HUBUNGAN NEGARA DAN AGAMA :
B. Relasi Agama dan Negara menurut Soekarno dan Mohammad Natsir
Sebagaimana diketahui, latar belakang polemik hubungan agama dan negara antara Soekarno dan Natsir dimulai dengan munculnya artikel Soekarno,
“Apa sebab Turki Memisah Agama dari Negara” di majalah Panji Islam pada tahun 1940. Menurut pengakuan penulisnya (Soekarno), artikel itu ditulis sekedar untuk memenuhi permintaan pembaca Panji Islam dan sebagai bahan pertimba-ngan tentang soal baik buruknya, benar salahnya agama di pisahkan dari negara.
Selanjutnya Natsir dengan nama A. Muchlis (nama samaran) membantah pernyataan Soekarno. Menurut Natsir artikel Soekarno tidak hanya sekedar bahan pertimbangan untuk dipikirkan saja, melainkan pernyataan pemihakan terang-terangan Soekarno terhadap ide dan tindakan Kemal. Terlebih orang sekaliber Soekarno yang telah membaca kurang lebih 20 buah buku tentang itu.
Oleh karena itu terkait dengan gagasan-gagasan Soekarno mengenai pemisahan agama dan negara ini, dilatarbelakangi dan didasarkan pada:
66Yuuf Abdullah Puar. Mohammad Natsir 70 Tahun, Kenang-kenangan Hidup dan Perjuangan, ( Jakarta, Putaka Antara, 1978), hlm. 7.
1. Gagasan Soekarno sangat dipengaruhi oleh gagasan pemisahan agama dari negara di negara Barat (Eropa). Sebab agama merupakan aturan-aturan spritual (akhirat) dan negara adalah masalah duniawi ( sekular).
Gagasan Soekarno demikian itu, sesungguhnya bukan semata-mata datang dari pemikiran ia semata, melainkan mengutip dan memformulasikan kembali gagasan yang dilontarkan oleh Edib Hanoum, Mahmud Essad Bay, dan Mustafa kemal A. Menurutnya, agama itu perlu dimerdekakan dari negara, sebab manakala agama dipakai pemerintah, ia (agama) selalu dijadikan alat penghukum ditangannya raja-raja, orang-orang zalim, dan tangan besi. Dengan demikian agar agama dapat menyelamatkan dunia dari bencana, hendaknya di zaman modern ini urusan dunia dipisahkan dari uruan spiritual sehingga agama menempati satu singgasana yang maha kuat dalam kalbunya kaum yang percaya.67
Atas dasar pernyataan ketiga pemikir Turki di atas, dalam penilaian Soekarno, sesungguhnya hal itu bukan untuk mendurhakai Islam, tetapi justru agar Islam dapat lepas dari belenggu yang menghalangi kemajuannya. Dan gagasan pemisahan agama dari negara menurutnya tidak hanya terjadi di Turki, tetapi di negara-negara Eropa seperti Belanda, Prancis, Jerman, Belgia, Inggris serta negara-negara kolonial yang beragama Islam seperti Indonesia.
Dalam pada itu pula, dasar pemikiran yang melatarbelakangi gagasan Soekarno demikian adalah mengutip pendapat Syeikh Ali Abdur Raziq (ulama al-Azhar Kairo) yang berpandangan bahwa keharusan bersatunya agama dengan negara tidak ada dasarnya dalam syariat Islam (al-Qur‟an dan Hadits) maupun ijma‟ ulama. Sebab tugas nabi Muhammad yang terpokok adalah menegakkan syiar Islam tanpa bermaksud mendirikan negara, atau membentuk khilafah yang akan menjadi kepala masyarakat politik68
Namun demikian, gagasan Soekarno itu, tidak dengan sendirinya ajaran Islam dikesampingkan, seperti sekularisasi yang dilakukan oleh Mustafa Kemal A. di Turki. Ia meyakini demokrasi sebagai alternatif bentuk negara, karena dengan demokrasi semua kelompok agama dituntut menguasai parlemen, sebab bila mereka menguasai lembaga itu secara otomatis menguasai negara.
2. Agama Urusan Dunia dan Pribadi.
Menurut Soekarno agama merupakan urusan spiritual dan pribadi, sedangkan masalah negara adalah persoalan dunia dan kemasyarakatan. Oleh karena itu, campur tangan negara terhadap urusan agama, tidak saja akan merusak kehidupan kaum muslimin, tetapi juga negara atau pemerintah yang bersangkutan. Dengan demikian, maka setiap pribadi muslim dituntut selalu melakukan proses islamisasi dikalangan penduduk. Bila hal ini terjadi, maka
“banjirnya Islam itu dengan sendirinya akan menjelma dalam segala putusan badan perwakilan rakyat”. 69
67 Lihat Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi, ( Jakarta, Panitia di bawah Bendera Revolusi, jilid , 1964 ) hal 404-407.
68 Suhelmi, ibid, hlm. 82
69 Soekarno, Ibid, hlm. 452.
3. Tidak ada Kesepakatan (Ijma‟) Ulama.
Gagasan pemisahan agama dari negara, Soekarno berpendirian bahwa dikalangan ulama Islam tidak terdapat kesepakatan ulama tentang keharusan bersatunya agama dengan negara. Pendirian Soekarno ini didasarkan pada pemikiran politik Ali Abdur Raziq.
4. Tidak ada Konsep Negara Islam.
Soekarno meyakini bahwa timbulnya Negara Islam tidak dimulai saat Rasul dan sahabat hidup. Beliau sendiri tidak menyebut masyarakat Madinah yang diperintahnya sebagai pemerintahan atau Negara Islam, tetapi hanya umat Islam.70
Atas dasar alasan di atas, maka pada dua kesempatan ceramah, ia dengan tegas mengatakan menolak konsep negara Islam dan mendukung konsep negara nasional. Oleh karena itu, apabila Indonesia menjadi Negara Islam dan Islam diterima sebagai dasar negara, akan terjadi perpecahan dikalangan rakyat Indonesia. Karena tidak seluruh rakyat Indonesia terdiri dari umat Islam, dan hancur serta pecahnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia adalah tragedy paling menakutkan Soekarno.
Konsistensi sikap Soekarno menolak konsep negara Islam, diperlihatkan ketika terjadi perdebatan mengenai dasar negara Indonesia dalam Dewan Konstituante yang diajukan oleh para pemimpin politik Islam, seperti Mohammad Natsir, zainal abiding Ahmad, Osman Raliby, Hamka, saifudin Zuhri dll.
Sedangkan gagasan-gagasan Mohammad Natsir tentang penyatuan agama dan negara yang tidak dapat dipisahkan, di dasarkan pada pemikiran :
1. Agama (Islam) tidak dapat dipisahkan dari negara.
Ia menganggap bahwa urusan kenegaraan pada pokoknya merupakan bagian integral risalah Islam. Kesalah pahaman terhadap negara Islam, negara yang menyatukan agama dan politik, pada dasarnya bersumber dari kekeliruan memahami gambaran pemerintahan Islam. Oleh karena itu, bila ingin memahami agama dan negara dalam Islam secara jernih, maka hendaknya mampu meng-hapuskan gambaran gambaran keliru tentang negara Islam yang digambarkan oleh bangsa Barat selama ini. Bagi Natsir, Turki dimasa pemerintahan para sultan dan kekhalifahan Usmaniah terakhir bukanlah negara atau pemerintahan Islam, sebab para pemimpinnya menindas dan membiarkan rakyatnya bodoh dengan memakai Islam dan ibadah-ibadahnya sebagai tameng belaka.71
Lebih jauh Natsir mengatakan, ia sangat meyakini kebenaran Islam sebagai suatu ideology kenegaraan. Sebagai suatu ideology, Islam mempunyai cakupan pengertian yang sangat luas, seluas dimensi kehidupan manusia itu sendiri. Atas dasar itu, Natsir menolak segala bentuk pemikiran sekular, sebab pemikiran tersebut mengabaikan nilai-nilai transcendental Islam.
2. Negara Sebagai Alat.
70 Muhammad Ridwan Lubis. Pemikiran Soekarno tentang Islam dan Unsur-unsur pembaruannya, (UIN Jakarta, Disertasi, 1987), hlm. 306.
71 M. Natsir. Capita Selekta, (Jakarta, Bulan Bintang, 1973) hlm. 438-439
Natsir menegaskan bahwa negara bukanlah tujuan akhir Islam, melainkan hanya alat merealisasikan aturan-aturan Islam yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. Oleh karena itu, aturan-aturan yang menegaskan kewajiban belajar, pemberantasan zina, membayar zakat dan lain-lain, tidak ada artinya manakala tidak ada negara. Negara disini berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Maka dari itu, bagi Natsir ada atau tidak ada Islam, eksistensi negara merupakan suatu keharusan di dunia ini, di zaman apapun.
Pendapat Natsir di atas, dilandasi oleh: 1) Praktik kepemimpinan Rasulullah ketika di Madinah, 2). Teladan para Sahabat Nabi, ketika mengangkat khalifah, dari mulai Sahabat Abu Bakr sampai Ali bin Abi Thalib.
