• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM USAHA MIKRO YOP 1 Perencanaan

4 PROFILE KOMUNITAS Lokasi Komunitas

Kondisi Desa Maluk

Dalam pengertian komunitas, masyarakat Maluk merupakan masyarakat yang sangat heterogen. Letak yang sangat strategis dengan pusat penjemputan dan pendropan karyawan yang bekerja di tambang Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), membuat Maluk menjadi desa yang memiliki daya tarik tersendiri, sehingga komunitas yang tinggal di Desa Maluk terdapat berbagai macam suku.

Para pendatang dengan multi kemampuan atau skill yang berdomisili serta memiliki akses ke penentu kebijakan di perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra bisnis PTNNT dan termasuk di PTNNT itu sendiri. Mereka dengan mudahnya mendapat pekerjaan dan posisi atau jabatan yang bagus. Dan tentu dengan penghasilan atau upah yang bagus pula.

Pada tahap pertama, para pendatang memilih menyewa satu petak kamar kost dan hal ini memberi berkah bagi masyarakat asli. Masyarakat mendapat penghasilan baru selain sebagai petani. Tetapi seiring waktu berjalan, Sebagian dari mereka memilih membeli sebidang tanah dan membangun rumah yang bagus dan melebihi standar rumah layak huni. Penduduk asli Maluk yang tidak memiliki pekerjaan yang layak atau bahkan bisa dikatagorikan sebagai penganggur memilih menjual tanah miliknya untuk menopang hidup, tambahan biaya kesehatan, biaya pendidikan anaknya dan keperluan-keperluan lainnya. Setelah lahannya habis terjual, penduduk asli ini akhirnya menjual tanah rumahnya dengan harga yang cukup bagus. Dan sisa uang hasil penjualan rumah setelah memenuhi kebutuhan hidupnya digunakan untuk membeli sebidang tanah di pinggir-pinggir desa bahkan di lahan perkebunan yang harganya relative lebih murah dan terjangkau.

Semakin lama penduduk asli mulai terpinggirkan. Bersaing di beberapa kesempatan kerja sangat sulit memenangkan kompetisi. Mengandalkan pertanian sangat tidak mungkin, disamping karena lahanya semakin sempit, juga tidak tersedia irigasi yang dapat digunakan untuk mengairi lahan pertaniannya. Pada akhirnya masyarakat asli Maluk terpinggirkan.

Letak Geografis

Desa Maluk berada di ketinggian 10 meter di atas permukaan laut. Jarak dengan Ibukota Kecamatan sekitar 5 Km dan 35 Km dari Ibukota Kabupaten Sumbawa Barat dengan luas wilayahnya 9.62 hektar atau sekitar 11% dari total luas wilayah Kecamatan Maluk. Wilayah Desa Maluk pada awalnya meliputi wilayah Desa Pasir Putih, desa Mantun dan Desa Bukit Damai. Pada saat pemekaran kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat, Desa Maluk di memkarkan menjadi 4 wilayah dan setiap wilayah berubah status dari dusun menjadi desa. Pada Tanggal 12 April 2007, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengesahkan Peraturan DaerahKabupaten Sumbawa Barat Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Maluk.

Batas wilayah desa Maluk sebagai berikut: Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pasir Putih Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bukit Damai

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sekongkang Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Jereweh

Jumlah Kependudukan dan Komposisi Penduduk

Desa Maluk terdiri dari 4 dusun dengan jumlah penduduk 789 Kepala Keluarga dan 2.878 jiwa pada tahun 2012. Jumlah penduduk dengan jenis kelamin perempuan 1.394 jiwa dan Laki-laki 1.484 jiwa.

Tabel 2 Jumlah Rumah Tangga, Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin dan Sex Ratio Penduduk Kecamatan Maluk Tahun 2007, 2008, 2009,2010, dan 2011

Jumlah Penduduk Tahun Rumah

tangga Laki-Laki Perempuan Jumlah

Sex Ratio

Jiwa % Jiwa % Jiwa %

2007 554 1.084 54 939 46 2.024 100 115,41 2008 552 1.144 55 923 45 2.067 100 123,94 2009 609 1.217 52 1.13 48 2.347 100 107,70 2010 781 1.463 52 1.375 48 2.838 100 106,40 2011 789 1.484 52 1.394 48 2.878 100 106,46

Sumber: Kecamatan Dalam Angka

Luas wilayah Desa Maluk 9, 62 km2 dan kepadatan penduduk 299 jiwa/ km2 (Tabel 1).

Tabel 3 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Geogerafis menurut Dusun di Desa Maluk Tahun 2012

Sumber : BPS Kab. Sumbawa Barat, Kecamatan Maluk Dalam Angka 2012

Tingkat pertumbuhan penduduk tidak terlalu tinggi, rata-rata 42 orang setiap tahunnya. Pada tahun 2012, tercatat di Data Kantor Desa Maluk terdapat 1439jumlah penduduk perempuan dan 1567 penduduk laki-laki. Terjadi kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2010 dan tahun 2011 (lihat Tabel 2).

No. Dusun Penyebaran Penduduk – KK Penyebaran KK (%) Penyebaran Penduduk Asli-KK Penyebaran Penduduk Asli- KK (%) 1 Maluk Utara 210 24 58 7 2 Maluk Tengah 229 26 50 6 3 Maluk Loka 318 36 58 0 4 Takkeris 116 13 143 16 873 1 308 35 Total

Tabel 4 Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis kelamin Desa Maluk Tahun 2012

Sumber: BPS Kab. Sumbawa Barat, Kecamatan Maluk Dalam Angka 2012

Penyebaran penduduk di setiap dusun hampir merata, kecuali Dusun Takkeris sekitar 13.29%. Dari luas wilayah, Dusun Takkeris memiliki luas wilayah yang paling luas di Desa Maluk sehingga penyebaran penduduknya paling rendah jika dibandingkan dengan dusun yang lain. Penduduk asli lebih banyak berdomisili di Dusun Takkeris ini, bahkan masyarakat asli dari desa lain seperti Desa Bukit Damai, Desa Pasir Putih dan Desa Mantun memilih Dusun Takkeris sebagai tempat tinggal yang baru. Penduduk lokal memilih Takkeris sebagai tempat tinggal baru mereka setelah mereka menjual tanah pekarangan rumahnya. Sebelum pemekaran Desa Maluk menjadi 4 desa seperti saat ini, Takkeris merupakan area perkebunan, ladang dan sawah. Pada awal masa konstruksi pertambangan PTNNT, penduduk Maluk memilih menjual tanah pekerangan rumahnya ke para migran yang berdatangan pada awal tahun 1996- 2000. Setelah tanah pekarangan rumahnya terjual, mereka memilih pindah ke lahan perkebunan atau membeli tanah pekerangan rumah yang harganya relatif lebih murah. 16.38persen dari 308 KK Penduduk Asli Maluk memilih tinggal di Dusun Takkeris. Dari table di bawah ini, terdapat sekitar 35.33 persen dari total Kepala Keluarga di Desa Maluk adalah penduduk asli.

Tabel 5 Penyebaran Kepala Keluarga Desa Maluk, Penduduk Asli Maluk berdasarkan Dusun Desa Maluk Tahun 2012

Sumber: Data Kantor Desa Maluk, Kecamatan Maluk Tahun 2012 Struktur Sosial

Periode Pra-Industri Desa Maluk yang meliputi seluruh wilayah Desa Benete (sebelumnya merupakan tujuan Transimigrasi Lokal korban tsunami), Desa Mantun, Desa Pasir Putih dan Desa Bukit Damai. Wilayah ini dipimpin oleh seorang Kedemangan (Demung) yang ditunjuk oleh Sultan Samawa (Sumbawa) dan diwarisi secara turun-temurun sesuai garis keterunan. Keberadaan keluarga

2010 2011 2012

1 Perempuan 1.375 1.394 1.439

2 Laki-Laki 1.463 1.484 1.567

2.838 2.878 3.006

Total

No. Jenis Kelamin Jumlah Penduduk

No. Dusun Penyebaran Penduduk – KK Penyebaran KK (%) Penyebaran Penduduk Asli-KK Penyebaran Penduduk Asli- KK (%) 1 Maluk Utara 210 24 58 7 2 Maluk Tengah 229 26 50 6 3 Maluk Loka 318 36 58 0 4 Takkeris 116 13 143 16 873 1 308 35 Total

Demung sangat dihargai oleh masyarakat setempat dan masyarakat sekitarnya. Mereka memiliki hak istimewa untuk menentukan arah pembangunan di Maluk. Kehidupan sosial masyarakat tidak pernah lepas dari pengaruh tokoh-tokoh agama. Tabel 6 Stratifikasi Masyarakat Maluk Periode Pra-Industri

Sumber: data primer kantor desa Maluk (diolah), 2012.

Pada periode pra-industri stratifikasi saat itu yang paling menonjol adalah power. Keluarga Demung menempati tingkat tertinggi karena memiliki kekuasaan terhadap pemerintahan sebagai perpanjangan tangan Sultan Samawa. Strata tengah yaitu para imam atau tokoh agama islam. Secara kebetulan Imam Masjid atau tokoh agama di masyarakat Maluk waktu itu adalah saudara dari demung Maluk.

Stratifikasi pemerintahan demung Maluk mulai mengalami perubahan struktur pemerintahan dari sistim pemerintahan kerajaan atau kesultanan menjadi sistim pemerintahan republik. Demung mengalami perubahan ke Camat yang diangkat melalui mekanisme Pegawai Negeri Sipil dan secara otomatis stratifikasi yang paling menonjol adalah Camat atau Kepala Desa yang diangkat melalui pemilihan langsung sebagai pemegang tumpuk kekuasaan.

Tabel 7 Stratifikasi Masyarakat Maluk Periode Pra–Industri (Pemerintahan Orde Baru)

Sumber: data primer kantor desa Maluk (diolah), 2012.

Pada periode pra-industri masa Pemerintahan Orde Baru tidak terlalu besar terjadi pergeseran strata, yang menonjol masih Tokoh Adat dari garis keturunan Demung Maluk. Tokoh adat adalah orang yang paling dituakan dan masih merupakan keturunan bangsawan atau demung. Kepala Desa dan Pegawai Negeri Sipil menempati Strata Atas.

Setelah beroperasinya perusahaan tambang PTNNT, basis stratifikasi mengalami perubahan. Pada Era-Industri Kepala Desa dan Tokoh Adat masih memiliki pengaruh strategis, tetapi yang menarik terjadi perubahan bahwa elit pekerja mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Elit pekerja yang memiliki pengaruh di perusahaan memiliki pengaruh yang tinggi di masyarakat juga.

Strata Power Privilege Prestise

Atas Bangsawan Samawa, Demung Maluk

Keluarga Demung Maluk

Bangsawan, Pemimpin Tengah Tokoh Agama, Imam

Masjid

Rakyat yang ilmu agama tinggi

Penasehat keagamaan

Bawah Rakyat biasa Rakyat bisa Rakyat bisa

Strata Power Privilege Prestise

Atas Kepala Desa, Tokoh

Adat, PNS

Keluarga Demung Maluk

Bangsawan, Pemimpin

Tengah Imam Masjid

Rakyat yang ilmu agama tinggi, Kepala Desa

Penasehat keagamaan

Tabel 8 Stratifikasi Masyarakat Maluk Periode Industri.

Sumber: data primer kantor desa Maluk (diolah), 2012.

