BAB II : PENYERTAAN MELAKUKAN TINDAK PIDANA MENURUT
B. Penjatuhan Sanksi Terhadap Anak Yang Turut Serta
5. Pertimbangan Hakim
Putusan PN Padangsidimpuan No. 5/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp Menimbang, Bahwa Anak yang berkonflik dengan hukum telah didakwakan oleh Penuntut Umum dengan dakwaan tunggal sebagaimana diatur Pasal 80 ayat (3) UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang mana mengandung unsur sebagai berikut:
a. Unsur Barang Siapa
b. Melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan kematian c. Melakukan Kejahatan untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan
pelaksanaan itu bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri
1. Unsur pertama “Barang Siapa”
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan
“barangsiapa” dalam unsur ini adalah selaku subjek hukum yang didakwakan melakukan suatu tindak pidana sebagaimana yang didakwaakan Penuntut Umum kepadanya dan yang bersangkutan sedang berhadapan di persidangan, apabila perbuatan nya telah memenuhi unsur-unsur dari tindak pidana yang didakwakan tersebut maka orang tersebut dinyatakan sebagai pelaku.
Menimbang, bahwa dalam sidang anak yang berkonflik dengan hukum ADtelah membenarkan identitas dirinya sebagaimana yang dimuat dalam surat dakwaan Penuntut Umum,
dan pengakuan Terdakwa, sepanjang mengenai identitasnya dan didukung oleh keterangan saksi majelis menilai dalam perkara ini tidak terdapat error in persona atau kekeliruan dalam mengadili orang, sehingga majelis berpendapat yang dimaksud dari setiap orang adalah anak yang berkonflik dengan hukum AD yang selanjunya akan diteliti dan dipertimbangkan apakah perbuatannya memenuhi unsur-unsur yang didakwakan kepadanya;
Menimbang, berdasarkan pertimbangan hakim tersebut, Majelis Hakim berpendapat unsur yang pertama telah terpenuhi;
2. Unsur“Melakukan kekerasan terhadap Anak yang Mengakibatkan mati”
Menimbang, berdasarkan fakta yang diperoleh dari persidangan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum AD bersama MF melakukan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia;
Menimbang, bahwa kejadiannya pada hari jum‟at tanggal 21 April 2017 sekiranya pukul 20:00 Wib di Jl.Williem Iskandar depan kantor perpustakaan (komplek Sadabuan) kel.Sadabuan, kec.Padangsidimpuan Utara kota Padangsidimpuan;
Menimbang, bahwa anak yang berkonflik dengan hukum AD menusuk bagian perut sebanyak satu kali. Kemudian pada saat AD menusuknya, pada saat itu posisinya berada di atas
sepeda motor milik MF Jenis Honda Spin warna hitam, dan menusuk 2 tusakan lagi setelah AD turun dari sepeda motor.
Menimbang, bahwa saat penusukan yang pertama, AD masih berada di atas sepeda motor milik MF dan keduanya jatuh ke tanah dengan posisi AD berada di bawah, kemudian MF turun dan menarik baju korban agar anak yang berkonflik dengan hukum AD dapat naik ke atas korban, setelah berada di atas koraban, MF menontonya di mana anak yang berkonflik dengan hukum menusuk kembali dada dan punggung korban. Setelah itu MF bersama AD langsung bergegas pergi meninggalkan korban di tempat kejadiaan.
Menimbang, bahwa dengan Surat Keterangan Meninggal dari Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan No.440/27/V/SKM/2017 tanggal 02 Mei 2017 dan Visum Et Repertum Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan No.440/110/VP/V/2017 tanggal 02 Mei 2017 yang ditanda tangani dr. Riski Nurdelima menerangkan sebagai berikut:
- Luka tusuk pada dada sebelah kiri bawah panjang: empat centimeter, lebar: dua centimeter, dalam: lima centimeter - Dua luka sayat pada bahu kiri panjang 1: tiga kali satu
centimeter, panjang 2: empat kali satu centimeter Kesimpulan :
- Luka disebabkan ruda paksa tajam.
