• Tidak ada hasil yang ditemukan

Si Pemuda Kumal

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 148-190)

Tujuh hari lamanya mereka berjalan. Pada malam hari mereka menginap di losmen-los-men. Sekiranya tidak ada, mereka bertiduran di alam terbuka. Inipun merupakan suatu pengalaman baru yang menyenangkan hati Sangaji. Rasa petualangannya lantas saja membersit dari hati. Pada hari kedelapan sampailah mereka di perbatasan kesultanan Cirebon. Waktu itu tengah hari telah terlampaui. Sangaji mengkaburkan kudanya terus-menerus. Kedua gurunya mengawaskan dari belakang.

“Di luar dugaanku, kuda itu benar-benar kuda jempolan,” dengus Jaga Saradenta. Wirapati tertawa senang mendengar Jaga Saradenta memuji kuda Sangaji.

“Aku lantas ingat kepada cerita-cerita kuno tentang primbon kuda,” ujarnya lagi. “Bahwasanya kuda-kuda itu mempunyai ciri-ciri yang baik dan tidak. Diapun akan menyeret pula nasib

majikannya. Kautahu tentang itu?”

“Tak pernah aku mempunyai kuda,” sahut Wirapati. “Ah! Itulah kekuranganmu.”

Jaga Saradenta merasa menang. “Kalau begitu kau tak pernah mendengar cerita tentang kuda. Pada jaman dahulu raja akan memperebutkan kuda jempolan. Dia berani mengorbankan

“Masa begitu goblok?” potong Wirapati. “Apakah harga nyawa seekor kuda lebih berharga daripada nyawa manusia?”

“Hm, dengarkan. Aku pernah mendengar cerita perkara kuda dari seorang sahabatku bangsa Tionghoa. Dia Lotya di Banyumas. Dia bisa mendongeng dan menunjukkan bukunya tentang perang besar memperebutkan kuda-kuda jempolan di negeri Tiongkok. Buku itu, kalau tak salah namanya Hikayat Jaman Han. Diceritakan tentang seorang kaisar bernama Han Bu Tee yang pada suatu kali mengirimkan Jendral Besarnya bernama Lie Kong untuk memperebutkan kuda raja negeri Ferghana. Jendral itu membawa pasukan puluhan ribu orang banyaknya. Mereka bisa dihancurkan dan dibinasakan. Baru setelah mendapat bala-bantuan, maka tercapailah angan-angan Kaisar Han Bu Tee untuk memiliki kuda Ferghana yang jem-polan.”

“Itu gila! Kalau memang cerita itu benar-benar kejadian, maka Kaisar Han Bu Tee akan bersedia tidur bersama kuda.”

“Hooo...! Nanti dulu! Soalnya lantas saja berubah menjadi masalah kehormatan bangsa.” “Itulah yang benar. Jadi bukannya berperang perkara merebut kuda.”

“Tapi mula-mula perkara kuda,” Jaga Saradenta mengotot.

“Menurut buku itu, Kaisar Han Bu Tee mengirimkan utusan kepada raja Ferghana untuk minta seekor kuda. Permintaannya ditolak, lantas saja timbullah suatu peperangan besar yang

membinasakan puluhan ribu manusia.”

“Apakah kira-kira masalah permintaan kuda itu, bukan suatu dalih belaka untuk suatu alasan berperang?”

Didebat begitu Jaga Saradenta diam menimbang-nimbang. Kemudian mencoba mengatasi. “Tapi memang sejarah dunia ini banyak mengisahkan hal-hal yang tak masuk akal. Kuda jempolan kurasa patut direbut dengan perang. Kalau dipikir, banyak cerita-cerita yang mengisahkan tentang hancurnya suatu kerajaan hanya karena gara-gara seorang perempuan. Haaa ... seseorang yang tahu apa arti kuda, kerapkali menilai seekor kuda jauh lebih berharga daripada seorang

perempuan. Kau percaya tidak?”

