• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUARA DALAM PEMILU 2019 DI KALIMANTAN UTARA

Teguh Dwi Subagyo1

Wilayah Administratif, Jumlah TPS, dan Pemilih DPT Pemilu 2019 di Provinsi Kalimantan Utara

P

rovinsi Kalimantan Utara terdiri atas 4 (empat) kabupaten dan 1 (satu) kota, memiliki 53 (lima puluh tiga) kecamatan, dan 482 desa/

kelurahan. Nunukan merupakan wilayah kabupaten yang paling banyak memiliki jumlah kecamatan dan desa. Kota Tarakan merupakan wilayah yang paling banyak jumlah penduduknya. Sementara Kabupaten Tana Tidung adalah wilayah kabupaten dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kalimantan Utara dan bahkan di Indonesia. Kabupaten Malinau memiliki wilayah yang paling luas di Kalimantan Utara karena memiliki lebih separuh dari wilayah.

Gambaran mengenai wilayah dan tata ruang kabupaten dan kota yang ada di Kalimantan Utara dapat dilihat pada Gambar 1 dan Tabel 13.1 berikut ini:

Gambar 13.1. Peta Wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Utara

Sumber: Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

1. Divisi Teknis Penyelenggaraan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalimantan Utara

Tabel 13.1. Jumlah Kecamatan, Desa/

Kelurahan, TPS, dan Data Pemilih DPT pada Pemilu 2019 di Kalimantan Utara

No. Kabupaten/

Kota Jumlah Kecamatan Jumlah Desa/

Kelurahan Jumlah TPS Jumlah Pemilih

1. Bulungan 10 81 436 95.633

2. Malinau 15 109 290 52.504

3. Nunukan 19 240 757 132.739

4. Tana Tidung 5 32 73 14.968

5. Kota Tarakan 4 20 630 154.264

Total 53 482 2.186 450.108

Sumber: KPU Kalimantan Utara

Karakteristik wilayah Kalimantan Utara yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi proses pelaksanaan Pemilu 2019 adalah sebagai berikut:

1. Memiliki beberapa pulau dan wilayah kecamatan/desa yang belum dapat dijangkau dengan transportasi darat dan harus menggunakan moda transportasi air dengan speedboat melalui sungai dan laut ataupun pesawat terbang perintis. Kondisi ini sangat mempengaruhi pelaksanaan tahapan pemilu, antara lain dalam hal distribusi logistik, bimbingan teknis, maupun supervisi;

2. Beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Bulungan, serta Tana Tidung masih memiliki kendala berupa ketersediaan jaringan telekomunikasi yang terbatas. Kondisi ini sangat berpengaruh pada proses rekapitulasi, apalagi dalam penerapan e-rekap pada masa yang akan datang;

3. Berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu Malaysia, yang sangat berpotensi terjadinya mobilisasi pemilih, khususnya yang terjadi di wilayah Kabupaten Nunukan

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

dengan pintu awal masuk transit melalui Kota Tarakan. Kondisi ini juga akan berdampak pada penurunan akurasi data pemilih yang secara tidak langsung berdampak pada turunnya tingkat partisipasi pemilih;

4. Sebagian desa di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, dan Kabupaten Nunukan memiliki jumlah penduduk yang sangat sedikit sehingga desa-desa tersebut hanya memiliki 1 TPS dalam setiap pemilu/pemilihan. Kondisi ini menyulitkan dalam pembentukan penyelenggara adhoc karena terbatasnya jumlah dan kualitas sumberdaya manusia yang memadai;

5. Terdapat beberapa TPS di desa-desa terpencil, namun lokasinya dekat dengan konsentrasi karyawan di camp perusahaan, yang berpotensi memerlukan pelayanan sebagai pemilih pindahan;

6. Memiliki sejarah konflik antaretnis, yang potensial akan muncul jika terjadi persoalan kecurangan ataupun pelanggaran lain di dalam tahapan pemilu.

Kondisi sebagian masyarakat Kalimantan Utara yang berada di pedalaman dengan keyakinan adat yang kuat, namun kualitas sumberdaya manusianya sebagian masih tertinggal, tentu sangat rentan dalam mendapatkan pelayanan menggunakan hak pilihnya secara maksimal dalam Pemilu.

Masyarakat adat termasuk sebagai warga berhak pilih yang rentan karena tiga hal. Pertama, karena tempat tinggalnya yang jauh, terisolir, berpindah-pindah, atau karena ketiganya sehingga mereka sulit diakses. Kedua, karena kekuasaan hukum publik yang tidak mengakui bahkan mengambil kepemilikan dari tanah adat (ulayat) yang dimiliki secara kolektif oleh masyarakat adat. Ketiga, karena konsep internal keyakinan masyarakat adat.2

Dari jumlah total 53 kecamatan yang ada di Kalimantan Utara, terdapat beberapa kecamatan yang aksesnya sangat terbatas, hanya dapat dilalui lewat jalur laut dan sungai, bahkan ada sebagian yang hanya dapat dijangkau menggunakan pesawat dari ibukota kabupaten. Lima kecamatan di Krayan dan sekitarnya merupakan wilayah yang cukup unik karena hanya dapat diakses melalui jalur pesawat dari Nunukan dengan frekuensi terbatas,

2. Kata Pengantar Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perludem dalam Buku Perlindungan Hak Memilih Warga di Pemilu 2019 dan Keterwakilan Perempuan di Lembaga Penyelenggara Pemilu, Halaman vii

namun mempunyai akses yang sangat mudah ke negara tetangga Malaysia dengan transportasi darat.

Sebagian besar penduduknya bahkan memiliki armada mobil yang cukup berkelas seperti Toyota Hilux yang mereka dapatkan dari negara Malaysia dengan harga jauh lebih murah daripada harga di Indonesia. Dengan armada tersebutlah masyarakat Krayan menjual hasil pertanian, utamanya padi/

beras ke negeri seberang. Wilayah kecamatan dengan akses terbatas secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 13.2 berikut ini:

Tabel 13.2. Wilayah Kecamatan di Kabupaten Nunukan dan Malinau dengan Akses Terbatas

No. Kabupaten/Kecamatan Akses dari Ibukota

Kabupaten Keterangan

Hanya dengan pesawat perintis, dengan waktu tempuh 1 jam

Jadwal tidak tetap, sangat tergantung kondisi cuaca (pegunungan) dan berlaku skala prioritas penumpang, karena jumlah kursi (seat) terbatas

- Lumbis Ogong - Lumbis Pansiangan - Lumbis Hulu

Melalui sungai, dengan waktu

tempuh 4-14 jam Tidak ada angkutan reguler, harus carter yang sangat mahal

- Sembakung Ada beberapa desa yang harus dijangkau melalui perjalanan sungai dari pusat kecamatan 2. Tana Tidung

- Tana Lia Melalui laut dan sungai, waktu tempuh 2 jam

Dengan pesawat perintis 1 jam

dari Malinau Jadwal tidak tetap, sangat tergantung kondisi cuaca (pegunungan). Berlaku skala prioritas penumpang, karena seat terbatas

- Pujungan - Bahau Hulu - Mentarang Hulu - Sungai Tubu

Menggunakan longboat dan/

atau ketinting (perahu tempel) -Kecamatan Pujungan harus dijangkau melalui jalan darat selama 3,5 jam dilanjutkan dengan longboat menyusuri sungai selama sehari semalam (harus menginap) di perjalanan.

-Kecamatan Bahau Hulu dilanjutkan dengan menggunakan perahu tempel kurang lebih selama 3 jam dari Pujungan.

-Mentarang Hulu menggunakan longboat selama 8 jam dari Malinau (sudah dibangun jalan darat namun aksesnya belum layak).

-Sungai Tubu dengan longboat selama 12 jam (sudah dibangun jalan darat namun aksesnya belum layak).

