• Tidak ada hasil yang ditemukan

SONNY SI GADIS INDO

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 95-110)

8

SONNY SI GADIS INDO

DENGAN berdiam diri pula Jaga Saradenta membimbing tangan Sangaji di samping Wirapati. Kesan pertempuran tadi masih saja meriuh dalam otaknya. Hatinya bisa menduga apa yang bakal dilakukan Pringgasakti ketika melihat adiknya mampus begitu terhina di tengah lapangan.

“Iblis itu benar-benar kebal dari semua senjata tajam. Tapi kekebalannya tak kuasa

mempertahankan diri dari letupan pistol. Jika begitu, boleh juga kita belajar menembak,” katanya perlahan.

Wirapati adalah murid keempat Kyai Kasan Kesambi yang diajar membenci senjata bidikan. Begitu mendengar ujar Jaga Saradenta lantas saja menyahut. “Bukan karena mesiu pistol dia mampus, tetapi karena kebetulan tepat mengenai lubang kelemahannya.”

“Bagaimana kautahu?”

“Pertama-tama kulihat dia selalu melindungi kepalanya rapat-rapat dari gempuran

cempulingmu. Seandainya dia benar-benar kebal, apa perlu berlaku begitu? Kedua, tembakan pistol Sangaji tepat mengenai pusatnya. Memang semendjak kau memasuki gelanggang sudah terpikir olehku tentang tempat-tempat kelemahannya. Cuma saja aku belum berhasil

menemukan.”

Jaga Saradenta tercengang.

“Eh, Wirapati! Dalam soal kecerdasan otakmu jauh lebih encer daripadaku. Coba terangkan kenapa kamu mendapat kesan begitu.” Katanya dengan suara meninggi.

“Karena aku tak percaya manusia bisa sekebal itu. Dalam cerita-cerita kuno tak pernah

keistimewaan hebat. Menghisap darah untuk meyakinkan ilmunya. Justru cerita itu mendadak saja berkelebatlah suatu bayangan di dalam benakku.”

“Apa itu?” Jaga Saradenta tertarik. “Apa kau dapat ilham dari pekerti gurumu ketika tiba-tiba mendatangkan gadis-gadis untuk mengacaukan perhatian si iblis?”

“Itupun termasuk bahan keyakinanku,” jawab Wirapati. “Tetapi aku teringat pada kisah Guntur Wiyono.”

“Apa itu Guntur Wiyono?”

“Bagian kisah dari Arjuna-Wiwaha. Guntur Wiyono dimaksudkan adu kesaktian5). Yakni perang tanding antara Arjuna dengan raja raksasa Niwatakawaca. Seperti kau ketahui Niwatakawa-ca adalah raja raksasa yang mendapatkan kesaktian dari Hyang Rudra. Meskipun demikian ada kelemahannya. Tempat kelemahannya ada pada ujung lidahnya. Kelemahan ini tak dapat

diketahui para dewa. Bahkan Hyang Manikmaya sendiripun tak kuasa menandingi. Hanya Arjuna bernasib baik. Dengan pertolongan bidadari Supraba diketahuilah tentang kelemahannya. Maka dalam pertempuran itu sengaja ia menjatuhkan diri berpura-pura gugur. Raksasa Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak karena merasa menang perang. Justru karena kelalaian yang sedikit itu terbidiklah panah Arjuna tepat mengenai ujung lidahnya.”

Mendengar keterangan Wirapati yang menarik hati itu Jaga Saradenta kegirangan sampai ber-jingkrak. Hatinya bangga mempunyai seorang kawan yang begitu mengenal sastra. Tak terasa ia berkata, “Bagus! Bagus! Jadi karena kisah kuno itu kamu mendapat ilham? Ah! Kecerdasanmu tak berada di bawah gurumu! Pantas kamu tadi terjungkal kena serangan Pringga Aguna. Kamu pura-pura mampus ya seperti Arjuna?”

