Komunitas Warga Peduli Lingkungan merupakan komunitas yang dibentuk oleh Sunardhi Yogantara. Pak Yoga, begitu beliau akrab disapa mengaku prihatin dengan kondisi lingkungan DAS Citarum yang kian memburuk. Terbentuknya Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL) diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan DAS Citarum yang lebih baik. Masalah utama yang dihadapi oleh lingkungan DAS Citarum adalah tidak dikelolanya sampah padat, sehingga mencemari sungai. Sungai terpanjang di Jawa Barat ini bahkan di nobatkan sebagai sungai terkotor di dunia oleh suatu lembaga survei. Padahal, Sungai Citarum telah menjadi pasokan air utama bagi kebutuhan air minum, pertanian, industri, pembangkit listrik dan kegiatan lainnya. Pak Yoga menilai bahwa menurunya derajat kesehatan dan kualitas lingkungan berakar dari perilaku dan kebiasaan masyarakat dalam pemanfaatan Sungai Citarum. Lahirnya Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL) diharapkan menjadi wadah bagi masyarakat wilayah DAS Citarum dalam menjawab persoalan lingkungan hidup yang terjadi di sekitar mereka. WPL menjadi sebuah kelompok masyarakat yang dibentuk dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat sekitar DAS Citarum dengan upaya menginisiasi program dan aksi nyata bagi lingkungan berlandaskan perubahan perilaku pada masyarakat. WPL mempunyai visi yang berbunyi “Terwujudnya kualitas lingkungan pemukiman DAS Citarum yang bersih, sehat dan produktif”. WPL yakin dengan melibatkan peran serta masyarakat pada setiap kegiatan WPL akan lebih meningkatkan keberlanjutan dari program yang diusung. Pada tahun 2000, WPL melaksanakan gerakan lingkungan pertamanya di Kampung Bojongbuah, Desa Pangauban, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah. Dalam kegiatan ini, WPL memberikan pedoman awal bahwa keberhasilan dalam peningkatan kualitas lingkungan DAS Citarum sangat ditentukan oleh partisipasi dan keaktifan dari masyarakat setempat. Gerakan WPL diharapkan mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta pada setiap proses. Mulai dari proses identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi dan monitoring program. WPL juga berupaya menguatkan kapasitas kelompok masyarakat agar mampu merespon dan mencari solusi sendiri atas masalah lingkungan yang terjadi di sekitar mereka. Masyarakat ditempatkan sebagai stakeholder yang aktif dalam setiap kegiatan yanng dilakukan. Pada awal pelaksanaan program, WPL melakukan aksi nyata berupa :
1. Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dengan masyarakat untuk berdialog mengenai pentingnya mengembangkan rasa peduli lingkungan. Berusaha menyetarakan beragam elemen masyarakat lokal di berbagai lokasi pemukiman
2. Membuat dan menyebarkan beragam materi publikasi kampanye seperti brosur, leaflet, buletin dsb.
3. Melakukan dialog dan diskusi dengan guru/pendidik di sekolah yang berlokasi sepanjang DAS Citarum untuk menanamkan dan memperkenalkan pendidikan peduli lingkungan bagi peserta didik
4. Melakukan uji coba permodelan pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat melalui optimalisasi pemilahan, pemanfaatan, dan daur ulang. 5. Melakukan upaya bersama masyarakat dalam perbaikan saran permukiman
dalam skala kecil seperti perbaikan gorong-gorong, gang dan saluran pembungan/drainase.
Kegiatan-kegiatan kecil diatas diharapkan mampu menjembatani komunitas WPL untuk terus berperan dalam penyelamatan kondisi DAS Citarum. Minimalnya WPL mampu merubah perilaku masyarakat untuk tidak terus memperburuk kondisi DAS Citarum.
Sejak tahun 2007, WPL telah memiliki banyak anak program yang salah satunya dilakukan di Kampung Dara Ulin dan Kampung Cilebak sebagai tempat penelitian. Gerakan akar rumput WPL semakin banyak merambah di berbagai sektor DAS Citarum. Bukan hanya soal sampah yang menjadi sasaran WPL, namun juga mengenai infrastrukttur pendukung.
