• Tidak ada hasil yang ditemukan

Piagam Madinah atau Madinah Charter adalah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW dan dapat dijadikan model untuk melaku-kan upaya perdamaian dunia dan menghidari konflik internasional. Ia merupamelaku-kan sebagai perjanjian formal yang terjadi 622 Masehi antara dirinya dengan semua suku dan kaum penting di daerah Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah.91 Piagam Madinah juga disebut sebagai Konstitusi Madinah. Tujuan Piagam Madinah adalah untuk menghentikan pertentangan dan konflik sengit antara Bani „Aus dan Bani Khazraj yang terjadi di Madinah. Piagam ini pun disusun secara jelas, terang, dan detail, dengan menetapkan hak-hak dan kewajiban bagi kaum muslim, kaum yahudi, dan komunitas-komunitas lain di Madinah, sehingga mereka menjadi suatu komunitas, disebut juga sebagai ummah atau umat.92

Adapun Piagam Madinah itu mempunyai arti tersendiri bagi semua penduduk Madinah dari masing-masing golongan yang berbeda. Bagi Nabi Muhammad, maka Ia diakui sebagai pemimpin yang mempunyai kekuasaan politis.93 Bila terjadi sengketa di antara penduduk Madinah maka keputusannya harus dikembalikan kepada keputusan Allah dan kebijaksanaan Rasul-Nya. Pasal ini menetapkan wewenang pada Nabi untuk menengahi dan memutuskan segala perbedaan pendapat dan permusuhan yang timbul di antara mereka.

Hal ini sesungguhnya telah lama diharapkan penduduk Madinah, khususnya golongan Arab, sehingga kedatangan Nabi dapat mereka terima.

Harapan ini tercermin di dalam Baitul Aqabah I dan II yang mengakui Muhammad sebagai pemimpin mereka dan mengharapkan peranannya di dalam memper-satukan Madinah.94

Sedangkan bagi umat Islam, khususnya kaum Muhajirin, Piagam Madinah semakin memantapkan kedudukan mereka. Bersatunya penduduk Madinah di dalam suatu kesatuan politik membuat keamanan mereka lebih terjamin dari gangguan kaum kafir Quraisy. Suasana yang lebih aman membuat mereka lebih berkonsentrasi untuk mendakwahkan Islam. Terbukti Islam berkembang subur di Madinah ini.

91 Deden Wahidah, https://www.zonareferensi.com/piagam-madinah

92 Panji R Hadinoto, Politik Konstitusi Pancasila Indonesia, https://jakarta45. wordpress.com /2011/08

93 http//majidnurkholis.wordpress.com.piagam-madinah, 1999. Muhammad Jad Maula Bey, dalam bukunya “Muhammad al-Matsalul Kamil” menyimpulkan, bahwa di dalam waktu yang relatif pendek tersebut Nabi telah sukses menciptakan tiga pekerjaan besar, yaitu: Membentuk suatu umat yang menjadi umat yang terbaik

Mendirikan suatu “negara” yang bernama Negara Islam; dan Mengajarkan suatu agama, yaitu agama Islam.

94 http://gifaranti.blogspot.co.id/2014/06/makalah-perkembangan-islam-periode _1.html (blog dibuat minggu 01 juni 2014) diakses kamis, 08 oktober 2015 pukul 12:26

Bagi penduduk Madinah pada umumnya, dengan adanya kesepakatan piagam Madinah, menciptakan suasana baru yang menghilangkan atau mem-perkecil pertentangan antar suku. Kebebasan beragama juga telah mendapatkan jaminan bagi semua golongan. Yang lebih ditekankan adalah kerjasama dan persamaan hak dan kewajiban semua golongan dalam kehidupan sosial politik di dalam mewujudkan pertahanan dan perdamaian.95

95 Bagi penduduk Madinah pada umumnya, dengan adanya kesepakatan piagam Madinah, menciptakan suasana baru yang menghilangkan atau memperkecil pertentangan antar suku.