Strata yang paling menonjol di era-industri yatu berbasis privilege adalah elite pekerja. Pekerja yang menempati posisi tinggi atau strategis di perusahaan akan selalu didatangi oleh masyarakat terutama masyarakat pencari kerja. Elite pekerja ini memiliki power dalam menentukan arah atau sikap dan perilaku sebagaian masyarakat yang telah diberi kesempatan kerja. Tokoh adat mulai tergeser, tetapi dalam urusan-urusan tertentu seperti menyelesaiakan perselisihan antar komunitas masih didengar nasehat dan memiliki pengaruh yang kuat. Tidak terdapat tokoh elit pekerja di Desa Maluk namun, keberadaan mereka di desa lain memiliki power mempengaruhi masyarakat di desa tetangganya.

Kelembagaan Sosial

Kelembagaan sosial masyarakat berfungsi sebagai agen sosialisasi perubahan terencana yang tumbuh dari masyarakat atau diprakarsai oleh pemerintah. Lebih dari itu, Dapat berperan sebagai perekat dan penguat keberhasilan dan keberlanjutan kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan masyarakat. Dalam konteks pemberdayaan, suatu kegiatan dapat bertahan lama dan berkelanjutan apabila didukung oleh kelembagaan lokal yang berakar pada masyarakat. Untuk mendukung pemberdayaan kelembagaan sosial masyarakat dalam kerangka mendukung program pemberdayaan sosial, dilakukan beberapa upaya sebagai berikut:

Pemberdayaan Karang Taruna

Karang Taruna “Saling Beme” di Desa Maluk belum bisa dinilai sebagai

agen perubahan yang berhasil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi atau pembagungan bidang lainnya, walaupun dalam beberapa kali perlombaan mendapat prestasi yang bagus. Tahun 2010 dan 2011 menjadi Karang taruna terbaik pertama di Kabupaten Sumbawa Barat dan di tahun yang sama berturut- turut menyabet juara VI dan juara IV di Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Karang taruna “Saling Beme” belum dapat menjadi penggerak kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Pemberdayaan Remaja Masjid

Hampir sama dengan Karang Taruna, Remaja Masjid Attaqwa Maluk Loka pun belum dapat menjadi agen perubahan yang baik. Kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan selama ini hanya lokal dan remaja masjid pun masih tingkat Dusun Maluk Loka saja. Remaja Mesjid tingkat desa belum terbentuk karena masjid besar belum rampung di bangun. Tetapi ketika ada perlombaan

Strata Power Privilege Prestise

Atas

Kepala Desa, Elite Pekerja dan Tokoh Adat

Tokoh Pekerja yang memiliki posisi di perusahaan (penentu kebijakan), Keluarga Demung Maluk

Manager, HRD Perusahaan

Tengah Tokoh Adat,

Perangkat Desa, PNS Keluarga Demung Maluk

Bangsawan, Pemimpin

tingkat kecamatan, kabupaten atau provinsi, Remaja Masjid At Taqwa akan mewakili remaja masjid tingkat Desa Maluk.

Pemberdayaan Pekerja Sosial Masyarakat

Hanya kegiatan posyanpdu yang masih aktif di Desa Maluk. Tidak ada pemberdayaan pekerja sosial masyarakat yang menjadi pendukung kegiatan pemberdayaan di Desa Maluk. Bahkan kegiatan gotong-royong umum pun sudah jarang sekali diadakan, mungkin karena kesibukan mayoritas masyarakatnya sebagai pekerja sehingga kegiatan sosial cendrung dinilai dengan materi.

Kegiatan sosial masyarakat yang masih terplihara dengan baik sampai saat ini di penduduk asli Maluk adalah kegiatan sosial pada saat di timbah musibah atau kematian dan khitanan, pengatin dan adat istiadat lainnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini yaitu sekitar tahun 2009, mulai terjadi pengelompokan-penglompokan berdasarkan suku atau asal masing-masing. Misalnya kalau ada warga Sulawesi yang meninggal dunia, maka yang berkumpul di rumah duka mayoritas penduduk yang berasal dari suku tersebut. Namun akan terlihat berbeda jika yang meninggal dunia dari warga pendatang yang datang pada masa transimigrasi awal, maka penduduk asli Maluk ikut berkumpul di rumah duka.

Ketokohan

Penduduk asli Maluk masih menjadi tokoh sentral dalam menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat. Masyarakat pendatang tetapi menghargai masyarakat asli dan penghormatan sosial ini terpelihara dengan baik sampai saat ini. Salah satu contoh, pada masa pencalonan Kepala Desa Maluk, salah seorang keturunan Demung Maluk ikut menjadi calon Kepala Desa. Masyarakat pendatang menghargai keinginan tersebut dan memilih tidak ikut di kompitisi pencalonan, sehingga Desa Maluk hanya memiliki calon tunggal, walaupun Panitia Pemilihan Kepada Desa membuka dua kali pendaftaran calon kepala desa. Setiap terjadi perselisihan kecil-kecilan di Desa Maluk, maka tokoh lokal berperan aktif dalam menyelesaikannya.

Dalam menentukan ketokohan di Desa Maluk ditentukan beberapa kreteria sebagai berikut:

1. Penduduk asli Maluk

2. Tokoh adat atau garis keturunan Demung Maluk

3. Mulai berdomisili atau tinggal di Maluk sebelum tahun 1990 4. Masih menjadi panutan masyarakat sampai saat ini.

Dari kreteria di atas maka dapat ditentukan bahwa salah satu tokoh yang masih disegani di Maluk adalah H. Riu Jelali. Dalam penentuan tokoh berikutnya akan di lakukan dengan tekhnik snowballing. Namun keberadaan H Riu Jelali hanya berperan aktif dalam menyelesaikan konflik sosial atau perselisihan yang terjadi di Desa Maluk atau tiga desa lainnya seperti Desa Mantun, Desa Pasir Putih dan Desa Bukit Damai. Ketokohan yang ada di Desa Maluk belum bisa menjadi motivator atau motor penggerak perubahan ekonomi masyarakat.

Jejaring Sosial

Belum terbentuk jejaring sosial yang berbasis tekhnologi informasi di masayakarat yang menjadi penghubung antara komunitas masyarakat Maluk

dengan masyarakat luar Maluk. Kalau pun ada jejaring sososial seperti facebook, dan Media Sosial lainnya, lebih bersifat personal dan terbuka untuk komunitas manapun. Pemanfaatan tekhnologi ini belum bisa menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Secara kelembagaan sosial, terdapat Lembaga Adat yang menjadi pemersatu masyarakat asli maluk, baik ada di Desa Maluk maupun di desa lain di Kecamatan Maluk. Kelembagaan lembaga adat ini cukup efektif sebagai pemersatu komunitas dan dapat membangkitkan rasa kebersamaan dalam satu nilai budaya samawa.

Pada tahun 2011 akhir, dibentuknya Lembaga Adat “Demung Maluk” yang merupakan perpanjangan tangan Lembaga Adat Tanah Samawa yang didirikan Sultan Samawa, Sultan Kharuddin IV. Lembaga Adat “Demung Maluk” mulai menunjukkan jati dirinya dan menjadi penghubungan lintas komunitas serta menjadi pengayom di komunitas masyarakat asli Maluk yang efektif. Dalam hubungan dengan Sultan Samawa, Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Lembaga Adat “Demung Maluk” mendapat tempat yang baik. Hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar Kec. Maluk termasuk dengan External Relation PTNNT terjalin dengan baik. Lembaga Adat “Demung Maluk” berperan cukup aktif dalam memberi rekomendasi-rekomendasi baik secara formal maupun non formal yang terkait dengan program pengembangan masyarakat. Walaupun belum maksimal dan belum bisa menjadi pioneer jejaring sosial, tetapi keberadaanya membuka pikiran semua pihak bahwa Maluk bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan Kesultanan Samawa.

Terdapat beberapa kelompok tani dan kelompok ternak di Desa Maluk, namun masih bersifat trandisional. Pengelolaan ternak dan pertanian secara tradisional ini tidak dapat menjadi agen perubahan dalam pengembangan masyarakat. Ternak hanya berfungsi sebagai alat bajak atau untuk mengangkut hasil panen ke rumah masing-masing. Belum ada pemberdayaan petani ternak secara besar-besaran dan dilakukan dengan cara professional. Hasil ternakpun belum bisa memenuhi kebutuhan lokal dan di jual secara tradisional di pasar Tabel 9 Luas Penguasaan Lahan Pertanian Berdasarkan Kelompok Tani di Desa

Sumber: Data Kantor Desa Maluk Tahun 2012.

Hanya 58.73 Ha luas keseluruhan Desa Maluk yang dikuasai oleh 4 kelompok tani. Penguasaan lahan yang kurang dari satu persen ini tentu tidak akan bisa menggerakan ekonomi rakyat atau memberi manfaat yang maksimal terhadap perkembangan ekonomi masyarakat. Tidak ada irigasi yang dapat digunakan untuk mengairi lahan pertanian tentu tidak bisa meningkatkan hasil produksi petani.

No. Nama Kelompok Ternak Luas lahan (Hektar) Luas Lahan (%) 1 Lang Lebo 12.71 22 2 Kuang Tar 15.23 25 3 Takkeris I 17.5 30 4 Takkeris II 13.29 23 58.73 100 Total

Di samping kelompok tani, terdapat kelompok ternak di Desa Maluk, yaitu Kelompok Ternak Maris Gama, Kelompok Ternak Kuang Tar, dan Kelompok Ternak Takkeris. Kelompok ternak yang dikelola secara tradisional ini tidak dapat berkembang dengan baik, dan total ternak yanga terdaftar hanya 96 ekor sapi. Penjualan ternak sapi dilakukan secara perorangan tanpa keterikatan dengan anggota kelompok lainnya. Organisasi kelompok hanya berperan sebagai wadah pemersatu jika ada kegiatan registrasi ternak dan penyaluran bantuan dari pihak ke tiga atau pihak lain.

Sebagai sumber lain pendapatan desa dari kegiatan usaha masyarakat di Desa Maluk adalah restibusi dari pedagang pasar Maluk yang mencapai sekitar Rp. 8.000.000 setiap bulannya. Dari sudut pemberdayaan masyarakat, keberadaan pasar belum bisa menjadi mata pencaharian utama penduduknya. Blok-blok usaha dagang lebih banyak di isi atau dimanfaatkan oleh pedagang dari luar Desa Maluk atau bukan masyarakat asli Maluk. Masyarakat asli tidak memiliki keahlian khusus sebagai pedagang. Secara persentasi, jumlah pedangan masih dominan pedagang yang berasal dari Desa Bukit Damai, karena sebelum pembangunan pasar permanen di Desa Maluk, pasar sudah ada lebih dulu di Desa Bukit Damai. Terdaftar 42, 70 persen pedagang di Pasar Maluk berasal dari Desa Bukit Damai, dan itupun bukan masyarakat asli Desa Bukit Damai.

Terdaftar sebanyak 68 pedangan yang berasal dari Desa Maluk atau urutan kedua terbanyak setelah pedangang dari Desa Bukit Damai. Tetapi dari 68 pedagang tersebut hanya terdapat dua orang yang merupakan masyarakat asli Desa Maluk. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya; minimnya pengetahuan tentang strategi berdagang sehingga menurunkan minat masyarakat asli menjadi pedagang. Penyebab lainnya adalah tidak adanya modal usaha untuk menjalankan usaha dagangnya tersebut. Masyarakat berpikir, untuk apa mengambil blok-blok dagang di Pasar Maluk jika tidak memiliki modal usaha sendiri.

Tabel 10 Pedagang di Pasar Maluk Menurut Desa Asal Tahun 2012

Sumber: Data Kantor Desa Maluk Tahun 2012.

