BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis
4.2.6 Pola Elemen Konteks Sosietal
Dari data tuturan yang telah dianalisis dengan elemen OOEMAUBICARA yang merujuk pada teori Poedjosoedarmo (1985) peneliti dapat membagi menjadi dua
64
kategori elemen, yakni elemen konteks sosietal yang wajib hadir dan elemen konteks sosietal yang tidak wajib hadir. Elemen konteks sosietal yang wajib hadir, antara lain O1: penutur, O2: mitra tutur, E: emosi, M: maksud dan tujuan percakapan, U: urutan tutur, B: bab yang dibicarakan, I: instrumen tutur atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pertuturan, C: cita rasa tutur, A: adegan tuturan. Sementara itu elemen konteks sosietal yang tidak wajib hadir dalam tuturan, yakni A: adanya O3 atau orang ketiga dan R: register.
4.2.6.1 Elemen O,O,E,M,U,B,I,C,A,R,A
Dari hasil analisis 10 data tuturan, ditemukan pola elemen konteks yang mengandung 11 pola elemen O,O,E,M,U,B,I,C,A,R,A menurut Poedjosoedarmo (1985) dalam (Baryadi, 2015: 24). O1: penutur, O2: mitra tutur, E: emosi, M: maksud dan tujuan percakapan, U: urutan tutur, B: bab yang dibicarakan, I: instrumen tutur atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pertuturan, C: cita rasa tutur, A: adegan tuturan, R: register, serta A: aturan dan norma kebahasaan.
Data Tuturan 4:
Um: Lha iki persembahan mlebune paramenta to? (melihat ke powerpoint dan
menanyai peserta tutur yang hadir saat rapat)
Sr: Iya, betul itu.
Um: Oo, persembahan itu masuknya ke paramenta ya, Suster? Sr: Iya, masuknya ke paramenta
(Konteks Tuturan: Pertuturan terjadi di Aula Timur Gereja pada hari Selasa, 4 Desember 2018 dalam pertemuan rapat panitia natal. Situasi serius namun santai. Um merupakan umat yang berjenis kelamin laki-laki dan merupakan seorang ketua panitia. Sementara itu Sr merupakan suster yang bertanggungjawab di bidang
65
paramenta. Pada tuturan tersebut terlihat bahwa kedudukan Sr lebih tinggi daripada Um, sehingga Um mengubah ragam bahasa dari bahasa Jawa menjadi bahasa Indonesia yang lebih sopan ketika berbicara dengan Sr. Dari tuturan tersebut Um memastikan alokasi dana persembahan yang masuk di anggaran paramenta. Terlihat pada tuturan, “Lha iki persembahan mlebune paramenta to?”(menanyai peserta tutur yang hadir saat rapat) yang kemudian disusul jawaban suster yang bertanggungjawab di bidangnya “Iya betul”)
Tuturan di atas berlangsung antara seorang suster (Sr) dengan seorang umat (Um) di Aula Timur Gereja Katolik Santo Petrus Kanisius. Pertuturan terjadi ketika sedang diadakan rapat panitia natal 2018 yang dimulai pada pukul 19.00 WIB. Suasana rapat serius namun santai. Tuturan sedang membicarakan mengenai alokasi uang persembahan dengan maksud untuk memastikan terkait dana persembahan apakah tergolong dalam pemasukan paramenta atau tidak. Pertuturan tersebut mengandung konteks sosietal, yakni O3 memeliki kedudukan dan kekuasaan dalam masyarakat (Rahardi, 2015). Dari data tuturan di atas terlihat bahwa umat mengubah ragam bahasa dari ragam bahasa Jawa menjadi ragam bahasa Indonesia ketika berbincang dengan suster. Hal tersebut membuktikan bahwa kedudukan sosial suster (Sr) lebih tinggi daripada umat (Um). Pertuturan yang semula menggunakan bahasa Jawa seketika berubah menjadi bahasa Indonesia ketika mendapatkan jawaban dari suster (Sr) yang bertutur menggunakan bahasa Indonesia, “Iya betul”.
Konteks tuturan di atas mengandung pola elemen konteks sosietal menurut Poedjosoedarmo (1985) dalam (Baryadi 2015: 24). Pola elemen konteks tersebut yakni OOEMUBICARA. O1 yakni penutur merupakan umat (Um1) berjenis kelamin laki-laki yang merupakan seorang ketua panitia natal, sedangkan O2 atau mitra tutur merupakan seorang suster (Sr) yang bertanggungjawab di bidang paramenta.
