• Tidak ada hasil yang ditemukan

REDESAIN BIMTEK BADAN ADHOC PENYELENGGARAAN PEMILU

(BEST PRACTICE PADA PELAKSANAAN PEMILU 2019 DI JAWA BARAT)

Endun Abdul Haq1 Pendahuluan

P

emilu Serentak 2019 silam memang sangat fenomenal. Pemilu yang untuk pertama kali dalam perjalanan sejarah 12 (dua belas) kali pemilu di Indonesia yang menyerentakkan pemilihan legislatif dan pemilihan eksekutif dalam satu hari tersebut menyisakan kenangan suka dan duka. Terlepas kekurangannya, Pemilu 2019 mencatatkan sejarah baru sebagai yang terbesar penyelenggaraannya dalam sehari dengan 5 (lima) kotak suara. Tak saja kerumitan teknis, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang hanya dua pasangan calon dan serta durasi kampanye yang cukup panjang, menyisakan polarisasi politik yang meluas, yang melelahkan secara psikologis, baik dari sisi penyelenggara, peserta, serta pemilih.

Di balik dinamika politik dan kerumitan teknis Pemilu 2019 yang luar biasa, satu sisi yang perlu diapresiasi sebagai salah satu kesuksesan pelaksanaan Pemilu 2019 adalah antusiasme masyarakat sebagai pemilih yang hadir ke TPS pada hari pemungutan suara sangat tinggi. Tak hanya itu, masyarakat pun kini sudah cerdas dalam menanggapi berbagai opini dan isu yang dikembangkan oleh kekuatan-kekuatan politik tertentu yang mengarah kepada berhadapannya antar-kelompok masyarakat. Upaya itu membutuhkan sinergi semua pihak, terkhusus di Jawa Barat. Pendekatan budaya politik “urang sunda” yang mempunyai tagline silih asah, silih asih, dan silih asuh dinamika politik dapat berujung dengan baik.

Tulisan singkat mengeksplorasi sisi manajemen teknis dari satu aspek, yaitu pemahaman dan internalisasi pengetahuan, skill, serta profesionalisme penyelenggara yang dilaksanakan melaui bimbingan teknis kepada badan adhoc. Sukses dan lancarnya perhelatan politik demokrasi electoral berujung pada kinerja badan penyelenggara di lapangan. Panitia

1. Komisioner KPU Provinsi Jawa Barat

Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mempunyai beban berat untuk menyukseskan penyelenggaraan pemilu yang berintegritas, namun hal itu tidak akan tercipta tanpa adanya semangat dari mereka untuk melaksanakan tugas dan kewajiban dengan sebaik-baiknya, jujur, adil, dan transparan terhadap hasil pemilu yang ada. Kesalahan-kesalahan yang ada dalam menjalankan tugas dan kewajibannya harus dapat diminimalisir sehingga hasil yang ada dapat dipertangungjawabkan. Semua itu diawali dari proses sosialisasi dan internalisasi yang didesain melalui kegiatan bimbingan teknis yang berjenjang.

Bimbingan Teknis dan Kualitas Kinerja

Pengembangan kemampuan (capacity building) penyelenggara melalui pembekalan dan bimbingan teknis di tiap-tiap tingkatan panitia adhoc mulai dari PPK, PPS, dan KPPS harus dilaksanakan dengan seksama, karena berkaitan dengan kinerja badan adhoc, khususnya dalam melaksanakan puncak tahapan di hari-H pemungutan dan penghitungan suara. Mengkaji teori kualitas dan kinerja, tentu muaranya kepada personel manusia itu sendiri beserta hasil kerjanya. Ketika manusia berada dalam satu kelompok yang ditugaskan untuk melaksanakan suatu pekerjaan, tentu yang diharapkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan standar kualitas.

Untuk memperoleh hasil kerja yang berkualitas yang dilakukan badan adhoc, tentu yang memegang peranan penting adalah para personel itu sendiri yang sudah melalui proses awal rekruitmen yang terukur.