Selagi Wirapati hendak menyahut, tiba-tiba terlihatlah serombongan penunggang kuda yang mengenakan pakaian serba putih. Rombongan itu terdiri dari enam orang pemuda tampan.

Pakaiannya bersih dan gerak-geriknya tangkas. Mereka datang dari arah Selatan, terus memotong jalan dan mengarah ke Timur.

Sangaji yang berada jauh di depan memberhentikan kudanya. Kelihatan ia sedang

mengawaskan mereka dengan penuh perhatian. Sampai mereka melewatinya, masih saja dia berdiam diri. Ia menunggu kedatangan kedua gurunya. Lalu berteriak, “Guru! Mereka mengenakan pakaian putih. Kulit mereka kuning lembut. Mereka mengerling padaku dan memperhatikan

kudaku.”

“Buat apa mereka memperhatikan kudamu? Yang diawasi itu kantung uangmu!” sahut Wirapati tajam.

“Belum tentu!” Jaga Saradenta menungkas. “Kalau mereka ahli kuda, bukan mustahil mereka ngiler melihat kuda Sangaji. Siapa tak kenal kehebatan kuda pahlawan Arabia Hamzah? Sekiranya kuda Amir Hamzah masih hidup sampai kini, kurasa dunia akan berperang terus-menerus untuk memiliki kuda itu.”

Wirapati melengos. Ia menjepit perut kudanya dan mengkaburkan sekencang-ken-cangnya. Sangaji heran melihat kelakuan gurunya. Segera ia mengejar dengan diikuti Jaga Saradenta. Mereka bertiga jadinya seperti lagi beriomba dalam pacuan kuda. Debu berhamburan di udara menutupi alam sekitarnya. Meskipun demikian, mereka seakan-akan tak mempedulikan. Mereka terus melarikan kudanya hingga hampir matahari tenggelam.

Tatkala senja rembang tiba, mereka berhenti di dalam sebuah rumah makan yang lumayan besarnya. Segera mereka memilih tempat dan memesan makanan. Mereka minta tolong pada salah seorang pembantu rumah makan untuk mencarikan rumput dan serbuk kasar. Tak lama kemudian, terdengarlah kuda berderapan. Enam orang pemuda berpakaian putih datang ke rumah makan itu. Mereka bukan rombongan yang pertama tadi, tapi merupakan rombongan kedua.

Sangaji heran melihat mereka begitu tampan dan bergerak sangat lincah. Mereka mengenakan ikat kepala berwarna ungu dan duduk bersama di pojok sebelah kanan. Pikir Sangaji, Mereka merupakan rombongan yang teratur. Apa ada pemimpinnya? Tatkala hendak minta keterangan

tentang siapa mereka, terdengar Wirapati berkata kepada Jaga Saradenta dengan suara lantang menyegarkan pendengaran, “Kau tadi bilang perkara kuda Amir Hamzah. Kenapa kauanggap kuda jempolan?”

“Ah! Kamu mau berdebat lagi perkara kuda?” Jaga Saradenta tertawa berkakakkan. Sambil menunjuk kuda Sangaji ia berkata meyakinkan. “Lihat Willem! Apakah kuda itu bukan kuda bagus? Delapan hari dia dilarikan si bocah edan-edanan, tapi masih nampak segar-bugar seolah-olah tidak mengenal lelah. Coba, kalau aku bukan orang tua si bocah, pasti akan kurampas. Begitu pula, kuda Amir Hamzah terkenal sebagai kuda jempolan. Kuda itu bernama Kalisahak. Menurut cerita, dia dahulu milik Nabi Iskak. Dengan cara gaib, Amir Hamzah dan Gmar bisa mendapatkan selagi mereka berdua bermain-main memanjat pohon di tengah hutan. Kuda Kalisahak bisa berlari secepat kilat. Dia tak takut hujan, guntur, sungai, rawa-rawa, hujan panah dan api. Selain itu, dia bisa melindungi majikannya. Di kala Amir Hamzah menderita luka parah sewaktu perang dengan Raja Kaos, Kalisahak membawa dia lari ke luar gelanggang. Dia terus lari dan lari, siang dan malam tiada hentinya sampai mencapai sebuah dusun yang aman tenteram. Di dusun itulah Kalisahak menyerahkan majikannya kepada seorang penduduk agar mendapat rawatan. Dia sendiri tetap berdiri di samping majikannya sampai majikannya sembuh. Apakah itu bukan kuda jempolan?”

