• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Budaya Pernikahan Adat Tumpeng di Desa Jetak

Gambaran Umum Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang

G. Perubahan Budaya Pernikahan Adat Tumpeng di Desa Jetak

Perubahan kebudayaan pada suataub masyarakat keniscayaan dan

tidak dapat dielakkan. Masyarakat yang tidak pernah statis selalu dinamis

berubah dari suatu keadaan ke keadaan lainnya yang disebabkan berbagai

faktor. Perubahan ini dimaksudkan sebagai wujud tanggapan manusia

77

Jika ditinjau dari teori perubahan kebudayaan, perubahan pernikahan

adat tumpeng menjadi pernikahan yang sesuai syari‟at ini menggambarkan

bahwa perubahan kebudayaan di Desa Jetak terjadi secara perlahan-lahan

Pernikahan dan bertahap. Setiap masyarakat mengalami evolisi yang

beda. Oleh karena itu masyarakat menunjukkan kebudayaan yang

berbeda-beda. Salah satu anggota masyarakat dikenal telah maju, sedangkan

masyarakat yang lain masih dianggap atau tergolong sebagai masyarakat yang

belum maju. Hanya saja masyarakat maju di Desa Jetak ini belum mencapai

standar masyarakat maju sebagaimana yang terjadi di kota. Walau masyarakat

Desa Jetak ini sudah berubah namun pola kehidupan desa masih sangat kental

dipraktikkan oleh masyarakat. Perubahan kebudayaan itu terjadi hanya pada

model pernikahan adat menjadi pernikahan resmi secara agama dan Negara.

Sedangkan budaya atau tradisi yang lainnya tidak berubah.

Karena pernikahan adat tumpeng yang dilakukan saat ini berbeda

dengan pernikahan adat tumpeng yang dahulu. Pernikahan adat tumpeng

sekarang dilakukan hanya untuk sebagai pelengkap ritual saja, karena

pernikahan yang berlangsung di Desa Jetak sekarang pernikahan yang lazim

dilakukan oleh masyarakat muslim yang lainnya dengan memakai ijab qobul

dan mahar dengan ketentuan syarat dan rukun nikahnya terpenuhi. Namun

nasi tumpeng tetap digunakan dalam pernikahan ini, hanya saja berdeda

fungsinya dengan yang dulu, nasi tumpeng dipakai saat malam midodareni

dan dipotong tepat pukul 12 malam sebagi pelengkap ritual malam

78

pelaksanaan ikrar ijab qobul dilakukan sesuai waktu yang telah ditetapkan

dengan pitungan Jawa. Kemudian baru dilakukan resepsi pernikahan dengan

tatacara atau adat Jawa yang biasanya dilakukan.

Sosialisasi yang gencar dilakukan oleh Kementrian Agama dan KUA

dan peran pemuka agama untuk memperkenalkan pernikahan yang sah secara

Agama dan Negara. Perubahan dalam proses pernikahannya yaitu pernikahan

yang biasa tidak menggunakan shigot ijab qobul, sekarang menggunakan ijab

qobul dan pemberian mahar untuk calon mempelai perempuan. Nasi tumpeng

yang dahulunya menjadi kebiasaan masyarakat Jetak, masih dilakukan namun

hanya sebatas perlengkapan acara pernikahan. Akan tetapi berbeda dengan

cara dan penggunaannya dengan pernikahan adat tumpeng yang dahulu. Jika

dulu nasi tumpeng dipotong untuk menandai pernikahan itu sudah sah,

sedangkan nasi tumpeng saat ini dibuat pada saat malam midodareni dan

hanya di tempat mempelai petempuan saja yang menyiapkan nasi tumpeng

tersebut dalam adat jawa yatu “ngandapaken widodari sakeng kayangan

engkang ngayomi temantan temnten”. Dalam nasi tumpeng terdapat

macam-macam pernak pernik yang di pakai adalah bawang putih, bawang merah,

cabe merah, cabe hijau, daun sirih, rokok kretek, uang kertas berbagai

macam pernak pernik ini di tusuk diletakkan di atas nasi tumpeng bersamaan

dengan ingkung ayam. Yang dipakai hanya kepala, sayap dan kaki ayam.

Yang menandakan seribu kurang satu itu bagian bidadari “ngramboko” di

dalam tumpeng yang akan menunggu temanten sekalian. Dan yang

79

tumpeng dilakukan tepat pukul 12 malam yang disebut malam midodaran.

Dan pagi harinya baru menyelenggarakan ijab qobul pernikahan dan syukuran

atas pernikahan tersebut. Selain sosialisasi yang gencar dilakukan ada

beberapa faktor yang mendorog terjadinya perubahan tradisi pernikahan adat

tumpeng yaitu:

a. Pertama, faktor pendidikan, masyarakat desa Jetak yang awalnya

tidak berpendidikan yang cukup, sehingga tidak mempunyai ilmu

yang memadai. Saat ini banyak geberasi muda yang menempuh

pendidikan sampai dengan SMA, Pesantren bahkan di bangku

kuliah sehingga sudah banyak masyarakat yang memiliki

pengalaman dan pengetahuan, sehingga mereka lebih memiliki

pandangan yang luas dalam hal menentukan pernikahan.

b. Kedua, faktor agama. Menjadi faktor yang sangat penting dalam

perubahan perkembangan tradisi pernikahan adat ini, karena hanya

yang beragama Islam saja yang melakukan pernikahan adat

tumpeng ini. Dengan berkembangnya jaman masyarakat desa

Jetak sudah banyak yang mengenyam pendidikan yang semakin

tinggi dan pengetahuan masyarakat tentang agam Islampun mulai

bertambah, bertambahnya para ulama atau pemuka agama di desa

ini juga menjadi salah satu faktor perkembangan pernikahan di

Desa Jetak.

c. Ketiga, faktor ekonomi. Ini memiliki hubungan erat dengan

80

sekarang tidak lagi mengandalkan bertani seperti orang tuanya,

banyak pemuda-pemudi yang memiliki ijazah dan bekal yang

memedai maka mereka bisa bekerja di pabrik-pabrik dengan gaji

mingguan atau bulan, hal ini membuat perekonomiannya lebih

baik dari sebelumnya. Banyak juga masyarakat yang bekerja di

luar kota atau luar Negri, hal ini memicu terjadinya perubahan

pernikahan adat tumpeng dengan pengalaman tau mendapatkan

istri dari tempat mereka berkerja.

d. Keempat, faktor pengalaman. Dengan ijazah yang mereka miliki.

Kemudian mereka mencari pekerjaan diluar wilayah Desa Jetak.

Masyarakat yang awalnya hanya petani menjadi buruh pabrik,

berdagang di pasar dan lain-lainnya, dengan inilah masyarakat

dapat berkomunikasi dengan masyarakat lain di luar Desa Jetak.

Di sinilah mereka mencoba merubah cara pandang mereka

mengenai pernikahan adat yang awalnya mengikuti tradisi nenek

moyong yang melakukan pernikahan adat tumpeng, sekarang

banyak masyarakat yang tidak bercita-cita menikahkan anak

mereka dengan pernikahan adat tumpeng. Perubahan pernikahan

adat ini tampak sangat besar tetapi tidak mempengaruhi budaya

kejawen lainnya hanya saja perubahan terdapat pada cara

81

BAB IV

Analisis Pernikahan Adat Tumpeng Dalam Tinjauan Fikih dan