BAB IV ANALISIS PUISI BIMA, SAUDARA KEMBAR, TELINGA,
A. Ketidaklangsungan Ekspresi Puisi
1. Puisi Bima
BIMA
karya Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulan puisi Keroncong Motinggo Di dalam pengelanaannya
dilihatnya tiada yang kekal pada bahasa yang tinggal mati Hutan jati hilang kumandangnya dan sudut kota habis diperkata juga langit telah hangus terbakar di nyala matahari
Maka diputuskannya
untuk meninggalkan tanah kapur dan tidur dengan naga
(yang tak jadi dibunuhnya) di samudra angan-angan
Di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi -- makhluk kecil itu
berhuni di lubuk hati
Matanya cerah seperti punya bocah yang hidup abadi
a. Penggantian Arti
Pada umumnya kata-kata kiasan menggantikan arti sesuatu yang lain, yaitu pada metafora dan metonimi (Riffaterre, 1978:2). Metafora ini untuk menyebut bahasa kiasan pada umumnya, tetapi tidak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimi saja. Metafora melihat sesuatu dengan perantaraan hal atau benda lain. Secara umum dalam pembicaran puisi bahasa kiasan disebut dengan metafora. Dalam penggantian arti, suatu kata (kiasan) berarti sesuatu yang lain (tidak menurut arti sesungguhnya) (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:212).
Pada bait pertama, terdapat kalimat “di dalam pengelanaannya” yang merupakan bentuk gaya bahasa metafora. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya (Gorys Keraf, 2000: 139). “Pengelanaannya” menyatakan hal mengenai rangkaian perjalanan hidup yang telah dilalui oleh tokoh Bima. Rangkaian hidup tersebut terjadi semenjak tokoh Bima muda hingga pada saat tokoh Bima dapat menyadari hal-hal yang terjadi padanya.
Kalimat “dilihatnya tiada yang kekal” merupakan gaya bahasa sinekdoke. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) (Gorys Keraf, 2000: 142). Sinekdoke (pars pro toto) kalimat tersebut berarti
bahwa bentuk “dilihatnya” merupakan aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan organ penglihatan yaitu mata. Organ penglihatan ini mewakili dari proses seluruh tubuh manusia beserta perasaan manusia akan suasana hati yang terjadi dari kegiatan melihat tersebut.
Kalimat “pada bahasa yang tinggal mati” merupakan bentuk gaya bahasa metafora dan sinekdoke (pars pro toto). Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat (Gorys Keraf, 2000: 142). Metafora “bahasa” menyatakan bentuk komunikasi dalam hubungan dan interaksi dengan orang lain. Sinekdoke (pars pro toto) “bahasa” menyatakan bahwa bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam masyarakat itu mewakili bentuk hubungan manusia dalam bermasyarakat.
Pada bait kedua, terdapat kalimat “hutan jati hilang kumandangnya” yang merupakan gaya bahasa metafora. Hutan jati merupakan kiasan untuk hal-hal yang baik, hilang kumandangnya berarti hilang gaungnya.
Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati
Ungkapan tersebut mempunyai arti bahwa benih kejahatan merajalela, benih kebaikan mati (Hariwijaya, 2003: 72). Pohon jati merupakan pohon pilihan yang multiguna. Pohon jati dijadikan simbol kebaikan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan terkalahkan oleh kebatilan baik dari kualitas maupun kuantitas.
Jadi kalimat “hutan jati hilang kumandangnya” mempunyai arti bahwa hal-hal yang baik yang semestinya dilakukan oleh orang atau masyarakat kini tidak dilakukan lagi. Hal baik telah ditinggalkan dan semakin lama menjadi
tidak ada. Kalimat “sudut kota habis diperkata” merupakan gaya bahasa metafora. “Sudut kota habis diperkata” menyatakan tempat atau keadaan yang telah berubah, yang sebelumnya baik telah berubah menjadi buruk. Kenyataan mengenai perihal baik yang tidak ada lagi pada masyarakat.
Kalimat “langit telah hangus terbakar” merupakan gaya bahasa hiperbola. Hiperbola merupakan semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Gorys Keraf, 2000: 135). Kalimat “langit telah hangus terbakar” menyatakan keadaan sangat memprihatinkan dengan keadaan langit atau udara yang telah tercemar dan menyebabkan manusia sulit untuk bernafas serta burung kesulitan untuk terbang. Kalimat “di nyala matahari” merupakan bentuk metafora, yang menyatakan bahwa matahari merupakan tanda kehidupan. Keadaan yang telah berubah karena disebabkan oleh perilaku manusia dalam menjalani hidupnya.
Pada bait ketiga, kalimat “meninggalkan tanah kapur” merupakan gaya bahasa metafora. “Meninggalkan tanah kapur” menyatakan bahwa tokoh Bima meninggalkan tempat yang kini telah kering dari sumber penghidupan dan kering dari hal-hal yang baik. Hal ini dilakukan untuk mencari kebenaran atas kejadian yang terjadi. Kalimat “tidur dengan naga” merupakan gaya bahasa metafora dan gaya bahasa hiperbola. Naga diibaratkan sebagai bentuk cobaan atau rintangan yang sangat berat.
Kalimat “tidur dengan naga” menyatakan bahwa tokoh Bima melakukan perbuatan dengan menenangkan diri untuk menghadapi permasalahan yang berat. Hiperbola “dan tidur dengan naga” berarti tokoh
Bima melakukan perbuatan atau tindakan yang sangat berat yang tidak dilakukan oleh manusia pada umumnya.
Kalimat “di samudra angan-angan” merupakan gaya bahasa metafora. “Di samudra angan-angan” menyatakan tempat sangat luas manusia jarang mengunjunginya yang telah dicita-citakan oleh tokoh Bima dan menjadi harapan yang terdapat dalam batin tokoh Bima.
Pada bait keempat, kalimat “di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi” merupakan gaya bahasa personifikasi dan metafora. Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (Gorys Keraf, 2000:140). Personifikasi “di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi” menyatakan bahwa Bima dapat bertatapan dengan sunyi yang berarti bertatapan dengan keadaan yang tidak ada suara atau bunyi, alam yang kosong, selayaknya manusia yang saling bertatapan. Metafora “bertatapan dengan sunyi” menyatakan suatu tempat atau alam dengan keadaan yang kosong, tidak ada apa-apa, tidak ada kehidupan.
Pada bait kelima, kalimat “matanya cerah seperti punya bocah” merupakan gaya bahasa simile. Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan tersebut, yaitu dengan menggunakan kata-kata: seperti, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagianya (Gorys Keraf, 2000: 138). “Matanya cerah seperti punya bocah” menyatakan bahwa tokoh Bima mempunyai mata cerah seperti mata yang dimiliki oleh seorang bocah atau anak kecil. Keadaan yang
demikian, juga menunjukkan keadaan rohani yang bersih (belum terdapat dosa).
Kalimat “yang hidup abadi” merupakan bentuk gaya bahasa metafora. Kalimat tersebut menyatakan sifat yang tidak dimiliki oleh makhluk, hanya dimiliki oleh Sang Pencipta (Tuhan). Sifat abadi berhubungan dengan keadaan tokoh Bima yang mempunyai mata cerah.
b. Penyimpangan Arti Ambiguitas
Ambiguitas merupakan kata-kata, frase atau kalimat dalam puisi yang sering kali mempunyai arti ganda sehingga menimbulkan banyak tafsir atau ambigu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:213). Dengan ambiguitas, puisi memberi kesempatan kepada pembaca untuk memberikan arti sesuai dengan asosiasinya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215).
Dalam puisi Bima, kalimat “di dalam pengelanaannya” mempunyai arti berkelana, pergi kemana-mana, mengembara, masuk hutan, naik gunung turun gunung. “Di dalam pengelanaannya” juga mempunyai arti pengalaman hidup, cobaan yang datang dan menimpa, kesukaran dan kemudahan, susah, senang bahagia, menderita, dan segala tindakan dan perbuatan baik maupun buruk tokoh Bima dalam menghadapi dan menjalani hidup.
Kalimat “pada bahasa yang tinggal mati” mempunyai arti sistem lambang bunyi yang dipakai sebagai alat komunikasi antar sesama manusia untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran, perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa, percakapan yang baik disertai dengan tindakan yang dapat membuat orang lain nyaman. Kalimat “di samudra angan-angan”
mempunyai arti pikiran, ingatan, cita-cita, maksud, niat, kehendak, gambaran dalam ingatan, harapan-harapan yang luas, terletak dalam batin.
Kontradiksi
Kontradiksi, mengandung arti pertentangan yang disebabkan oleh paradoks dan/atau ironi. Dalam puisi terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud dengan secara berlawanan atau berbalikan. Ironi biasanya digunakan untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215-216).
Maka diputuskannya
untuk meninggalkan tanah kapur dan tidur dengan naga
(yang tak jadi dibunuhnya)
Dalam puisi Bima diungkapkan bahwa terdapat yang berlawanan atau berbalikan yaitu bahwa dengan kenyataan dan keadaan buruk yang terjadi, tokoh Bima memilih dan memutuskan untuk meninggalkan lingkungannya tersebut. Semestinya tokoh Bima berusaha untuk memperbaiki hal buruk yang terjadi tersebut. Tokoh Bima memilih pergi dan “tidur dengan naga”.
Hal ini bertentangan dengan kenyataan, ketika orang pergi meninggalkan sesuatu permasalahan semestinya memilih untuk mencari hal atau tempat yang nyaman dan baik. Tetapi tokoh Bima memilih untuk tidur dengan naga, mencari kesukaran yang lebih sulit lagi. Pertentangan kembali berlanjut dengan tokoh Bima setelah “tidur dengan naga”, oleh tokoh Bima “tak jadi dibunuhnya” yang semestinya untuk menyelesaikan bahaya tokoh Bima harus membunuh “naga” tersebut.
Nonsense
Nonsense, merupakan bentuk kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti sebab tidak terdapat dalam kosakata. Nonsense dapat menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, menimbulkan arti dua segi, suasana aneh, suasana gaib, atau suasana lucu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:219). Dalam puisi Bima tidak terdapat bentuk nonsense (bentuk kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti).
c. Penciptaan Arti
Penciptaan arti (Riffaterre, 1978:2) terjadi bila ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang secara linguistik tidak ada artinya. Hal ini di antaranya yaitu rima (persamaan bunyi akhir), enjambemen (pemutusan kata/frase di ujung baris dan meletakkan sambungannya pada baris berikutnya), tipografi (penyusunan baris dan bait sajak), atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan posisi dalam bait (homologues) (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:220).
Puisi Bima terdiri dari lima bait, yang tiap baitnya memiliki baris berbeda-beda. Pada bait pertama terdapat tiga baris, bait kedua mempunyai empat baris, bait ketiga terdapat lima baris, bait keempat terdapat tiga baris, dan bait kelima mempunyai dua baris. Tiap bait dalam puisi tersebut mempunyai rima yang berbeda-beda.
Biasanya rima ditandai dengan abjad, misal: ab-ab; cde-cde; a-a, dan lain-lain. Penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi
berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e dan seterusnya (Atmazaki,1993:80). Puisi Bima mempunyai rima dengan berpola:
Di dalam pengelanaannya a
dilihatnya tiada yang kekal b
pada bahasa yang tinggal mati c
Hutan jati hilang kumandangnya a
dan sudut kota habis diperkata a
juga langit telah hangus terbakar d
di nyala matahari e
Maka diputuskannya a
untuk meninggalkan tanah kapur f
dan tidur dengan naga a
(yang tak jadi dibunuhnya) a
di samudra angan-angan g
Di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi c
-- makhluk kecil itu h
berhuni di lubuk hati c
Matanya cerah seperti punya bocah i
yang hidup abadi c
Pada bait pertama terdapat rima berpola yang tidak beraturan, yaitu dengan pola a-b-c. Pada bait kedua, mempunyai rima (persamaan bunyi akhir) dengan pola aa-dc. Bait ketiga mempunyai pola af-aag. Bait keempat berpola c-h-c. Bait kelima mempunyai rima dengan pola i-c. Bentuk bait serta rima yang berbeda-beda tersebut menciptakan arti tentang keadaan serta suasana yang menyertai tokoh Bima berbeda dari tiap peristiwa yang dilalui.
Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas penting, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:22). Pada bait pertama tampak bunyi u menonjol baris pertama, dan kedua dan rima bunyi a.
Hutan jati hilang kumandangnya dan sudut kota habis diperkata
Kombinasi bunyi u dan a menciptakan arti memperjelas suasana dari keadaan suram atau tidak baik.
Di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi -- makhluk kecil itu
berhuni di lubuk hati
Matanya cerah seperti punya bocah yang hidup abadi
Rima bunyi i yang dimiliki larik puisi pada bait tersebut memberikan kesan suasana yang tenang, nyaman dan teratur. Bunyi a menciptakan arti memperjelas suasana yang tenang, nyaman dan teratur tersebut. Bunyi nya dan ah menciptakan arti tentang kejelasan keadaan bocah kecil. Kombinasi bunyi a, uk, i, dan nyamenciptakan arti berirama dan liris (penuh perasaan).
Terdapat tanda (--) yang memberikan maksud adanya hubungun antara “sunyi” dengan “makhluk kecil”. Bahwa dalam kesunyian tersebut terdapat makhluk kecil yang mendiaminya.
Homologues (persamaan posisi) dalam puisi Bima terdapat pada Hutan jati hilang kumandangnya
dan sudut kota habis diperkata
Dalam bait tersebut menimbulkan persejajaran arti: bahwa keadaan yang terjadi sangat tidak baik, hal baik telah hilang, begitu juga dengan keadaan alam lingkungan yang rusak dan parah. Tipografi puisi Bima mempunyai bentuk yang tidak rapi. Hal tersebut menciptakan arti melukiskan suasana hati tokoh Bima dari kebimbangan menuju ketegasan dan akhirnya ketenangan seperti yang terkandung dalam puisi Bima.