Sangaji tertarik pada cerita gurunya. Sewaktu mengerlingkan mata kepada enam pemuda berpakaian putih, dilihatnya mereka menaruh perhatian pula.

“Kalisahak mati karena usia tua,” Jaga Saradenta meneruskan. “Bukan mati karena senjata lawan seperti dikabarkan.”

“Bagaimana cerita itu?” Wirapati minta penjelasan.

“Itu terjadi dalam suatu peperangan yang dahsyat. Kalisahak kena bidikan panah lawan dan kena sabetan pedang. Dia jatuh terjengkang. Amir Hamzah melindungi mayatnya sambil menangis meraung-raung. Kemudian Kalisahak dikubur dengan upacara kerajaan.”

“Eh, kedengarannya cerita ini yang lebih mengasyikkan daripada mati tua. Matinya lebih terhormat dan patut menjadi kenangan orang.”

Jaga Saradenta diam seperti lagi mempertimbangkan. Ia menyenak napas seraya menjawab, “Sesukalah.”

“Sesukalah bagaimana?”

“Kalau kau suka mendengar cerita itu, ada baiknya. Tak ada orang yang bakal membantah. Akupun tidak. Tapi aku lebih suka, dia mati karena usia tua. Artinya, dia mati dengan tentram. Bukan mati karena penasaran.”

“Mati tua artinya mati pensiun,” Wirapati menggoda.

“Baik, baik. Mati pensiun artinya dia pensiun jadi kuda. Kemudian naik ke langit menjadi dewa. Mungkin menjadi dewa. Mungkin jadi malaikat, karena sudah pensiun jadi kuda,” Jaga Saradenta jadi uring-uringan.

Wirapati tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan rekannya yang cepat mendongkol. Sangaji sendiri sekalipun tak berani terang-terangan, ia tertawa peringisan.

“Lantas? Apa Amir Hamzah tak punya kuda lagi?” Wirapati mengalihkan kesan.

“Mana bisa seorang pahlawan tanpa kuda,” Jaga Saradenta menyahut cepat. “Setelah Kalisahak mati, mula-mula memang dia tidak mau naik kuda lagi. Karena di dunia ini mana ada kuda seperti Kalisahak. Tapi akhirnya Tuhan kasihan padanya. Pada suatu hari, isteri tukang perawat Kalisahak melahirkan seekor kuda setengah raksasa setengah binatang.”

“Eh, mana bisa manusia mampunyai anak seekor kuda? Manusia kan bukan kuda?” Wirapati membantah.

“Ini kan cerita,” Jaga Saradenta mendongkol. “Mungkin maksudnya untuk mengesankan mutu kuda Amir Hamzah yang kedua itu.”

Mendengar jawaban Jaga Saradenta yang masuk akal, Wirapati mau mengalah.

“Kuda itu diberi nama Sekardiyu,” Jaga Saradenta meneruskan. “Sekar artinya kembang atau anak. Diyu artinya raksasa. Jadi maksudnya, anak raksasa. Dan kuda itu sendiri, memang kuda yang perkasa dan kuat seperti raksasa. Dia seekor kuda jempolan yang pantas dibeli dengan darah. Mengapa? Dalam tiap-tiap pertempuran, Sekardiyu ikut berjuang. Ia menerjang lawan, mendepak dan menggigit. Setiap barisan lawan pasti bubar-berderai apabila kena diterjang

Sekardiyu. Teringat akan kuda seperti Sekardiyu, tertariklah perhatianku kepada si Willem kuda Sangaji. Menyaksikan gerak-gerik dan tenaganya, diapun bagaikan anak raksasa ...”