Pernyataan Natsir itu, sesungguhnya dimaksudkan untuk membantah dan mempertanyakan pandangan Ali Abdur Raziq. Natsir merasa ragu apabila ulama al-Azhar itu berpendapat bahwa Nabi hanyalah mendakwahkan agama dan tidak menyuruh mendirikan negara.72
Kemudian menyinggung soal nama penguasa dan azas negara. Natsir tidak bersikeras menamakannya chalifah. Titel chalifah bukan menjadi syarat mutlak dalam pemerintahan Islam, bukan conditio sine qua non, yang utama adalah yang menjadi kepala negara yang diberi kekuasaan itu sanggup bertindak bijaksana dan menerapkan peraturan Islam semestinya dalam susunan kenegara-an baik kaedah maupun dalam praktik. Oleh karena itu, syarat untuk menjadi kepala negara adalah agamanya, sifat dan tabiat, akhlak dan kecakapannya untuk memegang kekuasaan yang diberikan kepadanya, jadi bukanlah bangsa dan keturunannya.73
Sedangkan terkait azas negara, bagi Natsir tidak selalu demokrasi. Ia mengakui demokrasi itu baik, tetapi system kenegaraan Islam tidaklah mengandalkan semua urusannya kepada intrumen demokrasi, sebab demokrasi tidak kosong dari berbagai bahaya yang terkandung di dalamnya. Dan perjalanan demokrasi dari abad ke abad telah memperlihatkan beberapa sifatnya yang baik, akan tetapi juga melekat pada dirinya sifat-sifat berbahaya. Bagi Natsir “Islam adalah suatu pengertian , suatu paham, suatu begrip sendiri, yang mempunyai sifat-sifat sendiri pula . Islam tak usah “demokrasi 100 %, bukan pula otokrasi 100
%, Islam itu …… yah Islam.
Berpijak pada dua paradigma yang berseberangan dan berbeda antara Soekarno dan Mohammad Natsir tentang hubungan agama dan negara, untuk ukuran zaman itu, dalam penilaian beberapa pemikir politik Islam dewasa kini, semacam shock therapy bagi masyarakat ketika itu. Gagasan-gagasan Soekarno selain berani, juga melawan arus mainstream. Ia menentang “kekolotan “ kyai-kyai dan ulama pesantren, menentang purdah, membela sekularisasi politik dan membela langkah-langkah politik Kemal Attaturk terang-terangan.
Dalam pada itu pula, polemik Soekarno dengan Natsir memperlihatkan bahwa Soekarno mengagumi karya-karya kaum orientalis dan menerima secara membabi buta pemikiran kaum orientalis. Dengan kata lain, Soekarno terkesan
72 M. Natsir , ibid, hal. 443
73Ibid, hal. 448
dogmatis, menelas begitu saja pandangan orientalis tanpa sikap kritis. Edward Said74 mengatakan “ Orientalisme merupakan instrumen strategis imperialisme dan Kolonialisme selama berabad-abad. Melalui orientalisme itulah Dunia Islam dihancurkan. Inilah ironisme Soekarno itu, Ia menentang mati-matian imperia-lisme dan koloniaimperia-lisme di satu sisi, tapi di sisi lain menjadi pendukung panda-ngan kaum orientalis.
Kritik lain yang dialamatkan ke pemikiran Soekarno adalah kecendrungan mengakomodasi paradigma modernisme dan modernisasi secara serampangan tanpa kritisisme substansial. Ia misalnya menerima modernisme dan moderniasi sebagai sebuah proses sekularisasi dan westernisasi. Modernisasi dalam per-sfektif Soekarno adalah sekularisasi dan pembaratan masyarakat Islam. Dengan demikian ia mengabaikan berbagai kelemahan modernisme dan modernisasi sebagai sebuah paradigma berpikir.
Kajian pemikiran Soekarno dan Mohammad natsir, berkenaan dengan polemik hubungan agama dan negara di masa penjajahan dan awal kemerdekaan RI, memperlihatkan:
1. Secara substansial, polemik Soekarno- Natsir ini mewakili perbedaan pandangan dua golongan terkemuka di Indonesia, yaitu golongan nasionalis secular dan nasionalis islami
2. Kedua tokoh politik paling legendaries dalam sejarah Indonesia Kontemporer, sedikit banyak telah memberikan kontribusi intelektual permanen bagi perkembangan pemikiran politik Indonesia.
3. Polemik Soekarno- Natsir yang dilakukan secara demokratis itu, telah memberikan kesadaran dikalangan umat Islam saat itu, bahwa Islam tidaklah hanya sekadar sebagai suatu system teologi, tetapi juga mencakup misi kehidupan pribadi, social budaya dan kenegaraan.
74 Lihat Edward said, Orientalism, Western Conceptions of the Orient (Middlesex England, Penguin Book, 1991)