Kegiatan Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL) Pengelolaan Sampah Kolektif Mandiri
Kampung Bojongbuah, Desa Pangauban menjadi desa percobaan kegiatan pengelolaan sampah padat secara kolektif di tahun 2001. Kegiatan ini diawali dengan mengadakan sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah di Sungai Citarum. Setahun kemudian, WPL mengembangkan sistem pengelolaan sampah dengan mengurangi sumber sampah. Pengurangan sumber sampah yang dibuang dimulai dengan memilah jenis sampah dan melakukan daur ulang. Kampanye dan pengelolaan sampah ini sudah dilakukan oleh 80 KK di Kampung Bojongbuah dengan menghasilkan produk berupa kompos dan kerajinan daur ulang. Terjadi perubahan pola perilaku masyarakat yang mulanya menjadikan Sungai Citarum sebagai TPS, kini tidak lagi. Masyarakat sudah memiliki TPA untuk menampung sampah mereka.
Keberhasilan program pengelolaan sampah kolektif mandiri di wilayah Kampung Bojongbuah, WPL menjalankan program sejenis di Cikambuy Hilir dan Kampung Penclut dengan sasaran sebanyak 700 KK. Konsep yang digunakan dalam kegiatan ini adalah “Kawasan Bersih Warga Mandiri” yakni sebuah pengelolaan sampah kolektif yang direncanakan, dioperasikan dan dibiayai oleh masyarakat sendiri. WPL sebagai fasilitator dalam kegiatan ini berupaya untuk melakukan sosialisasi, penyiapan masyarakat sampai penguatan kapasitas kelompok pengelola.
Pancapaian program ini di tahun 2007 antara lain sudah memiliki sarana pemilahan, pengomposan dan mesin pencacah/bedeng kerja. Adanya sarana yang mendukung, anggota komunitas mampu menghasilkan produk berupa kompos, cacahan sampah plastik, dan aneka kerajinan daur ulang. Pemilahan sampah rumah tangga masih tergolong fluktuatif. Sudah ada kepengurusan yang jelas terkait program ini, namun masih perlu penguatan kapasitas. Untuk itu, tahun- tahun berikutnya komunitas WPL bersama dengan masyarakat memiliki rencana tindak lanjut, antara lain :
1. Memperbaiki dan menyempurnakan sarana dan tempat pengelolaan, perapungan tungku pembakaran, penataan lahan pengelolaan dan perbaikan sarana pengomposan
2. Sosialisasi kembali pengelolaan sampah dan revitalisasi program 3. Penguatan organisasi pengelola melalui pelatihan di tiga lokasi
4. Peningkatan usaha ekonomi sampah dengan optimalisasi penggunaan sampah bagi daur ulang melalui komposting dan kerajinan daur ulang 5. Membuka outlet yang menjual hasil produk daur ulang.
Program pengelolaan sampah kolektif mandiri ini didukung oleh berbagai pihak. Pendanaan program ini merupakan hasil dari iuran warga, dana hibah dari bagian pemukiman & LH Yansos-Setda Provinsi Jawa Barat serta Asia Foundation. Biotope
Proyek normalisasi Sungai Citarum di tahun 1986 telah menyisakan wilayah sungai yang terpotong dari induknya (oxbow). Terdapat sekurangnya sebelas titik/kawasan Citarum lama berupa oxbow Citarum bagian Hulu. Oxbow memiliki aset konservasi yang kaya akan flora dan fauna, menjadi muara drainase pemukiman, sungai kecil dan mata air serta kawasan penahan limpasan air ketika debit air Citarum tinggi. Wilayah oxbow ini justru menjadi tempat pembuangan limbah dan sampah bagi masyarakat sekitar. Mencegah kerusakan aset konservasi ini, WPL bersama warga sekitar oxbow melakukan penanaman produktif dan pelindung untuk memperkaya vegetasi disekitar kawasan dan membentuk kelompok pengelola kawasan.