Kebebasan beragama juga telah mendapatkan jaminan bagi semua golongan. Yang lebih ditekankan adalah kerjasama dan persamaan hak dan kewajiban semua golongan dalam kehidupan sosial politik di dalam mewujudkan pertahanan dan perdamaian.Piagam Madinah ternyata mampu mengubah eksistensi orang-orang mukmin dan yang lainnya dari sekedar kumpulan manusia menjadi masyarakat politik, yaitu suatu masyarakat yang memiliki kedaulatan dan otoritas politik dalam wilayah Madinah sebagai tempat mereka hidup bersama, bekerjasama dalam kebaikan atas dasar kesadaran sosial mereka, yang bebas dari pengaruh dan penguasaan masyarakat lain dan mampu mewujudkan kehendak mereka sendiri.Muhammad Jad Maula Bey, dalam bukunya

“Muhammad al-Matsalul Kamil” menyimpulkan, bahwa di dalam waktu yang relatif pendek tersebut Nabi telah sukses menciptakan tiga pekerjaan besar, yaitu:Membentuk suatu umat yang menjadi umat yang terbaikMendirikan suatu “negara” yang bernama Negara Islam; danMengajarkan suatu agama, yaitu agama Islam.. Pendapat Beberapa Ahli Tentang Keberadaan Piagam Madinah Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ahli dalam melakukan penilaian terhadap naskah atau dokumen politik tertua dalam sejarah tersebut karena ada yang kemudian menggolongkannya sebagai suatu Piagam, ada yang menggolongkannya sebagai suatu undang-undang negara, ada pula yang setelah melakukan penelitian memasukkan dalam kelompok Charter, ada yang menggolong-kannya dalam definisi perjanjian. Tetapi beberapa ahli sepakat untuk memasukmenggolong-kannya ke dalam kelompok yang lebih tinggi, di mana dokumen yang sangat bersejarah tersebut dimasukkan dalam golongan Konstitusi. Dan inilah penilaian tertinggi untuk piagam tersebut. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu persatu.Piagam Madinah sebagai suatu Perjanjian Maulvi Muhammad Ali dalam bukunya “Muhammad the Prophet” menamakannya “Pact between the Muslim and the Jews”

(Perjanjian antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi). Emile Dermenghem, mengatakan sebagai

“Pledge of mutual aid” (perjanjian untuk saling membantu). Piagam Madinah sebagai Charter atau Piagam Dr. Khalifa Abdul Hakim dalam bukunya “Islamic Ideology” menegaskan bahwa piagam ini jauh lebih tinggi tujuannya dari pada Magna Charta Inggris pada abad ke 13 dahulu, dan lebih baik daripada Athlantic Charter pada abad ke 20. Haroon Khan Serwani dalam bukunya yang berjudul

“Studies in Muslim Political thought and administration” mengatakan : Piagam Madinah merupakan piagam yang besar untuk kebebasan pendapat dan pikiran umum penduduk.Piagam Madinah sebagai suatu Undang-Undang Negara Prof. H.A.R Gibb dalam bukunya yang berjudul

“Mohammadanisme” mengatakannya “legislative enactment” (penetapan legislatif).Emile Dermenghem dalam bukunya “The Live of Mohammed” mengatakan bahwa Nabi Muhammad setelah berada di Madinah adalah seorang Nabi, seorang Legislator, seorang politikus dan seorang pahlawan.George E. Kerk menamakannya “act” (undang-undang) yang dikeluarkan Muhammad sebagai lawgiver (pembuat undang-undang), di dalam bukunya “A Short History of the Middle East”.Piagam Madinah sebagai suatu Konstitusi Dr. Muhammad Hamidullah menerangkan dalam bukunya yang berjudul

“The First Written Constitution of The World” bahwa inilah konstitusi yang tertulis yang pertama di dunia.Muhammad Marmaduke Dickthal, dalam bukunya “The Meaning of The Glorius Koran”

(Terjemahan kitab Agung Qur‟an” menerangkan tentang konstitusi yang dibuat Nabi Muhammad.W. Montgomery Watt berjasa besar dalam mempopulerkan piagam ini sebagai suatu konstitusi. Ia menamakan piagam ini dengan “The Constitution of Medina” (konstitusi Madinah).

Kesimpulan dengan adanya Piagam Madinah, maka tercipta suasana baru yang menghilangkan atau memperkecil pertentangan antara suku. Di samping itu, Piagam tersebut juga telah merubah masyarakat yang semula hanya sekelompok manusia menjadi masyarakat politik yaitu masyarakat

Piagam Madinah ternyata mampu mengubah eksistensi orang-orang mukmin dan yang lainnya dari sekedar kumpulan manusia menjadi masyarakat politik, yaitu suatu masyarakat yang memiliki kedaulatan dan otoritas politik dalam wilayah Madinah sebagai tempat mereka hidup bersama, bekerjasama dalam kebaikan atas dasar kesadaran sosial mereka, yang bebas dari pengaruh dan penguasaan masyarakat lain dan mampu mewujudkan kehendak mereka sendiri.96

Piagam Madinah lahir dari kondisi yang sebelum Rasulullah hijrah.

Dimana Yastrib pada saat itu di cekam oleh konflik berkepanjangan antar suku.

Dua suku terbesar „Auz dan Khazraj terlibat perseteruan yang berdarah-darah.97 Suku yang lebih kecil memperkeruh keadaan dengan terbelah menjadi pendukung kedua suku besar yang berkonflik. Sementara kondisi permusuhan dan perpecahan sedemikian kuat, bangsa yahudi sebagai pendatang terus meng-hembuskan suasana permusuhan. Mereka memang mengatur untuk mendapat keuntungan materil dari konflik yang terus dihangatkan itu. Penduduk Yatsrib kemudian meminta Rasulullah untuk menciptakan perdamaian dan ketentraman.

Di mulai dari kesadaran masyarakat Yatsrib untuk keluar dari suasana yang men-cekam konflik yang tiada berujung, semakin rumit dan melelahkan. Kesadaran ini pula yang menjadi pondasi lahirnya ruh kedamaian dalam Piagam Madinah.

Sebuah konsep yang sempurna dan kesiapan merealisasikan dari masyarakatnya.

Islam sejatinya telah siap dengan konsep yang pertengahan dan mendamaikan bila difahami secara benar dan menyeluruh. Sementara itu psikologis masyarakat Yatsrib yang berada diujung kekecewaan memang selalu dipastikan akan memun-culkan harapan. Bagaikan di ujung musim gugur yang mendatangkan musim semi. Anis Matta menyebutkan itu semua sebagai pertanda sejarah akan lewat di sini. Rasulullah kemudian didatangkan ke Yatsrib dan mempresentasikan konsep sempurna untuk menciptakan dunia sebagai tempat yang lebih baik.98 Sementara itu masyarakat sudah berada tingkat kebutuhan akan solusi yang memuncak.

Kohesi itupun terbentuk melahirkan tata kehidupan baru yang egaliter terbuka, produktif, dan kokoh untuk menghadapi tantangan zamannya.99

Piagam Madinah merupakan fakta keberhasilan politik Islam pada masa Rasulullah dan sahabat. Secara politis, muslim dan pemeluk agama lainnya hidup mandiri, berdaya, teratur dan egaliter sebagai warga negara. Untuk mewujud-kannya kembali ilmuwan politik Islam seperti Ibnu Aby Rabi, Al-Mawardi dan Al-Ghazali memaparkan pentingnya rasa aman, keadilan, dan supremasi hukum.

Mc. Donald menyebut Madinah sebagai negara Islam pertama yang memiliki dasar-dasar politik dan perundang-undangan. Muhammad SAW sebagai kepala

yang berdaulat dan mempunyai otoritas politik di wilayah Madinah.Rasulullah telah berhasil menyatukan kemajemukan yang ada dengan mengadakan perjanjian di antara kaumnya.

96 Pulungan, J.suyuti, Prinsip-Prinsip dalam Piagam Madinah ditinjau dari Pandangan Al Quran, Raja Grafindo Persada,1994, hlm. 89.

97 Syaikh Shafiyyurrohman Al-Mubarakfury, Sirah-Nabawiyah (Pustaka Al-Kautsar) 1997-2007, Ibid 149

98 https://nasrikurnialloh.blogspot.com/2013/03/sejarah-piagam-madinah.html

99 https://nasrikurnialloh.blogspot.com/2013/03/sejarah-piagam-madinah.html

negara kala itu telah menetapkan dasar-dasar dan sendi-sendi pemerintahan, dan berhasil menyatukan semua golongan (Ridha, 2003). Resep rahasianya adalah implementasi spiritualisme Islam ke seluruh sendi kehidupan, termasuk politik.

Sejarah mencacat, di zaman Rasulullah telah dihasilkan konstitusi yang berkeadilan dan demokratis, yaitu Piagam Madinah. Pakar Barat seperti Julius Wilhausen, Leon Caetani, Hubert Grime, Montgomery Watt dan lainnya meng-akuinya sebagai konstitusi pertama di dunia dan paling lengkap sepanjang sejarah manusia. Hidayat (1995, dalam Soelhi, 2003) merangkum temuan penting dari Piagam Madinah. Pertama, piagam ini mampu menghapus tribalisme (kesukuan) menuju pembangunan negara baru. Kedua, Piagam Madinah dinamis seiring dengan kondisi kebutuhan kekinian dan mengakomodasi seluruh elemen agama.

Ketiga, semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam hak dan kewajiban serta wajib melindungi yang lemah.

Dalam kebijakan ekonomi misalnya, bagi Muslim wajib membayar zakat, sedangkan non-muslim berupa jizyah dan kharaj. Negara mengakui, melindungi dan menjamin kebebasan warga menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.

Keempat, setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di depan hukum dalam prinsip kebenaran dan keadilan. Kelima, hukum adat/tradisi dengan ber-pedoman pada keadilan dan kebenaran tetap dilakukan. Keenam, negara meng-anut asas pacta sun servanda (perjanjian harus dihormati) selama perjanjian ini berlaku. Ketujuh, semua warga negara mempunyai kewajiban yang sama terhadap Negara. Kedelapan, perdamaian adalah tujuan utama, tapi pencapaiannya tidak boleh mengorbankan kebenaran dan keadilan. Kesembilan, sistem pemerintahan adalah desentralisasi. Namun, pemerintah pusat adalah pemutus terakhir jika daerah buntu.

Piagam Madinah mengajarkan pelaksanaan politik pemerintahan yang tidak kaku. Efek positifnya terasa dengan dijunjungnya etika, moralitas, ikatan kepercayaan, dan rasa kasih sayang. Piagam Madinah juga mampu melindungi dan mengatur perikehidupan bernegara yang multi-etnis dan berbeda-beda agama. Hal ini menjadi bukti telah terjalankannya iklim demokrastis dan keadilan Pembangunan politik membutuhkan harmoni sosial serta harmoni antara rakyat dan pemimpin. Harmonisasi tersebut merupakan kunci dalam optimalisasi penye-lenggaraan program pemerintah. Imam Al-Gazali menyatakan: "Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan adanya dunia. Kekuasaan dan agama tidak mungkin dipisahkan. Agama adalah tiang, penguasa adalah penjaga. Bangu-nan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan keseimbangan akan terwujud kecuali dengan penguasa."

BAGIAN II

HUKUM ISLAM DALAM KEBIJAKAN