BAB IV ANALISIS PUISI BIMA, SAUDARA KEMBAR, TELINGA,
A. Ketidaklangsungan Ekspresi Puisi
2. Puisi Saudara Kembar
SAUDARA KEMBAR
karya Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulan puisi Keroncong Motinggo tiba-tiba
sebagai kilat cermin di tangannya mengingatkan dia kepada lubuk laut lain di mana ia pernah menjenguk dan berjumpa dengan gambar muka (seperti saudara kembar)
begitu serupa
tercipta dari ilham yang sama ia tidak bertukar kata
hanya tahu
ia ditunggu sejak dulu rindu yang dahsyat
lalu membuatnya berpaling a. Penggantian Arti
Pada bait pertama, kalimat “sebagai kilat” merupakan gaya bahasa simile. Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit, bahwa langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan tersebut, yaitu dengan menggunakan kata-kata: seperti, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagianya (Gorys Keraf, 2000: 138). Kalimat “sebagai kilat” merupakan kiasan yang menunjukkan sifat cepat seperti halnya cepatnya suatu kilat, yang membuat orang terkejut, kaget dan menjadi waspada dari keadaan sebelumnya.
Kalimat “kepada lubuk laut lain” merupakan gaya bahasa metonimia. Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat
(Gorys Keraf, 2000: 142). “Kepada lubuk laut lain” mempunyai arti tempat berupa laut tempat terjadi peristiwa yang menyangkut diri tokoh Bima.
Kalimat “dan berjumpa dengan gambar muka” merupakan gaya bahasa personifikasi dan sinekdoke. Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (Gorys Keraf, 2000:140). Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) (Gorys Keraf, 2000: 142). Personifikasi kalimat “berjumpa dengan gambar muka” berarti berjumpa dengan sebuah gambar muka yang diibaratkan berjumpa dengan muka seseorang manusia. Sinekdoke (pars pro toto) “berjumpa dengan gambar muka” menyatakan gambar muka yang mewakili bentuk keseluruhan tubuh yang berarti berjumpa dengan bentuk manusia atau makhluk.
Kalimat “(seperti saudara kembar)” merupakan gaya bahasa simile. Kalimat “seperti saudara kembar” menyatakan perihal seperti saudara kembar yang mempunyai bentuk tubuh dan keadaan sama, yang dilahirkan bersama-sama, yang mempunyai pertalian darah serta perasaan. Kalimat “tercipta dari ilham yang sama” merupakan gaya bahasa metafora. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya (Gorys Keraf, 2000: 139).
Kalimat “tercipta dari ilham yang sama” menyatakan kiasan adanya kesamaan tentang petunjuk dari Tuhan yang menggerakkan untuk
menciptakannya. Terdapat persamaan substansi yang diwujudkan dalam jasmani maupun rohani.
Pada bait kedua, kalimat “ia tidak bertukar kata” merupakan gaya bahasa sinekdoke (pars pro toto). Kalimat “ia tidak bertukar kata” menyatakan bahwa ia tidak hanya tidak bertukar kata, tetapi juga tidak saling berbicara, berkomunikasi, dan bentuk kegiatan yang melibatkan anggota badan, seperti bersalaman, berpelukan, membungkukkan badan, selayaknya dua orang yang saling bertemu.
Pada bait ketiga, kalimat “rindu yang dahsyat” merupakan gaya bahasa hiperbola. Hiperbola merupakan semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Gorys Keraf, 2000: 135). Kalimat “rindu yang dahsyat” menyatakan sebuah keadaan rindu yang disebabkan tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama sehingga menjadi sangat rindu. Kalimat “lalu membuatnya berpaling” merupakan metafora yang berarti bahwa kembali ke asal atau tempat sebelumnya, tempat asal sebelum bertemu dan melepas kerinduan.
b. Penyimpangan Arti Ambiguitas
Ambiguitas merupakan kata-kata, frase atau kalimat dalam puisi yang sering kali mempunyai arti ganda sehingga menimbulkan banyak tafsir atau ambigu (Pradopo, 1993:213). Dengan ambiguitas, puisi memberi kesempatan kepada pembaca untuk memberikan arti sesuai dengan asosiasinya (Pradopo, 1993:215).
Kalimat “sebagai kilat” mempunyai arti seperti cahaya yang berkelebat dengan cepat di langit, dalam waktu singkat, dengan cepat, datangnya sulit diterka, membuat terkejut, menjadi ketakutan, menjadi terdiam. Kalimat “cermin di tangannya” mempunyai arti kaca bening yang salah satu sisi dicat dengan air raksa sehingga memperlihatkan bayangan benda yang ditaruh di depannya, sesuatu bayangan, bayangan perasaan, isi hati, keadaan batin. Kalimat “ia tidak bertukar kata”, mempunyai arti tidak saling berbicara, tidak saling bercakap-cakap, tidak saling berkomunikasi, diam, tidak berdialog, tidak saling menyapa, tidak melakukan hubungan selayaknya dua insan bertemu.
Kontradiksi
Kontradiksi, mengandung arti pertentangan yang disebabkan oleh paradoks dan/atau ironi. Dalam puisi terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud dengan secara berlawanan atau berbalikan. Ironi biasanya digunakan untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215-216).
ia tidak bertukar kata hanya tahu
ia ditunggu sejak dulu rindu yang dahsyat
lalu membuatnya berpaling
Bait tersebut menyatakan perihal atau keadaan setelah bertemu yang tidak melakukan hal atau perbuatan yang selayaknya dua orang saling bertemu atau berjumpa. Bahwa ia tidak bertukar kata, berarti ia hanya diam, tidak menyapa, tidak berkomunikasi dan melakukan tindakan seperti orang bertemu
yang seharusnya bersalaman, berpelukan atau sekedar membungkukkan badan.
Pada bait selanjutnya, “rindu yang dahsyat lalu membuatnya berpaling” memberikan pengertian atas kerinduan besar antara dua insan yang telah lama tidak berjumpa, namun karena suatu hal membuat kedua berpisah kembali. Hal itu tidak seperti orang yang rindu, tidak bertemu dalam jangka waktu yang lama, maka setelah bertemu akan melepas kerinduan tersebut dengan berduaan dalam jangka waktu yang lama, bahkan dimungkinkan untuk hidup bersama untuk selamanya.
Nonsense
Nonsense, merupakan bentuk kata-kata yang secara lingustik tidak mempunyai arti sebab tidak terdapat dalam kosakata. Nonsense dapat menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, menimbulkan arti dua segi, suasana aneh, suasana gaib, atau suasana lucu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:219). PuisiSudara Kembar tidak terdapat bentuk nonsense (bentuk kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti).
c. Penciptaan Arti
Penciptaan arti (Riffaterre, 1978:2) terjadi bila ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang secara linguistik tidak ada artinya. Hal ini di antaranya yaitu simitri (kesimbangan), rima (persamaan bunyi akhir), enjambemen (pemutusan kata/frase di ujung baris dan meletakkan sambungannya pada baris berikutnya), tipografi (penyusunan baris dan bait
sajak), atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan posisi dalam bait (homologues) (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:220).
Puisi Saudara Kembar terdiri dari tiga bait, yang tiap bait memiliki baris yang berbeda-beda. Bait pertama terdiri dari sepuluh baris, bait kedua terdiri dari tiga baris, dan bait ketiga terdiri dari dua baris. Tiap bait puisi tersebut memiliki rima yang berbeda pula.
Rima umumnya ditandai dengan abjad, misal: ab-ab; cde-cde; a-a, dan lain-lain. Penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e dan seterusnya (Atmazaki,1993:80).
Puisi Saudara Kembar memiliki rima dengan berpola:
tiba-tiba a
sebagai kilat b
cermin di tangannya a
mengingatkan dia a
kepada lubuk laut lain c
di mana ia pernah menjenguk d
dan berjumpa dengan gambar muka a
(seperti saudara kembar) e
begitu serupa a
tercipta dari ilham yang sama a
ia tidak bertukar kata a
hanya tahu f
ia ditunggu sejak dulu f
rindu yang dahsyat b
lalu membuatnya berpaling g
Pada bait pertama mempunyai rima dengan berpola a-b-a-a-c-d-a-e-a-a. Bait kedua berpola a-f-f, dan bait ketiga berpola b-g. Bentuk bait dan rima yang berbeda menciptakan arti bahwa terdapat perbedaan waktu dan suasana dari peristiwa yang terjadi.
Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas penting, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:22). Pada baris puisi Bima terdapat persamaan bunyi yang menambah suasana yang terjadi di dalamnya. Pada baris ketiga dan keempat terdapat persamaan bunyi a.
cermin di tangannya mengingatkan dia
Kombinasi bunyi an dan a memberikan kesan berirama dan memperjelas suasana muram yang terjadi pada tokoh tersebut.
Persamaan bunyi a terdapat pada baris 9 dan 10 begitu serupa
tercipta dari ilham yang sama
Persamaan bunyi a pada baris tersebut menyebabkan berirama dan memberi kesan liris (penuh perasaan).
Kombinasi bunyi u terdapat pada baris 12 dan13 hanya tahu
ia ditunggu sejak dulu
Persamaan bunyi u memberikan kesan suasana yang tenang dan membuat liris. Puisi Saudara Kembar mempunyai bentuk tipografi yang khas, yaitu bentuk penyusunan baris dan bait puisi tersebut menyerupai bentuk wajah manusia dilihat dari sisi samping, hal ini menciptakan arti adanya kaitan dengan kandungan puisi.
tiba-tiba sebagai kilat cermin di tangannya mengingatkan dia kepada lubuk laut lain di mana ia pernah menjenguk dan berjumpa dengan gambar muka (seperti saudara kembar)
begitu serupa
tercipta dari ilham yang sama ia tidak bertukar kata
hanya tahu
ia ditunggu sejak dulu rindu yang dahsyat
lalu membuatnya berpaling
3. Puisi Telinga
TELINGA
karya Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni “Masuklah ke telingaku,” bujuknya.
Gila: ia digoda masuk ke telinganya sendiri agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
“Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri
a. Penggantian Arti
Kalimat “masuklah ke telingaku,” merupakan gaya bahasa sinekdoke. Sinekdoke adalah semacam bahasa yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) (Gorys Keraf, 2000: 142). Sinekdoke “masuklah ke telingaku” menunjukkan pusat tempat untuk mendengar dan menerima suara atau bunyi masuk ke dalam tubuh. “Telinga” digunakan untuk mewakili keseluruhan bentuk atau tubuh manusia.
Kalimat “agar bisa mendengar apa pun” dan “…baiknya apapun yang dibisikkannya” merupakan gaya bahasa sinekdoke. Sinekdoke adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagaian (totum pro parte) (Gorys Keraf, 2000: 142). Sinekdoke “agar bisa mendengar apa pun” menunjukkan semua atau seluruh hal yang dapat didengar. Pengunaan “apa pun” digunakan untuk mewakili bunyi, suara, yang berupa ucapan maupun perkataan baik dan buruk yang semua dapat diterima.
“Secara terperinci setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis” merupakan bentuk gaya bahasa metafora. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya (Gorys Keraf, 2000: 139). Kalimat “setiap kata, setiap huruf” berarti perkataan mengenai rangkaian proses hidup yang terdapat dalam kehidupan manusia di dunia. Kalimat “bahkan letupan dan desis” menyatakan proses yang melibatkan udara dan suara yang keluar atau yang dihasilkan. Udara dan suara merupakan tanda kehidupan.
Kata “Gila:” dan “Gila!” merupakan bentuk gaya bahasa hiperbola. Hiperbola merupakan semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Gorys Keraf, 2000: 135). Penggunaan “gila” menunjukkan bahwa di situ terdapat hal yang dirasa sangat kurang masuk di akal sehingga menjadi heran, dan kemudian diulang lagi untuk memperjelas keanehan hal itu atau tidak wajar sehingga menjadi tidak percaya.
b. Penyimpangan Arti Ambiguitas
Ambiguitas merupakan kata-kata, frase atau kalimat dalam puisi yang sering kali mempunyai arti ganda sehingga menimbulkan banyak tafsir atau ambigu (Pradopo, 1993:213). Dengan ambiguitas, puisi memberi kesempatan kepada pembaca untuk memberikan arti sesuai dengan asosiasinya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215).
Penggunaan “Gila:” dan “Gila!” mempunyai arti: tidak masuk akal, kurang waras, tidak sehat, aneh, tidak biasa, tidak seperti mestinya, tidak wajar. Kalimat “yang menciptakan suara” mempunyai arti: bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, ucapan, perkataan, bunyi ujaran, pendapat, pernyataan.
Kontradiksi
Kontradiksi, mengandung arti pertentangan yang disebabkan oleh paradoks dan/atau ironi. Dalam puisi terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud dengan secara berlawanan atau berbalikan. Ironi biasanya digunakan untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:215-216).
“Masuklah ke telingaku,” bujuknya Gila:
Kalimat tersebut menyatakan hal tidak semestinya bahwa orang dibujuk untuk masuk ke dalam telinga, padahal organ tubuh telinga mempunyai lubang yang kecil yang secara nalar tidak mungkin bisa dimasuki badan manusia.
Nonsense
Nonsense, merupakan bentuk kata-kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti sebab tidak terdapat dalam kosakata. Nonsense dapat menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, menimbulkan arti dua segi, suasana aneh, suasana gaib, atau suasana lucu (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:219). Pada puisi Telinga tidak terdapat nonsense (kata yang secara linguistik tidak mempunyai arti).
c. Penciptaan Arti
Penciptaan arti (Riffaterre, 1978:2) terjadi bila ruang teks berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang secara linguistik tidak ada artinya. Hal ini di antaranya yaitu rima (persamaan bunyi akhir), enjambemen (pemutusan kata/frase di ujung baris dan meletakkan sambungannya pada baris berikutnya), tipografi (penyusunan baris dan bait sajak), atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan posisi dalam bait (homologues) (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:220).
Rima umumnya ditandai dengan abjad, misal: ab-ab; cde-cde; a-a, dan lain-lain. Penandaan selalu dimulai dengan huruf a, dan setiap bunyi berikutnya yang berbeda ditandai dengan urutan abjad: b, c, d, e dan seterusnya (Atmazaki,1993:80).
Puisi Telinga hanya terdiri dari satu bait, yang terdiri dari sebelas baris.
“Masuklah ke telingaku,” bujuknya. a
Gila: a
ia digoda masuk ke telinganya sendiri b
secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, d
bahkan letupan dan desis e
yang menciptakan suara. a
“Masuklah,” bujuknya. a
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik- f
baiknya apa pun yang dibisikkannya a
kepada diri sendiri b
Puisi Telinga mempunyai rima dengan pola a-a-b-c-d-e-a-a-f-a-b.
Bait puisi Telinga yang berjumlah satu dengan jumlah baris yang banyak tersebut mempunyai arti bahwa peristiwa yang terkandung puisi itu terdapat pada satu peristiwa dalam jangka waktu yang lama.
Bunyi di samping hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas penting, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya (Rachmat Djoko Pradopo, 1993:22).
Bunyi t kuat tampak pada baris 5, 6, dan 7. secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
Variasi bunyi t tersebut menyebabkan berirama dan menyiratkan ketegasan. Bunyi a tampak menonjol pada baris 9, 10, dan 11.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri
Persamaan bunyi a menyebabkan berirama dan membuat liris.
Persejajaran arti tampak pada baris ‘“Masuklah ke telingaku,” bujuknya’ dengan ‘“Masuklah,” bujuknya’ yang kemudian menimbulkan arti baru, selain bermakna masuk ke dalam tempat untuk mendengar suara juga bermakna tempat yang memang sudah disediakan baginya. Pengulangan kata gila pada baris kedua dan kesembilan, “Gila:” dan “Gila!” mempunyai arti
untuk menunjuk ketidakmungkinan terhadap hal yang akan diketahui berikutnya dan dipertegas ketidakmungkinan tersebut setelah tahu hal yang telah diketahuinya.
Pada baris ketiga dan kedelapan ada persejajaran yang menciptakan makna baru: “agar bisa mendengar apa pun” menjadi bermakna baru karena disejajarkan dengan “hanya agar bisa menafsirkan sebaik-”. Baris tersebut mempunyai arti dapat menerima dan mengamalkan nasehat atau ajaran yang diberikan. Puisi Telinga mempunyai bentuk tipografi yang unik, yaitu seperti irisan telinga. Hal ini untuk merujuk pada organ telinga manusia yang dikaitkan dengan judul serta kandungan puisi.
“Masuklah ke telingaku,” bujuknya. Gila: ia digoda masuk ke telinganya sendiri agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
“Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri