WIRAPATI girang bukan main. Sangaji telah diketemukan. Kini tinggal menunggu Jaga Saradenta pulang dari penyelidikan ke luar kota. Seminggu sekali Jaga Saradenta datang ke pondokan dan membawa berita. Adakalanya sampai satu bulan.
Dia pasti girang, kata Wirapati dalam hati, nanti malam biar kuajaknya mulai bekerja. Mudah-mudahan dia datang. Sekiranya tidak, biarlah kumulai dahulu. Waktu berarti pedang. Satu hari lengah berarti terkikisnya waktu yang dijanjikan. Hm—tinggal empat tahun. Kalau Sangaji mempunyai bakat, agaknya masih ada waktu.
Mendadak saja timbullah suatu pikiran lain. Eh, sekiranya Sangaji nanti malam tak datang apa yang akan kulakukan? Bukankah hati kanak-kanak seringkali berubah? Celaka—aku belum tahu rumahnya.
Memikir demikian, cepat ia kembali ke lapangan. Sangaji baru saja melangkahkan kaki meninggalkan lapangan. Ia girang. Mau dia percaya, kalau selama itu Sangaji masih tertegun-tegun memikirkan kehebatannya yang diperlihatkan tadi.
Ia kuntit si anak dari jauh. Setelah memasuki tangsi ia segera berhenti.
Ih! Anak Willem katanya, Wirapati berpikir. Tak boleh dia dihinggapi perasaan itu. Betapa baik si Willem dia bukan bangsa sendiri. Di kemudian hari siapa tahu bisa menyulitkan Sangaji.
Wirapati adalah seorang yang tebal rasa ke-bangsaannya. Jika tidak, tak mungkin dia
mendekati Sangaji ketika digebuki pemuda-pemuda Belanda. Sungguh tak diduganya ia bertemu dengan si anak yang sudah dicarinya selama delapan tahun.
Tiba-tiba ia melihat suatu kesibukan di dalam tangsi. Dua orang kompeni datang dengan menunggang kuda yang dilarikan amat cepat. Ia menduga pastilah terjadi suatu warta yang harus disampaikan kepada komandan tangsi. Dan warta itu mestinya sangat penting. Tak lama
kemudian setelah dua orang kompeni itu masuk ke dalam tangsi, didengarnya bunyi terompet melengking ke udara. Dari dalam los-los kompeni muncullah serdadu-serdadu dengan sibuk dan riuh. Mereka berlari-larian dengan berderap-an. Senapan-senapan mereka tak sempat dipanggul, hanya dijinjing atau diseret sambil membetulkan letak bajunya.
Mereka berbaris dengan teratur rapih. Cepat dan berdisiplin. Wirapati yang menonton di luar lantas berpikir, mereka teratur rapi dan berkesan perkasa. Pantas mereka bisa menjelajah dan menjajah tanah-tanah dan negeri-negeri yang dikehendaki. Ah—sekiranya kita mempunyai tentara begitu teratur dan disiplin, pastilah tak gampang Belanda menginjak-injak negeri kita.
Seperempat jam kemudian mereka berbaris keluar tangsi. Panji-panji pasukan dan bendera berada di depan barisan. Mereka membawa genderang dan terompet. Di barisan belakang berjalanlah pasukan berkuda. Penunggangnya menghunus pedang panjang. Di tiap pinggang tergantung sepucuk pistol.
Tanpa merasa Wirapati memuji: “Hebat!” Lantas ia menduga-duga ke mana mereka akan pergi dan mengapa begitu sibuk. Karena pikiran itulah ia segera menguntit. Dasar dia usilan. Setiap kali merasa tertarik takkan puas sebelum
endapat penjelasan. Watak itu pulalah yang membuatnya kini merantau ke Jakarta sampai delapan tahun lamanya. Gara-gara bertemu dengan serombongan penari yang aneh.
