• Tidak ada hasil yang ditemukan

PersonalSistem Norma

D. Profesionalisme dan Karakteristik Pendidik Profesional

Kata profesionalisme berasal dari kata professionalism yang merupakan bentuk lain dari kata profession.75 Dalam Kamus Inggris Indonesia, “profession berarti pekerjaan”. Kunandar, dalam buku yang berjudul Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menyebut bahwa profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu.76

Adapun Arifin mengemukakan bahwa profession mengandung arti yang sama dengan kata occupation yang berarti pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus.77 Martinis Yamin memaknai profesi sebagai seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas.78 Kusnandar mengemukakan bahwa Profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang.79 Selanjutnya Profesionalisme menurut Mohamad Surya adalah sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.80 Sementara Sudarwan Danim mengidentifikasi profesionalisme sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan

75 John M. Echols dan Hassan Shadili, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia, 1996), Cet. Ke-23, h. 44

76 Kusnandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2007),Cet. Ke-1, h. 45

77 Arifin, Kapita Selekta Pendidikan: Islam dan Umum (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. Ke-3, h. 105.

78 Yamin, Martinis, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007, Cet. Ke-2, h. 3.

79 Kusnandar, Guru Profesional., h.46

80 Muhammad Surya, Organisasi profesi, Kode Etik dan Dewan Kehormatan Guru 2007 h.214

profesinya itu.81 Kemudian Freidson dalam Syaiful Sagala mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan profesionalisme adalah “sebagai komitmen untuk ide-ide professional dan karir.82

Secara etimologis, kata profesi mengandung dua pengertian. Pertama, profesi itu menunjukkan dan mengungkapkan suatu kepercayaan (to profess

means to trust), bahkan suatu keyakinan (to belief in) atau suatu kebenaran (ajaran

agama) atau kredibilitas seseorang Kedua, profesi itu dapat pula menunjukkan dan mengungkapkan suatu pekerjaan atau urusan tertentu. Hal ini senada dengan pengertian profesi dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current

English bahwa profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan

tinggi (kepada pengembannya) dalam liberal arts atau science, dan biasanya meliputi pekerjaan mental dan bukan pekerjaan manual, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang dan sebagainya.83

Muhammad Yunus menjelaskan bahwa profesi adalah suatu lapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan yang ahli . Pengertian profesi ini tersirat makna bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang mengacu pada pelayanan yang ahli.84 Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan kompetensi intelektualitas, sikap dan keterampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan secara akademis. Dengan demikian, Kusnandar mengemukakan profesi pendidik adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Pendidik sebagai profesi berarti pendidik sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan)

81 Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme

Tenaga Kepandidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2002), h.23

82 Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer (Bandung: Alfabeta, 2002), h.12

83 AS Hornby, et.al., Oxford Advanced., h.761.

84 M. Yunus, Kiprah Baru Profesi Guru Indonsia Wawasan Metodologi Pengajaran

dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna.

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan kompetensi intelektualitas, sikap dan keterampilan tertentu yang diperolah melalui proses pendidikan secara akademis. Dengan demikian, Kusnandar mengemukakan profesi pendidik adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Pendidik sebagai profesi berarti pendidik sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta berhasil guna.85

Adapun kata profesional, Uzer Usman memberikan suatu kesimpulan bahwa suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Kata profesional itu sendiri berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti pendidik, dokter, hakim dan sebagainya. Adapun mengenai pengertian profesionalisme itu sendiri adalah, suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus.86 Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.

Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian pendidik profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai pendidik dengan kemampuan yang maksimal. Tilaar menjelaskan pula bahwa seorang professional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan

85 Kusnandar, Guru Profesional., h.46.

86 M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), Cet. Ke-20, h. 14-15.

profesinya. Seorang profesional menjalankan kegiatannya berdasarkan profesionalisme dan bukan secara amatir. Profesionalisme bertentangan dengan amatirisme. Seorang profesional akan terus-menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan.87

Sebutan “pendidik professional” mengacu kepada pendidik yang telah mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yang berlaku ,baik dalam kaitan dengan jabatan maupun latar belakang pendidikan formalnya. Profesionalisme pendidik merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Di samping itu pendidik profesional juga merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan pendidik dan memiliki tingkat master serta telah mendapat ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas-kelas besar.

Sementara itu, pendidik yang profesional adalah pendidik yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidik profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai pendidik dengan kemampuan maksimal. Pendidik yang profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.

Profesionalisme menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Jadi dapat disimpulkan bahwa profesionalisme adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dapat tercapai secara berkesinambungan. Pendidik profesional adalah seseorang yang memiliki jabatan pendidik berdasarkan keilmuan dan keahliannya dengan mengabdikan diri sepenuhnya atas pekerjaan yang dipilihnya,

dengan selalu berusahan mengembangkan diri dan keahlian yang berkaitan dengan jabatan pendidiknya.

Dalam perspektif pendidikan Islam, sikap profesionalisme dapat diasah dimulai dengan sebuah kesadaran dan niat yang benar. Niat yang salah akan turut mempengaruhi kinerja seseorang dan mengakibatkan kerja yang asal-asalan, tidak sempurna dan cenderung apa adanya, sehingga kerjanya tidak professional. Seorang yang profesional adalah seorang yang tekun, sabar dan tahan godaan, senantiasa dinamis dan mencari kreativitas baru dalam berdakwah, karena memang ia tidak akan pernah setuju dan rela jika dakwah ini vakum, berjalan di tempat dan tidak mendapat tempat di hati umat. Contoh paling fenomenal adalah nabi Nuh As. Di tengah penolakan kaumnya, ia tetap mencari terobosan baru dalam berdakwah agar keberlangsungan dakwah bisa dipertahankan. Ia tetap komit dan tegar, bahkan mencari alternatif pembelajaran yang beragam sesuai dengan kondisi dan tuntutan kaumnya: sebagaimana dikisah dalam Alquran surat Nuh ayat 6-9:

Artinya: Tetapi seruanku tidak menambah iman mereka, justru mereka lari dari kebenaran. Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya ke wajahnya dan mereka tetap meningkari dan sangat menyombongkan diri. Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan diam-diam.88

Ayat di atas menunjukkan betapa gigihnya Nabi Nuh dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang utusan Allah. Ini sekaligus menjadi pelajaran tersendiri terutama bagai pendidik agar tetap menjaga profesionalismenya dengan tetap menjalankan tugas kependidikan. Kegigihan Nabi Nuh di atas berasal dari niat dan visi yang benar, ini artinya pendidik harus pula memantapkan niat dan visi kependidikan yang matang agar nantinya setiap tindakan yang dilakukan dapat mencerminkan sikap kegigihan dan profesionalisme.

Untuk melihat karakteristik pendidik profesional, kendati bisa dilihat dari banyak angle, namun menurut penulis, penguasaan terhadap empat kompetensi tersebut merupakan syarat pokok yang harus dipenuhi agar seorang pendidik bisa dikatakan profesional. Kompetensi yang pertama ialah kompetensi pedagogik, meliputi menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, social, kultural, emosional dan intelektual. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.89

Kompetensi kepribadian menuntut pendidik untuk mampu berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia. Menampilkan diri sebagai ilmuwan Muslim Indonesia. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan

berwibawa. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi pendidik dan rasa percaya diri. Menjunjung tinggi kode etik pendidik.90

Kompetensi sosial meliputi sikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesame pendidik, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman sosial budaya. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.91

Kompetensi profesional mengharuskan pendidik untuk menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif. Mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.92