“Ih!” Wirapati tertawa geli. “Aku bukan Arjuna.” “Lantas?”

“Aku benar-benar terjungkal karena perhatianku terpusat pada Sangaji.”

Jaga Saradenta diam menebak-nebak. Berkata pelahan, “Bagaimanapun juga, kamu hebat! Seandainya aku mempunyai pikiran demikian pastilah aku bisa berkelahi lebih mantap. Dasar otakku tumpul!”

Wirapati tertawa nyaring.

“Kau jangan terburu-buru memujiku! Selama pertempuran tadi belum kutemukan tempat ke-lemahannya. Barangkali kalau Sangaji tidak kebetulan menembak tempat kelemahannya, belum tentu dalam sepuluh hari aku berhasil mengetahuinya.”

Selama mereka berbicara, Sangaji tetap membisu. Hatinya sedang menduga-duga tentang peristiwa perkelahian tadi. Ia mendapat kesan tentang hebatnya pertempuran, tetapi latar belakang terjadinya pertempuran masih samar-samar baginya. Untuk minta penjelasan, rasanya kurang sopan.

“Sangaji!” kata Jaga Saradenta tiba-tiba. “Berbahagialah kamu, karena mendapat guru sepandai Wirapati. Aku sudah begini tua. Tetapi dengan kejadian tadi, aku yakin kamu seorang anak yang mempunyai rejeki besar. Kautahu, musuh gurumu sudah malang-melintang selama 50 tahun lebih tanpa lawan. Akhirnya dengan tak sengaja, kamu berhasil menumbangkannya. Cuma saja aku berpesan kepadamu, janganlah kejadian malam ini kauceritakan kepada siapa pun juga. Kamu mau berjanji?” Sangaji mengangguk.

Jaga Saradenta kemudian menerangkan tentang terjadinya pertempuran dan mengapa dia dilarang bercerita kepada siapa pun juga. Sebab Pringga Aguna masih mempunyai seorang kakak bernama Pringgasakti yang lebih berbahaya. Setelah itu ia mengalihkan pembicaraan tentang terjadinya pertemuan antara Sangaji dan Wirapati.

“Munculnya si iblis sampai merenggutkan kewajibanku yang pertama,” katanya menyesali diri sendiri. “Seumpama aku tadi mampus dalam tangan iblis sia-sialah perjalananmu ke daerah Barat.”

Wirapati segera menceritakan tentang pertemuannya dengan Sangaji. Setelah itu ia berkata, “Besok, keempat musuhmu yang memukulmu datang ke lapangan. Kamu akan dihajarnya kembali. Melawan mereka bukan pekerjaan berat. Malam ini kuajarkan kau tiga jurus. Tetapi kamu kularang mendekati lapangan selama setengah bulan, sampai peristiwa pembunuhan Pringga Aguna

Sangaji mengerti maksud gurunya. Ia mengangguk kembali dan berjanji akan taat pada pesan itu. Kemudian ia dibawa ke pantai untuk menerima tiga jurus ilmu berkelahi.

“Sekarang, ayo berlatih!” perintah Wirapati.

Tiba-tiba saja ia mengkait kaki Sangaji dan ditarik cepat. Tak ampun lagi, Sangaji jatuh tengkurap.

“Ah!” bentak Jaga Saradenta. “Bakatmu terlalu miskin!”

Nada suara Jaga Saradenta terdengar sangat kecewa. Ia memang berwatak terburu nafsu dan mudah dikecewakan oleh suatu kenyataan yang tak cocok dengan otaknya.

“Delapan tahun kami mencarimu. Masa kami kausuguhi suatu permainan lemah macam perempuan? Berdiri dan berlatihlah sungguh-sungguh!”

Sangaji sebaliknya seorang anak yang mudah tersinggung. Dulu dia pernah membandel terhadap hajaran Mayor de Groote semata-mata karena harga dirinya tersinggung. Sekarang ia didamprat demikian rupa. Karuan saja bangkitlah rasa harga dirinya. Dengan pandang murka ia berkata nyaring kepada Wirapati. “Mengapa sebelum aku siaga Guru mengkait kakiku?”