Konsep biotop merupakan upaya menjadikan kawasan Citarum lama dapat bermanfaat secara ekonomi namun tidak merusak keutuhan ekosistem yang sudah ada. Pertama kali kegiatan ini dilakukan di sisa sudetan kecil sungai Citarum di Bojongtanjung, Desa Sangkanhurip yang dicanangkan oleh Gubernur Jawa Barat di tahun 2003. Replikasi program ini dilakukan di Dara Ulin, Desa Nanjung dan Mahmud yang diarahkan menjadi kawasan ekowisata. Tujuan penting diadakannya program ini adalah mengembalikan piramida ekosistem ekosistem kawasan serta menggali potensi ekonomi yanng ada. Dalam pelaksanaannya, dilakukan kajian kawasan sungai Citarum lama secara partisipatif untuk menentukan arah kegiatan/pengelolaannya. Disetiap kawasan oxbow berbeda arahan. Di Bojongtanjung misalnya diarahkan ke penanaman hutan kembali dengan membangun tegakan produktif (MPTS) yang dikelola oleh masyarakat.
Ditahun 2007, sudah ada kajian sosial bagi program biotop ini. kajian sosial ini antara lain membuat peta dasar lokasi oxbow oleh masyarakat secara partisipatif. Kajian ini pun mampu membuat Gubernur mengeluarkan Surat Keputusan (SK) terkait pengelolaan kawasan biotop oleh masyarakat yang dilimpahkan ke Kepala Desa melalui perencanaan program biotop sebagai bagian dari program Citarum Bergetar. Melalui program ini bagian Hulu sudah ditanami dengan 2 400 pohon tegakan produktif dan dikembangkannya 9 000 ekor ikan dari berbagai jenis. Kemajuan program biotop ini membuat WPL membuat rencana tindak lanjut berupa :
2. Pembentukan dan penguatan kelompok masyarakat yang mengelola
3. Sosialisasi dan pendidikan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem terus dilakukan
4. Serta perwujudan manfaatan ekonomi kawasan bagi masyarakat.
Pendanaan dalam program ini berasal dari Gubernur Jawa Barat, BPLHD Provinsi Jawa Barat serta Dinas Lingkungan Hidup Kab. Bandung. Program ini juga akan diinisiasi di Kampung Mahmud Desa Mekar Rahayu dan Kampung Dara Ulin Desa Nanjung di Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan konsep biotop yang berbeda.
Pembangunan sistem sanitasi berbasis masyarakat
Pembangunan sistem sanitasi ini dilakukan dengan membangun sarana pembuangan limbah tinja skala kolektif (septic tank kolektif). Komunitas WPL berupaya untuk melakukan penyehatan lingkungan sanitasi masyarakat yang masih buruk. Program ini dilakukan dengan metode PHAST (Participatory Higiens and Sanitation Transformation) secara partisipatif mulai dari penentuan lokasi, penempatan jalur pemipaan, penyepakatan sistem sampai dengan penyepakatan iuran masyarakat. Upaya pertama yang dilakukan adalah dengan mempersiapkan masyarakat dengan membangun kesadaran dan pengetahuan serta inisiatif masyarakat akan pentingnya memperbaiki perilaku dan mengorganisir masalah sanitasi setempat.