Minimimnya pedagang dari penduduk asli Maluk yang berjualan di Pasar Maluk ini bukan karena pemerintah desa tidak peduli dengan mereka, tetapi karena tidak ada minat dagang dan tidak ada modal usaha. Pemerintah atau

No. Asal Pedagang Jumlah

Pedagang Jumlah Pedangang (%) 1 Desa Maluk 68 38.00 2 Bukit Damai 76 43.00 3 Desa Mantun 4 2.00 4 Desa Benete 4 2.00

5 KSB (di Luar Kec. Maluk) 12 8.00

6 Kab. Sumbawa 9 5.00

7 Kab. Bima 1 1.00

8 Pulau Lombok 1 1.00

178 100

PTNNT tidak berusaha memberi solusi atau memfasilitasi dengan baik agar masyarakat asli Desa Maluk mendapat pinjaman modal usaha dari pihak bank atau pihak lain.

Aksessibilitas terhadap Kebijakan dan Sumberdaya

Badan Musyawarah Desa (BPD), Karang taruna dan Remaja Masjid menjadi wadah masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya baik ke Pemerintahan Desa, Kecamatan, Kabupaten maupun ke PTNNT. Di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, terpilih satu orang masyarakat Desa Maluk dari Partai Persatuan Pembangunan yang menjadi salah satu jalan masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya.

Dalam akses terhadap pendanaan, sudah tersedia Bank Rakyat Indonesia dan Bank Negara Indonesia dan Bank Nusa Tenggara Barat di Desa Maluk. Masyarakat bisa mendapat pinjaman untuk modal usaha sesuai kebutuhan dan kemampuan usaha masihng-masihng. Tetapi masih terjadi kesulitan memenuhi persyaratan yang cukup ketat karena regulasi atau aturan yang berlaku di bank sebagai persyaratan untuk mendapat pinjaman modal usaha. Masyarakat masih diminta agunan sertifikat tanah, dan lain-lain.

Jaringan Bisnis

Belum terbentuk jaringan bisnis dengan komunitas lain di luar Desa Maluk. Tetapi di dalam komunitas Desa Maluk sudah terjalin hubungan yang baik antar kelompok. Seperti misalnya kelompok peternak dengan sesama kelompok peternak. Hubungan ini lebih kepada bagaimana menjaga keamanan ternak secara berkelompok dari kawanan pemcurian ternak. Jaringan bisnis di kelompok tanipun masih bersifat trandisional. Terjadi ikatan secara alamiah, bagaimana model pembagian air untuk irigasi lahan pertanian, kapan mulai memperbaiki pagar sawah atau lahan pertanian, kapan harus memulai menabur benih, dan lain- lain. Semuanya terjadi secara alamai secara turun-temurun. Kelompok tani pun mengangkat petugas yang mengurus dan memastikan kepatuhan anggota kemunitas. Petugas ini diberi nama “Malar”. Malar mulai bekerja mulai dari

proses pembagian luas pagar, pembagian air, menegur petani yang tidak patuh dengan aturan yang ada sampai masa panen. Malar mendapat upah dari hasil panen.

Norma dan nilai budaya serta saling toleransi antar sesama sangat mempengaruhi sendi kehidupan masyarakat Maluk sebelum terjadi migrasi penduduk karena daya tarik pertambangan PTNNT. Masyarakat hidup tenang, saling tolong menolong dalam nuansa kekeluargaan yang sangat harmonis. Salah satu contoh norma dan nilai yang hilang atau terjadi perubahan dalam komunitas dan kehidupan masyarakat Maluk adalah gotong royong dalam membangun rumah panggung. Adat Maramo, yaitu kebiasaan gotong royong masyarakat Maluk untuk membantu salah seorang anggota masyarakat yang berencana membangun rumah terutama bagi pasangan muda. Masyarakat bersama-sama ke gunung mencari, menebang dan mengangkut kayu yang dinilai cocok atau bisa