KELOMPOK FUNGSIONAL
9 UPT PSB Prov. NTT
Specificity (%) Accuracy (%) Contoh uji positif Contoh uji negatif A B E C D F 1 BBUSKP + + + - - - 100 100 100 2 IPB + + + - - - 100 100 100 3 BPSBTPH Jawa Barat + + + - - - 100 100 100 4 BPSB Prov. Jawa Tengah + - + - - - 66,67 100 83,33 5 UPTD BPSBTPH Lampung + + + - - - 100 100 100 6 BPSB TPH Kalimantan Selatan + + - - - - 66,67 100 83,33 7 PTD BPSB TPH Sulawesi Selatan + + + - - - 100 100 100 8 BPSBTPH Prov. NTB + + + - - - 100 100 100 9 UPT PSB Prov. NTT + + - - - - 66,67 100 83,33 10 PT AMP + + + - - - 100 100 100
Dari 10 laboratorium peserta kegiatan verifikasi, terdapat 7 laboratorium yang dapat melakukan pengujian nematode terbawa benih dengan nilai
sensitivity, specivicity dan accuracy lebih dari 80 %, Sedangkan 3
laboratorium lainnya dapat melakukan pengujian nematoda terbawa benih tetapi nilai sensitivitynya kurang dari 80%.
Dari kegiatan pengembangan metode ini diperoleh rekomendasi bahwa sampai tahun 2016, dari 32 BPSB di Indonesia, telah ada 9 BPSB (BPSBTPH Jawa Barat, BPSB Provinsi Jawa Tengah, BPSB TPH Kalimantan Selatan, UPTD BPSB TPH Sulawesi Selatan, BPSBTPH Provinsi Nusa Tenggara Barat, UPTD BPSBTPH Provinsi Lampung, UPT PSB Provinsi Nusa Tenggara Timur, UPT PSBTPH Provinsi Jawa Timur dan UPSBTPH Provinsi Kalimantan Barat) yang mampu melakukan pengujian nematoda terbawa benih padi. Kegiatan verifikasi ini akan dilanjutkan dengan melibatkan 23 BPSB di tahun 2017 dan 2018.
g. Verifikasi Metode ISTA No 011 Deteksi Pyricularia oryzae pada Benih Padi
Organisme pengganggu tanaman dapat menurunkan kualitas benih melalui infeksi pada jaringan benih atau kontaminasi pada permukaan benih. Organisme pengganggu tanaman, seperti patogen, dapat berupa bakteri, cendawan maupun virus dan nematoda. Untuk mendeteksi
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 18 keberadaan patogen atau status kesehatan benih diperlukan pengujian kesehatan benih. Sebagai acuan dalam pengujian mutu benih, ISTA juga telah mengeluarkan beberapa metode standar untuk pengujian kesehatan benih yang diterbitkan dalam Annexe Chapter 7: Seed Health Testing. Metode ISTA No. 7-011 merupakan metode untuk deteksi
Pyricularia oryzae pada benih padi. Prinsip metode ISTA No. 7-011
adalah menggunakan metode Blotter Test dengan perlakuan suhu inkubasi 22 ± 2ºC dibawah penyinaran lampu NUV dengan 12 jam terang dan 12 jam gelap secara bergantian.
