• Tidak ada hasil yang ditemukan

RADEN MAS SANJAYA

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 190-200)

PANEMBAHAN TIRTOMOYO memperlambat larinya. Akhirnya berjalan wajar seperti seseorang yang lagi menikmati pemandangan. Ia menunggu kesan Sangaji. Tetapi ternyata kesan Sangaji dingin membeku seolah-olah enggan menaruh perhatian. Diam-diam ia heran atas tabiat pemuda itu yang tiada usilan. Pikirnya, hatinya beku sederhana. Kokoh dan utuh. Bagus bakatnya. Kalau saja ia menemukan seorang guru yang pandai mengenal pribadinya, kelak bakal jadi seorang kesatria-pendeta. Sebagai seorang pendeta, lantas saja hatinya kian tertambat pada pribadi Sangaji.

Sangaji sendiri waktu itu memang lagi berpikir lain. Dia hanya mendengar ujar Panembahan Tirtomoyo dengan setengah hati, karena pikirannya mendadak melayang kepada sahabatnya si pemuda kumal. Sesungguhnya dalam segala hal, hatinya lebih tertarik pada gerak-gerik pemuda kumal itu daripada yang lain. Ia sudah memperoleh kesan buruk terhadap si pemuda ningrat. Apa perlu hendak mengetahui keadaannya lebih jauh? Inilah ciri-ciri pribadinya yang jauh berlainan daripada kebanyakan manusia yang masih berdarah panas. Mungkin pula, usianya masih muda. Hatinya masih hijau pupus terhadap segala persoalan hidup yang bernapaskan lika-liku pelik.

Terhadap si pemuda kumal, ia mempunyai kesan aneh. Teringat akan kepandaiannya yang dapat mempermain-mainkan orang semacam Kartawirya, hatinya ikut bersyukur dan girang luar biasa. Ingin ia hendak lekas-lekas bertemu agar dapat menumpahkan semua perasaannya. Lalu ia teringat pula kepada lipatan kertas yang diberikan kepadanya semenjak di Cirebon. Dua kali ia melalaikan pesannya agar membuka lipatan kertas itu setelah dua hari dua malam. Tetapi oleh suatu kesibukan pesannya belum dapat dilaksanakan. Tatkala pagi tadi dia menerima warta

tentang kedatangannya dari mulut pelayan losmen, ia lupa pula membuka lipatan kertas itu karena terdorong rasa girang. Kini ia mau melakukan tegoran sahabatnya itu.

Diam-diam ia merogoh kantungnya. Ternyata lipatan kertas itu masih mengeram baik-baik. Segera ia hendak merogoh, mendadak mendengar Panembahan Tirtomoyo berkata seolah-olah mendesak.

“Pernahkah kamu mendengar tentang seorang pendeta edan-edanan bernama Ki Hajar Karangpandan?”

Sangaji mengangguk. Memang ia pernah mendengar nama itu. Pertama-tama keluar dari mulut kedua gurunya. Kedua, dari mulut Ki Tunjungbiru tatkala mengisahkan riwayat pertemuannya sehingga orang tua itu terikat oleh suatu perjanjian tiada kawin selama hidupnya.

“Dia seorang guru besar,” ujarnya dingin. Ia teringat kepada pemuda Surapati yang

mengabarkan dirinya sebagai murid Ki Hajar Karangpandan di samping sahabatnya semasa kanak-kanak Sanjaya.

“Dialah guru pemuda itu.”

“Sudah kuduga sebelumnya, karena gerak-geriknya mirip dengan seorang pemuda yang pernah berkelahi denganku di Jakarta.”

“Siapa pemuda itu?”

“Namanya Surapati. Dia adik seperguruan teman sepermainanku semasa kanak-kanak.” “Hm.” Panembahan Tirtomoyo berdengus melalui hidungnya. “Akupun segera mengenal tata-ilmu berkelahinya. Itulah gaya adik kandungku Hajar edan.”

