• Tidak ada hasil yang ditemukan

SETELAH MENGGEMPUR TANAH IA MENUNDUK DALAM

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 42-77)

NAPASNYA terengah-engah. Tubuhnya bergetar. Wirapati dan Jaga Saradenta mengawasi dengan hati menebak-nebak. Melihat perangai Hajar Karangpandan yang aneh, mereka berjaga-jaga. Siapa tahu, Hajar Karangpandan lantas saja menyerang mereka untuk melampiaskan marahnya. Tetapi Hajar Karangpandan diam saja. Matanya malahan menutup rapat. Dan perlahan-lahan napasnya mulai teratur. Terdengar dia mengeluarkan bunyi dengkur parau.

Mereka berduapun diam-diam menjadi kagum. Itulah cara yang sempurna untuk mengurangi tekanan guncangan hati. Gejolak darah dapat disalurkan juga. Kalau seseorang tidak mempunyai kesadaran yang dalam, bagaimana ia dapat berbuat begitu. Sebab perbuatan itu untuk

menenangkan diri.

Mendadak Hajar Karangpandan mendongakkan kepala. Raut mukanya yang tadi nampak

bengis, telah sirna. Matanya memancarkan pandangan yang tajam dan lembut. Ia menghela napas dalam, katanya, "Anak muda, kulihat di dalam rumah itu empat mayat menggeletak bertebaran selain mayat sahabatku. Siapa mereka?"

"Mana kutahu," sahut Wirapati. "Waktu aku memasuki rumah, mereka berdiri tegak saling mencurigai. Kukira, mereka habis bertempur. Napasnya masih terengah-engah."

"Jahanam itu saling memperebutkan pusaka," potong Hajar Karangpandan.

"Tepat dugaanmu. Tatkala sahabatmu yang mati itu kena senjata rahasia, mereka lantas datang berebut. Dua orang mati kena hantaman sahabatmu yang lain. Dua orang lainnya terpatahkan lengan dan kakinya oleh si pemuda. Kemudian terjadilah kekacauan itu. Rumah dibakar. Si pemuda membawa lari anak dan isteri salah seorang sahabatmu. Dan aku menggendong sahabatmu yang luka parah." "Kenapa luka parah?"

"Mata kakinya kena senjata si pemuda. Untuk mencegah menjalarnya racun, kupagas betisnya."

"Hm."

"Tetapi dia kehilangan banyak darah. Ketika kusembunyikan di gerumbulan dalam hutan ini, beberapa kali dia jatuh pingsan. Sayang, sebelum aku sempat menolongnya hutan terbakar. Aku terpelesat jauh. Kucoba menghampiri, tetapi panas api tak dapat kutahan. Maafkan. Aku orang tak berguna ..."

"Tidak! Akupun tak tahan berenang dalam lautan api," potong Hajar Karangpandan. "Cuma sahabatku yang bernasib buruk. Tetapi ... tetapi semuanya ini akulah yang mendatangkan gara-gara. Kalau aku tak menyerahkan kedua pusaka kepada mereka ..."

la tak meneruskan. Mendadak dia berdiri dan lari menghampiri batas hutan. Kemudian dia bersujud rendah sampai mencium tanah. Tatkala kepalanya menegak lagi, ia berteriak nyaring sampai menggetarkan tanah, "Wayan Suage! Wayan Suage! Dengarkan kata-kataku! Kau seorang laki-laki sejati. Sayang, akulah yang menjerumuskanmu ke dalam lumpur malapetaka. Aku

bersumpah kepadamu, akan kucari anak-isterimu sepanjang hidupku. Akan kurawat dan kuasuh anakmu seorang itu. Semoga rohmu di alam baka melindungi aku. Kuharapkan pula kamu mengampuni kesalahanku."

Dia berdiri tegak. Membungkuk. Kemudian berputar mengarah Wirapati dan Jaga Saradenta. "Sekarang, marilah kita bertempur. Inilah syarat kedua," katanya meledak.