Sangaji mendengar kudanya dipuji gurunya yang sok uring-uringan itu. Diam-diam ia melirik kepada enam tetamu yang duduk bersama di sudut kanan. Mereka mengarahkan pandangnya kepada si Willem pula.

Jaga Saradenta sendiri lantas berhenti bercerita, karena waktu itu masakan yang telah dipesan tiba. Mereka kemudian menikmati masakan sambil membicarakan mutunya.

Wirapati nampaknya mengamini, tapi sebenarnya ia memasang kuping. Dia adalah murid Kyai Hasan Kesambi yang keempat. Pendengarannya tajam luar biasa dan bertabiat usilan. Melihat rombongan mengenakan pakaian serba putih dan mempunyai gerak-gerik yang serba aneh, lekas saja hatinya tertarik. Diam-diam ia menyelidiki. Dia seorang pendekar kelana yang sudah

berpengalaman, karena itu sikapnya tak kentara dan berlaku cermat.

Enam orang pemuda itu nampak duduk dengan merapat dan berbicara kasak-kusuk, tapi pendengaran Wirapati dapat menangkap tiap patah kata mereka. Lalu ia menggeser tempat duduknya mengungkurkan mereka agar tak menerbitkan kecurigaan. Sambil menggerumuti makanan, ia mendengar mereka berbicara.

“Rombongan Kartawirya tadi melepaskan tanda udara. Apakah mereka ini yang dimaksudkan? Melihat kudanya dan orangnya, memang pantas untuk diawasi,” berkata yang duduk di sudut kiri.

“Buat apa kuda? Pasti kakak telah melihat sesuatu yang lebih berharga dari pada kuda itu.” “Belum tentu. Apa kau tak mendengar tutur-kata orang tua bongkotan itu? Dia memuji kuda itu setinggi langit.”

“Ha, aku tahu maksudmu. Kalau kau dapat menghadiahkan kuda itu kepada Kartawirya, Setidak-tidaknya kau dapat keleluasaan menaksir adiknya.”

Lalu mereka tertawa berkikikan. Pemuda yang kena sindiran, tak senang hati. Tapi ia tak berdaya. Terpaksa ia menerima sindiran itu dengan hati mendongkol.

Wirapati mulai berpikir. Ia mencoba mengingat-ingat nama Kartawirya. Mendengar bunyi namanya, segera ia mengetahui kalau Kartawirya orang Jawa Barat. Paling tidak wilayah Cirebon bagian barat daya.

Tapi siapa orang itu? Karena belum mendapat kepastian, dia mempertajam pendengar-annya. Pemuda yang menyindir berkata lagi, “Memang Kartawirya tahun ini sedang terang bintangnya. Bisa kejadian sang Dewaresi mengambilnya ipar. Dasar ia perkasa, pribadi agung dan otaknya cerdas. Cuma saja doyan perempuan.”

Kembali lagi mereka tertawa berkikikan. Pemuda yang kena sindiran mencoba membela diri sebisa-bisanya. Katanya, “Biar dia doyan perempuan, apa sih hubungannya dengan diriku. Beberapa hari ini, sang Dewaresi lagi sibuk mengatur persiapan untuk suatu persekutuan besar. Pangeran Bumi Gede, sedang mengundang beberapa orang gagah di seluruh pelosok Pulau Jawa. Sang Dewaresi sadar, kalau yang diundang pasti bukan orang-orang sembarangan. Masing-masing tentu akan memperlihatkan perbawa dan kewibawaannya. Sekiranya, sang Dewaresi memiliki kuda itu, dia bisa memiliki muka. Dengan sendirinya akan menaikkan derajat kita sekalian. Apa masalah kuda itu, bukan pula kepentingan kita bersama?”

