• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Proses Produksi Program Sexophone

4.5.8 Proses Pengambilan Gambar

Menurut herbert Zettl (2009), salah satu tahap dalam proses produksi adalah perekaman gambar (video recording). Menurut Zettl, Sebelum merekam gambar, memastikan kepada camera operator apakah kamera sudah siap atau belum, apakah white balance kamera sudah sesuai atau belum. Memperhatikan latar depan dan latar belakang untuk aksi adegan, mendengarkan dengan cermat berbagai suara latar yang terdengar selama pengambilan dan perekaman gambar dan suara. Selama proses perekaman gambar di Sexophone, cameraman selalu menjaga dan memantau posisi dan warna kamera, audio man memastikan suara-suara yang masuk dalam rekaman jangan sampai ada suara noise yang masuk, dan director yang memperhatikan dan memantau kualitas gambar yang dihasilkan di monitor.

digunakan untuk mengambil gambar detail seperti gerakan tangan, gerakan mulut, mata, dan langkah kaki.

Gambar 4.42 Kamera EX3 dengan Tripod

Gambar 4.43 Kamera EX3 dengan Porta Jib

Pada saat yang bersamaan kedua kamera mengambil gambar, yang satu mengambil gambar objek sedang berjalan secara keseluruhan badan, kamera yang satu mengambil gambar detail kaki objek yang sedang melangkah berjalan.

“Ketika yang satu master, satu kamera itu harus master. master itu biasanya itu…luasan gambarnya seluruh badan dan seluruh ruangan itu

terlihat. Yang satunya lagi buat gambar-gambar detil, gerakan tangan…muka, langkah kaki itu diisi. Jadi biar gambar yang master tetep, tapi disela-sela omongannya dikasi gerakan bibir gitu…” (NU)

Untuk menghasilkan gambar seperti ini, seorang campers dan director harus memiliki insting yang bagus untuk mengambil gambar-gambar terbaik dan dari angle terbaik. Gambar-gambar yang diambil harus bervariasi supaya tidak terkesan membosnkan dan monoton, artinya gambar yang diambil tidak hanya satu jenis gambar dan tidak hanya satu angle saja. Misalnya mengambil gambar host secara bervariasi seperti host duduk, berdiri, berjalan, sedang minum, atau sedang main billiard. Angle atau sudut pandang pengambilan gambar juga bervariasi seperti dari sebelah kanan, sebelah kiri, atau dari atas host.

“…Itu sih insting dari seorang kamera harusnya ada, harus ada dari director nya yah, mau gambarnya seperti apa, framing nya seperti apa, apa harus jalan apa harus stay disitu atau pas naskah sekian harus nengok kesini atau kesana... Yang pasti sih itu harusnya dibuat bervariasi, agar penonton yang nonton nggak boring.” (RR)

Gambar 4.44 Dua kamera digunakan dengan posisi yang berbeda sehingga menghasilkan angle yang berbeda

Gambar 4.45 Kamera tripod mengambil gambar medium close up (kepala sampai bahu) host, sementara kamera porta mengambil gambar full shot seluruh badan host

Gambar 4.46 Kamera mengambil gambar host sedang berjalan

Selain itu juga harus fokus sehingga tidak kehilangan moment untuk pengambilan gambar. Misalnya gambar yang diambil hanya gambar objek berjalan secara keseluruhan badan, sementara gambar detail langkah kaki nya tidak diambil. Hal ini berarti campers tidak fokus dan kehilangan moment.

“…dan kalo bisa jangan kehilangan moment, jadi harus fokus cameraman nya.” (NU)

Strategi lainnya adalah dengan change kamera atau pergantian kamera, yaitu ketika host membaca satu paragraf ia menghadap ke kamera EX3 porta, selanjutnya ketika paragraf berikutnya ia menghadap ke kamera EX3 tripod.

“…Pake dua kamera itu lebih variatif, itu untuk variatif gambar sih sebenernya kalo ada dua kamera itu…jadi misalnya nih kamera 1 close ke Chantal, nanti yang kamera lainnya bisa ngambil gerakan tangan Chantal atau mungkin ngambil Chantal dari angle berbeda, itu lebih variatif, penonton juga ga bosen kan. Bisa change kamera juga, misalnya ngomong satu paragraf kesini, paragraf selanjutnya kesini…” (DE)

Setiap selesai mengambil satu take gambar, maka biasanya talent akan diam selama beberapa detik untuk memberikan jeda. Hal ini dilakukan agar proses editing menjadi lebih mudah, editor tidak akan kesulitan memotong dan menggabungkan gambar-gambar. Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Zettl (2009) tentang proses perekaman gambar (video recording) bahwa setiap akhir take, pastikan talent diam beberapa saat dan kamera tetap merekam beberapa detik untuk materi tambahan. Hal ini juga akan mempermudah editor dalam mengedit gambar pada paska produksi.

Untuk tapping Zoya, ada dua kamera yang digunakan yaitu kamera dengan tripod dan porta jib. Kamera ini bukan berasal dari vendor tetapi dari logistik TRANS TV. Proses pengambilan gambar untuk Zoya sama hal nya dengan Chantal.

dilakukan disela-sela shooting masih berlangsung. Biasanya, setiap kali selesai mengambil satu take atau satu gambar, hasil gambar yang baru saja diambil akan langsung dievaluasi. Jika sudah bagus maka hasil gambar akan langsung dipilih, namun terkadang jika sudah bagus namun merasa belum pasti, untuk amannya akan diambil gambar lagi sebagai cadangan atau yang biasa disebut gambar “choose”. Jika gambar masih belum bagus, maka akan dilakukan pengambilan gambar ulang atau retake. Gambar-gambar yang sudak “ok” atau ”choose” ditcatat oleh PA (Production Assistant) sebagai panduan untuk editing dalam memilih gambar di paska produksi. Biasanya dicatat di naskah lead host, sehingga di setiap segmen dari 1 sampai 5 di naskah sudah ada catatannya gambar mana saja yang “ok” dan “choose”.

Jika kamera kurang pas, maka akan langsung dievaluasi. Director akan langsung menginstruksikan untuk memperbaiki warna atau posisi kamera yang tadinya kurang tepat. Misalnya warna kamera terlalu gelap, atau gambar yang dihasilkan blur atau goyang akan langsung dievaluasi saat itu juga.

“Sebenernya kalo denger Produser bilang take satu choose atau oke itu sebenernya evaluasi. Cut, Tom…kameranya jangan terlalu atas nanti pas…out frame nya. Atau misalnya Mba Chantal geser kemana gitu, itu sudah evaluasi.” (NU)

“Oiya, kadang suka ada retake gitu kan. Retake itu kan sebenernya juga bentuk dari evaluasi juga kan. Oh gambar lo kurang ini nih gambar lo goyang misalnya, lo aa agak kekiri dikit deh jangan kekanan gitu. Itu evaluasi yang langsung makanya ada retake kan.” (DE)

Proses evaluasi yang dilakukan tim Sexophone di sela-sela pengambilan gambar, sesuai dengan pendapat Zettl tentang salah satu proses produksi yaitu perekaman gambar. Menurut Zettl, setiap kali selesai mengambil satu gambar, putar ulang pada monitor dan dilihat kenbali, jika sudah bagus maka shooting dilanjutkan dengan gambar atau adegan lain, namun jika hasil gambar kurang bagus maka bisa dilakukan pengulangan pengambilan gambar. Begitu pula yang dilakukan Director setiap selesai mengambil gambar akan langsung diputar ulang di monitor untuk dievaluasi.

Dokumen terkait