Sumber: KPU Kabupaten Nunukan, Tana Tidung dan Malinau

Data Pemilih dan Pengguna Hak Pilih di Desa dengan 1 TPS dan di TPS Terpencil

Terdapat 4 (empat) kabupaten yang memiliki beberapa desa dengan hanya 1 TPS, yaitu Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Tana Tidung. Secara lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 13.3 berikut ini:

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

Tabel 13.3. Data Pemilih dan Pengguna Hak Pilih pada Desa dengan 1 TPS di Kalimantan Utara dalam Pemilu 2019

No. Kabupaten Jumlah Desa 1 TPS

1 Bulungan 23 4.182 56 182 3.467 82.90

2 Tana Tidung 13 2.372 92 183 2.122 89.46

3 Malinau 60 8.033 41 134 6.459 80.41

4 Nunukan 183 20.141 22 110 18.917 93.92

279 34.728 125 30.965 89.16

Sumber: KPU Kabupaten Kota se-Kaltara dan http://

pemilu2019.kpu.go.id

Secara lebih spesifik lagi, berikut disajikan jumlah TPS sebagaimana disajikan pada Tabel 13.3 di atas yang jumlah pemilihnya kurang atau sama dengan 100.

Tabel 13.4. Desa 1 TPS dengan Pemilih sampai dengan 100 Orang di Kalimantan Utara dalam Pemilu 2019

No. Kabupaten Jumlah TPS dengan Ʃ Pemilih..

≤ 50 51- 100

1 Bulungan - 3

2 Tana Tidung - 2

3 Malinau 2 19

4 Nunukan 27 79

29 103

Sumber: KPU Kabupaten se-Kalimantan Utara, diolah oleh Penulis

Terdapat 14 TPS di Provinsi Kalimantan Utara yang jumlah pemilih dalam DPT-nya kecil dengan posisi jauh dari desa/TPS lain, namun jumlah pemilih dalam DPTb yang terdaftar sebelum hari pemungutan cukup besar karena lokasinya berdekatan dengan konsentrasi karyawan di camp perusahaan. Kondisi tersebut ditemukan di Kabupaten Bulungan yang terdiri atas 4 TPS, yaitu TPS 4 Desa Sajau, TPS 3 Desa Mangkupadi, TPS 2 Desa Tanah Kuning, dan TPS 5 Desa Antutan. Di Kabupaten Tana Tidung terdapat TPS 2 Desa Menjelutung; sementara di Kabupaten Malinau terdapat 6 TPS, yaitu TPS 1 Desa Long Pada, TPS 1, 2, dan 3 Desa Long Loreh, serta TPS 1 dan 2 Desa Sengayan. Kemudian di Kabupaten Nunukan terdapat 3 TPS, yaitu TPS 1, 2, dan 3 Desa Tepian. Rekapitulasi data seluruh TPS dimaksud dapat dilihat dalam Tabel 13.5 berikut ini:

Tabel 13.5. DPTb TPS Terpencil yang Lokasinya Berdekatan dengan Camp Perusahaan

No. Kabupaten Jumlah TPS Jumlah Total DPT DPTb

Terdaftar Pengguna Hak

Pilih DPT Pengguna Hak Pilih DPTb

1 Bulungan 4 627 258 458 90

2 Tana Tidung 1 107 158 84 0

3 Malinau 6 1.208 233 962 106

4 Nunukan 3 534 367 421 10

14 3.476 1.016 1.925 206

Sumber: KPU Kabupaten se-Kaltara dan http://pemilu2019.

kpu.go.id

Problematika Pemungutan dan Penghitungan Suara di Kalimantan Utara

Persoalan Kepastian dan Kesesuaian Regulasi Sebelum Hari Pemungutan Suara

Menjelang pemungutan suara, penyelenggara adhoc di Kalimantan Utara cukup dirisaukan dengan kebijakan penetapan DPT Pemilu 2019 yang diperpanjang beberapa kali. Terakhir pada 12 April 2019 masih dilakukan rapat pleno penetapan Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Ke-3 (DPTHP-3).

Keterlambatan tahapan pemutakhiran data pemilih berdampak terhadap kepastian jumlah DPT, DPTb, dan DPK yang tentu sangat mempengaruhi proses penyiapan dan distribusi surat suara di setiap TPS.

Kondisi ini juga mempengaruhi persiapan menjelang hari-H karena KPU Kabupaten/Kota sudah harus fokus untuk memastikan penguasaan penyelenggara adhoc dalam teknis pemungutan dan penghitungan suara.

Regulasi yang mengatur jumlah surat suara per TPS, yang berubah juga sempat membingungkan.

Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2019 tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara dalam Pemilihan Umum pada Pasal 21 ayat (2) menyatakan bahwa jumlah surat suara sama dengan jumlah pemilih yang tercantum di dalam DPT dan DPTb ditambah dengan 2% (dua persen) dari DPT sebagai cadangan.

Ditambah fakta bahwa pada April 2019, penyusunan DPT, DPK, dan DPTb masih berlangsung disertai dengan adanya wacana akan mengatur pendirian TPS berbasis DPTb, yang semakin menguatkan pemahaman penyelenggara bahwa surat suara akan dipenuhi sesuai bunyi Pasal 21 ayat (2) PKPU tersebut. Norma yang diatur dalam PKPU 3 Tahun 2019 tersebut sebenarnya sesuai dengan amanat UU 7/ 2017 tentang Pemilihan Umum, khususnya Pasal 350 ayat (3), yaitu bahwa jumlah surat suara di setiap TPS sama dengan Pemilih yang tercantum di dalam daftar pemilih tetap dan daftar pemilih tambahan ditambah dengan 2% (dua persen) dari daftar pemilih tetap sebagai cadangan.

Kemudian aturan tersebut mengalami perubahan dalam Peraturan KPU Nomor 9 Tahun 2019 yang merupakan perubahan PKPU Nomor 3/2019. Dalam pasal 21 ayat (2) PKPU perubahan

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

tersebut dijelaskan bahwa surat suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang digunakan untuk melayani pemilih yang tercantum dalam DPT, DPTb, dan untuk DPK sepanjang masih tersedia surat suaranya. Pasal dan ayat ini sudah tidak lagi mengatur berapa alokasi jumlah surat suara yang harus disediakan setiap TPS.

Pengaturan jumlah surat suara per TPS tertuang di dalam Surat Keputusan KPU RI Nomor: 600/HK.03.1-Kpt/07/KPU/III/2019 tentang Perubahan atas Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 999/HK.03.1-Kpt/07/KPU/VII/2018 tentang Kebutuhan dan Spesifikasi Teknis Perlengkapan Penyelenggaraan Pemilihan Umum. Dalam Tabel 1 Lampiran 1 Keputusan KPU ini, pada huruf A angka 2 disebutkan bahwa kebutuhan surat suara adalah:

masing-masing sejumlah pemilih di DPT ditambah 2% (dua persen) dari jumlah pemilih DPT sebagai cadangan dari setiap jenis surat suara di setiap TPS. Aturan ini berbeda dengan perintah undang-undang dan peraturan KPU. Kesimpangsiuran ini membingungkan penyelenggara di lapangan, di satu sisi KPU melakukan perpanjangan pemutakhiran data pemilih diikuti dengan wacana untuk pengadaan surat suara bagi pemilih DPTb dan DPK, namun menjelang hari pemungutan suara ada perubahan peraturan bahwa alokasi surat suara setiap TPS hanya untuk pemilih dalam DPT ditambah 2% dari jumlah DPT sebagai cadangan. Akibatnya ada kepanikan yang cukup serius di daerah yang terpencil, dengan DPT kecil, namun pemilih DPTb yang sudah terdaftar sebelum hari pemungutan suara sudah cukup besar, bahkan ada yang melebihi jumlah DPT di TPS tersebut sebagaimana disajikan dalam Tabel 4 dan 5. Posisinya yang sangat jauh menyebabkan tidak memungkinkan untuk memindahalokasikan DPTb tersebut ke TPS lain.

Perpanjangan masa penetapan DPT, perubahan regulasi alokasi surat suara per TPS, serta wacana pembentukan TPS berbasis DPTb sangat berpengaruh dalam perencanaan pengadaan dan distribusi logistik, khususnya bagi Kabupaten Nunukan dan Malinau yang memiliki beberapa kecamatan dengan akses yang sangat dibatasi oleh alam serta ketersediaan moda transportasi yang ada sebagaimana tersaji dalam Tabel 2. Beruntung, realitasnya pada hari pemungutan suara, beberapa TPS hanya sebagian kecil pemilih DPTb yang hadir menggunakan hak pilihnya, khususnya pemilih DPTb yang berasal dari camp perusahaan yang lebih memilih untuk tetap berada di camp, daripada harus

pergi jauh ke TPS yang terdekat.

Terkait ketentuan mengenai batasan waktu pemilih dalam DPTb untuk melapor sehingga dapat diberikan kesempatan memilih di TPS lain, terjadi multitafsir. Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2019 tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara dalam Pemilihan Umum pada Pasal 8 ayat (5) menyatakan:

“Dalam hal Pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan suara di TPS lain atau TPSLN, Pemilih wajib melapor kepada PPS tempat asal memilih untuk mendapatkan formulir Model A.5-KPU dengan menunjukkan KTP-el atau identitas lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3), dan/atau salinan bukti telah terdaftar sebagai Pemilih dalam DPT di TPS tempat asal memilih menggunakan formulir Model A.A.1-KPU, dan melaporkan pada PPS atau PPLN tempat tujuan memilih paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum hari Pemungutan Suara”.

Kemudian dalam Peraturan KPU 9/2019, pengaturannya diubah sebagai berikut: “Dalam hal Pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan suara di TPS lain atau TPSLN, Pemilih wajib melapor kepada PPS tempat asal memilih untuk mendapatkan formulir Model A.5KPU dengan menunjukkan KTP-el atau identitas lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3), dan/atau salinan bukti telah terdaftar sebagai Pemilih dalam DPT di TPS tempat asal memilih menggunakan formulir Model A.A.1-KPU, dan melaporkan pada PPS atau PPLN tempat tujuan memilih paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum hari Pemungutan Suara”.

Perubahan batasan waktu menjadi paling lambat 7 (hari) sangat menyulitkan dalam implementasinya. Hal tersebut disebabkan bahwa dasar pemberian perpanjangan waktu pelaporan pindah memilih mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 20/PUU-XVII/2019 tanggal 28 Maret 2019, yang menyatakan bahwa frasa “paling lambat 30 (tiga puluh) hari” dalam Pasal 210 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 182 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6109) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai “paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum hari pemungutan suara kecuali bagi pemilih karena kondisi tidak terduga di luar kemampuan dan kemauan pemilih

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

karena sakit, tertimpa bencana alam, menjadi tahanan, serta karena menjalankan tugas pada saat pemungutan suara ditentukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum hari pemungutan suara”.

Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 20/

PUU-XVII/2019 tersebut tidak ditegaskan dalam isi pasal dan ayat PKPU 9/2019 ataupun dalam petunjuk teknis yang lainnya. Sehingga sebagian masyarakat dan bahkan penyelenggara meyakini bahwa setiap pemilih mempunyai kesempatan untuk pindah memilih sampai dengan 7 (tujuh) hari sebelum pemungutan suara. Kondisi ini cukup merepotkan akibat terjadinya antrean di kantor KPU Kabupaten/

Kota oleh pemilih yang baru menyadari bahwa mereka belum mengurus dokumen pindah memilih.

Terhadap hal ini, penjelasan KPU Kabupaten/Kota adalah bahwa batasannya mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 20/PUU-XVII/2019. Namun pemilih yang sudah membaca isi PKPU pun tetap melakukan protes.

Peraturan KPU Nomor 10 Tahun 2019 tentang tahapan, program dan jadwal pemilu menyatakan bahwa masa kerja KPPS ditetapkan mulai 12 April 2019 atau hanya 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan pemungutan suara. Jadwal pembentukan KPPS dalam Pemilu 2019 tersebut memberikan waktu yang sangat mepet. Dengan demikian, KPPS baru dapat bertugas dan mendapat bimbingan teknis setelah dikukuhkan pada tanggal 12 April tersebut.

Sementara pada tanggal tersebut, KPPS sudah mempunyai tugas untuk membagikan formulir C6 kepada setiap pemilih. KPPS sudah tidak memiliki cukup waktu untuk dapat memahami secara tuntas bagaimana teknis pemungutan dan penghitungan suara yang benar. Kondisi demikian sangat terasa di wilayah desa terpencil dengan jumlah dan kualitas sumberdaya manusia yang sangat terbatas.

