• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara"

Copied!
166
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN HUKUM PERSAINGAN USAHA TERHADAP PERSEKONGKOLAN YANG DILAKUKAN DALAM

TENDER PROVISION OF UNDERWATER SERVICES FOR KEPODANG

AND KETAPANG FIELD

(STUDI PUTUSAN: KPPU NO. 04/KPPU-L/2017)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH:

YUNITA ANASTASIA MEGA SOFIA 170200265

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)
(3)

i

(4)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena kasih- Nya yang selalu memberkati, menolong dan menguatkan penulis untuk menjalani pendidikan di Fakultas Hukum terkhususnya dalam menyelesaikan penulisan Skripsi yang berjudul:

“KAJIAN HUKUM PERSAINGAN USAHA TERHADAP PERSEKONGKOLAN YANG DILAKUKAN DALAM TENDER PROVISION OF UNDERWATER SERVICES FOR KEPODANG AND KETAPANG FIELD (STUDI PUTUSAN: KPPU NO. 04/KPPU-L/2017)”

Penulisan skripsi ini diajukan guna memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka menyelesaikan pendidikan untuk menempuh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak khususnya dalam bidang ilmu hukum.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis sangat bersyukur atas dukungan, motivasi dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan Terima kasih Kepada:

1. Kedua orang tua penulis, Bapak Karmel Sinaga dan Ibu Rani Nababan yang selalu mendoakan dan mendukung penulis hingga bisa menyelesaikan pendidikan sampai saat ini;

(5)

ii

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

3. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Dosen Pembimbing Akademik, dan Dosen Pembimbing II, yang telah menyediakan waktunya untuk membimbing Penulis dalam proses pengerjaan skripsi ini;

4. Ibu Dr. Agusmidah, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Bapak Dr. Mohammad Eka Putra, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Bapak Prof. Bismar Nasution, S.H., M.H. selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

8. Ibu Tri Murti Lubis, S.H., M.H selaku Sekretaris Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

9. Ibu Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., MLI selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan waktunya dengan memberikan bimbingan, arahan, masukan dan motivasi yang sangat berguna kepada penulis dalam menyusun skripsi ini;

10. Seluruh staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang selama ini menuntun dan membimbing penulis dalam mengikuti perkuliahan sampai dengan menyelesaikan skripsi ini;

ii

(6)

iii

11. Abang, Kakak, Adik, dan Ponakan yang penulis kasihi, Bang Hebron, Bang Dwicko, Kak Johanna, Kak Meilani, Chavin, Griselda, dan Arthur terima kasih untuk segala dukungan dan doa kalian sehingga Penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini;

12. Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) Penulis, yaitu EL-Nathan. Terima kasih kepada Kak Fanidia Tumanggor, S.H yang telah menjangkau dan mengenalkanku pada kasih Kristus yang sangat indah. Terima kasih untuk teman-teman kelompok kecilku, Valentina, Septiana, Cinthya, Dorkas, Bakti, Vika, Yosefa. Bersyukur bisa dipertemukan dengan kalian dan bertumbuh bersama melalui wadah persekutuan ini, bersyukur sekali untuk setiap hal yang telah kita lalui bersama di dalam kelompok kecil ini;

13. Koordinasi UKM KMK UP FH 2019 & 2020, terkhusus Kak Reggie, Bang Bobby, Elfrida, Cinta, dan Monika, teman-teman satu komisi penulis dalam pelayanan di UKM KMK UP FH, yaitu Komisi Kebaktian dan Doa;

14. Anggota grup a true disciple, Elfrida Togatorop, Emry Saragih, Endang Sihombing, Lilis Sirait, Mariana Sianipar, dan Wem Five, yang selalu mendukung dan mendoakan penulis;

15. Teman-teman penulis, Fera, Marwan, Thessa, Safrina, Yona, Petra, Thry, Dorkas, Ernest, Merlin terima kasih untuk kebersamaan selama di bangku perkuliahan hingga kita bisa menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa;

16. Riahmawati Saragih, kakak yang telah banyak membantu dan membimbing Penulis dalam pengerjaan skripsi ini;

iii

(7)

iv

17. Komunitas Young on Top Medan & Kelompok Studi Pasar Modal USU yang telah menjadi wadah bagi penulis untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri melalui berbagai pengalaman dan ilmu yang penulis dapatkan selama berada didalamnya;

18. Serta pihak-pihak lain yang telah turut memberikan dukungan kepada Penulis dalam menjalani studi serta menulis dan menyusun skripsi ini yang tak dapat Penulis sebutkan satu persatu.

Medan, 12 Juni 2021 Penulis,

Yunita Anastasia Mega Sofia NIM: 170200265

iv

(8)

v DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

ABSTRAK ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 15

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 15

D. Keaslian Penulisan ... 16

E. Tinjauan Pustaka ... 21

F. Metode Penelitian... 24

G. Sistematika Penulisan ... 28

BAB II TINJAUAN HUKUM PERSAINGAN USAHA A. Hukum Persaingan Usaha ... 31

1. Sejarah Hukum Persaingan Usaha di Indonesia... 31

2. Pengertian Persaingan Usaha ... 35

B. Substansi Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 ... 37

1. Asas dan Tujuan ... 37

2. Perjanjian Yang Dilarang ... 39

3. Kegiatan Yang Dilarang ... 41

4. Posisi Dominan ... 45

C. Pendekatan Dalam Hukum Persaingan Usaha ... 45

1. Pendekatan Rule of Reason ... 46

(9)

vi

2. Pendekatan Perse Illegal ... 49

D. Hukum Acara Persaingan Usaha ... 51

1. Peran KPPU Dalam Menegakkan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia ... 51

2. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Tentang Prosedur Penanganan Perkara di KPPU ... 55

E. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2019 ... 58

F. Pembuktian Dalam Hukum Persaingan Usaha ... 62

BAB III PENGATURAN PERSEKONGKOLAN TENDER DI INDONESIA A. Persekongkolan Tender ... 66

1. Pengertian Persekongkolan ... 66

2. Pengertian Tender ... 67

3. Pengertian Persekongkolan Tender ... 69

B. Bentuk-Bentuk Persekongkolan Tender ... 71

C. Pembuktian Persekongkolan Tender Oleh KPPU ... 72

1. Pembuktian Unsur-Unsur Persekongkolan ... 72

2. Alat Bukti Dalam Persekongkolan Tender ... 75

D. Daftar Perkara Persekongkolan Tender Yang Ditangani Oleh KPPU Tahun 2000-2021 ... 77

E. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 85/PUU-XIV/2016 terhadap Praktek Persekongkolan Tender ... 97

F. Pengaturan Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) terkait Persekongkolan Tender ... 102

G. Peran LKPP Dalam Pengadaan Tender Barang/Jasa ... 111

(10)

vii

H. Peran LPSE Dalam Mencegah Terjadinya Persekongkolan Tender ... 114 BAB IV ANALISA HUKUM TERHADAP PUTUSAN KPPU PERKARA NO. 04/KPPU-L/2017 TENTANG PERSEKONGKOLAN DALAM TENDER PROVISION OF UNDERWATER SERVICES FOR KEPODANG AND KETAPANG FIELD

A. Analisa Putusan Nomor 04/KPPU-L/2017 tentang dugaan pelanggaran Pasal 22 dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field

1. Kasus Posisi ... 119 2. Pertimbangan Hukum Majelis Komisi Dalam Putusan KPPU No.

04/KPPU-L/2017... 122 3. Amar Putusan ... 129 B. Analisa Pembuktian Yang Digunakan Dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field ... 131 C. SKK Migas dan Pedoman Tata Kerja Yang Mengatur Mengenai Pengadaan Pada Sektor Hulu Minyak dan Gas Bumi ... 134 D. Analisa Pertimbangan Komisi Dalam Memutus Perkara Persekongkolan Dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field ... 139 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 145 B. Saran ... 147 DAFTAR PUSTAKA ... 150

(11)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Daftar Perbandingan Terhadap Perubahan Pasal-Pasal dalam UU No.

