• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.13 Kerangka Konsep

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU etnis Batak Toba dengan usia 18-25

tahun

Sidik Bibir

Metode Lipstik

Klasifikasi Suzuki Tsuchihashi

Laki-laki Perempuan

Tipe pola sidik bibir

Tipe pola sidik bibir dominan

Panjang dan Lebar Bibir

Jumlah Sidik Bibir

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik yang mendeskripsikan pola dan alur sidik bibir pada etnis Batak Toba serta menganalisa pola dan alur sidik bibir yang dominan serta hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir. Penelitian ini menggunakan design cross sectional yang mengumpulkan data-data sidik bibir mahasiswa/i FKG USU pada suatu waktu.

3.2 Tempat dan Waktu

Tempat: Laboratorium Biologi Oral, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara karena pembimbing penelitian berada di lokasi, fasilitas laboratorium yang dilengkapi wastafel air serta keadaan ruangan yang memiliki pencahayaan matahari yang baik.

Waktu: Juni 2018

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi penelitian adalah mahasiswa/i etnis Batak Toba di Fakultas Kedokteran Gigi USU.

3.3.2 Sampel

Sampel diperoleh dengan cara stratified random sampling dimana penelitian dilakukan pada mahasiswa/i etnis Batak Toba di Fakultas Kedokteran Gigi USU yang masih aktif kuliah. Metode ini dilakukan dengan cara mengambil subjek didasarkan pada strata angkatan dimana akan diambil angkatan 2014, 2015, 2016, dan 2017 yang pada masing-masing angkatan akan diambil secara acak mahasiswa/i etnis Batak

Toba sebanyak 15 orang. Dalam hal ini, pengambilan sampel didasarkan pada ciri-ciri, sifat-sifat, atau karakteristik tertentu, yaitu kriteria inklusi dan eksklusi.

3.3.2.1 Besar Sampel

Untuk mendapatkan besar sampel yang akan diambil pada penelitian ini, dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

( √ ( ) √ ( )) ( )

Keterangan:

zα = Derajat batas atas 1,96 zβ = Standar batas bawah 1,284

Po = Proporsi pola sidik bibir pada etnis Batak Toba 50%

Pa = Proporsi pola sidik bibir pada etnis Batak Toba yang diharapkan 70%

Pa-Po = 20%

( √ ( ) √ ( )) ( )

( √ √ ) ( )

( ) ( )

≈ 62

Jadi sampel yang dibutuhkan adalah 62 orang dengan pembagian:

Laki-laki etnis Batak Toba 31 orang Perempuan etnis Batak Toba 31 orang

3.4 Kriteria Sampel 3.4.1 Kriteria Inklusi

1. Etnis Batak Toba 2 generasi.

2. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi USU angkatan 2014, 2015, 2016, 2017.

3. Usia 18-25 tahun baik laki-laki maupun perempuan.

4. Hubungan rahang Klas 1 Angle.

5. Hasil sidik bibir yang baik.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

1. Memiliki hipersensitivitas terhadap lipstik.

2. Labioskisis dan labiopalatoskisis.

3. Terdapat lesi pada bibir seperti ulser.

4. Pernah melakukan tindakan bedah bibir.

5. Terdapat deformitas pada bibir pasca kecelakaan.

6. Pernah melakukan sulam bibir.

7. Memiliki kebiasaan buruk seperti lip biting, lip sucking 8. Memakai pesawat ortodonti.

9. Merokok. 3. Umur subjek 18-25 tahun

Variabel Tidak Terkendali 1. Ukuran bibir

2. Bentuk bibir

3.6 Alat dan Bahan Penelitian

Pengukuran Panjang dan Lebar Bibir:

1. Penggaris Digital karakteristik individu untuk diidentifikasi sesuai klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi.

2. Pola sidik bibir dominan adalah pola sidik bibir yang paling banyak terlihat dibandingkan dengan pola sidik bibir lainnya yang terdapat pada empat kuadran.

3. Pola sidik bibir dominan menurut kuadran adalah pola sidik bibir yang paling banyak terlihat pada setiap kuadran.

4. Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi adalah klasifikasi pola sidik bibir yang paling sering digunakan dalam penelitian-penelitian mengenai sidik bibir.

Pemeriksaannya dilakukan dengan penggunaan kaca pembesar untuk melihat pola yang terdapat pada mukosa labial.

5. Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi (Gambar 10)

Type I : Alur yang jelas secara vertikal pada seluruh bagian bibir.

Type I‟ : Alur secara vertikal yang tidak pada seluruh bagian bibir.

