• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PENERAPAN WANPRESTASI DAN TINDAK PIDANA

A. Putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi No. 74/Pid.B/

5. Pertimbangan Hakim

Pertimbangan hakim dalam perkara ini, sebagai berikut:

a. Bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, sehingga Majelis Hakim dengan memperhatikan fakta-fakta hukum tersebut diatas memilih langsung dakwaan alternatifkedua sebagaimana diatur dalam Pasal 372 KUHPjo Pasal 65 ayat (1) KUHP yang unsur-unsurnya, sebagai berikut :

1) Barang siapa;

2) Dengan sengaja dan melawan hukum Menguasai sesuatu benda yang seluruhnya atau sebagiannya adalah kepunyaan orang lain, yang benda tersebut berada padanya bukan karena kejahatan;

Bahwa terhadap unsur-unsur tersebut Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:

1) Unsur barang siapa:

a) Bahwa yang dimaksud dengan unsur “barang siapa” adalah orang sebagai subjek hukum yang dapat melakukan dan mempertanggungjawabkan

perbuatannya yang diduga telah melakukan tindak pidana sebagaimana tercantum dalam surat dakwaan;

b) Bahwa di dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum telah didakwa yang bernama Budi Alias Asiang dengan identitas telah dibacakan secara lengkap di depan persidangan;

c) Bahwa berdasarkan keterangan Saksi-saksi dan pembenaran Terdakwa terhadap pemeriksaan identitasnya dalam persidangan, diperoleh fakta bahwa Terdakwa Budi Alias Asiang yang dihadapkan ke depan persidangan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi, adalah orang yang sama dengan yang dimaksud sebagai Terdakwa dalam Surat Dakwaan Penuntut Umum, sehingga Majelis Hakim berpendapat tidak terjadi error in persona dalam perkara ini;

d) Bahwa terhadap Terdakwa yang diajukan ke persidangan, selain mempunyai identitas sebagaimana dakwaan Penuntut Umum dan selama persidangan berlangsung dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, serta tidak dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 KUHP, sehingga dengan demikian Terdakwa dianggap mampu bertanggungjawab atas perbuatannya;

e) Bahwa dari fakta tersebut, unsur kesatu “Barangsiapa” telah terpenuhi;

2) Dengan sengaja dan melawan hukum Menguasai sesuatu benda yang seluruhnya atau sebagiannya adalah kepunyaan orang lain, yang benda tersebut berada padanya bukan karena kejahatan

a) Bahwa yang dimaksud dengan sengaja pada unsur ini adalah terjadinya suatu tindakan dalam hal ini adalah memiliki suatu barang adalah betul-betul sebagai perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan dari terdakwa;

b) Bahwa Sudarto di dalam Buku Hukum Pidana I Tahun 1990 Cetakan ke II halaman 103 dijelaskan bahwa:

(1) Corak Kesengajaan sebagai maksud merupakan bentuk kesengajaan yang biasa dan sederhana. Perbuatan di pembuat bertujuan untuk menimbulkan akibat yang dilarang. Kalau akibat ini tidak akan ada, maka ia tidak akan berbuat demikian, ia menghendaki perbuatan beserta akibatnya, sehingga harus dibedakan antara tujuan dan motif. Motif sesuatu perbuatan adalah alasan yang mendorong untuk berbuat, misal : karena jengkel, dan sebagainya;

(2) Corak kesengajaan sadar kepastian, merupakan perbuatan yang mempunyai 2 (dua) akibat, yaitu:

(a) Akibat yang memang dituju si pembuat, ini dapat merupakan delik tersendiri atau tidak;

(b) Akibat yang tidak diinginkan tetapi merupakan suatu keharusan untuk mencapai tujuan, akibat ini pasti timbul/terjadi;

(c) Corak kesengajaan sebagai sadar kemungkinan, adanya keadaan tertentu yang semula mungkin terjadi kemudian ternyata benar-benar terjadi;

c) Bahwa yang dimaksud dengan memiliki secara melawan hukum adalah pemegang barang yang menguasai atau bertindak sebagai pemilik barang itu, berlawanan dengan hukum yang mengikat padanya sebagai pemegang barang itu;

d) Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan bahwa Terdakwa merupakan Customer (pelanggan) PT. Agung Bumi Lestari sejak Tahun 2015 yang berada di Laut Tador jalan Lintas Ke arah Indra Pura alamat lengkapnya di Dusun I Desa Pelanggiran Laut Tador Kecamatan Sei Suka Kabupaten Bara yang direkomendasikan oleh Saksi Fery Tandiono dan Terdakwa membeli barang berupa : kertas nasi, plastik-plastik, pipet, tisu atau jenis barang-barangnya sebagaimana tertera di dalam bon faktur dalam barang bukti;

e) Bahwa sistem pengambilan dan pembayaran barang di PT. Agung Bumi Lestari dengan cara Terdakwa mengambil barang terlebih dahulu lalu pihak PT. Agung Bumi Lestari memberi Bon Merah kemudian Terdakwa memasarkannya pada pihak lain dan setelah dibayar maka Terdakwa membayar kepada perusahaan PT. Agung Bumi Lestari;

f) Bahwa Terdakwa diberikan waktu jatuh tempo pembayaran adalah 30 (tiga puluh) hari setelah pengambilan barang dengan menggunakan uang tunai secara lunas kepada pihak PT. Agung Bumi Lestari yang pembayarannya diberikan langsung kepada Saksi Lim Ai Na sebagai

kasir sesuai dengan jumlah total harga barang yang tertera pada setiap bon pengambilan barang;

g) Bahwa Terdakwa mengalami penunggakan pembayaran antara Desember 2017 sampai dengan Maret 2018 barang-barang yang diambil oleh Terdakwa sesuai dengan 12 (dua belas) lembar bon pengambilan barang (sales invoice) tanggal 27 Desember 2017 sampai dengan Maret 2018sebagaimana dalam barang bukti hingga tunggakan tersebut senilai lebih dari Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah);

h) Bahwa terjadinya tunggakan pembayaran atau tidak dibayarkannya barang-barang yang diambil terdakwa dai PT. Agung Bumi Lestari adalah karena uang yang sudah dibayarkan pelanggan Terdakwa tidak Terdakwa setorkan ke perusahaan PT. Agung Bumi Lestari karena terpakai saat orang tuanya sakit sehingga kemudian perusahaan melaporkan Terdakwa ke kepolisian;

i) Bahwa saat ini Terdakwa sudah melunasi tunggakannya ke pihak Perusahaan PT. Agung Bumi Lestari dan telah melakukan perdamaian dengan PT. Agung Bumi Lestari;

b. Bahwa berdasarkan uraian pertimbangan tersebut diatas maka perbuatan terdakwa yang tidak menyetorkan pembayaran atas barang-barang yang telah dijualnya pada pelanggan kepada perusahaan PT. Agung Bumi Lestari dan bahkan menggunakan uang tersebut untuk kepentingannya maka perbuatan terdakwa tersebut telah memenuhi unsur ini;

c. BahwaPasal 65 ayat (1) KUHP, yakni perbarengan dimana yang dimaksud perbarengan adalah istilah “gabungan”. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan, dan melanggar beberapa peraturan pidana;

d. Bahwa berdasarkan fakta dipersidangan, perbuatan Terdakwa tidak melanggar beberapa peraturan pidana sehingga oleh karenanya maka Majelis berpendapat bahwa peraturan ini tidak dapat diterapkan kepada Terdakwa;

f. Bahwa oleh karena semua unsur dari Pasal 372 KUHP telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif kedua;

g. Bahwa dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggungjawabkan perbuatannya;

h. Bahwa oleh karena Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana;

i. Bahwa dalam perkara ini terhadap Terdakwa telah dikenakan penahanan yang sah, maka masa penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

j. Bahwa terhadap barang bukti yang diajukan di persidangan untuk selanjutnya dipertimbangkan sebagai berikut:

k. Bahwa barang bukti berupa 12 (dua belas) lembar asli bon faktur pengambilan barang milik PT. Agung Bumi Lestari yang telah disita dari Fery Tandiono maka dikembalikan kepada Fery Tandiono dan Kwitansi atau bukti penerimaan sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) yang diterima oleh Wan Syafrudin Barus dikembalikan kepada Wan Syafrudin Barus oleh karena barang bukti tersebut masih diperlukan oleh Fery Tandiono maupun Wan Syafrudin Barus;

Dokumen terkait