Laboratorium Balai Besar PPMB-TPH merupakan Laboratorium terakreditasi ISTA untuk pengujian kesehatan beberapa cendawan terbawa benih padi, salah satu diantaranya adalah cendawan target
Pyricularia oryzae. Sebagai laboratorium yang telah terakreditasi, maka
diperlukan pemantauan kinerja untuk ruang lingkup tersebut. Dalam pengujian rutin di Laboratorium Mikrobiologi Cendawan terdapat permasalahan dimana analis sulit mendeteksi cendawan P. oryzae, meskipun pengujian telah dilakukan pada banyak varietas benih padi. Penyebab kesulitan dalam deteksi cendawan P. oryzae diduga karena metode yang digunakan di laboratorium belum sepenuhnya memenuhi persyaratan ISTA Rules 7-011. Perbedaan tersebut adalah adanya prosedur perlakuan inkubasi dengan suhu dingin -20°C (freezing) pada hari ke-2 selama masa inkubasi, sedangkan pada metode ISTA Rules 7-011 tidak terdapat perlakuan freezing. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melakukan kegiatan Verifikasi Metode ISTA No. 7-011. Kegiatan verifikasi bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan metode tersebut dalam deteksi cendawan P. oryzae. Percobaan verifikasi dilakukan dengan 1 faktor yaitu perlakuan metode uji dengan 16 perlakuan. Pada percobaan ini setiap perlakuan diulang 4 kali sehingga secara keseluruhan terdapat 64 satuan percobaan. Variabel yang diamati yaitu persentase infeksi cendawan P.oryzae. Data hasil deteksi cendawan P. oryzae yang diperoleh dari hasil pengujian menggunakan 16 perlakuan metode, diolah dengan analisis ragam. Apabila terdapat pengaruh yang berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut dengan Duncan Multiple Rate Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%.
Hasil pelaksanaan kegiatan verifikasi metode yang dilakukan dengan beberapa tahapan adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan dan pengambilan tanaman bergejala di lapang
Sumber inokulum yang digunakan adalah tanaman padi sawah varietas Ciherang yang mempunyai gejala serangan penyakit blast dari lahan pertanaman yang berada dibawah pengawasan Laboratorium Pengamatan dan Peramalan Hama dan Penyakit Tanaman Pangan Cianjur. Inokulum diambil pada tanggal 10 Maret 2016 dengan umur kurang lebih 90 hari (10 hari sebelum masa panen).
2) Hasil uji pendahuluan
Pengujian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan metode blotter test untuk deteksi ada tidaknya cendawan target P. oryzae pada jaringan tanaman (batang, daun dan benih) yang diambil dari
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 19 lapang sebagai sumber inokulum. Pengujian ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa benih yang digunakan untuk verifikasi metode adalah benih yang positif terinfeksi cendawan target. Hasil pengujian melalui pengamatan cendawan secara mikroskopik ditemukan cendawan target pada jaringan tanaman yaitu pada bagian batang dan benih. Pada jaringan daun tidak ditemukan cendawan target namun terdeteksi adanya pertumbuhan cendawan lain seperti:
Nigrospora oryzae dan Tilletia barclayana yang menutupi hampir
seluruh bagian permukaan daun sehingga diduga dapat menghambat pertumbuhan P. oryzae.
Dari hasil uji pendahuluan diketahui bahwa benih padi yang diambil dari lapang positif terserang penyakit blast / terinfeksi cendawan P.
oryzae dan dapat digunakan untuk kegiatan verifikasi lebih lanjut.
Hasil identifikasi cendawan dilaporkan persentase infeksi P. oryzae dan juga beberapa cendawan lain yang ditemukan pada jaringan batang, daun dan benih. Cendawan P. oryzae mempunyai ciri-ciri morfologi yaitu koloni yang berukuran kecil, tidak mencolok, berwarna abu-abu hingga kehijauan. Konidia berbentuk bulat, lonjong, tembus cahaya, dan bersekat dua atau 3 ruangan (Ou, 1985 dalam Azis, 2013). Gambar koloni cendawan P. oryzae dan struktur konidia yang terdeteksi pada benih dapat dilihat pada Gambar V.I.14.