Menimbang, berdasarkan pertimbangan tersebut, Majelis Hakim berpendapat unsur ke 2 ini terpenuhi;
3. “Melakukan Kejahatan untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan itu bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri”
Menimbang, berdasarkan fakta yang diperoleh dari persidangan bahwa yang merencanakan perkelahian tersebut adalah korban Hamzah Siregar, dan anak yang berhadapan dengan hukum tidak ada rencana berkelahi, namu korbanlah yang meminta anak yang berkonflik dengan hukum yang menentukan tempat perkelahian tersebut, kemudian AD merencanakannya melalui BBM (blackberry massenger);
Menimbang, bahwa adapun isi pesan BBM anak yang berkonflik dengan hukum AD tersebut “Dimana baju batik mu?”dan dijawab oleh korban anak, ini kenapa itu? dibalas lagi oleh AD, sama ku lah baju mu itu? dibalas oleh korban anak tapi robek ketiaknya. Selang beberapa menit kemudian korban anak mengirimkan kembali pesan “tapi dapat ku informasi kau cemarkan nama baik ku dibelakang ku” dan AD membalas “ Mana ada, Siapa orangnya? dibalas lagi, gak perlu kau tau itu (kata-kata yang tidak sopan) yang pengennya kau berantam sama ku?
Kemudian AD membalasnya gak ada ku ajak kau berantam (pada saat itu AD telah emosi). Pada hari selasa tanggal 18 April pukul
21.00 wib Hamzah siregar kembali mengirim pesan ke Akun BBM AD “jadinya kita yang berantam itukan, udah gatal tanganku (disertai foto kepala tangan) dan tentukanlah di mana tempatnya kita yang mau berantam itu, ajak kawanmu yang benci samaku biar main kita. Tetapi AD tidak membalas pesan BBM tersebut (akan tetapi dalam hatinya akan mengajak Hamzah berantam);
Menimbang, bahwa anak yang berkonflik dengan hukum menjumpai MF dan mengatakan diajak si Hamzah Siregar kita berantam, kemudian MF bilang, Ah serius lah kau? kemudian AD menunjukkan percakapan di akun BBM kemarin, setelah melihat percakapannya MF bersedia membantu dan menentukan waktu perkelahian pada hari jum‟at. Pada hari kamis korban anak mengirimkan pesan singkat lagi, di mana kau sekarang, ayok dulu kita jumpa (kata-kata yang tidak sopan)? dibalas oleh AD “tidak sempat, kakiku lagi sakit”. Korban anak Hamzah Siregar membalasnya lagi “keluar dulu kau dari rumah mu itu (kata tidak sopan) biar main kita satu lawan satu”, kemudian dibalas oleh AD yaudah besok malamlah kita jumpa dan dibalas “ok jadi” oleh korban anak. Pada 21 April 2017 sekiranya pukul 16.00 Wib, AD berkata kepada MF, gimana kita jumpainya si Hamzah? Lalu dijawab oleh MF Ayok. Yang mana pada saat itu posisinya lagi hujan. Kemudian AD mengirimkan pesan “PING” 6 kali ke akun BBM dari Hamzah Siregar, dan dibalas oleh hamzah Siregar, ini
kau desak-desak aku kontol, kemudian mengirimkan pesan suara, (kata-kata yang tidak sopan) akhirnya mereka bersepakat untuk bertemu di depan perpustakaan di Jalan Willem Iskandar kel.Sadabuan kec.Padangsidimpuan Utara kota Padangsidimpuan.
