• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

(1)

PENGADILAN NEGERI SEMARANG (Studi Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg) SKRIPSI

Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH

MARSAULINA DELVIA MANULLANG NIM : 160200185

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)

PIDANA PERDAGAIIGAN ORANG BIDAI\G KETENAGAKERJAAIT OLEH HAKIM PENGADILAN NEGERI SEMARANG (Sfridi Pufrisan Nomor 49/Pid" Sus/Z 0 I 8/PN. Stttg)

SKRIPSI

Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Getar Sarjana Hulcum Pada

Falaitas Hulatm Universitas Sumatera Utara OLEH

Marsaulina Delvia ldanullan g

NIM: 160200185

DEPARTEMEN HI.]KTJM PIDANA Disetujui Oleh:

Ketua Departemen Hukum Pidana

Dr. M. Hamdan S.H., M.IL.

NIP : 195703261986011001

Pembimbing I,

Prof. Dr. Svafruddin Kalo. SH. M.Hum I\IIP. 19s102061980021001

rardr,res

HUKUM

T]NTYERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

I

2020

Pembimbing

II,

NrP. 19601222 1986031003

(3)

Saya yang bertandatangan di bawah ini :

NAMA : MARSAULINA DELVIA MANULLANG

NIM : 160200185

DEPARTEMEN : HUKUM PIDANA

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PENJATUHAN PUTUSAN BEBAS

(VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA

PERDAGANGAN ORANG BIDANG

KETENAGAKERJAAN OLEH HAKIM PENGADILAN NEGERI SEMARANG (Studi Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg)

Dengan ini menyatakan :

1. Bahwa skripsi yang saya tulis ini adalah benar tidak merupakan jiplakan skripsi atau karya ilmiah orang lain;

2. Apabila terbukti di kemudian hari skripsi ini adalah jiplakan, maka segala akibat hukum yang timbul akan menjadi tanggung jawab saya.

Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak manapun.

Medan, Januari 2020

MARSAULINA DELVIA MANULLANG NIM : 160200185

(4)

Marsaulina Delvia Manullang Syafruddin Kalo**

Edi Yunara***

Perkembangan peradaban manusia dan kemajuan teknologi, informasi, komunikasi, dan transportasi ikut mempengaruhi berkembanganya modus kejahatan perdagangan orang. Perdagangan orang adalah merupakan bentuk modern dari perbudakan manusia dan juga merupakan suatu perlakuan buruk dari pelanggaran harkat dan martabat manusia. Penjatuhan Putusan Bebas (Vrijspraak) Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang Bidang Ketenagakerjaan Oleh Hakim Pengadilan Negeri Semarang (Studi Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg) sangat memprihatinkan. Oleh sebab itu, penulis ingin untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan bebas terhadap terdakwa yang dianggap melakukan tindak pidana perdagangan orang dalam bidang ketenagakerjaan.

Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah : pertama, bagaimana pengaturan hukum tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

Kedua, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang. Ketiga, bagaimana analisis penjatuhan putusan bebas dalam perkara Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normative, dimana data primer diambil dari Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang- Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri.

Berdasarkan penelitian hukum yang telah dilakukan atas Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg yaitu dalam kasus tindak pidana perdagangan orang bidang ketenagakerjaan, maka dapat disimpulkan bahwa pengaturan mengenai tindak pidana perdagangan orang diatur dalam KUHP, Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Undang- Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan juga dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Pemerintah. Faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri pelaku dan korban. Terkait dengan penjatuhan putusan bebas yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim, menurut Penulis seharusnya terdakwa dapat dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan dakwaan alternatif kesatu yang telah dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum, karena menurut Penulis terdakwa terbukti melakukan tindak pidana perdagangan orang bidang ketenagakerjaan tersebut.

Kata Kunci : Putusan Bebas, Perdagangan Orang, Tindak Pidana Perdagangan Orang

* Mahasiswa Departemen Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

** Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

*** Pembimbing II, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(5)

Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan karunia yang diberikan kepada Penulis, sehingga akhirnya Penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul : ANALISIS PENJATUHAN PUTUSAN BEBAS (VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG BIDANG KETENAGAKERJAAN OLEH HAKIM PENGADILAN NEGERI SEMARANG (Studi Putusan Nomor 49/Pid.B/2018/PN.Smg).

Penulisan skripsi ini merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam skripsi ini, Penulis telah berusaha untuk memberikan yang terbaik melalui perjuangan baik berupa tenaga maupun materi. Meskipun begitu, Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan karena terbatasnya kemampuan serta pengetahuan yang Penulis miliki, namun dengan adanya kemauan dan kesungguhan hati akhirnya skripsi ini dapat Penulis selesaikan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak sebagai bahan perbaikan menuju langkah selanjutnya. Penulis juga berharap kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya, termasuk bagi Penulis sendiri.

Pada kesempatan ini, Penulis juga tidak lupa menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berperan dan membantu Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu:

(6)

2. Bapak Dr. OK. Saidin, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Bapak Dr. M. Hamdan, S.H., M.H., selaku Ketua Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Ibu Liza Erwina, S.H., M.Hum., selaku Sekertaris Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H. M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada Penulis pada saat penulisan skripsi ini;

8. Bapak Dr. Edi Yunara, S.H. M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang juga telah sangat banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada Penulis pada saat penulisan skripsi ini;

9. Bapak Dr. Faisal Akbar, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing Penulis selama masa perkuliahan;

10. Seluruh Dosen dan Staff pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing Penulis selama menempuh pendidikan di Fakulats Hukum Universitas Sumatera Utara;

(7)

serta menyekolahkan Penulis hingga sekarang telah menjadi Sarjana Hukum;

12. Kepada abangda Christopher Agustinus Silaban, S.H., yang dengan penuh ketabahan mendengar keluh-kesah Penulis, memberikan semangat dan senantiasa membantu serta menemani Penulis dalam segala hal;

13. Kepada teman Penulis, Rismauli Manurung yang senantiasa mengisi hari- hari Penulis, mendengar keluh-kesah Penulis dan senantiasa memberikan penghiburan serta motivasi kepada Penulis selama masa pengerjaan skripsi ini;

14. Kepada PPHTTB, yakni Elisa Damris Tambunan, Putri O. Br. Situmorang dan Rina Erwina Purba yang juga senantiasa mengisi hari-hari Penulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Penulis sangat bersyukur bertemu dengan mereka. Selain itu, dari keempat orang inilah Penulis belajar tentang apa arti persahabatan, meskipun terkadang tidak terlepas dari gesekan dan perselisihan tetapi hubungan persahabatan tersebut tetap terjalin hingga saat ini. Semoga kita dapat mewujudkan cita-cita yang kita harapkan;

15. Kepada bung dan sarinah GmnI 2016 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dan memberikan saran-saran kepada Penulis dalam mengerjakan skripsi ini;

16. Kepada GmnI Fakultas Hukum Universiats Sumatera Utara yang telah menjadi wadah bagi Penulis untuk memperoleh pengetahuan dan memberikan kontribusi bagi masyarakat-masyarakat desa dengan melaksanakan bakti sosial dan kegiatan positif lainnya.

(8)

perkembangan literatur hukum di Indonesia. Terima kasih.