“Ini namanya adu kecekatan dan kepandaian,” sahut Wirapati. “Hati dan otakmu harus bersatu sehingga dapat kauajak menduga-duga sebelum musuh bergerak.”

Sangaji diam berpikir. Ternyata otaknya cerdas juga. Segera ia sadar dan mengerti. “Baik—sekarang Guru boleh mencoba mengkait lagi.”

Tetapi Wirapati tidak mengkait kaki. Sebaliknya ia menyerang dengan tinju kanan. Sangaji mengelak ke kiri, tetapi tangan kiri Wirapati justru memapaki dan menempel tepat di hidungnya. Dan sebelum sadar apa yang harus dilakukan, tinju kiri Wirapati telah ditarik kembali.

Sangaji tercengang-cengang, tetapi hatinya mendadak jadi girang. Tadi sore dia hanya menjadi penonton belaka. Kini menjadi muridnya. Kalau pukulan-pukulan itu diajarkan kepadanya

bukankah dia akan menjadi pandai? Kemudian ia berseru, “Guru! Mengerti aku sekarang. Ternyata pukulan-pukulan tinju dan serangan-serangan kaki tak serupa dan dapat diatur bagus.”

Tanpa meladeni seman muridnya Wirapati berjongkok. Tiba-tiba melompat menumbukkan kepala ke pinggang Sangaji. Karena tumbukan itu Sangaji jatuh terguling ke tanah. Tapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tangan Jaga Saradenta telah menyambarnya dan diberdirikan.

“Nah pelajari dulu tiga jurus itu,” kata Wirapati. “Kalau kau sungguh-sungguh berlatih, orang dewasapun tak gampang mengalahkanmu.”

Sangaji girang bukan main. Segera ia sibuk dengan latihan-latihan. Jaga Saradenta membawa Wirapati agak menjauhi.

“Anak ini miskin bakatnya. Celaka, waktu kita tinggal sedikit.” Katanya agak berbisik.

“Bukan miskin bakatnya, tetapi karena sama sekali belum mengenal ilmu berkelahi,” Wirapati mempertahankan. “Aku menaruh harapan padanya, selama kita bersabar memberi pengertian lebih dahulu.”

“Memberi pengertian?”

“Kita pompakan semangat pembalasan dendam. Kedua, kita beri dongeng-dongeng orang-orang gagah dan contoh-contoh. Ketiga, kita tilik terus-menerus dan kita ajak berlatih sungguh-sungguh. Kukira dalam tiga empat tahun bisa kita lihat hasilnya.”

“Menurutmu, pembunuh ayahnya sekarang ada di Jakarta. Mengapa tak kauperlihatkan sekalian?”

Wirapati tertawa perlahan. “Mestinya begitu. Tapi kamu bikin gara-gara.” “Kok aku?”

“Coba, kalau tidak ada urusan iblis Pringga Aguna, kita bisa leluasa bergerak. Sekarang, mana berani kita mendekati gedung negara. Salah-salah bisa tercium penciuman Pringgasakti yang hebat. Bukankah kita tadi saling berbentur dan bersentuh? Menilik ceritamu, pasti ilmu penciuman Pringgasakti dapat mencium keringat adiknya.”

Jaga Saradenta tergugu. Kata-kata Wirapati benar. Sadarlah dia, mulai saat itu ia berada dalam pengawasan lawan. Maka sebelum tengah malam ia mengajak meninggalkan pantai. Malam itu juga ia ingin menyelidiki perkembangan peristiwa pembunuhan Pringga Aguna.

Sangaji diantarkan pulang. Sekali lagi ia berpesan agar jangan menceritakan kejadian yang dilihatnya tadi kepada siapa pun juga. Kemudian ditekankan pula agar pada setiap malam datang berlatih di tepi pantai.

“Sangaji!” katanya lagi. “Aku bersikap keras terhadapmu. Memang adatku keras. Kalau kau tidak sungguh-sungguh mau aku menggampar kepalamu. Tahu?”

Sangaji memanggut.

“Malam ini biarlah kita berpisah di sini. Kalau semuanya sudah beres, kami berdua akan menjumpai ibumu.”

Sehabis berkata demikian Jaga Saradenta menarik lengan Wirapati meninggalkan tangsi. Diapun sebenarnya agak segan mengampiri tangsi. Tetapi Sangaji jadi tercengang. Kesannya kurang menyenangkan terhadap gurunya yang satu itu. Pikirnya, belum lagi dia mengajarku, galaknya seperti geledek. Hiiii...?

Sangaji mengawasi kepergiannya si guru galak sampai tubuhnya lenyap ditelan tirai malam. Kemudian dengan kepala menunduk memasuki tangsi. Waktu itu sudah tengah malam. Penjaga di gardu menegor, “Begini malam baru datang. Dari mana?”

“Menengok Ibu sakit,” jawabnya cepat.

Tiap penghuni tangsi mengetahui, kalau ibu Sangaji hidup di luar tangsi. Maka karena jawaban itu si serdadu tidak bertanya lagi.

***

JAGA SARADENTA membawa Wirapati kembali menjenguk lapangan. Sepanjang jalan Wirapati mempersoalkan keadaan muridnya. Ia nampak girang dan sayang benar padanya. Selalu dia memuji, “Otaknya cerdas dan agak licin. Coba ingat, saat dia sedang berlatih. Selain berkemauan keras, otaknya juga cerdas.”

Tapi Jaga Saradenta malas meladeni. Pikirannya lagi terpusat pada mayat Pringga Aguna. Ia seperti mendapat firasat buruk. Dan benar juga.

Belum lagi ia sampai di pinggir lapangan, terdengarlah derap kuda di kejauhan.

Cepat ia meloncat ke pinggir jalan dan mendekam di balik pepohonan. Ia melihat sepasukan serdadu berkuda dengan membawa obor. Tak lama kemudian lapat-lapat terdengar bunyi kentung ritir.Tanda rajapati.

Sebentar saja pasukan berkuda itu lewat cepat dan memasuki lapangan. Suara aba-aba mulai terdengar. Lalu berpencaran dan berputaran.

“Hooo!” terdengar seru kepala pasukan.

Orang itu lantas melompat turun. Serdadu-serdadu yang lain berlompatan turun pula. Mereka mengerumuni sebidang tanah dengan meninggikan nyala obor. Tahulah Jaga Saradenta, mereka menemukan mayat Pringga Aguna dan Hasan.

Tetapi akhirnya Jaga Saradenta jadi keheran-heranan. Ternyata mereka hanya sibuk menggotong mayat Hasan. Setelah itu mereka pergi berderapan meninggalkan lapangan.

“Wirapati! Yuk, kita periksa!” bisik Jaga Saradenta. Tanpa menunggu jawaban kawannya, lantas saja ia melesat memasuki lapangan. Benar-benar dia heran. Ternyata mayat iblis Pringga Aguna tidak ada bekasnya lagi.

“Wirapati, apa pendapatmu? Jelas-jelas dia sudah mampus dan mayatnya menggeletak di sini. Kenapa sekarang hilang lenyap seperti ditelan bumi?”

“Apa kamu pernah mendengar kabar, kalau dia bisa hidup kembali sesudah terang-terangan mampus?” sahut Wirapati dingin.

'Tidak! Mustahil dia bisa hidup kembali. Dulu dia pernah dilukai gurumu. Menurut ukuran manusia dia bisa rontok tulang rusuknya. Ternyata dia hidup segar kembali, tetapi karena

pertolongan guruku. Lagipula, waktu itu aku melihat dia bisa lari cepat. Lain halnya dengan malam ini. Napasnya sudah habis ludes. Masa dia bisa menyembunyikan napas?”

“Jika begitu mungkin dia tadi belum mampus. Mungkin pula kakaknya telah datang menyingkirkan mayatnya.”

“Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”

“Iblis itu pasti mempunyai harga diri terlalu tinggi. Kalau orang sampai mendengar di antara mereka berdua ada yang mampus karena pertarungan, di manakah yang lain bisa

menyembunyikan namanya? Pringgasakti pasti berusaha menyembunyikan mayat Pringga Aguna agar tak ketahuan orang. Setelah itu dia bersiap-siap menuntut dendam. Kebetulan sekali ia melihat mayat Hasan. Ia lapor kepada kompeni agar mereka datang menyelidiki. Dengan begitu ia

bisa menggunakan tenaga kompeni dalam menyelidiki dan mencari jejak si pembunuh mayat si Hasan. la tinggal membuntuti dari belakang. Tahu-tahu menerkam kita.”

Ih! Sungguh bahaya, hati Jaga Saradenta menjadi ciut. Sebaliknya Wirapati malahan tertawa geli menyaksikan perangainya.

“Mengapa tertawa?” Jaga Saradenta bersakit hati.

“Menurut katamu selama empat puluh tahun kau sibuk mencari si iblis. Sekarang dia bahkan akan mencarimu, mengapa mendadak jadi berubah sikap?”

“Bukan aku takut pada si iblis. Tapi dia bersembunyi di belakang kekuatan kompeni. Aku mau mati bertarung melawan dia. Sebaliknya tak rela aku mati di tiang gantungan kompeni. Di alam baka sukmaku akan berkeliaran penasaran.”

“Janganlah berkecil hati. Aku akan menemanimu jadi setan liar.” Wirapati tetap menggoda. “Paling penting, sekarang kita mencari keyakinan dulu, apakah si iblis Pringga Aguna benar-benar sudah mampus. Sekiranya dia hidup kembali, kesulitan kita berlipat. Kita berdua tidak ada harapan lagi buat hidup aman merdeka di kota Jakarta ini.”

Satu malam suntuk mereka berdua berusaha mencari mayat Pringga Aguna. Tetapi usahanya sia-sia belaka. Makiumlah, selain malam hari mereka pun tidak punya pegangan. Meskipun demikian sampai pagi hari mereka terus berputar-putar mengelilingi lapangan

Akhirnya, mereka duduk beristirahat di tepi pantai menghirup angin laut. Mereka diam. Masing-masing tenggelam dalam benaknya sendiri. Tak lama kemudian matahari benar- benar telah tersembul di langit. Seperti telah berjanji, mereka saling memandang lalu saling memberi isyarat untuk meneruskan penyelidikannya. Mereka bangkit berdiri dengan berjalan berendeng. Kembali mereka mengarah ke lapangan, mendadak Wirapati melihat percikan darah. Tak jauh dari tempat itu dilihatnya sepotong lengan menggele-tak di dekat seonggok pasir. Cepat ia memberi isyarat dan dengan hati- hati menyapukan pandangannya.

“Kita jauhi tempat ini. Siapa tahu, ini hanyalah umpan!” bisik Wirapati agak gugup.

Mereka lalu meninggalkan tempat itu dengan jalan memutar. Di dekat sebatang pohon dikete-mukan pula sepotong kaki utuh dengan pipa celana. Jelas—itulah potongan celana Pringga Aguna. Meskipun demikian mereka masih ragu juga. Mereka berjalan lagi. Kini membelok ke kiri mengarah petak-petak hutan. Di dekat gerumbulan mereka menemukan sepotong lambung. Sekarang

mereka yakin benar, kalau semua yang ditemukan adalah potongan-potongan tubuh Pringga Aguna.

Wirapati segera menarik lengan Jaga Saradenta untuk meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Mereka tak berani menggunakan ilmu berlari cepat, agar tidak menarik perhatian seseorang.

