• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berat Basah Tanaman Sawi Hijau Meliputi Berat Batang, Daun, Dan Tangkai Daun(Brassica Juncea L.) Dan Tangkai Daun(Brassica Juncea L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Berat Basah Tanaman Sawi Hijau Meliputi Berat Batang, Daun, Dan Tangkai Daun(Brassica Juncea L.) Dan Tangkai Daun(Brassica Juncea L.)

Hasil analisis keragaman dari perlakuan penggunaan pupuk cair sabut kelapa dengan volume yang berbeda terhadap berat segar tanaman sawi hijau, menunjukan pengaruh yang positif. Hal ini dapat diketahui melaui uji menggunakan grafik batangpada gambar 4.6 berikut :

0 10 20 30 40 50 60 P1 P2 P3 P4 Ber at b asah ( cm) Perlakuan

Grafik Berat Basah Tanaman Sawi Hijau

Gambar 4.6. Grafik Berat Basah Tanaman Sawi Hijau

Berdasarkan grafik batang 4.6 diatas, dilakukan uji one sample Kolmogorov - Smirnov test (Lampiran 11), untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Uji Kolmogorov-Smirnov Z adalah 0.988 > 0,05, maka Hi diterima. Hal ini menunjukan bahwa data sampel berasal dari populasi distribusi normal. Pengujian data selanjutnya dilakukan dengan uji homogenitas. Berdasarkan Test of Homogeneity of Variances yang dihasilkan dengan levene statistic 0.974, sig 0.421 > 0.05 (Lampiran 11), pada level probabilitas yang artinya pemberian pupuk cair sabut kelapa memiliki varians yang sama ( homogen) terhadap berat basah batang sawi hijau). Sehingga dapat dilanjutnya dengan uji ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berdasarkan uji ANOVA (Lampiran 12) diketahui

(115.351) > (3.01), hal ini menunjukan bahwa perlakuan dalam pemberian volume pupuk cair sabut kelapa yang berbeda-beda memberikan pengaruh positif terhadap berat kering daun tanaman sawi hijau secara signifikan (Hi diterima). Berdasarkan uji ANOVA yang dilakukan menunjukan hasil yang signifikan, maka dapat dilanjutkan dengan uji Tukey HSD (Lampiran 12). Berat basah batang, perlakuan 1 memiliki berat segar batang paling tinggi yaitu 18%. Rata-rata berat basah batang Perlakuan 1 lebih tinggi 1,2 gram dibandingkan dengan P2, lebih tinggi 1,88 gram dibandingkan P3, dan lebih tinggi 2.03 gram dari kontrol. Hal ini menunjukan bahwa pemberian pupuk cair sabut kelapa dengan volume 100 ml/l memiliki berat basah yang lebih baik, dibandingkan dengan 200 ml/l, 300 ml/l, dan kontrol.

Pengukuran berat segar/berat basah tanaman sawi hijau dilakukan setelah panen yaitu pada umur 45 hari. Penimbangan bobot segar tanaman dilakukan untuk mengetahui tingkat produksi tanaman sawi hijau. Berdasarkan analisis menggunakan grafik batang diketahui bahwa berat segar pada tanaman sawi hijau yang meliputi jumlah total berat basah batang, daun, dan tangkai pada setiap perlakuan. Perbedaan ini terkait dengan kemampuan masing-masing tanaman dalam mengikat air dari media tanaman serta dalam meningkatkan kandungan air, sehingga berat segar akan meningkat. Berat basah tanaman dipengaruhi oleh tinggi tanaman dan jumlah daun, semakin tinggi tanaman dan semakin banyak

jumlah daun maka berat basah tanaman akan semakin tinggi. Berat basah pada batang menunjukan hasil positif yang ditunjukan pada P1 (Perlakuan 1) yaitu dengan pemberian dosis pupuk cair sabut kelapa sebanyak 100 ml/l. Berbeda dengan hasil yang ditunjukan pada berat basah daun dimana berat terendah terjadi pada kontrol.