Pasukan tentara yang berjumlah kurang lebih 500 orang itu berbaris ke lapangan. Mereka membuat suatu bentuk barisan. Kemudian menunggu, sedangkan para perwira sibuk .berunding.
Ah—kiranya ada pembesar yang datang, Wirapati menduga. Kemudian ia pergi meninggalkan lapangan hendak cepat-cepat pulang ke pondokan untuk menunggu kedatangan Jaga Saradenta. Mendadak saja ia melihat barisan lain mendatangi. Barisan itu terdiri dari sepasukan tentara berkuda. Jumlahnya kurang lebih 250 orang.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Kejadian itu adalah peristiwa lumrah. Tapi Wirapati tertarik pada suatu penglihatan lain. Di depan barisan yang mendatangi itu, nampaklah dua puluh orang berkuda yang mengenakan pakaian seragam Kasultanan Yogyakarta.
Yang berada di depan seorang pemuda ganteng. Umurnya belum melebihi tiga puluh tahun. Kagetnya, ia mengenal wajah pemuda itu. Dialah si pemuda yang membunuh salah seorang anggota rombongan penari yang aneh. Dia pulalah yang melarikan Sapartinah, isteri Wayan Suage.
Cepat ia bersembunyi di belakang pagar rakyat yang datang melihat dengan berduyun-duyun. Ia mengintai si pemuda itu dengan sungguh-sungguh.
Seperti dahulu pakaian yang dikenakan si pemuda mentereng. Dia didampingi oleh dua orang laki-laki yang berparas buruk. Yang sebelah kiri berkepala gede, kulitnya hitam legam bagaikan orang hutan. Yang sebelah kanan seorang laki-laki bermata sipit, matanya menjorok ke dalam,
mulutnya lebar dan berkulit keputih-putihan seperti orang sakit kuning. Kesan penglihatan dua orang itu menggeridikkan bulu roma.
Di belakang si pemuda berderet tujuh belas prajurit Kasultanan Yogyakarta dengan tanda pasukan pengawal kepatihan. Wirapati mengira si pemuda itu anak Patih Danureja II—sahabat VOC di Jakarta.
“Sudah datang! Mereka datang!” tiba-tiba serombongan pemuda-pemuda Belanda berteriak di dekat Wirapati. Pemuda-pemuda ini mengenakan pakaian preman. Di antara mereka terdapat seorang gadis kira-kira berumur enam belas tahun. Gadis itu keturunan Belanda (Indo) wajahnya cantik dan keagung-agungan. Perawakannya langsing padat dan gayanya mulai dapat
menggiurkan penglihatan. Dia ikut berteriak pula: Suaranya nyaring bercampur girang. Diam-diam Wirapati berpikir, kenapa mereka seolah-olah menyatakan syukur?
Mendadak seorang pemuda berseru kepada gadis itu. “Hai Sonny! Itulah Pangeran “Bumi Gede. Kau nanti bertugas melayani dia.”
“Dih! Aku? Mengapa aku?” sahut si gadis dengan mencibirkan bibir.
Pemuda itu tertawa berkakakkan. Teman-temannya yang lain menyumbangkan tertawanya pula. Mereka lantas menggoda.
“Dia seorang Pangeran Baron wilayah Bumi Gede.”
“Mana itu Bumi Gede,” potong si gadis dengan suara dingin.
Mereka tak dapat menjawab pertanyaan si gadis. Pemuda yang mula-mula berkata mendekati si gadis.
“Dia tamu pemerintah. Dan kau bagian protokol. Apa perlu mesti minta penjelasan tentang tamu itu atau negeri asalnya? Dia datang dari Yogyakarta. Mestinya Bumi Gede termasuk kerajaan Yogyakarta.”
