TINJAUAN PUSTAKA
B. Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Klasifikasi dari tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) adalah sebagai berikut:
1. Klasifikasi Tanaman Sawi (Brassica juncea L.)
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rhoeadales (Brassicales)
Famili : Cruciferae (Brassicaceae)
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea (Haryanto, dkk, 1995:9).
Gambar 2.1. Tanaman Sawi Hijau
2. Botani
Menurut Sunaryono (2004), dalam Zulkarnain (2013:85). Sawi merupakan tanaman dikotil berbentuk perdu dengan sifat pertumbuhan dwi musim. Di Indonesia, jenis sawi yang banyak dikenal adalah pe-tsai (B. campestris) grup Chinensis, disebut juga B. Pekinensis), choy sum atau chai sim juga termasuk B. Campestris grup Chinensis, sawi putih atau sawi jabung (B. Campestris grup Pekinensis). Pe-tsai atau bok choy termasuk dalam grup Pekinensis dan memiliki bentuk kepala (krop) kompak memanjang yang mirip dengan selada. Daun duduk (sesil) agak berkerut, kasar, rapuh, dan berambut halus dengan tulang daun utama berwarna cerah. Sementara itu, choy sum atau chai sim memiliki daun lebar memanjang, tipis, dan berwarna hijau, halus tidak berambut dengan tangkai yang panjang, langsing, berwarna putih kehijauan, serta tidak membentuk krop. Rasanya renyah, segar, dan agak pahit. Choy sum atau sawi bakso atau sawi cina merupakan jenis sawi yang paling banyak dimanfaatkan atau dijajakan dipasar-pasar dewasa ini. Selanjutnya sawi putih memiliki daun agak halus dan juga tidak berbulu, berwarna hijau keputihan, bertangkai pendek dan bersayap melengkung ke bawah.
3. Morfologi
Dikarenakan kekerabatan yang sangat dekat, karakteristik morfologi tanaman sawi sangat mirip dengan kubis/kol. Kedudukan daun yang berpola roset membentuk batangnya menjadi beruas-ruas dan sangat pendek. Sistem perakarannya tergolong akar tunggang dengan cabang-cabang akar yang menyebar ke semua arah pada kedalaman 30-50 cm. Bunganya tersusun dalam malai yang tumbuh memanjang dan bercabang-cabang. Setiap kuntum bunga terdiri atas empat helai daun kelopak (sepal), empat helai daun mahkota (petal)
berwarna kuning cerah, empat helai benang sari (filamen), dan satu kepala putik yang berongga dua. Buah sawi berupa polong, panjang, dan di dalam setiap polong terdapat 2-8 butir biji-biji kecil berbentuk bulat berdiameter 0,5-2,0 mm, berwarna cokelat atau cokelat kehitaman (Zulkarnain, 2013: 85-86).
4. Syarat Tumbuh
Menurut Zulkarnain (2013: 86-88), untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi dan berkualitas, sawi hendaknya diusahakan di lingkungan yang bercocok dengan syarat tumbuhnya. Oleh karena itu, faktor ekologi yang meliputi tanah dan iklim dimana sawi diusahakan perlu mendapatkan perhatian agar pertumbuhan dan produksinya maksimal.
a. Tanah
Pada umunya, sawi dapat diusahakan pada berbagai ketinggian tempat, baik dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian 5-1200 m dpl. Tanaman ini memiliki toleransi yang baik terhadap lingkungan, baik suhu tinggi maupun rendah. Akan tetapi, kebanyakan daerah penghasil sawi berada diketinggian 100-500 m dpl. Khusus pe-tsai, menghendaki suhu rendah untuk membentuk krop sehingga cocok ditanam di daerah dengan ketinggian tempat 1.000 m dpl atau lebih. Apabila ditanam didaerah dataran rendah maka pe-tsai akan membentuk krop yang kecil dan rapuh.
b. pH
Sawi menghendaki tanah yang subur, gembur, berhumus, dan memiliki drainase baik. Tanaman ini tumbuh dengan baik di tanah yang memiliki tingkat keasaman (pH) antara 6-7. Pada tanah asam (Ph < 6) dianjurkan untuk melakukan pengapuran, guna menurunkan keasaman atau menaikan pH tanah. Takaran baik kapur maupun pupuk organik yang diberikan sangat tergantung pada Ph awal.
Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengukur Ph tanah sebelum penanaman sawi dilaksanakan.
c. Iklim
Sawi menghendaki keadaan udara yang dingin dengan suhu 12-21ºC untuk pertumbuhan yang baik, dan pembentukan krop pada pe-tsai. Suhu diatas 24ºC, dapat menyebabkan tepi daun terbakar, sedangkan suhu 13ºC, yang terlalu lama dapat menyebabkan tanaman memasuki fase pertumbuhan reproduktif yang terlalu dini. Pembungaan pada sawi bukan hanya sensitif terhadap suhu rendah, melainkan juga terhadap fotoperiodesitas 16 jam per hari selama sebulan, dapat menyebabkan terbentuknya bunga di sejumlah kultivar. Sebaliknya, fotoperiodesitas yang singkat disertai suhu tinggi, dapat menyebabkan tanaman tetap tumbuh vegetatif. Di daerah tropis dan subtropis, sawi kebanyakan diusahakan di dataran tinggi, namun ada pula yang diusahakan di dataran rendah. Penanaman pada musim kemarau perlu diiringi oleh penyiraman yang teratur agar tanaman tidak kekeringan. Sebaliknya, penanaman pada musim penghujan perlu disertai oleh pengaturan drainase yang baik, agar air tidak menggenang di sekitar tanaman dan serangan ulat daun dapat diatasi. Meskipun demikian, waktu tanam yang dianjurkan adalah akhir musim hujan.
5. Budidaya Tanaman Sawi
Berikut ini merupakan teknik budidaya sawi secara konvensional menurut Haryanto, dkk (1995: 27-44).
a. Benih
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan percocok tanam sawi. Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus, sedangkan benih yang jelek akan menghasilkan tanaman yang tumbuhnya tidak
normal. Sehingga akan memberikan hasil yang kurang memuaskan, atau tanaman justru tidak tumbuh sama sekali. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 g. Benih sawi yang baik memiliki ciri – ciri berbentuk bulat, kecil-kecil, permukaanya licin mengkilap dan agak keras, dan warna kulit benih cokelat kehitaman.Benih sawi dapat diperoleh dengan cara menyiapkan benih sendiri atau dengan membelinya di toko-toko pertanian, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri.
a). Membeli benih
Membeli benih sawi ditoko harus memperhatikan waktu kadaluwarsa, sebaiknya membeli benih yang masih baru atau belum lama disimpan, sehingga daya tumbuh dan kadar airnya masih sesuai dengan yang tertulis pada label atau kemasan. Perusahaan produsen benih yang baik biasanya sangat menjaga kualitas benihnya. Biasanya dalam kemasan akan tertulis benih murni, benih murni artinya benih hanya terdiri dari satu jenis, tidak tercampur dengan benih jenis lainya, meskipun hanya berbeda dalam varietasnya. Benih yang baik harus bebas dari hama dan penyakit, biasanya benih yang dijual telah direndam dalam pestisida tertentu. Saat memilih benih perhatikan kemasanya, kemasan benih harus utuh (tidak robek, lecet. atau ada bekas tertindih). Kemasan benih yang baik adalah yang terbuat dari aluminium foil, karena mampu melindungi benih dengan baik sehingga dapat disimpan dalam waktu cukup lama. Namun, pembeli tidak dapat melihat keadaan benih yang berada di dalam kemasan pakah benih masih baik atau sudah rusak maka pembeli harus memperhatikan tanggal kadaluwarsanya.
Mendapatkan benih dengan cara menyiapkan dari tanaman sendiri sering dilakukan oleh petani di Indonesia. Syaratnya kita harus sudah memiliki tanaman induk sendiri. Benih yang disiapkan dari tanaman induk umumnya berlaku untuk tanaman lokal dan bukan merupakan hibrida. Dalam menyiapkan benih sendiri haruslah diambil dari biji-biji tanaman yang sehat serta hasilnya terbukti memuaskan. Dalam hal ini, petani harus melakukan seleksi untuk memilih biji-biji yang akan dijadikan benih. Beberapa patokan dalam melakukan seleksi biji-biji antara lain keadaan tumbuh tanaman bebas terhadap hama dan penyakit, keseragaman bentuk, penentuan jenis yang berumur pendek serta tingkat produksi yang tinggi.