Mendengar ucapannya itu, sudah barang tentu Wirapati dan Jaga Saradenta dibuat terkejut. Sama sekali tak diduganya, Hajar Karangpandan tiba-tiba menantang mereka bertempur setelah nampak berlaku begitu lemah dan sabar.

Tetapi sebagai seorang kesatria, meskipun sedang menderita luka, takkan sudi memperlihatkan kelemahan diri. Segera mereka berdiri tegak dan bersiaga.

"Eh, kalian mau apa?" damprat Hajar Karangpandan.

"Bukankah kamu tadi menantang kami bertempur?" Wirapati heran.

"Betul! Tapi aku belum habis bicara. Syarat kedua belum lagi kuuraikan. Duduklah!" Wirapati dan Jaga Saradenta saling memandang. Kalau menurut tabiatnya, mereka merasa dipermainkan orang ini. Bagaimana bisa menerima hinaan itu. Tetapi mereka kalah janji. Terpaksalah mereka duduk kembali dengan hati memaki-maki.

"Kau Gelondong Segaluh, tak usah lagi aku bertanya kepadamu. Kamu sudah dikelabui si bangsat Kodrat. Cuma, kamu diberi kesempatan Tuhan melihat anak-isteri salah seorang

sahabatku. Siapa yang dilarikan si Kodrat dan siapa pula yang dilarikan si pemuda jempolan itu, aku pun tak tahu. Tapi kita bertiga pernah mendengar atau melihat mereka yang kena

malapetaka, maka kitapun tak dapat membuta tuli. Kebajikan seorang kesatria semenjak dulu cuma satu. Yakni, ingin bekerja sekali berarti kemudian mati. Kau setuju tidak kata-kataku yang belakangan ini?"

"Bicaralah! Jangan kau berlagak seperti guru!" bentak Jaga Saradenta.

"Tapi kalian harus menerima keputusan setiap kata-kataku. Itulah celakanya!" Hajar Karangpandan kemudian tertawa senang. "Sekarang, aku menantang kalian berdua berkelahi sampai mampus."

"Bagus!" potong Jaga Saradenta dan Wirapati berbareng.

"Nanti dulu, dengarkan!" teriak Hajar Karangpandan. "Aku belum habis bicara. Perkelahian sampai mati itu harus dilakukan dalam jangka panjang."

"Apa kita berkelahi mengadu racun?" Wirapati tak sabar.

"Racun cuma bisa bertahan paling lama dua bulan," jawab Hajar Karangpandan. "Sebaliknya aku menghendaki masa lebih lama lagi. Yakni, selama dua belas tahun."

"Gila!" jerit Jaga Saradenta sambil membanting tangan. "Aku sudah berumur tujuhpuluhan tahun. Belum pernah kudengar orang berkelahi sampai mati dalam waktu dua belas tahun. Barangkali cuma dongeng belaka. Cerita Bharatayuda dalam wayang purwapun cuma 18 hari. Ini syarat edan! Syarat gendeng! Syarat gila!"

"Ah, kalau begitu kalian ini kesatria-kesatria kosong mlompong." Hajar Karangpandan membakar hati. "Tak sudi lagi aku bicara."

Dibakar demikian, Jaga Saradenta lantas saja meledak. "Bangsat! Kau tak usah memancing kemarahanku. Cepat katakan, apa maumu!"

"Bagus!" puji Hajar Karangpandan. "Kita ini bangsa kesatria sejati, bukan kesatria kampungan. Kalau kita bertaruh, masakan bertaruh gampang-gampangan seperti anakanak kampung. Sekali kita ingin mendaki gunung, pilihlah gunung yang tertinggi di dunia. Sekiranya kita terpeleset mampus ke dalam jurang, nama kita sedikit bisa diagungkan orang-orang. Hai, apa pendapatmu anak muda?"

