BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
G. Pertumbuhan Dan Persyaratan Tumbuh Tanaman Cendana
Secara morfologi tanaman cendana memiliki ciri-ciri seperti berikut : pohon kecil samapai sedang, menggugurkan daun, dapat mencapai tinggi 20 m dan diameter 40 cm, tajuk ramping atau melebar, batang bulat agak berlekuk-lekuk, akar tidak berbanir (Runjiman . 1987). Daun cendana merupakan daun tunggal, berwarna hijau, berukuran kecil-kecil, 4-8 cm × 2-4 cm dan relatif jarang. Bentuk daun bulat memanjang dengan ujung daun lancip dan dasar daun lancip sampai seperti bentuk pasak, pingiran daunnya bergelombang, tangkai daun kekuning-kuningan dengan panjang 1-1,5 cm.
Dalam dunia perdagangan, cendana dikenal dengan nama sandalwood. Sedangkan di luar indonesia, nama kayu cendana antara lain East Indian sandalwood, white sandalwood dan yellow sandalwood (Inggris, Amerika Serikat), Bois santal (Spanyol, Italia), ecthte sandal (Belanda), echtes sandelholts (Jerman). Chendana (Malaysia), santaku (Burma), chantana (Thailand) back (Vietnam), sandal, chandal, chandam, gundala dan suket (India).
Holmes (1983) dalam Suseno (2001) menyebutkan bahwa dalam
taksonomi tumbuhan, pohon cendana diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta (Magnoliophyta) Sub Divisio : Angiospermae (Magnoliopsida) Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Rosidae Ordo : Santalales
Suku/Famili : Santalaceae Marga/Genus : Santalum.
Jenis/Spesies : Santalum allbum.
Pohon cendana mempunyai ciri-ciri arsitektur : batang monopodial, mengarah ke atas, pertumbuhan kontinue, Perbungaan di ujung dan atau di ketiak daun. Bentuk buah cendana merupakan buah batu (drupe), jorong, kecil, berwarna merah kehitam-hitaman dengan diameter 1×0,75 cm. Pada waktu masak daging kulit buah berwarna hitam, mempunyai lapisan eksocrap, mesocarp berdaging, endocarp keras dengan garis dari ujung ke pangkal. Buah terletak di ujung ranting berjumlah 4-10 buah. Pohon cendana berbunga dan berbuah pada umur 5 tahun serta berbuah 2 Kali setiap tahun. Musim bunga pertama umumnya pada bulan Mei – Juni dan buah masak pada bulan September – Oktober, sedangkan musim bunga kedua pada bulan Desember – Januari dan buah masak bulan Maret – April sekaligus merupakan puncak produksi buah.
Perencanaan pemanfaatan sumberdaya lahan yang tepat memerlukan tersedianya data dan informasi yang lengkap mengenai keadaan iklim, tanah dan sifat lingkungan fisik lainya, serta persyaratan tumbuh tanaman yang akan diusahakan, terutama tanaman-tanaman yang mempunyai arti ekonomi cukup baik. Semua tanaman dapat tumbuh dan berproduksi memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu, yang kemungkinan antara tanaman yang satu dengan yang lainnya berbeda. Persyaratan tersebut antara terutama : energi radiasi, temperatur, kelembaban udara, oksigen dan unsur hara.
Unsur temperatur dan kelembaban sering digabungkan dan disebut dengan istilah periode pertumbuhan (FAO, 1983).
Cendana dapat tumbuh di daerah tepi laut hingga daerah pengunungan pada ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan antara 500-3.000 mm/tahun. Kondisi optimal untuk pertumbuhan cendana adalah pada ketinggian 600-1.000 meter di atas permukaan laut dan curah hujan antara 600-1.000 mm/tahun dengan bulan kering antara 9-10 bulan. Namun demikian, cendana tumbuh sanagat baik pada daerah beriklim kering dengan kondisi agroklimat D3, D4 dan E4 (Oldeman et al.,1980). Cendana yang tumbuh di daerah dengan curah hujan yang tinggi tidak menghasilkan kayu dengan kualitas baik walaupun secara vegetatif pertumbuhannya memuaskan.
Pada tingkat semai cendana peka terhadap suhu tinggi dan kekeringan sehingga tanaman cendana sangat membutuhkan naungan sekitar 40-50 persen. Semai cendana mudah ditemukan di bawah lantai hutan ampupu (Eucalyptus urophylla), hue (Ecalyptus alba), atau kabesak (Acacia leucophloea). Dari tingkat semai hingga umur 3-4 tahun, naungan yang dibutuhkan semakin berkurang bahkan cendana dewasa bahkan membutuhkan intensitas cahaya matahari tinggi.