Medan, Januari 2020

Penulis

Marsaulina Delvia Manullang

(9)

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan... 9

D. Keaslian Penulisan... 11

E. Tinjauan Kepustakaan 1. Pengertian Putusan Bebas... 11

2. Pengertian Tindak Pidana... 16

3. Pengertian Perdagangan Orang... 22

4. Pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang... 24

5. Pengertian Ketenagakerjaan... 26

F. Metode Penelitian……... 29

G. Sistematika Penulisan... 31

BAB II: PENGATURAN HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG A. Landasan Filosifis, Yuridis dan Sosiologis Tindak Pidana Perdagangan Orang... 34

B. Subjek Pidana Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang... 38

C. Jenis-Jenis Tindak Pidana Perdagangan Orang... 42

D. Aturan Hukum Mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang 1. Didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)... 52 2. Diluar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

(10)

b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang

Perlindungan Anak... 58 c. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 6

Tahun 2004 Tentang Penghapusan Perdagangan

(Trafiking) Perempuan Dan Anak... 59 d. Peraturan Daerah Kabupaten Jeneponto Nomor 3

Tahun 2011 tentang Pencegahan Dan Penanganan

Korban Perdagangan Orang... 60 e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9

Tahun 2008 tentang Tata Cara dan Mekanisme Pelayanan Terpadu Bagi Saksi dan/atau Korban

Tindak Pidana Perdagangan Orang... 60

BAB III: FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

A. Faktor-Faktor Terjadinya Tindak Pidana Perdagangan Orang 1. Faktor Internal

a. Faktor Individual... 61 b. Faktor Ekonomi... 63 c. Faktor Pendidikan... 65 2. Faktor Eksternal

a. Faktor Lingkungan... 66 b. Faktor Geografis Indonesia... 67

(11)

Perdagangan Orang... 72

C. Upaya Dan Hambatan Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan orang 1. Upaya Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang... 78

2. Hambatan Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang... 82

BAB IV: ANALISIS PENJATUHAN PUTUSAN BEBAS DALAM PERKARA PUTUSAN NOMOR 49/PID.SUS/2018/PN.SMG A. Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg 1. Kasus Posisi a. Kronologis... 85

b. Dakwaan... 91

c. Tuntutan... 92

d. Fakta Hukum... 95

e. Pertimbangan Hakim... 103

2. Analisis Kasus a. Analisis Dakwaan... 115

b. Analisis Tuntutan... 118

c. Analisis Putusan... 118

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 128

B. Saran... 130

DAFTAR PUSTAKA

(12)

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum, yang dimana segala kegiatan yang dilakukan tidaklah terlepas dari hukum ataupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan adanya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) sebagai konstitusi Indonesia atau biasa disebut dasar hukum tertulis, yang dalam Pembukaannya telah jelas disebutkan bahwa untuk membentuk suatu Pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka tujuan daripada diberlakukan maupun diterapkannya hukum adalah jelas untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia dan juga untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat. Sehingga dengan itu mampu menciptakan perdamaian dan kesejahteraan dalam bermasyarakat. Namun, dewasa ini dunia hukum di Indonesia tengah mengalami banyak masalah.

Permasalahan yang muncul, mulai dari proses legislasi nasional yang menghasilkan Undang-undang yang dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat oleh Mahkamah Konstitusi. Adanya penerapan hukum pidana yang dipandang “tebang pilih” oleh aparat penegak hukum sampai dengan proses peradilan yang dianggap banyak mengalami intervensi sehingga menghasilkan putusan yang tidak sesuai baik dengan peraturan perundang-undangan maupun

(13)

dengan rasa keadilan masyarakat.1 Dalam hal inilah aparat penegak hukum pidana sering dipandang bersifat diskriminatif dan juga tidak profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk menegakkan keadilan. Belum lagi terdapat banyak juga aparat penegak hukum yang terlibat dalam kejahatan- kejahatan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, sehingga hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang merasa kecewa terhadap putusan yang telah dijatuhkan, dan juga banyak yang memilih tidak percaya lagi terhadap aparat penegak hukum.

Hal ini sungguh dianggap sangat memprihatinkan, karena dengan adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, maka akan menghilangkan rasa ketertarikan masyarakat untuk mempelajari hukum ataupun aturan-aturan yang ada. Bahkan mungkin lama kelamaan masyarakat akan menganggap hukum sebagai lelucon, yang mungkin sangat dibutuhkan oleh setiap orang, namun pada akhirnya orang yang membutuhkannya hanyalah mendapatkan suatu kekecewaan. Oleh karena adanya krisis kepercayaan daripada masyarakat ini, maka seharusnya aparat penegak hukum haruslah lebih lagi memperbaiki kinerjanya dan membawa kembali kepercayaan serta ketertarikan masyarakat terhadap hukum.

Putusan pengadilan adalah produk lembaga yudikatif, yang pada tingkat tertinggi dan terakhir di negara Indonesia dipegang oleh Mahkamah Agung, yang dimana telah disebutkan bahwa Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari keempat lingkungan peradilan.2 Sebagai pengadilan negara tertinggi Mahkamah Agung dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya mengadili pada tingkat kasasi harus memuat alasan dan dasar peraturan perundang-undangan

1 M. Hamdan, Alasan Penghapus Pidana (Teori dan Studi Kasus), (Bandung: PT. Refika Aditama, 2014), hlm. 1

2 Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 11 ayat (1)

(14)

yang tertulis ataupun sumber hukum tidak tertulis dalam pertimbangan hukumnya untuk memberikan putusan.3

Hal ini berfungsi agar putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan (Majelis Hakim) bersifat adil bagi setiap orang, baik bagi pihak korban maupun pihak pelaku ataupun dirasa adil juga oleh masyarakat. Dalam perkara pidana dikenal adanya penjatuhan putusan bebas dan putusan lepas dari segala tuntutan hukum.

Apabila putusan hakim dalam bentuk putusan bebas (vrijspraak), maka hal itu berarti Terdakwa tidak dihukum. Berdasarkan Pasal 191 ayat (1) KUHAP, putusan bebas ini lahir apabila pengadilan (Majelis Hakim) berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Sedangkan, apabila putusan hakim dalam bentuk putusan lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging), maka hal itu juga berarti bahwa terdakwa tidak dihukum.

Oleh karena itu, berdasarkan Pasal 191 ayat (2) KUHAP, putusan lepas dari segala tuntutan hukum ini lahir apabila pengadilan (Majelis Hakim) berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, akan tetapi perbuatannya itu bukan merupakan tindak pidana. Maka dari itu dalam menjatuhkan putusan, hakim harus memberikan dasar-dasar hukumnya yang berpedoman kepada peraturan perundang-undangan sebagai dasar hukum yang tertulis maupun sumber hukum yang tidak tertulis. Peraturan perundang-undangan yang tertulis diantaranya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP), KUHP sebagai Hukum Pidana Umum, disamping Hukum Pidana Khusus dan Undang-

3 M. Hamdan, Loc. Cit

(15)

undang Nomor 4 Tahun 2004 (Undang-undang tentang Kekuasaan Kehakiman) yang telah memberikan pedoman kepada hakim (pengadilan) dalam memutus perkara.4

