• Tidak ada hasil yang ditemukan

Yersinia pestis dan Pes

Dalam dokumen Basil Gram Positif Dan Gram Negatif (Halaman 92-100)

2. Bakteremia dengan Lesi Fokal

3.4 Batang Gram Negatif

3.4.4 Yersinia pestis dan Pes

Pes adalah infeksi pada hewan pengerat liar, yang ditularkan dari satu hewan pengerat ke hewan lain dan kadang-kadang dari

hewan pengerat ke manusia karena gigitan ginjal. Sering terjadi infeksi yang berbahaya, yang di abad lalu pernah menyebabkan pendemipes (”black death”) dengan akibat berjuta-berjuta kematian.

a. Morfologi & Identifikasi

Y. pestis adalah batang gram-negatif gemuk yang menunjukkan pewarnaan biopar yang mencolok dengan perwarnaan khusus (Gambar 3-1). Bakteri ini tidak bergerak. Bakteri ini tumbuh sebagai aeorob fakultatif pada banyak perbenihan bakteriologi. Pertumbuhan bakteri lebih cepat bila berada dalam perbenihan yang yang mengandung darah atau cairan jaringan dan tumbuh paling cepat pada suhu 300C. dalam biakan agar darah pada suhu 370C, dalam 24 jam dapat muncul koloni yang sangat kecil. Suatu inokulum virulen, yang berasal dari jaringan terinfeksi, menghasilkan koloni abu-abu dan kental, tetapi setelah dibiak ulang di laboratorium, koloni menjadi tak teratur dan kasar. Organisme ini tidak banyak memiliki aktivitas biokimia, dan hal ini agar bervariasi.

Gambar 3-1. Yersinia pestis (panah) dalam darah. Pewarnaan

Wright-Giemsa. Beberapa Y. pestis mengandung pewarnaan bipolar, yang memberi tampilan seperti tusuk konde.

b. Struktur Antigen

Semua Yersinia memiliki lipopolisakarida dengan aktivitas endotoksik bila dilepaskan. Organisme ini menghasilkan banyak antigen dan toksin yang bertindak sebagai faktor virulensi,. Selubung mengandung suatu protein (fraksi I) yang terutama diproduksi pada suhu 370C, memberi sifat-sifat antifagosit, dan mengaktifkan komplemen. Y. pestis jenis-liar yang virulen membawa antigen V-W, yang disandikan oleh gen pada plasmid. Suatu plasmid 72-kilobasa esensial untuk virulensi; strain avirulen tidak memiliki plasmid ini. Beberapa starin avirulen yang stabil (misalnya, EV76) digunakan untuk membuat vaksin hidup.

Y. pestis menghasilkan koagulase pada suhu 280C (suhu normal pinjal) tetapi tidak pada suhu 350C (penularan lewat pinjal

akan rendah atau tak pernah terjadi dalam cuaca yang sangat panas).

Di antara beberapa eksotoksin yang dihasilkan, salah satu di antaranya bersifat letal bagi mencit dalam jumlah 1 µg. protein homogen ini (BM 74.000) menyebabkan penghambatan beta-adrenergik dan bersifat kardiotoksik pada hewan. Perannya dalam infeksi manusia tak diketahui.

Y. pestis juga menghasulkan bakteriosin (pestisin); enzim isositrat liase, yang konon bersifat khusus; dan hasil-hasil lainnya. Beberapa antigen Y. pestis bereaksi silang dengan Yersinia lain; bakteriofaga Y. pestis dapat menyebabkan lisis pada Yersinia lain.

c. Patogenesis & Patologi

Bila pinjal menggigit hewan pengerat yang terinfeksi dengan Y. pestis, organisme yang termakan akan berkembang biak dalam usus pinjal itu dan, dibantu oleh koagulase, menyumbat proventrikulusnya sehingga tidak ada makanan yang dapat lewat. Karena itu, pinjal lapar yang ususnya ”tersumbat” akan menggigit dengan ganas, dan darah yang diisapnya terkontaminasi dengan Y. pestis dari pinjal; darah itu lalu dimuntahkan ke dalam luka gigitan. Organisme yang diinokulasi dapat difagositosis, tetapi bakteri ini dapat berkembang biak secara intrasel atau ekstrasel.

Y. pestis dengan cepat mencapai saluran getah bening, dan terjadi radang hemoragik yang hebat pada kelenjar-kelenjar getah bening yang membesar, yang dapat mengalami nekrosis. Meskipun invasinya dapat berhenti di situ. Y. pestis sering mencapai aliran darah dan tersebar luas. Lesi hemoragik dan nekrotik dapat muncul di semua organ; yang menonjol adalah meningitis, penumonia, dan pleuroperikarditis serosanguinous.

Penumonia pes primer diakibatkan oleh inhalasi droplet infektif (biasanya dari penderita yang batuk), dan terjadi konsolidasi hemoragik, spesis, dan kematian.

d. Gambaran Klinik

Setelah masa inkubasi selama 2-7 hari, timbul demam tinggi dan limfadenopati yang terasa nyeri, biasanya disertai pembesaran kelenjar getah bening (“bubo”) yang hebat dan nyeri pada lipat paha atau ketiak. Muntah-muntah dan diare dapat muncul pada spesies dini. Kemudian, terjadi pembekuan intravaskuler yang menyebar, menyebabkan hipotensi, perubahan mental, dan kegagalan ginjal dan jantung. Akhirnya, dapat muncul tanda-tanda pneumonia dan meningitis, dan Y. pestis berkembang biak secara intravaskuler dan dapat dilihat pada sediaan apus darah.

e. Tes Diagnostik Laboratorium

Pes harus dicurigai pada pasien demam yang berkontak dengan hewan pengerat di daerah yang diketahui endemis. Pengenalan secara cepat dan pemastiannya dengan tes laboratorium, sangat penting untuk pengobatan demi menyelamatkan jiwa.

Bahan

Darah diambil untuk biakan, dan aspirat dari kelenjar-kelenjar getah bening yang membesar diambil untuk sediaan apus dan biakan. Serum dari penderita pada masa akut dan yang telah sembuh dapat diperiksa kadar antibodinya. Pada pneumonia, dahak dibiakkan; bila dicurigai ada meningitis, cairan serebrospinal diambil untuk sediaan apus.

Sediaan Apus

Bahan dari aspirasi jarum diperiksa setelah diwarnai dengan pewarna Giemsa dan dengan pewarna imunofluoresen khusus. Dengan pewarnaan Wayson, Y. pestis dapat

memperlihatkan ciri bipolar yang mencolok. Cairan spinal dan sediaan apus dahak juga harus diwarnai.

Biakan

Semua bahan dibiakan pada agar darah dan pada lempeng agar Mac Conkey dan dalam kaldu infusi. pertumbuhan pada perbenihan padat mungkin lambat, tetapi biakan darah sering bersifat positif dalam 24 jam. Biakan secara tentatif dapat dikenali oleh reaksi-reaksi biokimia. Identifikasi yang pasti paling baik dilakukan dengan imunofluoresens.

Semua biakan sangat menular yang belum divaksinasi, titer antibodi serum konvalesen sebesar 1:16 atau lebih merupakan bukti presumtif adanya infeksi Y. pestis. Kenaikan titer dalam dua bahan yang berurutan memastikan diagnosis serologi.

Serologi

Pada penderita yang belum divaksinasi, titer antibodi serum konvaselen sebesar 1:16 atau lebih merupakan bukti presumtif adanya infeksi Y. pestis. Kenaikan titer dalam dua bahan yang berurutan memastikan diagnosis serologi.

f. Pengobatan

Bila tidak cepat diobati, pes dapat mengakibatkan angka kematian hampir 50%; pneumonia akibat pes hampir 100% fatal. Obat pilihan adalah streptomisin. Tetrasiklin adalah obat alternatif dan kadang-kadang diberikan dalam kombinasi dengan streptomisin. Resistensi terhadap obat belum ditemukan pada Y. pestis.

g. Epidemiologi & Pengendalian

Pes adalah infeksi hewan pengerat liar (mencit ladang, gerbil, keledai, skunk, dan hewan lain) yang terdapat di berbagai bagian dunia. Daerah enzootik utama adalah India, Asia Tenggara (terutama Vietnam), Afrika dan Amerika Utara maupun Selatan. Di negara-negara bagian AS di sebelah barat dan Meksiko selalu terdapat reservoir infeksi. Epizootik dengan angka mortalitas yang tinggi terjadi secara berkala; pada saat itu, infeksi dapat menyebar ke hewan pengerat rumah (misalnya tikus) dan hewan lain (misalnya kucing), dan manusia dapat terinfeksi karena gigitan pinjal atau dengan kontak. Vektor pes yang paling lazim adalah pinjal tikus (Xenopsylla cheopis), tetapi pinjal lain dapat juga menularkan infeksi.

Untuk pengendalian pes, dibutuhkan penelitian pada hewan yang terinfeksi, vektor, dan kontak manusia (di AS, ini dikerjakan oleh Pusat Pengendalian Penyakit, Bagian Pes) dan pembantaian hewan yang terinfeksi pes. Kalau kasus manusia didiagnosis, dinas kesehatan harus cepat diberitahu. Semua pasien yang dicurigai menderita pes harus diisolasi terutama kalau kemungkinan keterlibatan paru-paru belum disingkirkan. Semua bahan harus ditangani dengan sangat hati-hati. Kontak pasien yang dicurigai menderita pneumonia pes harus diberi tetrasiklin 0,5 g/hari selama 5 hari, sebagai kemoprofilaksis.

Vaksin yang dimatikan dengan formalin tersedia bagi wisatawan yang akan bepergian ke daerah hiperendemik dan untuk orang dengan risiko tinggi.

Dalam dokumen Basil Gram Positif Dan Gram Negatif (Halaman 92-100)

Dokumen terkait