Pada tahun 2005, WPL bekerjasama dengan Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Provinsi Jawa Barat, dan program ESP-USAID berupaya membangun fasilitas septic tank kolektif bagi masyarakat di dua pemukiman di bantaran DAS Citarum. Tujuan dari program ini sebagai upaya meningkatkan pemahaman akan pentingnya hidup sehat dan bersih, kesediaan merubah perilaku serta mengorganisir masyarakat untuk memanfaatkan dan mengelola sarana septic tank kolektif. Kampung Dara Ulin dan Kampung Cilebak menjadi dua pemukiman yang dipilih untuk menerima program septic tank kolektif. Dara Ulin merupakan pemukiman dengan hampir 50 persen masyarakatnya tidak memiliki jamban dan septic tank, mereka memiliki kebiasaan buruk yaitu Buang Air Besar (BAB) di sungai dan kebun. Di Kampung Cilebak, masyarakat sudah banyak yang memiliki septic tank namun masih belum memenuhi standar. Semakin padatnya pemukiman ini membuat masyarakat memiliki septic tank yang terlalu dekat dengan sumber air, sehingga berpotensi untuk mencemari sumber air bersih yang mereka gunakan sehari-hari. Hal tersebutlah yang membuat komunitas WPL berupaya mengajak masyarakat untuk membangun fasilitas septic tank kolektif dengan kapasitas 150 KK dan 60 KK di masing-masing pemukiman.
Pada tahun 2007, WPL bersama masyarakat mampu membentuk pengurus fasilitas septic tank kolektif, mendata penerima manfaat sampau dengan membentuk aturan dan tata tertib. Terbangunnya sarana septik tank kolektif di Dara Ulin dan Penclut masing-masing dengan kapasitas 1000 jiwa termasuk instalasi pipa induk dan bak pembagi sambungan di kedua wilayah pemukiman. Program ini masih berlum menjalankan kerja sama yang jelas dengan Dinas terkait operasional dan pemeliharaan. Program septic tank kolektif ini masih perlu perbaikan program seperti penguatan kapasitas kelompok dan tim pengelola
dalam bidang operasional dan manajemen. Masih banyak hal yang bisa dievaluasi untuk kemajuan dari program tersebut, salah satunya membangun kembali kepengurusan program septic tank kolektif di wilayah Kampung Cilebak.
Pada tahun 2007 sampai dengan 2008, WPL mencoba melaksanakan kegiatan perbaikan sanitasi dan pengelolaan air bersih skala kecil di permukiman kumuh di sekitar sungai Citarum di Cilebak. Selain melakukan intervensi penyiapan masyarakat, bekerja sama dengan masyarakat setempat akan pula di coba penyediaan sarana pengelolaan sampah terpadu kolektif, sarana pengolah tinja dengan bio-digester serta instalasi penyediaan air bersih skala kecil. Program yang merupakan demonstration project ini merupakan kerjasama dengan South East Asia-Urban Environmental Management Application kerjasama CIDA-AIT Thailand.
Rehabilitasi lahan kritis-program bank pohon
Bank pohon merupakan program kolaborasi antara WPL dan Kementerian Lingkungan Hidup sebagai upaya rehabilitasi lahan kritis. Pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah kajian dan PRA (participatory Rural Appraisal). Pendekatan ini memungkinkan munculnya inisiatif dan inovasi dari petani lokal serta keterlibatan masyarakat secara optimal dalam mengatasi persoalan lahan kritis. Program ini dilakukan di Kampung Kiara Payung, Desa Banjaran Wetan dan Kampung Pasir Peundeuy Desa Mekar Jaya, Kecamatan Banjaran dilahan dengan total 50 Ha. Program ini dimulai tahun 2004 di Kiara Payung lalu dijalankan di Pasir Peundeuy dua tahun kemudian. Program yang dilaksanakan berkat adaya dana dari PT. Kaltim Prima Coal ini, diikuti oleh 105 petani untuk diajak bersama memulihkan lahan kritis dengan menanam tanaman kopi pada lahan seluas 30 Ha. Pola Bank pohon yang dilakukan WPL bukan semata program penyediaan bibit tanaman namun lebih melihat kesungguhan masyarakat untuk ikut serta dalam program rehabilitasi lahan kritis dan mendukung masyarakat sebagai pemeran utama program.
Di tahun 2007, masyarakat dan WPL sudah mempu menanam 6 800 pohon kopi di Desa Banjara Wetan dan 4000 pohon kpi di Desa Mekar Jaya ditambah dengan pohon tegakan dan buah-buahan lainnya. program ini pun telah memiliki pengurus, serta aturan yang jelas. Program ini masih memerlukan penguatan kelompok petani penghijauan bank pohon (Papepeng = Paguyuban Petani Penghijauan), pembentukan koperasi petani, penyediaan alat untuk pengolahan pasca panen dan membuka akses pasar yang memadai bagi produk ptani.
