• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum

4. PT Mitrabara Adiperdana Tbk

a. Sejarah Singkat PT Mitrabara Adiperdana Tbk

Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) didirikan tanggal 29 Mei 1992 dan memulai tahap produksi pada tahun 2008. Kantor pusat MBAP berlokasi di Graha Baramulti, Jl. Suryopranoto 2, Komplek Harmoni Blok A No. 8, Jakarta Pusat 10130 – Indonesia. Sedangkan lokasi tambang batubara terletak di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MBAP adalah bergerak di bidang pertambangan, perdagangan dan perindustrian batubara.Pada tanggal 30 Juni 2014, MBAP memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MBAP (IPO) kepada masyarakat sebanyak 245.454.400 lembar saham dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp1.300,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2014.

b. Visi dan Misi perusaan 1) Visi

Berdayanya masyarakat di wilayah operasional perseroan yang mandiri, sejahtera dan mempunyai daya saing yang unggul.

2) Misi

a) Memberdayakan masyarakat lokal dengan berpegang teguh kepada kearifan lokal.

b) Melaksanakan program CSR berbasis kebutuhan masyarakat c) Menerapkan tata kelola CSR yang berkelanjutan dan berdaya

guna

c. Dewan Komisaris dan Direksi

1) Komisaris Utama : Yo Angela Soedjana 2) Wakil Komisaris Utama : Fumitake Uyama 3) Komisaris Independen : Abdullah Fawzy Siddik 4) Direktur Utama : Ridwan

5) Wakil Direktur Utama : Eiji Hagiwara

6) Direktur : Widada

7) Direktur Independen : Richard Pardede 5. PT Samindo Resources Tbk

a. Sejarah Singkat PT Samindo Resources Tbk

Samindo Resources Tbk (dahulu Myoh Technology Tbk) (MYOH) didirikan dengan nama PT Myohdotcom Indonesia tanggal 15 Maret 2000 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada bulan Mei 2000.

Kantor pusat MYOH berdomisili di Menara Mulia lantai 16, Jl. Jend.

Gatot Subroto Kav 9-11 Jakarta 12930 – Indonesia, sedangkan Anak Usaha berlokasi di Ds. Batu Kajang, Kec. Batu Sopang, Kab. Paser, Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan MYOH adalah bergerak dalam bidang investasi, pertambangan batubara

serta jasa pertambangan (sejak tahun 2012). Saat ini, kegiatan usaha utama Samindo adalah sebagai perusahaan investasi. Kemudian melalui anak usaha Samindo menjalankan usaha, yang meliputi: jasa pemindahan lahan penutup, jasa produksi batubara, jasa pengangkutan batubara dan jasa pengeboran batubara.

Pada tanggal 30 Juni 2000, MYOH memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MYOH (IPO) kepada masyarakat sebanyak 150.000.000 dengan nilai nominal Rp25,- per saham dengan harga penawaran Rp150,- per saham.

Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Surabaya (BES) (sekarang Bursa Efek Indonesia / BEI) pada tanggal 30 Juli 2000.

b. Visi dan Misi Perusahaan 1) Visi

Menjadi perusahaan induk dengan solusi pertambangan berkualitas komprehensif dan berbasis pengembangan sumber daya.

2) Misi

a) Menciptakan operasi pertambangan terbaik beserta sistem menajemen

b) Menjamin sarana jasa pertambangan yang lengkap, bersaing dengan cadangan yang berkesinambungan.

c. Dewan Komisaris dan Direksi

1) Komisaris Utama : Kim, Sung Kook 2) Komisaris ` : Choi, Hoon 3) Komisaris Independen : Bob Kamandanu 4) Direktur Utama : Lee, Kang Hyeob

