• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

OLEH :

YULITA ARISKA SIREGAR NIM : 140200180

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)

ABSTRAK Yulita Ariska Siregar*

Edy Yunara **

Rafiqoh Lubis ***

Kejahatan menjadi sorotan dikalangan pemerintah dan masyarakat.

Masalah kejahatan bukan saja dilakukan oleh orang dewasa, tetapi anak-anak sudah banyak yang melakukan tindak pidana. Kejahatan ini terjadi akibat perkembangan pembangunan yang sangat cepat, mulai dari teknologi, informasi, komunikasi serta perubahan gaya hidup akibat masuknya berbagai budaya asing.

Data Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumut, Misran Lubis mengatakan berdasarkan advokasi dan pemantauan selama 2017 tercatat 295 kasus kejahatan anak yang mana terdapat 26 % kekerasan fisik terhadap anak.

Penerapan sanksi yang diberikan oleh hakim harus mengacu pada UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Permasalahan skripsi yakni: bagaimana penyertaan melakukan tindak pidana di Indonesia, bagaimana sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap anak yang melakukan tindak pidana menurut hukum pidana di Indonesia, serta bagaimana penjatuhan sanksi pidana terhadap anak yang turut serta melakukan pembunuhan dikaitkan dengan perlindungan terhadap anak dalam Putusan PN No. 5/Pid.Sus- Anak/2017/PN Psp dan Putusan PN No. 6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitan hukum normatif, penelitian terhadap peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan dan berbagai literatur yang berkaitan dengan permasalahan skripsi ini.

Berdasarkan permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa penyertaan (deelneming) dalam hukum pidana di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu pembuat dan pembantu. Pembuat diatur dalam Pasal 55 KUHP yaitu plegen (mereka yang melakukan), doen plegen (mereka yang menyuruh melakukan) medeplegen (mereka yang turut serta melakukan), uitlokken (mereka yang menganjurkan). Sedangkan pembantu diatur di dalam Pasal 56 KUHP yaitu pembantuan pada saat kejahatan dilakukan dan pembantuan sebelum kejahatan dilakukan. Sanksi yang dijatuhkan kepada anak harus berdasarkan Pasal 71 UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Berdasarkan Putusan PN No.5/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp hakim menjatuhkan pidana 6 tahun penjara kepada anak yang melakukan pembunuhan dan Putusan PN No.6/Pid.Sus- Anak/2017/PN Psp Hakim menjatuhkan 5 tahun penjara kepada anak yang turut serta melakukan pembunuhan.

Kata kunci: Penyertaan Tindak Pidana Pembunuhan, Anak, Sanksi

*Penulis/Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Dosen Pembimbing I, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II, Staf Pengajar Departemen Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala yang telah memberikan taufiq dan hidayahnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi tepat pada waktu yang ditargetkan, Solawat bertangkai salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang telah mengangkat dejarat ummatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan yang disinari cahaya iman dan islam, semoga kita senantiasa mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir, amin allohumma amin.

Skripsi ini ditulis untuk memenuhi syarat memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dengan judul :

“PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHAPAP ANAK PELAKU TURUT SERTA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (ANALISIS PUTUSAN PN NOMOR 5/PID.SUS-ANAK/2017/PNPSP DAN PUTUSAN PN NOMOR 6/PID.SUS-ANAK/2017/PN PSP)”

Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orangtua penulis, Ayahanda Halapangan Siregar dan Ibunda Nurbasyariah Lubis, yang memberikan perhatian yang luar biasa, doa, kasih sayang serta seluruh jiwa dan raganya buat membahagiakan penulis, semoga penulis menjadi Qurrota a‟yun. Adik penulis Rahmad Aliamsyah Siregar dan Khadijah Syahila Siregar bersama keduanya penulis mampu menjadi sosok yang lebih dewasa, kuat dan hebat, serta seluruh keluarga besar penulis yang memberikan semangat dan motifasi setiap waktu.

(5)

Dalam halnya penulisan skripsi ini terjadi banyak sekali hambatan dan rintangan yang dialami. Dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta‟ala penulis dapat melewati segala permasalahan. Serta tidak luput dari dukungan dan bantuan berbagai pihak yang terkait sehingga skripsi dapat terselesaikan.

Melalui kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H.,M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H.,M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Saidin, S.H.,M.Hum, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Sumatera Utara.

4. Ibu Dr. Puspa Melati Hasibuan, S.H.,M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Sumatera Utara.

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakuls Hukum Sumatera Utara.

6. Bapak Dr. M. Hamdan, S.H.,M.H, selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

7. Bapak Dr. Edi Yunara S.H.,M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I, terima kasih penulis ucapkan atas nasehat, keluangan waktu, pikiran, dukungan, dorongan, dalam membimbing sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

(6)

8. Ibu Rafiqoh Lubis, S.H.,M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang meluangkan waktu, pikiran, tenaga, kesabaran dalam membimbing penulisan skripsi ini. Selalu bersedia memberikan nasehat, dukungan, arahan, motifasi serta ide-ide cemerlang untuk menjadikan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Ribuan terima kasih penulis ucapkan semoga ibu sehat selalu, tetap menginspirasi dan tetap menjadi yang terbaik.

9. Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, S.H.,M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis selama masa perkulihan.

10. Seluruh Bapak dan Ibu Staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

11. Seluruh Bapak dan Ibu Staf Kemahasiswaan dan Pendidikan Fakultas Hukum Sumatera Utara.

12. Keluarga Besar Nurul „Ilmi (Eka, Linda, Ummu, Novita, Putri, Nisa, Rini, Sakinah, dan namanya yang tidak dapat disebutkan..

13. Presidium “Miftahul Jannah” yang menyita waktu dan pikiran, melatih kesabaran. Terimakasih telah mengukir cerita bahagia serta kisah sedih dalam satu tahun kepengurusan (Memo Fachri, Widya, Milda, Guivara, Nelly, Faisal, Iin, Farhan, Ajeng, Desy, Rivaldo, Khairin, Rizky, dan Wahyu.

14. Muslimah-Muslimah Penyejuk Qolbu, yang sama-sama berjuang menjadi pribadi yang lebih baik: Ayu, Avissa, Amanda, Amiroh, Ashri, Chintya, Essy, Hafifah, Putri, Junita, Yana, dan Rubiah.

(7)

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dari segi isi maupun format penulisan dalam skripsi ini. Karena Sesungguhnya Kesempurnaan Hanya Milik Allah, oleh karenanya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan agar skripsi ini menjadi baik dan layak untuk saat ini dan di masa yang akan datang.

