MEDIA DAN STRATEGI PEMBELAJARAN
G. POTENSI TELEVISI PENDIDIKAN
Televisi pendidikan adalah penggunaan program video yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu tanpa melihat siapa yang menyiarkannya. Televisi pendidikan tidak sekedar menghibur tetapi yang paling penting adalah mendidik.
Berdasarkan pengertian di atas dapat diartikan bahwa televisi pendidikan selain berpotensial dalam mendidik juga berpotensial dalam menghibur, biasanya orang yang memperoleh pengetahuan melalui televisi pendidikan lebih mudah memahami dan gampang mengingat karna secara tidak langsung penonton tersebut melihat serta mendengar terkait materi atau pessan yang disampaikan dalam program tersebut.
Televisi Pendidikan adalah medium yang sangat bagus untuk membagi informasi dan bahan pendidikan kepada masyarakat secara luas. Teknologi terbaru termasuk komputer dan Internet sudah menjadi pilihan utama untuk teknologi pendidikan, dan ada beberapa orang yang kira televisi adalah teknologi lama. Tetapi, potensi Televisi Pendidikan untuk membawa pendidikan ke semua masyarakat di mana mereka duduk, belum begitu tercapai.
Televisi pendidikan Indonesia pada saat akan ditayangkan banyak masyarakat yang mengkhawatir kehadirannya, apalagi
program ini disiarkan pada pagi hari. Banyak sekali alasan mereka terkait penerimaan siaran televisi pendidikan Indonesia diantaranya yaitu: pertama, program ini dirasa mendadak apalagi lembaga yang menangani program ini sebelumnya tidak terkenal bergerak dalam bidang media elektronik. kedua, program ini di tayangkan pada pagi hari maka kebanyakan orang tidak bisa melihat program ini karna sebagian besar orang pagi hari pergi untuk bekerja jadi tidak bisa menonton televisi pendidikan sehingga percuma bila program ini diselenggarakan. Ketiga, masyarakat telah terpola menerima medium telivisi sebagai medium hiburan, jadi pesan pendidikan akan kurang mendapat perhatian. Namun demikian banyak potensi lain terkait televisi pendidikan misalnya : perubahan pola hidup dan kesadaran baru.
1. Perubahan Pola Hidup
Banyak masyarakat yang beranggapan jika ada televisi pendidikan Indonesia akan merubah pola hidup mereka. Baik Anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa pasti akan merubah pola hidupnya, mereka akan lebih senang menonton televisi dibandingkan harus melakukan kegiatan seperti sekolah atau lain sebagainya, mereka beranggapan pendidikan bisa didapat melalui televisi kenapa harus repot-repot sekolah. Perubahan pola hidup ini nampaknya berlaku universal.
Sekarang ini setelah televisi pendidikan Indonesia berjalan selama setahun, kesangsian dan kehawatiran yang telah disampaikan akhirnya perlahan memudar. Masyarakat sudah memulai merubah sudut pandangnya yang semula dari asfek negatif, sekarang lebih condong ke aspek positif. Jika kalau semula televisi dipersalahkan karena menyebabkan anak enggan ke Sekolah, kini masyarakat mulai menyadari bahwa mungkin sekolahlah yang salah karena tidak berhasil memberikan sesuatu yang menarik dan merangsang anak. Gurupun mulai menyadari bahwa pengetahuan dan
kemampuannya perlu ditingkatkan terus–menerus, agar dapat mengimbangi jiwa siswa-siswa yang makin kritis.
2. Kesadaran Baru
Sebagaimana media massa yang lain, televisi mempunyai tiga fungsi, yaitu memberi informasi, memasyarakatkan, dan menggerakkan. Memberi informasi yang menyediakan data dan satu pesan yang diperlukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan.
Fungsi memsyarakatkan adalah penyampaian sesuatu sistem kebudayaan serta penanaman nilai dan norma yang memungkinan seseorang berpartisipasi aktif dalam berbagai kelompok sosial. Biasanya dengan adanya program–program tentang budaya maka masyarakat lebih mudah mengerti akan kebudayaan setelah menonton program tersebut dan lebih mudah mengingatnya.
