BAB V PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PENYULUHAN
5.2 Rancangan Penyuluhan Pertanian
130
Tabel 40. Hasil Strategi Analisis SWOT
IFAS
EFAS
STRENGTS (S)
1. Sebagian besar petani menanam komoditas padi 2. Keinginan petani untuk
meningkatkan produktivitas padi
3. Semangat petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan
WEAKNESS (W)
1. Kurangnya pemanfaatan informasi yang didapat dalam kegiatan penyuluhan pertanian 2. Kurangnya kesadaran petani
terhadap pentingnya mengikuti perkembangan teknologi pertanian 3. Produktivitas hasil padi masih rendah
OPPORTUNITIES (O)
1. Terdapat program sekolah lapang bagi petani padi 2. Ketersediaan teknologi budidaya
padi
3. Terjadinya peningkatan kualitas SDM pertanian
STRATEGI (SO)
1. Meningkatkan motivasi petani padi dalam memanfaatkan program sekolah lapang sebagai wadah pembelajaran dengan mengoptimalkan materi, metode dan media penyuluhan
STRATEGI (WO)
1. Meningkatkan motivasi petani terkait pentingnya pemanfaatan informasi teknologi pertanian untuk usahataninya
2. Memberikan motivasi kepada petani untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan melalui program sekolah lapang THREATS (T)
1. Adanya persepsi bahwa menggunakan teknologi pertanian itu sulit
2. Ketertinggalan petani terhadap teknologi pertanian
3. Alih fungsi lahan karena produktivitas rendah dan dinilai kurang menguntungkan
STRATEGI (ST)
1. Meningkatkan semangat petani untuk mempelajari teknologi pertanian 2. Memaksimalkan peran
penyuluh dalam membuka wawasan petani untuk mempertahankan lahan pertanian
STRATEGI (WT)
1. Membuat penyuluhan pertanian yang lebih efisien dan modern berorentasi pada peningkatan minat belajar petani terhadap teknologi pertanian
Sumber : Olah Data Primer, 2022
5.1.4 Pengambilan Keputusan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perceived enjoyment (persepsi kenyamanan), kemandirian dan subjective norm (norma subjektif) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap behavioral intention (keinginan untuk menggunakan) informasi teknologi pada sekolah lapang secara langsung maupun tidak langsung yang kemudian dijadikan sebagai pertimbangan dalam membuat rancangan penyuluhan. Dari hasil analisis swot diketahui bahwa strategi yang digunakan ialah strategi S-O. Berdasarkan matriks analisis SWOT tersebut didapatkan strategi S-O yaitu meningkatkan motivasi petani padi dalam memanfaatkan program sekolah lapang sebagai wadah pembelajaran dengan mengoptimalkan materi, metode dan media penyuluhan.
131
sedemikian rupa untuk meningkatkan motivasi petani dalam memanfaatkan program sekolah lapang (SL) sebagai wadah pembelajaran.
5.2.1 Tujuan Penyuluhan Pertanian
Penetapan tujuan penyuluhan ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi potensi wilayah (IPW) dan hasil penelitian mengenai tingkat penerimaan petani padi terhadap sekolah lapang yang kemudian dirumuskan tujuan penyuluhan pertanian. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi menjadi faktor utama yang menjadi penjelas dasar seorang petani untuk mau menerima informasi teknologi sekolah lapang padi. Sedangkan hasil dari identifikasi potensi wilayah (IPW) menunjukkan bahwa strategi yang dapat digunakan adalah dengan meningkatkan motivasi petani padi dalam memanfaatkan program sekolah lapang sebagai wadah pembelajaran dengan mengoptimalkan materi, metode dan media penyuluhan.
Oleh karena itu dari hasil penelitian dan hasil identifikasi potensi wilayah didapatkan tujuan secara umum yaitu meningkatkan motivasi petani padi dalam memanfaatkan program sekolah lapang sebagai wadah pembelajaran. Untuk tujuan khusus penyuluhan yang ditetapkan berdasarkan materi penyuluhan yang digunakan dan dengan mempertimbangkan kaidah SMART, maka diperoleh tujuan yaitu meningkatkan pengetahuan dan sikap petani terkait pemupukkan berimbang pada tanaman padi.
5.2.2 Sasaran Penyuluhan Pertanian
Penetapan sasaran penyuluhan ditentukan berdasarkan hasil identifikasi potensi wilayah yang telah dilaksanakan. Sasaran dalam penyuluhan ini adalah petani padi di kelompok tani Makmur jaya desa hanaut kecamatan pulau hanaut kabupaten kotawaringin timur. Penentuan sasaran penyuluhan dengan menggunakan teknik purposive dengan pertimbangan bahwa kecamatan pulau hanaut menjadi salah satu kecamatan yang mendapatkan program sekolah
132
lapang, memiliki luas tanah sawah yang cukup luas yaitu 10.846 Ha dengan luas panen yaitu 2.260 Ha dan produktivitas hanya 3,5 Ton/Ha. Luasnya tanah sawah yang tersedia, sempitnya luas panen dan produktivitas padi sawah yang rendah menjadi faktor utama peneliti memilih kecamatan pulau hanaut yang kemudian dipilih desa hanaut dengan pertimbangan bahwa desa hanaut merupakan desa dengan jumlah petani padi terbanyak yaitu 451 orang yang terdiri dari petani berjenis kelamin laki-laki 357 orang dan petani berjenis kelamin perempuan 94 orang yang tersebar kedalam 17 kelompok tani. Dan dari 17 kelompok tani yang ada di desa hanaut dipilihlah kelompok tani Makmur jaya karena merupakan salah satu kelompok tani yang aktif dan memiliki semangat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan penyuluhan pertanian yang diselenggarakan. Hal ini berhubungan dengan pihak yang paling berhak menerima manfaat penyuluhan.
Penetapan jumlah sasaran dalam penyuluhan yaitu sebanyak 25 orang yang merupakan anggota dari kelompok tani Makmur jaya desa hanaut kecamatan pulau hanaut kabupaten kotawaringin timur.
5.2.3 Materi penyuluhan
Penetapan materi penyuluhan dipilih dengan berlandaskan pada strategi yang diperoleh dalam analisis SWOT dimana rancangan penyuluhan ini disusun sedemikian rupa untuk meningkatkan motivasi petani dalam memanfaatkan program sekolah lapang (SL) sebagai wadah pembelajaran dengan memberikan materi, metode dan media yang sesuai kebutuhan petani. Oleh karena itu dalam penetapan materi yang sesuai dengan kebutuhan petani dibutuhkan kriteria-kriteria pertimbangan, diantaranya :
1. Materi merupakan salah satu materi yang digunakan dalam program sekolah lapang
2. Materi masuk kedalam rencana kegiatan tahunan penyuluhan (RKTP) di balai penyuluhan pertanian (BPP) Bapinang
133
3. Materi disesuaikan dengan hasil IPW dilapangan dengan petani
Berdasarkan kriteria-kriteria diatas didapatkan 3 materi yang kemudian dipilih berdasarkan nilai skoring yang disesuaikan dengan sifat materi penyuluhan.
Materi dengan nilai skoring tertinggi dijadikan materi prioritas yang akan digunakan dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Pertimbangan tersebut dilampirkan dalam matriks pengambilan keputusan materi penyuluhan dan dapat dilihat pada lampiran 6.
Dari matriks pengambilan keputusan tersebut maka diketahui bahwa materi penyuluhan yang akan disampaikan adalah “pemupukkan berimbang pada tanaman padi”.
5.2.4 Metode Penyuluhan Pertanian
Metode penyuluhan dipilih sejalan dengan strategi yang diperoleh dalam analisis SWOT dimana rancangan penyuluhan ini disusun untuk meningkatkan motivasi petani dalam memanfaatkan program sekolah lapang (SL) sebagai wadah pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan matriks yang diperoleh melalui proses identifikasi untuk mendukung strategi yang digunakan sehingga diharapkan dapat diperoleh metode yang sesuai dengan kebutuhan petani dan mampu meningkatkan motivasinya.
Matriks penetapan metode memuat hasil identifikasi karakteristik sasaran, sumber daya penyuluhan dan keadaan daerah yang disesuaikan dengan tujuan penyuluhan. Dari hasil matriks penetapan metode penyuluhan yang disesuaikan dengan hasil matriks pertimbangan pemilihan metode didapatkan hasil bahwa metode yang akan digunakan dalam penyuluhan pertanian adalah metode ceramah, diskusi dan anjangsana yang terbagi menjadi 2 pendekatan yaitu pendekatan secara perorangan dan pendekatan secara kelompok yang dapat dilihat pada lampiran 7 dan 8.
134
Hal ini dikarenakan umur sasaran yang mayoritas termasuk kedalam kategori dewasa akhir dan lansia awal dimana dikhawatirkan akan berdampak pada rendahnya keinginan dalam menerima materi penyuluhan dan akan berdampak pada sikap penerimaan atau penerapan materi penyuluhan tersebut.
Pertimbangan selanjutnya disesuaikan dengan tujuan penyuluhan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap sasaran, karena petani masih banyak yang belum mengetahui terkait pemupukkan berimbang maka dibutuhkan pendekatan yang cukup intensif antara penyuluh dan sasaran, dimana pendekatan ini ditujukkan untuk memberikan gambaran awal terkait pemupukkan berimbang yang menyasar pada munculnya ketertarikan sasaran pada materi yang disampaikan.
Setelah dirasa sasaran telah memiliki gambaran awal terkait pemupukkan berimbang dan sasaran dirasa memiliki ketertarikan dengan materi pemupukkan berimbang, maka selanjutnya dilakukan kegiatan penyuluhan secara kelompok dimana tujuannya adalah untuk memberikan materi penyuluhan secara keseluruhan dan lebih mendalam yang dalam hal ini difokuskan pada rekomendasi pemupukkan yang sesuai dengan lokasi sasaran. Dalam pendekatan kelompok ini juga diharapkan sasaran dapat berdiskusi secara aktif untuk menyakinkan sasaran terkait penerapan pemupukkan berimbang
5.2.5 Media Penyuluhan Pertanian
Penetapan media penyuluhan disesuaikan dengan kondisi karakteristik sasaran, materi penyuluhan, tujuan penyuluhan dan jumlah sasaran yang disesuaikan dengan metode yang digunakan. Media yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah dengan menggunakan folder dan video. Dalam penyuluhan ini dilakukan 2 pendekatan yaitu perorangan dan kelompok, dimana media video digunakan pada pendekatan perorangan dan media folder digunakan pada saat pendekatan kelompok. Media folder dan video dipilih didasarkan pada matriks penetapan media yang dapat dilihat pada lampiran 9.
135
Hal ini karena kondisi sasaran penyuluhan pertanian mayoritas berusia pada rentang 36-55 tahun masuk dalam kategori dewasa akhir dan lansia awal dimana pada usia dengan kategori dewasa akhir dengan rentang 36-45 tahun petani dianggap masih memiliki semangat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan penyuluhan yang akan diselenggarakan dan pada usia 46-55 tahun keinginan petani untuk mengikuti kegiatan penyuluhan mulai berkurang dan berdampak pada keinginan untuk mengadopsi suatu inovasi juga akan menurun. Pertimbangan selanjutnya yaitu pada materi penyuluhan yang digunakan yaitu mengenai penggunaan pupuk berimbang pada tanaman padi dimana sasaran masih banyak yang belum mengetahui apa itu pemupukkan berimbang, oleh karena itu sasaran membutuhkan gambaran awal atau perkenalan awal yang menarik untuk dapat memberikan pengetahuan dasar terkait pemupukkan berimbang.
5.2.6 Evaluasi Penyuluhan A. Tujuan evaluasi
Tujuan evaluasi selaras dengan tujuan penyuluhan oleh karena itu tujuan dilaksanakan evaluasi penyuluhan yaitu untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap petani dalam menggunakan pemupukkan berimbang di kelompok tani Makmur jaya desa hanaut kecamatan pulau hanaut kabupaten kotawaringin timur.
B. Metode evaluasi
Metode evaluasi penyuluhan yang digunakan adalah evaluasi hasil yang dimana evaluasi ini bertujuan untuk mengukur secara langsung hasil dari penyuluhan yang telah dilaksanakan. Tujuan pemilihan metode evaluasi tersebut dikarenakan hasil dari evaluasi dibutuhkan secepat mungkin untuk dijadikan landasan pembuatan rencana tindak lanjut (RTL) untuk memperbaiki kekurangan dari program yang dijalankan oleh pihak terkait.
136 C. Skala pengukuran
Pengukuran hasil evaluasi penyuluhan mengenai penggunaan pupuk berimbang pada tanaman padi di ukur dalam skala guttman pada aspek pengetahuan dengan pilihan jawaban ya dan tidak selanjutnya menggunakan skala likert pada aspek sikap dengan pilihan jawaban mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju.
D. Responden Evaluasi
Responden evaluasi penyuluhan adalah seluruh sasaran penyuluhan yaitu anggota kelompok tani Makmur jaya dengan jumlah sebanyak 25 orang. Distribusi responden evaluasi dapat dilihat pada lampiran 10.
E. Instrumen evaluasi
Instrumen evaluasi digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap petani dalam penggunaan pupuk berimbang pada tanaman padi. Instrument akan disajikan menggunakan skala guttman pada aspek pengetahuan dan skala likert pada aspek sikap. Adapun kisi-kisi instrument evaluasi dapat dilihat pada lampiran 11 dan kuesioner evaluasi penyuluhan pada lampiran 12.
F. Hasil uji validitas dan reliabilitas instrument evaluasi
Pengujian validitas dan reliabilitas dari instrumen evaluasi dilakukan kepada 30 petani di Desa Kota Besi Hulu yang memiliki karakteristik yang sama dengan sasaran penyuluhan yaitu petani padi dan menjadi peserta dari sekolah lapang yang kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 16.0 dengan taraf 0,05%. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa dari 15 soal pernyataan pada aspek pengetahuan dan 10 soal pernyataan pada aspek sikap dinyatakan valid dikarenakan nilai r hitung lebih besar dari r tabel. Sehingga seluruh pernyataan akan digunakan untuk mengetahui seberapa berhasil rancangan penyuluhan yang digunakan dalam pelaksanaan penyuluhan. Hasil uji validitas untuk instrument evaluasi rancangan penyuluhan dapat dilihat pada lampiran 13.
137
Pada pengujian reliabilitas digunakan untuk melihat konsistensi dari instrumen yang akan digunakan dalam melaksanakan evaluasi. Suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai Cronbach’s Alpha diatas 0,6.
Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa dari 15 soal pernyataan pada aspek pengetahuan dan 10 soal pernyataan pada aspek sikap dinyatakan reliabel karena memiliki nilai Cronbach’s Alpha diatas 0,6 sehingga instrumen evaluasi rancangan penyuluhan tersebut dinyatakan reliabel. Hasil uji reliabilitas untuk instrument evaluasi rancangan penyuluhan dapat dilihat pada lampiran 14.
G. Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden dengan cara di ceklist pada pilihan jawaban yang telah disediakan.
H. Analisis data evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan sikap petani terhadap penggunaan pupuk berimbang pada tanaman padi di kelompok tani Makmur jaya desa hanaut kecamatan pulau hanaut kabupaten kotawaringin timur.
analisis hasil evaluasi disajikan secara deskriptif diawali dengan menyajikan karakteristik responden evaluasi kemudian hasil dari pengukuran tingkat pengetahuan dan sikap responden tersebut.