Perlakuan yang memberikan pengaruh paling baik adalah Perlakuan 1 dibandingkan dengan Perlakuan 2, Perlakuan 3, maupun kontrol. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing tanaman dalam menyerap air pada media tanaman, jika tanaman dapat menyerap air secara optimal maka berat segar akan bertambah. Menurut Jumin (2002), dalam Dewi, dkk (2012:3) bahwa besarnya kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhan berhubungan langsung dengan proses fisiologi dan faktor lingkungan. Sedangkan kemampuan tanaman dalam menyerap air ini juga dipengaruhi oleh nutrisi yang ada pada media tanam. Air merupakan komponen utama dalam kehidupan tanaman, sekitar 70-90% berat segar tanaman berupa air. Air merupakan media yang baik untuk berlangsungnya reaksi biokimia. Di dalam organ tanaman, air dapat masuk ke jaringan tanaman melalui proses difusi. Proses ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya yaitu : perbedaan konsentrasi air dan adanya faktor lingkungan yang berperan dalam proses keseimbangan air yang ada pada sistem tanah, tanaman, dan udara.

Pada penelitian ini dilakukan penyiraman secara periodik yaitu satu hari sekali pada sore hari, agar tanaman tidak kekurangan air.

Kekurangan air pada tanman akan berakibat pada proses pembentukan dan perkembangan organ tumbuhan seperti akar, batang, dan daun, serta berhubungan dengan proses sel tanaman untuk membesar.Sel tanaman akan membesar seiring dengan menebalnya dinding sel dan terbentuknya selulosa. Ketersediaan air pada tanman juga berpengaruh pada proses transport hara dari tanah ke organ tanaman. Hara dari tanah diangkut oleh air melaui proses difusi. Selain itu air juga digunakan dalam proses fotosintesis, agar proses berjalan secara optimal.

Pemberian pupuk cair sabut kelapa yang mengandung nitogen sangat berperan penting pada masa vegetatif tanaman dibandingkan dengan kontrol yang tanpa penambahan pupuk cair sabut kelapa sama sekali, terlebih lagi kondisi tanah yang digunakan rendah kadungan N. Hasil yang berbeda hanya ditunjukan pada pengukuran berat basah aun, dimana berat basah terendah bukan pada kontrol tetapi pada perlakuan 3. Disebabkan karena banyaknya daun yang terserang hama dan penyakit sehingga berat basah menjadi berkurang. Hal ini sesuai dengan Rosmarkam dan Yuwono (2002) yang menyatakan bahwa penambahan pupuk nitrogen dapat menaikan produksi tanaman dan kadar protein. Dengan meningkatkan kadar protein tanaman akan meningkatkan bobot tanaman dikarenakan tanaman mengakumulasi nitrat pada bagian daun.

Kandungan Kalium yang tinggi pada pupuk cair sabut kelapa juga menjadi salah satu peningkat berat basah tanaman karena kalium berfungsi mutlak pada proses metabolisme tanaman. Kalium membantu dalam

mencegah menguapnya air keluar dari daun, sehingga tanaman terutama sayuran akan terhindar dari kekeringan. Perlakuan 2 dan 3 dengan dosis pupuk cair sabut kelapa yang lebih tinggi justru mengalami penurunan berat basah. Hal ini dikarenakan pemberian unsur hara seperti nitogen, kalium, Phospor yang terkandung pada pupuk cair sabut kelapa terlalu berlebih sehingga justru merusak tanaman,sehingga tanman mudah terserang hama dan penyakit. Ini sesuai dengan pendapat Garner, dkk (1995) dalam Elvhi, dkk (2014:777) yang menyatakan bahwa pemupukan yang berlebihan mengakibatkan toksik bagi tanaman sehingga mengganggu proses metabolisme tanaman tersebut.

Ketersediaan unsur hara yang cukup pada tanah karena pengaplikasian pupuk cair sabut kelapa juga akan meningkatkan jumlah sel pada tanaman sehingga dapat meningkatkan berat segar tanaman. Menurut Nyakpa dkk (1988) dalam Hidayat, dkk (2010:7), unsur-unsur hara tersebut juga memacu proses fotosinteis, sehingga apabila fotosintesis meningkat maka fotosintat juga meningkat dan akan ditranslokasikan ke organ-organ lainnya yang akan berpengaruh terhadap berat basah tanaman layak konsumsi. Disini yang paling berperan dalam membantu proses fotosintesis adalah kalium yang merupakan pengatur fisiologis tanaman seperti proses fotosintesis, akumulasi, translokasi, transportasi, dll. Serta kalsium (Ca) yang berperan penting dalam pertumbuhan sel, proses pembelahan dan perpanjangan sel, dan mengatur distribusi hasil fotosintesis. Jika tanaman kekurangan kalium dan kalsium maka tanaman

menjadi kecil dan lemah, serta berakibat pada penyerapan unsur hara yang terhambat.

D. Berat Kering Batang, Daun, dan Tangkai Daun Tanaman Sawi