“Nah, apa pendapatmu?” Jaga Saradenta minta pertimbangan. “Siapa yang memotong mayat Pringga Aguna? Binatang buas atau teman-teman dari Jawa Barat tadi?”

“Keduanya pasti tidak,” jawab Wirapati cepat. “Apa perbuatan kakaknya?” “Siapa lagi?”

“Mengapa berbuat begitu?”

“Untuk menghilangkan jejak sambil menjebak si pembunuh adiknya.” “Apa menurut pendapatmu kita tadi sudah masuk perangkap?”-

“Kita lihat nanti.” Jaga Saradenta menyelidiki kesan muka Wirapati. Sepertinya Wirapati berbicara sungguh-sungguh. Karena kesan itu ia mulai berpikir keras. Seandainya kita telah diketahui, mengapa tak langsung menghadang? Wirapati mencoba menyangkal.

“Untuk membalaskan dendam adiknya, bukan pekerjaan sulit baginya. Kukira dia masih

menunggu bukti-bukti yang lebih yakin lagi. Jika tidak begitu, dia akan tetap berada di sekitar kita dan berusaha membunuh kita perlahan-lahan. Atau dia akan membuat jebakan-jebakan baru, sehingga kita nanti mati sendiri karena ketakutan. Inilah cara mampus menanggung sengsara.”

Jaga Saradenta mendongkol berbareng geli mendengar ujar Wirapati. Tetapi tak berani menyangkal pendapat Wirapati. Diam-diam dia berpikir, iblis itu memang mempunyai cara dan akal sendiri untuk balas dendam. Baiklah mulai sekarang aku bersikap waspada dan hati-hati.

“Wirapati,” katanya, “sebenarnya kita harus gembira dan bersyukur pada Tuhan, karena akhirnya usaha kita mencari si bocah tidak sia-sia. Tetapi mendadak persoalan baru itu muncul tanpa kukehendaki sendiri. Apa kamu menyesali aku?”

“Musuhmu adalah musuhku,” sahut Wirapati membesarkan hatinya. “Perkara si bocah jatuh nomor dua. Seandainya nasib kita buruk, biarlah kita berdua mati di rantau. Tapi Tuhan menjadi saksi, kalau kita berdua telah menemukan si bocah. Marilah kita berlomba menjejali si bocah dengan ajaran-ajaran yang berdaya guna. Seandainya kita mati di tengah jalan, setidak-tidaknya si bocah pernah menjadi murid kita berdua.”

“Wirapati! Tak kukira kamu berhati jantan seperti gurumu. Aku si orang tua takkan pernah menyesali lagi hidup di kolong langit ini,” ujar Jaga Saradenta terharu.

***

Semenjak itu WIRAPATI dan JAGA SARADENTA tekun mewariskan ilmu-ilmunya kepada Sangaji. Tempat berlatihnya di tepi pantai atau di tengah hutan yang sunyi dari manusia. Mereka berusaha menjauhi lapangan tempat berlatih menembak para serdadu. Dengan demikian, tanpa disengaja Sangaji menghindari ancaman kaki-tangan Mayor de Groote yang berjanji mau

menghajarnya sampai cacat.

Tetapi pada suatu hari Willem Erbefeld pulang ke rumah. Segera ia mendesak agar Sangaji berlatih memahirkan menembak pistol. Dia merencanakan mau menurunkan ilmunya menembak mahir dengan senapan.

Terpaksalah Sangaji minta izin kedua gurunya untuk membagi waktu. Pada pagi hari dia bersekolah berbahasa Belanda. Sore hari berlatih menembak dengan pistol. Dan pada malam hari menghadang kedua gurunya di tepi pantai atau tempat-tempat pertemuan yang telah ditentukan. Rukmini telah mengetahui tentang adanya Wirapati dan Jaga Saradenta. Pernah dia bertemu, berbicara dan berunding. Untuk mata-pen-caharian hidup, Rukmini sanggup memikulnya dengan berjualan. Jaga Saradenta masih mempunyai sisa bekal hidup. Meskipun tidak berjumlah banyak, cukuplah buat modal pengukir waktu.

Syahdan,—pada suatu sore tatkala Sangaji sedang sibuk berlatih menembak pistol, datanglah seorang gadis tanggung. Dialah si Sonny, gadis Indo yang pernah dikenal Wirapati sewaktu rombongan utusan dari Yogyakarta datang ke Jakarta.

“Hai!” tegurnya. “Sejak kapan kau berlatih menembak?” Sangaji tak berprasangka buruk padanya. Memang pada saat tertentu banyak kanak-kanak tanggung datang menonton dan mengagumi. Hanya saja ia heran mendapat kesan pandangan si gadis.

Sonny ternyata seorang gadis tanggung yang sedang mekar. Gerak-geriknya setengah

kekanak-kanakan, setengah pula menggairahkan, la lincah dan berhati polos seperti adat seorang keturunan orang barat. Belum lagi Sangaji menjawab tegurnya, ia lantas menghampiri.

“Ini pistolmu?” tanyanya lagi. Sangaji menggelengkan kepala. “Kau mencuri?” “Mencuri?” Sangaji merasa tersinggung. “Ini pistol kakakku.”

“Siapa?”

“Willem Erbefeld.”

“Cis! Keluarga pemberontak bukan?”

Merah padam Sangaji mendengar cela si gadis. Segera ia mau membentak, tetapi dilihatnya si gadis tetap berwajah dingin.

“Keluarga pemberontak tak boleh menyimpan pistol,” katanya lagi.

Habis kesabarannya Sangaji yang mudah tersinggung. Lantas saja mendamprat. “Kau siapa sih, berani ngomong seenaknya?”

“Memangnya siapa aku?” sahut Sonny cepat.

Muka Sangaji merah padam. Mendadak dilihatnya empat orang pemuda tanggung berdiri tak jauh daripadanya. Keempat pemuda tanggung itu bertolak pinggang dan melihat tajam padanya. Siapa lagi kalau bukannya Jan de Groote, Karel Speelman, Tako Weidema dan Pieter De Jong. Sudah hampir dua bulan lama-nya mereka berempat mencari-cari kesempatan mau

menghadiahkan bogem mentah padanya. Tapi Sangaji tak pernah muncul di tengah lapangan. Pada suatu hari mereka mendapat kabar dari Mayor De Groote kalau Sangaji mulai berlatih menembak pistol lagi semenjak Kapten Willem Erbefeld pulang dari dinas luar daerah. Mereka lantas mencari dalih pertengkaran. Sore itu mereka mengirimkan si Sonny agar datang

menghampiri. Jan De Groote kemudian mendamprat. “Anjing Jawa, kau berani kurang ajar pada seorang noniek?”

“Emangnya kau anggap apa noniek ini?” sambung Karel Speelman.

“Rupanya dia habis bertengkar sama seorang gadis. Anjing Jawa hanya berani berlawanan dengan seorang gadis. Cuh!” sambung Tako Weide-ma.

“Babi ini, perlu kita hajar!” bentak Pieter De Jong.

Sangaji meskipun berotak cerdas tak pandai berbicara tajam. Dihujani dampratan begitu rupa, mukanya merah padam. Seluruh tubuhnya bergemetaran karena menahan marah. Lagipula hatinya masih dendam pada mereka.

Sekarang ia berprasangka jelek pada si Sonny. Kedengkiannya lantas saja meluap. Didoronglah si Sonny ke pinggir sambil membentak, “Kau ular hijau, enyahlah!”

Sonny jadi terkejut. Memang ia tahu, dirinya dikirim ke lapangan untuk membangkitkan amarah Sangaji. Tetapi tak pernah dia menyangka akan diperlakukan demikian. Dasar dia masih kanak-kanak. Lantas saja dia menggerutu emoh dipersalahkan. Mendamprat.

Dalam dokumen BENDEMATARAM-H.PRATIKTO (Halaman 95-110)

Dokumen terkait