BAB II GANGGANG LAUT
2.3 Tumbuhan Talus
2.3.4 Rhodophyceae (ganggang merah)
Hampir semua ganggang merah adalah tumbuh-tumbuhan laut. Di antara kelas ganggang laut, ganggang merah yang teramat mencolok dalam hal warna. Beberapa di
47
antaranya bercahaya. Banyak dari spesies yang kecil sekali ukurannya merupakan benda makroskopik yang indah.
Pigmen dari kromatofora terdiri atas klorofil biasa bersama-sama dengan santofil, karotin, dan sebagai tambahan fikoeritrin yang merah dan kadang-kadang fikosianin (Smith, 1955; Atmadja, 1996a). Berbagai warna tumbuh-tumbuhan terdapat dalam kelompok ganggang ini. Ada yang merah ungu, violet, coklat, atau hijau. Spesies yang tumbuh di tempat yang jeluk berwarna coklat murni. Ini mungkin berkaitan dengan kemampuannya mensintesis secara efisien pada cahaya yang redup pada perairan yang jeluk dibandingkan dengan spesies yang hidup di perairan dangkal. Meskipun biasanya berukuran kecil, bentuknya lebih beraneka ragam daripada ganggang coklat, dan jumlahnya juga lebih banyak. Semuanya bersel ganda. Yang sederhana adalah bentuk benang bercabang seperti Polysiphonia, yang bersama-sama dengan spesies ganggang benang lainnya umumnya dinamakan lumut laut. Ada bentuk berdaun lebar, seperti
Rhodymenia yang dapat berukuran panjang sekali. Namun ganggang merah yang
terpanjang kira-kira 1 sampai 2 meter.
Daur hidup beberapa spesies ganggang merah sangat majemuk. Pada bentuk yang lebih tinggi tingkatnya, terjadi pergantian generasi secara morfologis dan teratur. Dalam hal ini, dapat saja sporofit dan gametofit kelihatan sama dari luar. Untuk menggambarkan daur hidup ganggang merah, diambil contoh Polysiphonia (Gambar 2.10). Ada tiga tipe tumbuh-tumbuhan, yakni gametofit jantan dan betina dan tumbuh-tumbuhan tetrasporik yang aseksual. Yang terakhir ini timbul dari karpospora yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan betina. Karpospora ini sebagai hasil bergabungnya gamet jantan dan betina.
48
Pada saat persemaian, tetraspora dari tumbuh-tumbuhan aseksual pada gilirannya menghasilkan tumbuh-tumbuhan seksual.
Salah satu sifat yang sangat menarik dari perkembangbiakan ganggang merah ini adalah tidak adanya samasekali spora atau gamet berenang yang berbulu getar atau bercambuk. Hal ini menyimpang dari kebiasaan yang diikuti oleh perkembangbiakan jasad hidup yang terjadi dalam media air. Hal ini membuat penyebaran dan pertemuan intim antara sel-sel perkembangbiakan tergantung pada arus. Karena itu, semuanya tergantung pada faktor kesempatan atau keberuntungan.
Gambar 2.10 Polysiphonia nigrescens (Romimohtarto dan Juwana, 1999). A = Tumbuh-tumbuhan Polysiphonia.
B = Tempat melekat dari bawah.
C = Irisan melintang batang pokok dekat pangkal. D = Ujung percabangan dengan tetraspora.
E = Sistokarpus.
49
Ganggang merah luas sebarannya, tetapi terbanyak terdapat di perairan beriklim sedang. Sebaran penegaknya menunjukkan bahwa ganggang ini menginginkan cahaya yang redup. Beberapa spesies ganggang merah hidup di mintakat pasut, tetapi pertumbuhan yang subur terdapat di mintakat bawah-pasut. Mereka dapat dijumpai dalam jumlah besar di jelukan yang kurang cocok bagi ganggang hijau dan coklat, dan di laut Mediteranean dapat dijumpai pada kejelukan 139 m. Jadi, mulai dari tempat dangkal sampai ke tempat yang jeluk, berturut-turut sebaran kelompok ganggang yang dipaparkan di sini adalah ganggang hijau, ganggang coklat, dan ganggang merah dengan areal tumpang tindih yang berbeda-beda. Di perairan tropis, ganggang merah umumnya terdapat di daerah bawah-litoral, pada daerah ini cahaya sangat kurang. Mereka umumnya berukuran kecil. Sekelompok ganggang ini ada yang disebut koralin, yang menyadap kapur dari air laut dan menjadi sangat keras seperti batu. Mereka terdapat di terumbu karang dan membentuk kerak merah muda pada batu karang dan batu cadas.
Banyak spesies ganggang merah yang mempunyai nilai ekonomis dan diperdagangkan sehingga dikelompokkan sebagai komoditi rumput laut. Di Indonesia tercatat 18 genus yang terdiri atas 42 spesies. Berikut catatan singkat dari genus ganggang merah tersebut (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
1. Acanthophora, terdiri atas dua spesies yang tercatat yaitu: A. spicifera dan A.
muscoides. Mereka hidup menempel pada batu atau benda keras lainnya. Yang
pertama luas sebarannya di Indonesia dan yang kedua kurang meluas dan terdapat di tempat tertentu saja seperti di Kepulauan Seribu, sebelah utara Teluk Jakarta (Gambar 2.11).
50
Gambar 2.11 Acanthophora spicifera (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
2. Actinotrichia (A. fragilis), terdapat di bawah pasut dan menempel pada karang mati. Sebarannya luas sehingga terdapat pula di padang lamun.
3. Amansia (A. glomerata) hidup melekat pada batu di daerah terumbu karang dan dapat hidup melimpah di padang lamun.
4. Amphiroa (A. fragilissima) tumbuh menempel pada dasar pasir di rataan pasir atau menempel pada substrat dasar lainnya di padang lamun. Sebarannya luas.
5. Chondrococcus (C. hornemannii) tumbuh melekat pada substrat batu di ujung luar rataan terumbu yang senantiasa terendam air.
6. Corallina belum diketahui spesiesnya. Ganggang ini tumbuh di bagian luar terumbu yang biasa terkena ombak langsung. Sebarannya tidak begitu luas, terdapat diantaranya di pantai selatan Jawa. C. rubens, contoh spesies dari luar Indonesia. 7. Eucheuma adalah ganggang merah yang biasa ditemukan di bawah air surut rata-rata
pada pasut bulan-setengah. Ganggang ini mempunyai talus yang silendris berdaging kuat dengan bintil-bintil atau duri-duri yang mencuat ke samping pada beberapa spesies. Talusnya licin. Warna ganggangnya ada yang tidak merah, tetapi coklat kehijau-hijauan kotor atau abu-abu dengan bercak merah. Di Indonesia, tercatat
51
empat spesies yaitu E. denticulatum ( = E. spinosum), E. Edule, E. alvarezii ( =
Kapaphycus alvarezii), dan E. sera (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
8. Galaxaura terdiri atas empat spesies, yaitu G. kjelmanii, G. subfruticulosa, G.
subverticillata, dan G. rugosa. Mereka tumbuh melakat pada substrat batu di rataan
terumbu.
9. Gelidiella (G. ecerosa) tumbuh menempel pada batu di mintakat pasut atau bawah pasut. Ganggang ini muncul di permukaan air pada saat air surut dan mengalami kekeringan. Ganggang ini digunakan sebagai sumber agar yang diperdagangkan. 10. Gigartina (G. affinis = Corpopeltis affinis) tumbuh menempel pada batu di rataan
terumbu, terutama di tempat-tempat yang masih tergenang air pada saat air surut terendah.
11 Gelidium dikenal sebanyak 40 spesies dari berbagai negara, tetapi hanya 8 spesies diantaranya tersebar di Indonesia, yaitu G. latifolium, G. cartilagineum, G. rigidum,
G. corneum, G. crinale, G. cologlossum, G. pusillum, dan G. pannosum. Habitat dan
sebaran Gelidium di Indonesia pada umumnya di perairan pantai berbatu dan terbuka yang kebanyakan di daerah pantai Samudera Hindia. Substrat dasar tempat melekatnya berupa batu karang mati, gamping, dan batu vulkanik. Gelidium yang tumbuh di perairann Indonesia adalah jenis-jenis yang cenderung menyukai kadar garam tinggi (sekitar 33%).
12. Gracilaria terdiri atas tujuh spesies, yaitu G. arcuata, G. coronopifolia, G. foliifera,
52
Gambar 2.12 Beberapa spesies Gracillaria (Romimohtarto dan Juwana, 1999). A = Gracillaria verrocosa
B = Tumbuh-tumbuhan dari Glacillaria foliifera.
C = Tumbuh-tumbuhan G. foliifera dengan percabangan menyirip yang sempit.
13. Halymenia terdiri atas dua spesies, yaitu H. durvillaei dan H. harveyana. Mereka hidup melekat pada batu karang di luar rataan terumbu yang selalu tergenang.
14. Hypnea terdiri atas dua spesies, yaitu H. asperi dan H. servicornis. Mereka hidup di habitat berpasir atau berbatu, ada pula yang bersifat epifit. Sebarannya luas.
15. Laurencia terdiri atas tiga spesies, yaitu L. intricata, L. nidifica, dan L. obtusa. Mereka hidup melekat pada batu di daerah terumbu karang.
16. Rhodymenia (R. palmata) hidup melekat pada substrat batu atau rataan terumbu. 17. Titanophora (T. pulchra) jarang dijumpai. Spesies ini terdapat di perairan Sulawesi. 18. Porphyra terdapat mulai dari perairan subtropis sampai daerah tropis, tetapi sebaran
menegaknya sangat terbatas. Pada umumnya di alam, ganggang ini dijumpai di daerah pasut (litoral), tepatnya di atas daerah litoral. Ganggang ini hidup di atas batuan karang pada pantai yang terbuka serta bersalinitas tinggi. Meskipun demikian,
53
ada pula spesies yang menyukai daerah muara sungai dengan pantai yang agak terlindung serta salinitas perairan yang relatif rendah, yaitu Porphyra tenera.