Bagian tanaman cendana yang mengandung minyak adalah bagian kayu terasnya (heart wood) yang merupakan bagian dalam dari batang, cabang dan akar. Bagian ini umumnya berwarna ke kuningan. Bagian kayu lainnya disebut kayu gubal yang berwarna putih dan tidak mengandung
minyalr (Meroekh,l972). Studi pertumbuhan tanaman cendana menunjuklran bahwa cendana mengalami pertumbuhan cepat selama 20 tahun pertama. Sesudah itu laju pertumbuhan diameternya tetap dan tidak akan berhenti sampai usia 100 tahun (Husain, 1983).
Kayu terasnya mulai terbentuk pada umur 15 tahun secara bersamaan pada batang, akar dan cabang yang kemudian di ikuti dengan pembentukan pada ranting-ranting atau cabang yang lebih kecil. Untuk mendapabkan kayu teras yang baik penebangan sebaiknya dilakukan pada umur lebih dari 50 tahun (Meroekh, 1972). Cendana merupakan tanaman yang pertumbuhannya bergantung pada tanaman lain sebagai tanaman simbion.
Simbion cendana mengambil sebagian zat makanan untuk pertumbuhannya. Untuk itu dalam pembudidayaan tanaman cendana diperlukan adanya tanaman-tanaman simbion yang ditanam disekitarnya (LBN, 1978). Menurut Rama-Rao (l9l0), disamping mempunyai sifat simbiotik, cendana mempunyai sifat pertumbuhan yang lambat bila dibanding dengan tanaman tahunan lainnya. Sifat pertumbuhan yang lambat ini disertai dengan pertumbuhan bulu akar yang lambat pula.
Persyaratan tumbuh tanaman lainnya ialah kualitas lahan untuk media perakaran. Media perakaran ini terdiri dari drainase, tekstur, struktur dan konsistensi tanah, serta kedalaman efektif. Persyaratan tumbuh yang diperlukan mempunyai batas minimum, optimum dan maksimumnya.
Untuk keperluaan evaluasi lahan yaitu untuk menentukan kelas kesesuaian
lahan, maka persyaratan tumbuh ini dijadikan dasar dalam menyusun kriteria kelas kesesuaian lahan, yang dikaitkan dengan kualitas dan kerakteristik lahan.
Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman merupakan batasan bagi kelas kesesuaian yang paling baik (S1). Sedangkan kualitas lahan yang dibawah optimum merupakan batasan kelas yang cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Diluar batasan tersebut di atas merupakan lahan-lahan yang tergolong tidak sesuai (N).
Potensi tanah untuk pertumbuhan tanaman cendana ditentukan oleh kesuburan atau kemampuannya menyediakan unsur hara. Sifat ini sangat ditentukan oleh sifat fisik, kimia dan fisiko kimia. Diantaranya sifat fisik yang terpenting adalah tekstur lapisan atas, kedalaman efektif. Sifat fisiko kimia yang terpenting adalah kemasaman tanah (pH), potensial redoks (Eh), kapasitas pertukaran kation (Pannamperuma, 1976).
Kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cendana adalah berdrainase baik (umumnya di lahan kering), bertekstur lempung (sedang) dari bahan induk batu (topografi karts), batu pasir gampingan, batu lanau maupun vulkanik dengan pH netral – alkalis, kadar N sedang, P2O5 sedang – tinngi dan tanahnya dangkal. Bahkan, lahan berbatu dengan tanah yang umumnya dangkal dan kendala sangat sulit untuk usaha pertanian, tetapi merupakan lahan ideal untuk tumbuh dan menghasilkan kayu dengan kualitas terbaik.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2011 - Januari 2012, di Desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tengara Timur. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Jurusan Ilmu Tanah UPN “Veteran” Yogyakarta.
B. Bahan dan Alat Penelitian.
1. Bahan yang digunkan untuk penelitian ini adalah : sampel tanah, dan bahan kimia yang dibutuhkan dalam analisis di laboratorium.