Mendengar keterangan Panembahan Tirtomoyo bahwa Ki Hajar Karangpandan adalah adik kandung, terperanjatlah Sangaji mengingat bahwa dia sampai berkelahi melawan

murid-kemenakannya, hatinya merasa bersalah. Cepat-cepat dia berkata, “Aki! Kalau begitu aku bersalah terhadap Aki karena berkelahi melawan kemenakan murid Aki. Aku mohon maaf sebesar-besarnya. Alasan perkelahian itu sebenarnya hanya berkisar pada soal perjodohan. Dia hendak mengingkari janji dan menghina kehormatan seorang gadis dengan terang-terangan di muka umum. Sekiranya aku tahu dia adalah murid adik Aki, bagaimana aku berani berlaku lancang ...”

Panembahan Tirtomoyo tertawa perlahan.

“Tak perlu kamu minta maaf padaku. Bahkan aku perlu menyatakan kekagumanku. Hatimu amat mulia, bocah. Aku senang padamu. Kau tahu, meski pun adikku seorang pendeta edan-edanan, tapi hatinya jujur bersih. Tak bakal ia membantu muridnya dengan membabi buta. Tak bakal pula dia membiarkan muridnya merusak namanya. Kau tahu, karena demi nama, adikku bersedia berkelahi mengadu nyawa. Demi nama, dia berani menyiksa diri tidak kawin sepanjang hidupnya. Demi nama pula, dia terikat oleh suatu perjanjian dengan dua orang pendekar utama pada jaman ini.” la berhenti mengesankan. “Bocah! Siapakah sebenarnya nama kedua gurumu dan kamu berasal dari mana? Menilik tata bahasamu kamu bukan seorang anak yang hidup di tengah pergaulan daerah Jawa Tengah.”

Dua belas tahun lamanya Sangaji hidup di kota Jakarta. Meskipun dapat berbicara bahasa-daerah Jawa Tengah dengan lancar, tetapi bahasa sehari-sehari yang digunakan ialah bahasa Melayu Jakarta. Itulah sebabnya bagi pendengaran orang Jawa Tengah, tutur katanya terdengar kaku.

Sangaji menatap pandang Panembahan Tirtomoyo. Terhadap orang sesaleh dia, tak perlu ia menaruh keberatan menyebut nama kedua gurunya.

“Guruku dua orang. Yang berusia tua bernama Jaga Saradenta dan berusia pertengahan, Wirapati.”

“Ah!” seru Panembahan Tirtomoyo terkejut. “Masa kamu murid mereka? Kabarnya dua orang itu, sekarang berada di daerah barat.”

“Benar.” Sahut Sangaji dengan hati bangga. “Beliau berdua berada di Jakarta selama mengasuhku.”

“Eh ... jadi... jadi kaukah bocah pertaruhan itu?”

Sangaji menebak-nebak arti kata orang tua itu. Terus terang, dia belum bisa menanggapi. “Pertaruhan?” tanya Sangaji minta penjelasan.

“Ya, bukankah kamu anak yang dijadikan pertaruhan antara kedua gurumu dan Hajar? Dua tahun yang lalu, aku berjumpa dengan Hajar di dekat Desa Bekonang. Dia menceritakan seperti itu demi kehormatan diri masing-masing.”

“Ah, itukah maksud Aki?” Sangaji baru mengerti. Lalu ia mengangguk. “Kamu tahu, diapun anak yang dipertaruhkan.”

“Dia siapa?”

“Pemuda keagung-agungan tadi.”

Mendengar keterangan Panembahan Tirtomoyo tentang si pemuda ningrat yang senasib dengannya, rasa dengkinya turun. Ia malah tertawa perlahan karena geli.

“Ia dipertaruhkan untuk bertanding melawan siapa?” “Melawanmu.”

“Aku?” Sangaji heran.

“Ya, karena dia itulah Sanjaya.”

Kalau orang kaget disambar petir, tidaklah sekaget Sangaji. Pandangnya lantas saja jadi kabur dan hatinya memukul keras. Kakinya terasa menjadi kejang. Dan dia berdiri tegak bagaikan sebatang tonggak. Bagaimana tidak? Nama Sanjaya tak pernah hilang dalam perbendaharaan benaknya, sebagai teman sepermainan masa kanak-kanak.