Di Indonesia, kejahatan-kejahatan yang terjadi sangatlah banyak dan beragam, terutama kejahatan lintas negara, seperti; korupsi, tindak pidana pencucian uang, kejahatan kehutanan dan satwa liar, kejahatan perikanan, perdagangan illegal benda-benda cagar budaya, kejahatan narkotika, kejahatan penyeludupan manusia, serta kejahatan perdagangan orang.5 Salah satunya yang akan penulis bahas adalah Tindak Pidana Perdagangan Orang dalam bidang Ketenagakerjaan. Pada masa yang lalu, perdagangan orang merupakan suatu simbol/status sosial, dimana orang yang mempunyai status sosial tinggi (ekonomi dan kekuasaan/politik) dipastikan akan mempunyai budak.6 Budak adalah suatu keadaan dimana seseorang bersikap taat, mengabdi serta merendahkan diri kepada seseorang lain yang dianggap sebagai majikan/bosnya. Sehingga seorang budak haruslah tunduk kepada majikannya dan biasanya selalu mengerjakan apa yang diperintah oleh majikannya, karena itu merupakan tugas serta tanggung jawab yang telah dibebankan kepadanya. Tidak sedikit terjadi masalah penganiayaan yang dilakukan majikan terhadap budak/pekerja/buruh yang bekerja padanya mulai dari masa yang lalu hingga saat ini dan ini tidak hanya menjadi perhatian bagi satu negara saja (Indonesia). Namun, ini sudah menjadi masalah internasional dan dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM), sama halnya

4 M. Hamdan, Op. Cit, hlm. 3

5 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

https://kemlu.go.id/portal/id/read/89/halaman_list_lainnya/kejahatan-lintas-negara (diakses Jumat, 29 November 2019, pukul 15.46 WIB)

6 Henny Nuraeny, Tindak Pidana Perdagangan Orang Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 70

(16)

dengan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang dianggap sebagai masalah dalam bentuk modern dari perbudakan manusia.7

Menurut Global Watch Againist Labour, yaitu sebuah lembaga internasional yang menangani masalah perdagangan anak, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki porsi terbesar korban perdagangan orang. Untuk meningkatkan upaya dalam memerangi perdagangan orang, maka sejak April 2007, perangkat hukum Indonesia telah diperkaya dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO). Namun, walaupun demikian tindakan dan perbuatan yang bertentangan dengan hak asasi manusia ini masih tetap marak, bahkan cenderung terus meningkat. Hal ini dikarenakan perdagangan orang sering berhubungan dengan perbudakan, bahkan mengarah kepada eksploitasi secara jasmani ataupun seksual untuk kepentingan seseorang atau kelompok orang.8

Masalah perdagangan orang yang saat ini semakin bertambah marak diberbagai negara, termasuk di Indonesia dan negara-negara yang sedang berkembang lainnya, sehingga telah menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia sebagai suatu bangsa yang merupakan bagian dari komunitas masyarakat internasional, termasuk sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.9 Pemerintah telah melakukan berbagai upaya signifikan dalam memperbaiki tindakan penegakan hukum atas kejahatan perdagangan orang, hal ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan dengan adanya Peraturan

7 C.S.T Kansil, Engelien R. Palandeng, Altje Agustin Musa, Tindak Pidana Dalam Undang-Undang Nasional, (Jakarta: Jala Permata Aksara, 2009), hlm. 129

8 Henny Nuraeny, Op. Cit, hlm. 73

9 C.S.T Kansil, Engelien R. Palandeng, Altje Agustin Musa, Loc. Cit

(17)

Presiden Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2008 tentang Gugus Tugas Pencegahan Dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, yang mana ini dilakukan Pemerintah dengan melaksanakan kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat dan organisasi internasional. Namun, tetap saja hanya ada sedikit laporan tentang upaya mengadili, memvonis dan menghukum para pejabat penegak hukum yang terlibat dalam masalah perdagangan orang. Meskipun telah ada laporan tentang penyalahgunaan wewenang yang melibatkan perdagangan orang.10 Hal inilah yang mengakibatkan para pelaku kejahatan perdagangan orang tetap semangat melakukan aksinya dalam mencari korban.

Jika berbicara masalah pengiriman buruh migran sebagai salah satu kasus tindak pidana perdagangan orang, Indonesia tidak dipungkiri lagi menjadi lahan subur menjamurnya praktik tindak pidana perdagangan orang tersebut, dengan jumlah penduduk berlimpah yang kemudian tidak dibarengi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, maka ini sangat mempermudah para pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya. Pada saat-saat inilah pelaku kejahatan akan memberikan tawaran-tawaran yang menggiurkan, seperti terjaminnya masa depan ketika telah menjadi pekerja luar negeri. Padahal ini merupakan salah satu modus pelaku kejahatan untuk menipu para pencari kerja dan kemudian akan dengan mudah menjerumuskan korbannya kejurang perbudakan modern.

Di Indonesia, para pelaku kejahatan perdagangan orang juga kadang- kadang bekerja sama dengan pihak sekolah untuk merekrut pelajar-pelajar di sekolah-sekolah (terutama sekolah kejuruan) dengan modus untuk praktik kerja lapangan (magang) di hotel-hotel yang sebenarnya fiktif dan masih banyak lagi

10 Henny Nuraeny, Op. Cit, hlm. 82

(18)

modus yang digunakan pelaku kejahatan perdagangan orang, baik itu secara konvensional maupun secara modern (menggunakan sarana teknologi), yang dilakukan secara perseorangan atau secara terorganisasi (korporasi). Umumnya, para pencari kerja yang sering menjadi korban perdagangan orang adalah yang tidak memiliki keahlian khusus, berlatar belakang pendidikan rendah, tingkat ekonomi rendah dan hal inilah yang mempermudah para pelaku kejahatan perdagangan orang (traffiker) untuk merekrut dan menjerat korban yang kemudian dijadikan sebagai sasaran korban. Berbeda dengan pekerja yang profesional, umumnya mempunyai bekal keahlian dan pendidikan, sehingga sangat jarang menjadi korban perdagangan orang. Para pencari kerja yang menjadi korban perdagangan orang juga sering kali tidak memiliki dokumen resmi, namun tidak semua pekerja migran korban perdagangan orang tidak memilikinya. Ada juga para pekerja yang dianggap illegal pada awalnya mempunyai dokumen resmi yang dikirim secara resmi oleh Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), tetapi karena mendapat masalah dengan majikan atau tempat asal, kemudian melarikan diri, sehingga menjadi illegal.

Faktor-faktor yang paling mendukung terjadinya tindak pidana perdagangan orang dalam bidang ketenagakerjaan ini, diantaranya karena adanya permintaan (demand) terhadap pekerjaan sektor informal yang tidak memerlukan keahlian khusus, mau dibayar dengan upah relatif rendah, serta tidak memerlukan perjanjian kerja yang rumit. Hal ini menyebabkan pelaku (trafficker) terdorong untuk melakukan bisnis trafficking. Dari segi ekonomi kegiatan usaha/bisnis seperti ini dapat mendatangkan keuntungan yang besar serta adanya celah hukum yang menguntungkan para trafficker, yaitu kurangnya penegakan hukum di

(19)

Indonesia, terutama dalam mengadili pelaku perdagangan orang. Terdapat juga faktor lain, seperti faktor individual, faktor pendidikan yang rendah, faktor lingkungan, dan faktor geografis Indonesia.

