• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori yang Digunakan

4. Pertumbuhan Ekonomi

a. Definisi Pertumbuhan Ekonomi

Kementerian Keuangan (2019) merilis pernyataan yang menerangkan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah “sebuah proses dari perubahan kondisi perekonomian yang terjadi di suatu negara secara berkesinambungan untuk menuju keadaan yang dinilai lebih baik selama jangka waktu tertentu. Teori pertumbuhan ekonomi menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi atau menentukan pertumbuhan ekonomi dan prosesnya dalam jangka panjang, penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor itu

berinteraksi satu dengan yang lainya, sehingga dapat menimbulkan terjadinya proses pertumbuhan”.

Sedangkan menurut Sukirno (2011:331) pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat.

Sementara Budiono (1994) menerangkan jika pertumbuhan ekonomi adalah proses peningkatan hasil per kapita dalam jangka panjang yang terjadi karena adanya peningkatan sumber yang berasal dari proses perekonomian itu sendiri dan memiliki sifat sementara. Artinya, pertumbuhan tersebut memiliki sifat self generating yang mampu melahirkan suatu momentum untuk keberlangsungan pertumbuhan ekonomi pada periode selanjutnya.

Simon Kuznets (1955) berpendapat pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan yang terjadi dalam periode jangka panjang pada kemampuan negara untuk menyediakan berbagai jenis komoditas ekonomi pada masyarakat. Kemampuan ini bisa tumbuh dan berkembang bersamaan dengan adanya perkembangan teknologi, ideologi, serta penyesuaian kelembagaan negara.

b. Teori Pertumbuhan Ekonomi 1) Teori menurut Adam Smith

Suryana (2000) mengutip Adam Smith dalam buku “An Inquiry into the nature and Causes of Wealth of the Nation”

menjelaskan hal-hal yang menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

“Jumlah masyarakat yang meningkat dapat mengekspansi pasar yang akan mendorong tingkat spesialisasi. Dengan adanya spesialisasi akan meningkatkan kegiatan ekonomi dan mempercepat pertumbuhan ekonomi, karena spesialisasi akan

mendorong produktivitas tenaga kerja dan mendorong perkembangan teknologi. Sehingga menurut teori klasik, pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh adanya perpacuan antara perkembangan penduduk dan kemajuan teknologi).

Adam Smith menjelaskan tentang proses pertumbuhan ekonomi, yaitu:

a) Pertumbuhan Output Total

Unsur pokok dari sistem produksi sebuah negara menurut Adam Smith ada tiga, yaitu Sumber Daya Alam Yang Tersedia; Menurut Adam Smith, tersedianya sumber daya alam merupakan hal yang paling mendasar dari kegiatan masyarakat. Jumlah sumber daya alam yang tersedia merupakan batas atas terhadap pertumbuhan negara. Jika sumber daya ini belum digunakan secara maksimal maka jumlah penduduk dan modal yang ada memegang peranan dalam pertumbuhan output. Tetapi pertumbuhan output tersebut akan terhenti apabila seluruh sumber daya alam tersebut telah digunakan secara maksimal.

Kedua, Sumber Daya Manusia; Sumber daya manusia memiliki peran pasif dalam proses pertumbuhan output. Maksudnya adalah, jumlah penduduk akan menyesuaikan dengan kebutuhan akan tenaga kerja dari suatu kelompok masyarakat. Ketiga, Stok Barang Modal;

Stok modal adalah unsur produktif yang dengan aktif menentukan pertumbuhan output. Perannya sangat penting dalam proses pertumbuhan output. Jumlah dan tingkat pertumbuhan output bergantung dari laju pertumbuhan stok modal (sampai batas maksimal dari sumber daya alam).

b) Pertumbuhan Penduduk

“Menurut Adam Smith, jumlah penduduk meningkat apabila tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsisten, yaitu tingkat upah yang standar untuk hidup. Jika tingkat upah diatas subsisten, maka masyarakat akan menikah pada rata-rata usia yang lebih muda, tingkat mortalitas menurun, dan jumlah kelahiran akan meningkat. Sebaliknya jika tingkat upah lebih rendah dari subsisten maka jumlah penduduk akan menurun. Menurut Adam Smith, tingkat upah yang berlaku ditentukan oleh tarik-menarik antara kekuatan permintaan serta penawaran terhadap tenaga kerja.