Ibunya selalu menderukan nama itu berulang kali, setiap kali membicarakan hal-hal yang terdapat di dalam daerah Jawa Tengah. Maksud ibunya hendak menanamkan bibit persahabatan sekuat-kuatnya dalam hatinya. Tatkala harus berguru pada Jaga Saradenta dan Wirapati, diapun sadar apa guna-faedah-nya. Juga kala dia harus berangkat ke Jawa Tengah. Perjalanan itu semata-mata untuk urusan pertemuannya dengan temannya sepermainan masa kanak-kanak, si

Sanjaya. Karena itu, sepanjang perjalanan ia selalu mengharapkan suatu pertemuan selekas mungkin, sampai-sampai ia mengira si pemuda kumal adalah Sanjaya. Tak tahunya, kini dia malah bisa bertemu tanpa perantaraan kedua gurunya. Cuma saja terjadinya pertemuan itu, mengapa begitu rupa? Ingin dia membantah keterangan Panembahan Tirtomoyo. Alasannya kuat pula. Pertama-tama, Sanjaya bukanlah anak seorang ningrat. Dia anak almarhum sahabat ayahnya. Sama-sama anak kampung seperti dirinya. Kedua, barangkali dia adalah murid Ki Hajar

Karangpandan yang lain seperti Surapati. Dan ketiga, seumpama si - pemuda ningrat itu benar-benar Sanjaya, masa tak mengenal dirinya? Masa dua belas tahun bisa berubah sehebat itu seperti membalik bumi. Tapi ia terperanjat sendiri, jika teringat kalau diapun tak mengenal siapakah si pemuda ningrat itu. Memperoleh pertimbangan demikian, seluruh tubuhnya lantas menjadi lemas.

Gap-gap ia menatap muka Panembahan Tirtomoyo untuk mencari keyakinan. Sesungguhnya alasan untuk tidak mempercayai orang tua itu, tidak ada sama sekali. Wajah itu, begitu alim dan saleh. Dia bukan termasuk golongan orang yang bisa bergurau. Memikir demikian hatinya kian memukul sampai terdengar berdegupan.

“Aki!” katanya perlahan-lahan setengah berbisik. “Sekiranya dia benar teman sepermainanku Sanjaya, mengapa dia menghina diri seorang gadis di depan umum. Seumpama dia enggan mengawini Nona itu, apakah jadinya?”

Benar-benar Sangaji pemuda yang beku dan bersih hati. Tak gampang-gampang melupakan perkara perjodohan Nuraini. Rupanya sesuatu hal yang menusuk perasaan tetap saja melekat pada perbendaharaan kalbunya.

Panembahan tersenyum melihat tata-pengucapan hatinya. Ia menjawab seperti menggurui, “Bocah, benar-benar kamu berhati mulia. Melihatmu, lantas saja timbul keheranan mengapa adikku bisa mendapat murid seperti Sanjaya. Apakah dia tak memperhatikan nilai-nilai budi

pekerti? ... “ ia berhenti, merenung-renung. Kemudian meneruskan sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Baiklah kupinta penjelasannya. Beberapa hari ini dia akan sampai juga di kota ini.”

“Siapa?”

“Adikku Hajar Karangpandan.”

Mendengar jawaban Panembahan Tirtomoyo, diam-diam Sangaji bergirang hati. Ia berharap, kedua gurunya sampai pula.

“Bocah, sebenarnya kamu harus memikirkan kepentinganmu sendiri. Kamu bakal di uji dan mendapat ujian berat. Sebab bagaimanapun juga, Sanjaya adalah murid adikku. Pastilah dia telah memiliki bermacam-macam ilmu jasmaniah dan mantran.” Kata

Panembahan Tirtomoyo mengesankan. “Pernahkah - kamu mendengar tentang ilmu mantran?”

“Apakah itu?”