Medan, April 2018

Yulita Ariska Siregar

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR IS ... vi

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 6

D. Keaslian Penulisan ... 7

E. Tinjauan kepustakaan ... 7

1. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana ... 7

2. Pengertian Penyertaan Melakukan Kejahatan dan Unsur- Unsur Tindak Pidana Pembunuhan ... 17

3. Batasan Usia Anak dan Anak yang Berkonflik dengan Hukum ... 21

F. Metode Penelitian ... 22

G. Sistematika Penulisan ... 25

BAB II : PENYERTAAN MELAKUKAN TINDAK PIDANA MENURUT HUKUM PIDANA DI INDONESIA A. Bentuk dan Syarat Delik Penyertaan ... 28

B. Penyertaan di Luar KUHP ... 34

(9)

1. Menurut UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ... 34 2. Menurut UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika... 36 3. Menurut UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ... 40 4. Menurut UU No. 44 Tahun 2008 tetang Pornografi ... 43 5. Menurut UU No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 2002 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang ... 45

BAB III: SANKSI YANG DAPAT DIJATUHKAN TERHADAP ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA MENURUT HUKUM PIDANA DI INDONESIA

A. Pengaturan Sanksi Terhadap Anak Sebelum Lahirnya UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ... 47 1. Menurut KUHP ... 47 2. Menurut UU No. 3 dengan Hukum Menurut UU No. 11

Tahun 20012 tentang Sistem Peradilan Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak ... 51 B. Pengaturan Sanksi Terhadap Anak yang Berkonflik Pidana

Anak ... 56

(10)

BAB IV: PENJATUHAN SANKSI TERHADAP ANAK YANG TURUT SERTA MELAKUKAN PEMBUNUHAN DIKAITKAN DENGAN PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK DALAM PUTUSAN PN NO. 5/PID.SUS-ANAK/2017/PN PSP DAN PUTUSAN PN NO 6/PID.SUS-ANAK/2017/PN PSP

A. Pemidanaan Terhadap Anak Kaitannya dengan Tujuan

Pemidanaan dan Prinsip Perlindungan Terhadap Anak ... 62

B. Penjatuhan Sanksi Terhadap Anak Yang Turut Serta Melakukan Pembunuhan Dikaitkan Dengan Perlindungan terhadap Anak dalam Putusan PN No. 5/Pid.Sus- Anak/2017/PN PSP dan Putusan PN No. 6/ Pid.Sus- Anak/2017/PN PSP ... 67

1. Pembunuhan yang dilakukan oleh Anak menurut UU No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ... 69

2. Kasus ... 69

a. Putusan PN Padangsidimpuan No. 5/Pid.Sus- Anak/2017/PN Psp dan Putusan PN Padangsidimpuan No. 6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp ... 69

1. Kronologis ... 69

2. Dakwaan ... 72

3. Tuntutan Pidana ... 72

4. Fakta Hukum ... 75

5. Pertimbangan Hakim ... 82

6. Putusan... 102

(11)

3. Analisis Putusan ... 105

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 114 B. Saran ... 117

DAFTAR PUSTAKA ... 118

(12)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kejahatan sejak dahulu hingga sekarang selalu mendapatkan sorotan, baik itu dari kalangan pemerintah maupun dari masyaraka. Persoalan kejahatan bukanlah merupakan persoalan yang sederhana terutama dalam masyarakat yang sedang mengalami perkembangan seperti Indonesia. Dengan adanya perkembangan itu dapat dipastikan terjadi perubahan tata nilai di dalam masyarakat, di mana perubahan tata nilai yang bersifat positif berakibat pada kehidupan masyarakat yang sejahtera, sedangkan perubahan tata nilai bersifat negatif menjurus ke arah runtuhnya nilai-nilai budaya. Hal ini yang menyebabkan timbulnya berbagai kejahatan. Secara etimologis kejahatan merupakan suatu perbuatan manusia yang mempunyai sifat jahat sebagaimana bila orang membunuh, merampok, mencuri dan lain sebagainya. Sutherland menekankan bahwa ciri pokok kejahatan adalah perilaku yang dilarang oleh negara karena merupakan perbuatan yang merugikan negara dan terhadap perbuatan itu, negara bereaksi dengan hukumnya sebagai pamungkas.1

Kejahatan bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa saja. Akan tetapi anak-anak juga sudah banyak yang melakukan tindak pidana, meskipun anak adalah generasi penerus pembangunan, yaitu generasi yang dipersiapkan sebagai objek pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan pemegang kendali masa

1Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm.14.

(13)

depan negara.2 Namun pada kenyataannya seringkali dijumpai penyimpangan perilaku atau perbuatan dikalangan anak, yang dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat.

Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak biasanya disebabkan oleh berbagai faktor antara lain adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan yang sangat pesat, mulai dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi, serta perubahan gaya hidup akibat masuknya berbagai macam budaya asing. Selain itu, dapat juga terjadi karena kurangnya interaksi, perhatian, bimbingan, dan arahan dari keluarga khususnya orang tua yang terlalu sibuk bekerja, serta pengaruh dari lingkungan sekitar dan teman sebaya.3

Kenakalan anak sering disebut dengan “Juvenile delinquency”, yang diartikan dengan anak cacat sosial. Romli Atmasasmita mengatakan bahwa delinquency adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di suatu negara dan yang oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan tercela. Dalam kamus bahasa Indonesia delinkuensi diartikan sebagai tingkah laku yang menyalahi secara ringan norma dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kenakalan remaja adalah terjemahan dari

“juvenile delinquency”dan dirumuskan sebagai suatu kelainan tingkah laku, perbuatan ataupun tindakan remaja yang bersifat asosial, bertentangan dengan agama dan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di dalam masyarakat.

Remaja adalah yang dalam usia antara dua belas tahun dan di bawah delapan belas tahun dan belum menikah.4

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, tahun 2014–2016, jumlah kejadian kejahatan atau tindak kriminalitas di Indonesia cenderung meningkat

2Nashriana, Perlindungan Hukum Bagi Anak di Indonesia,(Jakarta: Raja Grapindo, 2011), hlm.17.

3Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), hlm.61.

4Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak, (Bandung: PT Refika Aditama, 2008), hlm.56.

(14)

sangat pesat. Polri memperlihatkan jumlah kejadian kejahatan (crime total) pada tahun 2014 sebanyak 325.317 kasus, meningkat menjadi sebanyak 352.936 kasus pada tahun 2015 dan meningkat lagi pada tahun 2016 menjadi 357.197 kasus.

Sementara itu, jumlah orang yang terkena tindak kejahatan (crime rate) setiap 100.000 penduduk diperkirakan sebanyak 131 orang pada tahun 2014, sedangkan pada tahun 2015 dan 2016 sebanayak 140 orang.5

Direktur Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumut Misran Lubis mengatakan, berdasarkan advokasi dan pemantauan selama 2017 tercatat 295 kasus kejatan anak, meningkat dari tahun sebelumnya, pada tahun 2013 ada 93 kasus, 2014 ada 95 kasus, tahun 2015 ada 144 kasus dan 2016 ada 144 kasus.

Kejahatan anak di Sumut paling banyak berupa kekerasan seksual (33 persen), perebutan hak asuh anak (27 persen), kekerasan fisik (26 persen). Sedangkan kasus lain berupa perdagangan anak (8 persen), kekerasan psikis (2 persen), pelibatan anak dalam penyalahgunaan narkoba (2 persen), dan pidana lain (2 persen).6 Peningkatan angka kejahatan tindak pidana yang dilakukan oleh anak saat ini menjadi suatu polemik yang membutuhkan perhatian khusus dari masyarakat dan aparat penegak hukum khususnya.

Adapun contoh kasus anak pelaku tindak pidana yang terjadi sekarang ini adalah sebagai berikut:

1. Kasus pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun (14 tahun) yang dilakukan dengan sadis oleh 14 orang, di mana 8 diantaranya adalah anak-anak.

5https://www.bps.go.id, Data Statistik Kriminal 2017.Pdf, hlm.19, Diakses Pada: Sabtu 24 Maret 2018, Pukul: 13:26 WIB.

6http://www.harnas.co/2018/01/01/kejahatan-anak-di-sumut-meningkat-lebih-dari- 100-persen, Diakses Pada: Sabtu 24 Maret 2018, Pukul:19:40 WIB.

(15)

Kejahatan ini dilakukan setelah mereka melakukan pesta minuman keras dan menonton video porno. Karena perbuatannya, 7 orang dijatuhkan pidana selama 10 tahun, dan satu orang yang masih berusia 13 tahun dijatuhkan sanksi tindakan berupa pelatihan kerja selama 1 (satu) tahun.7 2. Kasus pembunuhan anak yang dilakukan bocah SD umur 12 (dua belas)

tahun melakukan penusukan kepada teman sekolahnya hanya gara-gara handphone. Dalam hal ini diselesaikan dengan upaya damai keluarga kedua belah pihak.8

3. Pembunuhan EF seorang karyawan PT Polyta Global Mandiri yang dilakukan secara sadis oleh 3 orang. Karena tolakannya berhubungan badan dengan pacarnya. Satu diantaranya adalah anak yang masih berumur 16 (enam belas) tahun, karena perbuatannya dijatuhkan hukuman 10 (sepuluh) tahun penjara.9

Penegakan hukum kepada pelaku tindak pidana harus dikenakan suatu akibat hukum, hal yang sangat erat kaitannya adalah masalah pemidanaan. Hal tersebut berkaitan dengan tujuan dari penegakan hukum yang hendak dicapai yaitu pemenuhan rasa keadilan dan pencapaian kepastian hukum. Dengan demikian pemahaman tentang tujuan dari pemidanaan sangat penting untuk mengetahui maksud ditegakkan hukum tersebut.

7https://nasional.tempo.co/read/808347/vonis-kasus-yy-hukuman-mati-20-tahun- p e n j a r a - d a n - d e n d a - 2 - m D i a k s e s P a d a 2 4 M a r e t 2 0 1 8 , P u k u l 0 9 . 0 0 W I B .

8http://www.kompasiana.com/iraannisa/anak-sd-melakukan-pembunuhan-berencana- terhadap-temannya_552bb5b36ea8344f6f8b457bDiakses Pada 24 Maret 2018, Pukul: 08.00

W I B .

9https://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/08/14504141/dua.pemerkosa.dan.pembunu h.karyawati.ef.divonis.hukuman.mati. Diakses Pada 4 April 2018, Pukul 07.00 WIB.

(16)

Sifat pemidanaan ini bukan semata-mata menghukum dan mencari-cari kesalahan anak tetapi justru melindungi anak agar dapat terhindar dari perbuatan- perbuatan menyimpang. Pemidanaan anak bukan balasan atas perbuatan yang dilakukan oleh anak, tetapi lebih mengarah pada pencegahan dan pembinaan agar anak menyadari kesalahannya dan dapat kembali bergabung ketengah-tengah masyarakat untuk melanjutkan kehidupannya. Penjatuhan pidana penjara merupakan alternatif terakhir yang dijatuhkan kepada anak yang berkonflik dengan hukum.

Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk membahas mengenai tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh anak dan penjatuhan sanksi yang dapat diterapkan. Maka dari itu penelitian ini dirangkum dalam skripsi dengan judul “PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP ANAK PELAKU TURUT SERTA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (ANALISIS PUTUSAN PN NOMOR 5/PID.SUS-ANAK/2017/PN PSP DAN PUTUSAN PN NOMOR 6/PID.SUS-ANAK/2017/PN PSP).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana penyertaan melakukan tindak pidana menurut hukum pidana di Indonesia?

2. Bagaimana sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap anak yang melakukan tindak pidana menurut hukum pidana di Indonesia?

(17)

3. Bagaimana penjatuhan sanksi pidana terhadap anak yang turut serta melakukan pembunuhan dikaitkan dengan perlindungan terhadap anak dalam Putusan PN Nomor 5/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp dan Putusan PN Nomor 6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pengaturan penyertaan melakukan tindak pidana di Indonesia

b. Untuk mengetahui penjatuhan sanksi yang dijatuhkan kepada anak yang melakukan tindak pidana menurut hukum di Indonesia

c. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam penjatuhan sanksi pidana terhadap anak yang turut serta melakukan pembunuhan dan kaitannya dengan perlindungan anak.

2. Manfaat penulisan skripsi ini terdiri dari manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis sebagai berikut:

a. Manfaat teoritis

Secara teoritis penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan substansi disiplin ilmu hukum secara umum, dan hukum pidana secara khususnya.

b. Manfaat praktis

Memberikan sumbangan pemikiran bagi aparat penegak hukum dan pemerintah dalam pengambilan keputusan untuk menyelesaikan

(18)

permasalahan pidana khususnya dalam penerapan sanksi pidana terhadap anak yang melakukan tindak pidana pembunuhan.

D. Keaslian Penulisan

Penulisan ini dilakukan atas ide dan pemikiran penulis sendiri yang berasal dari keresahan masyarakat terhadap maraknya tindak pidana yang dilakukan oleh anak, serta berdasarkan masukan dari berbagi pihak guna melengkapi dan membantu dalam penulisan ini. Penulis memperoleh data dari buku-buku, jurnal, Putusan Pengadilan Negeri dan media elektronik. Jika terdapat karya orang lain penulis akan mencantumkan sumber secara jelas. Setelah mengadakan uji bersih di Perpustakaan Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara / Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Fakultas Hukum USU menyatakan bahwa penulisan tentang Penerapan sanksi pidana terhadap anak pelaku turut serta tindak pidana pembunuhan (Analisis Putusan PN Nomor 5/Pid.Sus- Anak/2017/PN Psp dan Putusan PN Nomor 6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp) tidak ada judul yang sama dan belum pernah ditulis oleh penulis lain sebelumnya.

Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan sebenarnya. Jika dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran maka saya akan bertanggungjawab sepenuhnya.

E. Tinjauan kepustakan

1. Pengertian dan Unsur-Unsur Tindak Pidana

Tindak pidana dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah strafbaar feit. Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak akan kita temui definisi terhadap tindak pidana. Adami Chazawi

(19)

telah menerjemahkan istilah Strafbaar Feit, yaitu secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tindak pidana adalah perbuatan yang pelakunya harus dipidana. Tindak pidana dirumuskan dalam undang-undang, antara lain KUHP.10

Tindak pidana dalam bahasa Inggris diartikan dengan Crime Act, apabila seseorang melakukan kesalahan belum berarti ia dapat dipidana, tetapi adanya pertanggungjawaban atas perbuatannya yang disebut dengan Criminal Responsibility.11

Tindak Pidana ialah perbuatan yang melanggar larangan yang diatur oleh aturan hukum yang diancam dengan sanksi pidana. Dalam rumusan tersebut bahwa yang tidak boleh dilakukan adalah perbuatan yang menimbulkan akibat yang dilarang dan yang diancam sanksi pidana bagi orang yang melakukan perbuatan tersebut. Menurut Andi Hamzah tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang.12

Moeljatno, tidak menggunakan istilah tindak pidana rumusan di atas, tetapi menggunakan kata “perbuatan pidana” kata perbuatan dalam perbuatan pidana mempunyai arti abstrak yaitu suatu pengertian yang merujuk pada 2 (dua) kejadian yang konkret yaitu:13

1. Adanya kejadian tertentu yang menimbulkan akibat yang dilarang; dan

10Adami Chazawi (1), Pelajaran Hukum Pidana, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.69.

11Sudarto, Hukum Pidana Materil, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), hlm.28.

12Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Jakarta: Rajawali Pres, 2011), hlm.16.