2. Alat yang digunakan untuk penelitian :
2.1 Alat untuk mengambil sampel contoh tanah meliputi : bor, sekop, kantong plastik, borlist, label, pisau lapangan.
2.2 Alat untuk mengamati keadaan sekitar di lapangan meliputi : kompos, altimeter, klinometer.
2.3 Alat untuk menganalisis tanah di laboratorium.
2.4 Peralatan analisis pH, DHL, N, P, K, C organik dan tekstur di lapangan.
2.5 Serangkat laptop, printer dengan perangkat lunak Arc View dan Microsoft Office.
C. Metode Penelitian 1. Metode survei
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, yaitu metode untuk mendapatkan informasi pengumpulan data dengan melakukan peninjauan langsung keadaan lokasi penelitian.
2. Metode Pengambilan Sampel
Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah adalah secara proposif dan deskriptif. Purposif yang berarti mengambil sampel berdasarkan tujuan (karakteristik tanah dan evaluasi kesesuaian lahan) . Diskriptif berarti melakukan deskripsi terhadap karakteristik tanah secara langsung di lapangan.
Melakukan pengambilan sampel tanah dari lahan 3 profil berdasarkan peta penggunaan lahan daerah setempat yang mewakili.
D. Tahapan Penelitian.
a) Tahapan Persiapan.
1) Studi pustaka, perijinan, pengajuaan proposal.
2) Penyiapan peta dan penentuaan pengambilan titik sampel.
b) Tahapan pelaksanaan
1. Pengambilan sampel tanah pada titik yang telah di tentukan dengan mengunakan metode purposif deskriptif.
2. Pengambilan data lapangan di setiap titik pengambilan sampel yang telah di tentukan dan dibuat profil sebagai pewakil.
3. Menganalisis tanah di laboratorium : a) pH dengan pelarut H2O dan KCl.
b) Tekstur tanah mengunakan metode analisis granuler cara pipet.
c) KPK- ekstraksi NH4OAC pH 7.
d) Salinitas- DHL.
e) N total mengunakan metode Kjedhal.
f) P tersedia menggunakan metode Olsen.
g) C orrganik menggunakan metode Wakley & Black.
h) Kadar P, K potensial menggunakan ekstraksi HCl 25%.
E. Pengolahan Data
1. Menentukan karakteristik tanah.
2. Mengklasifikasikan kesesuaian lahan berdasarkan parameter bagi tanaman Cendana menurut LREP, 2003 cit Djaenudin.
3. Menentukan daerah yang sesuai atau tidak sesuai untuk tanaman Cendana 4. Membahas kesesuaian lahan yang ada.
5. Mendelinasikan peta menjadi peta kesesuaian lahan bagi tanaman Cendana
F. Jadwal Rencana Kegiatan
Kegiatan Sept.2011 Okt 2011 Nov 2011 Des 2011 Jan 2012 Maret 2012
III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV Prasurvey
Studi literatur Proposal Survei utama Analisis Lab.
Olah data Pembuatan peta
Laporan
Seminar Ujian
Peta 1. Peta Pengambilan Sempel Tanah
BAB IV
DISKRIPSI DAERAH PENELITIAN
A. Lokasi dan Topografi
Penelitian dilakukan di Desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tengara Timur, tepatnya adalah 20 km dari Kecamatan Lebatukan (Hadakewa-Lewoeleng). Lokasi penelitian memiliki ketinggian profil I (564 m/dpl), profil II (556 m/dpl, dan profil III (546 m/dpl).
Topografi daerah penelitian berombak (cekung,cembung), sudah berteras mempunyai kemiringan lereng <30%, kilbat lereng utara. Secara geografis terletak daerah penelitian terletak antara 08°23’10”-08° 23' 20" BT - 05°09’30” - 07°12’47” LS. Dan juga berada pada kordinat UTM (Universal Taransverse Mercator) 568000 – 567950 mT, dan 9072950 – 9077750 mU.
Luas daerah penelitian kurang lebih 17,68 km2 atau sekitar 17000 hektar terdiri dari lahan alami ialah sungai, hutan- kebun, tegalan dan sawah tadah hujan dan lahan non budidaya ialah pemukiman.
B. Tanah
Kondisi tanah di Kabupaten Lembata tidak telepas dari keadaan tanah di Pulau Flores di mana secara keseluruhan terdiri dari jenis tanah mediteran
dengan bentuk wilayah pegunungan kompleks, latosol dengan bentuk volkan, andosol dengan bentuk wilayah volkan, aluvial dengan bentuk wilayah dataran.