5/1999 oleh UU No. 11/2020 ... 59 Tabel 2. Daftar Perkara Persekongkolan Tender yang Ditangani oleh KPPU Tahun 2000-2021 ... 77

(12)

ix ABSTRAK

KAJIAN HUKUM PERSAINGAN USAHA TERHADAP PERSEKONGKOLAN YANG DILAKUKAN DALAM

TENDER PROVISION OF UNDERWATER SERVICES FOR KEPODANG

AND KETAPANG FIELD

(Studi Putusan: KPPU No. 04/KPPU-L/2017) Yunita Anastasia Mega Sofia*)

Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., M.Li**) Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum***)

Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 mengatur mengenai persekongkolan tender, yaitu suatu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua atau lebih pelaku usaha dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu.

Persekongkolan tender sering terjadi dalam pengadaan barang dan jasa. Dalam penelitian ini penulis menguraikan bagaimana terjadinya persekongkolan dalam tender dan menganalisa putusan KPPU Nomor 04/KPPU-L/2017 terkait tender jasa pelayanan bawah air pada sumur Kepodang dan Ketapang.

Metode penelitian skripsi ini adalah metode penelitian normatif yang bersifat deskriptif dengan menggunakan data yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier serta dikumpulan dengan menggunakan teknik studi pustaka. Analisis data yang digunakan adalah metode analisis data kualitatif.

Dalam putusan KPPU Nomor 04/KPPU-L/2017 diketahui telah terjadi persekongkolan tender secara vertikal yang dilakukan oleh Terlapor I (Panitia Tender), Terlapor II (Panitia Tender), dan Terlapor III (Pemenang Tender) yang dibuktikan dengan terpilihnya Terlapor III sebagai pemenang tender padahal dianggap tidak memenuhi kualifikasi, yaitu tidak memiliki sertifikat IMCA dalam bidang diving. Tetapi analisa yang dilakukan dalam skripsi ini menunjukkan ketidaksepakatan dengan putusan Majelis Komisi, yaitu tidak terjadi persekongkolan dalam tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field.

Kata Kunci: Persekongkolan, Tender, KPPU

*)Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**)Dosen Pembimbing I

***)Dosen Pembimbing II

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Selain sebagai suatu entitas politik (political entity), negara juga merupakan suatu entitas ekonomi (economy entity) yang menjadi wadah bagi berlangsungnya proses ekonomi yang berlangsung di dalamnya. Tanpa memandang latar belakang tradisi, politik ataupun budaya, setiap negara sebagai suatu unit ekonomi berkepentingan untuk menentukan perencanaan dan kebijakan mengenai sistem perekonomiannya.1

Indonesia sebagai suatu negara menganut paham gotong royong. Undang- Undang Dasar Tahun 1945 baik sebelum dan sesudah amandemen konstitusi tahun 2002 menginstruksikan bahwa perekonomian Indonesia disusun serta berorientasi pada ekonomi kerakyatan.2 Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan dasar acuan normatif menyusun kebijakan perekonomian nasional menjelaskan bahwa tujuan pembangunan ekonomi adalah berdasarkan demokrasi yang bersifat kerakyatan dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui pendekatan kesejahteraan dan mekanisme pasar.3 Mekanisme pasar, bila tidak diintervensi pemerintah bisa menimbulkan pola alokasi sumber daya ekonomi yang tidak memenuhi, bahkan mungkin bertentangan dengan tujuan

1 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, (Jakarta: Ghalia, Indonesia, 2002) hal. 9

2 Ningrum Natasya Sirait, Hukum Persaingan di Indonesia, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2011) hal. 1

3 Ibid

(14)

atau kepentingan masyarakat luas, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 4

Pasal 33 UUD 1945 jika diterjemahkan ke dalam alam pikiran Barat berbunyi: “The economy is to be organized as a mutual endeavour based upon the principle of brotherhood”. Dengan kata lain kita menganut brotherhood economy.

Ini menjadi inti dari sistem ekonomi nasional Indonesia, dan di sinilah kita lebih mengutamakan kerjasama dan menghindari persaingan yang merugikan kepentingan sosial bersama.5 Persaingan akan menguntungkan pihak yang kuat dan menyingkirkan pihak yang lemah. Tetapi, kerja sama dalam kehidupan ekonomi akan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi.6

Perekonomian Indonesia berupaya menghindarkan diri dari sistem free fight liberalism yang mengeksploitasi manusia atau dominasi perekonomian oleh negara serta persaingan curang dalam berusaha dengan melakukan pemusatan kekuatan ekonomi pada suatu kelompok tertentu saja.7 GBHN yang disusun sejak tahun 1973 sampai tahun 1998 yang memberikan landasan normatif yang jelas mengenai peran serta Pemerintah untuk mencegah terjadinya praktek persaingan usaha yang tidak sehat. Ketentuan tersebut mengatur bahwa untuk mencapai tujuan perekonomian nasional maka haruslah melalui pemberian persamaan kesempatan berusaha bagi setiap pelaku usaha besar maupun kecil.8

Umumnya orang menjalankan usaha untuk memperoleh keuntungan dan penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup, hal ini mendorong banyak orang

4 Muhammad Findi, Negara dan Kebijakan Persaingan Usaha: Ekonomi Politik Tataniaga Industri Tepung Terigu (Bogor: IPB Press, 2017) hal. 46

5 Sri Edi Swasno, Demokrasi Ekonomi Mempertegas Sistem Ekonomi, (Bogor: IPB Press, 2019) hal. 5

6 Ibid

7 Ningrum Natasya Sirait, Op.Cit., hal. 1

8 Ibid, hal. 2

(15)

3

untuk menjalankan usaha, baik kegiatan usaha sejenis maupun kegiatan usaha yang berbeda. Kegiatan yang demikian itu sesungguhnya telah menimbulkan atau melahirkan persaingan usaha di antara pelaku usaha. Persaingan usaha yang sehat akan membawa dampak positif bagi para pelaku usaha, karena bisa memberikan motivasi atau rangsangan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, inovasi dan kualitas dari produk yang dihasilkannya. Persaingan adalah konsep ekonomi yang mendalilkan bahwa sumber daya ekonomi akan digunakan secara efisien jika pasar produk tertentu diperebutkan oleh pesaing. Semakin besar jumlah pesaing, alokasi sumber daya juga akan semakin efisien. Adanya ancaman kerugian bisnis dari para pesaing, mendorong perusahaan individu untuk meningkatkan efisiensi.