Pada akhir tahun 2009, WPL melakukan program pemulihan lahan krittis untuk mengatasi erosi dan mempertahankan stabilitas lahan di Desa Mekarjaya di kawasan Sub DAS Cisangkuy. Pemulihan lahan dilakukan dengan menanam tanaman bambu. Pelaksanaan program ini untuk menjadi sebuah model pemulihan lahan kritis dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat sekitar. Pendampingan petani bambu dilakukan melalui pelatihan dan workshop. Masyarakat diminta untuk menjaga dan mengembangkan usaha ekonomi berbasis bambu. Lahan seluas 6 Ha di Kampung Pasir Bungur menjadi hutan bambu rakyat untuk melindungi lahan dari erosi, menyuburkan mata air dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Program-program didanai oleh swasta dan pemerintah. pihak yang terlibat yaitu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, PT. Kaltim Prima Coal, Yayadan Fuji Xerox Astra Graphia dan PTJ II.
Model penataan kawasan sempadan
Merujuk pada Perda Jawa Barat No 20 Tahun 1995 dan Perda No 12 Tahun 1997 dan dipertajam dengan perda no 8 Tahun 2005, maka WPL menggagas penertiban bangunan-bangunan liar pinggir Sungai Citarum. Sebagai kawasan yang berfungsi konservasi, kawasan sempadan seyogyanya dikelola dengan melibatkan masyarakat setempat. Sosialisasi regulasi kawasan sempadan dilakukan oleh WPL bersama pihak-pihak terkait agar masyarakat memahami dengan baik peruntukan perbaikan sempadan dan memotivasi untuk berperan serta dalam program tersebut. Selama tahun 2003, WPL secara khusus melakukan gagasan model penataan sempadan di Rancamanyar. Sosialisasi dan pendekatan secara persuasif dilakukan kepada pihak yang telah mendirikan bangunan usaha di sempadan DAS Citarum untuk membongkar bangunannya tersebut. WPL dan masyarakat langsung melakukan perencanaan penataan kawasan sempadan yang diarahkan sebagai “Water Front Garden” pada kawasan sempadan sejauh 2 Km di Rancamanyar. Langkah awalnya dengan memagari dan menanam tanaman keras sebagai pelindung oleh masyarakat sekitar.
Konsep sempadan yang dilakukan di Sangkanhurip, Kecamatan Ketapang merupakan perwujudan kawasan sempadan sebagai kawasan hijau yang dikelola langsung oleh masyarakat setempat. Sempadan ini akan digunakan sebagai Gazebo untuk tempat berkumpul masyarakat, pembuatan jogging track serta wilayah berdagang yang lebih tertata. Wilayah sempadan ini tetap asri dengan dibuat pagar pembatas antara sempadan dengan bantaran dan pananaman pohon pelindung disekitarnya. Pedagang di wilayah ini harus menggunakan gerobak dan berjualan dengan waktu yang telah disepakati, sehingga ketika selesai berjualan mereka tidak meninggalkan lapak usaha dalam kondisi kotor.
