B. Matriks SWOT
VI. ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN
2. Potensi dan Ancaman Masuknya Pendatang Baru
Masuknya pendatang baru dalam industri dapat menunjukkan tingkat persaingan yang akan dihadapi oleh suatu usaha dalam industri tersebut. Jika semakin banyak pendatang baru yang memasuki wilayah industri maka akan terjadi perebutan pangsa pasar yang ada. Sebaliknya dengan rendahnya ancaman pendatang baru dapat mengimplikasikan kesulitan untuk memasuki pasar cukup tinggi. Besarnya ancaman masuk pendatang baru bergantung pada hambatan yang ada untuk memasuki industri tersebut.
Beberapa kriteria sumber utama hambatan adalah skala ekonomi, diferensiasi produk, kebutuhan modal, keunggulan biaya, akses ke saluran distribusi, kurangnya pengalaman, tingginya kesetiaan pelanggan dan peraturan pemerintah. Usaha budidaya lele sangkuriang tidak hanya beroperasi pada skala usaha yang besar, tetapi dapat memulai usaha ini dari skala yang kecil. Setiap pembudidaya dapat melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan kapasitas produksi yang dimiliki tanpa harus mengikuti skala usaha pembenihan yang sudah ada. Secara legal masalah regulasi tidak begitu berpengaruh terhadap pendatang baru yang ingin memasuki bisnis ini karena pemerintah tidak membatasi atau menghambat kemungkinan masuknya perusahaan ke dalam industri dengan peraturan-peraturan tertentu.
Banyaknya pendatang baru ke dalam industri lele dapat dilihat dari meningkatnya permintaan terhadap lele. Permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertenu. Ada beberapa hal yang
mempengaruhi permintaan konsumen terhadap barang yang ditawarkan yaitu harga barang itu sendiri, tingkat pendapatan masyarakat, jumlah penduduk, selera konsumen, dan harga barang lain. Apabila faktor-faktor diatas dianggap tetap maka permintaan hanya ditentukan oleh harga. Apabila di suatu pasar terdapat permintaan yang banyak maka barang yang tersedia pada produsen tidak dapat memenuhi semua permintaan tersebut sehingga untuk membatasi jumlah pembelian produsen akan menaikkan harga jual produk tersebut.
Harga ikan lele sangkuriang lebih mahal dibandingkan lele dumbo, permintaan terhadap lele sangkuriang lebih banyak dibandingkan lele dumbo. Banyaknya jumlah permintaan ini tidak dibarengi dengan jumlah produksi yang dapat memenuhi permintaan. Sedikitnya jumlah lele sangkuriang yang ditawarkan oleh produsen menyebabkan harga dari benih lele sangkuriang tinggi. Hal ini tentu saja menjadi acuan bagi pendatang baru untuk membuka usahanya sebagai pembudidaya lele sangkuriang.
Benih ikan lele sangkuriang yang dihasilkan oleh setiap pembudidaya adalah sama (segi ukuran). Perbedaan yang terjadi antara pembudidaya penghasil benih lele sangkuriang dapat dilihat dari kualitas benih yang dihasilkan (ketahanan benih) dan kepemilikan sertifikat indukan lele sangkuriang yang menjamin bahwa perusahaan tersebut adalah pembudidaya lele sangkuriang. Kebutuhan modal untuk memulai usaha pembenihan lele sangkuriang tidak terlalu tinggi. Hal ini karena selain untuk membeli pakan, pupuk, dan obat-obatan serta induk dibutuhkan modal yang cukup besar untuk pembelian sarana prasrana pembenihan. Untuk akses ke saluran distribusi bagi perusahaan sendiri tidak menjadi ancaman karena dalam memasarkan benih lele sangkuriang perusahaan melakukannya secara langsung dimana konsumen datang sendiri ke tempat budidaya untuk membeli benih. Hal ini karena perusahaan sudah memiliki konsumen sendiri. Untuk pendatang baru dibutuhkan waktu lama untuk memperoleh pelanggan dan konsumen bagi produk yang dihasilkannya. Faktor keunggulan biaya adanya perusahaan yang muncul dengan keunggulan biaya yang lebih rendah dapat menjadi ancaman bagi perusahaan. akan tetapi bagi konsumen harga yang murah belum tentudiminati karena sebelum membeli benih lele sangkuriang biasanya konsumen akan meminta sertifikat kepemilikan induk lele
sangkuriang dan memeriksa tingkat keseragaman benih yang akan dibeli. Bagi konsumen sendiri keseragaman benih adalah hal yang penting agar produktifitas lele yang dihasilkan baik dimana tingkat kelangsungan hidup benih mencapai 90% atau lebih.
Hambatan nyata yang akan dihadapi oleh pendatang baru adalah pendatang baru yang ingin melakukan bisnis budidaya pembenihan memerlukan keterampilan dalam membudidayakan benih. Untuk memperoleh keahlian/keterampilan dalam membudidayakan lele sangkuriang maka pendatang baru dapat mengikuti pelatihan akan tetapi untuk mengikuti pelatihan si penadatang baru harus mengelurkan biaya. Kegiatan ini tentunya menambah pengeluaran bagi si pendatang baru sebelum memulai usahanya. Apabila keterampilan tidak dimiliki oleh pembudidaya maka akan menimbulkan kerugian bagi si pemilik dimana tingkat kematian benih yang dipelihara dapat meningkat. Tentu saja hal ini menjadi hambatan bagi pendatang baru untuk masuk ke dalam industri lele. Dibutuhkan waktu lama dan ketekunan bagi pendatang baru yang ingin memulai pembenihan lele sangkuriang karena perbedaan lokasi budidaya dengan tempat dilakukannya pelatihan (apabila pendatang baru mengikutinya) dapat memberikan masalah yang berbeda bagi kegiatan budidaya yaitu adanya penyakit dan hama yang menyerang benih yang dibudidayakan.
3. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli
Kualitas produk dan pelayanan, informasi produk, jumlah pembeli, serta kemudahan konsumen beralih ke produk pesaing yang sejenis maupun substitusinya adalah faktor-faktor yang berpengaruh kuat terhadap kekuatan tawar menawar pembeli. Benih lele sangkuriang adalah salah satu komoditi pertanian dimana satu sisi sangat dibutuhkan tetapi di sisi lain permintaannya bersifat tidak elastis (harga tidak berpengaruh besar terhadap permintaan). Dalam hal ini benih lele sangkuriang adalah input bagi petani pembesaran oleh karena itu benih lele sangkuriang merupakan produk primer bagi petani pembesaran maka hukum di atas berlaku bagi permintaan dan penawaran benih lele sangkuriang. Oleh karena itu besar kemungkinan produsen komoditi pertanian di satu sisi akan banyak mengalami kerugian karena harga tidak berpengaruh besar pada permintaan, di sisi lain produsen akan bisa semena-mena menaikkan harga komoditinya karena
elastisitasnya bersifat inelastis sehingga akan menguntungkan bila menaikkan harga dengan mengurangi penjualan atau produksi(Puttong, 2002). Oleh karena itu untuk mengatasi hal ini maka pemerintah ikut serta dalam penentuan harga agar konsumen dan produsen tidak rugi.
Dari sini diketahui bahwa kekuatan tawar-menawar pembeli tidak dapat berpengaruh kepada perusahaan karena harga yang ditawarkan oleh produsen adalah harga pasar. Meskipun harga pasar telah ditetapkan oleh pemerintah masih ada juga produsen lain yang menjual di bawah harga pasar. Akan tetapi konsumen dalam hal ini petani pembesaran tidak hanya memperhatikan harga yang ditawarkan oleh produsen tapi memperhatikan juga kualitas yang ditawarkan oleh konsumen. Jadi dengan harga benih Rp 150 untuk ukuran 4-7 cm konsumen juga melihat kualitas benih tersebut dari keseragaman ukuran, ketahanan benih dan kondisi fisik benih.
Pembeli benih ikan lele sangkuriang terkonsentrasi untuk daerah Jabodetabek. Bagi pembeli mutu produk adalah yang paling penting terutama untuk petani pembesaran dimana petani pembesaran mengharapkan benih yang memiliki ketahanan yang tinggi. Ketahanan benih yang tinggi akan mengurangi tingkat kematian benih sehingga jumlah lele yang dipanen sesuai dengan target yang diharapkan. Keunggulan ini diperoleh karena kegiatan budidaya yang dilakukan tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat menurunkan daya tahan benih terhadap penyakit disertai juga dengan penggunaan indukan yang berkualitas yang diperoleh perusahaan dari BBPBAT.
Keunggulan yang dimiliki benih inilah yang membuat kekuatan tawar menawar pembeli tidak dapat mempengaruhi perusahaan karena untuk memperoleh benih yang unggul pada saat sekarang ini sulit. Oleh karena itu tidak diragukan lagi jenis benih yang dihasilkan oleh Cahaya Kita. Agar konsumen merasa tertarik dan percaya bahwa benih yang dihasilkan adalah benih lele sangkuriang maka pembenih harus memiliki sertifikat induk karena sulit untuk membedakan lele sangkuriang dan lele dumbo. Antara pembeli dan perusahaan memiliki kesepakatan bahwa setiap kematian benih akan diganti oleh perusahaan sebesar 50% dan pembeli memperoleh tambahan benih sebanyak 30 ekor benih setiap kali pembelian.