Para pelaku/trafficker bekerja sangat rapih dan terorganisasi. Ada yang secara langsung menghubungi calon korban dan ada juga menggunakan cara dan modus lainnya yang telah penulis jelaskan diawal. Bahkan diantara cara-cara tersebut ada juga yang dilindungi oleh aparat (pemerintah dan penegak hukum).

Cara kerjanya pun ada yang bekerja sendirian dan ada yang secara terorganisasi.

Pelaku yang bekerja dengan jaringan menggunakan berbagai cara, dari yang sederhana dengan mencari dan menjebak korban ke daerah-daerah mulai dari membujuk, menipu dan memanfaatkan kerentanan calon korban dan orangtuanya.

Selain dari beberapa hal diatas, modus tindakan perdagangan orang dalam bidang ketenagakerjaan ini juga berasal dari rendahnya kesadaran hukum masyarakat, pemahaman agama dan moral yang minim, gaya hidup masyarakat yang konsumtif, rendahnya pendidikan masyarakat dan kondisi ekonomi masyarakat yang belum merata.

Berdasarkan uraian-uraian latar belakang diatas dan menyadari betapa pentingnya setiap orang, khususnya korban perdagangan orang untuk memperoleh perlindungan hukum yang memadai demi terciptanya suatu keadilan dan memberikan efek jera pada pelaku kejahatan perdagangan orang (traffiker), maka penulis tertarik untuk membahas serta menganalisis lebih konkrit dengan menuangkannya kedalam penelitian skripsi yang berjudul “ANALISIS PENJATUHAN PUTUSAN BEBAS (VRIJSPRAAK) DALAM TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG BIDANG KETENAGAKERJAAN

(20)

OLEH HAKIM PENGADILAN NEGERI SEMARANG (STUDI PUTUSAN NO. 49/PID.SUS/2018/PN.SMG)”.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas, ada beberapa masalah yang harus dibahas.

Adapun permasalahan yang akan penulis bahas dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaturan hukum tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia?

2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia?

3. Bagaimana analisis penjatuhan putusan bebas dalam perkara Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

Dalam penulisan ini, ada beberapa hal yang menjadi tujuan dalam rangka pencapaian atas pengkajian permasalahan yang ada dalam skripsi ini, adapun tujuannya adalah sebagai berikut:

1) Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaturan hukum terhadap Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

2) Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor apa saja sebenarmya yang dapat menjadi pemicu/penyebab terjadinya Tindak Pidana Perdagangan Orang.

(21)

3) Untuk mengetahui analisis dalam Putusan Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg terkait dengan Penjatuhan Putusan Bebas yang dilakukan oleh hakim Pengadilan Negeri Semarang dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang Bidang Ketenagakerjaan.

Penulisan skripsi ini juga diharapkan mampu memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang sangat besar dalam bidang ilmu pengetahuan secara teori dan juga dapat sebagai literatur serta referensi mengenai pengaturan-pengaturan hukum tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, faktor penyebab terjadinya Tindak Pidana Perdaganagan Orang, juga diharapkan dapat memberikan manfaat dalam melakukan pemikiran terkait pengetahuan hukum dalam memutuskan perkara agar mampu dilakukan dengan seadil-adilnya.

2. Manfaat Praktis

Penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca yang baik, calon tenaga kerja/pekerja migran, mahasiswa/i serta aparat penegak hukum maupun para pihak praktisi hukum untuk menambah wawasan dalam bidang Tindak Pidana Perdagangan Orang, bidang Ketenagaerjaan serta dalam bidang Hukum. Sehingga dapat mempertimbangkan hukum seadil-adilnya dalam penjatuhan putusan pengadilan.

(22)

D. KEASLIAN PENULISAN

Penulisan skripsi ini berjudul “Analisis Penjatuhan Putusan Bebas (Vrijspraak) Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang Bidang Ketenagakerjaan Oleh Hakim Pengadilan Negeri Semarang (Studi Putusan No.

49/Pid.Sus/2018/PN.Smg) ini dalam sepengetahuan penulis belum pernah ditulis oleh mahasiswa/mahasiswi lain di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ataupun di Universitas lain. Skripsi ini adalah merupakan hasil karya penulis sendiri tanpa adanya penjiplakan ataupun plagiat dari skripsi orang lain. Penulis menyusun skripsi ini dari berbagai litelatur yang berupa buku-buku, peraturan perundang-undangan, jurnal, website serta sumber-sumber lain yang dapat mendukung penulisan skripsi ini.

E. TINJAUAN KEPUSTAKAAN 1) Pengertian Putusan Bebas

Putusan adalah hasil kesimpulan dari sesuatu yang telah dipertimbangkan dan dinilai dengan semasak-masaknya yang dapat berbentuk tertulis ataupun lisan.

Ada juga yang mengartikan “Putusan” sebagai vonis tetap/definitief. Jika diterjemahkan dari kata vonis “Putusan” adalah hasil akhir dari pemeriksaan perkara di sidang pengadilan.11 Dalam Pasal 1 angka 11 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal

11 Leden Marpaung, Putusan Bebas (Masalah dan Pemecahannya), (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hlm. 36

(23)

serta menurut cara yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Dalam proses pengambilan putusan, setelah Ketua Majelis/Ketua Sidang menyatakan bahwa pemeriksaan ditutup (Pasal 182 ayat (2) KUHAP maka kemudian hakim mengadakan musyawarah yang dipimpin Ketua Majelis/Ketua Sidang yang mengajukan pertanyaan12 dimulai dari hakim yang termuda sampai hakim yang tertua. Hakim yang bersangkutan mengutarakan pendapat dan uraiannya dimulai dengan pengamatan dan penelitiannya tentang hal formil, kemudian barulah tentang hal materil yang kesemuanya didasarkan atas “surat dakwaan” penuntut umum. Setelah masing-masing Hakim Anggota Majelis mengutarakan pendapat/pertimbangan dan keyakinannya atas perkara tersebut, maka dilakukanlah musyawarah untuk mufakat. Ketua Majelis berusaha agar diperoleh permufakatan bulat. Tetapi jika mufakat bulat tidak diperoleh maka putusan diambil dengan suara terbanyak.

Adakalanya para Hakim masing-masing berbeda pendapat/pertimbangan, sehingga suara terbanyak pun tidak dapat diperoleh. Jika hal tersebut terjadi, maka putusan yang dipilih adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan terdakwa. Pelaksanaan (proses) pengambilan putusan tersebut dicatat dalam buku

“himpunan putusan” yang disediakan secara khusus untuk itu yang sifatnya rahasia.13

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), apabila tidak dipidananya pelaku tindak pidana maka hal tersebut akan membawa kepada dua bentuk putusan hakim yang berbeda. Pertama, mengakibatkan putusan bebas

12 Pertanyaan yang dimaksud adalah mengenai bagaimana pendapat dan penilaian hakim yang bersangkutan terhadap perkara tersebut.

13 Ibid., hlm. 46

(24)

(vrijspraak) yaitu apabila hakim berpendapat bahwa kesalahan terdakwa (pelaku) tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Kedua, mengakibatkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum (ontslag) yaitu apabila hakim berpendapat bahwa perbuatanyang didakwakan kepada terdakwa (pelaku) terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana.14 Penjelasan mengenai kedua putusan itu, yakni:

a. Putusan Bebas

Putusan bebas diatur dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang menyatakan

“Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”. Dari rumusan Pasal 191 ayat (1) KUHAP ini dapat menimbulkan penafsiran yang kurang tepat, seolah-olah putusan bebas terjadi hanya karena kesalahan terdakwa tidak terbukti pada pemeriksaan di sidang. Tetapi dengan memperhatikan penjelasan resmi pasal tersebut, maka kekeliruan penafsiran dapat dicegah karena penjelasan tersebut berbunyi:15 “Yang dimaksud dengan perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti sah dan meyakinkan adalah tidak cukup terbukti menurut penilaian hakim atas dasar pembuktian dengan menggunakan alat bukti menurut ketentuan hukum acara pidana ini”. Dengan kata lain, baik kesalahan terdakwa dan/atau perbuatan yang didakwakan tidak terbukti berdasarkan alat bukti sah yang ditentukan Pasal 184 KUHAP pada pemeriksaan di sidang pengadilan. Putusan bebas ini juga didasarkan pada penilaian dan pendapat hakim bahwa:16

14 M. Hamdan, Op. Cit, hlm. 44

15 Leden Marpaung, Op. Cit, hlm. 49

16 M. Hamdan, Loc. Cit

(25)

1) Kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa sama sekali tidak terbukti. Semua alat bukti yang diajukan dipersidangan baik berupa keterangan saksi, keteranga ahli, surat dan petunjuk maupun keterangan terdakwa, tidak dapat membuktikan kesalahan yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum.

2) Secara nyata hakim menilai, pembuktian kesalahan yang didakwakan tidak memenuhi ketentuan batas minimum pembuktian. Misalnya alat bukti yang diajukan di persidangan hanya terdiri dari seorang saksi saja (unus testis nullus testi).

3) Putusan bebas tersebut dapat juga didasarkan atas penilaian, kesalahan yang terbukti itu tidak didukung oleh keyakinan hakim. Penilaian yang demikian ini sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut dalam Pasal 183 KUHAP.

Dalam putusan bebas, pengajuan banding yang dilakukan oleh penuntut umum merupakan suatu masalah, sebab di dalam undang-undang (KUHAP) tidak disebutkan atau diatur secara jelas dan tegas, melainkan tidak membolehkan banding putusan bebas dari segala tuduhan, sebagaimana tercantum Pasal 67 KUHAP.17 Dalam praktik sehubungan dengan hal tersebut, maka di dalam yurisprudensi, putusan yang merupakan pembebasan tidak dapat dimintakan banding, asalkan penuntut umum dapat membuktikan bahwa pembebasan tersebut adalah pembebasan tidak murni.

Terdapat beberapa alasan banding oleh penuntut umum terhadap putusan pembebasan, yaitu sebagaimana menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung No.

17 Andi Muhammad Sofyan dan Abd. Asis, Hukum Acara Pidana (Suatu Pengantar), (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 266

(26)

19/K/Kr/1969, yang menyatakan bahwa “Putusan yang mengandung pembebasan, tidak dapat dimintakan banding oleh jaksa (Penuntut Umum), kecuali dapat dibuktikan dalam memori bandingnya bahwa pembebasan tersebut sebenarnya adalah pembebasan tidak murni.” Sebelum berlakunya KUHAP, maka yurisprudensi tersebut merupakan sumber hukum sebagai putusan bebas yang dapat dimintakan banding.18

Demikian pula berdasarkan hasil penelitian Kejaksaan Agung yang bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, bahwa telah ditarik kesimpulan dari opini para hakim, jaksa, pengacara, dan para dosen, bahwa putusan bebas (vrijspraak) dimungkinkan banding dengan alasan:19

1) Sebagai usaha koreksi terhadap putusan pengadilan dalam tingkat pertama.

2) Kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi putusan hakim.

3) Kemungkinan adanya kekhilafan hakim dalam membuat putusannya.

b. Putusan Lepas

Putusan pengadilan/hakim yang menjatuhkan putusan lepas dari segala tuntutan, apabila perbuatan terdakwa/pelaku (sebagai unsur objektif) bukan merupakan perbuatan pidana/tindak pidana (meskipun perbuatan itu telah terbukti dilakukan terdakwa). Mengenai putusan lepas ini diatur dalam Pasal 191 ayat (2) KUHAP yang berbunyi: “Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang

18 Ibid.

19 Ibid.

(27)

didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum”.

Dengan demikian, putusan lepas ini menyangkut tentang perbuatan sebagai unsur objektif dari suatu tindak pidana yang ditinjau dari sudut pembuktian. Dengan demikian, maka putusan lepas dari segala tuntutan hukum ini terjadi apabila hakim berpendapat:20

a) Dalam hal apa yang didakwakan kepada terdakwa memang cukup terbukti secara sah baik dinilai dari segi pembuktian menurut undang- undang maupun dari segi batas minimum pembuktian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP.

b) Akan tetapi perbuatan yang terbukti itu tidak merupakan tindak pidana.

Tegasnya perbuatan yang didakwakan dan yang telah terbukti itu, tidak diatur dan tidak termasuk ruang lingkup hukum pidana, mungkin barangkali hanya berupa quasi tindak pidana, seolah-olah penyidik dan penuntut umum melihatya sebagai perbuatan tindak pidana. Akan tetapi mungkin termasuk dalam ruang lingkup hukum perdata atau hukum administrasi.

2) Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana adalah sebagai terjemahan dari istilah bahasa Belanda yaitu “Strafbaar feit” atau “delict”. Didalam bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari strafbaar feit atau delict terdapat beberapa istilah seperti: Tindak

20 M. Hamdan, Op. Cit, hlm. 45

(28)

Pidana, Perbuatan Pidana, Peristiwa Pidana, Pelanggaran Pidana, Perbuatan yang boleh dihukum, Perbuatan yang dapat dihukum.21

Tindak pidana atau dalam bahasa Belanda strafbaar feit, secara literijk terdiri dari 3 (tiga) kata, yakni straf, baar, dan feit. Straf dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “pidana” dan “hukum”. Sedangkan baar memiliki arti

“dapat” atau “boleh”. Untuk kata yang terakhir, yakni feit diartikan sebagai

“tindak”, “peristiwa”, “pelanggaran” dan “perbuatan”. Kata tindak meskipun telah lazim digunakan dalam perundang-undangan, tetapi masih sering diperdebatkan perihal ketepatannya. Karena kata tersebut tidak menunjuk pada kelakuan manusia dalam arti positif (handelen) semata, dan juga tidak termasuk kelakuan manusia yang pasif atau negatif (nelaten).22

a. Tindak Pidana

Tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang.23 Beberapa ahli hukum telah memberikan beberapa perumusan dan/atau pendapat mereka mengenai tindak pidana, adapun pengertian tindak pidana menurut para ahli hukum, yaitu:

a) Wirjono Prodjodikoro mengemukakan bahwa tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana.24 b) Muljatno berpendapat, bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang

dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman

21 H. Ishaq, Pengantar Hukum Indonesia (PHI), (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 136

22 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), hlm. 70

23 Andi Hamzah, Terminologi Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm. 164

24 H. Ishaq, Loc. Cit

(29)

(sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut.25

c) R. Tresna mengemukakan bahwa peristiwa pidana ialah sesuatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan undang-undangatau peraturan-peraturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan penghukuman.26

d) Simons merumuskan, bahwa Strafbaar feit sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawakan atas tindakannya dan yang oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum.27

e) J. Baumann merumuskan, bahwa tindak pidana merupakan perbuatan yang memenuhi rumusan delik, bersifat melawan hukum dan dilakukan dengan kesalahan.28

b. Unsur Tindak Pidana

Tindak pidana terjadi akibat adanya sifat melawan hukum dalam melakukan suatu perbuatan. Ada beberapa unsurnya, yaitu:29

1) Unsur kesalahan, merupakan suatu anasir institutive dari tiap tindak pidana. Melawan hukum dan kesalahan adalah dua anasir tindak pidana yang saling berhubungan, apabila perbuatan yang bersangkutan

25 Ibid.

26 Ibid., hlm. 137

27 Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Medan: USU Press, 2010), hlm.

83

28 Ibid., hlm. 85

29 Edi Setiadi dan Dian Andriasari, Perkembangan Hukum Pidana Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), hlm. 67-69

(30)

tidak melawan hukum, maka menurut hukum pidana, perbuatan tesebut tidak dapat dipertanggungjawabkan, tidak mungkin ada kesalahan tanpa melawan hukum. Bentuk kesalahan ada dua yaitu kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa).

2) Kemampuan bertanggung jawab, seseorang dikatakan mampu bertanggung jawab jika jiwanya sehat, apabila:

a) Ia mampu untuk mengetahui atau meyadari bahwa perbuataanya bertentangan dengan hukum;

b) Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut.

3) Kesengajaan, dalam mengemukakan sifat sengaja ada dua teori, yaitu:

a) Teori kehendak, Van Heppel mengemukakan sengaja adalah kehendak membuat suatu tindakan dan kehendak menimbulkan suatu akibat.

b) Teori membayangkan, Frank mengemukakan sengaja adalah apabila suatu akibat dibayangkan sebagai maksud dan oleh sebab itu tindakan yang bersangkutan dilakukan sesuai dengan bayangan terlebih dulu telah tersirat.

c. Cara Merumuskan Tindak Pidana

Undang-undang pidana dalam suatu negara disusun secara sistematis dalam kitab undang-undang atau dalam suatu peraturan yang biasanya menggunakan bahasa yang sulit dimengerti oleh masyarakat umum, sehingga mereka tidak dapat memahami isi dan maksudnya, maka untuk mengerti isi dan

(31)

maksud tersebut diperlukannlah suatu perumusan agar masyarakat dapat mengetahui isi dan maksud dari peraturan tersebut.

Menurut Prof. Moeljatno, S.H, cara merumuskan tindak pidana yang terdapat dalam perundang-undangan ada 3 (tiga), yaitu:30

1) Cara I: Menentukan Unsur

Rumusan tindak pidana dalam KUHP khususnya dalam Buku II adalah mengandung maksud agar diketahui dengan jelas bentuk perbuatan tindak pidana apa yang dilarang. Untuk mengetahui maksud rumusan tersebut perlu menentukan unsur-unsur atau syarat yang terdapat dalam rumusan tindak pidana itu.

2) Cara II: Menurut Ilmu Pengetahuan dan Praktek Peradilan

Apabila rumusan Pasal tindak pidana tidak mungkin ditentukan unsur- unsurnya, maka batas pengertian rumusan tersebut diserahkan kepada ilmu pengetahuan dan praktek pengadilan.

3) Cara III: Menentukan Kualifikasi

Untuk menentukan tindak pidana yang digunakan, selain menentukan dengan unsur-unsur tindak pidana yang dilarang juga ditentukan kualifikasi hakikat dari tindak pidana tersebut.

d. Jenis-Jenis Tindak Pidana

Menurut M. Sudradjat Bassar, menyebutkan jenis-jenis tindak pidana, sebagai berikut:31

1) Tindak Pidana Materiil (Materieel Delict)

30 Suharto RM, Hukum Pidana Materil (Unsur-Unsur Obyektif Sebagai Dasar Dakwaan), (Jakarta: Sinar Grafika), hlm. 33-34

31 I Made Widnyana, Asas-Asas Hukum Pidana (Buku Panduan Mahasiswa), (Jakarta:

PT. Fikahati Aneska, 2010), hlm. 39-41

(32)

Adalah apabila tindak pidana yang dimaksudkan dalam suatu ketentuan hukum pidana disitu dirumuskan sebagai perbuatan yang menyebabkan suatu akibat tertentu, tanpa merumuskan wujud dari perbuatan itu.

2) Tindak Pidana Formal (Formeel Delict)

Adalah apabila tindak pidana yang dimaksudkan dirumuskan sebagai wujud perbuatannya, tanpa mempersoalkan akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu.

3) Commissie Delict

Adalah tindak pidana yang berupa melakukan suatu perbuatan positif, umpamanya membunuh, mencuri dan lain-lain. Jadi hampir meliputi semua tindak pidana.

4) Ommissie Delict

Adalah melalaikan kewajiban untuk melakukan sesuatu, umpamanya tidak melakukan pemberitahuan dalam 10 hari hal kelahiran atau kematian kepada Pegawai Jawatan Catatan Sipil (Pasal 529 KUHP).

5) Gequalificeerd Delict

Istilah ini digunakan untuk suatu tindak pidana tertentu yang bersifat istimewa, umpamanya pencurian yang gequalificeerd (Pasal 363 KUHP), apabila pencurian dilakukan dengan diikuti perbuatan lain, misalnya dengan merusak pintu.

6) Voortdurend Delict

Adalah tindak pidana yang tidak ada hentinya. Umpamanya dalam Pasal 169 KUHP yang melarang turut serta dalam suatu perkumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan, atau dalam suatu perkumpulan yang oleh undang-undang

(33)

atau oleh pemerintah berdasarkan undang-undang dilarang. Jadi tindak pidana itu mulai dilakukan pada waktu orang menjadi anggota dari perkumpulan yang bersangkutan dan akan terus-menerus berlangsung selama ia belum keluar dari perkumpulan itu.

3. Pengertian Perdagangan Orang

Perdagangan orang dalam bahasa asing biasa disebut Human Trafficking.

Ada beberapa pengertian mengenai perdagangan orang, yaitu:

1) Menurut Resolusi Majelis Umum PBB Nomor. 49/166 mendefinisikan dengan istilah trafficking. “Trafficking in the illici and clandestine movement of persons across national and international borders, langerly from developing countries and some countries with economies in transition, with the and goad af forcing women and gild children into sexually or economically oppressive and exploitative situations for the profit of recruiter, trafficting, suck as forced domestic labour, false marriages, clandestine employment, and false adoption”.

Terjemahannya : “Perdagangan adalah suatu perkumpulan gelap oleh beberapa orang di lintas nasional dan perbatasan internasional, sebagian besar berasal dari negara-negara yang berkembang dengan perubahan ekonominya, dengan tujuan akhirnya memaksa wanita dan anak-anak perempuan bekerja di bidang seksual dan penindasan ekonomi dan eksploitasi untuk kepentingan agen, penyalur, dan sindikat kejahatan, sebagaimana kegiatan ilegal lainnya yang

(34)

berhubungan dengan perdagangan, seperti pembantu rumah tangga, perkawinan palsu, pekerjaan gelap dan adopsi”.32

2) Menurut Konvensi PBB yang menentang kejahatan terorganisai transnasional tahun 2000 PBB dalam Pasal 9, disebutkan:

“Perdagangan manusia adlah perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan orang, baik di bawah ancaman atau secara paksa atau bentuk lain dari kekerasan, penculikan, penipuan, kecurangan atau penyalahgunaan wewenang atau situasi rentan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau keuntungan guna memperoleh persetujuan dari seseorang yang memiliki kontrol atas orang lain untuk melacurkan orang lain atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual yang lain, kerja paksa atau wajib kerja paksa, perbudakan atau praktik yang mirip dengan perbudakan, penghambaan, atau pengambilan organ tubuh”.33

3) Dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dinyatakan bahwa: “Perdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang

32 Marlina dan Azmiati Zuliah, Hak Restitusi Terhadap Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2015), hlm. 15

33 Ibid.

(35)

tersebut, baik yang dilakukan didalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi”.34

4. Pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang

Mengenai pengertian tindak pidana perdagangan orang juga sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang yang dijelaksan bahwa: “Tindak pidana perdagangan orang adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur- unsur tindak pidana yang ditentukan dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang”.35

Apabila dilihat secara lebih terperinci dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, maka jika diambil kesimpulan Tindak pidana perdagangan orang didefinisikan sebagai berikut: “Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut dan/atau mengakibatkan orang tersebut tereksploitasi.

34 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

35 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

(36)

Definisi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang terdapat dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UUPTPPO), dalam Pasal 2 ayat (1) menunjukkan bahwa TPPO merupakan delik formil, yaitu adanya TPPO cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan, dan tidak harus menimbulkan akibat, dan didalam Pasal 2 ayat (2) menunjukkan bahwa TPPO merupakan delik materil, yaitu adanya TPPO dipenuhi dengan adanya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan dan juga harus menimbulkan akibat. Maka, delik formil dan delik materil, keduanya telah disebutkan dalam UUPTPPO.

Terdapat juga empat (4) unsur dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), yaitu:36

1) Unsur Pelaku, yaitu adalah orang perseorangan, korporasi, kelompok terorganisasi dan penyelenggara negara.

2) Unsur Proses/Tindakan, yaitu urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami, atau didesain, meliputi: perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang.

3) Unsur Cara/Modus, yaitu bentuk perbuatan/tindakan tertentu yang dilakukan untuk menjamin proses dapat terlaksana, yang meliputi:

ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain.

36 Paul SinlaEloE, Tindak Pidana Perdagangan Orang, (Malang: Setara Press, 2017), hlm. 4-5

(37)

4) Unsur Tujuan/Akibat, yaitu sesuatu yang nantinya akan tercapai dan/atau terwujud sebagai akibat dari tindakan pelaku TPPO yang meliputi: eksploitasi orang atau mengakibatkan orang tersekploitasi.

5. Pengertian Ketenagakerjaan

Masalah ketenagakerjaan diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Pengertian Ketenagakerjaan menurut Undang-undang Ketenagakerjaan, yakni:

“Ketenagakerjaan adalah segala yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja”.37

Dalam pengertian ketenagakerjaan tersebut terdapat kata tenaga kerja, pengertian tenaga kerja menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan adalah

“Setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”.

Sementara itu, menurut Dr. Payaman Simanjuntak tenaga kerja (manpower) adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Secara praktis, menurut beliau tenaga kerja dan bukan tenaga kerja dibedakan hanya oleh batas usia.38

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam hukum ketenagakerjaan adalah sebagai berikut:

1) Pekerja/Buruh

37 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 ayat (1)

38 Sedjun H. Manullang, Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia, (Jakarta:

PT. Rineka Cipta, 2001), hlm. 3

(38)

Pekerja/Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pekerja/buruh ini juga merupakan bagian tenaga kerja yang bekerja dalam hubungan kerja, yakni di bawah perintah pemberi kerja dan atas jasanya dalam bekerja yang bersangkutan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.39

2) Pemberi Kerja/Pengusaha/Majikan Pengusaha adalah:

a. Orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;

b. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;

c. Orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan yang berkedudukan di luar Indonesia.40

3) Organisasi Pekerja/Buruh

Organisasi pekerja/buruh ini muncul akibat kedudukan pekerja/buruh berada pada posisi lemah, maka salah satu cara untuk menciptakan keseimbangannya adalah dengan mendirikan oraganisasi serikat ini demi eksistensi pekerja/buruh dan mengefektifkan usaha dalam memperjuangkan kepentingan pekerja/buruh. Adapun perannya adalah sebagai penyambung lidah aspirasi anggota dalam meningkatkan kesejahteraan dan memberikan

39 Maimun, Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), hlm. 14

40 Ibid., hlm. 20

(39)

perlindungan, juga untuk mendidik anggota agar dalam melaksanakan tugas harus secara benar sesuai dengan hak dan kewajiban yang telah disetujui bersama.41

4) Organisasi Pengusaha

Ada 2 (dua) organisasi pengusaha yang sampai saat ini mempunyai peran yang cukup signifikan bagi pengusaha di Indonesia, yaitu:42

a. Kamar Dagang dan Industri (Kadin), yaitu: sebagai wadah pengusaha Indonesia yang bergerak di bidang perekonomian. Adapun tujuannya adalah membina dan mengembangkan kemampuan, kegiatan dan kepentingan pengusaha Indonesia, serta menciptakan dan mengembangkan iklim dunia usaha yang memungkinkan keikutsertaan yang seluas-luasnya bagi pengusaha Indonesia sehingga dapat berperan secara efektif dalam pembangunan nasional.

b. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), yaitu: suatu wadah kesatuan para pengusaha yang ikut serta mewujudkan kesejahteraan sosial dalam dunia usaha melalui kerjasama yang terpadu dan serasi antara pemerintah, pengusaha dan pekerja.

5) Pemerintah

Campur tangan pemerintah (penguasa) dalam hukum ketenagakerjaan dimaksudkan untuk terciptanya hubungan ketenagakerjaan yang adil, karena jika hubungan antara pekerja/buruh dan pengusaha yang sangat berbeda secara sosial- ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada para pihak, maka tujuan untuk

41 Suria Ningsih, Mengenal Hukum Ketenagakerjaan, (Medan: USU Press, 2016), hlm. 12

42 Ibid., hlm. 13

(40)

menciptakan keadilan dalam hubungan ketenagakerjaan akan sulit tercapai. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan yang dilakukan pemerintah terhadap pelaksanaan ketentuan hukum di bidang ketenagakerjaan.

F. METODE PENELITIAN

Secara sederhana metode penelitian dapat diartikan sebagai tata cara bagaimana melakukan penelitian.43 Soerjono Soekanto berpendapat bahwa, penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu penegtahuan dan teknologi, oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis dengan mengadakan analisis dan konstruksi, dan penelitian hukum senantiasa harus disesuaikan dengan disiplin hukum yang merupakan suatu sistem ajaran tentang hukum sebagai norma dan kenyataan.44

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah meliputi:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif.

Penelitian hukum ini disebut juga penelitian hukum kepustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau hanya menggunakan data sekunder belaka.45 Jenis penelitian ini juga adalah penelitian yang menunjukkan perpustakaan seabagi tempat dilaksanakannya suatu penelitian.46

43 Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim, Metode Penelitian Hukum Normatif Dan Empiris, (Jakarta: Prenada Media Group, 2018), hlm. 2

44 Tampil Anshari Siregar, Metodologi Penelitian Hukum (Penulisan Skripsi), (Medan:

Pustaka Bangsa Press, 2005), hlm. 10

45 Ibid., hlm. 23

46 Ibid., hlm. 21

(41)

2. Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data sekunder, yang diperoleh dari bahan:

a. Bahan Hukum Primer; yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, seperti: Norma/Kaedah dasar, Peraturan dasar (Batang Tubuh UUD 1945 dan Tap MPR), Peraturan perundang-undangan, Bahan hukum yang tidak dikodifikasi (Hukum Adat), dan Yurisprudensi.47 Adapun bahan hukum sekunder yang penulis gunakan diantaranya adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

b. Bahan Hukum Sekunder; yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, diantaranya adalah buku, pendapat pakar hukum dan hasil-hasil penelitian.

c. Bahan Hukum Tersier; yaitu bahan hukum yang memeberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, diantaranya adalah kamus (hukum), ensiklopedia, dan lain-lain.

47 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta:

Rajawali Pers, 2016), hlm. 32

(42)

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam menulis skripsi ini adalah dengan memakai alat pengumpul data berupa; studi dokumen/bahan pustaka atau biasa disebut dengan cara penelitian kepustakaan (library research). Pengumpulan data dilakukan dengan cara menghimpun data yang berasal dari kepustakaan, yang berupa buku atau literatul, peraturan perundang-undangan, jurnal, majalah- majalah hukum, artikel hukum, dan putusan pengadilan yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.

4. Metode Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dalam menulis skripsi ini adalah analisis kualitatif yang berarti dengan menganalisa data dan diuraikan dalam kalimat- kalimat yang merupakan bagian penjelasan atau hal-hal yang terkait dalam penulisan dan/atau isi skripsi ini, yang dianalisis dengan menggunakan nalar penulis dan kemudian menghasilkan data sekunder yang telah dianalisa secara kualitatif.

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk memberikan gambaran yang merupakan isi dari pembahasan skripsi ini dan untuk mempermudah penguraiannya, maka penulis membagi skripsi ini kedalam 5 (Lima) Bab, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, keaslian

(43)

penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan yang terakhir sistematika penulisan.

BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

Pada Bab ini akan membahas mengenai landasan filosofis, yuridis, sosiologis tindak pidana perdagangan orang, subjek pidana dalam tindak pidana perdagangan orang, jenis-jenis tindak pidana perdagangan orang serta aturan hukum mengenai pemberantasan tindak pidana perdagangan orang baik yang diatur dalam KUHP maupun diluar KUHP.

BAB III FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

TERJADINYA TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

Dalam Bab ini akan dibahas mengenai faktor-faktor internal maupun eksternal penyebab terjadinya tindak pidana perdagangan orang dan perlindungan terhadap korban tindak pidana perdagangan orang.

BAB IV ANALISIS PENJATUHAN PUTUSAN BEBAS DALAM PERKARA PUTUSAN NOMOR 49/PID.SUS/2018/PN.Smg

(44)

Dalam Bab keempat ini akan membahas mengenai gambaran duduk perkara posisi, pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan serta analisis kasus dan putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor 49/Pid.Sus/2018/PN.Smg.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan Bab terakhir yang merupakan ringkasan dari bab-bab yang sebelumnya yang berisi kesimpulan mengenai permasalahan yang dibahas dan saran-saran dari penulis yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini.

(45)

BAB II

PENGATURAN HUKUM TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG

A. Landasan Filosofis, Yuridis dan Sosiologis Tindak Pidana Perdagangan Orang Tindak pidana perdagangan orang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dalam pembentukan undang-undang ini tentu tidak terlepas dari beberapa asas dan landasan hukumnya. Secara umum, terdapat 3 (tiga) landasan dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan orang ini, adapun ketiganya adalah sebagai berikut:

1) Landasan Filosofis

Landasan filosofis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yaitu peraturan perundang-undangan tersebut bisa dikatakan memiliki landasan filosofis apabila rumusannya ataupun normanya mendapatkan pembenaran setelah dikaji secara filosofis.48 Landasan filosofis adalah peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).49 Landasan filosofis ditetapkannya Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UUPTPPO) ini, telah ditetapkan dalam pertimbangan hukumnya, yang disebutkan bahwa menimbang:

48 Landasan Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan

https://www.zonareferensi.com/landasan-hukum-pembentukan-peraturan-perundang- undangan/ (diakses Kamis, 19 September 2019, pukul 20.26 WIB)

49 Hukum Online

https://www.hukumonline.com/klinik/bacagrafis/lt5c6cf3963eade/arti-landasan-filosofis-- sosiologis--dan-yuridis/ (diakses Kamis, 19 September 2019, pukul 22.01 WIB)

(46)

a) Bahwa setiap orang sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki hak-hak asasi sesuai dengan kemuliaan harkat dan martabatnya yang dilindungi oleh undang-undang berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b) Bahwa perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak, merupakan tindakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat manusia dan melanggar hak asasi manusia, sehingga harus diberantas;

c) Bahwa perdagangan orang telah meluas dalam bentuk terorganisasi, baik bersifat antar negara maupun dalam negeri, sehingga menjadi ancaman terhadap masyarakat, bangsa, dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia;

d) Bahwa keinginan untuk mencegah dan menanggulangi tindak pidana perdagangan orang didasarkan pada nilai-nilai luhur, komitmen nasional, dan internasional untuk melakukan upaya pencegahan sejak dini, penindakan terhadap pelaku, perlindungan korban, dan peningkatan kerja sama;

e) Bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perdagangan orang belum memberikan landasan hukum yang menyeluruh dan terpadu bagi upaya pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka dapat dikemukakan mengenai landasan filosofis dari ditetapkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, yaitu melindungi

Referensi

Dokumen terkait

3. suatu sebab yang halal. Pos Indonesia bergerak dalam bidang jasa, maka faktor yang sangat penting yang perlu di perhatikan adalah kepercayaan pengguna jasa, dimana

a) Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat, terdiri dari peraturan perundang-undangan yang terkait dengan objek penelitian. Bahan hukum primer yang

Maka dengan demikian, berdasarkan pembahasan yang dijelaskan sebagaimana yang dimaksud di atas, timbul keinginan untuk mengkaji tentang keringanan pajak sebagai bentuk insentif

Jawaban : Dalam hal ini sudah jelas disini dengan adanya penerapan klausula baku yang secara sepihak disini yang juga konsumen tidak dapat diberikan pilihan selain ikut

Menimbang, bahwa menurut hemat hakim, pidana terhadap anak yang berkonflik dengan hukum adalah merupakan hal yang refresif akibat perbuatan yang dilakukan karena

Pembahasan terhadap judul skripsi tentang “IMPLEMENTASI HAK IMUNITAS ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DALAM UNDANG UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 (ANALISIS PUTUSAN

Skripsi ini mengemukakan permasalahan mengenai bentuk-bentuk pelanggaran terhadap perempuan korban perang di Suriah ditinjau menurut hukum internasional, diantara banyak

Bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan usaha pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK” sebagaimana yang didakwakan