5) Direktur : Lee, Young Soo

6) Direktur : Ha, Gil Yong

7) Direktur Independen : Soemarno Witoro Soelarno

6. PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk

a. Sejarah Singkat PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk

Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk atau dikenal dengan nama Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) didirikan tanggal 02 Maret 1981. Kantor pusat Bukit Asam berlokasi di Jl. Parigi No. 1 Tanjung Enim 31716, Sumatera Selatan dan kantor korespondensi terletak di Menara Kadin Indonesia Lt. 9 & 15. Jln. H.R. Rasuna Said X-5, Kav. 2-3, Jakarta 12950.Pada tahun 1992-3, Bukit Asam (Persero) Tbk ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan Satuan Kerja Pengusahaan Briket.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan PTBA adalah bergerak dalam bidang industri tambang batubara, meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas dermaga khusus batubara baik untuk keperluan sendiri maupun pihak lain, pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap baik untuk keperluan sendiri ataupun pihak lain dan memberikan jasa-jasa konsultasi dan rekayasa dalam bidang yang ada hubungannya dengan industri pertambangan batubara beserta hasil olahannya, dan pengembangan perkebunan.

Pada tanggal 03 Desember 2002, PTBA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham PTBA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 346.500.000 dengan nilai nominal Rp500,- per saham dengan harga penawaran Rp575,- per saham disertai Waran Seri I sebanyak 173.250.000. Saham dan Waran Seri I tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 23 Desember 2002.

b. Visi dan Misi Perusahaan 1) Visi

Menjadi perushaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.

2) Misi

Mengelola sumber energi dengan mengembangkan kompetensi korporasi dan keunggulan insani untuk memberikan nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan lingkungan.

c. Dewan Komisaris dan Direksi

1) Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen : Agus Suhartono

2) Komisaris : Robert Heri

3) Komisaris : Muhammad Said Didu

4) Komisaris : Seger Budiarjo

5) Komisaris : Leonard

6) Komisaris Independen : S. Koesnaryo

7) Direktur Utama : Milawarma

8) Direktur Keuangan : Achmad Sudarto 9) Direktur Operasi/Produksi : Heri Supriyanto 10) Direktur Pengembangan Usaha : Anung Dri Prasetya

11) Direktur Niaga : M. Jamil

12) Direktur Umum dan SDM : Maizal Gazali 7. PT Toba Bara Tbk

a. Sejarah Singkat PT Toba Bara Tbk

Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) didirikan tanggal 03 Agustus 2007 dengan nama PT Buana Persada Gemilang dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 2010. Kantor pusat TOBA berlokasi di Wisma Bakrie 2 Lantai 16, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B-2, Jakarta Selatan.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan TOBA adalah di bidang pembangunan, perdagangan, perindustrian,

pertambangan, pertanian dan jasa. Kegiatan utama TOBA adalah investasi di bidang pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit melalui anak usaha. Anak usaha memiliki izin usaha pertambangan atas wilayah usaha pertambangan yang berlokasi di Kalimantan, Indonesia.

Pada tanggal 27 Juni 2012, TOBA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham TOBA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 210.681.000 dengan nilai nominal Rp200,- per saham dengan harga penawaran Rp1.900,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 06 Juli 2012.

b. Visi dan Misi Perushaan 1) Visi

Membangun salah satu perusahaan tambang batu bara terbaik di indonesia yang memfokuskan dari pada laju pertumbuhan dengan membangun kompetensi melalui pembangunan karyawan, kinerja keuangan yang kuat dan keuntungan yang solid untuk pemegang saham kami.

2) Misi

a) Menciptakan nilai pemengang saham yang berkelanjutan daripertambangan indonesia

b) Membangun sumber daya manusia yang berkelanjutan

c) Investasi pada anak perusahaan dan usaha lainnya yang berhubungan yang akan meningkatkan nilai bagi para pemegang saham

d) Mengelola biaya operasinaol penambangan secara efektif

e) Meningkatkan integrasi rantai pasokan batu bara untuk memastikan kehandalan dan efisiensi

f) Membangun hubungan yang kuat dengan mitra usaha kami dan dengan komunitas keuangan

g) Menjadi perusahaan yang bertanggung jawab dalam mendukung pengembangan komunitas dan mengimplementasikan praktik tata kelola perusahaan yang baik

c. Dewan Komisaris dan Direksi

1) Presiden Komisaris : Jusman Syafii Djamal 2) Komisaris Independen : Farid Harianto

3) Komisaris Independen : Bacelius Ruru

4) Presiden Direktur (merangkap Direktur Independen): Justarina Sinta Marisi Naiborhu

5) Direktur : Pandu Patria Syahrir

6) Direktur : Sudharmono Saragih

7) Direktur : Arthur M. E. Simatupang

8) Direktur Independen :Alvin Firman Sunanda B. Pengujian dan Hasil Analisis Data

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh struktur modal dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan sektor pertambangan sub sektor pertambangan batubara yang terdaftar di Bursa Efek indonesia tahun 2014-2018.

1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Deskripsi data digunakan untuk memberikan gambaran mengenai data yang diperoleh dari hasil penelitian. Deskripsi data ini meliputi nilai minimum, nilai maksimun, mean, dan standar deviasi. Hasil dari pengujian statistik deskriptif dari struktur modal (DER), profitabilitas(NPM), dan nilai perusahan (PBV) dari tahun 2014 sampai tahun 2018 disajikan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4.1

Dari hasil uji statistik deskriptif pada tabel diatas, menunjukan bahwa nilai perusahaan yang diukur dengan PBV memiliki rentang nilai dari 0,42 hingga 3,90. Nilai rata-rata PBV yaitu 1,6924 dan standar deviasi 0.88430.

Nilai terendah dimiliki oleh PT Adaro Energy Tbk pada tahun 2015 dan PT Resource Alam Indonesia Tbk pada tahun 2014, nilai tertinggi dimiliki oleh PT Baramulti Suksessarana Tbk pada tahun 2014.

Variabel struktur modal memiliki rentang nilai dari 0,17 hingga 1,33.

Nilai rata-rata struktur modal yaitu 0,6161 dan standar deviasi sebesar 0,28166. Nilai terendah dimiliki oleh PT Resource Alam Indonesia Tbk pada tahun 2016, dan nilai tertinggi dimiliki oleh PT Toba Bara Tbk pada tahun 2018.

Variabel profitabilitas memiliki rentang nilai dari 0,01 hingga 0,24, dengan nilai rata-rata 0,1217 dan standar deviasi 0,05905. Nilai terendah dimiliki oleh PT Baramulti Suksessarana Tbk pada tahun 2014 dan nilai tertinggi dimiliki oleh PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk tahun 2018.

2. Uji Asumsi Klasik

Model regresi yang baik disyaratkan harus memenuhi tidak adanya masalah asumsi klasik. Uji asumsi klasik dari masing-masing model meliputi uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.

Pengujian normalitas residual dapat dilihat dengan uji statistic non-parametik Kolmogorov-Smirnov (K-S) (Ghozali,2016).

Untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak dilakukan uji statistik Kolmogorov-Smirnov Test. Residual berdistribusi normal jika memiliki nilai signifikansi > 0,05. Berikut adalah hasil uji normalitas:

Tabel 4.2 Struktural 1 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardiz

ed Residual

N 35

Normal Parametersa,b Mean .0000000 Std.

Deviation .83421328 Most Extreme

Differences

Absolute .152

Positive .152

Negative -.118

Test Statistic .152

Asymp. Sig. (2-tailed) .040c

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Sumber : Data olahan (lampiran)

Tabel 4.2

Normal Parametersa,b Mean .0000000 Std.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber : Data olahan (lampiran)

Tabel 4.2 struktural 1menunjukan bahwa data penelitian belum terdistribusi normal yang dibuktikan dengan asymp sig. sebesar 0.040 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi penelitian yaitu 0,05. Oleh karena data penelitian belum terdistribusi normal, maka data yang tidak terdistribusi secara normal dapat ditransformasi (Ghozali, 2016). Maka dalam substruktural 2 dilakukan transformasi data dalam bentuk SQRT atau akar kuadrat dan hasilnya menunjukan asymp sig sebesar 0.200 yang artinya lebih besar dari 0,05 maka data telah terdidtribusi secara normal dan bisa di lanjutkan dengan uji asumsi klasik lainnya.

b. Uji Multikolinearitas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolonieritas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10. Setiap peneliti harus menentukan tingkat kolonieritas yang masih dapat ditolerir (Ghozali, 2016).

Berikut data hasil penelitian : Tabel 4.3

Hasil uji multikolinearitas Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

Struktur

Modal .969 1.032

Profitabilitas .969 1.032 Sumber : Data olahan (lampiran)

Tabel diatas menunjukan bahwa pada model regresi diketahui nilai tolerance lebih dari 0,10 dan VIF kurang dari 10. Hasil pengujian ini mengindikasikan bahwa dalam model-model regresi yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi gejala multikolinieritas.

c. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya).Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari masalah autokorelasi (Ghozali, 2016). Salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi adanya autokorelasi ini adalah uji Durbin Watson (DW test) dengan ketentuan sebagai berikut :

1) Jika d < dl, berarti terdapat autokorelasi positif.

2) Jika d > (4-dl), berarti terdapat autokorelasi negatif.

3) Jika du < d < (4-du), berarti tidak terdapat autokorelasi.

4) Jika dl < d < du, berarti tidak meyakinkan atau tidak dapat disimpulkan.

Berikut adalah hasil uji autokorelasi pada penelitian ini.

Tabel 4.4 Hasil Uji Autokorelasi dW Hitung

dW tabel (n = 35; k = 2) dl =1,3433; du = 1,5838

Keterangan 1,971

dl < d < 4-du Tidak terjadi autokorelasi

Pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%, data yang digunakan sebanyak 35 dan variabel indipenden sejumlah 2 diperoleh dari tabel Durbin-Watson nilai dl = 1,3433 dan du = 1,5838 dan nilai 4-du = 2,4162. Sementara itu hasil dari Durbin-Watson yaitu 1,971 lebih besar dari nilai du dan lebih kecil dari 4-du (1,5838 < 1,971 < 2,4162). Nilai ini menunjukan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dan residual satu pengamatan ke pangematan lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homokedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2016).

Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji gletser. Uji gletser mengusulkan untuk meregres nilai absolut residual terhadap variabel independen. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan melihat apakah probabilitas signifikasinya berada di atas tingkat kepercayaan 5% (0,05) atau tidak. Jika di atas 5% maka dapat dikatakan model regresi tidak mengandung adanya Hereroskedastisitas (Ghozali, 2016). Berikut hasil uji Glejser:

Tabel 4.5

Hasil Uji Heteroskedastisitas Menggunakan Uji Glesjser

Variabel T Sig Keterangan

Struktur Modal 0,867 0,392 Tidak terjadi heterokedastisitas Profitabilitas -1,486 0,147 Tidak terjadi heterokedastisitas Sumber : Data olahan (lampiran)

Pada tabel 4.5 nilai signifikansi variabel struktur modal sebesar 0,392 dan variabel profitabilitas sebesar 0,147. Nilai signifikansi pada variabel tersebut lebih besar dari 0,05. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah heteroskedastisitas dalam model regresi.

3. Analisis regresi linear berganda

Secara umum analisis ini digunakan untuk menggambarkan hubungan linear dari beberapa variabel independen (variabel X) terhadap variabel dependen (variabel Y). Variabel independen dalam penelitian ini adalah strukrur modal (X1), profitabilitas (X2), sedangkan variabel dependen adalah nilai perusahaan (Y). berikut hasil persamaan regresi yang diolah menggunakan program SPSS 23 sebagai berikut :

Tabel 4.6

a. Dependent Variable: SQRT Nilai Perusahaan Sumber : Data olahan (lampiran)

Berdasarkan hasil analisis diatas, maka model persamaan regresi linear berganda yang dapat disusun sebagai berikut :

Y = α + β1X1 + β2X2

Y = 0,903+ 0,137X1 + 2.221X2 Dimana :

Y = Nilai Perusahaan (PBV) α = Konstanta

β = Koefisien regresi variabel independen X1 = Struktur Modal

X2 = profitabilitas

Berdasarkan persamaan regresi yang telah disusun diatas maka dapat dijelaskan suatu pengertian sebagai berikut:

a. Nilai konstanta atau β0 sebesar 0,903 diartikan bahwa jika struktur modal dan profitabilitas tidak ada atau bernilai nol, maka besarnya nilai perusahaan adalah sebesar 0,903 rupiah.

b. Koefisien variabel struktur modal adalah 0,137. Hal ini menunjukan bahwa setiap penambahan jumlah struktur modal sebesar 1 rupiah maka akan menaikan nilai perusahaan sebesar 0,137 rupiah

c. Koefisien variabel profitabilitas adalah sebesar 2.221. Hal ini menunjukan bahwa setiap penambahan jumlah profitabilitas sebesar 1 rupiah dapat menaikan nilai perusahaan sebesar 2.221 rupiah.

4. Uji Hipotesis ( Uji t)

Uji parsial (t test) dimaksudkan untuk melihat apakah variabel bebas secara individu mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat, dengan asumsi variabel beban lainnya konstan. Hasil uji t dapat diketahui pada tabel berikut ini :

Tabel 4.7

Uji Signifikan Parameter Individu ( Uji Statistik t) Coefficientsa

a. Dependent Variable: SQRT Nilai Perusahaan Sumber : Data olahan (lampiran)

Berdasarkan tabel 4.8 diatas maka dapat diketahui nilai t hitung dan tingkat signifikasi dari variabel indipenden yang diuji. Untuk mencari t tabel yaitu t= (0,05 ; df/n-k) maka diketahui hasil t tabel adalah 2,03452 yang kemudian akan dibandingkan dengan nilai t hitung dari masing-masing variabel indipenden.

Penjelasan uji t untuk masing-masing variabel dapat dilihat di bawah ini : a. Struktur Modal (DER) karena nilai koefisien lebih kecil dan nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka H01 diterima dan Ha1 ditolak yang berarti variabel struktur modal tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Apsari et all (2015) dan

Wulandari et all (2015) menyatakan bahwa struktur modal yang diproksikan oleh DER tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

b. Profitabilitas (NPM)

H02 : β2 < 0, artinya tidak terdapat pengaruh antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

Ha2 : β2 > 0, artinya terdapat terdapat pengaruh antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan hasil uji statistic t, diperoleh nilai t hitung sebesar 2,330dan nilai signifikansi sebesar 0,026. Nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel (2,330 > 2,03452) dan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,026

< 0,05) maka H2 diterima. Jadi dapat disimpulkan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil Penelitian Desi Irayanti (2014) menyatakan bahwa net profit margin (NPM) berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal yang sama ditunjukkan dalam penelitian Sri Mahatma Dewi (2013) menunjukan profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

5. Uji Simultan (Uji F)

Pengujuian ini dilakukan untuk melihat apakah semua variable independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel independen. Berikut hasil uji statistic F :

Tabel 4.8

Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F) ANOVAa

Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression .575 2 .288 2.754 .079b

Residual 3.341 32 .104

Total 3.916 34

a. Dependent Variable: SQRT Nilai Perusahaan

b. Predictors: (Constant), Struktur Modal, Profitabilitas Sumber : Data olahan (lampiran)

Dari hasil uji F diatas dapat diketahui nilai F hitung adalah sebesar 2,754 dan tingkat signifikansi sebesar 0,079 yang artinya adalah F hitung 2,754 < F tabel 3,267dan nilai signifikansi 0,079 < 0,05, maka H03 diterima dan Ha3 ditolak, artinya variabel independen secara simultan tidak mempengaruhi variabel dependen.

6. Koefisien determinasi (Adjusted R Square)

Analisis determinasi dalam regresi linear berganda dilakukan untuk mengetahui persentase pengaruh variabel indipenden secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Koefisien ini menunjukan seberapa besar persentase variabel indipenden yang digunakan dalam modal mampu menjelaskan variabel dependen. Jika nilai Adjust R2 sama dengan 0 maka bisa dikatakan variabel indipenden yang digunakan dalam penelitian sama sekali tidak mampu menjelaskan variabel dependennya. Sebaliknya jika nilai Adjust R2 sama dengan 1 maka bisa dikatakan variabel indipenden yang digunakan mampu menjelaskan dengan sangat detail variabel dependennya.

Dengan kata lain nilai R2 yang kecil atau mendekati 0 (nol) berarti kemampuan variabel-variabel indipenden dalam menerangkan variabel dependen sangat terbatas, sedangkan jika nilai R2 besar atau mendekati 1 (satu) berarti variabel-variabel indipenden memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen

(Ghozali, 2016). Hasil analisis koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel

a. Predictors: (Constant), Struktur Modal, Profitabilitas Sumber : Data olahan (lampiran)

Hasil dari uji Adjusted R2 pada tabel 4.9 diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar 0,094 atau 9,4%. Nilai tersebut menunjukan bahwa persentase pengaruh varibel indipenden struktur modal dan profitabilitas terhadap variabel dependen nilai perusahaan sebesar 9,4%. Jadi variabel indipenden yang digunakan dalam penelitian ini hanya dapat menjelaskan 9,4% terhadap variasi variabel dependen, sedangkan sisanya 90,6% dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukan di dalam penelitian ini.

C. Pembahasan Hasil Analisis Data

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh struktur modal dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan pertambangan sub pertambangan batu bara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil pengujian menyatakan bahwa struktur modal tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Pada analisis lebih lanjut, hasil penelitian menegaskan bahwa:

1. Struktur modal tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti tidak berpengaruhnya struktur modal terhadap nilai perusahaan. Sebab struktur modal tidak menjadi focus investor dalam keputusan pembelian saham pada perusahaan. Investor lebih melihat pada prospek perusahaan berdasarkan kinerja keuangan perusahaan. Investor

menganggap wajar ketika perusahaan memiliki banyak hutang selama diimbangi dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan tingkat penjualan yang baik. Hal inilah yang membut para investor berminat terhadap permintaan saham yang berdampak pada nilai perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modal.

2. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti jika profitabilitas naik atau meningkat maka nilai perusahaan juga naik. Nilai profitabilitas yang semakin tinggi menandakan bahwa pendapatan yang diterima oleh perusahaan tersebut juga semakin tinggi. Dengan profitabilitas yang tinggi dapat dikatakan bahwa kemampuan perusahaan tersebut dalam menghasilkan laba juga baik. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan investor atau menarik investor untuk meningkatkan permintaan saham. Permintaan saham meningkat maka akan menyebabkan harga saham tersebut juga meningkat sehingga meningkatkan nilai perusahaan tersebut.

Hal ini menunjukkan kinerja perusahaan agar menghasilkan profitabilitas yang optimal sehingga nilai perusahaan akan semakin meningkat guna menarik investor untuk berinvestasi pada perusahaan.

Investor akan tertarik dengan NPM yang tinggi karena NPM memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam mengelolah dananya sehingga memperlihatkan prospek pertumbuhan perusahaan. Perusahaan yang memiliki presentase NPM yang rendah mencerminkan perusahaan yang tidak mampu mengelola kinerja perusahaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak berpengaruh dikarenakan investor cenderung tidak hanya melihat tingkat pengembalian yang tinggi melainkan investor melihat juga kondisi lingkungan investasi, sehingga keuntungan investasi yang di dapat kurang menguntungkan bagi pemegang saham.

75 BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Hasil dari analisis regresi linear berganda yang telah dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari variabel struktur modal dan profitabilitas terhadap variabel nilai perusahaan sektor pertambangan sub sektor pertambangan batu bara untuk tahun 2014 sampai tahun 2018 menunjukan hasil sebagai berikut :

1. Hasil analisis untuk variabel struktur modal menunjukan bahwa nilai t hitung sebesar 0,683 < t tabel sebesar 2,03452 dan tingkat signifikasi 0,499 > 0,05 yang artinya struktur modal tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan-perusahaan sektor pertambangan sub sektor pertambangan batu bara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014 dan tetap terdaftar di Bursa Efek Indonesia hingga tahun 2018 yang masuk kedalam sampel penelitian ini.

2. Hasil analisis untuk variabel profitabilitas menunjukan bahwa nilai t hitung sebesar 2,330 > t tabel 2,03452 dan tingkat signifikasi 0,026 < 0,05 yang artinya profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan-perusahaan sektor pertambangan sub sektor pertambangan batu bara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014 dan tetap terdaftar di Bursa

2. Hasil analisis untuk variabel profitabilitas menunjukan bahwa nilai t hitung sebesar 2,330 > t tabel 2,03452 dan tingkat signifikasi 0,026 < 0,05 yang artinya profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan-perusahaan sektor pertambangan sub sektor pertambangan batu bara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014 dan tetap terdaftar di Bursa