Wirapati yang semenjak tadi diam, kaget mendapat pertanyaan itu. Sebagai anak muda. memang ia tertarik dengan omongan Hajar Karangpandan yang penuh teka-teki. Hatinya sedang menduga-duga tentang perkelahian sampai mati dalam jangka dua belas tahun. Karena

pertanyaan mendadak itu, ia mengangguk kosong.

"Ah, inilah calon kesatria jempolan," kata Hajar Karangpandan sungguh-sungguh. "Sekarang dengarkan baik-baik. Telinga harus kalian lebarkan benar. Jangan sampai kalian kehilangan tiap patah kata. Kalian akan rugi sendiri. Karena kata-kataku ini kelak akan menentukan di kemudian hari."

"Monyet, cepatlah!" potong Jaga Saradenta tak sabar. Ia terbatuk-batuk kecil dan

menyemburkan segumpal darah. Hajar Karangpandan merenungi, kemudian katanya, "Kita sudah berjanji akan bertempur sampai mati dalam jangka dua belas tahun. Adapun corak pertempuran itu begini. Kita mengadu kepandaian sejati. Yang kumaksudkan kepandaian sejati, bukan mengadu tinju dan tendangan. Bahkan bergerak sedikitpun tabu. Mengadu tinju dan tendangan, mengadu

kekebalan kulit dan senjata tajam itu perbuatan gampang. Kalau hanya begitu semua orang yang berilmu sekarang ini pasti bisa melakukannya."

"Lantas!" Jaga Saradenta dan Wirapati ternganga-nganga.

"Kita bertiga ini, setidak-tidaknya termasuk manusia-manusia yang bisa malang-melintang di seluruh jagad tanpa halangan dan rintangan. Marilah kita mencukil sejarah yang lain daripada anak-anak yang bakal dilahirkan."

"Kau bilang, kita bakal bertempur sampai mati, apa maksudmu?" potong Jaga Saradenta. "Untuk mengambil keputusan, siapa di antara kita yang menang."

"Tapi kau bilang, kita tak boleh menggunakan tangan, kaki, kekebalan kulit dan senjata. Lantas apa yang kau mau?" Wirapati menyahut.

Hajar Karangpandan membusungkan dada.. Dengan bersikap agung ia menjawab, "Aku akan melawan kalian berdua. Dalam jangka dua belas tahun, kita akan memutuskan siapakah yang menang. Tetapi kecuali mengadu kepandaian, kita mengadu pula kesabaran dan akal budi."

Wirapati yang tadi bersikap tenang, mendadak kehilangan kesabaran. Lantas saja mendamprat. "Apa kita mengadu mulut? Atau mengadu betah-betahan bertapa? Atau mengadu membuat jimat-jimat sakti? Atau mengadu membuat obat dan racun untuk dapat menghidupkan kedua sahabatmu itu? Baiklah, aku menyerah.r

"Bukan! Bukan!" sahut Hajar Karangpandan seraya tertawa riuh.

"Lantas?" sambung Jaga Saradenta. "Apa kau ingin kita mengadu mencuri ayam, mencopet atau menculik perempuan?"

"Bukan! Bukan!" tertawa Hajar Karangpandan kian meriuh.

"Cepat katakan! Jangan berputar tak keruan juntrungannya!" bentak Jaga Saradenta mendongkol.

"Baiklah kukatakan," akhirnya Hajar Karangpandan berkata perlahan. "Kalau kita berputar kembali mengapa kita sampai berkelahi ini adalah semata-mata urusan berbuat suatu kebajikan kepada dua orang sahabatku. Kalian tahu, anak-isteri yang dibawa lari Kodrat itu kukira anak isteri Made Tantre. Sebab mereka berdua dilarikan setelah gerombolan bangsat Banyumas menyerbu rumah. Bukankah begitu, anak muda."

Wirapati mengingat-ingat.

"Si pemuda jempolan itu menyambar seorang perempuan yang berdiri memipit dinding. Sedangkan isteri sahabatmu yang mati, kulihat jatuh pingsan di sampingnya. Akulah yang mendorongnya agak menjauh, tatkala hendak memeluk mayat suaminya."

