• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pseudomonas aeroginosa

Dalam dokumen Basil Gram Positif Dan Gram Negatif (Halaman 67-75)

2. Bakteremia dengan Lesi Fokal

3.4 Batang Gram Negatif

3.4.1 Pseudomonas aeroginosa

P. aeroginosa tersebar kuas di alam dan biasanya terdapat di lingkungan yang lembab di rumah sakit. Bakteri ini dapat tinggal pada manusia yang normal, dan berlaku sebagai saprofit. Bakteri ini menyebabkan penyakit bila pertahanan tubuh inang abnormal.

a. Morfologi & Identifikasi

Ciri Khas Organisme

P. aeruginosa bergerak dan berbentuk batang, berukuran sekitar 0,6 x 2 µm. Bakteri ini gram-negatif dan terlihat sebagai bakteri tunggal, berpasangan, dan kadang-kadang membentuk rantai yang pendek.

Biakan

P. aeruginosa adalah aerob obligat yang tumbuh dengan mudah pada banyak jenis perbenihan biakan, kadang-kadang

menghasilkan bau yang manis atau menyerupai anggur. Beberapa strain menghemolisis darah. P. aeroginosa membentuk koloni halus bulat dengan warna fluoresensi kehijauan. Bakteri ini sering menghasilkan piosianin, pigmen kebiru-biruan yang tak berfluoresensi, yang berdifusi ke dalam agar. Spesies Pseudomonas lain tidak menghasilkan piosianin. Banyak strain P. aeroginosa juga menghasilkan pigmen pioverdinpioverdin yang berfluoresensi, yang memberi warna kehijauan pada agar. Beberapa strain menghasilkan pigmen piorubin yang berwarna merah gelap atau pigmen piomelanin yang hitam.

P. aeroginosa dalam biakan dapat menghasilkan berbagai jenis koloni, sehingga memberi kesan biakan dari campuran berbagai spesies bakteri. P. aeroginosa yang jenis koloninya berbeda dapat mempunyai aktivitas biokimia dan enzimatik yang berbeda dan pola kepekaan antimikroba yang berbeda pula. Biakan dari pasien dengan fibrosis kistik sering menghasilkan P. aeroginosa yang membentuk koloni sangat mukoid sebagai hasil produksi berlebihan dari alginat, suatu eksopolisakarida.

Ciri-ciri Pertumbuhan

P. aeroginosa tumbuh dengan baik pada suhu 37-420C; pertumbuhannya pada suhu 420C membantu membedakan spesies ini dari spesies Pseudomonas lain. Bakteri ini oksidase

positif dan tidak meragikan karbohidrat. Tetapi banyak strain mengoksidasi glukosa. Pengenalan biasanya berdasarkan morfologi koloni, sifat oksidase-positif, adanya pigmen yang khas, dan pertumbuhan pada suhu 420C. Untuk membedakan P. aeruginosa dari Pseudomonas yang lain berdasarkan aktivitas biokimiawi, dibutuhkan pengujian dengan berbagai substrat.

Tabel 3-5. Klasifikasi Pseudomonas yang Menyebabkan

Penyakit pada Manusia

Grup dan Subgrup Homologi rRNA

Genus dan Spesies

I. Grup fluoresen Grup nonfluoresen Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas fluorescens Pseudomonas putida Pseudomonas stutzeri Pseudomonas mendocina Pseudomonas alcaligenes Pseudomonas pseudo-alcaligenes II Pseudomonas pseudomallei Pseudomonas mallei Pseudomonas cepacia Pseudomonas picketti

II dan IV Berbagai spesies yang jarang diisolasi dari manusia

V Xanthomonas maltophilia

Pili (fimbriae) menjulur dari permukaan sel dan membantu peletakan pada sel apitel inang. Simpai polisakarida membentuk koloni mukoid yang terlihat pada biakan Dari penderita penyakit fibrosis kistik. Lipopolisakarida, yang terdapat dalam berbagai imunotipe, bertanggung jawab untuk kebanyakan sifat endotoksik organisme itu. P. aeruginosa dapat ditentukan tipenya berdasarkan imunotipe lipopolisakarida dan kepekaannya terhadap piosin (bakteriosin). Kebanyakan isolat P. aeruginosa dari infeksi klinis menghasilkan enzim akstrarel, termasuk elastase, protease, dan dua hemolisin: suatu fosfolipase C yang tidak tahan panas dan suatu glikolipid yang tahan panas.

Banyak strain P. aeruginosa menghasilkan eksotoksin A, yang menyebabkan nekriosis jaringan dan dapat mematikan hewan bila disuntikkan dalam bentuk murni. Toksin ini sama dengan cara kerja toksin difteria. Meskipun struktur kedua tooksin itu tidak sama. Antitoksin terhadap eksotoksin A ditemukan dalam serum beberapa manusia, termasuk serum penderita yang telah sembuh dari infeksi P. aeruginosa yang berat.

c. Patogenesis

P. aeruginosa hanya bersifat patogen bila masuk ke daerah yang fungsi pertahannya abnormal, misalnya bila selaput mukosa dan kulit ”robek” karena kerusakan jaringan langsung; pada

pemakaian kateter intravena atau kateter air kemih; atu bila terdapat netropenia, misalnya pada kemoterapi kanker. Kuman melekat dan mengkoloni selaput mukosa atau kulit, menginvasi secara lokal, dan menimbulkan penyakit sistemik. Proses ini dibantu oleh pili, enzim, dan toksin yang diuraikan di atas. Lipoposakarida berperan langsung dalam menyebabkan demam, syok, oliguria, leukositosis dan leukopenia, disseminated intravascular coagulation, dan respiratory distress syndrome pada orang dewasa.

P. aeruginosa (dan spesies lain, misalnya Pseudomonas cepacia, Pseudomonas putida) resisten terhadap banyak obat antimikroba sehingga akan berkembang biak bila bakteri flora normal yang peka ditekan.

d. Gambaran Klinik

P. aeruginosa menimbulkan infeksi pada luka dan luka bakar, menimbulkan nanah hijau kebiruan; meningitis, bila masuk bersama funksi lumbai; dan infeksi saluran kemih, bila masuk bersama kateter dan instrumen lain atau dalam larutan untuk irigasi. Keterlibatan saluran napas, terutama dari respirator yang terkontaminasi, mengakibatkan pneumonia yang disertai nekrosis. Bakteri sering ditemukan pada otitis eksterna ringan pada perenang. Bakteri ini dapat menyebabkan otitis eksterna

unvasif (maligna) pada penderita diabetes. Infeksi mata, yang dapat dengan cepat mengakibatkan kerusakan mata, serin terjadi setelah cedera atau pembedahan. Pada bayi atau orang yang lemah P. aeruginosa dapat menyerang aliran darah dan mengakibatkan sepsis yang fatal; ini biasanya terjadi pada penderita leukemia atau limfoma yang mendapat onat antineoplastik atau terapi radiasi, dan pada penderita dengan luka bakar berat. Pada sebagian besar infeksi P. aeruginosa, gejala dan tanda-tandanya bersifat nonspesifik dan berkaitan dengan organ yang terlibat. Kadang-kadang, verdoglobin (suatu produk pemecahan hemoglobin) atau pigmen yang berfluoresen dapat dideteksi pada luka, atau urine dengan penyinaran fluoresen ultraungu. Nekrosis hemoragik pada kulit sering terjadi pada sepsis akibat P aeruginosa; lesi yang disebut ektima gangrenosum ini dikelilingi oleh eritema dan sering tidak berisi nanah. P. aeruginosa dapat dilihat pada bahan pewarnaan Gram dari lesi ektima, dan biakannya positif. Ektima gangrenosum tidak lazim pada bakteremia akibat organisme selain P. aeruginosa.

e. Tes Laboratorium

Bahan

Bahan dari lesi kulit, nanah, urine, darah, cairan spinal, dahak, dan bahan lain harus diambil seperti yang ditunjukkan oleh jenis infeksi.

Sediaan Apus

Batang gram-negatif sering terlihat dalam sediaan apus. Tidak ada cirri-ciri morfologik khusus yang membedakan pseudomonas dari batang enterik atau batang gram-negatif yang lain.

Biakan

Bahan ditanam pada lempeng agar darah dan perbenihan diferensial yang biasa digunakan untuk menumbuhkan batang gram-negatif enterik. Pseudomonas tumbuh dengan mudah pada kebanyakan perbenihan ini, tetapi mungkin tumbuh pada kebanyakan perbenihan ini, tetapi mungkin tumbuh lebih lambat dibanding batang enterik lain. P. aeruginosa tidak meragikan laktosa dan dengan mudah dibedakan dengan bakteri peragi laktosa. Biakan merupakan tes khusus untuk diagnosis infeksi P. aeruginosa.

f. Pengobatan

Infeksi P. aeruginosa yang penting dalam klinik tidak boleh diobati dengan terapi obat tunggal, karena keberhasilan terapi semacam itu rendah dan bakteri dapat dengan cepat menjadi resisten. Penisilin yang bekerja aktif terhadap P. aeruginosa – tikarsilin, mezlosilin, dan piperasilin – digunakan dalam kombinasi dengan aminoglikosida. Obat lain yang aktif terhadap P. aeruginosa antara lain aztreonam; imipenem; kuinolon baru, termasuk siprofloksasin. Sefalosporin generasi baru, seftazidim dan sefoperakson aktif melawan P. aeruginosa; seftazidim digunakan secara primer pada terapi infeksi P. aeruginosa. Pola kepekaan P. aeruginosa bervariasi secara geografik, dan tes kepekaan harus dilakukan sebagai pedoman untuk pemilihan terapi antimikroba.

g. Epidemiologi & Pengendalian

P. aeruginosa terutama merupakan patogen nosokomial, dan metode untuk mengendalikan infeksi ini mirip dengan metode untuk patogen nosokmial yang lain. Karena Pseudomonas dapat tumbuh subur dalam lingkungan yang basah, perhatian khusus harus ditunjukkan pada bak cuci, bak air, pancuran, bak air panas, dan daerah basah yang lain. Untuk tujuan epidemiologi, strain dapat ditentukan tipenya berdasarkan kepekaan terhadap piosin

dan imunotipe lipoposakaridanya. Vaksin dari jenis yang tepat yang diberikan pada penderita dengan risiko tinggi akan memberikan perlindungan sebagian terhadap sepsis Pseudomonas. Terapi semacam itu telah digunakan secara eksperimental pada penderita leukemia, luka bakar, fibrosis kistik, dan imunosupresi.

Dalam dokumen Basil Gram Positif Dan Gram Negatif (Halaman 67-75)

Dokumen terkait