HASIL PENELITIAN
1. Di Lingkungan Kelompok Gay
4.3. Realitas Dramaturgi Mahasiswa Homoseksual
Hasil penelitian yang telah diuraikan diatas maka peneliti akan membahas mengenai Presentasi Diri Mahasiswa Homoseksual di Kota Serang. Tipe-tipe
homoseksual yang menjadi subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu “the secret homosexual” yaitu tipe ini ditunjukkan kepada homoseksual yang berusaha untuk menyembunyikan perilaku homoseksualnya dari lingkungannya. Mereka pandai menyembunyikan perilaku sehingga tidak nampak berbeda dari orang lain di
lingkungannya, dengan sifat yang ditampilkan masing-masing para key informan
dalam penelitian ini. Karena para key informan ini berusaha untuk
menyembunyikan perilaku homoseksualnya dari lingkungannya, sehingga memungkinkan mereka untuk memainkan peran yang berbeda dan sesuai dengan
situasi dan identitas sosial lingkungan sosialnya.
Hal ini terbukti dengan adanya peran yang mereka mainkan yaitu di
wilayah panggung depan (front stage), dan di wilayah panggung belakang (back
stage). Dalam front stage, Goffman membedakan antara setting dan front personal.148 Setting mengacu pada pemandangan fisik yang biasanya harus ada
disitu ketika mahasiswa homoseksual ini memainkan perannya. Setting dalam
panggung depan mahasiswa homoseksual ini terbagi menjadi dua yaitu di lingkungan rumahnya dan di lingkungan kampusnya, tempat ia menjadi seorang
mahasiswa. Sedangkan menurut Goffman front personal disini terbagi menjadi
penampilan dan gaya.149 Penampilan meliputi berbagai jenis barang yang
mengenalkan kepada kita status sosial dari mahasiswa homoseksual tersebut. Gaya mengenalkan kepada masyarakat, peran macam apa yang diharapkan mahasiswa homoseksual ini untuk dimainkan dalam situasi tertentu.
148
George Ritzer & Douglash J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana. Hal. 298.
Setelah melakukan wawancara dari ke-3 (ketiga) key informan, 1 (satu) informan pendukung dan 1 (satu) orang narasumber dapat ditarik sebuah
kesimpulan bahwa mahasiswa gay hampir semuanya memerankan peran sosial
ketika berinteraksi dengan lingkungan sosialnya yang berlainan dengan penuh kehati-hatian dan melakukan pengendalian diri dengan baik.
Ketiga key informan sepakat, bahwa mereka merupakan individu yang
memiliki peran sebagai makhluk sosial. Mereka melakukan kontak sosial dan berkomunikasi dengan semua orang. Tidak terkecuali dengan masyarakat di sekeliling mereka yang mayoritas merupakan masyarakat heteroseksual, khususnya di kota Serang. Mereka sadar terhadap situasi sosial dalam lingkungan mereka, terutama mengenai nilai dan norma sosial agama yang ada di masyarakat sekitar mengenai pilihan orientasi seksual yang dapat diterima. Masyarakat kota Serang yang mayoritas masyarakat yang beragama, merupakan masyarakat heteroseksual yang masih menganggap pilihan orientasi seksual seperti homoseksual masih tabu dan masih tidak dapat diterima.
Karena terdapat nilai maupun norma yang memberikan batas-batas pada perilaku manusia. Misalnya perempuan tidak bermain kasar, perempuan bermain boneka, laki-laki jangan menangis, laki-laki bermain pedang-pedangan dan pistol-pistolan. Sehingga secara tidak langsung hal ini memberikan arti bahwa laki-laki tidak boleh berperilaku seperti perempuan begitu juga sebaliknya. Apalagi terdapat orientasi seksual seperti homoseksual, tentu itu tidak diterima dan masih dianggap tabu oleh masyarakat khususnya kota Serang. Karena kota Serang masyarakatnya didominasi oleh masyarakat yang beragama, dan memiliki
background sebagai kota santri. Terutama di kalangan orang-orang tua jaman dahulu.