Sejak tahun 2007, sudah sepanjang 1 500 meter sempadan DAS Citarum yang sudah ditata. Adanya kepengurusan untuk setiap kawasan sempadan membuat program ini berjalan dengan seharusnya. Pekerjaan rumah yang lain bagi WPL kini adalah menata kawasan sempadan di wilayah lain yang belum tersentuh program. Pihak WPL sedang mengupayakan untuk mengadvokasi peraturan desa untuk pengelolaan sempadan. Program ini sudah melibatkan Dinas PSDA provinsi Jawa Barat dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bandung. Sistem air bersih pedesaan berbasis masyarakat
Hasil Kajian PRA di Kampung Pasir Peundeuy Desa Mekarjaya Kec. Banjaran Kab. Bandung memunculkan prioritas masalah berupa kekurangan air bersih bagi warga kampung tersebut. Di kampung Pasir Peundeuy masyarakat sudah terbiasa mengangkut air antara 2 sampai 3 km dari mata air yang berada di lereng bukit, hal ini mendorong WPL memfasilitasi keadaan ini dengan menyampaikan permasalahannya kepada Dinas KIMTAWIL Kab. Bandung. Akhirnya dari Dinas Kimtawil memberi kesanggupan untuk memberikan bantuan material berupa pipa dan semen, serta pengujian kualitas dan kuantitas air dari
mata air yang ada. Dengan semangat gotong royong masyarakat RW 13 Kampung Pasir Peundeuy akhirnya dapat mewujudkan pembuatan bak penampungan dan distribusi airnya lebih dekat ke pemukiman mereka. Program ini mulai dilaksanakan sejak tahun 2006.
Masyarakat Kampung Kiara Payung pun menginginkan adanya progra, air bersih sejak tahun 2004. Mereka bahkan menabung dari hasil uang tanam guna mewujudkan program tersebut. Tahun 2006, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Air Departemen Pekerjaan Umum membuat program pembuatan Aquiper buatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat kampung Kiara Payung. Alat ini mampu memberikan suplai air bersih ke 415 KK meliputi RW 12, 13 dan 16. Proses perencanaan sampai dengan pembebasan lahan untuk membangun alat air bersih tersebut dilakukan langsung oleh masyarakat. WPL masih perlu melakukan penguatan kapastias lokal dan pembentukan lembaga pengurus. Program air bersih ini juga dilaksanakan di Kampung Dara Ulin dan Kampung Cilebak. Program ini terlaksana berkat adanya kerjasama Departemen Pekerjaaan Umum.
Pendidikan Peduli Lingkungan (Eco School)
Akar dari persoalan lingkungan yang terjadi di DAS Citarum disebabkan karena perilaku masyarakat yang tidak dapat menjaga lingkungan. WPL memfokuskan kegiatan untuk pendidikan kepada masyarakat dan membangun kepedulian masayarakat. Anak-anak merupakan objek yang masih bisa dibangun rasa cintanya terhadap lingkungan. Program pendidikan berbasis lingkungan ini mengarahkan anak-anak usia sekolah untuk sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Tahun 2001, WPL memulai kegiatan dengan mengajak ratusan siswa sejikah dasar yang berlokasi di sekitar aliran sungai Citarum bagian hulu untuk melakukan pembersihan kawasan sempadan seungai dari sampah dan melakukan penanaman pohon pelindung. Setahun kemudian, melalui gerakan cinta air dan sungai (Pulasara Citarum), WPL menyelenggarakan Citarum Fair dengan mengadakan kegiatan berupa lomba dan sosialisasi bagi siswa sekolah dasar. Mata lomba antara lain Lomba menggambar, menulis dan membuat puisi. puncak acara diramaikan oleh bazar lingkungan.
Pesantren lingkungan merupakan salah satu program pendidikan bagi siswa sekolah dasar. Disana akan ada perwakilan dari 20 sekolah SD Citarum. kegiatan pesantren lingkungan akan lebih banyak dilakukan dialam terbuka. Para peserta diajak untuk mengenali potensi masalah sungai, mengenal sumber sampah, sampai potensi pencemarannya. Pada Alumni pesantren ini membentuk Kader Cinta Lingkungan (KANCIL). Program ini dijalankan atas inisiasi WPL dibantu dengan pemerintah Provinsi Jawa Barat, PT. Indonesia Power dan Perum Jasa Tirta II.
Kegiatan lain yang dilaksanakan WPL antara lain mitigasi banjir, kampanye penyadaran masyarakat peduli lingkungan, wangkongan lingkungan, sosialisasi dan pelatihan kader. Semua program terlaksana dengan baik berkat partisipasi aktif dari masyarakat sekitar DAS Citarum.
TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM