• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES LAHIR PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

PERDA PENDIDIKAN DAN PERDA PENDUKUNG PENDIDIKAN DI KOTA TANGERANG

B. PROSES LAHIR PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

1.Peran Walikota dan DPRD Dalam Melahirkan Perda dan Perwal

Upaya untuk mencapai visi pendidikan dengan mutu tinggi dan cakupan yang luas diperlukan kebijakan yang konsisten agar

mutu pendidikan dapat di capai158, legislatif (DPR-RI)

mengeluarkan undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sisitem Pendidikan Nasional yang pada pokoknya adalah menjamin kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi managemen pendidikan, hal ini dilakukan untuk menghadapi tantangan dan perubahan baik kehidupan lokal sebagai konsekuensi otonomi daerah (undang-undang nomor 22 tahun 1999 dan undang-undang nomor 25 tahun 1999.

Salah satu kewajiban kepala daerah dalam rangka pengelenggaran pemerintahan adalah pengambilan keputusan. Kemampuan pengambilan keputusan banyak dipengaruhi oleh

variabel pribadi dari kepala daerah itu sendiri159. Pada pemilihan

kepala daerah Kota Tangerang tahun 2008 di gelar banyak kalangan memastikan bahwa incumbent walikota Wahidin Halim (WH) akan terpilih kembali dipercaya masyarakat untuk memimpin Kota Tangerang hingga 2013, hal tersebut dapat dimaklumi karena keberhasilannya memimpin Kota Tangerang pada periode pertama

(2004-2009)160, dengan berpikiran bahwa bekerja itu adalah ibadah

Wahidin Halim mengatakan :

158 Emzir, dkk, Isu-Isu Kritis Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah,

(Jakarta, Ghalia Indinesia).h.15

159J.Kaloh, Kepala Daerah Pola Kegiatan, Kekuasaan dan Perilaku

Kepala Daerah Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah, (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama,2003) h.169-170.

160 Wahidin Halim dianggap berhasil, baik dalam pembangunan fisik

maupun pembangunan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat Kota Tangerang begitu cinta terhadapWH. Kecintaan mereka dibuktikan ketika KPUD Kota Tangerang mengumumkan hasil akhir perolehan suara Pilkada Kota Tangerang Kamis 30 Oktober 2008. Hampir di seluruh tempat pemungutan suara (TPS), pasangan Wahidin Halim – Arief menang mutlak. Indra Setiawan dkk, Dibalik

“Setiap pribadi, setiap komponen masyarakat yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kota Tangerang, memiliki kewajiban untuk memberdayakan Kota Tangerang ke wilayah yang lebih beradab, kewajiban membangun kota yang beradab ini, sebagai upaya untuk menciptakan iklim masyarakat madani, masyarakat sipil yang memiliki kewibawaan, yang di dalamnya tumbuh nilai-nilai moral

dan nilai-nilai kebajikan yang tinggi”.161.

Menurut Wahidin Halim,

” Masyarakat madani adalah masyarakat yang

mengedepankan prosedur-prosedur demokrasi dan

masyarakat yang menjunjung tinggi etos kerja serta

memahami peran masing-masing dalam masyarakat,

masyarakat madani juga mencoba menyuguhkan berbagai jawaban untuk menyeimbangkan sarana dan tujuan dalam

mencapai tatanan sosial ideal”162.

Selanjutnya Wahidin Halim berpendapat ,

“Dalam mewujudkan kebijakan pengembangan Kota

Tangerang dan semangat desentralisasi dari pusat, maka pengambil keputusan yang lebih besar di tingkat kota harus didukung oleh efisiensi birokrasi dan pelayanan, begitupun dengan potensi penduduk kota yang besar merupakan aset kota harus diberdayakan untuk mencapai manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat kota mandiri . Ketika membangun suatu daerah, kebijakan yang diambil mutlak harus sesuai dengan kondisi daerah yang Kesuksesan WH, Satu Dekade Pimpin Kota Tangerang( Tangerang, Pemkot Tangerang), h. 3-4

161 Wahidin Halim, Ziarah Budaya Kota Tangerang, Menuju

Masyarakat Berperadabab Akhlakul Karimah, (jakarta, Auracitra, 2005), h.70

162 Wahidin Halim, Ziarah Budaya Kota Tangerang, Menuju

bersangkutan baik itu masalah kebutuhan maupun potensi daerah yang bersangkutan. Konsekwensi logisnya penelitian mendalam tentang keadaan tiap daerah perlu dilakukan guna mendapatkan informasi dan data yang berguna bagi

penentuan rencana pembangunan secara tepat”163.

Pemerintah Kota Tangerang adalah fasilitator antara kebutuhan pasar dan warga masyarakat. Kota Tangerang yang di dalamnya tumbuh beragam kultur perlu melibatkan pasar, warga masyarakat dan negara dalam proses pembangunan pemerintahan. Jika realitas sosial ekonomi politik kondusif secara otomatis warga akan mendapatkan keuntungan dalam proses kelangsungan dalam kehidupan sehari-hari, dan posisi negara dalam kontek ini hanya jadi fasilitator antara kebutuhan pasar dan warga masyarakat.

Komponen yang memiliki peranan penting dalam

mengakselerasi kebijakan publik itu adalah komponen eksekutif atau aparatur negara dan komponen legislatif atau anggota DPR, dalam hal ini DPRD. Dua komponen ini, mau tidak mau harus mampu memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan dan pertumbuhan warga, tanpa kontribusiyang positif, dua komponen penyangga itu hanya menjadi bagian dari masyarakat bukan inti dari jantung kehidupan Kota Tangerang, padahal tanpa keterlibatan aktif dari eksekutif dan legislatif, kehidupan di suatu daerah, seperti wilayah mati tak bertuan menjalani ritual kehidupan sehari-hari tanpa roh.

a. Pendidikan dalam Pandangan Walikota Wahidin Halim

Kepedulian walikota Wahidin Halim terhadap persoalan sosial terutama dunia pendidikan, ia wujudkan dengan membentuk sebuah lembaga, yakni yayasan kemanusiaan Nurani Kami pada tahun 1977, yayasan ini sampai sekarang mampu memberikan beasiswa kepada 150 orang, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, ketika ekonomi krisis melanda, ia pun

163 Wahidin Halim ,Ziarah Budaya Kota Tangerang menuju Masyarakat

harus bekerja lebih keras lagi mengingat jumlah anak putus sekolah kian bertambah.

Bertolak pada pengalaman yang dialami oleh Wahidin Halim pada saat masih usia sekolah SD sampai SMP, sekolah rusak sekolah tidak ada yang layak, akses jalan menuju sekolah tanah berlumpur dan berbatu gaji orang tua sebagai kepala sekolah di SD pinang dan di SD Poris Plawad kecil sehingga sulit untuk

menyekolahkan kedelapan anaknya.164

Pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dilatarbelakangi pemikiran bahwa umumnya lulusan SMU tidak dapat mengisi pasar kerja yang ada di Kota Tangerang karena dinilai banyak yang tidak memiliki kemampuan dan keahlian di bidang pekerjaan yang dibutuhkan penyedia kerja, pemberian insentif guru negeri/swasta/MTs setiap bulan, dilatarbelakangi pemikiran bahwa dalam rangka memberikan motivasi dan meningkatkan kesejahteraan para guru (non diskriminasi), maka diharapkan dalam mendidik anak-anak menjadi semakin baik Perda pendidikan adalah hasil pemikiran bersama antara walikota Tangerang dengan anggota DPRD Kota Tangerang yang memang sepakat untuk meningkatkan dan mempermudah masyarakat dalam memperoleh pendidikan di Kota Tangerang, dalam perda pendidikan, banyak pasal yang membela kepada masyarakat lemah agar dapat mengenyam pendidikan dan juga pasal yang mendorong pada perilaku masyarakat agar tercipta kota yang berahlakul karimah, setelah adanya otonomi daerah pendidikan menjadi salah satu urusan daerah yang meliputi guru,

anggaran dan bangunan sekolah165, dengan tersedianya fasilitas

pendidikan yang memadai diharapkan mampu mendongkrak mutu pendidikan.

164 Wawancara dengan H. Abdul Syukur ,( Anggota DPRD Kota

tangerang Periode 1999 2004 Anggota DPRD Kota Tangerang Periode 2004 -2008 Anggota DPRD Propinsi Banten Tahun -2008 – 2014.Bakal Calon Walikota Tangerang Tahun 2014-2018 Adik Kandung dari Walikota Tangerang H. Wahidin Halim Selasa 26 Maret 2013)..

165Wawancara dengan bapak Ir. Suratno Abubakar tanggal 23 Maret

2013 ( Anggota DPRD Kota Tangerang periode 2004 – 2008 Ketua Komisi A DPRD Kota Tangerag 2008-2014 Bakal Calon Walikota Tangerang 2014 –

Sehingga pada saat menjadi walikota tepatnya di tahun 2006 bersama DPRD sepakat membangun sekolah bertingkat sebanyak 240 sekolah sehingga dana yang dikeluarkan untuk

pendidikan menghabiskan 48 %166 dari APBD, pada saat itu kas

daerah tidak mencukupi, pembangunan sekolah sehingga di cari cara agar pembangunan sekolah dapat terselesaikan, yaitu dengan cara investasi kontraktor dengan 3 kali APBD, walaupun ada pihak bank yang akan membantu dengan cara pinjaman tapi itu tidak dilakukan. begitu pula, menurut Wahidin.

Pembangunan kota Tangerang berorietasi pada masyarakat madani sehingga semua komponen yang ada harus melihat arah pembangunan yang berpijak pada kepentingan masyarakat secara keseluruhan, bukan kepentingan yang bertumpu pada pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok, sebagai jembatan untuk semua

komponen itu adalah tunggal : Akhlakul Karimah167, visi Akhlakul

Karimah menuntut semua komponen masyarakat terlibat dan bukan saja komponen birokrasi tetapi juga masyarakat yang berada di luar birokrasi pemerintah.

Visi Akhlakul Karimah menjadi visi walikota Wahidin Halim dalam memimpin kota Tangerang selama 2 periode, doktrin kerja itu ibadah merupakan ajaran pertama dari konsep akhlakul karimah, substansi kerja bukan hanya untuk menggelambungkan perut saja tetapi kerja adalah untuk menata hidup untuk lebih baik lagi, menata generasi keluarga ke depan agar memiliki kehidupan yang layak, kehidupan yang layak akan menciptakan generasi yang tangguh, generasi yang mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik, generasi yang punya itikad membangun peradaban dengan

166 Lihat Anggaran Pendidikan Kota tangerang pada tahun 2004.(Dinas

pendidikan Kota tangerang)

167 Visi Akhlakul Karimah secara substantif bukan hanya milik warga

muslim saja, meski secara penanaman Akhlakul Karimah diambil dari teks-teks

Al_Qur’an .Penanaman Akhlakul Karimah hanya sebagai cara komunikasi ke ruang-ruang publik, agar mudah diserap dan mudah diingat, yang pasti menurut WH visi Akhlakul Karimah juga melihat perbedaan ras, suku dan perbedaan berpendapat yang bermuara bagi terwujudnya masyarakat madani. Wahidin Halim ,Ziarah Budaya Kota Tangerang menuju Masyarakat berperadaban Akhlakul Karimah, (Jakarta, Auracitra 2011, cet 2) h.104

Akhlak Mulia, dan itu semua bisa dicapai jika mempunyai niat untuk membangun hari esok yang lebih baik.

Cukup menarik menyimak upaya Wahidin Halim untuk

menjadikan warganya sebagai 'masyarakat madani' yang

berakhlakul karimah. Slogan-slogan akhlakul karimah, misalnya, saat ini terpampang hampir di semua sudut Kotamadya Tangerang. Sementara, staf dan jajaran di kantornya, dianjurkan berpakaian seislami mungkin, ruang rapat di gedung pemdapun dinamai

“Ruang Akhlakul Karimah”.

Wahidin Halim mengusulkan kepada DPRD Kota Tangerang untuk melahirkan Perda Pendidikan, Perda Pelarangan

Minuman beralkohol di Kota Tangerang168 dan Perda Pelarangan

Pelacuran169, Saat masih menjadi raperda larangan minuman

beralkohol dan pelarangan pelacuran, DPRD sempat menunda

pengesahan dua raperda tersebut karena dianggap kontroversial.170

168 Keprihatinan Wahidin Halim selaku walikota saat suatu hari di

datangi oleh seorang ibu yang mengadukan putranya yang tertangkap polisi karena mabuk dan berjudi padahal dia dari keluarga miskin, hal ini terjadi bukan satu atau dua orang melainkan banyak, keprihatinan ini disampaikan oleh bapak Wahidin Halim di hadapan anggota DPRD Kota Tangerang sambil menangis, (Wawancara dengan H. Abdul Syukur , Anggota DPRD Kota Tangerang Periode 1999- 2004 anggota DPRD kota Tangerang Periode 2004 -2008 anggota DPRD Propinsi Banten Tahun 2008 – 2014.Bakal Calon walikota Tangerang tahun 2014-2018 adik kandung dari Walikota Tangerang H. Wahidin Halim Selasa 26 Maret 2013

169 Banyaknya PSK wanita dan waria yang mangkal di sepanjang jalan

di daerah Kota Tangerang seperti di depan Kodim, sepanjang jalan Moch. Yamin , Jalan Daan Mogot, sepanjang pinggiran sungai cisadane , dan hal ini mengganggu pemandangan kota.juga menggangu pelajar karena di sepanjang jalan Moch Yamin terdapat banyak sekolah SMP SMA dan SMK, kemudian banyaknya waria dan PSK yang terkena penyakit kelamin ( AIDS) hingga meninggal.PSK yang beropersi di Tangerang yang berjumlah mendekati angka 400 orang disinyalir adalah PSK yang termarjinalkan atau tidak mampu beroperasi di Jakarta. (Wawancara dengan H. Abdul Syukur , Anggota DPRD Kota Tangerang periode 1999- 2004 anggota DPRD Kota Tangerang periode 2004 -2008 anggota DPRD propinsi Banten tahun 2008 – 2014. Bakal calon walikota Tangerang tahun 2014-2018 adik kandung dari walikota Tangerang H. Wahidin HalimSelasa 26 Maret 2013

170 Sejak raperda tersebut masih berupa wacana ada kelompok yang

menolak, lantaran perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan politisi yang menjadi anggota DPRD Kota Tangerang, mereka menolak berpendapat jika keberadaan dua Raperda tersebut bertentangan dengan peraturan

Bagaimana sesungguhnya konsep dan pemikiran walikota yang juga dikenal sebagai dai dan 'sufi kontemporer' itu dalam membangun wilayah dan masyarakatnya, Semua itu tertuang dalam

buku terbarunya yang diberi judul Piagam Akhlakul Karimah,171.

buku ini menegaskan niat Wahidin Halim untuk menegakkan Akhlakul Karimah di Kota Tangerang, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw ketika memerintah Wahidin Halim membeberkan bahwa pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan berkeadilan sosial, dapat dibangun melalui konsep-konsep yang Islami dengan menempatkan kerja sebagai ibadah dan kekuasaan sebagai amanat

Allah swt untuk mengabdi pada masyarakat172, dan salah satu kunci

terpenting untuk itu adalah 'kesalehan individu' para pemimpinnya.

Kepemimpinan walikota Wahidin Halim banyak terinspirasi oleh

pemimpin-pemimpin Islam, Ia menuturkan:

“Terinspirasi dari kepemimpinan Umar bin Khatab

yang melayani rakyatnya dan merasa berdosa bila ada rakyatnya yang menderita karena keteledoran dirinya sebagai pemimpin, pemimpin yang besar , pemimpin yang agung, ia haruslah seorang tokoh yang melayani rakyatnya dengan baik. kebiasaan melayani orang lain membuat diri tidak jadi sombong, orang yang suka melayani akan selalu berendah diri, berendah hati memperlihatkan segala kelebihannya, dia tidak pernah menguku-ngaku dirinya bahkan malah sebaliknya. Kepemimpinan Imam Khomaeni menjadi teladan bagi pemimpin manapun dimana Iman Khomaeni mampu menjadi salah satu pemimpin spiritual dan sekaligus pimpinan negara yang dihormati dan disegani karena dimulai dari pribadi yang mampu memanajemi

undangan di atasnya dan dianggap melanggar hak asasi manusia. Wahidin Halim

,Ziarah Budaya Kota Tangerang Menuju Masyarakat Berperadaban Akhlakul

Karimah, (Jakarta, Auracitra 2011, cet 2) h.32.

171Wahudin Halim, Piagam Akhlakul Karimah, Meretas Jalan

Masyarakat Madani (Jakarta, , 2006) h. 10

172

dirinya sendiri dan pribadi yang demikian biasanya sukses

melayani orang lain.173

Kebijakan bidang pendidikan ditujukan untuk

menghasilkan SDM yang tidak hanya pandai secara akademik, namun juga harus mempunyai kwalitas pada pasar kerja. Pendidikan lebih ditujukan untuk mencetak manusia dewasa yang mandiri dari kehidupan bermayarakat yang bertanggung jawab dan tahu akan kelebihan serta kekurangan dirinya. sehingga menjadi pribadi-pribadi yang penuh perhatian dan perduli terhadap sesama. Untuk mencapai tujuan itu ada beberapa persoalan yang perlu di perhatikandalam membangun bidang pendidikan, yaitu (1) kualitas pendidikan, dimana di dalamnya termasuk kualitas kurikulum, kualitas guru, dan kualitas manajemen pendidikan. (2) kesetaraan dan akdebilitas untuk memperoleh pelayanan pendidikan baik sarana mau pun prasarana, peningkatan pelayanan mencakup program prioritas sbb :

1. Belum meratanya kesempatan memperoleh pendidikan

2. Tingkat dasar, terutama untuk menjangkau masyarakat

kurang mampu.

3. Masih tingginya angka putus sekolah, buta huruf.

4. Masih rendahnya partisipasi sekolah tingkat SLTP, SMA

dan MA.

5. Belum sesuai mutu dan muatan kurikulum dan kebutuhan

dasar tenaga kerja yang tercermin dari banyaknya lulusan yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

6. Pendidikan luar sekolah masih kurang dapat perhatian dari

pemerintah.

7. Masih rendahnya pelayanan pendidikan dan belum adanya

standar pelayanan minimal yang sesuai dengan kondisi Kota Tangerang.

8. Kurang memadainya kualitas guru

9. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.

173 Wahidin Halim, Management Spiritual, (Jakarta, Melibas, 2004),

10.Sarana dan prasarana pendidikan dalam jumlah dan kualitas masih dirasakan kurang, terutama di pinggiran Kota

Tangerang.174

Dalam kaitan itu, menurut Wahidin :

“Tiap komponen masyarakat juga memiliki peran

penting dalam menciptakan good governance, bukan hanya para birokrat, dengan demikian, untuk membangun kultur birokrasi yang sehat juga memerlukan peran masyarakat. tanpa dukungan mayarakat, birokrasi pemerintahan akan berjalan tanpa pijakan yang benar dan terarah. Disinilah kerja sama antar berbagai komponen masyarakat dengan unsur-unsur birokrasi menjadi sangat urgen, tidak mungkin, misalnya, salah satu pihak menegakkan nilai-nilai akhlakul

karimah tanpa dukungan pihak lain “175.

Dari pemikiran-pemikiran Walikota tersebut di atas, maka peran Walikota Tangerang dalam melahirkan perda seperti tersebut adalah :

174 Wahidin Halim ,Ziarah Budaya Kota Tangerang menuju Masyarakat

berperadaban Akhlakul Karimah, (Jakarta, Auracitra 2011, cet 2) h.91-92.