Sebelum pemetikan biji sebaiknya lingkungan sekitar dibersihkan dahulu dari gulma atau tanaman lain, sehingga kemurnian terjaga. Tanaman yang direncanakan dugunakan untuk benih ini dipanen pada umur yang lebih tua dari pada untuk tujuan konsumsi, yaitu setelah berumur lebih dari 70 hari. Setelah biji yang dihasilkan cukup tua, biji dipanen dengan dikumpulkan. Selanjutnya biji diangin-anginkan sebentar agar kering. Biji dibersihkan dari kotoran yang masih terikut. Selanjutnya benih dimasukan kedalam wadah kering yang tertutup rapat. Simpan wadah pada tempat yang sejuk dan kering. Penyimpanan yang baik memungkinkan benih dapat bertahan hingga 3 tahun tanpa kehilangan daya tumbuhnya. Penyimpanan yang buruk misalnya lembap, berair, wadah mengalami kerusakan, atau bahkan terkena panas berlebih akan menurunkan kualitas dan daya tumbuh benih.
b. Pengolahan Tanah
Pertumbuhan tanaman sayuran sangat dipengaruhi oleh keadaan fisik serta struktur lahan tanamannya, untuk itu perlu dilakukan pengolahan tanah.
Kegiatan pengolahan tanah secara umum diawali dengan penggemburan tanah. Penggemburan tanah dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan oleh tanaman agar mampu tumbuh dengan baik. Tahap-tahap penggemburan ini meliputi pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah serta sirkulasi udaranya dan pemberian pupuk organik/kimia sebagai pupuk dasar untuk memperbaiki struktur fisik serta kimia tanah yang akan menambah kesuburan lahan.
Tanah yang akan digemburkan mula-mula harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak, atau pepohonan yang tumbuh. Lokasi yang teduh atau ternaungi tidak baik untuk pertumbuhan sawi karena sayuran ini merupakan tanaman yang suka akan cahaya.Sewaktu melaukan penggemburan sebaikanya dilakukan pula pemberian pupuk organik seperti pupuk kandang yang sudah jadi. Tanaman sawi membutuhkan pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha. Pemberian pupuk kandang ini saat penggemburan akan lebih baik karena pupuk akan lebih cepat bercampur dengan tanah, sehingga siap untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang akan ditanam.
c. Pembibitan
Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman, agar lebih efisien. Pembibitan dapat dilakukan dengan pembuatan bedengan atau penggunaan polibag/plastik kecil, yaitu biji sawi ditabur pada bedengan yang telah dibuat atau ditabur pada polibag yang telah diisi dengan tanah yang dicampur dengan pupuk organik/kimia. Setelah biji ditabur, biji ditutupi dengan tanah halus setebal 1-2 cm. Lalu perawatan dengan penyiraman menggunakan sprayer. Benih yang baik akan tumbuh setelah 3-5 hari. Setelah berdaun 3-5 lembar (kira-kira berumur 3-4 minggu sejak biji disemaikan).
Pilihlah bibit sawi yang pertumbuhanya baik yaitu setelah berdaun 3-4 helai (kira-kira berumur 2-3 minggu), cirinya batang tumbuh tegak, daun hijau segar mengkilap, dan tidak terlihat serangan hama atau penyakit. Pindahkan bibit dengan hati-hati dari bedengan pembibitan/ polibag pembibitan. Pemindahan bibit ini dapat dilakukan menggunakan tangan atau cetok, sertakan sebagian tanah yang membalut perakaran bibit. Langkah selanjutnya adalah penggalian lubang tanam pada polibag/ bedengan. Penggalian dapat dilakukan menggunakan tangan, skop kecil, atau sendok pada titik yang sesuai dengan jarak tanam. Ukuran lubang tidak perlu terlalu besar, cukup 4-8 x 6-10 cm, yang penting bibit dapat tumbuh dengan baik dan tidak mudah tercabut. Bibit dimasukan ke dalam lubang dengan hati-hati, selanjutnya lubang dirapikan dan tanah sedikit dimampatkan.
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah tahapan kerja yang terpenting dalam pembudidayaan tanaman. Hasil yang optimal hanya akan dicapai apabila pemeliharaan tanaman dilaukan dengan baik. Tindakan pemeliharaan ini meliputi penyiraman, penjarangan, penyulaman, penyiangan, dan penggemburan, pemupukan tambahan, serta pengendalian hama dan penyakit.
1) Penyiraman
Air adalah faktor pembatas tumbuh tanaman. Tanpa air yang cukup tanaman sawi akan tumbuh kerdil, layu, dan bahkan dapat mati. Sejak tanaman disemai hingga tumbuh dewasa air sangat dibutuhkan. Penyiraman dapat diberikan berupa penyiraman alami atau tambahan. Penyiraman alami adalah turunya air hujan yang memenuhi kebutuhan air tanaman, ini biasa terjadi pada musim hujan. Penyiraman tambahan adalah air siraman yang diberikan untuk tanaman. Dimusim kemarau atau saat hujan turun tak menentu, siraman tambahan
menjadi penting. Kita dapat melaukan penyiraman menggunakan gembor, pipa penyemprotan, sprinkler, atau dengan sistem leb Sistem leb adalah memasukan air ke areal melalui parit drainase selama beberapa waktu (2-8 jam), tergantung kebutuhan dan situasi kekeringan. Namun, penyiraman dengan gembor hingga air cukup membasahi tanah pada pagi dan sore hari umumnya sudah memadai. Saat cuaca tak terlalu panas beberapa petani sawi hanya melakukan penyiraman sekali sehari (sore hari saja) dengan alasan menghemat tenaga kerja.
2) Penjarangan
Penanaman sawi tanpa melaui pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Disana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang brjarak tanam terlalu dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlau rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menghisap unsur hara dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur.
3) Penyulaman
Adakalanya karena suatu hal tanaman yang sudah tumbuh tiba-tiba mati. Tanaman tersebut harus segera diganti agar produksi yang diharapkan tidak terganggu. Tindakan penggantian tanaman ini dengan tanaman yang baru disebut penyulaman. Tanaman biasanya diambil dari bibit tanaman yang masih tersisa dari pembibitan. Dengan demikian umur dan tingkat pertumbuhan tanaman yang sudah tumbuh dengan baik dibandingkan dengan tanaman hasil penyulaman tidak berbeda. Cara penyulaman cukup sederhana. Tanaman yang mati dibuang, lubang
penanaman dibuat pada bekas tempat tersebut. Selanjutnya tanaman sulaman ditanam sebagai pengganti. Selain untuk mengganti tanaman yang mati, penyulaman juga dilakukan untuk tanaman yang pertumbuhanya kurang baik (kerdil/rusak diserang hama/penyakit).
4) Penyiangan, penggemburan, dan pengguludan
Penyiangan biasanya dilakukan 2-4 kali selama masa tanam sawi, disesuaikan dengan kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Setelah tanaman berumur 2 minggu biasanya gulma mulai bermunculan, karena masa panen sawi yang tergolong singkat, penyiangan dilaukan 1-2 minggu berikutnya. Apabila kondisi tanah masih sama dengan saat penanaman maka tidak perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan. Tetapi jika kondisi tanah berubah menjadi padat atau mengeras maka penggemburan dan pengguludan perlu dilakukan. penggemburan dan pengguludan biasanya dilakukan bersamaan dengan penyiangan. Saat mencabut gulma dengan kored biasanya petani juga mencacah tanah disekitar penanaman agar gembur. Penggemburan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati karena seringkali merusak tanamannya sendiri. 5) Pemupukan tambahan
Pupuk tambahan diberikan pada saat 3 minggu setelah tanam yaitu urea dengan dosis 50 kg/ha. Perlu ditekankan disini bahwa tambahan pupuk urea saja sudah cukup memadai. Alasanya sawi adalah sayuran daun yang lebih membutuhkan pupuk untuk membantu pertumbuhan bagian tersebut. Pupuk TSP dan KCl yang dibutuhkan untuk ketegaran pertumbuhan batang, bunga, atau bagian tanaman lainya sudah cukup sebagai pupuk dasar saja. Pemberian pupuk dapat dilakukan dengan penaburan pada lahan tanam, atau dapat juga dengan melarutkan kedalam air lalu disiramkan pada lahan tanam. Satu sendok urea,
sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pada pagi atau sore hari.
6. Hama, Penyakit, dan Pengendaliannya
Hama dan penyakit sama-sama merugikan bagi petani karena dapat menurunkan produksi sawi. Hama merupakan binatang yang merusak tanaman dan berukuran cukup besar sehingga dapat dilihat oleh mata telanjang. Adapun penyakit merupakan keadaan tanaman yang terganggu pertumbuhanya dan penyebabnya bukanlah binatang yang mudah tampak oleh mata. Penyebab penyakit dapat berupa bakteri, virus, jamur, maupun gangguan fisiologis yang mungkin terjadi.
