• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GANGGANG LAUT

2.3 Tumbuhan Talus

2.3.3 Phaeophyceae (Ganggang coklat)

Ganggang coklat hampir semuanya merupakan tumbuh-tumbuhan laut; hanya sedikit yang hidup di air tawar. Ganggang yang termasuk kelas ini adalah ganggang coklat yang di antaranya berukuran sangat besar. Pigmen ganggang dari kelas ini terdiri atas klorofil yang ditutupi oleh pigmen-pigmen kuning dan coklat, santofil, karotin, dan fukosantin (Smith, 1955; Kadi, 1996).

Ganggang coklat merupakan kelas ganggang yang terbesar ukurannya di antara kelas-kelas ganggang laut. Kelas ganggang ini mempunyai ukuran dan bentuk yang sangat beraneka ragam (Gambar 2.6). Ada yang berupa tumbuh-tumbuhan bercabang berbentuk benang kecil dan halus (Ectocarpus), ada yang berbentuk rantai seperti sosis yang kopong dan kasar yang panjangnya 30 cm atau lebih (Scytosiphon), ada yang bertangkai pendek dan bertalus lebar (Laminaria, Costaria, dan Alaria beberapa di antaranya mempunyai lebar 2 m), dan ada yang bentuknya bercabang banyak (Fucus,

Agregia). Di Samudra Pasifik, terdapat ganggang berukuran raksasa dengan tangkai yang

40

Gambar 2.6. Tipe-tipe khas dari ganggang laut yang multisel. A = Trichodesmium. B = Fucus. C = Alaria D = Ulva E = Ectocarpus F = Sargassum G = Rhodymenia H = Polysiphonia I = Scytosiphon J = Lithothamnion

Ganggang coklat ada yang membentuk padang panggang (kelp bed) di laut lepas. Mereka membentuk hutan lebat dengan daun-daun dan tangkai-tangkainya yang melambai-lambai di dalam dan di permukaan laut. Di tempat ini hidup beribu-ribu ikan yang mendapatkan makanan dan berlindung di hutan ganggang ini. Ganggang ini biasa dipanen di banyak tempat untuk produk komersial yang dihasilkan. Dilihat dari bentuknya, ganggang coklat adalah yang termaju di antara semua tumbuhan-tumbuhan

41

bertalus. Untuk mengetahui secara garis besar struktur dan perkembangbiakan ganggang coklat secara umum, dapat diambil contoh ganggang spesies Nereocystis (Gambar 2.7).

Nereocystis panjangnya dapat mencapai 35 m atau lebih. Tumbuhan ini melekat

pada substrat dengan suatu alat pelekat yang bercabang banyak, tetapi tidak mempunyai akar yang sebenarnya. Dari alat pelekat ini, tumbuh tangkai (stipe) yang panjang dan berbentuk silendris. Di dalam tangkai ini terdapat rongga yang berakhir pada ujung tangkai yang berbentuk bola. Bola ini berisi gas seperti halnya tangkai, sehingga tumbuh-tumbuhan ini dapat mengapung. Pada ujung bola, terdapat daun seperti pita atau lamina.

Gambar 2.7 Nereocystis luetkeana

Bola dan tangkai berongga ini membuat bagian atas tumbuh-tumbuhan berada di dekat permukaan, menyebabkan daun-daun mendapat sinar matahari yang cukup. Seperti halnya ganggang besar lainnya, bagian ini ulet, lentur, dan licin agar mampu menghadapi pengaruh gelombang badai arus keras yang sering terjadi dengan mengeluarkan daya tahan sekecil-kecilnya.