Wirapati terkejut. Dia pernah mendengar nama sang Dewaresi yang disebut-sebut mereka. Hanya saja, dia belum ingat di mana dan kapan nama sang Dewaresi itu pernah didengarnya. “Aku tetap kurang yakin, kalau tanda udara Kartawirya cuma perkara kuda. Kuda Banyumas pun tak kalah jempolan. Coba, pikir lagi yang lebih teliti. Mungkin, Kartawirya melihat

penunggangnya mempunyai sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kuda,” ujar pemuda yang menyindir.

Selama mereka berbicara, suaranya ditekan benar-benar sehingga hanya setengah berbisik. Jika seseorang tak mempunyai pendengaran tajam, tidak bakal dapat menangkap kata-kata mereka sejauh lima langkah saja. Tapi Wirapati dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas dalam jarak kurang lebih sepuluh-lima belas langkah. Hal itu membuktikan betapa tajam pendengarannya. Begitu ia mendengar kata-kata Banyumas, lantas saja terbuka ingatannya. Katanya dalam hati, Ah! Apa sejarah akan berulang kembali? Bukankah sang Dewaresi pemimpin rombongan penari aneh, dua belas tahun yang lalu? Celaka! Dulu aku kenal nama sang Dewaresi lewat mulut si bangsat Kodrat. Kini lewat mulut pemuda itu. Siapa dia?

Mengingat pengalamannya yang mengerikan, sehingga terpaksa dia hidup berlarut-larut sampai dua belas tahun di rantau orang, bulu kuduknya lantas saja menggeridik. Kalau ia berusil lagi, siapa tahu bakal mengalami peristiwa serupa. Tapi dasar dia usilan dan berjiwa kesatria luhur, sebentar saja ia melupakan kepentingan diri. Dia sudah mendapat kesan buruk terhadap

rombongan penari aneh begundal-begundal sang Dewaresi. Karena itu, terhadap mereka pun ia menduga tidak ada bedanya. Orang itu pasti mempunyai tujuan setali tiga uang seperti dulu. Mendadak saja ia merasa wajib untuk mengikuti persoalannya.

“Baiklah,” sahut pemuda yang kena sindir tadi. “Mari kita berlaku hati-hati dan menyelidiki maksud tanda-udara secermat-cermatnya. Tapi ingat, kita harus menjaga nama kita baik-baik. Kali ini kita bekerja demi keharuman nama. Kita akan bertanding melawan orang-orang bukan

sembarangan yang bakal datang dari seluruh penjuru Pulau Jawa. Sekiranya melaksanakan tanda-udara saja tak becus, mana bisa kita punya muka.”

Sehabis itu, mereka tidak berkata-kata lagi. Masakan dan minuman yang mereka pesan, mulai datang. Lalu mereka sibuk menikmati makanan dan menghirup minuman.

Wirapati mulai berpikir keras. Jelas sekali, mereka hendak datang memenuhi undangan Pangeran Bumi Gede. Kalau dihubungkan dengan kedatangan Pangeran Bumi Gede empat tahun lalu di Jakarta, bukanlah mustahil kalau undangan kepada orang-orang gagah di seluruh Pulau Jawa, merupakan langkah kelanjutan dari suatu rencana tertentu. Tapi rencana apa itu, Wirapati tak dapat menebak, meskipun memeras otak. Maklumlah, dua belas tahun lamanya dia

meninggalkan daerah Jawa Tengah. Dengan sendirinya tak mengetahui sama sekali tentang perkembangan sejarah. Ia bagaikan orang buta yang ingin mengetahui segalanya dengan meraba-raba belaka.