13Soeharto R.M, Hukum Pidana Materiil: Unsur-Unsur Objektif Sebagai Dasar Dakwaan, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996), hlm.29.

(20)

2. Adanya orang yang berbuat dan menimbulkan kejadian itu.

Menurut Pompe perkataan strafbaar feit secara teoritis dapat dirumuskan sebagai suatu: “pelanggaran norma atau gangguan terhadap tertib hukum yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku itu adalah penting demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum.14

Setelah melihat berbagai definisi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang disebut dengan tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarangan dan diancam pidana, di mana pengertian perbuatan disini selain perbuatan yang bersifat aktif (melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh hukum) juga perbuatan yang bersifat pasif (tidak berbuat sesuatu yang sebenarnya diharuskan oleh hukum). Dalam hal ini sangat perlu diperhatikan mengenai waktu dan tempat terjadinya suatu tindak pidana sebagai syarat mutlak yang harus diperlihatkan oleh penuntut umum dalam surat dakwaannya, demi mencapai kepastian dan keadilan dalam penegakan hukum.15

P.A.F. Lamintang menjelaskan tentang unsur-unsur tindak pidana sebagai berikut:16

14Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), hlm.6.

15Roni Wiyanto, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 2012), hlm.161.

16P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997), hlm.193.

(21)

a. Unsur-unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri sipelaku atau yang berhubungan dengan diri sipelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.

b. Unsur-unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari sipelaku itu harus dilakukan.

Unsur-unsur subjektif dari suatu tindak pidana itu adalah:

1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus/culpa);

2. Maksud pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1);

3. Macam-macam maksud atau oogmerk, misalnya seperti yang terdapat di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain;

4. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedacthe raad, misalnya seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP);

5. Perasaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).17

Adapun unsur-unsur objektif dari suatu tindak pidana yaitu:

1. Sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid;

17Ibid

(22)

2. Kualitas dari sipelaku, misalnya “keadaan sebagai seorang pegawai negeri” di dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) atau “keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas” di dalam kejahatan menurut Pasal 398 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP);

3. Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.18

Banyak terjadi perbedaan pendapat antara para pakar hukum terhadap isi dari pengertian tindak pidana, sebagian menganut monistis dan sebagian lagi menganut dualistis.

1. Pandangan Monistis

Menurut Simon,19 tindak pidana adalah tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum. Dengan ini maka untuk adanya suatu tindak pidana harus dipenuhi unsur-unsur sebagai berikut:20

a. Perbuatan manusia, baik dalam arti perbuatan positif (berbuat) maupun perbuatan negatif (tidak berbuat).

b. Diancam dengan pidana c. Melawan hukum

18Ibid, hlm.175.

19Ibid, hlm.185.

20Tongat (1), Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Persefektif Pembaharuan, Cetakan Kedua, (Malang: UMM Press, 2009), hlm.105.

(23)

d. Dilakukan dengan kesalahan

e. Oleh orang yang mampu bertanggungjawab 2. Pandangan Dualistis

Menurut Moeljatno,21 perbuatan pidana adalah perbuatan yang diancam dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut.

Maka dari penjelasan tersebut unsur tindak pidana harus memenuhi:

a. Perbuatan manusia

b. Yang memenuhi rumusan dalam undang-undang (syarat formil) terkait dengan berlakunya Pasal 1 ayat (1) KUHP;

c. Bersifat melawan hukum (syarat materil) perbutannya itu harus betul-betul dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tak boleh atau yang tak patut dilakukan karena bertentangan dengan tata pergaulan masyarakat yang dicita-citakan.

Unsur Rumusan Tindak Pidana dalam Undang-Undang

Buku II KUHP membuat rumusan-rumusan perihal tindak pidana tertentu yang masuk ke dalam kelompok kejahatan, dan buku III memuat pelanggaran. Ternyata ada unsur yang selalu disebutkan dalam setiap rumusan, yaitu mengenai tingkah laku dan perbuatan walaupun ada perkecualian seperti pada Pasal 351 (penganiayaan). Unsur kesalahan dan melawan hukum kadang-kadang dicantumkan, dan seringkali juga tidak dicantumkan, sama sekali tidak dicantumkan mengenai unsur kemampuan bertanggung jawab. Di samping itu banyak mencantumkan unsur-unsur

21Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hlm.287.

(24)

lain baik sekitar/mengenai objek kejahatan maupun perbuatan secara khusus untuk rumusan tertentu. Dari rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP dapat diketahui adanya 11 unsur tindak pidana yaitu:22

1. Unsur tingkah laku

Pada dasarnya tindak pidana mengatur mengenai tingkah laku, maka harus disebutkan dalam rumusan unsur-unsur dari tindak pidana.

Tingkah laku dalam hukum pidana terdiri dari tingkah laku aktif dan negatif. Tingkah laku aktif adalah suatu tingkah laku yang untuk mewujudkan atau melakukannya diperlakukan gerakan atau bagian tubuh, contohnya mengambil atau memalsukan. Sedangkan tingkah laku negatif yaitu membiarkan atau suatu bentuk tingkah laku yang tidak melakukan aktifitas tertentu tubuh atau bagian tubuh, yang seharusnya seorang dalam keadaan tertentu harus melakukan perbuatan aktif dan dengan berbuat demikian, seseorang disalahkan karena tidak melaksanakan kewajiban hukumnya, contohnya tidak memberikan pertolongan, membiarkan, meninggalkan, tidak segera memberitahukan, tidak datang dan lainnya.

2. Unsur melawan hukum

Dalam halnya sifat melawan hukum yang dimaksud disini adalah bahwa sifat tercela atau terlarang yang tertera di dalam undang-undang atau dalam artian telah ada pengaturan perundang-undangan.

22Adami Chazawi (1), Op.Cit, hlm.85-115.

(25)

3. Unsur kesalahan

Mengenai keadaan atau gambaran batin seseorang pada saat memulai perbuatan, yang mana unsur ini melekat pada diri sipelaku dan bersifat subjektif. Dibagi atas dua bagian:

a. Kesengajaan

Menitik beratkan pada kehendak yang ditujukan untuk melakukan perbuatan, artinya untuk mewujudkan perbuatan telah dikehendaki sebelum seseorang itu sungguh-sungguh berbuat. Dalam doktrin pidana kesengajaan dikenal dalam berbagai bentuk :

1. Kesengajaan sebagai maksud dan tujuan 2. Kesengajaan sebagai kepastian

3. Kesengajaan sebagai kemungkinan b. Kelalaian

Kelalaian berupa sikap batin dalam hubungan dengan perbuatan sebenarnya ialah dalam hendak melakukan wujud perbuatan.

Karena tidak mengindahkan atau kurang mengindahkan atau tidak berhati-hati terhadap segala sesuatu.

4. Unsur akibat konstitutif

Unsur akibat konstitutif terdapat pada:

(1) Tindak pidana materil atau tindak pidana dimana akibat menjadi syarat selesainya tindak pidana;

(2) Tindak pidana yang mengandung unsur akibat sebagai syarat pemberat pidana;

(26)

(3) Tindak pidana di mana akibat merupakan syarat dipidananya perbuatan.

5. Unsur keadaan menyertai

Unsur keadaan menyertai adalah unsur tindak pidana berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana perbuatan dilakukan.

a. Unsur keadaan yang menyertai mengenai cara melakukan perbuatan artinya bahwa cara ini melekat perbuatan yang menjadi unsur-unsur tindak pidana.

b. Unsur cara untuk dapat dilakukannya perbuatan dalam hal ini bukan berupa cara berbuat, melainkan untuk dapat melakukan perbuatan yang menjadi larangan dalam bentuk pidana. Cara merusak, memotong atau memanjat, memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakai jabatan palsu, adalah cara-cara yang harus dilakukan sebelum seseorang itu dapat melakukan perbuatan mengambil objek benda yang dicurinya.

c. Unsur keadaan menyertai mengenai objek tindak pidana ialah semua keadaan yang melekat pada atau mengenai objek tindak pidana, contohnya “milik orang lain” yang melekat pada suatu benda yang menjadi objek pencurian.

d. Keadaan yang menyertai mengenai tempat dilakukannya tindak pidana yaitu mengenai segala keadaan mengenai tempat dilakukannya tindak pidana, misalnya di jalan umum, tempat kediaman, di muka umum, dan sebagainya.

(27)

e. Keadaan yang menyertai waktu dilakukannya tindak pidana yaitu berupa syarat memperberat pidana maupun yang menjadi unsur pokok tindak pidana. Misalnya pada malam hari, gempa bumi, kebakaran, gunung meletus, yang menjadi unsur pokok tindak pidana misalnya pada masa perang, pejabat yang sedang menjalankan tugas yang sah.

6. Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana yaitu unsur ini hanya terdapat dalam tindak pidana aduan. Tindak pidana aduan adalah tindak pidana yang dapat dituntut pidananya jika ada pengaduaan dari yang berhak mengadu.

7. Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana yaitu alasan untuk diperberatnya pidana dan bukan unsur syarat untuk terjadinya atau syarat selesainya tindak pidana sebagaimana dalam tindak pidana materil.

8. Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana yaitu unsur keadaan- keadaan tertentu yang timbul setelah perbuatan dilakukan, yang menentukan untuk dapat dipidananya perbuatan, artinya bila setelah perbuatan dilakukan keadaan ini tidak timbul, maka terhadap perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum dan karenanya sipembuat tidak dapat dipidana. Sifat melawan hukum dan patutnya dipidana perbuatan itu digantungkan pada timbulnya unsur ini.

9. Unsur objek hukum tindak pidana yaitu unsur yang diletakkan dibelakang atau sesudah unsur perbuatan itu. Contohnya

(28)

menghilangkan nyawa orang lain pada pembunuhan, menghilangkan merupakan unsur perbuatan, dan menjadi objek perbuatannya adalah nyawa orang lain.

10. Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana yaitu dibuat untuk diberlakukan pada semua orang, yang mana dimulai dengan barangsiapa, atau dalam tindak pidana khusus dengan merumuskan

“setiap orang”.

11. Unsur syarat tambahan memperingan pidana yaitu unsur yang diletakkan pada rumusan suatu tindak pidana tertentu yang sebelumnya telah dirumuskan.

2. Pengertian Penyertaan Melakukan Kejahatan dan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pembunuhan

a. Pengertian Penyertaan

Istilah “penyertaan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan menyertakan atau perbuatan ikut serta (mengikuti). Kata “penyertaan” berarti turut sertanya seseorang atau lebih pada waktu orang lain melakukan suatu tindak pidana.23

Penyertaan atau yang disebut dengan deelneming diatur dalam buku kesatu tentang aturan umum, Bab V Pasal 55–62 KUHP. Suatu penyertaan dikatakan terjadi jika dalam suatu peristiwa tindak pidana terlibat lebih dari satu orang. Keterlibatan seseorang dalam peristiwa pidana ini dapat dilakukan secara psikis maupun fisik, sehingga harus dicari pertanggungjawaban masing-masing orang yang terlibat dalam peristiwa pidana tersebut. Harus dicari sejauh mana peranan masing

23 Wirjono Prodjodikoro, Tindak-Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, (Bandung:

Aditama, 2003), hlm.117.

(29)

masing, sehingga dapat diketahui sejauh mana pertanggungjawabannya.24

Menurut Van Hamel dalam Moch. Anwar penyertaan adalah ajaran pertanggungjawaban atau pembagian pertanggungjawaban dalam hal suatu tindak pidana yang menurut pengertian perundang- undangan, dapat dilaksanakan oleh seorang pelaku dengan tindakan secara sendiri.25

Tindakan yang diancam terhadap pelanggaran undang-undang yang dapat dijatuhkan terhadap mereka yang memberikan bantuan untuk tingkah laku dan anjuran-anjuran, nasihat atau perbuatan.

Nasehat atau penerangan yang diberikan dapat mengakibatkan berbagi hal terhadap korban.

Klasifikasi penyertaan menurut Pasal 55 dan 56 KUHP yaitu:26 1. Pembuat (dader), yang terdiri dari mereka yang:

a. Melakukan (plegen)

b. Menyuruh melakukan (doen plegen) c. Turut serta melakukan (medeplegen) d. Menganjurkan melakukan (uitlokken)

2. Pembantu kejahatan (medeplichtige), membantu melakukan pelanggaran (overtrending).27

24Mohammad Ekaputra, Abul Khair, Percobaan dan Penyertaan, (Medan: USU Press, 2016), hlm.39.

25Ibid

26Frans Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2013), hlm.214.

27Ibid, hlm.215.

(30)

KUHP tidak mengadakan pembedaan dalam beratnya pidana untuk mereka yang diklasifikasikan sebagai pembuat (dader). Hanya untuk pembantu kejahatan (medeplichtige) ditentukan ancaman pidana yang lebih ringan dari pada pembuat, yaitu dikurangi 1/3 (sepertiga) dari maksimum pidana pokok, atau jika diancam pidana seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

b. Unsur-Unsur Tindak Pidana Pembunuhan

Pembunuhan atau kejahatan terhadap nyawa (misdrijven tegen het leven) adalah berupa penyerangan terhadap nyawa orang lain.28 Menurut Leden Marpaung, menghilangkan nyawa berarti menghilangkan kehidupan pada manusia yang secara umum disebut

“pembunuhan”.29

Dalam KUHP, ketentuan-ketentuan pidana tentang kejahatan terhadap nyawa orang lain diatur dalam buku II bab XIX, yang terdiri dari 13 Pasal, yakni Pasal 338 sampai Pasal 360 KUHP. Dalam Pasal 338 KUHP tindak pidana yang diatur adalah tindak pidana dalam bentuk pokok yang rumusannya adalah:

“Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama- lamanya 15 (lima belas) tahun”. Dalam hal di atas ada beberapa unsur- unsur yang terdapat dalam Pasal 338 KUHP yaitu:

28Adami Chazawi (2), Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm.55.

29Leden Marpaung, Tindak Pidana Terhadap Nyawa dan Tubuh: Pemberantasan dan Prevensinya, (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), hlm.4.

(31)

a. Barangsiapa: yaitu ada orang tertentu yang melakukan b. Dengan sengaja: dalam hukum pidana ada tiga jenis sengaja

1. Sengaja sebagai maksud

2. Sengaja dengan keinsafan pasif

3. Sengaja dengan keinsafan kemungkinan/dolus eventualis c. Menghilangkan nyawa orang lain

Banyak pakar mengatakan menghilangkan nyawa orang lain dengan menggantinya merampas jiwa orang lain. Setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan/merampas nyawa atau jiwa orang lain adalah pembunuhan.30

Wahyu Adnan,31 mengatakan bahwa untuk memenuhi unsur hilangnya nyawa orang lain harus ada perbuatan, yang dapat menghilangkan nyawa orang lain. Yang mana akibat dari perbuatan tersebut tidak terjadi secepat mungkin akan tetapi dapat timbul di kemudian hari.