Ternyata mereka adalah pegawai-pegawai Bataafse Republik. Hari itu mereka menerima kabar, Pemerintah Belanda di Jakarta akan mendapat kunjungan utusan dari sekutuannya di Yogyakarta. Pangeran Bumi Gede adalah utusan Patih Danureja II yang hendak mengadakan suatu
perserikatan rahasia. Seperti diketahui Patih Danureja II adalah lawan Sultan Hamengku Buwono II. Dia bertujuan menggulingkan Sultan Hamengku Buwono II dari tahta kerajaan. Untuk
mencapai maksud itu dia berserikat dengan Pemerintah Belanda di Jakarta. “Siapa nama Pangeran itu?” tiba-tiba si gadis bertanya.
Pemuda itu ternganga mendengar pertanyaan gadis itu. Dia lantas tertawa panjang. “Mengapa tanya kepadaku? Tanyalah sendiri!” jawabnya menggoda.
Teman-temannya tertawa berkakakkan. Wajah si gadis lantas saja berubah merah jambu. Cepat-cepat ia membela diri.
“Bukankah lebih memudahkan pelayanan, jika aku mengenal namanya terlebih dahulu? Dengan begitu rasa kaku akan dapat terkikis cepat.”
“Huuuuu...!” Pemuda-pemuda menyahut seperti koor nyanyian.
“Apa huu ...?” si gadis sakit hati. “Selain aku kan ada pula Helia, Nelly, Maria, Anneke, Thea, Isabella ... mengapa menduga yang bukan-bukan?”
Wirapati menyingkir jauh. Tak senang ia mendengar percakapan itu. Hatinya lantas saja menangkap suatu firasat buruk. Diam-diam ia berpikir, Pemerintah Belanda menaruh perhatian besar terhadap kedatangan mereka, sampaisampai menyediakan suatu pelayanan khusus. Ada apa?
Mendadak teringatlah dia kepada peristiwa perebutan pusaka Bende Mataram dan keris Kyai Tunggulmanik. Terloncatlah di benaknya. Ah! Apakah kedatangan mereka di sini bukan untuk sesuatu maksud keji? Pemuda itu terang gila kekuasaan, martabat dan uang. Bagaimana tidak?
la mengutuk Pangeran Bumi Gede kalang kabut. Baiklah kukuntit saja dari jauh, pikirnya. Nanti malam akan kucoba mengintip pembicaraannya. Sekiranya sampai menjual kemar-tabatan bangsa dan negara untuk memuaskan nafsunya sendiri, biarlah kucoba-coba mengadu nyawa dengan jahanam itu. Kalau berhasil ini namanya sekali tepuk dua lalat mati sekaligus.
Wirapati lantas menguntit barisan itu. Mendadak ia melihat suatu penglihatan lain. Di belakang barisan utusan dari Yogyakarta berjalanlah lima orang laki-laki yang diikat oleh rantai panjang. Mereka dipaksa berjalan dengan dicambuki tiada henti.
Melihat orang-orangnya mereka bukan golongan perampok atau begal. Mereka bersikap berani melawan dan tak sudi merasakan pedihnya cambukan cemeti. Mereka saling memandang dan saling memberi isyarat. “ Aneh, pikir Wirapati—kalau penglihatanku hari ini kuceritakan kepada Jaga Saradenta belum tentu dia percaya.
Barisan itu segera disambut barisan 500 serdadu kompeni yang datang dari tangsi. Kemudian diantarkan masuk kota. Rakyat berdiri berjejalan di pinggir jalan dengan sorak-sorai. Tak henti-henti mereka membicarakan rombongan tetamu yang masih asing baginya.
Wirapati menyelinap di antara mereka. Dari jauh dia terus menguntit dengan diam-diam. Ternyata rombongan utusan dari Yogyakarta itu memasuki gedung negara. Sebentar mereka mengikuti upacara-upacara penyambutan, kemudian menghilang di dalam gedung negara.
Wirapati menunggu sampai gelap malam tiba. Niatnya sudah pasti, mau mendengarkan pem-bicaraan Pangeran Bumi Gede dengan Pemerintah Belanda, la akan menyelinap memasuki gedung negara dan melompati genting. Sekalipun gedung negara dijaga rapat oleh serdadu-serdadu, ia merasa sanggup mengatasi.