Berikut ini hama dan penyakit yang menyerang tanaman sawi dan selada beserta cara pengendalianya menurut Haryanto, dkk (1995: 73-85).
a. Hama
Hama tanaman sawi yang cukup penting diantaranya adalah : ulat
Crocidolomia binotalis, ulat tritip, siput, ulat Thepa javanica, dan cacing bulu.
1) Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.)
Penyebab :
Penyebab kerusakan tersebut adalah ulat titik tumbuh atau yang disebut
Crocidolomia binotalis Zell. Ulat ini berwarna hijau, dipunggungnya terdapat garis berwarna hijau muda dan rambut yang berwarna hitam. Serangga dewasa meghasilkan telur yang jumlahnya 30-80 butir tiap kelompok. Telur ini akan menetas dalam jangka waktu 1-2 minggu dan setiap hari jumlah telurnya akan
bertambah. Setelah menetas alat akan melalap habis daun sawi yang berada disekitarnya.
Gejala :
Daun bagian dalam yang terlindungi oleh daun bagian luar rusak dan kelihatan bekas gigitan. Tadak heran bila dari luar tanaman masih kelihatan baik tetapi setelah diperiksa ternyata bagian dalamnya sudah rusak.
Pengendalian :
Pengendalian dapat dilaukan dengan cara preventil, yaitu menyemprot tanamn sebelum muncul serangga. Insektisida yang dapat dipakai ialah Dipterex 50 SP dengan dosis 10-20 g/10 l air, Diazinon 60 EC dengan dosis 10-20 cc/10 l air, Bayrusil 25 EC dengan dosis 10-20 cc/10 l air, Phosvel 30 EC dengan dosis 20-25 cc/10 l air, atau Orthena 75% EC (5-10 g/10 l air). Pengendalian secara kuratif atau setelah terjadi serangan dapat juga dilakukan dengan menggunakan insektisida yang sama.
2) Ulat tritip (Plutella maculipennis)
Penyebab :
Penyebab kerusakan tersebut adalah Plutella maculipennis. Ulat yang baru menetas warnanya hijau muda. Setelah dewasa warna kepalanya menjadi lebih pucat dan terdapat bintik cokelat. Serangga dewasa menghasilkan telur secara berkelompok tetapi hanya terdapat 2-3 butir telur setiap kelompok.
Gejala :
Daun tampak seperti bercak-bercak putih. Jika lebih diperhatikan ternyata bercak-bercak tersebut adalah kulit ari daun yang tersisa setelah dagingnya dimakan hama. Selanjutnya daun menjadi berlubang karena kulit ari
daun tersebut mengering dan sobek. Serangan berat menyebabkan seluruh daging daun habis termakan, sehingga yang tertinggal hanyalah tulang-tulang daunnya Pengendalian :
Cara sederhana pemberantasan hama ini adalah dengan menggunakan obor atau lampu penarik serangga karena hama ini tertarik akan cahaya. Pada malam hari obor diletakkan di beberapa penjuru lahan. Dibawah obor diletakkan wadah berisi air. Karena terangnya cahaya, hama akan terbang menghampiri obor shingga terbakar dan jatuh kedalam wadah. Pemberantasan secara kimia dapat dilakukan dengan insektisida Diazinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/l air, atau Sevin dengan dosis 1-2 kh/hektar. Volume semprotnya 400-500 l larutan per hektar. Selain itu dianjurkan melakukan rotasi tanaman agar daur hidup hama terhenti.
3) Siput (Agriolimax sp.)
Penyebab :
Penyebab gejala tersebut adalah siput Agriolimax sp. Hewan bercangkang cokelat dengan tubuh lunak ini bergerak amat lambat, dan umumnya menyerang pada malam hari.
Gejala
Tanaman yang terserang hama ini daunya banyak berlubang tetapi tidak merata. Sering pula dijumpai jalur-jalur bekas lendir pada tanaman atau sekitarnya.
Hama jenis ini dapat dikendalikan dengan menggunakan insektisida Metapar 99 WP dengan dosis 0,5-1 g/l air. Siput yang terlihat disekitar tanaman sebaiknya diambil dan dimusnahkan.
4) Ulat Thepa javanica
Penyebab :
Penyebabnya adalah Ulat Thepa javanica.
Gejala :
Daun banyak berlubang dengan jarak antara lubang sangat dekat dan menggerombol.