Tingkat upah yang tinggi dan meningkat jika permintaan terhadap tenaga kerja berkembang lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja” (Suryana, 2000)

2) Teori Menurut David Ricardo

Menurut Ricardo, peran kemajuan teknologi dan jumlah modal adalah meningkatkan produktifitas tenaga kerja, yang berakibat bisa menghambat teori ”The Law of Deminishing Return” sehingga dapat menghambat penurunan tingkat hidup (Arsyad, 1997: 55). Ciri teori perekonomian Ricardo menyatakan bahwa penjumlahan modal terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik modal berada di atas tingkat keuntungan minimum yang diperlukan untuk melakukan kegiatan investasi.

David Ricardo mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi terbagi dalam beberapa faktor, yaitu:

a) Sumber daya alam (dalam bentuk tanah) terbatas jumlahnya.

b) Jumlah penduduk menyesuaikan dengan tingkat upah, dengan berada diatas atau dibawah rata-rata upah standar.

c) Sektor pertanian lebih dominan disbanding sektor lain.

d) Kemajuan teknologi yang selalu terjadi.

David Ricardo juga mengatakan bahwa jumlah faktor tanah (sumber daya alam) tidak dapat bertambah sehingga menjadi pembatas dalam proses pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Teori Ricardo ini diungkapkan pertama kali dalam bukunya yang berjudul “The Principles of Political Economy and Taxation” (1917).

3) Teori Menurut Bruno Hildebrand

Menurut Bruno Hildebrand (1840), pertumbuhan ekonomi dilihat dari alat tukar menukar yang digunakan masyarakat, yaitu:

a) Barter, masa dimana transaksi ekonomi dilakukan dengan tukar-menukar.

b) Jual beli, masa dimana transaksi ekonomi dilakukan dengan suatu alat atau instrumen pembayaran yang sah.

c) Masa transaksi ekonomi dengan menggunakan sistem kredit.

Dari ketiga poin tersebut, dapat diartikan bahwa Bruno Hildebrand melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah atau negara bukan melalui segi produksi atau konsumsi, namun melalui segi distribusi.

4) Teori Ekonomi Neo-Klasik

Arsyad (1999) mengatakan bahwa: “Teori ini berkembang berdasarkan analisis terhadap pertumbuhan ekonomi menurut pandangan klasik. Para ekonom yang menjadi perintis dalam mengembangkan teori ekonomi neo-klasik adalah Robert Solow dan Trevor Swan”.

Tambunan (2001) menyatakan: “Dalam teori neo-klasik, pertumbuhan ekonomi tergantung pada tingkat kemajuan teknologi serta pertumbahan penyediaan faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal). Menurut teori neo-klasik, faktor

produksi yang dianggap sangat mempengaruhi pertumbuhan output adalah jumlah tenaga kerja dan kapital (modal). Modal bisa berbentuk finance atau barang modal. Penambahan jumlah tenaga kerja dan modal dengan faktor produksi lain, seperti tingkat produktivitas dari masing-masing faktor produksi tersebut atau keseluruhan tetap menambah output yang dihasilkan.

Persentase pertumbuhan output bisa lebih besar (increasing return to scale), sama (constant return to scale), atau lebih kecil (decreasing return to scale) dibandingkan persentase pertumbuhan jumlah dari kedua faktor produksi tersebut”.

Tambunan (2001) juga menyatakan bahwa: “Model pertumbuhan yang berdasarkan model pertumbuhan neo-klasik terdapat kelemahan. Model neo-klasik tidak menjelaskan mengapa banyak negara pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada yang diperkirakan dalam model neo-klasik. Hal ini dapat terjadi karena model pertumbuhan neo-klasik hanya melihat pada satu sumber saja, yaitu kontribusi dari peningkatan jumlah faktor produksi. Sehingga, banyak faktor produksi lain yang tidak dimasukkan ke dalam model neo-klasik, ternyata sangat menentukan laju pertumbuhan ekonomi di banyak negara. Salah satu yang paling penting adalah teknologi.

Dalam model neo-klasik faktor teknologi dianggap konstan sehingga tidak dimasukkan ke dalam model”.

5) Walt Whitman Rostow

Rostow (1960) mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu wilayah terbagi dalam beberapa tahap, yaitu:

a) Tradisional, dimana perekonomian didominasi sektor pertanian.

b) Transisi (pre take-off), dimana terjadinya restrukturisasi tenaga kerja dari pertanian ke industri.

c) Lepas Landas (take-off), dimana hambatan dalam struktur politik serta sosial dapat diselesaikan.

d) Menuju Kesiapan (drive to maturity), perserikatan perdagangan dan buruh semakin maju.

e) Konsumsi Tinggi (high mass consumption), tenaga kerja didominasi oleh angkatan yang berpendidikan serta penduduk di kota lebih banyak daripada di desa.

Dokumen terkait