Panembahan Tirtomoyo tertawa dalam dada. Sambil membimbing Sangaji ia berkata, “Dengar! Di dalam pergaulan hidup ini, tidak selamanya berjalan di atas nilai-nilai tata-jasmaniah yang wajar. Sejarah manusia menemukan sesuatu pengucapan-pengucapan lain oleh pengalaman usia manusia itu sendiri. Penemuan itu disebut tata-gaib.”

“Apakah itu?” Sangaji heran.

“Suatu derun pengucapan manusia yang mulai meragukan kemampuan tenaga jasmaniah untuk mencapai sesuatu maksud. Mengapa, anakku? Inilah alasannya.” Kata Panembahan

Tirtomoyo menggurui. “Manusia ini mempunyai perlengkapan jasmani yang cukup sempurna untuk menyatakan ungkapan hati. Manusia mempunyai dua buah mata, dua tangan, dua kaki dan

tulang-belulang lengkap dengan otot-otot serta segalanya. Tetapi anakku, apakah benar

perlengkapan jasmani itu mampu menguber tiap derun angan manusia? Tidak! Sama sekali tidak! Bahkan terasa dalam hati, bahwa perlengkapan tubuh alangkah kerdil. Mata umpamanya, selagi terhalang oleh dinding saja, sudah terasa kerdil. Karena mata tak kuasa menembus. Lengan dan tangan sekalipun cekatan dan perkasa, apakah mampu memeluk gunung atau menggempur bukit? Begitu juga kaki walaupun teguh sentosa bagaikan pohon besi, apakah sanggup pula melompati luasnya lautan?”

“Oleh kenyataan yang mengecewakan deru angan itu, manusia mulai menggali dan menggali. Akhirnya diketemukan suatu perlengkapan lain yang dapat mengatasi dan mampu menguber setiap angan.”

“Apakah itu?”

“Cipta.” Panembahan Tirtomoyo menyahut cepat. “Kalau mau disebutkan selengkap-lengkapnya ialah: Hidup, Gerak, Rasa, Cipta, dan Karsa. Inilah alat tata-rasa jasmaniah manusia. Karena tidak nampak, maka tata-rasa itu disebut golongan rohaniah. Nah, tata-rasa ini mempunyai

pengucapan-pengucapan sendiri, kemampuan-kemampuan sendiri dan laku sendiri. Mengingat tata-rasa sebagai suatu alat manusia, harus juga mengalami suatu latihan tertentu. Bukan seperti tata-jasmani yang mengutamakan latihan raga, tetapi lebih mengutamakan pengendapan. Inilah yang di-sebut orang laku bertapa. Orang mengurangi! laku makan-minum dan tidur. Mengapa begitu? Karena manakala manusia tidak makan-minum dan tidur, terjadilah suatu pembakaran dalam tubuh. Itulah akibatnya pemberontakan dan kegiatan tata-rasa yang butuh nada pelepasan. Seperti sebuah roda berputar akan berbunyi bergeritan dan panas, ketika orang mencoba

menekannya kuat-kuat. Apabila tekanan dilepaskan, dengan mendadak saja roda itu akan berputar kencang berdesingan karena endapan tenaga yang tertekan.”

Panembahan Tirtomoyo berhenti mencari kesan. Ketika melihat Sangaji benar-benar merasa tertarik, ia meneruskan seperti sedang menggurui,

“Seumpama sebuah bendungan air yang tergenang arus air terus-menerus, membutuhkan suatu pelepasan teratur. Air itu akan menggoncangkan segala dan menjebol mengikuti saluran di mana saja terjadi. Begitu juga luapan tata-rasa itu akan menurut kehendak angan manusia bagaikan suatu saluran tertentu. Maka karena pengalaman manusia pula, terjadilah suatu istilah-istilah penggolongan saluran tata-rasa yang disebut orang mantran. Pernahkah kamu mendengar istilah-istilah seperti Mantran kekebalan, Ismu petak, Ismu Aji Gajah Wulung, Ismu Gunting, Mantran Sapu Jagad, Aji Welut Putih, Aji Bragola, Aji Brajalamatan, Aji Jayengkaton dan

bermacam mantran dan aji lainnya? Itulah seumpama saluran-saluran sebuah bendungan air yang sedang memberontak. Hebat tenaganya, dan memiliki kerja yang tak dapat dilawan oleh tata-kerja jasmaniah. Itulah sebabnya, maka tata-tata-kerja tenaga itu disebut tata-gaib. Barangsiapa yang lebih kuat maka dialah yang menang.”

