13 April hingga 13 Mei 2015, yaitu pada saat tanaman sawi berusia 3 minggu hingga panen dengan menggunakan meteran. Berikut adalah grafik 4.4 laju pertambahan tinggi batang tanaman sawi (Brassica juncea L.) yang diukur setiap 5 hari.
Berdasarkan grafik 4.4 diatas pemberian perlakuan pupuk cair sabut kelapa pada tanaman sawi memberikan pengaruh positif terhadap pertambahan tinggi batang tanaman sawi. Tanaman sawi yang diberikan perlakuan pupuk cair sabut kelapa dengan volume 100 ml/l atau pada perlakuan 1 memiliki tinggi maksimum atau yang terbanyak dengan rata-rata pertambahan tingginya mencapai ± 0,5 cm setiap lima hari. Sedangkan pada perlakuan 2 dengan volume pupuk cair sabut kelapa sebanyak 200 ml/l mengalami kenaikan tinggi batang ± 0,3 cm dalam 5 hari, sama halnya dengan perlakuan 3 dengan volume pupuk sabut kelapa sebanyak 300 ml/l mengalami kenaikan tinggi batang ± 0,3 cm dalam 5 hari. Pertambahan tinggi batang paling rendah terjadi pada kontrol dimana hanya bertambah 0,2 cm dalam 5 hari.
Dari grafik 4.4 ini dapat dilihat bahwa pertambahan tinggi batang maksimal terjadi pada perlakuan awal yaitu tanggal 18, 23, 28 April 2015 dimana sawi masih berusia ± 4 sampai 6 minggu. Setelah sawi berusia lebih dari 6 minggu pertambahan tinggi batang mulai lambat dan semakin lama batang sawi tidak mengalami pertambahan tinggi. Pertambahan tinggi maksimal yang dialami tanaman sawi terjadi pada perlakuan 1 dengan volume pupuk cair 100 ml/l. Hal ini disebabkan karena pada volume ini terpenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.).
Berdasarkan uji normalitas (Lampiran 7) yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai uji Kolmogorov - Smirnov Z 0,624 > 0,05, maka Ho diterima. Hal ini berarti data sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Pengujian data dilanjutkan dengan uji homogenitas varians
(Lampiran 7) yang dihasilkan dengan nilai levene statistic 3.016 nilai sig 0,051 ≤ 0,05 pada level probabilitas yang artinya perlakuan dalam pemberian volume yang berbeda – beda pupuk cair sabut kelapa terhadap tinggi batang tanaman sawi hijau memiliki varians yang sama (homogen). Sehingga dapat dilanjutkan dengan uji ANOVA (Lampiran 8).
Berdasarkan uji ANOVA diketahui bahwa nilai probabilitas adalah
sig 0,058 ≥ 0,05, dengan demikian Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk cair sabut kelapa dengan volume yang berbeda-beda (100 ml/l, 200 ml/l, dan 300 ml/l) memberikan pengaruh positif (lebih baik) terhadap pertambahan tinggi batang sawi hijau.
Sehingga dapat dilanjutkan pada uji Post hoc menggunakan Tukey HSD (Lampiran 8). Namun, berdasarkan uji Post hoc menggunakan Tukey HSD menunjukkan bahwa data pada mean difference tidak berbeda, karena symbol * Means difference signifikan pada level 0.05 tidak muncul.
Jenis tanah di area penelitian merupakan tanah latosol yang memiliki pH dan nutrisi yang rendah. pH tanah di desa Podosoko mencapai 5,5-6, sedangkan pH yang dibutuhkan tanaman sawi untuk tumbuh adalah pH 6-7, untuk itu dilakukan penambahan pupuk cair sabut kelapa yang memiliki pH 7 dalam Sundari (2013:3) serta kandungan N: 0,28%ppm, K: 6,726 ppm, Ca: 140 ppm, Mg: 170 ppm. Kandungan Ca yang tinggi pada pupuk cair sabut kelapa dapat meningkatkan pH tanah, terutama pada tanah latosol dengan pH yang asam. Diharapkkan melalui penambahan pupuk cair dengan volume yang sesuai ini akan meningkatkan kondisi pH tanah yang tadinya sangat asam menjadi pH yang sesuai dengan toleransi pertumbuhan tanaman sawi. Pupuk cair sabut kelapa dapat meningkatkan pH tanah karena mengandung Ca yang tinggi menurut Yulipriyanto (2010), dalam Mandalia (2010:45). Sedangkan pada volume pupuk cair sabut kelapa 200 ml/l dan 300ml/l, tanaman sawi justru mengalami hambatan dalam pertumbuhan. Tanaman sawi hijau pada kontrol juga mengalami pertumbuhan yang lambat, bahkan pertambahan tinggi batangnya dibawah tanaman sawi hijau yang diberikan perlakuan. Hal ini disebabkan karena pada kontrol tanaman sawi hijau tidak
mendapatkan perlakuan pupuk cair sabut kelapa, sehingga tanah masih dalam kondisi asam dan membuat pertumbuhan sawi tidak optimal.
Sebelum mengaplikasikan pupuk cair sabut kelapa pada tanaman sawi, terlebih dahulu pupuk cair sabut kelapa diencerkan dalam air dengan perbandingan 1:15 dalam liter. Hal ini dikarenakan air berperan penting dalam kehidupan mikroba yang ada di dalam pupuk untuk mereaksikan unsur-unsur di dalam tanah. Keberadaan hara dalam tanah selalu terkait dengan adanya air yang tersedia. Pemupukan menggunakan pupuk cair organik sabut kelapa ini dapat mendukung penyediaan unsur hara dalam tanah karena dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga perlu diberikan secara periodik. Selain iu dengan ketersediaan air, di dalam sel tumbuhan air akan berfungsi dalam menjaga tekanan turgor, proses transpirasi, fotosintesis, difusi, osmosis, serta metabolisme tubuh lainya.
Data hasil penelitian yang dilakuan setiap 5 hari dari tanggal 13 April–13 Mei 2015, berupa selisih tinggi batang pada setiap perlakuan dengan kontrol. Berikut tabel 4.4 data laju pertambahan tinggi batang tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) :
Tabel 4.4. Pertambahan Tinggi Batang Tanaman Sawi Hijau
Hari/Tanggal Pertambahan Tinggi Batang sawi hijau (cm) Perlakuan Kontrol P1 P2 P3 Minggu, 13 April 2015 2,37 2,3 2,26 2,17 Sabtu, 18 April 2015 2,8 2,64 2,56 2,41 Kamis, 23 April 2015 3,33 2,94 2,84 2,65 Selasa, 28 April 2015 3,81 3,26 3,06 2,86 Minggu, 3 Mei 2015 4,31 3,6 3,3 3,1 Jumat, 18 Mei 2015 4,83 3,78 3,48 3,27 Rabu, 13 Mei 2015 5,28 3,98 3,48 3,33
Berdasarkan tabel 4.4 tinggi rata-rata tanaman sawi hijau P1 lebih tinggi 0.6 cm dari tinggi tanaman P2, lebih tinggi 0.82 cm dari tanaman sawi P3. P2 memiliki rata-rata tinggi 0.21 cm lebih tinggi dari P3, sedangkan rata tinggi tanaman sawi P1 lebih tinggi 0.99 cm dari rata-rata tinggi tanaman sawi kontrol yang memiliki tinggi paling rendah. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan volume pupuk cair sabut kelapa sebanyak 100 ml/l pada P1 mengalami pertambahan tinggi yang lebih cepat dibandingakan perlakuan 2 dan 3 maupun kontrol.
Berdasarkan data yang diperoleh menunjukan bahwa perlakuan dengan menggunakan pupuk cair sabut kelapa memberikan pengaruh lebih baik pada peningkatan tinggi tanaman sawi hijau dibandingkan pada kontrol yang tanpa penambahan nutrisi. Namun, semakin tinggi volume
pupuk cair sabut kelapa yang diberikan justru menghambat pertambahan tinggi batang tanaman sawi hijau. Karena nutrisi yang berlebih hanya akan membuat tanaman mengalami toksik dan mudah terserang hama dan penyakit. Kontrol memberikan hasil paling rendah karena tanaman sawi pada tanah dengan kadar nitrogen dan fosfor yang rendah mengalami pertumbuhan yang terhambat, kerdil, serta perakaranya tidak akan tumbuh secara optimal yang disebabkan karena gangguan pada pembelahan sel.
Tanaman sawi hijau pada perlakuan 3 dan kontrol sempat ada yang mulai layu, sehingga dilakukan penyulaman yaitu saat tanaman sawi masih berusia 17 hari. Pada perlakuan 3 terdapat 3 tanaman yang disulam, namun salah satu tanaman mulai menunjukan keadaan yang baik sehingga peneliti membiarkan tanaman awal tetap bertahan disebelah tanaman baru. Dengan tujuan tanaman awalah yang nantinya mendapatkan perlakuan pada usia 3 minggu karena memiliki jumlah daun yang lebih banyak. Kontrol hanya terdapat 1 tanaman yang dilakukan penyulaman karena tanaman sawi tersebut tumbuh tidak sehat (mengering) dan memiliki daun kerdil. Pertumbuhan paling baik yang tidak mengalami penyulaman maupun diserang oleh hama dan penyakit.