Sebagai mahasiswa, yang notabenenya seseorang yang terpelajar, maka
pandangan negatif akan segera dilayangkan pada mahasiswa gay. Mahasiswa
merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat
dengan berbagai predikat. Sehingga di mata masyarakat mahasiswa dianggap
nyaris tidak boleh memiliki kesalahan. Yang pada akhirnya, ketiga key informan
ini melakukan hal yang sama yaitu menghindari pengungkapan jati diri mereka
kepada masyarakat. Sehingga mahsiswa gay ini harus mau untuk melakukan
sebuah seni pengelolaan kesan, yang dapat diterima, agar mereka dapat berinteraksi dalam dunia sosialnya.
Mempunyai pilihan orientasi seksual yang berbeda dengan mayoritas
masyarakat di lingkungan sosialnya tentu saja tidak mudah bagi mahasiswa gay,
karena pilihan menjadi seorang gay di kota Serang yang mayoritas masyarakatnya
beragama islam dan Serang identik dengan kota santri ini masih menjadi sesuatu yang tabu yang tidak dapat diterima. Sehingga pilihannya itu hanya akan menjadi
sebuah aib yang dapat membuat malu keluarga bahkan lingkungannya. Sehingga
dengan adanya identitas sosial yang berlainan tersebut membuat mahasiswa gay
ini melakukan sebuah drama atau teknik-teknik pengelolaan informasi untuk
menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang gay agar masyarakat yang
seorang gay, apalagi mereka yang memiliki status sebagai mahasiswa, yang pada akhirnya mereka memiliki peran ganda atau dualisme peran.
Karena ketika manusia melakukan proses komunikasi, terdapat nilai maupun norma mengenai tata kelakuan yang secara sadar maupun tidak sadar memberikan batas-batas pada perilaku individu. Tata kelakuan juga merupakan alat yang memerintahkan dan sekaligus melarang seorang anggota masyarakat melakukan suatu perbuatan. Dalam hal ini, setiap masyarakat mempunyai tata kelakuan masing-masing yang sering kali berbeda satu dengan lainnya karena tata kelakuan timbul dari pengalaman masyarakat yang berbeda-beda dari masyarakat
yang bersangkutan.150
Sama seperti ketiga key informan dalam penelitian ini, di mana ketika
mereka berada di lingkungan keluarganya, yang meskipun keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi AL, EL dan YEL akan tetapi, mereka tidak berani dan masih tidak bisa untuk terbuka mengenai jati diri mereka yang sebenarnya sebagai
seorang gay. Padahal sejak kecil mereka dibesarkan dan kumpul bersama anggota
keluarganya, hal itu tidak bisa menjadi tolak ukur bagi mereka untuk terbuka mengenai rahasia akan jati diri mereka yang sebenarnya kepada keluarga. Karena
menjadi seorang gay merupakan keputusan yang mereka anggap sebagai sesuatu
yang sulit untuk diberitahukan kepada orang lain, tidak terkecuali keluarga. Karena hal tersebut merupakan aib yang tidak hanya menghancurkan nama baik dirinya sendiri, akan tetapi juga dapat menjadi aib bagi keluarganya. Sehingga
150
orang tua hanya perlu mengetahui mereka dari segi mereka sebagai laki-laki normal dan sebagai anak baik-baik dan kebanggaan dari keluarganya.
Individu gay akan menutup jati diri aslinya tersebut, meskipun terhadap
keluarga yang merupakan lingkungan terdekat dengan seseorang. Dikarenakan perilaku seksual yang dipilih merupakan perilaku yang dianggap menyimpang, dan tidak dapat diterima baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar tempat tinggalnya, yang mayoritas adalah heteroseksual.
Nilai dan norma yang ada di masyarakat berkaitan dengan peraturan dan pengendalian masyarakatnya dalam menjalani fungsi seksualnya itu lah, yang
menjadi permasalahan individu gay secara umum, yaitu perasaan terkungkung
atas jati diri sebenarnya yang dimiliki. Karena apabila mereka secara
terang-terangan atau terbongkar jati diri yang sebenarnya sebagai seorang gay, mereka
akan merasa tidak aman, dan mendapatkan tekanan psikis berupa rasa penolakan atau rasa kekecewaan baik itu di lingkungan keluarganya sendiri selaku lingungan yang paling dekat dengan setiap orang.
Menurut Goffman masalah dramaturgis itu terjadi pada orang-orang yang
mendapatkan stigma discreditable adalah stigma yang perbedaannya tidak
diketahui oleh anggota penonton, yaitu dalam penelitian ini mahasiswa homoseksual. Masalah dramaturgis mendasar bagi seseorang yang mempunyai
stigma discreditable adalah pengelolaan informasi sedemikian rupa sehingga
masalahnya tetap tak diketahui oleh orang lain.151
151
George Ritzer & Douglash J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana. Hal. 303.
Seperti permasalahan yang dialami key informan yang kedua yaitu EL, di
mana orang tua sempat mengetahui akan jati dirinya sebagai seorang gay, melalui
sebuah kejadian yang tidak terduga, di mana dahulu pada saat EL menjalin hubungan dengan kekasihnya (laki-laki), dan akhirnya hubungan tersebut berakhir, kekasihnya merasa tidak terima dengan keputusan yang dianggap sepihak itu, akhirnya membongkar semua rahasia EL mengenai identitas aslinya
sebagai gay, kepada orang tua EL. Orang tua merasa sangat marah dan kecewa
terhadap perilaku EL yang seperti itu. Dan menyuruh EL untuk bertaubat, dan kembali pada jalan yang benar, yaitu menjadi laki-laki normal yang menyukai perempuan. Semenjak kejadian tersebut, EL sangat menjaga sikap dan
perilakunya ketika berada di rumah seperti body language, ekspresi dan bertutur
kata, dan lebih rajin untuk menjalankan ibadah. Selain itu, pada saat mengajak teman-teman sesama gay-nya. EL lebih berhati-hati dan memilih mana teman yang bisa diajak ke rumah dan sifatnya tidak seperti kewanita-wanitaan. Selain itu, EL juga berusaha sedemikian rupa untuk mengelola kesan dihadapan keluarganya dan mengakui bahwa dia telah bertaubat dan berubah menjadi
laki-laki straight pada umumnya.
EL senantiasa mengelola kesannya pada saat di rumah, di mana dia
membatasi gaya berbicara, gaya berjalan, atau body language-nya pada saat
berinteraksi dengan anggota keluarganya. Hal ini dilakukan supaya keluarganya yaitu orang tua, kakak, dan adiknya tetap tidak mengetahui akan jati dirinya yang
sebenarnya sebagai seorang gay. Karena ada suatu resiko yang besar ketika
lain. Mengingat dalam hal ini, panggung tersebut bersiftat rahasia, maka hal yang
wajar bagi individu gay untuk menutupi panggung privat tersebut dengan
tampilan luar yang memukau. Karena apabila jati diri individu gay tersebut
terbongkar oleh anggota keluarganya, pasti individu gay ini akan mendapatkan
tekanan psikis dari keluarga, karena orang tua pasti akan merasa kecewa dengan
pilihannya menjadi seorang gay.
Sama halnya dengan key informan yang lainnya yaitu AL, dan YEL.
Mereka juga melakukan pengelolaan kesan untuk membentuk dan menjaga hubungan dengan anggota keluarganya masing-masing. Supaya hubungan dan komunikasi yang dijalin tetap berjalan dengan baik. Meskipun dalam hasil
wawancara yang telah dilakukan bahwa anggota keluarga dari masing-masing key
informan pernah menyatakan rasa kecurigaan mereka, para key informan berusaha
beralih atau membuat alibi sedemikian rupa, supaya rahasia mereka akan jati diri
sebagai seorang gay tetap terjaga.
Ketiga key informan dalam penelitian ini ketika berada di dalam
lingkungan keluarga lebih menjaga sikap mereka, di mana mereka membatasi
gaya bicara, gaya berjalan, atau body language mereka pada saat berinteraksi
dengan anggota keluarganya dengan gaya bicaranya yang sopan, body language
atau cara berjalan dan berbusana yang santai seperti laki-laki normal.
Begitu juga proses komunikasi yang dilakukan ketiga key informan ini, di
mana terdapat pengelolaan kesan yang hampir sama ketika mereka berada di lingkungan kampusnya. Dari penjelasan yang diterangkan oleh masing-masing
untuk melakukan pengelolaan kesan dihadapan teman-teman kampusnya, dengan bersikap sesuai dengan penampilan yang mereka tunjukkan masing-masing kepada teman-temannya tersebut. Dengan tujuan supaya teman-teman di kampusnya tidak mengetahui akan jati diri mereka yang sebenarnya sebagai
seorang gay. Di mana terdapat perbedaan pada masing-masing key informan
dalam menunjukkan penampilan mereka di hadapan teman-teman atau di lingkungan kampusnya.
Pada key informan pertama dan ketiga yaitu AL dan YEL mereka pada
dasarnya memang memiliki karakter pribadi yang ceria dan mudah untuk dekat dengan orang lain. Untuk AL sendiri Karena dari latar belakang lingkungan tempat dia bersosialisasi yang di dominasi oleh masyarakat heteroseksual dan mayoritas masyarakatnya beragama dan menganggap bahwa perilaku homoseksual tidak diterima dan masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakatnya. Sehingga memungkinkan AL untuk mengelola kesan sedemikian rupa dihadapan lingkungan sosialnya tersebut, yaitu lingkungan kampusnya dengan cara, memiliki 2 (dua) kepribadian. Menjadi pribadi heteroseksual pada saat bersosialisasi dengan lingkungan kampusnya yang mayoritas adalah
mayarakat heteroseksual. Dan menjadi dirinya yang sebenarnya yaitu gay, ketika
dia bersama dengan lingkungan sosial teman-teman gay-nya.
Meskipun AL mempunyai 2 (dua) kepribadian. Hal itu tidak merubah perilaku dan sikap yang AL tunjukkan kepada teman-temannya. AL termasuk pribadi yang ceria dan mudah untuk bergaul dengan teman-teman kampusnya. AL merupakan tipe laki-laki yang cerewet, lebay dan terkadang suka bersikap manja
kepada teman-teman kampusnya seperti layaknya seorang wanita. Dan terkadang
suka menirukan sikap dan tingkah laku wanita, dengan body language yang lemah
gemulai. Tetapi hal itu dia lakukan hanya sekedar untuk menghibur teman-temannya supaya suasana menjadi lebih menyenangkan. Hal itu juga sama seperti yang diungkapkan oleh salah satu teman kampusnya yang mengetahui AL sebagai
seorang gay.
Meskipun dari gaya berbicara dan body language yang ditampilkan oleh
AL kepada teman-teman di kampusnya yang seperti telah dijelaskan sebelumnya. Hal tersebut tidak membuat teman-temannya, terutama sahabatnya sendiri
mencurigai akan jati diri AL sebagai seorang gay. Kehidupan kaum homoseksual
selalu dikaitkan dengan teman akrabnya wanita. Semua itu telah teruji dalam
penelitian ini, hasil penelitian ini menjelaskan semua key informan dalam
penelitian ini memiliki ketika berada di lingkungan kampus lebis bisa dekat dengan perempuan sehingga teman dekat mereka ketika berada di kampus yaitu perempuan sebagai teman untuk berbagi cerita dengan mereka.
Dalam arti kata, beberapa orang terdekat kaum homoseksaul mengetahui
personal mereka. Tanpa memperdulikan dampak yang diciptakan. Akan tetapi, individu homoseksual yang menceritakan dirinya kepada seseorang tidak dapat begitu saja memilih orang untuk membuka rahasia yang disimpannya. Demikian pula ketika mereka menceritakan mengenai rahasia tentang diri mereka itu, merekapun harus memilih orang-orang yang dapat dipercaya, supaya identitas
Itu semua dilakukan oleh seorang homoseksual, supaya kerahasiaan hidup mereka dapat tersimpan dengan rapih tanpa diketahui masyarakat luas dengan menceritakan segala keluh kesah mereka kepada orang-orang yang mereka percayai. Sebagai wujud meringankan beban yang mereka rasakan.
Dan sebelum sahabatnya AL ini mengetahui akan jati diri AL yang sebenarnya, sahabatnya ini sama sekali tidak menaruh kecurigaan bahwa dia
adalah seorang gay. Dan sahabatnya ini mengakui bahwa AL benar-benar sangat
pandai dalam menjaga kerahasiaan akan jati dirinya sebagai seorang gay. Bahkan
sahabat dekatnya sendiri pun sama sekali tidak menaruh kecurigaan dan tidak
menyadari terhadap jati diri AL yang sebenarnya sebagai seorang gay sebelum
AL menceritakan sendirinya.
Meskipun dengan sikap dan tingkah laku yang AL tampilkan ketika bersama dengan teman-temannya, yaitu AL merupakan tipe laki-laki yang cerewet, lebay dan terkadang suka bersikap manja kepada teman-teman kampusnya seperti layaknya seorang wanita. Dan terkadang suka menirukan sikap
dan tingkah laku wanita, dengan body language yang lemah gemulai.
Teman-temannya tidak menaruh rasa kecurigaan dan tidak menyadari bahwa dia adalah
seorang gay.
Untuk key informan ketiga, yaitu YEL dengan karakter pribadi yang dia
tampilkan kepada teman-teman kampusnya, yang tidak jauh berbeda dengan key
informan pertama yaitu AL. Di mana key informan ketiga ini yaitu YEL
mengungkapkan hal yang sama mengenai keberadaan homoseksual khususnya
Serang identik dengan kota santri. Sehingga keberadaan homoseksual gay di kota ini masih belum dapat diterima dan masih dianggap sebagai hal yang tabu dan hanya akan menjadi aib bagi keluarganya. Sehingga untuk YEL menjaga jati
dirinya sebagai seorang gay sendiri dianggap penting.
Meskipun YEL menggangap bahwa menjaga rahasia mengenai jati diri yang sebenarnya dianggap penting. Hal ini tidak mempengaruhi YEL ketika dia bersosialisasi dengan teman-temannya. YEL merupakan individu dengan karakter pribadi yang ceria dan santai sehingga memungkinkan dia mempunyai banyak
teman. Gaya berbicara yang blak-blakan dan body language yang seperti
kewanita-wanitaan atau lemah gemulai, tidak membuat citra YEL negatif, justru dengan sikap dan tingkahnya yang seperti itu, memungkinkan suasana bersama dengan teman-teman yang ada disekelilingnya menjadi lebih menyenangkan. Hal ini lah yang membuat YEL jadi mempunyai banyak teman.
Meskipun penampilan yang diperlihatkan oleh YEL seperti itu, hal tersebut tidak membuat teman-teman YEL menjadi curiga atau menyadari akan
jati dirinya yang asli sebagai gay. Karena YEL bertingkah seperti itu hanya pada
situasi tertentu saja dan hanya dengan teman dekatnya saja. Karena bagi YEL tidak ada untungnya untuk memberitahukan akan jati dirinya yang sebenarnya
kepada orang lain bahwa dia adalah seorang gay. Karena hal tersebut merupakan
aib yang dapat mencemarkan nama baiknya dan hanya akan memalukan keluarganya saja.
Sedangkan untuk key informan kedua yaitu EL, EL merupakan laki-laki
gay. Baik secara fisik maupun tingkah laku atau body language-nya.
Penampilannya pun stylish, trendy dan fashionable. Pada saat peneliti melakukan
proses wawancara dan melakukan observasi terhadap sikap dan tingkah laku EL, peneliti pun sangat terkejut dan tidak menyangka sama sekali bahwa dengan
tampang yang cukup tampan dan badan yang gagah seperti itu ternyata key
informan kedua ini yaitu EL adalah seorang gay.
EL merupakan laki-laki homoseksual yang metroseksual, yaitu laki-laki homoseksual yang sangat menjaga kebersihan tubuhnya mulai dari muka sampai rambut. Sehingga penampilannya pun sangat bersih, rapih dan wangi. Dengan postur tubuh yang tinggi, kulit yang sawo matang dan bersih serta pakaian yang
fashionable membuat EL sangat berbeda dengan kedua key informan sebelumnya.
Bahkan body language yang ditampilkan EL pun tidak seperti kedua key informan
sebelumnya, dimana AL dan YEL terkadang suka menunjukkan body language
maupun gaya berbicara seperti kewanita-wanitaan atau lemah gemulai.
Sehingga teman-teman di lingkungan kampusnya pun tidak sama sekali memiliki rasa kecurigaan ataupun menyadari akan jati diri yang sebenarnya
sebagai seorang gay. Jadi bisa sangat dibedakan antara ketiga key informan ini,
dimana masing-masing memiliki gaya dan tampilan yang berbeda-beda ketika berhadapan dengan orang lain atau dengan teman di lingkungan kampusnya.
Karena dampak yang dapat ditimbulkan, apabila individu homoseksual melakukan pengungkapan diri kepada lingkungan sosial, maka memungkinkan reaksi yang didapatkan yaitu menimbulkan diskriminasi dari lingkungan sosial. Diskriminasi dan tekanan sosial menyebabkan mereka hidup dengan identitas
ganda di kehidupan heteroseksual. Mereka tidak dapat bebas mengekspresikan
dirinya sebagai seorang gay yang juga hidup untuk belajar dan bersosialisasi
dengan lingkungan sekitar tempat dia menjadi bagian dari anggota lingkungan sosialnya tersebut, khususnya pada masyarakat yang mayoritas heteroseksual. Karena individu homoseksual mendapatkan stigma terdiskreditkan dari lingkungannya. Sehingga masalah dramaturgis mendasar bagi seorang yang mempunyai stigma terdiskreditkan adalah pengelolaan informasi sedemikian rupa
sehingga masalahnya tetap tak diketahui oleh orang lain. 152
Mahasiswa homoseksual pada akhirnya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan nilai dan norma yang ada. Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal
dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Dalam hal ini penyesuaian
diri yang dimaksud adalah penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini menyiratkan bahwa disana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial maupun emosional. Dalam sudut pandang ini, individu selalu diarahkan kepada tuntuan konformitas dan terancam akan tertolak dirinya manakala perilaku tidak sesuai dengan
norma-norma yang berlaku.153
Dalam penelitian ini ada beberapa cara individu homoseksual berperilaku ganda dalam kehidupan dengan masyarakat heteroseksual. Seperti pandai menjaga
152 George Ritzer & Douglash J. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Hal. 303.
153
Mohammad Ali & Mohammad Asrori. 2009. Psikologi Remaja Perkembagan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara. Hal.173-174.
diri, dan menempatkan diri ketika berada di lingkungan sosial, berusaha untuk menutupi diri, serta berperilaku normal.
Ada beberapa alasan yang membuat homoseksual masih bertahan dengan kehidupan mereka saat ini. Yaitu rasa kenyamanan yang didapat dari pasangan
saat ini, dan faktor biologis yang didapat. Di mana individu homoseksual gay
membutuhkan hasrat dan keinginan untuk melakukan biologis sesuai dengan orientasi seksualnya.
Berat untuk menjalani kehidupan dengan dua sisi yang berbeda. Itu yang
dirasakan homoseksual gay dalam penelitian ini ketika berinteraksi dan berbaur
dengan lingkungan sosialnya yang berada di wilayah panggung depan. Sehingga
ketiga key informan ini juga membutuhkan tempat di mana mereka dapat
bersantai dengan orang-orang disekeliling mereka tanpa harus berpura-pura dan