175 Begitu pula, menurut Wahidin, dalam mencegah kemungkaran,

seperti membersihkan kota dari pelacuran, minuman keras, kriminalitas dan berbagai penyakit sosial lainnya, sangat memerlukan peran aktif masyarakat. Dalam pandangan Wahidin, jika kita berada di masjid, lalu mendengar ada orang berbuat zina, mencuri dan membunuh, terus kita dalam hati membenarkannya, maka kita memiliki derajat yang sama dengan pelaku kemungkaran itu Kita wajib mencegahnya dengan tindakan. Jika tidak mampu, maka harus mencegahnya dengan lisan. Setidaknya, membenci kemungkaran itu dengan hati. Prinsip ini, tampaknya, yang menyemangati diberlakukannya Perda tentang Pelarangan Pelacuran di Kota Tangerang, sebagai salah satu langkah untuk menciptakan masyarakat yang berakhlak mulia.Selain prinsip-prinsip di atas, buku ini juga berbicara tentang kebersihan, disiplin kerja, pentingnya berpikir positif, ijtihad, dan keadilan sosial. Semua itu dituturkan dalam bahasa yang popular, sehingga menarik dibaca dan mudah dipahami siapa saja. Menurut Harry Mulya Zein, buku ini perlu dibaca untuk lebih memahami semangat Perda tentang Pelarangan Pelacuran yang cukup kontroversial itu.Wahidin Halim, Piagam Akhlakul karimah, (Tangerang melibas, 2008),h. 9.

a. Menyampaikan usulan rancangan Perda (Raperda) Pendidikan dalam rapat paripurna Dewan pada tanggal 13

April 2007176.

b. Menyampaikan surat walikota Tangerang nomor :

188.34/1041-Kumdang/2005 tanggal 28 Juni 2005 Perihal Rancangan Perda (Raperda) Pelarangan Prostitusi dan

Pelarangan Minuman Keras177.

c. Menyampaikan rasa prihatin dalam sidang paripurna DPRD

Kota Tangerang, karena penundaan pengesahan Raperda

Pelarangan Prostitusi dan Pelarangan Minuman Keras178

2.Peran DPRD Dalam Melahirkan Perda

Peranan lembaga Legislatif daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendukung terlaksananya pemerintahan daerah yang efisien dan efektif bagi tercapainya tujuan untuk

kemajuan daerah tersebut, menurut Soedijarto,” salah satu ciri

utama dari sistem pemerintahan yang demokratis adalah suatu model penyelenggaraan pemerintahannya dilaksanakan atas

persetujuannya rakyat yang diperintah.179

Dengan pemikirannya yang tertuang dalam buku-buku karangan walikota Wahidin Halim tentang pendidikan maka bekerja dengan DPRD Kota Tangerang merancang berbagai peraturan daerah yang mengarah pada kemajuan pendidikan untuk Kota Tangerang.

Rancangan peraturan daerah (Raperda) dapat berasal dari DPRD atau kepala daerah (Gubernur, Bupati, atau Walikota). raperda yang disiapkan oleh kepala daerah disampaikan kepada DPRD, sedangkan raperda yang disiapkan oleh DPRD disampaikan

176 Lihat Lembaran Surat Keputusan Bersama Antara DPRD Kota

Tangerang dan Walikota Tangerang Nomor 188.34 / KEP.014.DPRD / 2007.

177 Lihat Lembaran Surat Keputusan Bersama Antara DPRD Kota

Tangerang dan Walikota Tangerang Nomor 172.4 / KEP.PIM 011.DPRD /VII / 2005.

178 Indra Setiawan dkk, Dibalik Kesuksesan WH, satu Dekade Pimpin

Kota Tangerang, (Tangerang, Ardiansyah) h. 31-33

179 Soedijarto, Kedudukan dan Peranan Lembaga Legislatif Daerah,

Pidato pada acara Diklat Akselensi Legislatif Bagi Anggota DPRD Se Propinsi Banten, Tanggal 1 Oktober Tahun 2002.

oleh pimpinan DPRD kepada kepala daerah pembahasan Raperda di DPRD dilakukan oleh DPRD bersama gubernur atau bupati/wali kota, pembahasan bersama tersebut melalui tingkat-tingkat pembicaraan, dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan DPRD

yang khusus menangani legislasi, dan dalam rapat paripurna180.

Raperda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Gubernur atau bupati/walikota untuk disahkan menjadi perda, dalam jangka waktu palinglambat 7 hari sejak tanggal persetujuan bersama, raperda tersebut disahkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan menandatangani dalam jangka waktu 30 hari sejak Raperda tersebut disetujui oleh DPRD dan gubernur atau bupati/walikota, jika dalam waktu 30 hari sejak Raperda tersebut disetujui bersama tidak ditandangani oleh gubernur atau bupati/walikota, maka Raperda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan.

Susunan pimpinan dan anggota panitia khusus Raperda penyelenggaraan pendidikan di ketahui dari surat keputusan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tangerang nomor 171/KEP/.013-PIM.DPRD/2007 tentang pembentukan panitia khusus pembahasan raperda penyelenggaraan pendidikan Kota Tangerang :

Tabel 3.1

Susunan Panitia Khusus Raperda Pendidikan No Nama Jabatan Keterangan

1 Drs.H.M.Krisna Gunata Koordinator F.Golkar

2 Ir.Moh.Bonnie Mufizar Wk.Koordinator F.PKS

3 Herry Rumawatine,S.H Wk.Koordinator F.Demokrat

4 Drs.PO Abbas Sunarya Ketua F.Golkar

5 Drs.H.Deddi Rustandi Wk.Ketua F.PAN

6 Asep Mulyawan,S.Pd Sekretaris F.PKS

180Lembaran Pemandangan Umum Fraksi-fraksi Dewan Perwakilan

rakyat Daerah Kota tangerang Terhadap Pengatar nota Keuangan Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Tangerang Tahun Anggaran 2004,.h. .24.

7 Hj. Ulfah Anggota F.Golkar

8 Saeroji Anggota F.PKS

9 John Alfred Nikijuluw Anggota F.Demokrat

10 Sakti Nasution Anggota F.Demokrat

11 M.Happy Dwi Atmoko Anggota F.PDIP

12 Dra.Yati Rohayati Anggota F.PPP

13 Ir.Suratno Abubakar Anggota F.PAN

14 H.Endang Zulkarnain Anggota F.K.Benteng

15 Saiful Millah Anggota F.K.Benteng

Sumber : Dewan Perwakilan Rakyat daerah Kota Tangerang

Selanjutnya setelah panitia bekerja membahas raperda tersebut maka keluarlah surat keputusan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tangerang dengan Walikota Tangerang dengan nomor surat : 188.34/KEP.014.DPRD/2007- 188.34/KEP.120.KUMDANG/2007 tentang persetujuan terhadap 4 (empat) buah raperda Kota Tangerang yaitu :

a. Raperda tentang Penyelenggaraan Pendidikan

b. Raperda tentang Rencana Detail Tata ruang Kecamatan

Benda

c. Raperda tentang Retribusi Izin Gangguan

d. Raperda tentang pencabutan perda Kota Tangerang no 3

tahun 2001 tentang Retrebusi Dispensasi Pemakaian Jalan Surat keputusan ini ditandatangani oleh walikota Tangerang H. Wahidin Halim dengan ketua DPRD Kota tangerang H.M. Krisna Gunata pada tanggal 20 Juni 2007, dengan tembusan kepada gubernur Banten, pimpinan dan para anggota DPRD Kota

Tangerang dan unsur Muspida181

Surat keputusan bersama Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah (DPRD) nomor 188.34/KEP.023-DPRD/2005-

188.34/KEP.147/KUMDANG/2005 tentang persetujuan terhadap 2 (dua) buah rancangan peraturan daerah Kota Tangerang menjadi peraturan daerah Kota Tangerang, dengan menimbang dilakukan pembahasan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku, serta

181 Lembaran Surat Keputusan bersama yang di keluarkan oleh Kantor

dengan mempertimbangkan pendapat akhir fraksi DPRD Kota Tangerang pada rapat paripurna hari Senin tanggal 21 Nopember 2005, rancangan peraturan daerah bisa diterima dan disetujui menjadi peraturan daerah, dan dengan pertimbangan bersama selanjutnya DPRD Kota Tangerang beserta Walikota Tangerang menyetujui rancangan peraturan daerah menjadi peraturan daerah kota Tangerang adapun kedua rancangan perda itu adalah :