"Tepat dugaanku," Hajar Karangpandan berlega hati. "Kalian berdua sudah pernah melihat juga. Dan siapa yang membawanya lari, telah diketahui pula oleh Gelondong Jaga Saradenta."

"Betul. Kemenakanku yang membawanya lari," kata Jaga Saradenta. "Tetapi kalau kau bilang aku kenal betul raut mukanya, masih kurang tepat. Aku hanya melihat dia selintas saja."

"Tetapi sekutumu anak muda ini, cukup lama mengenal raut mukanya. Jadi kuanggap kalian berdua sudah mengenal baik-baik. Sebaliknya meskipun aku baru mengenal muka isteri Wayan Suage selintasan pula, kuanggap diriku telah mengenal baik-baik juga. Nah, kita berlaku adil. Kalian harus tahu, kalau aku bersahabat dengan mereka berdua baru berlangsung kemarin sore dalam waktu beberapa jam saja."

Wirapati dan Jaga Saradenta saling memandang. Sama sekali mereka berdua tak menduga, persahabatan Hajar Karangpandan itu baru berjalan seperempat hari. Melihat dan menyaksikan sepak terjangnya, mereka lantas saja menghargai keluhuran budinya. Sekarang, mana bisa mereka mengalah dalam soal keluhuran budi? Maka dengan diam-diam, mereka sudah mulai mengadu panggilan keluhuran budi.

"Tentang nasib anak-isteri Wayan Suage. serahkan kepadaku. Aku akan mencarinya sampai ketemu, biar pemuda itu bersembunyi di ujung langit. Itulah dasar syarat kedua."

"Eh ... jadi kita berdua kau suruh mencari anak-isteri Made Tantre sebagai syarat pertaruhan?" "He-e."

"Siapa yang lebih dulu berhasil, dia yang menang. Begitulah maksudmu?"

"Baru separoh menang," ujar Hajar Karangpandan dengan tersenyum. "Sebab kalau hanya bertaruh macam begitu, adalah pekerjaan yang mudah. Tetapi yang separoh lagi, itulah baru bernapas pertaruhan sejati."

"Apa itu?" Jaga Saradenta dan Wirapati berseru berbareng.

"Hai—itulah syarat ketiga. Dengarkan kujelaskan. Seperti kalian ketahui, Wayan Suage dan Made Tantre masing-masing mempunyai seorang anak laki-laki. Anak mereka masing-masing dibawa lari kedua bangsat itu yang mempunyai arah bertentangan. Aku akan mendidik dan

mengajar anak Wayan Suage yang dilarikan oleh si pemuda jempolan. Dan kalian berdua mendidik dan mengajar anak Made Tantre. Nah, bagaimana?"

Jaga Saradenta dan Wirapati ternganga keheranan. Mereka belum dapat menangkap maksud Hajar Karangpandan. Maka mereka berdua membungkam mulut.

"Kita menunggu waktu sampai dua belas tahun lagi," kata Hajar Karangpandan meneruskan. "Anak mereka kini sudah berumur kurang lebih tujuh tahun. Jadi dalam masa dua belas tahun lagi, mereka sudah berumur 19 tahun. Cukuplah sudah kita golongkan orang-orang dewasa. Mereka berdua kemudian kita ajak ke mari. Ke tempat ini. Kita mengundang pula orang-orang gagah pada jaman ini sebagai saksi. Kemudian mereka berdua kita adu. Di saat itulah kita bisa mengambil keputusan, siapa di antara mereka berdua yang menang. Kalah dan menangnya masing-masing samalah juga kalah dan menangnya kita bertiga."

"Mengapa bukan kita yang bertempur?" dengus Wirapati.

"Kalau kita bertempur, jumlah kita berlebih seorang. Seumpama kalian berdua memenangkan aku, itupun bukan suatu kemenangan terhormat. Sebab jumlah kalian lebih banyak. Sebaliknya kalau aku memenangkan kalian, juga bukan suatu kemenangan yang mentereng. Sebab setelah dua belas tahun Gelondong Jaga Saradenta sudah jadi orang pikun. Sedangkan si anak-muda, sudah sewajarnya aku menang karena umurku jauh lebih tua dan berpengalaman."

"Kau bilang sampai mampus, apa maksudmu?"

"Kalau kalian tidak sungguh-sungguh mendidik dan mengajar anak Made Tantre, maka orang-orang gagah di kolong langit ini akan kusuruh mencincang kalian berdua sampai mampus. Mayat-mayatmu akan kulemparkan ke kali itu. Nama kalian kusuruh menyoraki dan menghapuskan dari ingatan setiap orang. Nah, jadi setanpun kalian tak punya tempat."

Wirapati tercengang-cengang, sedang Jaga Saradenta tertawa cekakakan karena geli dan mendongkol. Tapi mereka sudah berjanji akan patuh dan mentaati setiap kata-kata Hajar

Karangpandan yang sudah diputuskan. Maka mereka tak berdaya sedikitpun untuk meringankan atau mengurangi.

"Kurangajar! Kaulicin seperti belut!" maki Jaga Saradenta kemudian. "Kau cuma melepaskan beberapa patah kata-kata ugal-ugalan dan kau memaksa kami berdua memeras keringat selama dua belas tahun. Ini gila."

Wajah Hajar Karangpandan berubah. Memang ia bisa merasakan kebenaran ujar Gelondong Jaga Saradenta. Tetapi ia harus mengatasi kesan itu, demi menebus dosa kepada kedua sahabatnya. Maka ia tertawa panjang dengan pandang menghina.

"Mengapa kamu tertawa? Mana yang lucu?" damprat Jaga Saradenta.

"Bagaimana aku tidak tertawa. Meskipun aku belum pernah berkenalan dengan kalian, tapi telah lama kudengar nama kalian yang harum. Wirapati, murid ke-empat Kyai Kasan Kesambi Gunung Damar. Tiap orang tahu ketenarannya. Jaga Saradenta Gelondong Segaluh, bekas perajurit Pangeran Mangku-bumi. Tiap orang tahu pula kegagahannya. Tak tahunya, hari ini Tuhan mempertemukan aku dengan kalian. Kulihat ketenaran nama kalian yang gagah-agung-mulia, sama sekali tak cocok dengan ... hi hi hi ... ha ha ha ..."

Gelondong Jaga Saradenta kena dibakar hatinya. Darahnya lantas saja panas mendidih. Ia menggempur tanah, tatkala hendak membuka mulut. Hajar Karangpandan mendahului, "Orang gagah sejati akan memandang enteng setiap janji yang telah diucapkan. Pengorbanan jiwa, bukanlah suatu soal untuk kebajikan. Gajah Mada, Narasuma, Sawung Galing. Mundingsari, jayaprafta, Trunajaya, Ontung Surapati, Hasanudin, mereka semua adalah orang-orang gagah yang bersedia mengorbankan nyawa untuk suatu kebajikan. Mengapa kita yang hidup di atas bumi tempat mereka hidup tidak menerima warisan sedikitpun juga? Ini mengherankan! Barangkali karena hati kita ini sekerdil katak bangkotan."

Wajah Jaga Saradenta menjadi pucat. Begitu juga Wirapati. Tubuhnya menggigil seperti menahan arus air. Sejurus kemudian mereka menundukkan kepala.

"Kau benar. Memang aku bangsa kerdil. Baiklah kucoba kebajikan ini. Kalau di kemudian hari aku menang bertaruh, itulah nasib baik." Kata Jaga Saradenta galau.

"Perkataan seorang laki-laki sejati!" sahut Hajar Karangpandan cepat. Ia menjadi gembira karena merasa menang. Kemudian berpaling ke Wirapati. "Selesailah sudah perjanjian ini. Kau bagaimana, anak muda?"

Wirapati mengangguk.

"Bagus. Cuma aku ingin bicara separah kata lagi." Hajar Karangpandan mengesankan. "Di antara kita bertiga, hanya kita berdua yang pernah melihat kedua pusaka Pangeran Semono."

"Mengapa hal itu dibicarakan juga?" potong Wirapati tak senang. "Biar orang menghadiahkan pusaka itu kepadaku, tak sudi aku menerimanya."

"Aku tak menuduh buruk kepadamu. Sekiranya kamu mau merampas, pastilah sudah berada dalam genggamanmu. Itu aku tahu. Cuma aku ingin titip sepatah kata. Seumpama nasibmu bagus dan pada suatu hari kautemukan kedua pusaka Bende Mataram dan keris Kyai Tunggulmanik, berjanjilah kepadaku kalau kedua pusaka itu harus kauberikan kepada kedua anak-anak asuhan kita. Siapa yang pantas memiliki Bende Mataram dan siapa pula yang pantas memiliki keris Kyai Tunggulmanik, bukanlah soal."

"Aku berjanji."

"Nah, tak usah kita pikirkan pusaka itu lagi. Kita berpisahan di sini. Ingat! Dua belas tahun lagi kita bertemu di tempat ini," kata Hajar Karangpandan. Ia berdiri dan mendadak melesat pergi.

"Ayo kita pergi," ajak Gelondong Jaga Saradenta. "Lebih cepat kita cari, lebih baik." "Biarlah kususul dia seorang diri," sahut Wirapati.

"Jangan! Kau belum mengenal jalan ke barat. Lagi pula, kau tak punya bekal cukup. Mari singgah ke Segaluh. Setelah kuserahkan kekuasaan pemerintahan dusun kepada wakilku, kita berangkat bersama-sama. Mati hidup kita mulai sekarang ada di tangan kita berdua."

Mereka berangkat ke barat. Jaga Saradenta tidak berani berlari karena luka dalamnya masih perlu perawatan beberapa hari lamanya. Sedang Wirapati melangkahkan kaki dengan setengah hati. Teringatlah dia kepada saudara-saudara seperguruannya. Bulan depan mereka akan

menerima ajaran Ilmu Majangga Seta. Dapatkah dia ikut serta? Memikirkan hal itu, hatinya lemas. Tetapi apabila dia dapat menyelesaikan masa mencari anak-isteri Made Tantre barang seminggu, rasanya masih belum ketinggalan. Semangatnya muncul kembali. Ingin ia lari secepat-cepatnya, kalau tak ingat luka Jaga Saradenta.

Kodrat waktu itu telah meninggalkan Desa Segaluh. Tatkala Jaga Saradenta ikut bertempur, ia merasa mendapatkan kesempatan. Ia bersyukur kepada Tuhan atas kemurahannya. Segera terbanglah dia menuju Desa Segaluh. Sepanjang jalan dia berpikir. Ke manakah aku mau lari? Kembali ke Banyumas, tidaklah mungkin. Sang Dewaresi mana bisa mengampuni aku, kecuali kalau aku membawa pusaka.

Ia sangat sedih. Ia kutuk Hajar Karangpandan sampai tujuh turunan. Ia maki si pemuda Wirapati yang menolong melarikan Wayan Suage. la kutuk pula pamannya, yang hampir membuatnya susah.

Mendadak timbullah pikirannya, baiklah aku lari ke Jakarta. Di sana aku akan menggabungkan diri kepada kompeni. Rukmini biarlah kubawa ke Jakarta untuk oleh-oleh. Pastilah serdadu-serdadu Belanda akan berterima kasih kepadaku. Siapa tahu, aku lantas diberi pangkat sebagai upah jasa.

Mendapat pikiran demikian, tegarlah hatinya. Larinya kian dipercepat. Sebentar saja sampailah dia ke rumah pamannya. Rukmini dan Sangaji masih terkunci rapat dalam bilik. Ia bersyukur setinggi langit. Kemudian dengan dalih mengantarkan Rukmini pulang ke kampung halamannya, ia diizinkan bibinya meneruskan perjalanan.

"Ke mana pamanmu?"

"Dia lagi melayani si pendeta cabul. Sebentar lagi juga pulang," katanya.

Dia terus menuju ke barat. Sangaji digendongnya sebagai umpan Rukmini. Di Dusun

Kotawaringin ia mengambil jalan air. Dibelinya sebuah rakit dan terus menuju ke utara. Tiba di Dusun Wonosari ia memaksa seorang penambang menukar rakit. Mula-mula penambang rakit menolak. Tetapi dengan diancam belati, terpaksa dia menyerah.

Pada senja hari sampailah dia di persimpangan Kali Klawen. Legalah hatinya, karena yakin pamannya tidak mengejarnya lagi. Tetapi ia salah duga. Setelah Jaga Saradenta menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada wakilnya, segera dia berangkat. Ia berpesan kepada isterinya agar jangan mengharap-harap kedatangannya sebelum membekuk si Kodrat.

Mula-mula mereka berdua melalui jalan besar. Sampai di Kota Waringin, mereka mulai ragu. Kebetulan sekali mereka mendengar kabar tentang seseorang yang membeli rakit. Peristiwa itu jarang terjadi. Segera mereka menduga-duga. Maka diputuskan hendak meneruskan perjalanan melintasi air.

Sepanjang jalan mereka berunding dan menduga-duga ke mana arah perginya si Kodrat. Sampai di Wonosari jejak Kodrat kian" nyata. Pemilik rakit yang diancam Kodrat, menjual berita kepada seluruh penduduk. Ramailah orang membicarakan. Jaga Saradenta dengan mudah

mendapatkan keterangan. Cepat-cepat dikayuhnya rakit ke barat. Waktu itu senja hari mulai tiba. Jarak mereka sebenarnya sudah sangat dekat dengan Kodrat. Kira-kira lewat petang hari, mereka semua akan bertemu.

Mendadak Kodrat mempunyai pikiran lain. Rakitnya ditepikan, Kemudian dibakarnya, setelah itu ia membawa Rukmini berjalan lewat daratan, mengarah ke barat-daya. Melintasi desa-desa dan pegunungan.

Rukmini merasa sangat lelah. Lelah semuanya. Baik tenaga maupun hatinya. Ia mengajak berhenti. Kodrat terpaksa menuruti, meskipun hatinya uring-uringan. Syukur, meskipun kasar dia bukan pemuda bangor. Angan-angannya hanya merindukan derajat dan pangkat tinggi. Itulah sebabnya, tak pernah terlintas dalam pikirannya hendak mengganggu Rukmini.

Mereka menginap di sebuah gubuk. Pada fajar hari perjalanan dilanjutkan. Kali ini lewat air untuk menghemat tenaga. Pada petang hari meneruskan perjalanan lewat darat. Demikianlah terus-menerus dilakukan sampai hampir dua minggu lamanya. Akhirnya sampailah mereka di kota Cirebon. Mereka menginap di sebuah penginapan. Hati Kodrat mulai tak tenteram. Ia berpikir untuk mencari tempat tinggal. Sebab bekal perjalanan mulai tipis. Lagi pula berkelana tanpa berhenti, rasanya kurang menyenangkan. Rukmini atau si bocah bisa terserang sakit. Kalau sampai begitu, akan gagallah rencananya.

Hari itu selagi dia berada di dalam kamar penginapan, mendadak didengarnya suara pamannya yang tengah berbicara dengan pemilik penginapan. Dia lagi mencari keterangan tenang dirinya.

Ia kaget bukan kepalang. Segera ia mengintip. Di samping pamannya berdiri seorang pemuda berperawakan gagah tetapi mukanya agak kusut. Itulah Wirapati yang dulu bertempur dengan Hajar Karangpandan.

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 42-77)

Dokumen terkait