Masyarakat bisa mendapatkan manfaat karena perusahaan akan membawa produk baru ke pasar dengan harapan inovasi yang mereka ciptakan akan dihargai dengan pangsa pasar yang lebih besar dan keuntungan yang lebih tinggi, konsumen juga mendapatkan keuntungan dari ketersediaan pilihan yang lebih banyak.9

Suasana yang kompetitif adalah syarat multak bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang efisien.10 Selain itu untuk mewujudkan suatu demokrasi ekonomi maka harus dihindari terjadinya penumpukan aset dan pemusatan ekonomi pada segelintir orang yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan pemerataan. Pemusatan ekonomi aset nasional pada anggota masyarakat tertentu dalam bentuk monopoli dan oligopoli telah menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi.11 Untuk mengendalikan keadaan tersebut, sangat diperlukan hadirnya aturan-aturan untuk

9 Akhmad Suraji, et al, Dua Dekade Penegakan Hukum Persaingan: Perdebatan dan Isu Yang Belum Terselesaikan, (Jakarta: KPPU, 2021) hal. 78

10 Susanti Adi Nugroho, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Dalam Teori dan Praktik serta Penerapan Hukumnya, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 3

11 Akhmad Suraji, et al, Op.Cit., hal. 71

(16)

mencegah terjadinya praktik-praktik ekonomi yang tidak sehat. Peraturan mengenai larangan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ini dibutuhkan untuk menjamin kebebasan bersaing dalam perekonomian dapat berlangsung tanpa adanya hambatan. Sudah sejak lama masyarakat Indonesia merindukan adanya sebuah undang-undang yang komprehensif mengatur mengenai persaingan usaha yang sehat. Keinginan itu semakin didorong oleh munculnya praktik- praktik perdagangan yang tidak sehat, terutama disebabkan oleh penguasa yang sering memberikan perlindungan atau privilege kepada para pelaku bisnis tertentu sebagai bagian dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.12

Pengaturan sistem perekonomian suatu negara yang sangat komplek dalam satu pasal saja, tentu sangat tidak memadai. Sehingga hadirlah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang diharapkan dapat menjamin terciptanya iklim berusaha yang sehat, adil, dan bebas dari unsur-unsur Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Kebijakan persaingan usaha adalah fondasi awal yang harus dibangun dalam menggalakkan implementasi hukum persaingan usaha.

Hukum persaingan usaha adalah peraturan yang mengatur perilaku para pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan bisnis dengan baik dan benar sesuai dengan peraturan yang tersedia sehingga tercipta iklim usaha yang kondusif.

Apabila pelaku usaha menjalankan kegiatan usahanya dengan baik, tidak melakukan praktik monopoli, dan melakukan pelanggaran terhadap Hukum Persaingan Usaha, maka kondisi perekonomian Negara besar kemungkinan akan menjadi lebih kondusif dan yang diuntungkan tentunya adalah pelaku usaha itu

12 Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013) hal. 1

(17)

5

sendiri, pelaku usaha lain dan tentunya perekonomian Negara Indonesia akan meningkat sekaligus dengan daya saing internasionalnya yang juga akan membaik.13 Hadirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum yang sama kepada setiap pelaku usaha dalam berusaha, dengan mencegah timbulnya praktik- praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang terdiri dari 11 bab dan 53 pasal mengatur mengenai bentuk-bentuk persaingan usaha yang tidak sehat, dimana pada bab III mengatur mengenai bentuk-bentuk perjanjian yang dilarang, bab IV mengatur mengenai kegiatan yang dilarang, kemudian pada bab V mengatur mengenai posisi dominan. Undang-Undang ini juga mengatur mengenai KPPU, yaitu lembaga independen yang bebas dari intervensi pemerintah dan pihak lain, dan bertanggung jawab kepada Presiden dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas terhadap pelaksanaan Undang-Undang Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. KPPU harus melaporkan semua kegiatan kepada Presiden dan DPR, agar DPR dan presiden dapat mengetahui hasil kinerja dari KPPU dalam hal pengawasan terhadap pelaksanaan UU No.5 Tahun 1999.14

Sebagai lembaga pengawas, KPPU juga melakukan harmonisasi kebijakan yang terkait dengan isu persaingan usaha. Harmonisasi kebijakan dapat dilakukan sebelum atau pada saat regulasi dibuat atau setelah regulasi ditetapkan (yang biasa disebut evaluasi kebijakan). Hasil dari kajian mengenai kebijakan pemerintah akan mengerucut pada ada tidaknya hal yang bertentangan dengan prinsip

13 Akhmad Suraji, et al, Op.Cit., hal. 93

14 Ibid, hal. 96

(18)

persaingan usaha sehat sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999. Jika ada hal yang bertentangan, maka KPPU dapat memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah.15 Tugas dan Wewenang KPPU ini diatur secara jelas pada pasal 35 & 36 UU No. 5 Tahun 1999. Melihat kinerja KPPU sejak tahun 2000 sampai dengan 2021 sangat banyak perkara yang masuk sebagai laporan ke KPPU yang diselesaikan melalui putusannya, ada sejumlah 370 putusan dengan berbagai jenis pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Dari banyaknya putusan yang diputus oleh KPPU, salah satu yang paling mendominasi adalah putusan terhadap kasus persekongkolan tender.

Sesuai dengan judul penulisan skripsi ini, maka penulis akan lebih spesifik membahas mengenai persekongkolan tender sebagai kegiatan yang dilarang.

Kegiatan yang dilarang diatur dalam Pasal 17 sampai Pasal 24 pada bab IV Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, yang mengatur mengenai persaingan usaha tidak sehat berupa Monopoli, Monopsoni, Penguasaan Pasar dan Persekongkolan. Persekongkolan merupakan salah satu bentuk persaingan curang dalam dunia usaha yang akan merusak kondisi persaingan usaha.16 Persekongkolan menggunakan pendekatan rule of reason, yaitu suatu pendekatan hukum yang digunakan lembaga pengawas persaingan usaha (seperti KPPU di Indonesia) untuk mempertimbangkan faktor-faktor kompetitif dan menetapkan layak atau tidaknya suatu hambatan perdagangan, hal ini dapat dilihat dari kalimat

“... sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat”.17

15 KPPU, Laporan Tahunan 2010, (Jakarta: KPPU, 2010)

16 Alum Simbolon, Hukum Persaingan Usaha Edisi Kedua, (Yogyakarta: Liberty, 2014) hal. 44

17 Andi Fahmi Lubis, et al I, Hukum Persaingan Usaha Antara Teks dan Konteks, (Jakarta: KPPU, 2009) hal. 153

(19)

7

Terdapat 3 bentuk kegiatan persekongkolan yang diatur oleh Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999, yaitu persekongkolan tender yang diatur dalam Pasal 22, persekongkolan untuk membocorkan rahasia dagang yang diatur dalam Pasal 23, serta persekongkolan untuk menghambat perdagangan yang diatur dalam Pasal 24. Namun dalam skripsi ini penulis hanya akan membahas persekongkolan dalam tender yang diatur pada Pasal 22, dimana pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pelaku usaha lain dan/atau pihak yang terkait dengan pelaku usaha lain untuk mengatur dan/atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

Dalam perspektif KPPU, persekongkolan tender adalah bagian dari 4 (empat) jenis praktik hardcore cartel, yaitu persekongkolan tender, pembagian wilayah, pengaturan suplai, serta pengaturan harga.18 Sebelum dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 1999, sering kali terjadi di mana dalam suatu tender proyek besar dilakukan dengan tidak transparan, artinya sebelum tender dilakukan telah diketahui siapa yang akan menjadi pemenang tender, walaupun pelaksanaan tender itu tetap dilaksanakan dengan beberapa peserta tender, hal ini mengakibatkan pelaku usaha yang bergerak dalam bidang pemborongan proyek tersebut merasa diperlakukan tidak jujur (unfair). Keadaan ini dapat terjadi karena adanya persekongkolan (conspiracy) di antara pemberi borongan dan/atau pelaku usaha pemborongan tersebut.19

18 Andi Fahmi Lubis, et al II, Buku Teks Hukum Persaingan Usaha, (Jakarta: KPPU, 2017) hal. 216

19 Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hal. 278

(20)

Bentuk-bentuk persekongkolan itu sendiri dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:

1. Persekongkolan Horizontal adalah persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa pesaingnya;

2. Persekongkolan Vertikal adalah persekongkolan yang terjadi antara satu atau beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa dengan Panitia Tender atau Panitia Lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan;

3. Persekongkolan Horizontal dan Vertikal adalah persekongkolan antara Panitia Tender atau Panitia Lelang atau Pengguna Barang dan Jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan dengan pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa;

Selama dua puluh satu tahun KPPU berdiri, persekongkolan tender adalah perkara yang paling banyak di laporkan kepada KPPU dan paling banyak ditangani oleh KPPU. Hal ini dapat dilihat dari laporan tahunan KPPU, yang menjelaskan secara rinci jumlah laporan yang masuk setiap tahunnya beserta jenis-jenis perkara yang dilaporkan, dan didapati bahwa laporan yang paling banyak diterima oleh KPPU adalah mengenai persekongkolan tender. Setiap tahunnya perkara persekongkolan tender terus meningkat dan semakin mendominasi diantara perkara lain yang masuk kepada KPPU. Hingga saat ini sudah ada 370 putusan yang diputus oleh KPPU. Dari keseluruhan putusan tersebut, didapati lebih dari 80% putusan didominasi oleh persekongkolan tender, yaitu sejumlah 238 putusan. Jumlah tersebut tentu bukanlah nilai yang kecil

(21)

9

sehingga dibutuhkan langkah yang lebih serius untuk memberantas persekongkolan dalam tender, baik secara horizontal, vertikal, maupun horizontal- vertikal.

Persekongkolan tender sering kali dikaitkan dengan pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh pemerintah (Government Procurement). Pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah proses pengadaan yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga/Perangkat daerah yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang prosesnya dimulai dari identifikasi sampai dengan serah terima hasil pekerjaan.20 Pengadaan barang/jasa pemerintah telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018. Dalam peraturan ini disebutkan juga mengenai prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa yaitu efektif, efisien, transparan, terbuka, bersaing, adil dan akuntabel lebih berfokus pada pengaturan terkait sikap pemerintah.21 Namun, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tidak hanya mengatur mengenai kegiatan pengadaan yang dilakukan dalam sektor pemerintahan, tetapi mencakup juga kegiatan yang dilakukan oleh sektor swasta.

Jika melihat Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999, maka dengan jelas disebutkan bahwa persekongkolan yang terjadi melibatkan semua pihak, baik antara pelaku usaha dengan pesaingnya maupun pelaku usaha dengan pemberi kerja atau dengan panitia penyelenggara.22

Selain itu terdapat juga lembaga yang memiliki tugas untuk mengembangkan dan merumuskan kebijakan dalam pengadaan barang/jasa

20 Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pasal 1 angka 1

21 Ibid, Pasal 6

22 Adrian Sutedi, Aspek Hukum Pengadaan Barang & Jasa dan Berbagai Permasalahannya Edisi Kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014) hal. 280

(22)

pemerintah, yaitu LKPP. LKPP adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.23 Dalam pengadaan barang/jasa sering kali terjadi KKN oleh karena itu LKPP mengembangkan sebuah sistem pengadaan secara elektronik yang bernama LPSE. Tujuannya dikembangkan sistem ini adalah untuk menciptakan transparansi dan efektivitas dalam pengadaan barang/jasa sehingga bisa mendorong terciptanya persaingan usaha yang sehat.

Dalam skripsi ini akan dibahas mengenai persekongkolan dalam tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field yang merupakan tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan berupa jasa inspeksi platform dan pipa gas yang dilakukan melalui tender terbuka. Tender ini diselenggarakan oleh PC Muriah Ltd. dan PC Ketapang II Ltd. yang merupakan anak usaha Petronas dan merupakan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang bekerjasama dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi usaha hulu minyak dan gas bumi dibawah pengawasan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

SKK Migas adalah satuan kerja khusus yang melaksanakan penyelenggaraan pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi di bawah pembinaan, koordinasi, dan pengawasan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.24 SKK Migas dibentuk setelah dibubarkannya BP Migas melalui putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 36/PUU-X/2012 karena dinilai inkonstitusional.

23 Peraturan Presiden No. 157 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pasal 1 angka 1

24 Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 17 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Pasal 1 angka 10

(23)

11

Kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi mencakup kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.25 Dalam menjalankan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, Indonesia menggunakan sistem kontrak untuk pelaksanaan eksplorasi dan eksploitasi migas. Indonesia menerapkan Production Sharing Contract (PSC) atau sering juga disebut Kontrak Kerja Sama (KKS).26 Kontrak kerjasama adalah Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kontrak kerja sama lain dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan Negara dan hasilnya dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.27 Kontrak kerjasama ini dilakukan oleh Kontraktor yang merupakan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang diberikan wewenang untuk melaksanakan Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan Kontrak Kerja Sama dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.28

Minyak dan gas bumi merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional. Industri hulu minyak dan gas bumi memiliki perputaran bisnis yang mencapai ratusan triliun setiap tahun sehingga sangat rawan terjadi praktek persaingan usaha tidak sehat di dalamnya. Sub sektor Migas memainkan peranan sangat strategis dalam perekonomian Indonesia. Oleh karenanya, penataan atas penyelenggaraan pembinaan, pengawasan, pengaturan, dan pelaksanaan dari kegiatan pengusahaan minyak dan gas perlu dilakukan secara cermat dan hati-hati, agar tercipta kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang mandiri, transparan,

25 UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 5 ayat (1)

26 Ibid, Pasal 6 ayat (1)

27 Ibid, Pasal 1 angka 19

28 Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 17 Tahun 2017, Pasal 1 angka 9

(24)

berdaya saing, efisien dan berwawasan lingkungan, serta mendorong perkembangan potensi dan peranan nasional.29

Salah satu bentuk pengawasan yang dilakukan SKK Migas adalah dengan mengeluarkan pengaturan terkait pengadaan barang/jasa yaitu melalui sebuah pedoman tata kerja tentang pengelolaan rantai suplai Kontraktor Kontrak Kerjasama, yaitu PTK 007. Pedoman ini harus dipatuhi oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama yang menyelenggarakan pengadaan barang/jasa pada wilayah kerjanya. Dibentuknya pedoman ini juga merupakan salah satu upaya untuk menciptakan persaingan yang sehat dalam pengadaan barang/jasa yang diselenggarakan oleh Kontraktor Kontrak Kerjasama. Persaingan usaha yang sehat hanya bisa diwujudkan jika persekongkolan tender dapat diatasi. Sebagai pencegahan dari kecurangan dalam proses pengadaan barang/jasa maka diperlukan transparansi dalam prosesnya.

PC Muriah Ltd. dan PC Ketapang II Ltd merupakan kontraktor kontrak kerjasama yang mengoperasikan Kepodang Field yang berlokasi sekitar 180 km di timur laut lepas pantai Semarang, Jawa Tengah & PC Ketapang II Ltd mengoperasikan Bukit Tua Field yang berlokasi sekitar 40 km di utara Madura, Jawa Timur. PC Muriah Ltd. dan PC Ketapang II Ltd. menyelenggarakan sebuah tender bernama Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field (Tender No.11204). Tender ini merupakan tender bersama yang dilakukan oleh PC Muriah Ltd. dan PC Ketapang II Ltd. untuk melakukan pemeliharaan berupa Underwater services terhadap fasilitas yang berada baik di Kepodang Field maupun Ketapang Field. Dalam menyelenggarakan tender ini,

29 KPPU, Penelitian Sektor Hulu Migas, diakses dari https://kppu.go.id/wp- content/uploads/2020/07/Abstrak-Hulu-Migas-2019.pdf, Pada 11 Juni 2021

(25)

13

PC Muriah Ltd. dan PC Ketapang II Ltd. selaku kontraktor kontrak kerjasama di sektor hulu minyak dan gas bumi, berpedoman kepada Pedoman Tata Kerja (PTK) 007 buku kedua revisi 03 tentang Pengadaan Barang dan Jasa yang dikeluarkan oleh SKK Migas.

Tender ini diselenggarakan secara konvensional, yaitu pemberitahuan mengenai pengadaan ini diumumkan melalui sebuah koran harian. Tender ini awalnya diikuti oleh 10 Pendaftar dan dalam prosesnya setelah melewati tahap evaluasi prakualifikasi hanya 6 pendaftar yang lolos dan dinyatakan sebagai peserta tender. Akan tetapi pada tahap pemasukan dokumen penawaran 1 peserta tidak memasukkan penawaran, sehingga tersisa 5 peserta. Ketika memasuki evaluasi administrasi dan teknis, 1 peserta dinyatakan tidak lolos, sehingga tersisa 4 peserta pada tahap evaluasi komersial/harga.

Pada akhirnya tender ini dimenangkan oleh PT Aquamarine Divindo Inspection dengan dengan nilai penawaran terendah yaitu sebesar Rp.

47.360.900.000,00 (empat puluh tujuh milyar tiga ratus enam puluh juta sembilan ratus ribu rupiah). Akan tetapi sebelum terjadinya penandatanganan kontrak, tender ini diperiksa oleh KPPU karena diduga telah terjadi suatu persaingan yang tidak sehat dalam pelaksanaannya, yaitu adanya indikasi persekongkolan antara panitia tender dengan peserta pemenang tender. KPPU yang merupakan suatu lembaga independen yang memiliki tugas dan wewenang untuk mengawasi jalannya persaingan usaha di Indonesia serta berperan untuk menciptakan dan memelihara iklim persaingan usaha yang kondusif.30 Dalam Laporan Dugaan Pelanggaran (LDP), Tim Investigator menilai telah terjadi persekongkolan oleh

30 Devi Meyliana, Hukum Persaingan Usaha “Studi Konsep Pembuktian Terhadap Perjanjian Penetapan Harga dalam Persaingan Usaha, (Malang: Setara Press, 2013) hal. 31-32

(26)

PC Muriah Ltd (Terlapor I) dan PC Ketapang II Ltd (Terlapor II) selaku panitia tender dengan memfasilitasi PT Aquamarine Divindo Inspection (Terlapor III) hingga menjadi pemenang Tender.

PT Aquamarine Divindo Inspection merupakan peserta tender yang memberikan penawaran harga terendah dan merupakan satu-satunya peserta tender yang memberikan penawaran harga dibawah Harga Perkiraan Sendiri (HPS)/Owner Estimate (OE). Selain itu dalam menetapkan persyaratan teknis, Majelis Komisi menilai terdapat ketidaktegasan panitia tender yaitu pada dokumen tender yang menyatakan bahwa salah satu persyaratan tender adalah

“The Contractor is to be and IMCA member company”, yang mana persyaratan ini dinilai sebagai salah satu bentuk fasilitas yang diberikan oleh Terlapor I &

Terlapor II kepada Terlapor III yang pada saat itu sedang mengurus sertifikat IMCA pada bidang Diving. Ketidaktegasan itu terlihat pada Prebid Clarification Meeting yang ke -2 dimana salah satu peserta tender menanyakan maksud dari pernyataan “The Contractor is to be and IMCA member company” dan kemudian panitia tender menjawab bahwa peserta harus Anggota IMCA untuk ROV dan Diving. Melalui klarifikasi ini seharusnya Terlapor III digugurkan oleh Terlapor I

& II, akan tetapi Terlapor III justru lolos dengan menggunakan surat dukungan dari PT Samudera Biru Nusantara, padahal sebelumnya tidak ada pengaturan yang memperbolehkan peserta tender menggunakan surat dukungan, hal ini juga bertentangan dengan ketentuan IMCA dan PT Samudra Biru Nusantara sendiri sudah collapse sejak tahun 2010.

Berdasarkan fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh Terlapor I &

Terlapor II selaku panitia tender kepada Terlapor III selaku peserta dan pemenang

(27)

15

tender, KPPU menilai telah terjadi persekongkolan antara panitia dengan peserta tender. Sehingga dalam putusannya KPPU menyatakan bahwa PC Muriah Ltd selaku terlapor I, PC Ketapang II Ltd selaku terlapor II, dan PT Aquamarine Divindo Inspection selaku terlapor III secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-Undang No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Oleh karena itu, dalam skripsi ini penulis akan membahas mengenai Persekongkolan Tender yang dilakukan oleh ketiga pihak terlapor dalam putusan KPPU No.04/KPPU-L/2017 untuk melihat bagaimana persekongkolan tersebut terjadi dan menganalisa putusan KPPU mengenai persekongkolan yang dilakukan oleh PC Muriah Ltd, PC Ketapang II Ltd, dan PT Aquamarine Divindo Inspection tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah yang ada antara lain:

1. Bagaimana pengaturan mengenai hukum persaingan usaha di Indonesia?

2. Bagaimana pengaturan persekongkolan tender sebagai kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat?

3. Bagaimana analisa putusan KPPU No. 04/KPPU-L/2017 tentang Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah penulis kemukakan diatas, maka yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini, adalah:

(28)

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan mengenai hukum persaingan usaha di Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaturan persekongkolan tender sebagai kegiatan yang dilarang dalam Undang-Undang No.5 Tahun 1999.

3. Untuk mengetahui dan menganalisa penerapan hukum dalam putusan KPPU No.04/KPPU-L/2017 tentang Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field.

Adapun yang menjadi manfaat dalam penulisan skripsi ini antara lain, adalah:

1. Secara Teoritis

Pembahasan mengenai persekongkolan tender dalam skripsi ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada para pembaca mengenai hukum persaingan usaha di Indonesia khususnya mengenai persekongkolan tender

2. Secara Praktis

Penulisan skripsi ini secara praktis diharapkan dapat menjadi media baca yang dapat memberikan masukan kepada pembaca dan bagi masyarakat pelaku usaha agar mampu memahami hukum persaingan usaha di Indonesia khususnya mengenai Persekongkolan sebagai kegiatan yang dilarang, demi terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat dalam dunia usaha maupun perekonomian negara.

D. Keaslian Penulisan

Sebelum menuliskan skripsi dengan judul: “Kajian Hukum Persaingan Usaha Terhadap Terhadap Persekongkolan Yang Dilakukan Dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field (Studi Putusan: KPPU No. 04/KPPU-L/2017)”, penulis terlebih dahulu melakukan penelusuran berbagai judul karya ilmiah melalui media elektronik dan tidak mendapati kesamaan judul skirpsi penulis dengan karya ilmiah yang lain.

(29)

17

Selanjutnya penulis melakukan uji bersih di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara untuk memastikan apakah ada judul atau topik yang sama ataupun menyerupai judul yang lain. Setelah melakukan uji bersih penulis mendapati tidak ada kesamaan ataupun kemiripan judul penulis dengan judul skripsi yang ada di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Akan tetapi mengenai topik yang penulis angkat, yaitu persekongkolan tender, sudah ada beberapa penelitian sebelumnya yang membahas mengenai topik tersebut, antara lain:

1. Rigta Yudiyansi Ginting, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2014), dengan judul “Analisis Persengkongkolan Tender dalam Hukum Persaingan Usaha (Studi Kasus Putusan KPPU Nomor: 03/KPPU-L/2015) Tentang Persengkongkolan dalam Tender Pelebaran Jalan Merek Sampai Seribu Dolok”.