Kualitas kerja mengacu pada kualitas sumberdaya manusia, di mana kualitas sumberdaya manusia mengacu pada: (a). pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan yang dimiliki calon badan adhoc tersaebut yang lebih berorientasi pada intelegensi dan daya pikir serta penguasaan ilmu yang luas yang dimiliki penyelenggara pemilu; (b). keterampilan (skill), yaitu kemampuan dan penguasaan teknis

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

operasional kepemiluan yang dimiliki badan adhoc;

(c). kemampuan (abilities), yaitu kemampuan yang terbentuk dari sejumlah kompetensi yang dimiliki seorang yang mencakup loyalitas, kedisiplinan, kerja sama, dan tanggung jawab. Di samping ketiga hal yang menjadi dasar kualifikasi dalam melihat kualitas kerja seorang di atas, kualifikasi lain yang penting adalah pengalaman, umur, jenis kelamin, pendidikan, keadaan fisik, tampang, bakat, temperamen, dan karakter (Matutina, 1993:10).

Penyampaian informasi dan pengetahuan substansi dan teknis kepemiluan, melatih dan mendalami keterampilan teknis kepemiluan sehingga terbentuk kemampuan dan penguasaan secara keseluruhan manajemen pemilu tentu melalui salah satunya dengan bimbingan teknis/bimtek (transfer of knowledge). Oleh karena itu bimbingan teknis akan sangat berpengaruh terhadap kinerja penyelenggara pemilu apabila dilakukan dengan terencana dan seksama, serta direncanakan dengan baik menyangkut fasilitator/tutor, metodologi, kurikulum, dan desain bimtek itu sendiri.

Problem Akut Bimtek

Pelaksanaan bimtek khususnya kepada badan penyelenggara adhoc PPK, PPS, dan KPPS sesungguhnya sangat strategis dalam membentuk karakter, komitmen, dan kemampuan penyelenggara pemilu. Namun kadang dalam pelaksanaannya, bimtek tidak berjalan sesuai harapan dan terkesan yang penting informasi dan pemahaman teknis sudah tersampaikan, tanpa ada alat ukur yang sistematis dalam mencapai tingkat efektivitas dan keberhasilannya. Sesuai dengan pengalaman Penulis beberapa kali mengikuti dan melaksanakan bimtek, ada probem akut pelaksanaan bimtek, di antaranya pelaksanaan bimtek yang monoton/membosankan, pelaksanaan bimtek yang dilakukan sangat terbatas, baik intensitas dan keikutsertaan peserta, bimtek dilaksanakan berjenjang dan akhirnya mengakibatkan banyak informasi yang tidak sampai (distorsi dan disinformasi) sehingga informasi sampai ke tingkat paling bawah menjadi tidak utuh

Pelaksanaan bimtek yang monoton dan

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

membosankan diakibatkan kadang menggunakan metode yang satu arah, tidak dinamis, metode instruktif, dan menggunakan model lama. Tidak ada persiapan tutor/mentor terlatih yang kompeten, tidak disiapkan alat atau tools yang dibutuhkan untuk mendukung materi dan kadang dilaksanakan tidak terencana. Pelaksanaan bimtek yang sangat terbatas yang dilakukan hanya beberapa kali menyebabkan pemahaman yang tidak sempurna dan tidak komprehensif. Bimtek yang dilakukan terbatas mengakibatkan kurang terinternalisasi pemahaman teknis yang harusnya dilakukan secara terus-menerus dan terlatih dengan pembiasaan.

Termasuk juga soal jumlah peserta yang kadang sangat terbatas sehingga tidak semua anggota badan penyelenggara memahami secara keseluruhan.

Hal ini kadang merupakan imbas dari anggaran yang sangat terbatas. Padahal kalau melihat betapa strategisnya penyampaian dan pemahaman informasi dan skill kepemiluan, keberhasilan bimtek ini sangat menentukan kinerja badan penyelenggara.

Pelaksanaan bimtek yang berjenjang, menurut hemat Penulis merupakan sumbangsih dari problem akut pelaksanaan bimtek, penyampaian informasi secara berjenjang ini mengakibatkan banyak informasi dan skill kepemiluan yang tidak tersampaikan secara utuh kepada badan penyelenggara di bawahnya. Tentu hal ini diakibatkan juga keterbatasan sumberdaya dan bisa jadi teknis pelaksanaan bimtek itu sendiri yang sekadar asal dilaksanakan. Pelaksanaan bimtek semacam ini kadang tidak didukung juga oleh sarana dan prasarana pendukung, semisal video tutorial, buku saku, poster, leaflet, atau buku panduan yang simpel yang mudah dipahami dan dapat diinternalisasi secara personal masing-masing badan penyelenggara. Akibatnya pemahaman dan internalisasi pengetahuan dan teknis kepemiluan terpotong di level personal yang bersangkutan, sementara mereka dituntut harus memahami secara utuh karena akan disampaikan kembali kepada jajaran di bawahnya dalam bimtek lanjutan.

Rekomendasi Solusi: Redesain Bimtek

Berikut adalah rekomendasi solusi sesuai dengan pengalaman Penulis di Jawa Barat, dengan mencermati berbagai pelaksanaan bimtek

sebelumnya. Rekomendasi ini merupakan evaluasi dari sisi teknis pelaksanaan, evaluasi metode, maupun evaluasi materi/kurikulum yang sangat dibutuhkan oleh badan adhoc penyelenggara. Paling tidak ada 7 catatan redesain bimtek yang sudah dilakukan di Jawa Barat, sebagai tawaran untuk pelaksanaan bimtek-bimtek yang akan datang.

Pertama, pelaksanaan bimtek selalu diawali oleh pretest dan diakhiri postest. Hal ini dilakukan sebagai upaya membuat alat ukur efektivitas pelaksanaan bimtek. Alat ukur tersebut dipergunakan untuk mengevaluasi efektivitas tutor/

mentor/fasilitator, metodologi bimtek, materi/

kurikulum bimtek, serta pelaksanaan teknis bimtek.

Pretest dilakukan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan kemampuan teknis peserta sebelum dilakukan bimtek. Postest dilakukan untuk mengukur daya tangkap dan kemampuan pemahaman dan pendalaman setelah bimtek dilaksanakan. Alat ukur dimaksud diformat dalam bentuk pretest maupun postest yang didesain berisi pengetahuan substantif maupun soal keteknisan.

Kedua, pelaksanaan bimtek yang partisipatif dengan mixmethod, yaitu presentasi dan diskusi.

Bimtek dengan metode campuran dengan mengutamakan partisipasi keikutsertaan peserta dengan tujuan bimtek berlangsung secara dinamis dan solutif. Problem di lapangan sangat dinamis dan perlu solusi. Melihat peserta bimtek yang beragam juga memerlukan strategi partisipatif dan kolaboratif dengan menggunakan pembelajaran andragogi, yaitu pembelajaran bimtek yang partisipatif, melibatkan semua peserta secara aktif, diskusi, tukar pikiran gagasan dan ide serta pengalaman dan solusi, berbagi pengalaman dan gagasan mencari jalan keluar atas setiap pengalaman di lapangan. Model seperti ini sering diterapkan di Jawa Barat dengan istilah metode BRIDGE (Building Resources in Democracy, Government and Election).

Ketiga, pelaksanaan bimtek selalu diselingkan kegiatan energizer dan icebreaking. Hal ini tentu dilakukan untuk membuat dan menciptakan suasana forum bimtek tidak membuat jenuh, membosankan, dan monoton, menghangatkan suasana bimtek yang cenderung formal dan kaku. Tentu situasi formal dan kaku serta kemampuan konsentrasi peserta

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

bimtek harus di-refresh. Jika tidak, hal tersebut akan berpengaruh untuk transfer pengetahuan dan pendalaman kemampuan peserta bimtek.

Model energizer dan icebreaking yang beragam menyesuaikan beragamnya peserta dengan latar belakang yang berbeda akan memecah suasana dan menguatkan kembali kemampuan dan daya konsentrasi peserta bimtek.

Keempat, pelaksanaan bimtek di Jawa Barat pada pengalaman Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilu 2019 didesain dengan memperbanyak intensitas dan jumlah peserta. Pengalaman sebelumnya intensitas pelaksanaan bimtek sangat terbatas hanya dilakukan satu atau paling banyak dua kali pelaksanaan, termasuk terbatasnya jumlah peserta yang biasanya hanya satu atau dua orang dilibatkan langsung sebagai peserta. Tentu hal ini akan sangat berpengaruh kepada alokasi anggaran yang harus cukup memadai. Intensitas bimtek yang sering dan memperbanyak peserta yang dilibatkan tentu akan berpengaruh kepada pemahaman badan adhoc secara merata dan pendalaman pengetahuan dan kemampuan kepemiluan akan semakin baik.

Kelima, pelaksanaan bimtek selain penyampaian materi substantif dan teknis kepemiluan juga ditambah materi internalisasi integritas dan etika penyelenggara. Persoalan integritas dalam tubuh penyelenggara khususnya badan adhoc pemilu merupakan hal penting untuk terus dibenahi.

Bimtek sangat menekankan manajemen organisasi penyelenggara pemilu yang tertib dan profesional, baik dalam kerangka mengelola dan menjalankan peraturan administrasi pemilu, menegakkan peraturan tindak pidana pemilu, maupun terkait dengan pelaksanaan peraturan penegakan kode etik penyelenggara pemilu. Oleh sebab itu, melalui bimtek penyelenggara pemilu badan adhoc tidak hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya, tetapi juga harus mempunyai kemampuan melaksanakan tugas secara berintegritas untuk menghindari masalah yang akan terjadi nantinya.

Keenam, pelaksanaan bimtek dengan memperbanyak simulasi. Hal ini dilakukan agar pemahaman teori dan daya tangkap kognisi peserta dipraktikkan dengan simulasi secara detail. Terlebih

pelaksanaan bimtek menyangkut tahapan puncak pemungutan dan penghitungan suara. Tahapan puncak yang terdiri dari subtahapan pemungutan dengan berbagai aktivitasnya, penghitungan dengan berbagai kebutuhan adminsitrasinya termasuk pengenalan dan tata cara penulisan formulir yang jenisnya cukup banyak. Masing-masing personel dengan tugas pokok masing-masing diinternalisasi dengan praktik dan simulasi agar memahami dan mengerti pada saat hari-H yang sebenarnya.

Ketujuh, pelaksanaan bimtek dilaksanakan oleh badan adhoc setingkat atau dua tingkat di atasnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir distorsi informasi dan misinformasi. Beragamnya latar belakang penyelenggara badan adhoc dari sisi pendidikan, pengalaman, dan jejaring tentu berpengaruh kepada daya tangkap dan daya paham dalam mengikuti bimtek. Tuntutan untuk melakukan transfer pengetahuan dan sharing pengalaman dari bimtek sebelumnya ke bimtek berikutnya tentu sangat dipengaruhi oleh daya paham dirinya. Kekhawatiran penyampaian informasi apabila dilakukan secara berjenjang informasi yang disampaikan tidak utuh dan lengkap. Penting kiranya dipertimbangkan bimtek KPPS, misalnya dilakukan oleh PPK atau bimtek PPS dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota.

Dengan desain seperti ini paling tidak ada jaminan informasi yang disampaikan utuh dan bisa dieksekusi oleh badan adhoc penyelenggara pemilu.

Dengan demikian, bimbingan teknis bagi badan adhoc adalah suatu kegiatan yang sangat strategis dan menentukan dalam pelaksanaan tugas-tugas kepemiluan, terlebih dalam pelaksanaan puncak pemungutan dan penghitugan suara yang merupakan rangkaian dan akumulasi dari semua tahapan dan menentukan kualitas kinerja badan penyelenggara pemilu secara keseluruhan. Kinerja KPPS, PPS, dan PPK dapat dilaksanakan dengan baik apabila bimtek dapat didesain dengan efektif dan terukur serta komitmen dari penyelenggara di atasnya, baik KPU Kabupaten/Kota, KPU Provinsi, dan KPU RI sebagai penanggung jawab dari keseluruhan proses tahapan pemilu di Indonesia.

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIAKOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PENETAPAN