“O ya, apa kalian sudah mendengar kabar?” mendadak salah seorang dari mereka berbicara. Orang itu duduk tepat di bawah jendela. Orangnya nampak pendiam. Raut mukanya bersungguh-sungguh. Mendengar dia membuka mulut, yang lain segera menaruh perhatian. Terang, ia dihormati dan disegani oleh kawan-kawannya. Kata orang itu, “Ada kabar tentang seorang pemuda gagah. Pemuda itu mengenakan pakaian mentereng. Lagak dan sikapnya keningrat-ningratan. Tapi dia memiliki bermacam-macam ilmu yang sukar diduga orang. Beberapa kali ia menjatuhkan orang-orang gagah.”

“Siapa dia?” mereka bertanya hampir berbareng.

“Namanya kurang terang. Tapi dia sering muncul di sekitar Cirebon atau perbatasan Tegal. Rupanya dia seperti diwajibkan untuk menghadang orang-orang gagah yang diundang Pangeran Bumi Gede sebelum memasuki Pekalongan. Dengan begitu Pangeran Bumi Gede dapat

memperoleh kepastian, kalau mereka yang bisa datang ke Pekalongan adalah orang-orang pilihan! Menurut kabar hanya satu di antara sepuluh orang yang dapat masuk Pekalongan. Karena itu, hendaklah kalian cukup berwaspada dan hati-hati.”

Sekali lagi, Wirapati mencoba menebak tentang keperwiraan pemuda keningrat-ningratan yang dibicarakan. Juga kali ini, dia tak berhasil. Sebab kecuali nama pemuda itu belum dikenal mereka, mestinya umurnya jauh lebih muda dari umurnya sendiri. Tentang perkembangan anak-anak muda angkatan mendatang tak dapat dikenalnya. Dan cacat itu semata-mata disebabkan

keberangkatannya ke Jakarta dengan tak sekehendaknya sendiri. Walaupun begitu, tidak ada tanda-tanda ia menyesali nasibnya yang buruk.

Sehabis makan dan minum, enam orang pemuda berpakaian putih itu segera berangkat. Wirapati menunggu sampai mereka meninggalkan rumah makan jauh-jauh, lalu ia minta pertimbangan kepada Jaga Saradenta, “Bagaimana pendapatmu, apa meraka lebih bahaya daripada rombongan penari yang aneh dahulu?”

“Rombongan penari yang mana?” Jaga Saradenta minta penjelasan. “Rombongan penari yang dibinasakan Hajar Karangpandan.”

“Apa hubungannya dengan mereka?” Jaga Saradenta heran.

“Mereka termasuk bawahan sang Dewaresi,” sahut Wirapati. Kemudian ia mulai mene-rangkan keadaan mereka dan bagaimana dia dapat mendengarkan percakapan mereka. “Yang penting bukan perkara kuda atau kantong uang Sangaji. Tapi maksud mereka hendak menghadiri

keadaan negara ada suatu perkembangan yang kurang menyenangkan. Kupikir, kita harus berangkat ke sana. Hal itu tidak boleh dibiarkan saja tanpa sepengetahuan kita.”

“Tetapi masa pertandingan sudah hampir tiba.” Kata Jaga Saradenta memperingatkan, meskipun dia menyetujui pikiran Wirapati.

Wirapati terdiam. Memang urusan pejanjian pertandingan yang sudah dirintis dengan susah payah semenjak dua belas tahun yang lalu, tidak boleh terbengkalai oleh urusan baru. Namun sebagai seorang pendekar yang sadar akan arti kebangsaan dan negara, dia tak dapat

membiarkan diri membuta pada perkembangan keadaan. Jaga Saradenta adalah bekas pejuang pula. Meskipun usianya sudah lanjut, namun semangatnya masih muda. Kalau tidak begitu masakan dia mau membiarkan dirinya berlarat-larat sampai ke Jakarta tanpa memperhitungkan kepentingan diri.

“Kalau begitu, biarlah Sangaji berangkat lebih dulu.” Akhirnya Wirapati memutuskan. “Apa dia harus berangkat seorang diri?”

“Benar,” Wirapati menjawab sambil mengangguk. “Kemudian kita menyusul. Kurasa dalam satu bulan kita sudah bisa sampai ke tujuan.”

Jaga Saradenta diam menimbang-nimbang. Lalu berkata menguatkan, “Itupun baik. Sangaji memang harus mempunyai pengalaman sendiri. Pengalaman harus diperolehnya sendiri, karena tak dapat dipelajari dalam rumah perguruan. Mendapat pengalaman akan banyak faedahnya.” la berhenti sebentar. Kemudian berkata kepada Sangaji, “Keputusan gurumu banyak faedahnya bagimu. Kalau sebelum bertanding, kamu punya pengalaman, kami berdua tak usah

mencemaskan kekalahanmu.”

Mendengar keputusan kedua gurunya, Sangaji tak senang. Segera ia menyatakan keberatannya berpisah dengan mereka.

“Bocah! Kau sudah besar! Sebesar kerbau bongkotan! Kau harus belajar berdiri sendiri. Kalau kami mampus, apa kau mau ikut mampus juga?” damprat Jaga Saradenta. “Lagi pula kau ini muridku! Muridku tak boleh mempunyai hati sekecil cacing!”

Wirapati yang bisa bersabar hati, lalu membujuk. “Pergilah dulu menunggu barang satu bulan. Tunggulah kami di Kota Magelang. Seumpama kami berdua menghadapi urusan pelik, salah seorang dari kami akan datang mengurusimu. Hal itu janganlah kaurisaukan.”

Sangaji lebih mendengarkan kata-kata pertimbangan Wirapati. itulah sebabnya, sekali-pun hatinya berat terpaksa dia menerima. Kemudian Wirapati dan Jaga Saradenta sibuk

menggambarkan peta sejadi-jadinya untuk menunjukkan letak Kota Magelang.

“Dua rombongan berpakaian putih yang terdiri dari dua belas orang tadi hendak merampas kuda atau kantong uangmu. Kau tak usah meladeni mereka. Hindarilah mereka. Kau bisa

mengandalkan dirimu kepada kecepatan si Willem. Jika kau tak lengah, kamu bisa meninggalkan mereka jauh-jauh.”

Jaga Saradenta senang mendengar ujar Wirapati. Pikirnya, “Rasakan, akhirnya kamu mengakui betapa pentingnya seekor kuda. Tadi berlagak tak menghargai...”

“Umpama kata benar-benar mereka main gila kepadamu, kami berdua takkan tinggal diam,” ujar Wirapati lagi. “Kami akan mencarinya.”

“Benar,” Jaga Saradenta menguatkan. ''Akupun diam-diam akan mengawasimu dari jauh. Masalah itu jangan kaurisaukan.”

Sehabis berkemas-kemas, Sangaji berlutut minta diri. Wirapati dan Jaga Saradenta

mengantarkan sampai ke tempat si Willem yang lagi menggerumuti serbuk dan rumput. Mereka kelihatan beriapang dada melepaskan muridnya berangkat seorang diri.

“Ah, kamu kelihatan sudah dewasa,” kata Jaga Saradenta membesarkan hati. “Cuma saja, ingatlah pesanku ini. Jangan sekali-kali merasa dirimu terlalu kuat. Sebaliknya jangan juga kamu merasa rendah diri. Pokoknya kamu harus bisa membiasakan diri berlaku hati-hati dan waspada. Di dalam dunia ini banyak orang pandai. Lihat saja, gunung-gunung yang berdiri di atas Pulau Jawa ini, tidak hanya satu. Gunung Tangkuban Perahu nampaknya gede, tapi Gunung Slamet

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 148-190)

Dokumen terkait