Adapun rumusan masalahnya adalah:

a) Bagaimana terjadinya Persekongkolan Tender di dalam Pengadaan Barang dan Jasa?

b) Bagaimana Penerapan Hukum terhadap Persekongkolan Tender pada putusan KPPU nomor: 03 / KPPU –L/2015 Tentang Persekongkolan dalam Tender Pelebaran Jalan Merek Sampai Seribu Dolok?

2. Michael Timothy, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2014), dengan judul “Pertimbangan Hukum KPPU dalam Memutus Perkara No.

35/KPPU-I/2010 tentang Praktek Beauty Contest sebagai Bentuk Persekongkolan Tender”.

Adapun rumusan masalahnya adalah:

a) Bagaimana Ruang Lingkup Praktek Tender dan Beauty Contest yang ada di Indonesia?

b) Bagaimana Perbedaan Pengertian “Beauty Contest” untuk memilih mitra usaha dengan pengertian persekongkolan tender sebagaimana diatur dalam Pasal 22 UU No.5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat?

c) Bagaimana Pertimbangan Hukum KPPU dalam menafsirkan dan menerapkan Pasal 22 UU No.5 Tahun 1999 dalam memutus perkara No.

35/KPPU-I/2010 tentang praktek Beauty Contest proyek Donggi Senoro?

3. Chris Agave Valentin Berutu, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2014), dengan judul “Analisis Hukum Persaingan Usaha Tidak Sehat pada Pengadaan Alat Kesehatan (Studi Kasus : Putusan KPPU Nomor 24/KPPU- I/2016 Tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah:

a) Bagaimana persekongkolan tender ditinjau dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat?

b) Apakah kasus pelanggaran yang dilakukan oleh PT Synergy Dua Kawan Sejati, PT Kembang Turi Healthcare, PT Dwi Putra Unggul Pratama, CV Trimanunggal Mandiri, dan CV Tiga Utama mengakibatkan timbulnya persaingan usaha tidak sehat dalam hal praktek persekongkolan tender?

(30)

4. Irawaty Noralinda, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2016), dengan judul “Analisis Hukum Terhadap Ketidaksesuaian Penerapan Denda dalam Perkara Persekongkolan Tender Ditinjau dari Undang-Undang No.5 Tahun 1999 (Studi Putusan KPPU Nomor 01/KPPU-L/2016 Tentang Persekongkolan Tender dalam Pekerjaan Peningkatan Jalan Pesut pada Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Kutai Kartanegara)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah:

a) Bagaimana pengaturan persekongkolan tender menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia?

b) Bagaimana penentuan pengenaan denda pada perkara persekongkolan tender?

c) Apakah pengenaan denda pada putusan KPPU Nomor 01/KPPU-L/2016 Tentang Persekongkolan Tender Dalam Pekerjaan Peningkatan Jalan Pesut Pada Satuan Kerja Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Kutai Kartanegara telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan?

5. Boy Kresendo Situmorang, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2014), dengan judul “Tinjauan Yuridis Mekanisme Pembuktian Dalam Upaya Keberatan Terhadap Putusan KPPU Di Pengadilan Negeri Nomor 708/PDT.SUS-KPPU/2016/PN MDN (Kasus Pembangunan Kantor Bupati Labusel)”.

Adapun rumusan masalah adalah:

a) Bagaimana konsep pembuktian dalam konsep negara hukum?

b) Bagaimana konsep pembuktian dalam upaya keberatan dalam perkara persaingan usaha?

c) Bagaimana analisa hukum pembuktian dalam upaya keberatan terhadap putusan KPPU di Pengadilan Negeri (Putusan Nomor 708/Pdt.Sus KPPU/2016/PN Mdn)?

6. Candra Permana Siagian, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2014), dengan judul “Kajian Hukum Terhadap Tindakan Persekongkolan dalam Tender ditinjau Dari Uu No. 5 Tahun 1999 (Studi Kasus Putusan Kppu No. 01/Kppu-L/2013, Pt. Madju Medan Cipta, Dkk Melawan Kppu)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah:

a) Bagaimana bentuk-bentuk dari Persekongkolan Tender dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia?

b) Bagaimana prosedur penanganan perkara persaingan usaha di Indonesia?

c) Bagaimana Analisa Putusan KPPU pada Perkara No. 01/KPPU-L/2013 tentang Pengadaan Barang Cetakan dan Alat Peraga Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Anggaran 2011?

7. Jenni Anggita, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2017), dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Pelelangan Proyek Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Terkait Sistem Penyediaan Air Minum Kota Lampung Yang Mengakibatkan Persekongkolan (Studi Putusan Nomor 14/KPPU- L/2019)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

(31)

19

a) Bagaimana pengaturan UU No 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat terhadap persekongkolan tender dalam Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha?

b) Bagaimana pengaturan larangan tindakan post bidding terhadap pengadaan barang dan jasa terkait Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam persaingan usaha?

c) Bagaimana analisis hukum terhadap Putusan KPPU Perkara Nomor

14/KPPU-L/2019 terkait pelelangan proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Terkait Sistem Penyediaan Air Minum di Kota Lampung?

8. Akmal Mutiara, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Persekongkolan Dalam Tender Preservasi Rekonstruksi Jalan dan Pemeliharan Rutin (Studi Putusan KPPU Nomor 05/KPPU-L/2018)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

a) Bagaimana pertimbangan majelis komisi dalam putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha nomor 05/KPPU-L/2018?

b) Benarkah putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha nomor 05/KPPU- L/2018 telah sesuai dengan ketentuan pasal 22 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999?

9. Fachri Hafizd, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan, judul “Mekanisme Pengaturan Tender Rekonstruksi Jalan Nasional Provinsi Gorontalo (Studi Kasus Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 11/KPPU-L/2015).

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

a) Bagaimana dasar pertimbangan hukum Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha atas Perkara Nomor 11/kppu-l/2015 tersebut?

b) Apa alasan tidak dihukumnya Pokja Pengadaan (Terlapor I) selaku panitia tender oleh KPPU?

10. Ardiansyah Herviyan Pratama, Universitas Airlangga (2014), dengan judul

“Persekongkolan Tender Pengadaan Barang Cetakan dan Alat Peraga Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Anggaran 2011 (Paket 1 & Paket 13)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

a) Apakah persekongkolan tender Pengadaan Barang Cetakan dan Alat Peraga Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Anggaran 2011 (Paket 1 & Paket 13) merupakan persekongkolan horisontal atau vertikal atau gabungan dari persekongkolan horisontal dan vertikal?

b) Bagaimanakah penanganan KPPU terhadap perkara tender Pengadaan Barang Cetakan dan Alat Peraga Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun Anggaran 2011 (Paket 1 & Paket 13)?

11. Annisa Danti Avrilia Ningrum, Universitas Medan Area, dengan judul

“Penerapan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Pada Tender Pengadaan Peralatan CT Scan RSUD Dr. Pringadi Kota Medan (Studi Putusan KPPU Nomor 8 Tahun 2013)”.

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

(32)

a) Apakah proses tender pengadaan peralatan CTScan di RSUD Dr. Pringadi Kota Medan sudah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dan putusan KPPU Nomor 8 Tahun 2013?

b) Apakah tender pengadaan peralatan CTScan di RSUD Dr. Pringadi Kota Medan memenuhi unsur-unsur yang terdapat di dalam pasal 22 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat?

12. Sandra Lestari, Univeristas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, dengan judul “Analisa Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Nomor: 01/KPPU-L/2000 Berkenaan Dengan Persekongkolan Tender Berdasarkan Undan-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat”.

Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

a) Bagaimanakah putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Nomor: 01/KPPU-L/2000 berkenaan dengan persekongkolan tender berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat?

b) Bagaimanakah sanksi bagi pelaku usaha pada putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Nomor: 01/KPPU-L/2000 berkenaan dengan persekongkolan tender berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat?

Walau sudah ada penelitian terdahulu yang membahas mengenai persekongkolan tender, tetapi terdapat perbedaan pada objek perkara yang diteliti.

Judul skripsi penulis juga telah diperiksa oleh pihak Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 2020 dan hasilnya menyatakan bahwa terhadap judul skripsi yang penulis ajukan tidak ada judul yang sama pada Arsip Perpustakaan Cabang Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara/Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Fakultas Hukum USU.

Permasalahan yang dibahas pada skripsi ini adalah murni hasil pemikiran penulis yang didasarkan pada teori-teori maupun aturan-aturan yang diperoleh dari referensi media cetak maupun media elektronik. Oleh karenanya, secara akademik karya ilmiah ini dapat dipertanggungjawabkan keasliannya.

(33)

21

E. Tinjauan Pustaka

Penulisan skripsi ini merupakan tentang: Kajian Hukum Persaingan Usaha Terhadap Terhadap Persekongkolan Yang Dilakukan Dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field dengan studi putusan KPPU No. 04/KPPU-L/2017. Adapun tinjauan kepustakaan dari skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Hukum Persaingan Usaha

Secara hukum positif, hukum persaingan usaha di Indonesia adalah hukum yang relatif baru karena baru ada sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang merupakan hasil pembentukan dari inisiatif DPR dengan persetujuan bersama Presiden. Kebutuhan akan Undang-Undang antimonopoli sebenarnya telah lama berlangsung, sehingga lahirnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat diharapkan dapat menjamin terciptanya iklim berusaha yang sehat, adil dan bebas dari unsur-unsur Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).31

Undang-undang inilah yang menjadi landasan pengawasan persaingan usaha di setiap sektor ekonomi, tujuannya untuk mencegah praktik monopoli yang bermuara pada terciptanya barang/jasa yang mahal dan langka.32 Undang-Undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat merupakan kelengkapan hukum yang diperlukan dalam suatu perekonomian yang menganut mekanisme pasar. Di satu pihak undang-undang ini diperlukan untuk menjamin

31 Nadir, Hukum Persaingan Usaha: Membidik Persaingan Tidak Sehat dengan Hukum Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2015) hal. 136

32 Akhmad Suraji, et al, Op.Cit., hal. 5

(34)

agar kebebasan bersaing dalam perekonomian dapat berlangsung tanpa hambatan, dan di lain pihak UU ini juga berfungsi sebagai rambu-rambu untuk memagari agar tidak terjadi praktik-praktik ekonomi yang tidak sehat dan tidak wajar.33

2. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Komisi Pengawas Persaingan Usaha hadir untuk mengawasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Dalam konteks ketatanegaraan KPPU merupakan lembaga negara komplementer (state auxiliary organ) yaitu lembaga negara yang dibentuk di luar konstitusi dan merupakan lembaga yang membantu pelaksanaan tugas lembaga negara pokok (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) yang sering juga disebut dengan lembaga independen semu negara (quasi).34 Status hukumnya adalah sebagai lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah dan pihak lain. KPPU merupakan suatu organ khusus yang mempunyai tugas ganda selain menciptakan ketertiban dalam persaingan usaha juga berperan untuk menciptakan dan memelihara iklim persaingan usaha yang kondusif.35

3. Kegiatan Yang Dilarang

Pada Bab IV dalam pasal 17 sampai pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 telah diatur secara jelas mengenai kegiatan-kegiatan yang dilarang yang dapat merusak bahkan membahayakan proses persaingan di pasar, yaitu Monopoli yang diatur dalam Pasal 17, Monopsoni yang diatur dalam Pasal 18, Penguasaan Pasar yang diatur dalam Pasal 19, 20, 21, serta Persekongkolan yang terbagi menjadi 3 jenis yaitu Persekongkolan Tender yang diatur dalam Pasal 22, Persekongkolan Membocorkan Rahasia Dagang/Perusahaan yang diatur dalam

33 Susanti Adi Nugroho, Op.Cit., hal. 23

34 Andi Fahmi Lubis, et al II, Op.Cit., hal. 378

35 Ibid, hal. 379

(35)

23

Pasal 23, dan Persekongkolan Menghambat Perdagangan yang diatur dalam Pasal 24.

4. Persekongkolan Tender

Persekongkolan Tender diatur dalam pasal 22, yaitu pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

Persekongkolan atau konspirasi usaha adalah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol.36 Sedangkan definisi tender adalah adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang, atau untuk menyediakan jasa.37

Akibat dari persekongkolan dalam menentukan pemenang tender, seringkali timbul suatu kondisi “barrier to entry” yang tidak menyenangkan/merugikan bagi pelaku usaha lain yang sama-sama mengikuti tender (peserta tender) yang pada gilirannya akan mengurangi bahkan meniadakan persaingan itu sendiri.38 Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 22 UU No.5 Tahun 1999, KPPU menetapkan suatu peraturan komisi tentang pedoman penerapan pasal 22 terkait persekongkolan dalam tender. Berdasarkan penjabaran pasal 22 UU No.5 Tahun 1999 maka didapati bahwa unsur-unsur persekongkolan terdiri atas unsur pelaku usaha, bersekongkol, pihak lain, mengatur dan atau menentukan pemenang tender, dan unsur persaingan usaha tidak sehat.

36 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 1 angka 8

37 Penjelasan Pasal 22 Undang-Undang No.5 Tahun 1999

38 Andi Fahmi Lubis, et al I, hal. 151

(36)

5. Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Pengadaan barang/jasa Pemerintah adalah kegiatan Pengadaan Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah yang dibiayai oleh APBN/APBD yang prosesnya sejak identifikasi kebutuhan, sampai dengan serah terima hasil pekerjaan.39 Dalam pengadaan barang dan jasa Pemerintah sering terjadi kecurangan dalam bentuk persekongkolan, baik secara vertikal maupun horizontal. Untuk itu hadirlah LKPP yang memiliki tugas untuk mengembangkan dan merumuskan kebijakan pengadaan barang/jasa. LKPP juga telah mengembangkan layanan pengadaan elektronik yaitu LPSE untuk meminimalisir terjadinya praktik kecurangan dalam persekongkolan tender.

F. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan logika yang menjadi dasar suatu penelitian ilmiah.40 Metode penelitian adalah suatu cara yang paling dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, yang dilakukan secara hati-hati, sistematis, terorganisir, valid, dan verifikatif untuk mencari suatu kebenaran dari suatu persoalan dengan menggunakan teknik-teknik tertentu yang sudah terbukti keampuhannya sehingga dapat ditemukan jawaban-jawaban terhadap masalah, fakta, dan fenomena tertentu yang terdapat dalam bidang-bidang pengetahuan tertentu.41 Oleh karenanya, metode penelitian merupakan suatu hal yang penting dalam proses penulisan sebuah skripsi untuk mencapai keilmiahan dari sebuah skripsi.