Kemampuan televisi sebagai media massa untuk menggerakkan masyarakat sangat besar. Contohnya saja jika adanya iklan-iklan yang menayangkan produk tertentu telah terbukti efektif untuk menggerakkan konsumen untuk membeli produk tersebut.
Masyarakat kita juga perlu dikembangkan kearah masyarakat yang gemar belajar, yaitu dimana setiap warga masyarakat senantiasa siaga untuk melakukan tindak belajar. Untuk itu perlu diusahakan agar berbagai program tersedia dan tersebar sesuai dengan keperluan, kemampuan, dan kesempatan para warga belajar serta mempunyai daya pikat dan mengandung kesegaran. Belajar itu sendiri berlangsung seumur hidup, jadi diperlukan bahan belajar pada semua tingkatan usia.
Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat perlu diimbangi dengan pengajaran gerak cepat tetapi tepat. Juga menuntut perembangan keahlian atau spesialisasi. Tidak
hanya guru yang memegang penuh tentang pendidikan melainkan apabila ada suatu keahlian yang dapat dimanfaatkan dan diikut sertakan dalam belajar-mengajar itupun bisa membantu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.
Berbagai dasar pertimbangan di atas menunjukkan betapa besar potensi yang dikandung media telivisi untuk pendidikan. Banyak tuntutan pendidikan yang tidak akan terjawab dengan cara tradisional dengan mengandalkan pada jalur pendidikan sekolah, karena itu harus didukung dengan pendidikan di luar sekolah, dengan menggunakan televisi sebagai sumber untuk belajar dan pembelajaran.
Para ilmuan berpendapat bahwa: Dalam kaitannya
dengan potensi televsi sebagai media
pendidikan/pembelajaran Brown (1977) berpendapat bahwa televisi mampu memberikan rangsangan, mem-bawa serta, memicu, membangkitkan, mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu, memberikan saran-saran, memberikan warna, mengajar, menghibur, mem-perkuat, menggiatkan, menyampaikan pengaruh dari orang lain, memperkenalkan berbagai identitas atau cirri sesuatu, memberikan contoh, proses internalisasi tingkah laku, berbagai bentuk partisipasi, penyesuaian diri dan lain-lain.
Selain itu, media televisi juga merupakan wahana yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan pola fikir, sikap dan tingkah laku disamping menambah pengetahuan dan memperluas wawasan masyarakat (Harjoko, 1994). Ahli lain menambahkan bahwa siaran televisi memiliki daya penetrasi yang sangat kuat terhadap kehidupan manusia sehingga ia mampu merubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dengan jangkauannya yang begitu luas, siaran televisi memiliki potensi
yang luar biasa untuk dimanfaatkan semaksimal bagi kepentingan pendidikan/pembelajaran (Widarto, 1994).
Dari hasil penelitiannya (Dwyer, 1978) melaporkan bahwa 94% materi pendidikan/ pembelajaran diserap oleh peserta didik melalui indera pengilahatan dan pendengaran. Sedangkan 6% sisanya melalui indera pengecap, peraba dan penciuman.
Dari berbagai pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa televisi memiliki potensi yang lebih besar dalam mempengaruhi penontonnya, maka jika digunakan untuk menyalurkan pendidikan, televisi merupakan media yang tepat.
Menurut saya televisi pendidikan itu sangat berpengruh dalam sistem pendidikam di mana televisi di dalamnya terdapat sebuah pesan pendidikan kehadiran televisi itu juga memiliki dampak negatif tersendri. Tetapi selain dari sisi negatifnya ada juga sisi positifnya contohnya masyarakat juga memberikan manfaat tersendiri karena adanya sebuah informasi lebiah banyak dan lebih luas jangkauanya. Terlepas dari segi pengaruh positif atau negatif, pada intinya media televisi menjadi tolak ukur dan cerminan budaya tontonan bagi pemirsa dalam era informasi dan komunikasi yang semakin berkembang dengan pesat, sehingga samapai saat ini pun televisi masih menjadi media yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.