• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

F. Prosedur Pe nelitian

Prosedur penelitian adalah tata urutan yang harus dilaksanakan dalam proses penelitian agar peneliti mendapatkan hasil yang optimal. Langkah-langkah penelitian awal yaitu persiapan pembuatan proposal sampai pada penulisan hasil penelitian. Setiap penelitian mempunyai prosedur penelitian yang berbeda-beda. Hal tersebut disesuaikan dengan disiplin ilmu dan tujuan yang akan dicapai oleh peneliti. Karena penelitian ini menggunakan metode historis, maka ada empat tahap yang harus dipenuhi. Empat langkah itu terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Prosedur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

He uristik Kritik Interpretasi

Fakta Se jarah Ce rita Se jarah 46

Keterangan:

1. Heuristik

Heuristik berasal dari bahasa Yunani yaitu heurisk in yang berarti to find yang artinya mencari dahulu baru menemukan. Dalam penelitian sejarah, heuristik berarti langkah-langkah untuk mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah atau merupakan suatu teknik yang membantu kita untuk mencari jejak-jejak sejarah. Untuk mendapatkan sumber tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari dokumen, mengunjungi situs sejarah, mengujungi museum dan perpustakaan, wawancara dengan pelaku atau saksi sejarah. Sidi Gazalba (1966: 15) mengemukakan bahwa heuristik adalah kegiatan mencari bahan atau menyelidiki sumber sejarah untuk mendapatkan hasil penelitian. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Helius Syamsudin (1994: 15) yang menyatakan bahwa heuristik adalah pengumpulan sumber-sumber sejarah, pada tahap ini peneliti menemukan sumber data yang sesuai dengan tema penelitian.

Pada tahap ini peneliti berusaha mencari dan menemukan sumber-sumber tertulis berupa buku-buku serta bentuk kepustakaan lain yang berkaitan dengan Jon g Islamieten Bond (JIB) dalam kancah pergerakan nasional pemuda Islam Indonesia pada tahun 1925-1942. Sumber-sumber tertulis tersebut diperoleh dari beberapa perpustakaan, diantaranya Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret, P erpustakaan Jurusan Fakultas Keguruan dan Ilmu P endidikan Universitas Sebelas Maret, Perpustakaan P rogram Studi Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, Perpustakaan Monumen Pers Surakarta, Perpustakaan Radya Pustaka Surakarta dan P erpustakaan St. Kolose Ignasius Yogyakarta.

2. Kritik

Tugas penyelidik dalam penelitian historik ini adalah mengadakan rekonstruksi mengenai masa lampau. Tetapi di dalam mengadakan rekonstruksi itu, tidak semua peristiwa yang sudah silam dapat diulangi terjadinya, sehingga penyelidik harus banyak mendasarkan diri pada fakta-fakta sejarah dan

membangun pemecahan persoalannya atas fakta itu. Fakta tersebut, yang diterimanya dari berbagai sumber, banyak bergantung pada orang-orang yang terdahulu hidup dan menjadi pelaku atau pembuat sejarah yang kini diselidikinya. Karena itu, penyelidik harus mempunyai cara-cara untuk meneliti apakah fakta itu benar-benar asli dan dapat dipercayai ataukah tidak. Cara-cara meneliti data serupa itulah yang dimaksud dengan k ritik historik . Kritik historik yang lazim dipakai dibagi dalam dua fase, yaitu 1) k ritik ek stern meneliti keaslian data, apakah sumber data itu merupakan sumber yang asli ataukah palsu atau tiruan. Sehingga peneliti harus menempuh berbagai cara yang disesuaikan dengan kebutuhannya untuk mendapatkan data yang valid dan 2) k ritik intern adalah kelanjutan dari kritik ekstern, bertujuan untuk meneliti kebenaran isi (data) sumber itu. Apabila telah diketahui bahwa sumber itu benar sebagai sumber asli (kritik ekstern), maka penelitian perlu dilanjutkan dengan menganalisis isi sumber tersebut agar dapat dipercayai kebenaran dan ketelitiannya (Winarno Surakhmad. 1985: 134-135).

Menurut Helius Sjamsudin (1994: 103) bahwa keabsahan sumber dicari melalui pengujian mengenai kebenaran atau ketetapan sumber. Kritik terhadap sumber data dilakukan dengan dua cara yaitu kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern pada sumber tertulis dilihat dari pengarangnya. Kritik ekstern adalah kritik terhadap keaslian sumber (otensitas) yang berkenaan dengan segi-segi fisik dari sumber yang ditemukan, seperti bahan (kertas atau tinta) yang digunakan, jenis tulisan, gaya bahasa, hurufnya dan segi penampilan yang lain. Sedangkan kritik intern merupakan kritik yang berhubungan dengan kredibilitas dari sumber sejarah yang berkaitan dengan isi, fakta dan ceritanya agar nantinya dapat dipercaya dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini maka kritik ekstern dilakukan dengan cara melihat pada sumber tertulis dilihat dari pengarangnya. Beberapa anggota dari Jon g Islamieten Bond (JIB) dikemudian hari ada yang menuliskan pengalaman yang telah dialaminya dalam pergerakan JIB pada tahun 1925-1942, baik berupa artikel maupun buku, seperti Mohammad Roem. Sedangkan pada tahap kritik intern dilakukan dengan cara memperhatikan dan memastikan

kebenaran isi sumber dengan membaca buku-buku karangan Darmansyah, dkk; Ridwan Saidi; Yudi Latif dan lainnya. Langkah berikutnya adalah membandingkan kesaksian yang diperoleh dari berbagai sumber dan mencocokkan sumber data yang satu dengan sumber data lainnya, baik sumber data yang berupa buku dan artikel satu dengan buku dan artikel lainnya. Dengan melakukan cara tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa isi tulisan dapat dipercaya serta dari kritik intern dan kritik ekstern tersebut juga diperoleh sumber data yang valid.

3. Interpretasi

Interpretasi atau penafsiran sejarah sering disebut dengan analisis sejarah. Analisis berarti menguraikan, secara terminologi berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan. Namun keduanya, analisis dan sintesis dipandang sebagai metode-metode utama dalam interpretasi (Kuntowijoyo. 2001: 100). Berbagai fakta sejarah yang telah didapatkan kemudian dirangkai sehingga mempunyai bentuk dan struktur untuk direkronstruksi. Dalam proses inilah diperlukan interpretasi, yaitu penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah. Dalam menafsirkan suatu fakta mutlak diperlukan landasan interpretasi agar tidak terjadi penafsiran yang tanpa dasar. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan suatu fakta di antaranya karena adanya beberapa perbedaan seperti idiologi, kepentingan, tujuan, penulisan dan sudut pandang.

Untuk memeriksa suatu fenomena historis seorang sejarawan harus selalu berhubungan dengan fakta-fakta sejarah. Suatu interpretasi yang tertentu tidak dapat dihindari oleh sejarawan. Sejarawan harus melepaskan pikiran, bahwa sejarawan dapat menghadapi data historis dengan pikiran yang bersih dan menangkap fakta dalam keadaan yang sebenarnya (Sartono Kartodirdjo. 1982: 63-64).

Interpretasi dilakukan dengan cara menghubungkan atau mengaitkan antara sumber sejarah yang satu dengan sumber sejarah lainnya, sehingga dapat diketahui hubungan sebab akibat dari suatu peristiwa masa lampau yang menjadi obyek penelitian. Kemudian sumber tersebut ditafsirkan, diberi makna dan

ditemukan arti yang sebenarnya sehingga dapat dipahami makna tersebut sesuai dengan pemikiran yang logis berdasarkan obyek penelitian yang dikaji. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan kritik sumber dan interpretasi tersebut dihasilkan fakta sejarah atau sintesis sejarah.

4. Historiografi

Historiografi adalah kegiatan menyusun fakta sejarah menjadi suatu kisah. Historiografi merupakan langkah terakhir dari prosedur penelitian dalam metode sejarah yaitu proses penulisan dan penyusunan kisah masa lampau yang direkrontruksi berdasarkan pada fakta yang telah diberi penafsiran atau merupakan suatu kegiatan penyusunan fakta sejarah menjadi kisah sejarah yang disajikan dalam bentuk tulisan. Peristiwa sejarah yang dikisahkan melalui historiografi akan sangat dipengaruhi oleh subyektifitas si Penulis dalam merekontruksinya.

Historiografi menurut Dudung Abdurahman (1999: 67) merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah. Sedangkan menurut Helius Sjamsudin (1992: 153), historiografi merupakan kegiatan menyampaikan hasil sintesa fakta-fakta yang diperoleh dalam bentuk kisah sejarah. Dalam historiografi seorang penulis tidak hanya menggunakan ketrampilan teknis, penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan tetapi penulis juga dituntut untuk menggunakan pikiran kritis dan analisis. Interpretasi yang dilakukan terhadap fakta sejarah dapat menghasilkan suatu cerita atau kisah sejarah. Serangkaian kisah sejarah tersebut disajikan dalam suatu penulisan atau historiografi.

Penulisan sejarah mempunyai unsur yang sama dengan penulisan sastra yaitu sama-sama menyajikan suatu kisah, bedanya dalam sejarah. Sehingga dalam penulisan sejarah perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasanya agar orang tertarik untuk membacanya. Selain itu, imajinasi juga sangat diperlukan untuk merangkaikan antara fakta yang satu dengan fakta lainnya, sehingga menghasilkan suatu kisah sejarah yang menarik untuk dibaca dan dapat dipercaya kebenarannya.

Tahap historiografi ini merupakan langkah terakhir dalam metodologi atau prosedur penelitian historis. Dari data-data sejarah yang berhasil dikumpulkan oleh peneliti, maka peneliti berusaha memaparkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan menggunakan bahasa yang ilmiah beserta argumentasi secara sistematis. Selain itu, peneliti juga berusaha agar penelitian ini menarik, logis, obyektif dan dapat dipercaya. Dalam penelitian ini, historiografi diwujudkan dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi yang berjudul “ Perg erak an Nasional Pemuda Isla m (Studi tentang Jong Islamieten Bond 1 92 5-19 42)”

BAB IV