66
Pertuturan berlangsung dengan jelas dan tidak berbelit. Maksud tuturan adalah untuk memastikan terkait alokasi dana persembahan yang hendak digunakan sebagai dana paramenta.
Instumen atau sarana yang digunakan dalam pertuturan yakni ujaran lisan dan
power point yang berisi alokasi anggaran paramenta. Cita rasa tutur berlangsung
dengan menggunakan bahasa Indonesia formal ketika bertutur dengan suster. Adegan tutur berlangsung dalam suasana rapat yang serius namun santai dan bertempat di Aula Timur Gereja Katolik. Rapat tersebut diadakan pada malam hari. Register tutur terdapat pada kata paramenta yang berarti tata bunga altar dalam agama Katolik. Sementara itu aturan yang terdapat pada tuturan yakni penutur berbicara menggunakan bahasa Jawa santai ketika berbicara dengan panitia lain dan menggunakan bahasa Indonesia formal ketika berbicara dengan suster.
4.2.6.2 Elemen O,O,E,M,A,U,B,I,C,A,R,A
Dari 10 data tuturan yang telah dianalisis, peneliti menemukan 1 data tuturan yang mengandung elemen O,O,E,M,A,U,B,I,C,A,R,A. Elemen tersebut diperjelas pada data tuturan di bawah ini.
Data Tuturan 3:
Um1: Lanjut kita masuk ke Tim Kerja Dekorasi. Sr: Dekorasi natal.
Um2: E tadi, ini kan Mas Lukas kan belum pulang dari Jakarta. Sr: He’em.
67
Um1: Ooo, ini disini anggarannya 2000.000. (melihat ke layar power point) Um2: Kalau dulu tuh Mas Lukas nganggarinnya 15.
Sr: Dekorasi natal 2000.000 disesuaikan dengan harga sekarang. Um1: Oke, jadinya 2000.000 ya.
(Konteks tuturan: Tuturan berlangsung saat rapat panitia natal pada hari Selasa, 4 Desember di Aula Timur Gereja Santo Petrus Kanisius sekitar pukul 21.00. Um1 merupakan seorang ketua panitia natal berjenis kelamin laki-laki berusia kurang lebih 45 tahun. Um2 merupakan seorang wanita yang termasuk tim kerja dekorasi berusia kurang lebih 30 tahun dan Sr merupakan suster yang bertanggungjawab pada bidang paramenta maupun anggaran paramenta. Suasana rapat serius. Dalam pertuturan tersebut peserta tutur mengenal sosok Mas Lukas yang merupakan koordinator dekorasi natal bersama para OMK. Pertuturan membahas tentang anggaran dekorasi natal. Situasi rapat serius dan agak canggung, terlihat bahwa tuturan Um2 terbata-bata dan terdapat tambahan konsonan a, e, a, e ketika berbicara dengan suster dan Um1 yang merupakan ketua panitia. Um2 memberikan informasi terkait anggaran paramenta tahun lalu sebagai bahan pertimbangan. Tuturan Um1 pun lugas dan sesuai dengan fakta yakni berupa powerpoint berisi anggaran paramenta yang telah disusun oleh suster. Suster yang terlibat dalam pertuturan ini dikenal sebagai sosok yang tegas dan lugas, sehingga disegani oleh para umat. Beliau juga bertanggungjawab atas anggaran paramenta yang telah disusun yakni sejumlah 2000.000, karena disesuaikan dengan harga saat ini)
Data tuturan di atas mengandung pola elemen konteks OOEMAUBICARA berdasarkan teori Poedjosoedarmo (1985) dalam (Baryadi 2015: 24). O1 penutur merupakan seorang umat (Um1) berjenis kelamin laki-laki yang berusia sekitar 47 tahun dan menjabat sebagai ketua panitia. Sementara itu, O2 merupakan suster yang bertanggungjawab di bidang paramenta. Tuturan tersebut menimbulkan pertuturan O1 yang lugas dan jelas, sedangkan O3 yakni umat (Um2) terlihat canggung, terbata-bata serta adanya kata “e, e” di penjelasannya. Maksud dan tujuan percakapan yakni untuk memberikan pendapat dan kepastian mengenai anggaran tim kerja dekorasi dalam persiapan menuju perayaan natal 2018.
68
Tuturan tersebut melibatkan pihak lain atau O3 yakni umat (Um2) berjenis kelamin perempuan yang juga termasuk dalam tim kerja dekorasi. Urutan tutur pada data di atas terlihat bahwa kedudukan sosial O2 yang merupakan seorang suster (Sr) lebih tinggi daripada O1 dan O3 yang merupakan umat (Um1 dan Um2). Bab yang dibicarakan dalam pertuturan ini membicarakan mengenai anggaran paramenta. Instrumen atau sarana tutur yakni menggunakan ujaran lisan dan power point berisi anggaran yang telah disusun oleh suster. Citarasa tutur dalam pertuturan menggunakan ragam bahasa formal dengan campuran antara Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Adegan pertuturan terjadi di Aula Timur Gereja dalam situasi rapat untuk mempersiapkan perayaan natal 2018. Tuturan berlangsung serius dan sedikit canggung karena terdapat pihak lain yang terlihat gugup ketika menyampaikan penjelasan, sehingga menimbulkan tuturan e, e, e. register yang terdapat pada tuturan ini adalah istilah paramenta yang merupakan tata bunga altar. Aturan yang terlihat pada pertuturan yakni para partisipan tutur berbahasa santun.
4.2.6.3 Elemen O,O,E,M,U,B,I,C,A,A
Berdasarkan 10 data yang telah dianalisis, peneliti mendapatkan 2 elemen konteks sosietal yang terdapat pada tuturan antara rohaniwan dengan umat di Gereja Katolik Santo Petrus Kanisius Wonosari Gunungkidul. Adapun konteks tersebut dijabarkan dalam data berikut.
Data Tuturan 25:
69 Um: Ya, Romo. Ada apa, Mo?
Rm: Tolong bilangke ke Mas Domi, snacknya ditaruh situ wae.(berbisik) Um: Nggih, Romo.. Mas Domi yang mana ya, Mo?
Rm: Itu lho yang di Sekretariat
Um: Oh ya, Mo. Saya kesana sekarang..
(Konteks tuturan: Pertuturan berlangsung pada hari Minggu, 6 Januari 2019 di dalam Gereja Katolik Santo Petrus Kanisius Wonosari dalam acara pertemuan lintas agama Katolik dan Kristen. Penutur (Rm) merupakan seorang romo yang belum lama bertugas di Gereja Santo Petrus Kanisius Wonosari. Mitra tutur Um merupakan umat yang berjenis kelamin perempuan berusia sekitar 22 tahun dan merupakan salah satu OMK di Gereja. Situasi pertuturan canggung karena situasi penutur sedang menjadi seorang narasumber pada acara lintas agama pun terlihat. Terlihat bahwa mitra tutur sangat menghormati status sosial Romo, sehingga menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa yang sopan)
Data tuturan di atas mengandung pola elemen konteks OOEMUBICAA berdasarkan teori Poedjosoedarmo (1985) dalam (Baryadi 2015: 24). Adapaun elemen tutur tersebut yakni O1 merupakan seorang romo (Rm) dan O2 yakni seorang umat berjenis kelamin perempuan. Warna emosi yang terlihat yakni serius dan jelas karena penutur sedang menjadi narasumber dalam pertemuan lintas agama. Maksud dan tujuan pertuturan penutur meminta bantuan kepada salah satu umat agar memberi tahu Mas Domy mengenai snack yang akan dihidangkan. Umat tersebut merupakan anggota OMK yang menjadi peserta dalam pertemuan tersebut.
Urutan tutur diawali oleh O1 yakni merupakan seorang romo (Rm) yang memiliki status sosial lebih tinggi. O1 memulai pertuturan dengan Bahasa Indonesia, sehingga O2 yakni umat (Um) menanggapi percakapan selanjutnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia pula. Bab yang dibicarakan dalam pertuturan yakni
70
penutur menyuruh salah satu umat untuk mendekat dan menemui Mas Domy agar menyiapkan snack di samping Gereja. Dalam pertuturan ini instrumen atau sarana tutur yang digunakan yakni dengan ujaran lisan. Cita rasa tutur pertuturan menggunakan ragam Bahasa Indonesia formal dengan sedikit berbisik dan canggung karena situasi penutur sedang menjadi narasumber dalam pertemuan resmi. Adegan pertuturan berlangsung di gereja dalam acara lintas agama sekitar pukul 10.00 seusai misa pagi. Dalam pertuturan ini penutur (Rm) sedang menjadi narasumber dan berada di posisi paling depan, sehingga pertuturan dilakukan dengan berbisik dan menggunakan gerakan tubuh. Adegann tuturan umat berbicara menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa kromo kepada romo. Kedua partisipan tutur mengguankan bahasa santun.