Gambar V.I.14. Cendawan P. oryzae diamati di bawah mikroskop stereo (a), konidia dan konidiophor diamati di bawah mikroskop compound (b), (c) dan (d)
3) Hasil verifikasi metode uji
Verifikasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil uji cendawan berdasarkan metode ISTA dengan beberapa metode
blotter test lain atau metode ISTA yang dimodifikasi. Tujuannya
adalah untuk mengetahui metode uji yang paling efektif dalam deteksi cendawan P. oryzae. Secara keseluruhan terdapat 16 perlakuan metode yang digunakan untuk pengujian. Setiap 1 perlakuan metode uji terdiri dari kombinasi perlakuan yang meliputi jarak penyinaran lampu NUV, waktu penyinaran dengan lampu NUV,
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 20 penggunaan 2 jenis cawan petri, dan penggunaan suhu inkubasi dengan/tanpa perlakuan suhu dingin -20°C). Hasil verifikasi dengan beberapa perlakuan metode inkubasi, diperoleh hasil pengujian deteksi cendawan P. oryzae yang dilakukan oleh 4 orang analis (4 ulangan) adalah seperti yang tersaji pada Tabel V.I.13.
Sesuai dengan Tabel V.I.11 di atas, setiap 1 perlakuan metode uji terdiri dari kombinasi perlakuan yang meliputi jarak penyinaran lampu NUV (25 cm/40 cm), waktu penyinaran dengan lampu NUV (dimulai hari ke-1 / ke-2 / ke-3 hingga hari ke-7), penggunaan 2 jenis cawan petri (kaca / plastik), dan penggunaan suhu inkubasi (suhu ruang 28-30°C / suhu terkendali 20±2°C, dengan/tanpa perlakuan suhu dingin -20°C). Metode sesuai nomor 1-4 merupakan metode sesuai persyaratan ISTA, metode nomor 5–8 merupakan metode ISTA yang dimodifikasi dengan perlakuan suhu dingin -20°C (freezing) dan biasa dilakukan dalam pengujian sehari-hari di Laboratorium Balai Besar PPMB-TPH, metode nomor 9–12 merupakan metode baru, dan metode nomor 13–16 adalah metode yang diadopsi dari IPB.
Tabel V.I.13. Hasil identifikasi cendawan P. oryzae dengan berbagai perlakuan metode inkubasi
No Jenis Bahan Petridish Jarak Penyinaran NUV (Cm) Penyinaran NUV (Hari ke-)
Perlakuan Suhu (Hari ke-)
% Infeksi Cendawan (Ulangan) Rerata 1 2 3 4 1 Plastik 25 1 s.d 7 1 s.d 7 (20±2°C) 7 11 12 13 10.75 2 Plastik 40 1 s.d 7 1 s.d 7 (20±2°C) 12 17 25 21 18.75 3 Kaca 25 1 s.d 7 1 s.d 7 (20±2°C) 6 5 15 9 8.75 4 Kaca 40 1 s.d 7 1 s.d 7 (20±2°C) 14 11 21 13 14.75 5 Plastik 25 1, 3 s.d 7 1 (20±2°C), 2 (-20°C), 3 s.d 7 (20±2°C) 13 9 8 10 10.00 6 Plastik 40 1, 3 s.d 7 1 (20±2°C), 2 (-20°C), 3 s.d 7 (20±2°C) 11 6 5 19 10.25 7 Kaca 25 1, 3 s.d 7 1 (20±2°C), 2 (-20°C), 3 s.d 7 (20±2°C) 11 9 14 14 12.00 8 Kaca 40 1, 3 s.d 7 1 (20±2°C), 2 (-20°C), 3 s.d 7 (20±2°C) 13 15 7 16 12.75 9 Plastik 25 2 s.d 7 1 (28-30°C), 2 s.d 7 (20±2°C) 14 10 4 11 9.75 10 Plastik 40 2 s.d 7 1 (28-30°C), 2 s.d 7 (20±2°C) 9 12 17 5 10.75 11 Kaca 25 2 s.d 7 1 (28-30°C), 2 s.d 7 (20±2°C) 6 9 5 16 9.00 12 Kaca 40 2 s.d 7 1 (28-30°C), 2 s.d 7 (20±2°C) 10 6 7 7 7.50 13 Plastik 25 3 s.d 7 1 s.d 7 (28-30°C) 7 7 10 9 8.25 14 Plastik 40 3 s.d 7 1 s.d 7 (28-30°C) 11 3 10 18 10.50 15 Kaca 25 3 s.d 7 1 s.d 7 (28-30°C) 10 1 6 16 8.25 16 Kaca 40 3 s.d 7 1 s.d 7 (28-30°C) 10 1 5 15 7.75