Selain Wirapati berwatak usilan, sesungguhnya dia seorang kesatria yang menaruhkan darma di atas segalanya. Pahit getir sebagai akibat pakarti itu tak diindahkan. Delapan tahun yang lalu, seumpama tak bertemu dengan rombongan penari aneh dari Banyumas, tidaklah bakal dia
berlarat-larat sampai ke Jakarta. Meskipun demikian, sama sekali tak pernah mengeluh. Kali ini dia berjumpa dengan si gadis Sonny dan melihat lima orang perantaian. Sama sekali tak diduganya juga, kalau di kemudian .hari dia akan mengalami kesulitan-kesulitan baru. Pengalamannya yang pahit seolah-olah tiada mampu menyadarkan. Kesadaran seolah-olah kena bius. Maka terasalah dalam hati manusia, manusia ini benar-benar merupakan permainan hidup belaka di mana dia harus menanggung akibat kepahitan yang tak kuasa menolaknya.
Demikianlah—selagi dia membulatkan tekad hendak mengintip pembicaraan rahasia antara Pangeran Bumi Gede dengan pihak Pemerintah Belanda di Jakarta, gelap malam turun perlahan-lahan. Sekitar gedung negara mulai sunyi. Yang terdengar hanya derap langkah serdadu-serdadu mengatur penjagaan dan suara tertawa riang di dalam gedung.
Wirapati menjenguk ke dalam. Terlihat lampu menyala terang benderang. Sebuah kereta berkuda berderap memasuki halaman. Tepat di depan pintu, kereta berhenti. Delapan gadis keturunan Belanda turun berloncatan. Mereka mengenakan pakaian modern pada jaman itu, dan berbisik-bisik sangat sibuk. Syukur! Terang mereka belum mengadakan pembicaraan resmi, Wirapati menduga. Sebab di antara ke delapan gadis itu ia mengenal si Sonny. Pastilah itu teman-temannya yang disebutkan tadi yang bertugas menjaga kesenangan Pangeran Bumi Gede.
Mendadak selagi sibuk menduga-duga dilihatnya pengawal Pangeran Bumi Gede yang berkulit kuning keputih-putihan meloncat ke dalam kereta. Sais segera menghentak kendali dan kuda-kuda penarik terbang keluar halaman.
Wirapati mendekam cepat. Setelah kereta lewat, ditegakkan kepalanya. Kembali ia menduga-duga, orang itu agaknya telah mengenal kota Jakarta. Dia pergi tanpa penunjuk jalan. Apakah ada sesuatu yang penting yang akan dikerjakan?
Mendadak, sekali lagi ia melihat sesosok bayangan yang mencurigakan. Sesosok bayangan itu berkelebat melintasi jalan menghampiri dinding pagar. Ternyata dia menengok ke dalam,
kemudian melesat menjauhi.
Tertarik akan sepak terjang orang itu, Wirapati segera mengejar. Pikirnya, satu jam lagi, belum tentu pembicaraan resmi dimulai. Baiklah ku-kuntit orang itu, apa maksudnya menengok gedung negara.
Dalam hal kecepatan Wirapati melebihi kesanggupan orang lain. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul. Betapa kagetnya ia, ternyata orang itu adalah Jaga Saradenta.
“Jaga Saradenta!” panggilnya.
“Aih!” Jaga Saradenta terkejut seperti tersengat lebah. Cepat ia berhenti dan berputar
mengarah ke Wirapati. Berkata setengah meminta, “Pulanglah dulu ke pondok! Jangan ikuti aku!” Wirapati heran mendengar kata-katanya.
“Kenapa?”
Jaga Saradenta tak menjawab. Ia melesat lagi. Wirapati jadi penasaran. Ia mengejar dan sekali melesat telah dapat menjajari.