Tanah mediteran dengan bentuk wilayah volkan mempunyai penyebaran paling luas. Pulau Lembata, Adonara dan Solor mempunyai tanah dengan jenis mediteran dengan bentuk volkan.
Peta 2. Peta Petunjuk lokasi Desa Lewoeleng
C. Iklim
Iklim merupakan rata-rata cuaca suatu daerah. Unsur iklim yang berperan untuk menunjang keberhasilan usaha tani terutama curah hujan dan temperatur. Kedua unsur iklim tersebut dipengaruhi oleh faktor pengendali iklim terutama kedudukan matahari, topografi, tubuh air dan vegetasi. Iklim memegang peranan penting dalam proses pembentukan tanah (Sutarno, 1998).
Data iklim diambil dari stasiun pengamatan cuaca di Kecamatan Lebatukan dengan ketinggian 550 m dpl. Penentuan tipe iklim berdasarkan data curah hujan (Tabel 1), Dari data yang ada dapat diperhitungkan jumlah bulan basah dan bulan kering (Tabel 2), kemudian dari data tersebut dicari nilai koefisien curah hujan (Q) dengan cara sebagai berikut:
Data iklim diambil dari stasiun pengamatan cuaca di Kecamatan Lebatukan dengan ketinggian 550 m dpl. Penentuan tipe iklim berdasarkan data curah hujan (Tabel 2), Dari data yang ada dapat diperhitungkan jumlah bulan basah dan bulan kering (Tabel 1), kemudian dari data tersebut dicari nilai koefisien curah hujan (Q) dengan cara sebagai berikut:
Rata-rata bulan basah dan bulan kering dtentukan berdasarkan kriteria sebagai berikut:
Bulan basah : curah hujan > 100 mm
Bulan lembab : curah hujan 60 - 100 mm
Bulan kering : curah hujan < 60 mm
Tabel.4. Jumlah bulan basah, bulan lembab, bulan kering di kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata.
Sumber: Sumber: Dinas Pertanian dan Kehutanan, 2010.
Selanjutnya tipe iklim diklasifikasikan berdasarkan pada kriteria pembagian tipe iklim berdasarkan nilai Q, seperti tertera pada tabel 2.
Tabel. 5 Klasifikasi daerah iklim di dunia oleh Schmidt Fergussson.
No Nilai Q Iklim
Klasifikasi Nama
1 0 = Q < 0,143 A Sangat basah
2 0,143 = Q < 0,333 B Basah
3 0,333 = Q < 0,600 C Agak basah
4 0,600 = Q < 1,000 D Sedang
5 1,000 = Q < 1,670 E Agak kering
6 1,670 = Q < 3,000 F Kering
7 3,000 = Q < 7,000 G Sangat kering
8 7,000 = Q H Luar biasa kering
Sumber: F.H.Schmidt dan J.H.A.Fergusson, 1951 dalam M.T Sutarno, 1998.
Dari data curah hujan selama sepuluh tahun (2001-2011) diketahui jumlah bulan basah, bulan kering dan bulan lembab, selanjutnya dapat diketahui besar nilai Q yaitu:
171.79 %
Berdasarkan pembagian tipe iklim menurut Schmid dan Ferguson seperti tertera pada Tabel 1, maka daerah penelitian termasuk tipe iklim F (Kering) dengan curah hujan rata-rata tahunan 149 mm/tahun.
Temperatur udara rata-rata bulanan ditentukan dengan menggunakan rumus Braak, berdasarkan rerata ketinggian dalam hectometer (Wisnubroto et al, 1986) yaitu = T = 30 – (0,61 × h)
Keterangan :
T = suhu rata-rata tahunan dalam derajat Celcius
h = ketinggian tempat diatas permukaan laut 23°C = suhu minimum di Pulau Lembata
Profil tanah Lewoeleng 1 terletak pada ketinggian 564 m, profil 2 561 m, dan profil 3 554 m dpl (= 5,6 hm; 5,6 hm; dan 5,5 hm dpl).
T rerata = 23 – (0,61 × 5,5) = 19,6 °C
Temperatur udara rata-rata maksimum dan minimum ditentukan dengan mengunakan rumus Oldeman, yaitu :
a. Temperatur maksimum = 30 – 0,62 × h b. Temperatur minimum = 23 – 0,53 × h
T maksimum T = 30 – (0,62 × 5,5) = 26,5°C T minimum T = 23 – (0,53 × 5,5) = 20,0°C
Diketahui temperatur udara rata-rata bulanan daerah penelitian adalah 19,6°C dengan temperatur maksimum 26,5°C dan temperatur minimum 20,0°C
Peta 3. Peta Tata Guna Lahan Desa Lewoeleng
D. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan pada lokasi penelitian di desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan pada umum Hutan budidaya yang didominasi oleh tanaman kemiri, dan semak belukar yang di manfaatkan sebagai ladang ketika musim penghujan tiba, yang di tanami jagung, ketela dan padi. Sedangkan untuk tanaman Cendana sendiri yang telah di kembangkan ≤ 2 hektar.
Gambar 4. Kebun tananman Cendana (Santalum Album) Desa Lewoeleng Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata.
Gambar 4. Tata Guna Lahan Desa Lewoeleng Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata
Gambar 5. Tata Guna Lahan Desa Lewoeleng Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata
Gambar 6. Tata Guna Lahan Desa Lewoeleng Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data analisis dan hasil pengamatan lapangan di Desa Lewoeleng Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata dapat diketahui tekstur tanah yang di dominasi oleh geluh pasiran, dengan mempan tanah ≥ 100 cm. Derajat kemasaman tanah (pH) di daerah Lewoeleng yakni masam yakni 4,51 - 5,67, warna tanah di dominasi oleh warna coklat gelap, coklat terang dan hitam sampai hitam gelap, konsistensi agak plastis dan dalam keadaan lembab sangat gembur dengan batas lapisan baur. Data selengkapnya disajikan dalam tabel 6, 7, dan 8.
A. Pemerian Profil Lewoeleng
Nama Profil : Profil Lewoeleng 1
Lokasi : Desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata.
Ketinggian Tempat : 564-546m diatas permukaan laut Kemiringan : ≤30%
Kiblat lereng : Barat Laut
Vegetasi : Kemiri, bambu, jagung, pisang, padi dan Cendana Bahan Induk : Batuan Karbonat abu Vulkanik
Tabel 6. Pemerian Profil Lewoeleng 1
Lapisan Horizon Jeluk Uraian
I Ap 0-10 Tekstur pasir geluaan, struktur remah, warna tanah hitam (10 YR 2/1), konsistensi agak plastis, keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
II B2 10-35 Tekstur pasir geluan, struktur remah, warna tanah coklat tua (10 YR 2/2) konsistensi agak plastis, keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
III B2 35-70 Tekstur pasir geluan, struktur remah, warna tanah coklat keabu-abuan (10 YR 3/2), konsistensi agak plastis, keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
VI B3 70-120 Tekstur geluh lempung pasiran, struktur remah, warna tanah coklat tua (7,5 YR 3/2), konsistensi agak plastis, keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
Nama Profil : Profil Lewoeleng 2
Lokasi : Desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata.
Ketinggian Tempat : 564-546m diatas permukaan laut Kemiringan : ≤30 %
Kiblat lereng : Barat Laut
Vegetasi : Kemiri, bambu, jagung, pisang, padi dan Cendana Bahan Induk : Karbonat dan Abu Vulkanik
Tabel 7. Pemerian Profil Lewoeleng 2
Lapisan Horizon Jeluk Uraian
I Ap 0-18 Tekstur geluh pasiran, struktur remah, warna tanah coklat tua (10 YR 3/3), konsistensi agak plastis, keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
II B2 18-23 Tekstur geluh pasir, struktur remah, warna tanah coklat keabu-abuan (10 YR 3/2), konsistensi agak plastis, dalam keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
III B2 23-75 Tekstur geluh pasir, struktur remah, warna tanah coklat tua (7,5 YR 3/2), konsistensi agak plastis, dalam keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
VI B3 75-100 Tekstur pasir geluh, struktur remah, warna tanah coklat keabu-abuan (7,5 YR 4/2), konsistensi agak plastis, dalam keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
Nama Profil : Profil Lewoeleng 3
Lokasi : Desa Lewoeleng, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata.
Ketinggian Tempat : 564-546m diatas permukaan laut Kemiringan : ≤30%
Kiblat lereng : Barat Laut
Vegetasi : Kemiri, bambu, jagung, pisang, padi dan Cendana Bahan Induk : Karbonat dan Abu Vulkanik
Tabel 8. Pemerian Profil Lewoeleng 3
Lapisan Horizon Jeluk Uraian
I Ap 0-15 Tekstur geluh pasiran, struktur remah, warna tanah hitam (10 YR 2/1), konsistensi agak plastis, dalam keadaan sangat gembur, batas lapisan baur.
II B2 15-30 Tekstur geluh pasiran, struktur remah, warna tanah coklat keabu-abuan (10 YR 3/1), konsistensi agak plastis dalam keadaan lembab gembur, batas lapisan baur.
III B2 30-60
Tekstur geluh pasiran, struktur remah, warna tanah hitam (10 YR 2/0), konsistensi agak plastis, dalam keadaan sangat gembur, batas lapisan baur.
IV B2 60-80 Tekstur geluh pasiran, struktur remah, warna tanah coklat tua (10 YR 2/2), konsistensi agak plastis dalam keadaan sangat gembur, batas lapisan baur.
V B3 80-100 Tekstur geluh pasir, struktur remah, warna tanah coklat (10 YR 3/3), konsistensi agak plastis dalam keadaan lembab sangat gembur, batas lapisan baur.
Pemerian profil disajikan pada tabel 6, 7 dan 8. Profil Lewoeleng 1 pada tabel 6, mempunyai solum kurang dari 1 m. Dicirikan dengan warna hitam (10 YR 2/1) pada lapisan I dengan ketebalan 10 cm, beralih dengan warna coklat tua (10 YR 2/1) pada lapisan II, beralih dengan warna coklat keabu-abuan (10 YR 3/2) untuk lapisan III, kemudian beralih lagi dengan warna coklat tua. Tipe struktur gumpal membulat dengan ukuran sangat halus sampe ukuran sangat kasar dengan derajat mantap. Lepas-lepas dan dalam keadaan lembab sangat gembur. Batas horizon baur (diffusi)
Menurut PPT (1983). Profil Lewoeleng 1 menpunyai diferensi horizon, struktur remah, gembur, warna tanah hitam pada penampang tanah dangkal dengan batas horizon baur termasuk tanah Rendzina. Sedangkan menurut Soil Toxonomy USDA (1987) kemungkinan besar masuk kedalam Ordo Molisolls, Subordo Ustolls dan great group Haplustolls. Ordo Molisolls karena memenuhi hampir semua persyaratan Molisiolls yaitu memiliki horizon Molik epipedon, memiliki sifat-sifat tanah sebagai berikut:
Molic epipedon
Konsep = permukaan horizon, ketebalan, gelap, humus, memiliki kejenuhan basah tinggi (Ca++, Mg++) dengan struktur yang lunak.
Genesa = bagian tanah sisa organik dari dekomposisi/pembusukan (akar, sisa permukaan yang berasal dari dalam tanah oleh hewa). Sebagian besar dasar/inti dari rumput ( tingkat N dan S Amerika, Eropa, Asia).
Tanah lempung 2/1.
Properties =
(+) ketika kering, salah satu atau dua-duanya.
(-)1.1 Satuan strukturnya kurang dar ᴓ ≤30 cm
(-)1.2 Kerasnya sedang atau lunak, putus/pecah – klas daya tahan.
(+) struktur batuan, termasuk tigkatan (<5mm) yang kurang dari 1/2 volume dari seluruh/ semua bagian.
(+) salah satu urutan:
(-)3.1 semua urutan :
(+)3.1.1. warna , nilai ≤3 (kelembaban), ≤5 (kering) (+)3.1.2. Chroma ≤3 (kelembaban)
(+)3.1.3. jika tanah memiliki horizon C, nilai warna paling kurang 1 munsell satuan atau chroma paling kurang 2 unit lebih rendah (lembab dan kering) dari pada rorizon C atau karbon organik epipedon ≥ 0,6 % dari horizon C.
(+) kejenuhan basa ≥ 50% (metode NH4OAc) (+) organik karbon :
(-). 2.5 % jika epipedon memiliki kelembaban niali warna 4 atau 5
(-). ≥0,6% karbon organik dari horizon C (apabila terjadi) nilai warna 1 unit Munsell lebih rendah atau chroma 2 munsell unit lebih rendah (basah dan kering) dari pada horizon C.
(-). ≥0,6%
(+). Ketebalan :
(-). ≥25 cm jika tekstur geluh pasiran halus atau kasar.