Berdasarkan hasil deteksi cendawan P. oryzae pada Tabel V.I.13, seluruh perlakuan metode dapat digunakan untuk mendeteksi cendawan P. oryzae. Namun, terlihat perbedaan tingkat infeksi pada masing-masing metode. Persentase infeksi cendawan yang paling tinggi berturut-turut adalah pada perlakuan metode 2 (metode ISTA menggunakan petridish bahan plastik, jarak NUV 40 cm) tingkat infeksi 18,75%, metode 4 (metode ISTA menggunakan petridish bahan kaca, jarak NUV 40 cm) tingkat infeksi 14,75% dan metode 8 (metode ISTA menggunakan petridish bahan kaca, jarak NUV 40 cm dan disisipkan perlakuan freezing pada hari ke-2 tingkat infeksi 12,75%. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan metode terhadap hasil uji berbeda nyata atau tidak maka dilakukan pengolahan data secara statistik menggunakan analisis ragam.
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 21 Dari hasil analisis ragam yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa 16 perlakuan metode pengujian yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap hasil uji pada α 9,99%. Hal ini berarti bahwa seluruh perlakuan metode dapat digunakan untuk deteksi cendawan target. Namun dengan alasan pertimbangan ekonomis, perlakuan menggunakan petridish dari bahan plastik tidak direkomendasikan untuk menjadi metode alternatif karena petridish hanya dapat digunakan sekali pakai.
Berdasarkan pengalaman analis pada saat proses pengamatan menggunakan mikroskop, terdapat 2 metode yang dianggap paling mudah dan efektif yaitu perlakuan metode inkubasi suhu 22 ± 2°C selama 7 hari (metode ISTA) dan perlakuan metode inkubasi suhu 22 ± 2°C dengan perlakuan suhu dingin -20°C (freezing) selama 24 jam pada hari ke-2. Hal ini relevan dengan hasil identifikasi cendawan P. oryzae pada Tabel 11 bahwa tingkat infeksi yang tinggi dapat dideteksi dengan kedua metode tersebut. Dua metode tersebut dipilih karena beberapa alasan subyektif, dimana terdapat metode lain yang kurang aplikatif digunakan yaitu perlakuan metode inkubasi pada suhu ruang 28 - 30°C. Pada perlakuan metode ini, hasil pengamatan menggunakan mikroskop stereo yang dilakukan pada hari ke-8 setelah masa inkubasi, terlihat spora yang tumbuh pada benih masih sedikit dan sangat diperlukan kehati-hatian analis untuk dapat mengambil spora dan membuat preparat. Selain itu, analis mengalami kesulitan pada saat proses mengidentifikasi struktur konidia P. oryzae menggunakan mikroskop compound karena bentuk konidia yang diamati belum terlalu jelas / belum sempurna dan dapat menimbulkan keraguan sehingga menyebabkan proses identifikasi menjadi lebih lama. Diduga pada kondisi suhu tersebut waktu inkubasi selama 7 hari belum mencukupi untuk terjadinya sporulasi cendawan P. oryzae secara optimal.
Dengan mempertimbangkan tingkat kemudahan bagi analis dalam teknik pengamatan secara mikroskopik menggunakan kedua metode tersebut, maka 2 metode tersebut selanjutnya dipilih dan diaplikasikan untuk pengawasan mutu benih yang beredar hasil uji petik, khususnya pada pengujian cendawan terbawa benih padi. Hasil pengujian terhadap 20 contoh benih hasil uji petik tidak ada satupun varietas benih yang terdeteksi cendawan P. oryzae. Adanya permasalahan bahwa selama ini analis kesulitan mendeteksi cendawan P. oryzae diduga disebabkan karena benih yang diuji adalah benih-benih yang telah bersertifikat, dimana benih-benih tersebut telah mengalami proses pengolahan pasca panen seperti penampian/pemilahan, pengeringan, pembersihan dan perlakuan lainnya.
Hasil observasi terhadap benih yang diambil dari lapang dengan tingkat kadar air awal 16% yang dinyatakan positif terinfeksi cendawan P. oryzae melalui uji pendahuluan maupun pengujian verifikasi metode, setelah dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari hingga kadar airnya mencapai 9%, ternyata setelah diuji kembali sudah tidak terdeteksi cendawan P. oryzae. Hal ini
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 22 menunjukkan bahwa perlakuan pengeringan dengan sinar matahari dapat mengurangi secara signifikan bahkan menghilangkan infeksi benih oleh P. oryzae. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Manandhar et al. (1998) menyebutkan bahwa infeksi P. oryzae yang rendah ditemukan pada sampel yang menggunakan perlakuan penampian pada proses pengolahan pasca panen, karena benih yang terinfeksi menjadi hampa sehingga mudah terbuang dalam proses penampian/pemilahan. Demikian pula infeksi lebih rendah terdapat pada sampel yang dikeringkan di bawah sinar matahari. Pengeringan di bawah sinar matahari dapat mengurangi keberadaan inokulum pada permukaan benih atau bahkan mengurangi infeksi pada tingkat awal. Oleh karena itu contoh kirim benih padi untuk pengujian kesehatan benih biasanya memiliki infeksi yang rendah, karena telah melalui proses pasca panen seperti pemilahan dan pengeringan di bawah sinar matahari.
Dengan membandingkan penggunaan kedua metode tersebut secara visual, terlihat ada pengaruh yang berbeda pada kondisi benih yang ditabur pada cawan petri. Perbedaan tersebut adalah benih yang diinkubasi tanpa perlakuan freezing tampak mengalami perkecambahan, sedangkan benih yang ditabur dengan perlakuan
freezing pada hari ke-2 masa inkubasi tidak mengalami
perkecambahan. Terjadinya perkecambahan pada benih tentunya dapat mengganggu proses identifikasi cendawan dengan menggunakan mikroskop stereo karena sebagian besar benih yang ditabur tumbuh akar dan tunas, sehingga posisi benih terangkat dari permukaan media, menjadi tidak teratur dan sulit diamati. Adanya pertumbuhan benih tersebut juga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang antar individu benih yang terinfeksi cendawan. Kesimpulan hasil verifikasi adalah bahwa metode blotter test pada suhu inkubasi 20±2°C dengan perlakuan freezing yang biasa dilakukan dalam pengujian sehari-hari di laboratorium cendawan merupakan metode yang dianggap paling efektif untuk deteksi P.
oryzae.
Dari kegiatan pengembangan metode ini diperoleh rekomendasi bahwa metode deteksi cendawan P. oryzae yang aplikatif dan efektif adalah metode blotter test dengan menggunakan :
1) Cawan petri dari bahan kaca;
2) Suhu inkubasi 22±2°C dengan penyinaran lampu NUV 12 jam terang dan 12 jam gelap secara bergantian selama 7 hari;
3) Perlakuan suhu dingin -20°C (freezing) selama 24 jam pada hari ke-2 dalam masa inkubasi 7 hari.
h. Verifikasi Optimasi Penanda Simple Sequence Repeat (SSR) Dalam Kemurnian Genetik Secara Molekuler (DNA) Padi Hibrida
Upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan melalui peningkatan produktivitas padi diantaranya adalah penggunaan benih padi hibrida yang memiliki keunggulan produksi tinggi. Benih hibrida merupakan keturunan pertama (F1) yang dihasilkan dari persilangan antara dua atau lebih tetua pembentuknya (galur induk/ inbrida
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 23 homozigot). Sebanyak 98 varietas padi hibrida telah dilepas di Indonesia antara lain adalah HIPA Jatim 1, HIPA Jatim 2, HIPA 3, HIPA 5 ceva, HIPA 7, HIPA 8, HIPA 9, dan HIPA 6 Jete. Beberapa varietas tersebut berasal dari tetua Galur Mandul Jantan (CMS) A1 kecuali HIPA 6 Jete yang berasal dari A2 dengan tetua Pemulih Kesuburan (Restorer) yang beragam seperti R2, R5, R14, PK 12, PK 17, PK 21, PK 88.
Pada kegiatan sertifikasi benih, pemeriksaan kemurnian benih di lapang menjadi salah satu prosedur penting guna menghasilkan benih bermutu. Uji kemurnian genetik sangat penting dalam penentuan kebenaran varietas benih yang sesuai dengan persyaratan dari varietas tersebut secara kualitas, atau tidak terdapat campuran varietas lain. Kemurnian genetik benih hibrida dapat dilakukan di laboratorium secara molekuler seperti penggunaan penanda Simple Sequence Repeat (SSR). Waktu yang dibutuhkan dalam pengujan kemurnian benih padi hibrida relatif singkat (5 hari) dan lebih akurat dibandingkan pemeriksaan kemurnian di lapang yang memerlukan waktu sesuai umur tanaman dan dilaksanakan oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT) yang berkompeten terhadap morfologi varietas tanaman. Diharapkan metode uji kemurnian genetik secara molekuler di laboratorium dapat memberikan alternatif pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan.
Berdasarkan hasil verifikasi metode pengujian kemurnian genetik secara molekuler (DNA), diketahui bahwa tiga penanda SSR yaitu RM 164, RM 263,dan RM 276 merupakan penanda SSR yang dapat digunakan dalam mendeteksi kemurnian benih hibrida. Kegiatan verifikasi metode ini memberikan hasil bahwa 1) Program penggandaan PCR yang optimal untuk penempelan primer (annealing) baik suhu dan waktu adalah 53°C selama 30 detik dengan komposisi reagen untuk DNA cetakan (contoh kerja) 3 ul dengan konsentrasi 50x. 2) Penanda SSR yang dapat menginterpretasikan adanya perbedaan (campuran varietas lain) adalah RM 164, RM 263, dan RM 276 dengan visualisasi fragmen DNA dari dokumentasi lebih dari satu alel.
Gambar V.I.15. Morfologi contoh tanaman padi hibrida HIPA 6 Jete dengan campuran varietas lain yang diamati
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 24 Gambar V.I.16. Tahap persiapan bahan uji dan salah satu langkah
kerja uji kemurnian genetik (DNA) di laboratorium
Gambar V.I.17. Visualisasi hasil amplifikasi PCR dengan penanda RM 164 dan RM 263 pada HIPA Jatim 1 di laboratorium Dari kegiatan pengembangan metode ini diperoleh rekomendasi bahwa : 1) Metode pengujian Simple Sequence Repeat (SSR) dengan
penanda RM 164, RM 263 dan RM 276, dapat digunakan sebagai metode pengujian kemurnian genetik (DNA) varietas padi hibrida di laboratorium;
2) Pengujian kemurnian genetik metode SSR pada varietas benih padi hibrida di laboratorium menggunakan contoh pembanding berupa tetua jantan dan tetua betina dari varietas yang diuji.
i. Verifikasi Kapasitas Desikator dan Optimalisasi Jumlah Cawan dalam Penetapan Kadar Air (KA) Benih Padi
Tingkat keakuratan/kebenaran hasil pengujian berdasarkan SNI ISO/IEC 17025:2008 sangat ditentukan oleh faktor manusia, kondisi akomodasi dan lingkungan, metode pengujian dan validasi, peralatan, ketertelusuran pengukuran, pengambilan contoh dan penanganan barang yang diuji. Tingkat keakuratan hasil pengujian kadar air (KA) dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya analis yang kurang begitu diperhatikan, seperti: menimbang wadah KA dalam jumlah banyak sekaligus, masih menggunakan desikan yang tidak efektif, teknik memindahkan wadah KA ke dalam dan keluar oven dll. Berdasarkan hal tersebut maka, dilakukan verifikasi untuk dapat menetapkan jumlah wadah KA optimal yang dapat ditimbang sekaligus tanpa mempengaruhi hasil KA serta mengetahui efektivitas desikan silica gel terhadap hasil KA dengan menggunakan maksimal jumlah wadah KA (cawan
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 25 porselen/alumunium) dalam desikator berukuran standar (diameter 29,5 cm dan tinggi 28 cm).
Alat dan bahan yang diperlukan meliputi: cawan porselen dan alumunium, neraca, desikator, oven, grinding mill, saringan, serta bahan uji berupa benih padi varietas Ciherang dan mentimun varietas Yupiter, seperti pada Gambar V.I.18.
Gambar V.I.18. Bahan uji benih padi varietas Ciherang (a) dan mentimun varietas Yupiter (b)
Dalam prosedur pelaksanaan verifikasi beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1) Verifikasi kapasitas desikator
a) Desikator yang digunakan adalah berukuran standar yang biasa digunakan oleh laboratorium penguji mutu benih (BPSB) yaitu berdiameter 29,5 cm dan tinggi 28 cm, seperti yang terlihat pada Gambar V.I.19.
Gambar V.I.19. a) Ukuran desikator yang digunakan diameter 29,5 cm; tinggi 28 cm; b) Desikator dengan silica
gel
b) Desikan yang digunakan adalah silica gel (Gambar 20) dengan volume 1kg/desikator
c) Waktu yang diperlukan untuk mendinginkan wadah KA dalam desikator 30-40 menit (harus dicatat waktu yang dibutuhkan sesuai dengan bahan wadah KA, jumlah dan kondisi desikan). d) Tingkat kelembabanataurH desikator perlu juga dicatat.
e) Terdapat desikator kontrol (desikator yang hanya berisi 2 wadah KA) dan desikator perlakuan yang berisi penuh wadah (cawan porselen : 20 wadah; untuk alumunium 40 wadah), yang dapat dilihat pada Gambar V.I.20.
a
b
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 26 Gambar V.1.20. a) Desikator kontrol (2 cawan) dan perlakuan (20 cawan); b) Desikator kontrol (2 wadah alumunium) dan perlakuan (40 wadah alumunium)
f) Kondisi desikan yang digunakan: baru, 1 sampai dengan 10 bulan pakai atau lebih (desikan yang digunakan untuk verifikasi tidak diganti sampai jangka waktu yang ditentukan). Sehingga diperlukan rekaman penggunaan desikator seperti: jumlah wadah KA; setiap hari dan setiap pengujian untuk desikator kontrol maupun yang perlakuan.
2) Verifikasi optimalisasi wadah KA saat penimbangan, yang perlu diperhatikan :
a) Waktu yang diperlukan setiap kali penimbangan (berhubungan dengan kecepatan penimbangan).
b) Jarak antara desikator dengan neracaatau waktu yang diperlukan untuk memindahkan wadah KA dari desikator ke neraca.
c) Antrian jumlah wadah yang dicoba: 4 , 6, 8, 10 wadah KA dan seterusnya sekaligus secara berurutan dibandingkan dengan kontrol (penimbangan hanya terdiri dari 2 wadah/ 2 ulangan). Penimbangan dihentikan bila telah mendapatkan hasil KA diluar toleransi.
Adapun analisa data untuk verifikasi kapasitas desikator dilakukan dengan membandingkan hasil penetapan KA menggunakan desikator A (sebagai kontrol) dengan rata-rata hasil KA desikator B, (toleransi yang digunakan adalah 0,2 sesuai ISTA Rules 2015, Chapter 9), sedang verifikasi optimalisasi wadah KA saat penimbangan, toleransi antar ulangan pada pengujian KA sebesar 0,2%, digunakan untuk menetapkan perbedaan selisih antara % KA kontrol dengan perlakuan. Berdasarkan analisa data tersebut diperoleh hasil bahwa dalam penetapan KA benih padi dan mentimun dengan menggunakan cawan porselen (20 cawan pada desikator B), ternyata seluruh cawan yang digunakan dapat ditimbang langsung secara berurutan tanpa disimpan dulu dalam desikator untuk menunggu waktu penimbangan, karena selisih rata-rata persentase KA antara kontrol (2 cawan yang ditempatkan di desikator A) dengan perlakuan (20 cawan yang ditempatkan di desikator B) masih memenuhi batas toleransi. Begitu pula halnya pada penetapan KA benih mentimun yang menggunakan wadah alumunium (40 wadah pada desikator B). Sedangkan untuk penetapan KA benih padi yang menggunakan wadah alumunium, jumlah
BALAI BESAR PPMB-TPH 5 - 27 maksimal wadah yang dapat ditimbang langsung secara berurutan adalah hanya sampai dengan wadah ke-36, dan sisanya menghasilkan persentase KA yang melebihi batas toleransi bila dibandingkan dengan kontrol. Hal ini dikarenakan rata-rata waktu tiap ulangan yang diperlukan pada setiap tahapan penetapan KA dari mulai penghancuran (untuk benih padi) sampai dengan penimbangan untuk memperoleh M3 memerlukan waktu lebih lama yaitu ± 213 detik dibandingkan dengan perlakuan lainnya (lihat Tabel V.I.14). Lebih lamanya waktu yang diperlukan pada tahapan penetapan KA dengan menggunakan wadah alumunium (diluar waktu pengeringan oven) disebabkan tidak mudahnya analis dalam membuka dan menutup wadah bahan alumunium sehingga diperlukan tambahan waktu. Selain itu pada penetapan KA benih padi seperti yang disajikan pada Tabel V.I.14, baik yang menggunakan cawan porselen atau alumunium rata-rata memerlukan waktu tiap ulangan lebih lama daripada mentimun dikarenakan adanya tahapan penghancuran (grinding).
Tabel V.1.14. Hasil verifikasi optimalisasi wadah KA saat penimbangan
Bahan uji Jenis
wadah KA
Ʃ maksimal wadah KA dlm
penimbangan
Rata-rata waktutiapulangan (detik) Ʃ waktu
yang diperlukan (detik) Penimbangan M1, M2 & M3 Pemindahan/memasukkanwadah KA darioven, desikator dan neraca (termasuk penghancuran)
Padi Cawan porselen 20 ±110 ±56 ±166 Mentimun Cawan porselen 20 ±45 ±30 ±75 Padi Alumunium 36 ±137 ±77 ±213 Mentimun Alumunium 40 ±81 ±31 ±112
Untuk kegiatan verifikasi kapasitas desikator yang bertujuan mengetahui efektivitas desikan silica gel terhadap hasil KA dengan menggunakan maksimal jumlah wadah KA (cawan porselen/alumunium) dalam desikator berukuran standar (diameter 29,5 cmdan tinggi 28 cm), sampai dengan bulan ke-9 (sembilan) penggunaan desikan silica gel berdasarkan hasil analisa data selisih antara rata-rata setiap hasil penetapan KA menggunakan desikator A (sebagai kontrol) dengan desikator B (perlakuan) masih dalam batas toleransi ( maksimal 0,2%) yang berarti desikan masih memenuhi persyaratan atau masih efektif, baik untuk bahan uji benih padi maupun mentimun dengan menggunakan cawan porselen maupun alumunium. Pada kondisi desikan yang masih efektif jika contoh benih didinginkan dalam desikator, benih yang hangat tidak akan menyerap uap air karena