“Jaga Saradenta! Mengapa kau begini?”
“Hm,” Jaga Saradenta berhenti berlari. “Sejak kapan kau berada di sekitar gedung negara?” “Sebelum matahari tenggelam.”
“Musuhku telah muncul kembali. Kautahu? Itulah musuhku semenjak jaman Perang Giyanti. Aku akan mengadu nyawa. Ini soalku, karena itu janganlah sampai kau terlibat.”
Wirapati dan Jaga Saradenta telah berkelana delapan tahun lamanya mencari Rukmini dan Sangaji. Meskipun tak pernah mengangkat saudara, tetapi dalam hati mereka masing-masing telah saling dekat dan akrab. Maklumlah, mereka sesama sependeritaan, sekata dan setekad, seia dan setujuan. Rasa persaudaraan mereka melebihi rasa persaudaraan biasa. Keruan saja mendengar kata-kata Jaga Saradenta, Wirapati ter-peranjat. Lantas saja mendamprat tak senang.
“Eh—sejak kapan kau berubah?”
Jaga Saradenta menghentikan langkahnya. Ia memandang Wirapati dan mencoba memberi penjelasan.
“Permusuhanku itu terjadi sebelum kau mengenal matahari. Terjadi semasa Perang Giyanti, tahun 1750. Karena itu apa perlu kau terlibat pula?”
“Musuhmu adalah musuhku pula. Samalah halnya perjalananku ke daerah barat ini adalah perjalananmu pula. Perlukah aku bersumpah sehidup semati?” sahut Wirapati tegas.
Jaga Saradenta terharu. Ia menyenak napas dalam. Sejurus kemudian dia berkata,
“Hari ini di Jakarta terjadi suatu peristiwa. Pemerintah Belanda lagi menyambut utusan dari Yogyakarta. Di antara mereka terdapat musuhku.”
“Eh—apakah si pemuda yang membawa lari Sapartinah isteri Wayan Suage?” potong Wirapati. Jaga Saradenta tercengang-cengang. “Yang mana?”
“Aku tadi melihat juga kedatangan rombongan utusan itu. Kukuntit mereka sampai di gedung negara.”
“Ih! Jadi dia ada juga?”
Wirapati kini heran berbareng menebak-nebak. “Lantas yang mana musuhmu?” tanyanya.
“Kau melihat dua orang yang bermuka luar biasa buruknya? Yang satu berkulit hitam dan yang lain berkulit kuning keputih-putihan. Itulah dua iblis terbesar di jaman ini.”
“Siapa mereka?”
“Pringgasakti dan Pringga Aguna,” jawab Jaga Saradenta.
Wirapati kaget sampai terjingkrak. “Bukankah mereka sudah lama mati?” “Dari mana kautahu?”
“Guruku senngkali mengisahkan riwayat orang-orang gagah dan orang-orang sakti di jamannya. Disinggungnya juga tentang nama dua iblis sakti itu pada jaman Perang Giyanti. Pringgasakti dan Pringga Aguna yang dulunya bernama si Abu dan si Abas. Diceritakan, kalau kedua iblis itu mempunyai kebiasaan yang luar biasa biadab. Mereka menculik gadis-gadis mumi untuk diperkosanya dan dihisap darahnya, semata-mata untuk mempertahankan ilmu saktinya.”
“Betul!” potong Jaga Saradenta bersemangat, -kupun menyangka, kalau kedua orang itu sudah lama mampus. Tak tahunya bersembunyi di sini. Entah apa yang dikerjakan. Nyatanya mereka berdua ditunjuk Pemerintah Belanda menjadi anggota penyambut tamu resmi,” ia |erhenti sebentar. Napasnya menyesak. “Gurumu telah menceritakan riwayatnya, tetapi belum pasti tentang kesaktiannya secara terperinci. Kau belum mengenal mereka. Karena itu lebih baik kamu melarikan diri dari Jakarta sebelum mereka mengetahui siapa kau sebenarnya. Sebab mereka berdua adalah musuh gurumu pula.” Jaga Saradenta mencoba menerangkan.
“Melarikan diri?” Wirapati tersinggung. Suaranya tiba-tiba sengit. Mendamprat, “Apalagi mereka berdua adalah musuh guruku, mana bisa aku ngacir seperti maling?”
Menyaksikan orang begitu mantap tekadnya, Jaga Saradenta akhirnya mau juga mengerti, la mengajak Wirapati minggir ke tepi jalan dan berkata perlahan.
“Baiklah kuceritakan dulu lebih jelas, agar kelak kamu tak menyalahkan aku jika terjadi suatu malapetaka. Pringgasakti dan Pringga Aguna dulu bernama si Abu dan si Abas. Asal negerinya kurang jelas. Tetapi nama itu sebenarnya pemberian gelar dari Patih Paku Buwono II Kartasura yang bernama Pringgalaya. Ada satu dugaan pula, kalau Abu dan Abas itu saudara seperguruan Patih Pringgalaya. Nyatanya mereka berdua sangat sakti. Meskipun termasuk golongan sesat,
sekarang kita berdua membuktikan kebenaran keyakinannya. Tahukah kamu mengapa mereka memperkosa gadis-gadis dan menghisap darahnya? Dulu ada suatu kepercayaan, barang siapa dapat memperkosa gadis dan menghisap darahnya akan dapat berumur panjang dan awet muda. Nyatanya si jahanam Abu dan. Abas sampai kini masih nampak perkasa dan gagah. Padahal umurnya kutaksir. sudah lebih dari 80 tahun.”
“Ih!” Wirapati menggeridik. “Selama itu berapa jumlah gadis-gadis yang sudah menjadi korbannya?”
“Jangan tanya lagi. Ratusan sudah jumlahnya.”
“Mereka bagaikan iblis, mengapa orang-orang sakti dan orang-orang gagah pada jaman itu tidak beramai-ramai mengkerubutinya?”
“Hm... mudah dikatakan,” sahut Jaga Saradenta cepat. ”Tetapi nyatanya mereka tak mampu memampuskannya. Pertama-tama, karena mereka sangat licin. Mereka mempunyai ilmu
penciuman yang lebih tajam melebihi panca indera kita. Mereka pandai mengetahui gelagat buruk. Setiap kali akan kepergok, selalu saja dapat menghindarkan diri. Dan kedua, mereka mendapat perlindungan penuh dari Patih Pringgalaya dan kompeni Belanda.”
Makin larna makin tertariklah hati Wirapati mendengar keterangan Jaga Saradenta.
“Kamu benar. Meskipun guruku kerapkali menyinggung nama orang-orang sakti, beliau enggan mengisahkan riwayat orang-orang sesat sampai jelas.” Wirapati terus mendesak.