(-). ≥10 cm jika epipedon lebih baik dari geluhan pasir dan secara langsung berada di atas R
(-). ≥18-25 cm dan 1/3 atau lebih dari total ketebalan (-). ≥18 cm jika kondisi diatas tidak terpenuhi
(+). Kandungan fosfat < 1500 ppm ( dapat larut dalam 1 % asam sitat)
(+). ≥ 3 bukan (kumulatif) pada beberapa bagian 7/10 tahun ketika temperatur tanah berada pada 50 cm kedalamannya ≥ 5°C (kecuali didaerah dingin) (+). Nilai n < 0,7
Ordo mollisols memiliki persyartan sebagai berikut:
Konsep utama : tanah-tanah padang rumput yang luas dengan ketebalannya, permukaan horizon yang gelap, dengan ketinggian unsur organik dan tinggihnya kejenuhan basa (mollic epipedon).
Genesa : hal terpenting yang paling menonjol dari pengelapan tanah (melanisasi) oleh unsur organik, adalah meliputi proses berikut.
a. Memperluas akar dari vegetasi padang rumput di dalam tanah b. Membusukan sebagian dari marerial organik dan membuat
bahan campuran yang relatif stabil (200-1000kg (kering) bahan organik/tahun/hektar
c. Mengerjakan kembali tanah dengan fauna tanah (40-80 ton dari subtanah/tahun/ha yang dapat membawa kepermukaan, bagian atasnya 50 cm dibalik/dibongkar selama seabad oleh semut, cacing, hewan pengerat)
d. Eluviasi k iluviasi humus dan tanah lempung, membuat cuntas pada padas
e. Membuat daya tahan residu ligno-protein dengan memberikan warna hitam pada pengolahan mollisols.
Perluasan : ± 13.000,00 km2
Diagnosa pada horizon : (+) 1. Mollic epipedon
(-) 2. Cambic, argillic, natric, albic horizon (petro) calcic, gipsium, horizon duripan, Chorizon.
Iklim : agak lembab- semi- kering : kelembaban atau rezim temmperatur Vegetasi : padang rumput yang luas
Rumput tinggi (1-3 cm) Rumput sedang (30-100 cm) Rumput pendek (10-30 cm) Great group Ustolls:
(-). Milisols lainya memiliki suatu resim kelembaban ustic atau resim kelembaban aridic yang berbatas pada ustic.
Haplustolls:
(-). Ustolls lainya.
Profil lewoeleng II ini pada dasarnya sama dengan profil lewoelng I, hanya saja untuk profil II warna dominan tanahnya coklat tua keabu-abuan dikarenakan perubahan material vulkanik dari gunung berapi uyaleun, terlihat jelas serta pengelolaan tanah kurang insentif dari profil I. Jadi profil lewoelng II juga termasuk jenis tanah Rendzina padanan profil Molisolls, Subordo Ustolls, Great group Haplustolls.
Profil lewoeleng III tabel 8. Dicirikan dengan warna hitam (10 YR 2/1) dengan ketebalan 15 cm, kemudian beralih ke coklat gelap (10 YR 2/2) sampai kedalaman 100 cm. Pada dasarnya profil III hampir sama dengan profil I dan profil II. Profil III dengan dominan warna hitam termasuk jenis tanah Redzina padanan profil Molisolls, Subordo Ustolls, Great group Haplustolls.
B. Analisis Sifat Fisika Tanah
Hasil analisis sifat fisika tanah profil Lewoeleng dapat dilihat pada tabel 9,10, dan 11.
Tabel 9. Hasil Analisis Sifat Fisika Tanah Profil Lewoeleng lapisan Pasir Debu Lempung Nama Tekstur
1.I 50,96 27,84 21,2 Pasir geluhan 19,26 1,36 1,35
1. Agihan Cacak Tekstur.
Gambar 7 Agihan Cacak Lempung
Gambar 8 Agihan Cacak Debu
0
Gambar 9 Agihan Cacak Pasir
Tekstur tanah ialah perbandingan kadar berat fraksi pasir, debu, dan lempung. Pasir, debu dan lempung masing-masing disebut dengan zarah atau fraksi tanah (Brady, 1974). Tekstur tanah merupakan karakteristik tanah yang penting yang berhungan dengan sifat fisik maupun kimia tanah dan secara tidak
Tekstur tanah ialah perbandingan kadar berat fraksi pasir, debu, dan lempung. Pasir, debu dan lempung masing-masing disebut dengan zarah atau fraksi tanah (Brady, 1974). Tekstur tanah merupakan karakteristik tanah yang penting yang berhungan dengan sifat fisik maupun kimia tanah dan secara tidak