Mendengar tutur-kata Panembahan Tirtomoyo, Sangaji merenung-renung. Akhirnya berkata, “Apakah Sanjaya memiliki tenaga ajaib itu?”

“Adikku memiliki bermacam mantran dan aji. Apakah Sanjaya diwarisi ilmu saktinya, kita lihat nanti. Tetapi kamu tak usah berkecil hati. Aku berada di sampingmu. Kalau adikku bermain ugal-ugalan, biarlah aku nanti yang meladeni.”

Sangaji mengernyitkan dahi. Panembahan Tirtomoyo mengira dia sedang dalam keragu-raguan. Mau dia membesarkan hatinya, mendadak Sangaji berkata di luar dugaan.

“Tapi ... bagaimana nasib gadis tadi? Apakah kita biarkan dia meradangi nasibnya yang buruk?” “Ah!” Panembahan Tirtomoyo terperanjat. Kemudian ia tertawa geli sampai tubuhnya

bergoncang-goncang. “Bocah! Benar-benar kamu tak mau memikirkan kepentingan dirimu sendiri. Alangkah mulianya hatimu. Baik, ayo kita jenguk keadaan gadis itu. Kulihat tadi, hatinya keras sampai mau bunuh diri di depan umum. Aku khawatir, kalau dia mau melakukan perbuatan terkutuk itu di dalam penginapannya ... Ayo!”

Habis berkata demikian dengan sebat pergelangan tangan Sangaji disambarnya. Kemudian dibawa lari secepat angin. Diam-diam Sangaji mengagumi ilmu larinya, dilihat dari tata mata, dia sudah berusia lanjut. Tak tahunya gerakannya gesit luar biasa sampai dia sendiri terasa dibawa terbang melintasi tanah.

Sebentar saja mereka telah tiba di tempat pemberhentian kuda. Dengan gampang mereka menemukan losmen miskin yang berdiri di dalam gang kecil. Tatkala mereka hendak memasuki pintu pagar, serombongan polisi daerah datang menyambut sambil memperlihatkan sepucuk surat lipatan.

“Tuan-tuan berdua mendapat undangan Raden Mas Sanjaya agar sudi berkunjung ke istana Kadipaten. Inilah surat undangan beliau.”

Panembahan Tirtomoyo diam menimbang-nimbang. “Baiklah. Sampaikan saja, kalau kami berdua akan segera datang.”

Setelah berkata demikian, dengan menggandeng tangan Sangaji ia memasuki losmen. Rombongan polisi daerah itu, lantas saja mengundurkan diri. Rupanya mereka telah agak lama menunggu kedatangan mereka berdua. Begitu selesai melakukan tugas, cepat-cepat

meninggalkan serambi losmen.

“Sangaji! Baiklah kita datang saja. Di sana kamu bakal ketemu dengan Sanjaya. Mungkin pertemuan itu akan mendatangkan angin bagus.”

Sangaji mengangguk. Hatinya girang. Memang ia merasa menyesal, mengapa sampai

bertengkar dengan temannya itu. Seumpama siang-siang dia mengetahui siapa pemuda ningrat itu sebenarnya, takkan terjadi peristiwa demikian.

Waktu memasuki kamar, mereka melihat Mustapa sedang merebahkan diri di atas

pembaringan. Kedua pergelangan tangannya membengkak dan berwarna biru. Nuraini yang terluka dadanya, duduk di sampingnya dengan wajah kebingungan. Alangkah dia bergirang hati, tatkala melihat kedatangan mereka. Gugup ia mempersilakan duduk di atas kursi, sedang dia sendiri tetap berada di tepi pembaringan.