Pengertian nyawa dimaksud adalah yang menyebabkan kehidupan pada manusia. Menghilangkan nyawa berarti menghilangkan kehidupan pada manusia yang secara umum dikatakan pembunuhan.32 Perbuatan menghilangkan nyawa orang

30Ibid, hlm.23.

31Wahyu Adnan, kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, (Bandung: Gunung Angkasa, 2007), hlm.45.

32Tongat (2), Hukum Pidana Materil, (Jakarta: Djambatan, 2003), hlm.5.

(32)

lain sebagai mana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Adanya wujud dari perbuatan

2. Adanya akibat berupa kematian (orang lain)

3. Adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan dengan kematian.33

Adapun jenis-jenis tindak pidana pembunuhan:

a. Pembunuhan biasa merupakan tindak pidana dalam bentuk pokok, yang diatur dalam Pasal 338 KUHP;

b. Pembunuhan yang dikualifikasi atau pembunuhan dengan pemberatan, yakni pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului dengan tindak pidana lain, yang diatur dalam Pasal 339 KUHP;

c. Pembunuhan berencana atau “moord”, yang diatur dalam Pasal 340 KUHP;

d. Pembunuhan oleh ibu terhadap bayinya pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan, diatur dalam Pasal 341, 342, 343, KUHP;

e. Pembunuhan atas permintaan korban atau yang disebut dengan

“euthanasia” yang diatur dalam Pasal 344 KUHP;

f. Mendorong orang lain untuk bunuh diri, mendorong atau memberi sarana untuk bunuh diri, yang diatur dalam Pasal 345 KUHP;

33Ibid

(33)

g. Pengguguran atau pembunuhan terhadap kandungan, diatur dalam Pasal 346, 347, 348,349 KUHP.

3. Batasan Usia Anak dan Anak yang Berkonflik dengan Hukum

Pembicaraan tentang anak dan perlindungan tidak akan pernah berhenti sepanjang sejarah kehidupan, karena anak adalah generasi penerus bangsa dan penerus pembangunan, yaitu generasi yang dipersiapkan sebagai subjek pelaksana pembangunan yang berkelanjutan dan pemegang kendali masa depan suatu bangsa.34 Pengertian anak secara umum dipahami masyarakat adalah keturunan kedua setelah ayah dan ibu.35 Batasan usia anak dalam hukum pidana ialah:

a. Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang- Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, memberikan defenisi Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

b. Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatakan anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun.

F. Metode Penelitian

Soejono Soekanto menyatakan penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberapa gejala

34Nashriana, Op.Cit,hlm.1.

35Wjs. Poerdaminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hlm.38.

(34)

hukum tertentu, dengan jalan menganalisisnya. Di samping itu, juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap faktor hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan- permasalahan yang timbul di dalam gejala-gejala yang bersangkutan.36

Adapun metode yang digunakan dalam pembuatan skripsi ini adalah dengan menetapkan:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian hukum normatif atau yang disebut penelitian doktrinal. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai suatu bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).37

2. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data sekunder.

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil penelitian dapat berbentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dalam skripsi ini.38 Data sekunder ini diperoleh dari:

1. Bahan hukum primer adalah:

36Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1981), hlm.43.

37Mukti Fazar ND dan Yulianto Achmad, Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka belajar, 2010), hlm.154.

38Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm.106.

(35)

a. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

b. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

c. Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

d. Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak

e. Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

2. Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi,39 jadi bahan sekunder ini bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan primer, dalam hal ini bahan acuan yang berisikan informasi tentang bahan primer yaitu berupa tulisan atau buku yang berkaitan dengan turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan.

3. Bahan hukum tersier dari penelitian ini adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu ensiklopedia, majalah, kamus hukum, dan kamus besar bahasa Indonesia.40

3. Teknik Pengumpulan Data

Penulisan skripsi ini menggunakan data kepustakaan (library research) yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan yang

39Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 41.

40Zainuddin Ali, Loc.Cit, hlm.106.

(36)

bersumber dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, literatur- literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan permasalahan yang akan diselesaikan dalam penulisan skripsi ini.41

4. Analisis Data

Analisis data adalah proses menafsirkan atau memaknai suatu data. Analisis data sebagai tindak lanjut proses pengolahan data merupakan pekerjaan seorang peneliti yang memerlukan ketelitian, dan pencurahan daya pikir secara optimal, dan secara nyata kemampuan metodologis peneliti diuji.42 Dianalisis dengan metode kualitatif, dengan menganalisis data-data diuraikan dengan susunan kalimat- kalimat yang diharapkan dapat menjawab rumusan masalah dan dapat menarik kesimpulan serta dapat memberikan saran.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami skripsi ini, maka penulisan skripsi ini dibuat secara sistematis dan terperinci.

Disusun dalam bab per bab yang berkesinambungan yang terdiri dari lima bab, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari penulisan ini. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah :

Bab I yaitu pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang yang menguraikan hal-hal yang melatar belakangi penulisan skripsi ini, perumusan masalah yang menguraikan permasalahan apa yang

41M. Nazir, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.87.

42Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Press, 2015), hlm.7.

(37)

diangkat dalam penulisan skripsi ini, kemudian membahas mengenai tujuan dan manfaat penulisan yang mana agar pembaca mengetahui secara rinci. Tujuan dan manfaat dalam penulisan ini, kemudian adanya keaslian penulisan untuk menghindari adanya karya yang sama dan disertai tanda bukti yang mendukung yaitu surat keterangan dari perpustakaan kampus yang menerangkan belum ada penulisan mengenai skripsi tersebut, dan murni dari hasil pemikiran penulis, tinjauan kepustakaan yang menguraikan pengertian tindak pidana, unsur-unsur tindak pidana, pengertian penyertaan melakukan kejahatan, unsur-unsur tindak pidana pembunuhan, batas umur anak dan anak yang berkonflik dengan hukum, metode penelitian yaitu bagaimana cara penulis dalam melaksankan penelitian untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Terakhir adalah sistematika penulisan yaitu gambaran singkat mengenai isi dari skripsi ini.

Bab II yaitu penyertaan melakukan tindak pidana menurut hukum pidana di Indonesia yang di dalamnya dibahas: bentuk penyertaan dan syarat dari delik penyertaan, serta pengaturan penyertaan di luar KUHP.

Dalam Bab III sanksi yang dapat dijatuhkan terhadap anak yang melakukan tindak pidana menurut hukum pidana di Indonesia ini berisikan tentang: pengaturan sanksi terhadap anak sebelum lahirnya UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak baik dari KUHP dan UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak serta

(38)

membahas pengaturan sanksi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum menurut UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Dalam Bab IV penjatuhan sanksi pidana terhadap anak yang turut serta melakukan pembunuhan dikaitkan dengan perlindungan terhadap anak dalam Putusan PN No. 5/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp dan Putusan PN No. 6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp ini membahas mengenai pemidanaan terhadap anak, tujuan pemidanaan, penjatuhan sanksi terhadap anak yang turut serta melakukan pembunuhan dikaitkan dengan perlindungan terhadap anak, pembunuhan yang dilakukan anak menurut UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, serta analisis kasus Putusan PN No.5/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp dan Putusan PN No.6/Pid.Sus-Anak/2017/PN Psp.

Bab V adalah bab terakhir dari penulisan skripsi ini yang mana membahas mengenai apa yang menjadi kesimpulan dari penulisan skripsi ini serta saran yang berguna untuk berbagai pihak terkait dengan pembahasan di dalam skripsi ini.

(39)

BAB II

PENYERTAAN MELAKUKAN TINDAK PIDANA MENURUT HUKUM PIDANA DI INDONESIA

A. Bentuk dan Syarat Delik Penyertaan

Dalam halnya penyertaan atau sering disebut dengan deelneming /strafbaar feit. Diartikan apabila ada suatu tindak pidana tersangkut beberapa atau lebih dari satu orang. Dalam lapangan ilmu pengetahuan hukum pidana, deelneming ini menurut sifatnya dibagi atas dua bentuk:43

1. Bentuk-bentuk deelneming yang berdiri sendiri

Dalam bentuk ini pertanggung jawabannya pada tiap orang atau dikatakan dengan singkatnya dihargai atau diminta pertanggung jawabannya sendiri- sendiri.

2. Bentuk-bentuk deelneming yang tidak berdiri sendiri

Pertanggung jawaban dari peserta yang digantungkan pada perbuatan yang lainnya. Artinya apabila peserta satu yang melakukan suatu perbuatan dan harus dihukum, maka peserta yang lain juga harus dihukum. Klasifikasi dalam penyertaan dibedakan menjadi:

1. Pembuat (dader), yang terdiri dari mereka yang : a. Melakukan (plegen);

b. Menyuruh melakukan (doen plegen);

c. Turut serta melakukan (medeplegen);

d. Menganjurkan melakukan (uitlokken).

43Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Kumpulan Kuliah, (Balai Lektur Mahasiswa) ditulis tanpa tahun, hlm.1.

(40)

2. Pembantu kejahatan (medeplichtige) (Pasal 56). Membantu melakukan pelanggaran (overtreding) tidak dipidana (Pasal 60).44

Suatu penyertaan dikatakan terjadi jika dalam suatu peristiwa tindak pidana lebih dari satu orang. Keterlibatan seseorang dalam peristiwa pidana ini dapat dilakukan secara psikis maupun fisik, sehingga harus dicari pertanggungjawaban masing-masing orang yang terlibat dalam perisitwa tersebut. Harus dicari sejauh mana peranan masing-masing sehingga dapat diketahui sejauh mana pertanggungjawabannya.45

1. Pembuat yang terdiri dari : a. Yang melakukan perbuatan

Orang yang melakukan (plegen) atau pelaku (pleger) adalah orang yang perbuatannya mencocoki semua unsur rumusan tindak pidana. Mengapa pelaku juga diklasifikasikan sebagai seorang peserta? Karena pada dasarnya pelaku dipandang sebagai salah seorang yang terlibat dalam peristiwa tindak pidana di mana terdapat beberapa orang peserta. Orang yang dianjurkan/dibujuk, adalah pelaku dari tindak pidana yang dianjurkan/dibujuk untuk dilakukan.46

b. Yang menyuruh melakukan (Doen Plegen)

Orang yang menyuruh melakukan perbuatan (doen plegen), dalam halnya bentuk menyuruh maksudnya yaitu orang yang disuruh

44Frans Maramis, Loc.Cit, hlm.214.

45Mohammad Ekaputra, Abul Khair, Op.Cit, hlm.39.

46Frans Maramis, Loc.Cit, hlm.215.

(41)

melakukan sesuatu tidak 1dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya.

Wirjono Prodjodikoro47 mengatakan bahwa orang yang disuruh itu seolah-olah menjadi alat belaka yang dikendalikan oleh sipenyuruh, yang mana dalam ilmu pengetahuan hukum dikatakan minus ministra (tangan yang dikuasai) dan penyuru dinamakan manus domina (tangan yang menguasai).

c. Mereka yang ikut serta dalam suatu tindak pidana (medeplegen) Menurut MvT pelaku peserta (medeplegen) adalah orang yang langsung mengambil bagian dalam pelaksanaan perbuatan yang oleh undang-undang dilarang dan diancam dengan hukuman atau melakukan perbuatan-perbuatan atau salah satu perbuatan yang merupakan bagian dari salah satu tindak pidana.48 Dalam undang-undang tidak menjelaskan pengertian ikut serta secara defenitif. Syarat yang diperlukan agar dapat dikatakan medeplegen adalah:49

1. Harus ada kesadaran kerja sama dari setiap peserta 2. kerja sama dalam tindak pidana harus secara fisik

Semua peserta dalam ikut serta harus bersama-sama secara fisik melakukan tindak pidana itu.

d. Menganjurkan melakukan (uitlokken)

47Wirjono Prodjodikoro, Tindak-Tindak Pidana di Indonesia, (Jakarta: Eresco, 1974), hlm.101.

48Mohammad Ekaputra, Abul Khair, Op.Cit, hlm.55.

49Ibid, hlm.59.

(42)

Ada perbuatan “uitloken” (menganjurkan, membujuk) apabila si

“uitlokker” (penganjur, pembujuk) menggunakan upaya-upaya yang telah disebutkan dalam Pasal 56 ayat (1) butir 2 KUHP. Hal ini merupakan pembeda antara bentuk menyuruh melakukan (doen plegen) dan menganjurkan melakukan (uitlokken). Perbedaan antara menyuruh melakukan dengan menganjurkan atau membujuk adalah bahwa:50

1. Dalam menyuruh melakukan, orang yang disuruh tidak dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya itu, sehingga yang dihukum hanyalah sipenyuruh saja sedangkan yang disuruh tidak dikenakan hukuman. Dalam menganjurkan/membujuk, baik yang menganjurkan/membujuk maupun yang dianjurkan/

dibujuk, kedua-duanya dapat dihukum.

2. Perbedaan lain ialah bahwa sipenganjur/pembujuk hanya dapat dihukum apabila ia menggunakan upaya-upaya/cara-cara yang dirincikan dalam dalam Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Cara-cara yang digunakan dalam perbuatan menganjurkan/membujuk, yaitu: 51

1. Memberi atau menjanjikan sesuatu

Apa yang dimaksud dengan “memberi sesuatu” adalah cukup jelas artiannya. Sesuatu yang diberi mencakup uang, barang,

50Frans Maramis, Op.Cit, hlm.218.

51Ibid

(43)

dan lainnya yang dapat menggerakkan orang untuk melakukan apa yang dibujukkan tersebut.

2. Menyalahgunakan kekuasan atau martabat.

Menyalahgunakan kejahatan ini dapat terjadi apabila sipembujuk dan yang dibujuk ada hubungan dinas.

3. Kekerasan, ancaman atau penyesatan

Penggunaan kekerasan, ancaman atau penyesatan, haruslah dalam batasan tertentu, sebab jika maka orang akan berada dalam keadaan daya paksa relatif, sehingga yang terjadi ialah bentuk menyuruh melakukan.

4. Memberi kesempatan, sarana atau keterangan.

Pemberian kesempatan, sarana atau keterangan jika dikenal dalam bentuk membantu melakukan.

2. Pembantuan kejahatan

a. Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan. Cara bagaimana pembantuannya tidak disebutkan dalam KUHP. Pembantuan pada saat kejahatan dilakukan ini mirip dengan turut serta (medeplegen), namun perbedaannya terletak pada:52

1. Pada pembantuan perbuatannya hanya bersifat membantu atau menunjang, sedangkan pada turut serta merupakan perbuatan pelaksanaan.

52Moeljatno, Hukum Pidana Delik-delik Penyertaan, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hlm.

128.

(44)

2. Pada pembantuan, pembantu hanya sengaja memberi bantuan tanpa diisyaratkan harus kerja sama dan tidak bertujuan atau berkepentingan sendiri, sedangkan dalam turut serta, orang yang turut serta sengaja melakukan tindak pidana, dengan cara bekerja sama dan mempunyai tujuan sendiri.

3. Pembantuan dalam pelanggaran tidak dipidana (Pasal 60 KUHP), sedangkan turut serta dalam pelanggaran tetap dipidana.

4. Maksimum pidana pembantu adalah maksimum pidana yang bersangkutan dikurangi 1/3 (sepertiga), sedangkan turut serta dipidana sama.

b. Pembantuan sebelum kejahatan dilakukan, yang dilakukan dengan cara memberi kesempatan, sarana atau keterangan. Kesempatan adalah memberikan peluang untuk seseseorang melakukan kejahatan. Sarana adalah memberikan alat yang digunakan untuk mempermudah kejahatan itu. Keterangan adalah menyampaikan ucapan-ucapan berupa nasihat kepada orang lain untuk melakukan kejahatan.53

B. Penyertaan di Luar KUHP

Penyertaan atau deelneming, ialah suatu peristiwa pidana yang terdapat lebih dari satu orang pelaku, dalam hal ini penyertaan bukan saja diatur

53R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar- Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor: Politeia,1991)

(45)

dalam KUHP tetapi penyertaan juga diatur dalam peraturan perundang-undangan lainnya. Adapun bentuk-bentuk penyertaan di luar KUHP adalah sebagai berikut:

1. Penyertaaan dalam UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruption atau corroptus.

Selanjutnya, disebut bahwa corruption itu berasal pula dari kata corrumpare, suatu bahasa Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itulah turun kebanyakan bahasa Erofa, seperti Inggris: corruption, corrupt, Prancis: Corrupratio, dan Belanda corruption (korruptie). Dapat kita memberanikan diri bahwa dari bahasa Belanda inilah kata itu turun ke bahasa Indonesia “korupsi”. Di Malaysia dipakai kata resuah yang diambil dari bahasa Arab risywah (suap) yang secara terminologis berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara tidak dibenarkan atau untuk memperoleh kedudukan. Semua ulama mengharamkan risywah yang terkait dengan pemutusan hukum, perbuatan ini termasuk dosa.54

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh Wijowasito, corruptie yang juga disalin menjadi corruptien dalam bahasa Belanda mengandung arti perbuatan korup, penyuapan.55

54Ruslan Renggong, Hukum Pidana Khusus: Memahami Delik-Delik di Luar KUHP, (Jakarta, Kencana Pranamedia Grup, 2016), hlm.60.

55Ermansjah Djaja, Tipologi Tindak Pidana Korupsi di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 2010), hlm.23.

(46)

Secara harfiah menurut Sudarto, kata korupsi menunjukkan pada perbuatan yang rusak, busuk, tidak jujur yang dikaitkan dengan keuangan.

Adapun Henry Campbell Black mendefinisikan korupsi sebagai perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau pun untuk orang lain, berlawanan dengan kewajiban dan hak-hak dari pihak lainnya.56

Salah satu ciri tindak pidana korupsi adalah bahwa kasus korupsi biasanya melibatkan lebih dari satu orang.57 Dalam hal ini, lebih dari satu orang tidak akan terlepas dari yang namanya penyertaan.

UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tercantum dalam Pasal 15 dan Pasal 16 belas. Dimana dalam Pasal 15 belas UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi berbunyi: Setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, dipidana dengan pidana yang sama

56Ruslan Renggong, Op.Cit, hlm.61.

57Aziz Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm.15.

bahwa ciri-ciri korupsi adalah antara lain: a. Tindak pidana korupsi biasanya melibatkan lebih dari satu orang. b.Tindak pidana korupsi dilakukan secara rahasia, melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik. Kewajiban dan keuntungan tersebut tidak selalu berupa uang. c.Tindak pidana korupsi biasanya menginginkan keputusan yang tegas dan mampu untuk mempengaruhi keputusan-keputusan itu. Mereka yang terlibat tindak pidana korupsi biasanya juga berusaha menyelubungi perbuatanya dengan berlindung di balik pembenaran hukum.

(47)

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan Pasal 14.

Dalam Pasal 16 dijelaskan bahwa: Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi.

Maksud penyertaan dalam pasal ini adalah orang yang membantu pelaku tindak pidana korupsi dikenakan acaman yang sama dengan orang yang melakukan tindak pidana korupsi. Sebagaimana ketentuan ini juga berlaku kepada orang yang berada di luar wilayah Indonesia yang membantu melakukan tindak pidana korupsi.

Penyertaan dalam UU Tindak Pidana Korupsi berbeda dengan penyertaan yang dimaksud dalam KUHP. Di mana di dalam UU ini pembantuan dan permufakatan jahat di pidana sama dengan pelaku tindak pidana korupsi. Dengan kata lain tidak terdapat pengurangan seperti pembantuan di dalam Pasal 57 KUHP.

2. Penyertaan dalam UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

Narkotika adalah zat atau obat, baik yang berasal dari tanaman maupun bukan, baik sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan kecanduan.58

58Lihat Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika

(48)

Dalam perkembangan zaman saat ini Indonesia merupakan wilayah yang dikhawatirkan. Peredaran gelap narkotika telah meraja lelah dan makin meluas di berbagi wilayah Indonesia. Hal ini bukanlah satu orang yang melakukannya melainkan melibatkan lebih dari satu orang.

Dari uraian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa mengenai penyertaan dalam UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika tercantum di dalam Pasal 132 (1) yang berbunyi: Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129, pelakunya dipidana dengan pidana penjara yang sama sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal-pasal tersebut. Adapun maksud dari pada pasal tersebut sebagai berikut:

1. Pasal 111 yaitu: menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman.

2. Pasal 112 yaitu: memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman.

3. Pasal 113 yaitu: memproduksi, mengimpor, mengekspor dan menyalurkan Narkotika Golongan I.

Referensi

Dokumen terkait

Pembahasan terhadap judul skripsi tentang “IMPLEMENTASI HAK IMUNITAS ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DALAM UNDANG UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 (ANALISIS PUTUSAN

Skripsi ini mengemukakan permasalahan mengenai bentuk-bentuk pelanggaran terhadap perempuan korban perang di Suriah ditinjau menurut hukum internasional, diantara banyak

Bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan usaha pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK” sebagaimana yang didakwakan

3. suatu sebab yang halal. Pos Indonesia bergerak dalam bidang jasa, maka faktor yang sangat penting yang perlu di perhatikan adalah kepercayaan pengguna jasa, dimana

a) Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat, terdiri dari peraturan perundang-undangan yang terkait dengan objek penelitian. Bahan hukum primer yang

Maka dengan demikian, berdasarkan pembahasan yang dijelaskan sebagaimana yang dimaksud di atas, timbul keinginan untuk mengkaji tentang keringanan pajak sebagai bentuk insentif

Jawaban : Dalam hal ini sudah jelas disini dengan adanya penerapan klausula baku yang secara sepihak disini yang juga konsumen tidak dapat diberikan pilihan selain ikut

Maka, atas pertimbangan tersebutlah Majelis Hakim menyatkan bahwa terdakwa harus dilepaskan dari tuntutan hukum (ontslag van rechtvervolging). Dari pemaparan