Daur hidup ganggang coklat ini mencakup berbagai tipe pergantian generasi. Umumnya pada Laminariles, yang mencakup ganggang besar, ada pergantian generasi yang dapat digambarkan oleh daur hidup dari Nereocystis. Di sini tumbuh-tumbuhan

42

sporofit yang besar menghasilkan satu seri sori atau “fruiting areas” yang nampak sebagai bercak coklat kehitam-hitamanan, memanjang sepanjang seluruh daun. Mulai dari ujung daun, bercak ini terlepas pada saat tumbuh-tumbuhan matang, meninggalkan celah besar pada daun. Dari sori yang matang keluarlah zoospora berbulu getar yang tak terbilang jumlahnya dan jika mencapai substrat yang cocok tumbuhlah mereka menjadi tumbuh-tumbuhan berbentuk benang yang kecil, yang merupakan fase gametofit yang tak kelihatan nyata. Jadi, alih generasi seperti ini adalah heteromorfit, Beberapa ganggang coklat, seperti Dictyotales (termasuk di dalamnya Padina), menunjukkan alih generasi yang isomorfik, seperti halnya pada Ulva. Penting untuk dicatat bahwa konservasi zoospora mungkin dapat dilakukan oleh Nereocystis, yakni dengan kebiasaannya menyebarkan sorus matang yang lengkap, yang ketika tenggelam di dasar padang ganggang memungkinkan mereka menemukan substratnya yang cocok. Jadi, zoospora jika dilepaskan akan lebih banyk berkumpul di dasar atau di dekat dasar perairan ketimbang tersebar luas oleh arus seperti halnya jika mereka disebarkan melalui sporangia dari sorus di permukaan laut. Zoospora ini bersemi dalam waktu 24 jam. Tumbuh-tumbuhan gametofit yang dihasilkan berupa jantan atau betina dan setelah besar dibuahi, pertumbuhan sporofit dimulai.

Dalam kelas ganggang coklat, Fucales (termasuk di dalamnya Fucus dan

Sargassum), tumbuh-tumbuhan utamanya adalah sporofit yang berada di dalam ribuan

konseptakel (conceptacle) berbentuk cawan yang sangat kecil. Mereka bersatu setelah disebarkan bebas di air. Jadi pergantian generasi hanya nyata secara sitologik (Gambar 2.8).

43

Gambar 2.8 Fucus (Romimohtarto dan Juwana, 1999).

Ganggang coklat berkembang sangat pesat di perairan dingin. Karena itu ganggang ini khas tumbuh-tumbuhan pantai berbatu di daerah lintang tinggi. Di lain pihak, Sargassum dan ganggang lain dari ordo Fucales merupakan ganggang dari perairan troipis dan subtropis. Ganggang di laut ini berasal dari pantai. Saat mereka terpatah dari induknya, mereka hanyut ke laut lepas dan berkembang biak di sana. Mereka terus mengapung dengan bantuan kantung udara dan tumbuh secara vegetatif.

Di Indonesia, terdapat delapan genus ganggang coklat yang sering ditemukan. 1. Cystoseira sp., yang hidup menempel pada batu di daerah rataan terumbu dengan

alat pelekatnya yang berbentuk cakram kecil. Ganggang ini mengelompok bersana-sama denga komunitas Sargassum dan Turbinaria. Di perairan pantai Malaysia terdapat spesies Cystoceira prolifera yang dapat berukuran besar dan terdapat di paparan terumbu dan pantai berbatu. Ganggang ini mempunyai dua atau tiga sayap longitudinal dengan pinggiran bergigi. Lebar sayap ini dapat

44

mencapai lebih dari 0,5 cm. kantung udara kecil terdapat di sepanjang talus (Gambar 2.9).

Gambar 2.9 Cystoseira ericoides (Romimohtarto dan Juwana, 1999). A = Tumbuh-tumbuhan Cystoseira.

B = Kantung udara yang diperbesar. C = Irisan melalui reseptakel. D = Oogonium.

E =Anteridium.

2. Dicyopteris sp., hidup melekat pada batu di pinggiran luar rataan terumbu, jarang dijumpai. Spesies ganggang ini dapat ditemukan di laut selatan Jawa, Selat Sunda, dan Bali.

3. Dictyota (D. bartayresiana) mempunyai banyak sinonim yaitu: D. crenulata, D.

cuspidana, D. dichotoma, D. patens, dan D. ciliata. Ganggang ini tumbuh menempel

pada batu karang mati di daerah rataan terumbu. Di perairan pantai Malaysia, terdapat

Dictyota beccoriana yang tumbuh di bawah paras pasut rata-rata. Warnanya coklat

tua dan mempunyai talus bercabang yang terbagi dua. Talus yang pipih, lebarnya 2 mm, tersusun oleh tiga lapis sel. Lapisan tengah yang terdiri atas sel yang besar diapit oleh dua lapisan atas dan bawah yang terdiri atas sel yang sangat kecil. Ganggang ini

45

mempunyai bagian berbentuk silendris yang merayap dan mempunyai alat pelekat dalam bentuk benang-benang seperti rambut. Talusnya menghasilkan cabang lateral yang dapat terlepas untuk membentuk ganggang baru yang bebas dalam dalam perkembangbiakan vegetatif.

4. Hormophysa (H. triquesa), hidup menempel pada batu dengan alat pelekatnya berbentuk cakram kecil. Ganggang ini, seperti Cystoceira, hidup bercampur dengan

Sargassum dan Turbinaria hidup di rataan terumbu. Ganggang ini tersebar luas di

perairan Indonesia.

5. Hydroclathrus ( H. clatratus) sinonimnya H. cantellatus, tumbuh melekat pada batu atau pasir di daerah rataan terumbu dan tersebar agak luas di perairan Indonesia. 6. Padina (P. australis), sinonimnya P. gymnospora, tumbuh menempel di batu pada

daerah rataan terumbu, baik di tempat terbuka di laut maupun di tempat terlindung.

Padina commersonii adalah ganggang coklat yang banyak dijumpai di bawah paras

pasut rata-rata dari perairan Singapura dan Malaysia. Alat pelekatnya yang melekat pada batu atau pasir, terdiri atas cakram pipih, biasanya terbagi menjadi beberapa cuping pipih yang lebarnya 5-8 cm. Tangkai yang pipih dan pendek menghubungkan alat pelekat ini dengan ujung meruncing dari selusin daun atau lebih membentuk kipas. Setiap daun mempunyai jari-jari 5 cm atau lebih. Pinggirannya berakhir dengan suatu meristem; di tempat itu, pertumbuhan terjadi dan khas menggulung ke dalam untuk perlindungan lebih baik. Setiap daun ditandai oleh satu seri sabuk sepusat (concentric), yang merupakan deretan sel. Daun yang lebih lebar biasanya membelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan pinggiran luarnya cenderung membelah ke dalam sepanjang jari-jari. Daunnya berwarna coklat kekuning-kuningan, tetapi

46

dapat kelihatan keabu-abuan yang disebabkan karena adanya kerak yang terdiri atas lapisan tipis kapur pada permukaan atasnya.

7. Sargassum terdapat amat melimpah mulai dari air surut pada pasut bulan-setengah ke bawah. Ganggang ini hidup melekat pada batu atau bongkahan karang dan dapat terbedol dari substratnya selama ombak besar dan hanyut ke permukaan laut atau terdampar di bagian atas pantai. Warnanya bermacam-macam dari coklat muda sampai coklat tua. Alat pelekatnya terdiri atas cakram pipih. Dari cakram ini, muncul tangkai yang pendek silendris yang tegak. Dari tangkai yang pendek ini muncul beberapa poros silendris panjang. Masing-masing poros ini panjangnya dapat mencapai 1 meter di mintakat bawah-litoral tempat Sargassum hidup. Pada poros yang silendris yang berdiameter 3 mm, terdapat bentuk-bentuk seperti daun, kantung udara, dan cabang-cabang perkembangbiakan. Di perairan Indonesia tercatat tujuh spesies, yaitu S. polycystum, S. plagiophyllum, S. duplicatum, S. ceassifolium, S.

binderi, S. echinocarpum, dan S. cinereum.

8. Turbinaria, terdiri atas tiga spesies yang tercatat, yaitu T. conoides, T. decurrens, dan

T. ornata. Mereka mempunyai cabng-cabang silendris dengan diameter 2-3 mm dan

mempunyai cabang lateral pendek yang panjangnya dari 1-1,5 cm. Ini berakhir pada sebuah reseptakel dengan pinggiran bergerigi dan garis tengahnya kira-kira 1 cm. Ganggang ini terdapat di pantai berbatu dan paparan terumbu.

Dokumen terkait