Panembahan Tirtomoyo membuka bebat yang melilit pergelangan, kemudian memeriksa dengan cermat. Tulang pergelangan kedua belah tangan patah. Itulah kejadian lumrah dalam suatu pertarungan. Hanya saja bengkak itu nampak tersembunyi bentong-bentong merah hitam seperti kena bisa ular.

Ih, aneh! pikir Panembahan Tirtomoyo. Biarpun Hajar memiliki ilmu mantran pelik-pelik, tetapi tak mungkin mengantongi suatu mantran jahat. Sanjaya terang anak murid Hajar. Dari manakah dia mempunyai ilmu pukulan begini berbisa?

Selagi Panembahan Tirtomoyo sibuk menebak-nebak, Sangaji mengawaskan Nuraini yang selalu menunduk dalam, la jadi perasa. Ingin ia membesarkan hatinya dan menyatakan pula bersedia membela kehormatannya betapa besar akibatnya.

Tak lama, Panembahan Tirtomoyo merogoh kantung sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil terbuat dari kayu.

“Siapakah namamu?” katanya pada Nuraini. Nuraini menegakkan kepala.

“Nuraini binti Maksum.” “Dialah ayahmu?”

“Bukan. Dia ayah angkatku. Namanya Mustapa.”

Panembahan Tirtomoyo tak bertanya lebih jauh. Ia mengalihkan pembicaraan,

“Ayah angkatmu kena pukulan beracun. Kebetulan aku mengantongi sebuah kotak kecil berisi bubuk daun Sangkalputung. Daun ini sangat mustajab untuk memulihkan tulang patah. Nanti kutolong menyambungkan tulangnya yang patah. Hanya saja aku mengkhawatirkan bentong-bentong racun itu. Kamu perlu merawatnya hati-hati.”

Nuraini terperanjat. Sangajipun kagetnya pula. “Kena racun? Kapan dia kena racun?”

“Dia bukan kena racun, tetapi kena. pukulan beracun. Rupanya Sanjaya mempunyai pukulan berbisa yang berbahaya. Darimana dia mendapat pukulan itu, sulit aku menebaknya. Jelas sekali pukulan demikian, bukan berasal dari Hajar. Pasti ada lika-likunya di belakang kejadian ini.”

Sangaji diam berpikir keras. Ia mencoba mengingat-ingat perkelahian antara Sanjaya dan Mustapa. Sanjaya tadi hanya mengembangkan ke lima jarinya seperti hendak mencakar. Lalu diterkamkan dan menyambar pergelangan. Serangan inilah yang mematahkan pergelangan tangan Mustapa.

“Tak mungkin! Tak mungkin!” dia komat-kamit.

Panembahan Tirtomoyo yang sedang menyambung tulang pergelangan, menoleh. “Apanya yang tak mungkin?”

“Sebab-musabab patahnya tulang pergelangannya, masih teringat segar dalam benakku. Dia kena serangan aneh semacam jurus milik Pringgasakti.”

“Apa katamu?” Panembahan Tirtomoyo terperanjat, la nampak menguasai diri, karena tengah menyambung tulang. Setelah selesai, segera ia menyuruh Nuraini memborehkan bubuk

Sangkalputung dan membebatnya rapi. Kemudian membawa Sangaji ke luar losmen. “Kamu tadi mnegatakan apa?”

Sangaji mengisahkan riwayat pertemuannya dengan Pringgasakti di sebuah bukit daerah Cibinong. Karena pengalamannya itu, gerakan serangan Sanjaya mengingatkan dia kepada gaya Pringgasakti.

“Ah! Bukankah Pringgasakti si iblis itu? Masa dia masih hidup pada jaman ini?” potong Panembahan Tirtomoyo gugup. Ia mempercepat langkahnya seolah-olah hendak memburu sesuatu.

Sangaji mencoba membicarakan Pringgasakti menurut pendengarannya dari omongan kedua gurunya. Panembahan Tirtomoyo mendengarkan dengan berdiam diri. Diam-diam ia mulai curiga pada murid adik kandungnya.

“Kau bilang, gurumu Jaga Saradenta melihat Pringgasakti berjalan bersama Pangeran Bumi Gede di Jakarta?” dia menegas.

“Begitulah kata guruku Jaga Saradenta.”

Panembahan Tirtomoyo menaikkan alisnya, tetapi tidak mengucap sepatah kata lagi. Dengan berdiam diri ia menggandeng Sangaji memasuki halaman Kadipaten Pekalongan yang lebar dan luas. Pendapa Kadipaten bagaikan sebuah pendapa pangeran-pangeran pati di Surakarta atau Yogyakarta. Teguh, tegak dan mentereng. Di sana nampak segerombolan orang yang

mengenakan pakaian daerah masing-masing.

“Sangaji, dengarkan!” bisik Panembahan Tirtomoyo. “Dalam hal kecerdikan dan pengalaman bergaul dalam dunia luas ini, kamu kalah dengan Sanjaya. Karena itu mulai sekarang kamu harus bersikap hati-hati dan waspada. Jangan biarkan hatimu dikisiki luapan perasaan belaka. Kuasailah dirimu sebaik mungkin! Bergaul dengan penguasa-penguasa negara tak boleh menyatakan

perasaan hati dengan terang-terangan. Kau mengerti?” Sangaji mengangguk.

“Bagus!” Panembahan Tirtomoyo gembira-melihat Sangaji mendengarkan nasehatnya.

Meneruskan, “Lebih baik kamu tak dikenal mereka daripada memperkenalkan diri dengan terang-terangan. Ada guna faedahnya. Karena itu, janganlah kamu menyapa Sanjaya dahulu. Lain kali masih ada kesempatan. Kini bersikaplah wajar seperti tadi. Selain dirimu aman, kamu mempunyai kesempatan mengamat-amati dia sebelum bertanding. Dengan begitu, kamu bisa menempatkan diri kelak dalam gelanggang pertandingan.”

Sangaji tak menyetujui nasehat yang terakhir ini. Hatinya yang jujur bersih emoh berbuat suatu laku curang. Tetapi tatkala hendak membuka mulut, tiba-tiba Panembahan Tirtomoyo seperti telah dapat membaca hatinya.

“Bukankah kamu tadi telah mendapat pengalaman, bagaimana licinnya lawanmu? Dalam suatu pertandingan, orang tak boleh hanya mengutamakan keuletan tenaga belaka. Sebelum kamu memasuki wilayah Jawa Tengah, bukankah kamu telah diselidiki terlebih dahulu? Kau tadi bilang perkara perkelahianmu melawan pemuda Surapati adik seperguruan Sanjaya.”

Teringat akan Surapati, Sangaji terkesiap. Barulah sekarang dia mengerti tentang arti kedatangan pemuda itu di Jakarta dan dengan sengaja menantang berkelahi tanpa sesuatu, alasan tertentu. Sebagai seorang pemuda yang masih jujur bersih dan tak pernah pula memikirkan tentang hal-hal yang tiada lurus biar selintaspun, lantas saja timbul rasa dengkinya pada pemuda Surapati. Mendapat perasaan demikian, ia kemudian mengangguk tanpa ragu-ragu lagi.

Sanjaya yang berada di pendapa, waktu itu datang menyambut kedatangan Panembahan Tirtomoyo. la tertawa berseri-seri seraya berkata merendahkan diri.

“Paman benar-benar sudi berkunjung di rumah pondokanku. Meskipun rumah ini bukan rumah sendiri, tetapi aku mendapat kebebasan luas untuk berlaku sebagai tuan rumah. Nah, selamat datang Paman. Selamat datang pula kuucapkan pada sahabat kecil ini.”

Sangaji mengangguk. Hatinya tiba-tiba menjadi pedih, melihat sepak-terjang dan perangai temannya sepermainan dahulu. Dengan pandang tajam ia mengamat-amati dan mencoba mencari-cari suatu ingatan dalam masa kanak-kanaknya. Lapat-lapat dikenalnya pula potongan

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 190-200)

Dokumen terkait