Menimbang,berdasarkan pertimbangan di atas, Majelis Hakim berpendapat Unsur ke 3 ini telah terpenuhi;
Menimbang, bahwa karena unsur Pasal 80 ayat (3) UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah terpenuhi, maka anak yang berhadapan dengan hukuk dinyatakan telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan tunggal tersebut. Sehingga Majelis hakim berkesimpulan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum AD telah terbukti dan menyakini melakukan tindak pidana
“Melakukan Kekerasan terhadap Anak yang mengakibatkan mati”
Menimbang, bahwa berdasarkan hasil Penelitian Kemasyarakatan dan rekomendasi dari pembimbing kemasyarakatan dari Permasyarakatan klas II B Padangsidimpuan Nomor: W2.E18.PK.04.07-03 tanggal 04 Mei 2017, Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:
Menimbang, bahwa Majelis hakim sependapat dengan rekomendasi dari pembimbing kemasyarakatan dari lembaga permasyarakatan klas II B Padangsidimpuan sehubungan
anak yang berkonflik dengan hukum dipidana penjara seringan-ringannya karena menurut hemat Majelis Hakim belum tentu orang tua anak yang berkonflik dengan hukum bisa melakukan pengawasan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dengan baik dilingkungan rumahnya maupun terhadap lingkungan sekitarnya. Sehingga anak yang berkonflik dengan hukum tidak terkontaminasi dengan pergaulan-pergaulan yang tidak baik dan anak yang berkonflik dengan hukum tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan melanggar hukum.
Menimbang, bahwa hakim menilai orang tua anak yang berkonflik dengan hukum tidak bisa atau belum mampu mendidik anak yang berkonflik dengan hukum dengan baik karena anak yang berkonflik dengan hukum dibiarkan bergaul dilingkungan sekitar tanpa diawasi oleh orang tuanya karena kesibukan mencari nafkah, sehingga dengan pergaulan yang tidak baik anak yang berkonflik dengan hukum rentan melakukan perbuatan pidana.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, hakim berpendapat anak yang berkonflik dengan hukum perlu pembinaan di Lembaga Pemidanaan Khusus Anak, akan tetapi penjatuhan pidana jangan terlalu lama karena pidana terhadap anak yang berkonflik dengan hukum haruslah memperhatikan hal-hal yang terbaik bagi anak
yang berkonflik dengan hukum, pembinaan anak yang berkonflik dengan hukum di Lembaga Pembinaan Khusus Anak dalam waktu yang singkat perlu dilakukan untuk memperbaiki perilaku anak yang berkonflik dengan hukum kearah yang lebih baik, sehingga nantinya anak yang berkonflik dengan hukum dapat mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana perbuatan yang benar.
Menimbang, bahwa menurut hemat hakim, pidana terhadap anak yang berkonflik dengan hukum adalah merupakan hal yang refresif akibat perbuatan yang dilakukan karena telah melanggar undang-undang, sehingga harus dijatuhi hukuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya, sedangkan bagi masyarakat merupkan hal yang sifatnya preventif (pencegahan) agar perbuatan yang serupa sebisa mungkin tidak terjadi lagi, hal ini juga merupakan hal yang bersifat edukatif (pembelajaran) bagi masyarakat agar tidak melakukan hal yang serupa, sehingga hakim berpendapat bahwa pidana yang dijatuhkan sudah memenuhi rasa keadilan;
Menimbang, bahwa selama pemeriksaan dipersidangan Majelis Hakim tidak menemukan adanya alasan pemaaf maupun alasan pembenar sehingga perbuatan anak yang berkonflik dengan hukum harus dijatuhi pidana setimpal dengan kesalahannya;
Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap diri anak yang berkonflik dengan hukum telah dikenakan penahanan yang sah, maka masa penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
Menimbang, bahwa oleh karena anak yang berkonflik dengan hukum dijatuhi pidana dan sebelumnya tidak ada pengajuan permohonan pembebasan dari pembayaran biaya perkara, maka kepada anak yang berkonflik dengan hukumdibebani membayar biaya perkara yang besarnya akan ditentukan dalam amar putusan ini;
Menimbang, bahwa terdapat barang bukti yang diajukan di persidangan untuk selanjutnya dipertimbangkan sebagai berikut:
Menimbang bahwa barang bukti berupa 1(satu) buah pisau belati, 1(satu) unit Handphone merek ASUS warna hitam, 1(satu) buah baju kaos oblong warna biru, 1 (satu) buah celana berwarna biru dongker, sepasang sendal Swallow berwarna putih dan 1(satu) unit Handphone merek Asus warna hitam yang telah digunakan untuk kejahatan dan dikhawatirkan akan dipergunakan untuk mengulangi kejahatan, maka perlu ditetapkan agar barang bukti tersebut di rampas dan dimusnahkan.
Menimbang, bahwa 1(satu) unit sepeda motor merk Suzuki Spin 125 warna hitam beserta 1(satu) buah kunci kontak
sepeda motor, 1(satu) unit sepeda motor merk Honda Supra X 125 warna hitam beserta 1(satu) buah kunci kontak sepeda motor merek Honda yangtelah disita untuk di pergunakan sebagai barang bukti maka dikembalikan kepada yang berhak;
Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap diri anak yang berkonflik dengan hukum, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan meringankan ;
Keadaan yang memberatkan
- Perbuatan anak yang berhadapan dengan hukum mengakibatkan korban anak meninggal dunia;
- Anak yang berkonflik dengan hukum telah terlebih dahulu merencanakan perbuatannya;
Keadaan yang meringankan
- Anak berkonflik dengan hukum belum pernah dikuhum;
- Anak berkonflik dengan hukum berstatus sebagai pelajar;
Putusan PN Padangsidimpuan No. 6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan apakah berdasarkan fakta-fakta hukum diatas, terdakwa dapat dinyatakan melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya Pasal 80 ayat (3) UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang unsur-unsurnya adalah:
a. Barang siapa;
b. Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuru melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati;
c. Melakukan kejahatan untuk itu telah ternya dari adanya permulaan pelaksanaan itu bukan semata-mata disebabkan karena kehendak sendiri;
1. Unsur “Barang Siapa”
Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan “barangsiapa”
dalam unsur ini adalah selaku subjek hukum yang didakwakan melakukan suatu tindak pidana sebagaimana yang didakwaakan Penuntut Umum kepadanya dan yang bersangkutan sedang berhadapan ke persidangan, apabila perbuatan nya telah memenuhi unsur-unsur dari tindak pidana yang didakwakan tersebut maka orang tersebut dinyatakan sebagai pelaku.
Menimbang, bahwa dalam sidang anak yang berkonflik dengan hukum MF telah membenarkan identitas dirinya sebagaimana yang dimuat dalam surat dakwaan Penuntut Umum, dan pengakuan Terdakwa, sepanjang mengenai identitasnya dan didukung oleh keterangan saksi Majelis menilai dalam perkara ini tidak terdapat error in persona atau kekeliruan dalam mengadili orang, sehingga Majelis berpendapat yang dimaksud dari setia orang adalah anak yang berkonflik dengan hukum MF yang selanjunya
akan diteliti dan dipertimbangkan apakah perbuatannya memenuhi unsur-unsur yang didakwakan kepadanya;
Menimbang, berdasarkan pertimbangan hakim tersebut, Majelis Hakim berpendapat unsur yang pertama telah terpenuhi;
2. Unsur “Menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuru melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati;”
Menimbang, berdasarkan fakta yang diperoleh dari persidangan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum MF bersama AD melakukan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia;
Menimbang, bahwa kejadiannya pada hari jum‟at tanggal 21 April 2017 sekiranya pukul 20:00 Wib di Jl.Williem Iskandar depan kantor perpustakaan (komplek Sadabuan) kel. Sadabuan, kec.Padangsidimpuan Utara kota Padangsidimpuan;
Menimbang, bahwa AD menusuk bagian perut sebanyak satu kali. Kemudian pada saat AD menusuknya, pada saat itu posisinya berada diatas sepeda motor milik MF Jenis Honda Spin warna hitam, dan menusuk 2 tusakan lagi setelah AD turun dari sepeda motor.
Menimbang, bahwa saat penusukan yang pertama, AD masih berada diatas sepeda motor milik MF dan keduanya jatuh ketanah dengan posisi AD berada dibawah, kemudian MF turun dan menarik baju korban agar anak yang berkonflik dengan hukum AD dapat daik
keatas korban, setelah berada diatas koraban, MF menontonya dimana naak yang berkonflik dengan hukum menusuk kembali dada dan punggung korban. Setelah itu MF bersama AD langsung bergegas pergi meninggalkan korban ditempat kejadiaan.
Menimbang, bahwa dengan Surat Keterangan Meninggal dari
Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan
No.440/27/V/SKM/2017 tanggal 02 Mei 2017dan Visum Et Repertum Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan No.440/110/VP/V/2017 tanggal 02 Mei 2017 yang ditanda tangani dr. Riski Nurdelima menerangkan sebagai berikut:
- Luka tusuk pada dada sebelah kiri bawah panjang: empat centimeter, lebar: dua centimeter, dalam: lima centimeter
- Dua luka sayat pada bahu kiri panjang 1: tiga kali satu centimeter, panjang 2: empat kali satu centimeter
Kesimpulan :
- Luka disebabkan ruda paksa tajam.
Menimbang, berdasarkan pertimbangan tersebut, Majelis Hakim berpendapat unsur ke 2 ini terpenuhi;
3. Melakukan kejahatan untuk itu telah ternya dari adanya permulaan pelaksanaan itu bukan semata-mata disebabkan karena kehendak sendiri;
Menimbang, berdasarkan fakta yang diperoleh dari persidangan bahwa yang merencanakan perkelahian tersebut adalh
korban Hamzah Siregar, dan anak yang berhadapan dengan hukum tidak ada rencana berkelahi, namu korbanlah yang meminta anak yang berkonflik dengan hukum yang menentukan tempat perkelahian tersebut, kemudian AD merencanakannya melalui BBM (blackberry massenger);
Menimbang, bahwa adapun isi pesan BBM anak yang berkonflik dengan hukum AD tersebut “Dimana baju batik mu?”
dan dijawab oleh korban anak, ini kenapa itu? dibalas lagi oleh AD, sama ku lah baju mu itu? dibalas oleh korban anak tapi robek ketiaknya. Selang beberapa menit kemudian korban anak mengirimkan kembali pesan “tapi dapat ku informasi kau cemarkan nama baik ku dibelakang ku” dan AD membalas “ Mana ada, Siapa orangnya? Dibalas lagi, gak perlu kau tau itu (kata tidak sopan), yang pengennya kau berantam sama ku? Kemudian AD membalasnya gak ada ku ajak kau berantam (pada saat itu AD telah emosi). Pada hari selasa tanggal 18 April pukul 21.00 wib Hamzah Siregar kembali mengirim pesan ke Akun BBM AD “jadinya kita yang berantam itukan, udah gatal tanganku (disertai foto kepala tangan) dan tentukanlah di mana tempatnya kita yang mau berantam itu, ajak kawanmu yang benci samaku biar main kita. Tetapi AD tidak membalas pesan BBM tersebut (akan tetapi dalam hatinya akan mengajak Hamzah berantam);
Menimbang, bahwa anak yang berkonflik dengan hukum menjumpai MF dan mengatakan diajak si Hamzah Siregar kita berantam, kemudian MF bilang, Ah serius lah kau?. Dan kemudian AD menunjukkan percakapan di akun BBM kemarin, setelah melihat percakapannya MF bersedia membantu dan menentukan waktu perkelahian pada hari jum‟at. Pada hari kamis korban anak mengirimkan pesan singkat lagi, dimana kau sekarang, ayok dulu kita jumpa kontol? dibalas oleh AD “tidak sempat, kakiku lagi sakit”. Korban anak Hamzah Siregar membalasnya lagi “keluar dulu kau dari rumah mu itu (kata tidak sopan) biar main kita satu lawan satu”, kemudian dibalas oleh AD yaudah besok malamlah kita jumpa dan dibalas “ok jadi” oleh korban anak. Pada 21 April 2017 sekiranya pukul 16.00 Wib, AD berkata kepada MF, gimana kita jumpainya si Hamzah? Lalu dijawab oleh MF Ayok. Pada saat itu posisinya lagi hujan. Kemudian AD mengirimkan pesan “PING” 6 kali ke akun BBM Hamzah Siregar, dan dibalas oleh Hamzah Siregar, ini kau desak-desak aku (kata-kata tidak sopan), kemudian mengirimkan pesan suara, (kata-kata tidak sopan) Akhirnya mereka bersepakat untuk bertemu di depan perpustakaan di Jalan Willem Iskandar kel.Sadabuan kec.Padangsidimpuan Utara kota Padangsidimpuan.
Menimbang, bahwa sebelum kekerasan tersebut dilakukan oleh anak yang berkonflik dengan hukum MF menyuruh membawa
pisau karena anak yang berkonflik dengan hukum MF takut mereka tidak mampu melawan korban Hamzah Siregar;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, Majelis berpendapat unsur ke 3 ini terpenuhi;
Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur Pasal 80 ayat (3) UU RI No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah terpenuhi, maka anak yang berhadapan dengan hukum harus dinyatakan telah terbukti secara sah menyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan tunggal tersebut. Sehingga Majelis Hakim berkesimpulan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum MF telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana “Turut serta melakukan kekerasan terhadap Anak yang mengakibatkan Mati”
Menimbang, bahwa berdasarkan hasil Penelitian Kemasyarakatan dan rekomendasi dari pembimbing kemasyarakatan dari Permasyarakatan klas IIB Padangsidimpuan Nomor:
W2.E18.PK.04.07-03 tanggal 04 Mei 2017, Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:
Menimbang, bahwa Majelis Hakim sependapat dengan rekomendasi dari pembimbing kemasyarakatan dari lembaga permasyarakatan klas II B Padansidimpuan sehubungan anak yang berkonflik dengan hukum di pidana penjara seringan-ringannya
karena menurut hemat Majelis Hakim belum tentu orang tua anak yang berkonflik dengan hukum bisa melakukan pengawasan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum dengan baik di lingkungan rumahnya maupun terhadap lingkungan sekitarnya sehingga anak yang berkonflik dengan hukum tidak terkontaminasi dengan pergaulan-pergaulan yang tidak baik dan anak yang berkonflik dengan hukum tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan melanggar hukum.
Menimbang, bahwa Hakim menilai orang tua anak yang berkonflik dengan hukum tidak bisa atau belum mampu mendidik anak yang berkonflik dengan hukum dengan baik karena anak yang berkonflik dengan hukum dibiarkan bergaul di lingkungan sekitar tanpa diawasi oleh orang tuanya karena kesibukan mencari nafkah, sehingga dengan pergaulan yang tidak baik anak yang berkonflik dengan hukum rentan melakukan perbuatan pidana.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, Hakim berpendapat anak yang berkonflik dengan hukum perlu pembinaan di Lembaga Pemidanaan Khusus Anak, akan tetapi penjatuhan pidana jangan terlalu lama karena pidana terhadap anak yang berkonflik dengan hukum haruslah memperhatikan hal-hal yang terbaik bagi anak yang berkonflik dengan hukum, Pembinaan anak yang berkonflik dengan hukum di Lembaga Pembinaan Khusus Anak dalam waktu yang singkat perlu
dilakukan untuk memperbaiki perilaku anak yang berkonflik dengan hukum ke arah yang lebih baik, sehingga nantinya anak yang berkonflik dengan hukum dapat mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana perbuatan yang benar.
Menimbang, bahwa menurut hemat hakim, pidana terhadap anak yang berkonflik dengan hukum adalah merupakan hal yang refresif akibat perbuatan yang dilakukan karena telah melanggar undang-undang, sehingga harus dijatuhi hukuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya,sedangkan bagi masyarakat merupkan hal yang sifatnya preventif (pencegahan) agar perbuatan yang serupa sebisa mungkin tidak terjadi lagi, hal ini juga merupakan hal yang bersifat edukatif (pembelajaran) bagi masyarakat agar tidak melakukan hal yang serupa, sehingga hakim berpendapat bahwa pidana yang dijatuhkan sudah memenuhi rasa keadilan;
Menimbang, bahwa selama pemeriksaan di persidangan Majelis Hakim tidak menemukan adanya alasan pemaaf maupun alasan pembenar sehingga perbuatan anak yang berkonflik dengan hukum harus dijatuhi pidana setimpal dengan kesalahannya;
Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap diri anak yang berkonflik dengan hukum telah dikenakan penahanan yang sah, maka masa penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
Menimbang, bahwa oleh karena anak yang berkonflik dengan hukum dijatuhi pidana dan sebelumnya tidak ada pengajuan
Menimbang, bahwa oleh karena anak yang berkonflik dengan hukum dijatuhi pidana dan sebelumnya tidak ada pengajuan