Pengendalian :
Hama jenis ini daat dikendalikan dengan menggunakan insektisida Metapar 99 WP dengan dosis 0,5-1 g /l air.
5) Cacing bulu (cut warm)
Penyebab :
Penyebabnya dalah yang tinggal dalam tanah dan menggerogoti pangkal batang.
Gejala :
Bagian pangkal batang sawi yang terserang menjadi rapuh, lama kelamaan tanaman menjadi roboh.
Pengendalian :
Hama ini dapat dikendalikan dengan cara menggenangi lahan dengan air yang dicampur insektisida Diazinon dengan dosis 10 cc/10 l air.
Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain penyakit akar pekuk, bercak daun alemaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik.
1) Penyakit akar pekuk
Penyebab :
Penyebab penyakit akar pekuk disebabkan oleh jamur Plasmodiofora brassicae War. Penyebab penyakit ini dapat terjadi melalui air drainase, alat-alat pertanian, tanah yang tertiup angin, pupuk kandang, hewan, dan bibit tanaman. Bibit inilah yang utama memencarkan penyakit secara luas. Jamur tidak dapat mencapai biji, oleh karena itu penyakit ini tidak disebarkan lewat biji.
Gejala :
Akar-akar yang terserang penyakit ini akan mengadakan reaksi dengan pembelahan dan pembesaran sel yang menyebabkan terjadinya bintil yang tidak teratur. Seterusnya bintil-bintil ini bersatu sehingga menjadi bengkakan yang mirip batang.
Pengendalian :
a) Jangan memindahkan bibit atau tanaman yang ditanam dari lahan yang sakit ke lahan yang masih sehat.
b) Sterilisasi tanah dapat diusahakan dengan memberi fungsida, seperti Vapan (bahan aktif natrium N-metil diktiokarbonat), Benlate (benomyl), Topsin M (tiofanat metil), atau Brassicol (quintozine atau PCNB). Pemberian Brassicol yang mengandung bahan aktif quintozine dapat disiram. Dosis fungsida yang digunakan adalah 0,75% atau 75 g dalam 100 l air.
Penyebab :
Penyebab penyakit ini adalah jamur Alternaria brassicae (Berk) Sacc. Jamur ini dapat terbawa oleh biji, jika biji ditanam jamur akan menginfeksi persemaian. Jamur juga dapat menyerang pangkal bibit yang menyebabkan penyakit rebah semai (dumping off).
Gejala
Pada daun terdapat bercak berwarna kelabu gelap yang meluas dengan cepat. Sehingga menjadi bercak bulat dengan garis tengah mencapai 1 cm. Penyakit ini lebih banyak terdapat pada daun tua, jika terdapat banyak bercak daun akan cepat mati.
Pengendalian :
a) Benih yang akan ditanam direndam dalam air hangat bersuhu 50ºC selama 30 menit.
b) Penyemprotan dengan fungsida Difolatan 4 F (kaptapol) dengan dosis 2-3 cc/l air. Pada musim kemarau dapat juga disemprot dengan Antracol 70 WP (propineb sebanyak 2g/l air, dengan volume semprot 300-800l/hektar). 3). Busuk basah (soft root)
Penyebab :
Penyebab penyakit ini dalah bakteri Erwinia carotovora (Jones) Dye, yang dulu lazim disebut sebagai Erwinia carotovora (Jones) Holland. Busuk basah adalah penyakit yang amat merugikan tanaman sayuran secara umum karena dapat menjangkau hampir semua komoditas sawi.
Gejala :
Pada bagian yang terinfeksi mula-mula bercak kebasahan. Bercak membesar dan bentuknya tidak teratur. Jaringan yang membusuk mulanya tidak
berbau, tetapi dengan adanya serangan bakteri sekunder jaringan tersebut menjadi berbau khas menyolok hidung. Serangan dapat terjadi tidak hanya di lahan, namun juga dalam tempat penyimpanan dan pengangkutan sebagai penyakit pasca panen.
Pengendalian :
a) Jarak antar tanaman jangan terlalu rapat.
b) Pemanenan dilakukan secara hati-hati. Hindari terjadinya lecet pada tanaman baik saat pemanenan, penyimpanan, maupun saat mengangkutan.
c) Setelah panen tanaman dapat dicuci dengan larutan klorin.
d) Kurangi kelembapan di dalam ruang penyimpanan dan buatlah ventilasi yang