Type II : Alur yang bercabang.

Type III : Alur yang saling menyilang.

Type IV : Alur yang membentuk kotak- kotak.

Type V : Alur yang tidak termasuk dalam tipe I-IV.

6. Pengamatan sidik bibir secara empat kuadran adalah memisahkan bibir secara vertikal dan horizontal yaitu bagian kanan atas, kiri atas, kiri bawah, dan kanan bawah. Setiap kuadran diberi nomor urut 1 sampai 4 sesuai dengan arah jarum jam.

7. Cara menghitung pola sidik bibir adalah dengan mencatat setiap pola sidik bibir yang terlihat pada mukosa labial dan dijumlahkan.

8. Panjang total bibir diukur dari titik labial suferius (Ls) pada bibir atas dan labial inferius (Li) pada bibir bawah.

9. Lebar bibir diukur dari titik cheilion (Ch) pada sudut bibir kanan dan sudut bibir kiri.

10. Etnis Batak Toba diperoleh dari dua generasi, yaitu ayah dan ibu nya adalah etnis Batak Toba serta kakek dan nenek nya adalah etnis Batak Toba.

11. Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki seseorang sesuai dengan yang tercatat pada kartu tanda pengenal yang dikategorikan menjadi laki laki dan perempuan.

12. Hubungan rahang Klas 1 Angle dikarakteristikkan dengan adanya hubungan normal antar lengkung rahang. Cusp mesio-buccal dari M1 maksila beroklusi pada groove buccal dari M1 mandibula.

13. Labioskisis merupakan suatu kondisi dimana terdapatnya celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung.

14. Labiopalatoskisis merupakan suatu kelainan terdapatnya celah pada daerah mulut melibatkan palatum dan bibir.

15. Sulam bibir merupakan perawatan kecantikan agar bibir lebih menjadi berwarna dimana bibir diberikkan zat pewarna yang bertahan lama.

16. Lip biting merupakan suatu kebiasaan buruk untuk menggigit-gigit bibir.

17. Lip sucking merupakan suatau kebiasaan buruk untuk menghisap-hisap bibir.

18. Lip remover merupakan produk kecantikan yang digunakan untuk membersihkan bibir dari lipstik, kotoran ataupun noda yang melekat pada bibir.

19. Lip liner merupakan produk kecantikan yang digunakan untuk membuat batas bibir aar lebih jelas.

3.8 Prosedur Pengumpulan Data 3.8.1 Pemilihan Sampel

1. Sampel diperoleh dengan penyebaran kuesioner kepada mahasiswa etnis Batak Toba di Fakultas Kedokteran Gigi USU, Medan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

2. Subjek yang terpilih diberikan penjelasan mengenai prosedur penelitian dan diminta untuk mengisi lembar informed consent.

3.8.2 Cara Mendapatkan Sidik Bibir

1. Bibir subjek dibersihkan dengan lip remover.

2. Mengaplikasikan lip liner pada vermillion border.

3. Mengaplikasikan lipstik secara rata pada bibir subjek.

4. Mengaplikasikan pelembab bibir dengan cotton bud pada area sekitar bibir untuk mencegah rasa sakit saat pelepasan selotip.

5. Posisi bibir subjek harus berada pada posisi tertutup.

6. Beri tanda titik tengah pada bagian tengah philtrum dan bibir bawah subjek.

7. Gunting selotip bening sesuai panjang bibir subjek.

8. Tempelkan selotip bening pada bibir yang telah diberi lipstik.

9. Tekan dengan lembut agar pola sidik bibir menempel dengan baik.

10. Lepaskan selotip dan tempelkan pada kertas putih tipis yang sudah diberi kode nomor sampel.

3.8.3 Pengumpulan Data

1. Sidik bibir yang diperoleh dibagi menjadi 4 kuadran, yaitu kuadran kanan atas sebagai kuadran 1, kuadran kiri atas sebagai kuadran 2, kuadran kiri bawah sebagai kuadran 3, dan kuadran kanan bawah sebagai kuadran 4.

2. Sidik bibir yang didapat kemudian diamati dengan menggunakan kaca pembesar.

3. Pola sidik bibir setiap kuadran yang dimaati kemudian dicatat pada lembar pengamat.

4. Pola sidik bibir dijumlahkan pada lembar isi pengamat untuk menentukan sidik bibir dominan setiap kuadran.

5. Pola sidik bibir dominan secara keseluruhan didapat dengan menjumlahkan pola sidik bibir setiap kuadran.

3.8.4 Cara Mendapatkan Panjang dan Lebar Bibir 1. Posisi bibir dalam keadaan tertutup.

2. Menandai bibir subjek menggunakan spidol pada titik labial suferius (Ls) pada bibir atas dan labial inferius (Li) pada bibir bawah.

3. Menandai bibir subjek menggunakan spidol pada titik cheilion (Ch) pada sudut bibir kanan dan sudut bibir kiri.

4. Melakukan pengukuran panjang dan lebar bibir menggunakan penggaris digital.

3.9 Pengolahan Analisis Data

1. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan program SPSS.

2. Uji Chi-square untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan pola sidik bibir dominan pada mahasiswa/i etnis Batak Toba.

3. Uji Korelasi Pearson untuk melihat hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik yang mendeskripsikan pola dan alur sidik bibir pada etnis Batak Toba serta menganalisa pola dan alur sidik bibir yang dominan serta hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir. Penelitian ini menggunakan design cross sectional yang mengumpulkan data-data sidik bibir mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi USU pada suatu waktu.

Subjek penelitian ini merupakan mahasiswa/i ernis Batak Toba dua generasi dengan rentang umur 18-25 tahun. Total subjek penelitian yang digunakan sebanyak 62 orang yang terdiri dari 31 mahasiswa dan 31 mahasiswi yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, yaitu subjek penelitian harus memiliki hubungan oklusi rahang klas I Angle, tidak memiliki hipersensitivitas terhadap lipstik, tidak memiliki kelainan berupa labioskisis dan labiopalatoskisis, tidak sedang terdapat lesi pada bibir, tidak pernah melakukan tindakan bedah bibir, tidak terdapat deformitas pada bibir pasca kecelakaan, tidak pernah melakukan sulam bibir, tidak memiliki kebiasaan buruk berupa lip biting dan lip sucking, tidak sedang memakai pesawat orthodonti, dan tidak merokok.

Posisi bibir waktu pengambilan sidik bibir adalah posisi mulut tertutup karena pada posisi ini tidak terjadi kontraksi otot yang akan mengakibatkan alur-alur horizontal tidak terlihat dan hanya alur-alur vertikal yang terlihat. Posisi mulut tertutup juga digunakan saat pengukuran panjang dan lebar bibir. Pola sidik bibir yang diambil pada penelitian ini diamati dan dihitung sesuai metode yang dilakukan oleh Tsuchihashi (1974) dengan membagi sidik bibir kedalam empat kuadran, yaitu kuadran kanan atas sebagai kuadran 1, kuadran kiri atas sebagai kuadran 2, kuadran kiri bawah sebagai kuadran 3, kuadran kanan bawah sebagai kuadran 4, dan dihitung serta dianalisis satu per satu. Metode ini dipilih karena akan menghasilkan pengamatan yang lebih objektif. Pengukuran panjang panjang bibir diambil dari titik

Ch kiri sampai Ch kanan, sedangkan lebar bibir diabil dari titik P atas sampai P bawah.

Gambar 12. Kuadran Bibir (doc)

Klasifikasi sidik bibir yang digunakan adalah klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi.

Pada klasifikasi ini sidik bibir dikategorikan menjadi enam tipe pola alur sidik bibir, yaitu Tipe I dengan alur yang jelas secara vertikal pada seluruh bagian bibir, Tipe I‟

dengan alur vertikal yang tidak pada seluruh bagian bibir, Tipe II dengan alur yang bercabang, Tipe III dengan alur yang saling menyilang, Tipe IV dengan alur yang membentuk kotak- kotak, dan Tipe V dengan alur yang tidak termasuk dalam tipe I-IV.

Gambar 13. Pola Sidik Bibir Tipe I (doc)

Kuadran 1 Kuadran 2

Kuadran 3 Kuadran 4

Gambar 14. Pola Sidik Bibir Tipe I‟ (doc)

Gambar 15. Pola Sidik Bibir Tipe II (doc)

Gambar 16. Pola Sidik Bibir Tipe III (doc)

Gambar 17. Pola Sidik Bibir Tipe IV (doc)

Pada penelitian ini akan dicatat pola sidik bibir dominan menurut kuadran, yaitu pola sidik bibir yang paling banyak ditemukan pada masing-masing kuadran, dan pola sidik bibir dominan seluruh kuadran, yaitu pola sidik bibir yang paling banyak terdapat pada bibir. Penelitian ini juga mengukur panjang dan lebar bibir serta melihat hubungan panjang dan lebar bibir terhadap jumlah sidik bibir.

4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian

Berdasarkan kuesioner yang telah diisi, diperoleh data frekuensi distribusi karakteristik umum pada subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin menunjukkan jumlah subjek yang diambil adalah mahasiswa laki-laki sebanyak 31 orang dan mahasiswi perempuan sebanyak 31 orang. Data subjek berdasarkan karakteristik jenis kelamin tersebut merata karena penelitian ini dilakukan untuk melihat distribusi dan perbedaan tipe sidik bibir berdasarkan jenis kelamin.

4.2 Data Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Menurut Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi.

4.2.1 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 1), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran I adalah

Tipe I sebanyak 12 orang (19,4%), diikuti oleh Tipe I‟ sebanyak 11 orang (17,7%), selanjutnya Tipe II sebanyak 5 orang (8,0%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 3 orang (4,8%), sedangkan pola sidik bibir Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran I adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), diikuti oleh Tipe I‟

sebanyak 8 orang (12,9%), selanjutnya Tipe II sebanyak 6 orang (9,7%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe IV sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe III dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.

Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,302>0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran I tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Tabel 1. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I

Kuadran I

Sig.

Klasifikasi Laki-laki Perempuan

n % n %

Gambar 18. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I

4.2.2 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran II

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 2), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran II adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), diikuti oleh Tipe I‟ sebanyak 7 orang (11,3%), selanjutnya Tipe II sebanyak 5 orang (8,1%), kemudian Tipe IV sebanyak 2 orang (3,2%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak di kuadran II adalah Tipe I sebanyak 19 orang (30,7%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 7 orang (11,3%), selanjutnya Tipe I‟

sebanyak 3 orang (4,8%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III dan Tipe IV masing-masing sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.

12

Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran I

Laki-laki Perempuan

Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,654>0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran II tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Tabel 2. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran II

Kuadran II

Sig.

Klasifikasi Laki-laki Perempuan

n % n %

Gambar 19. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran I

16

Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran II

Laki-laki Perempuan

4.2.3 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran III

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 3), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran III adalah Tipe I sebanyak 18 orang (29,0%), diikiti oleh Tipe II sebanyak 6 orang (9,7%), selanjutnya Tipe I‟ sebanyak 4 orang (6,5%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 3 orang (4,8%), sedangkan pola sidik bibir Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran III adalah Tipe I sebanyak 22 orang (35,5%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 8 orang (12,9%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe III sebanyak 1 orang (1,6%), sedangkan pola sidik bibir Tipe I‟, Tipe IV, dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.

Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,141>0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran III tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Tabel 3. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran III

Kuadran III

Sig.

Klasifikasi Laki-laki Perempuan

n % n %

Gambar 20. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran III

4.2.4 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran IV

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 4), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran IV adalah Tipe I sebanyak 15 orang (24,2%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 6 orang (9,7%), selanjutnya Tipe I‟ sebanyak 5 orang (8,1%), kemudian Tipe III sebanyak 3 orang (4,8%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe IV sebanyak 2 orang (3,2%), sedangkan pola sidik bibir Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa laki-laki. Diketahui juga bahwa pola sidik bibir dominan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba yang terbanyak pada kuadran IV adalah Tipe I sebanyak 16 orang (25,8%), diikuti oleh Tipe II sebanyak 9 orang (14,5%), dan pola sidik bibir yang paling sedikit adalah Tipe I‟ dan Tipe III masing-masing sebanyak 3 orang (4,8%), sedangkan pola sidik bibir Tipe I‟, Tipe IV, dan Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswi perempuan.

18

Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran III

Laki-laki Perempuan

Berdasarkan hasil uji chi-square, diperoleh nilai p=0,659 >0,05. Nilai ini menunjukkan bahwa pola sidik bibir dominan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan etnis Batak Toba pada kuadran IV tidak terdapat perbedaan yang signifikan

Tabel 4. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran IV

Kuadran IV

Sig.

Klasifikasi Laki-laki Perempuan

n % n %

Gambar 21. Pola Sidik Bibir Dominan Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Pada Kuadran IV

Pola Sidik Bibir Dominan Kuadran IV

Laki-laki Perempuan

4.3 Data Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi

4.3.1 Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 5), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan seluruh kuadran pada mahasiswa/i etnis Batak Toba berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi adalah Tipe I dengan jumlah laki-laki sebanyak 17 orang (27,4%), dan perempuan 22 orang (35,5%).

Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe I‟ pada mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba sebanyak 5 orang (8,1%), dan pada mahasiswi perempuan etnis Batak Toba sebanyak 2 orang (3,2%).

Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe II pada mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba sebanyak 7 orang (11,3%), dan pada mahasiswi perempuan etnis Batak Toba sebanyak 7 orang (11,3%).

Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe III pada mahasiswa laki-laki etnis Batak Toba sebanyak 2 orang (3,2%), dan pada mahasiswi perempuan etnis Batak Toba tidak terdapat pola sidik bibir dominan Tipe III.

Pola sidik bibir dominan seluruh kuadran Tipe IV dan Tipe V tidak ditemukan secara dominan pada mahasiswa/i etnis Batak Toba.

Tabel 5. Frekuensi Distribusi Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi

Laki-laki Perempuan Jumlah

n % n % n %

Gambar 22. Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi

4.3.2 Perbedaan Pola Sidik Bibir Dominan Menurut Tipe Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 6), diketahui bahwa pola sidik bibir dominan menurut tipe pada mahasiswa/i etnis Batak Toba berdasarkan klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi Tipe I memiliki nilai p=0,423>0,05. Nilai signifikasi ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan yang memiliki pola sidik bibir Tipe I.

Pola sidik bibir dominan Tipe I‟ pada mahasiswa/i etnis Batak Toba memiliki nilai p=0,257>0,05. Nilai signifikasi ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan yang memiliki pola sidik bibir Tipe I‟.

Pola sidik bibir dominan Tipe II pada mahasiswa/i etnis Batak Toba memiliki nilai signifikasi p=1.Nilai signifikasi ini menunjukkan bahwa sama sekali tidak terdapat perbedaan antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswi perempuan yang memiliki pola sidik bibir Tipe II.

17

Pola Sidik Bibir Dominan Seluruh Kuadran

Tipe I Tipe I' Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V

Pola sidik bibir dominan Tipe III, Tipe IV, dan Tipe V pada mahasiswa/i etnis Batak Toba tidak dapat diuji secara statistik.

Tabel 6. Perbedaan Pola Sidik Bibir Dominan Menurut Tipe Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba Berdasarkan Klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi

Laki-laki (n) Perempuan (n) Sig.

4.4. Data Rerata Panjang dan Lebar Bibir Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba

Berdasarkan tabel dibawah (Tabel 7), diketahui bahwa rerata panjang bibir dan lebar bibir pada mahasiswa/i etnis Batak Toba lebih besar pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Rerata panjang bibir pada laki-laki adalah 48,7 dengan standar deviasi 4,4, sedangkan rerata panjang bibir pada perempuan adalah 44,5, dengan standar deviasi 3,3. Rerata lebar bibir pada laki-laki adalah 20,8 dengan standar deviasi 3,7, sedangkan rerata lebar bibir pada perempuan adalah 19,5 dengan standar deviasi 2,2.

4.5 Hubungan antara Panjang Bibir dan Lebar Bibir Terhadap Jumlah Sidik Bibir

4.5.1 Hubungan Panjang Bibir dan Jumlah Sidik Bibir Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba

Berdasarkan gambar dibawah (Gambar 17), diketahui bahwa semakin besar ukuran panjang bibir, maka terdapat kecenderungan jumlah sidik bibir meningkat.

Dapat disimpulkan bahwa panjang bibir memiliki hubungan yang positif dengan jumlah sidik bibir. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson diketahui bahwa korelasi yang terjadi antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir termasuk ke dalam kategori keeratan sedang, dengan r = 0,381.

Gambar 23. Sebaran data antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir

r = 0,381

4.5.2 Hubungan Lebar Bibir dan Jumlah Sidik Bibir Pada Mahasiswa/i Etnis Batak Toba

Berdasarkan gambar dibawah (Gambar 18), diketahui bahwa semakin besar ukuran lebar bibir, maka terdapat kecenderungan jumlah sidik bibir meningkat. Dapat disimpulkan bahwa lebar bibir memiliki hubungan yang positif dengan jumlah sidik bibir. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson diketahui bahwa korelasi yang terjadi antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir termasuk ke dalam kategori

Berdasarkan gambar dibawah (Gambar 18), diketahui bahwa semakin besar ukuran lebar bibir, maka terdapat kecenderungan jumlah sidik bibir meningkat. Dapat disimpulkan bahwa lebar bibir memiliki hubungan yang positif dengan jumlah sidik bibir. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson diketahui bahwa korelasi yang terjadi antara panjang bibir dan jumlah sidik bibir termasuk ke dalam kategori