“Aku tahu sebabnya, karena gurumu khawatir akan meracuni kebersihan hati murid-muridnya,” jawab Jaga Saradenta. “Dengarkan kuceritakan. Patih Pringgalaya adalah musuh Pangeran
Mangkubumi 1. Pada suatu hari terjadilah suatu pemberontakan di daerah Sukawati yang dipimpin oleh Raden Mas Said dan Panembahan Martapura. Paku Buwono II membuat pengumuman— “Barang siapa dapat mengalahkan kedua pemimpin pemberontak itu akan mendapat hadiah tanah Sukawati.” Pangeran Mangkubumi 1,—adik Paku Buwono II—tampil ke depan. Dengan diam-diam Patih Pringgalaya mencoba untung pula, Pangeran Mangkubumi I berhasil mengusir kedua
pemimpin pemberontak itu. Patih Pringgalaya iri hatinya. Dengan pengaruhnya ia mencoba mendesak Paku Buwono II agar menggagalkan hadiah itu. Paku Buwono II yang lemah hati mendengar bujukan Patih Pringgalaya. Hadiah tanah Sukawati dibatalkan. Pada tanggal 19 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi 1 meninggalkan istana dan menggabungkan diri dengan
pemberontak. Itulah asal mula terjadinya Perang Giyanti. Paku Buwono II gentar menghadapi adiknya. Tapi Patih Pringgalaya membesarkan hatinya. Lantas saja dia minta bantuan kompeni dengan menjanjikan tanah-tanah kerajaan diluar pengetahuan Paku Buwono II. Di samping itu dia mengumpulkan orang-orang sakti dan orang-orang gagah. Di antara mereka terdapat si Abu dan si Abas.” Ia berhenti sejenak. Kemudian diteruskannya. “Kedua orang itu ditemukan sewaktu terjadi pemberontakan bangsa Tionghoa. Mereka abdi kepercayaan Raden Mas Garendi yang diangkat oleh masyarakat Tionghoa menjadi Sultan Kuning. Sewaktu bangsa Tionghoa
menggempur istana Kartasura, mereka berdua itulah yang memimpin. Gadis-gadis istana banyak yang hilang dan kedapatan mati kaku dengan tengkuknya terluka parah bekas kena hisap. Patih Pringgalaya dan Pangeran Mangkubumi I tampil ke depan, waktu itu mereka berdua masih hidup rukun, dan berhasil mengalahkannya. Sedianya hendak dihukum mati, tapi mereka tak mempan kena senjata. Diam-diam Patih Priggalaya berpikir lain. Dia seorang yang cerdik dan pandai memilih pengikut. Mungkin juga pada waktu itu dia sudah mempunyai rencana-jencana tertentu. Maka dengan pengaruhnya ia memohonkan ampun kepada Paku Buwono II. Dan semenjak itu, Abu dan Abas menjadi pengikut setianya dan diberi hadiah gelar Pringgasakti dan Pringga Aguna. Dalam Perang Giyanti mereka berdua sangat disegani pengikut-pengikut Pangeran Mangkubumi I. Akhirnya gurumu tampi ke depan. Waktu itu gurumu berusia tigapu-uhan tahun, sedangkan aku baru berumur uang lebih 20 tahun. Aku dipilih gurumu sebagai pembantu. Gurumu lantas bertempur melawan kedua iblis itu sampai tujuh hari tujuh malam.”
”Tujuh hari tujuh malam?” Wirapati mengilang.
“Ya, —dan tak ada yang kalah dan menang kalah, kau bisa mengira-ira kesaktian mereka berdua. Pada hari kedelapan aku disuruh gurumu bertanding. Rupanya gurumu hendak
beristirahat sebentar sambil mempelajari kelemahannya. Mana bisa aku tahan bertempur melawan mereka berdua? Baru sepuluh gebrakan aku sudah kalang-kabut. Tetapi waktu yang sebentar itu.
cukuplah sudah membuka pikiran gurumu. Gurumu lantas memanggil dua orang perajurit dan membisiki sesuatu. Lantas gurumu mulai bertempur lagi.”
“Guru membisikkan apa?” potong Wirapati lagi.
“Waktu itu sama sekali tak kuketahui. Tetapi sebentar kemudian semuanya menjadi jelas. Ternyata dua orang perajurit itu disuruh mengumpulkan beberapa gadis desa yang diharuskan berpakaian dengan kemben melulu.”
“Mengapa diharuskan hanya mengenakan kemben?” “Apa-apa kamu tak bisa menerka?”
Wirapati mengerenyit sebentar. Tiba-tiba menjawab girang. ”Tahu aku. Guru mau mengacaukan pikiran mereka berdua. Bukankah mereka manusia penghisap darah gadis?”
“Betul!” sahut Jaga Saradenta cepat. “Begitu kedua iblis itu melihat tengkuk-tengkuk gadis-gadis desa, seketika kacaulah pikirannya. Mulutnya seperti meliur. Gerak-geriknya lantas saja