39 Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018, Pasal 1 ayat (1)

40 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2010) hal. 6

41 Munir Fuady, Metode Riset Hukum: Pendekatan Teori dan Konsep, (Depok: Rajawali Pers, 2018) hal. 1

(37)

25

Metode penelitian penulisan skripsi ini mempergunakan metode penulisan sebagai berikut:

1. Jenis, Sifat, dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian secara normatif melalui studi kepustakaan (library research). Penelitian secara normatif adalah penelitian dengan cara memfokuskan terhadap bahan pustaka dengan menggunakan data sekunder yang berupa bahan dasar untuk melaksanakan penelitian dengan cara melakukan penelusuran terhadap berbagai peraturan perundang-undangan atau literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.42 Dalam penelitian ini, adapun undang-undang yang digunakan antara lain:

a) UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

b) Peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait dan Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha.

Sifat penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Dimana menurut Soerjono Soekanto, Penelitian deskriptif adalah penelitian dengan memberikan data-data yang seteliti mungkin tentang kejadian yang menjadi tujuan penelitian sehingga dipertegas oleh hipotesa untuk dapat membantu dalam memperkuat teori yang lama ataupun penyusunan terhadap teori yang baru.43

Pendekatan penelitian yang digunakan pada skripsi ini adalah pendekatan yuridis normatif. Pendekatan yuridis normatif mengacu pada norma-norma hukum

42 Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Hukum, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), hal. 57

43 Soerjono Soekanto, Op.Cit., hal. 10

(38)

yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat.44

1. Sumber Data Penelitian

Penelitian yuridis normatif menggunakan jenis data sekunder sebagai data utama. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari kepustakaan. Data sekunder merupakan data yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain.45

Data sekunder yang penulis pakai dalam penulisan skripsi ini adalah:

a) Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat, terdiri dari peraturan perundang-undangan yang terkait dengan objek penelitian.

Bahan hukum primer yang penulis pakai yaitu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha mengenai pasal 22 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999, UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

b) Bahan hukum sekunder, yaitu buku-buku dan tulisan-tulisan ilmiah hukum yang terkait dengan objek penelitian. Bahan hukum sekunder yang penulis pakai yaitu Putusan Perkara KPPU No.04/KPPU-L/2017, buku-buku hukum persaingan usaha, skripsi, putusan Mahkamah Konstitusi dan sebagainya yang diperoleh baik melalui media cetak maupun media elektronik.

44 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hal. 106

45 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 41

(39)

27

c) Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memuat petunjuk atau penjelasan mengenai bahan hukum primer atau bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, artikel-artikel yang berkaitan dengan persekongkolan tender, jurnal ilmiah mengenai persaingan usaha dan persekongkolan tender, pedoman OECD mengenai persekongkolan tender, serta bahan-bahan lain yang relevan dengan judul skripsi yang penulis bawakan dan dapat dipergunakan untuk melengkapi penulisan skripsi ini.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah menggunakan studi kepustakaan (library research) yaitu melalui bantuan buku, karya ilmiah, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan materi penelitian, dan juga melalui media elektronik seperti internet. Dari berbagai sumber yang didapat, penulis akan mempelajari, menganalisa, dan mengumpulkan setiap data yang relevan dengan permasalahan dalam penelitian ini. Skripsi ini ditulis dan disusun dalam masa pandemi COVID-19 oleh karenanya dalam mencari dan mengumpulkan data yang dibutuhkan, penulis senantiasa menerapkan protokol kesehatan.

3. Analisa Data

Metode analisa data yang dilakukan oleh penulis adalah pendekatan kualitatif yaitu dengan:

a) Mengumpulkan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang relevan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini.

b) Melakukan pemilahan terhadap bahan-bahan hukum yang relevan agar sesuai dengan masing-masing permasalahan yang dibahas.

(40)

c) Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari permasalahan.

d) Memaparkan kesimpulan yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif yaitu kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan sebuah karya ilmiah yang baik harus ada keselarasan dan keteraturan. Oleh karenanya, diperlukan suatu sistematikan penulisan yang teratur yang terbagi dalam beberapa bab serta sub-bab yang berurutan dan saling berkesinambungan satu sama lain.

Adapun sistematika yang terdapat dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjuan pustaka, dan metode penelitian.

BAB II TINJAUAN HUKUM PERSAINGAN USAHA

Bab ini membahas mengenai sejarah hukum persaingan usaha di Indonesia, pengertian persaingan usaha, substansi undang-undang nomor 5 tahun 1999, yaitu asas dan tujuannya, perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang, dan posisi dominan, pendekatan dalam hukum persaingan usaha yaitu pendekatan Rule of Reason dan Perse Illegal¸ peran KPPU dalam menegakkan hukum persaingan usaha di Indonesia, peraturan komisi pengawas persaingan usaha tentang prosedur penanganan perkara di KPPU, peraturan Mahkamah Agung nomor 3 Tahun 2019, serta pembuktian dalam hukum persaingan usaha.

(41)

29

BAB III PENGATURAN PERSEKONGKOLAN TENDER DI INDONESIA Bab ini membahas mengenai pengertian persekongkolan, pengertian tender, pengertian persekongkolan tender, bentuk-bentuk persekongkolan tender, pembuktian unsur-unsur persekongkolan, alat bukti dalam persekongkolan tender, daftar perkara yang ditangani oleh KPPU tahun 2000-2021, peran KPPU dalam menegakkan hukum persaingan usaha di Indonesia, pengaturan OECD terkait persekongkolan tender, peran LKPP dalam pengadaan tender barang/jasa, dan peran LPSE dalam mencegah terjadinya persekongkolan tender.

BAB IV ANALISA HUKUM TERHADAP PUTUSAN KPPU PERKARA NO. 04/KPPU-L/2017 TENTANG PERSEKONGKOLAN DALAM TENDER PROVISION OF UNDERWATER SERVICES FOR KEPODANG AND KET PANG FIELD

Bab ini membahas mengenai kasus posisi putusan Nomor 04/KPPU- L/2017 tentang dugaan pelanggaran pasal 22 dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field, pertimbangan hukum Majelis Komisi dalam Putusan KPPU Nomor 04/KPPU-L/2017, amar putusan, analisa pembuktian yang digunakan dalam Tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field, SKK Migas dan pedoman tata kerja yang mengatur mengenai pengadaan pada sektor hulu minyak dan gas bumi, serta analisa pertimbangan Komisi dalam memutus perkara persekongkolan dalam tender Provision of Underwater Services for Kepodang and Ketapang Field.

(42)

BAB V PENUTUP

Bab ini memaparkan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya dan berisi saran terkait materi yang dibahas yang mungkin berguna bagi perkembangan hukum persaingan usaha di Indonesia.

Gambar

Tabel 1.  Perbandingan Terhadap Perubahan Pasal-Pasal dalam UU No. 5/1999 oleh UU No. 11/2020
Tabel 2. Daftar Perkara Persekongkolan Tender yang Ditangani oleh KPPU Tahun 2000-2021

Referensi

Dokumen terkait

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dan untuk mengumpulkan data dari masyarakat dilakukan dengan teknik wawancara serta pengamatan

This paper reveals that Teaching Practice which is provided for student teachers to gain first-hand experience of working with students in real classroom settings and

Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik triangulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan

Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data mengenai gambaran mutu pelayanan instalasi farmasi dan menggunakan lembar observasi data berupa kesesuaian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi data untuk melihat gambaran kematangan karir pada para mahasiswa yang mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa

Penggunaan suhu yang lebih rendah dari titik didih pelarut akan menyebabkan proses ekstraksi berjalan dengan lambat dan kurang efisien, sedangkan penggunaan suhu yang lebih

LS2T could utilize ammonium as sole nitrogen source which associated with acetate and citrate as carbon source at different C/N ratios, resulting in ammonium

Tipe pernyataan ini juga merupakan lokusi, yakni menyatakan sesuatu kepada pendengar. Lokusi dalam tipe ini merupakan lokusi tidak langsung, karena hanya merupakan berita,