Kompleksitas pemilu akibat tambahan pemilihan presiden dan wakil presiden dengan honorarium yang cukup kecil untuk ukuran wilayah Kalimantan Utara, menyebabkan sulitnya melakukan pembentukan KPPS. Berdasarkan hasil penelitian Perludem besaran honor KPPS dinilai oleh KPUD terlampau sedikit dan tak sesuai dengan beban kerja KPPS pada Pemilu Serentak 2019.

Bahkan semestinya, ada asuransi kesehatan dan jiwa bagi penyelenggara adhoc. Pada Pemilihan Gubernur Lampung 2018, asuransi kesehatan dan jiwa diberikan kepada penyelenggara pemilu adhoc.

Namun, asuransi yang sama tidak dapat diberikan

pada Pemilu Serentak 2019, karena keputusan untuk pengadaan asuransi ditetapkan oleh KPU Pusat, berdasarkan pertimbangan kecukupan anggaran dari APBN.3 Di wilayah perkotaan seperti di Kota Tarakan pun masih ditemukan kendala dalam mencari warga yang bersedia menjadi petugas KPPS.

Kondisi di atas menyebabkan perekrutan KPPS yang tidak berkualitas karena banyak anggota KPPS yang cukup senior sehingga tingkat penyerapannya dalam bimtek sangat rendah. Pun dengan terpaksa sebagian anggota KPPS yang diragukan netralitasnya terpaksa diambil. Sebagian besar anggota KPPS adalah pengurus RT yang karena posisinya sangat strategis sering dimanfaatkan sebagai agen bagi partai politik atau peserta pemilu, namun secara administratif tidak ada dokumen yang membuktikan keterlibatan mereka dengan partai politik atau peserta pemilu.

Petunjuk teknis dalam pemungutan dan penghitungan suara terlambat diterbitkan, sementara masih ada beberapa persoalan yang belum secara tegas diatur di dalam peraturan KPU. Salah satu yang dikhawatirkan menjadi persoalan pada 17 April 2019 adalah bagaimana jika terjadi kekurangan surat suara di TPS pada saat sedang berlangsung pemungutan suara. Pasal 228 Peraturan KPU 9/2019 yang merupakan perubahan PKPU 3/2019 tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara dalam Pemilu hanya mengatur pemenuhan kekurangan surat suara di desa yang hanya terdapat 1 TPS, dengan mengambil kelebihan surat suara dari TPS di desa/

kelurahan terdekat; tidak mengatur bagaimana jika terjadi kekurangan surat suara di wilayah desa/

kelurahan yang jumlah TPS-nya lebih dari satu.

Kemudian bagaimana pelayanan terhadap pemilih yang terdaftar dalam DPT, namun tidak membawa KTP-el pada saat datang ke TPS.

Dua persoalan tersebut baru terjawab dengan terbitnya Surat Edaran Bersama KPU dengan Bawaslu Nomor 4 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pemungutan dan Penghitungan Suara di TPS, yang diterbitkan pada 16 April 2019 dan langsung disebarluaskan pada menjelang tengah malam.

Terbitnya surat edaran bersama tersebut merupakan solusi bagi penyelenggara di bawah untuk menjawab persoalan-persoalan yang berpotensi timbul. Namun karena keterlambatan penerbitannya, penyampaian kepada KPPS agar benar-benar memahami, menjadi tidak maksimal.

3. Ramadhanil, Fadli 2019, Evaluasi Pemilu Serentak 2019: Dari Sistem Pemilu ke Manajemen Pemilu, halaman 51

KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

Problema Kondisi Geografis dan Keterbatasan Sumberdaya Manusia

Kabupaten Nunukan dan Malinau merupakan wilayah yang memiliki persoalan yang cukup signifikan karena kondisi geografis serta banyaknya jumlah desa dalam wilayah tersebut. Jumlah desa di Kabupaten Nunukan adalah 240 buah dan sebanyak 183 di antaranya (lebih dari tiga perempat) wilayah jumlah penduduknya sangat sedikit sehingga hanya dibuat 1 buah TPS saja pada desa-desa tersebut.

Sedangkan Kabupaten Malinau dengan jumlah desa sebanyak 109, terdapat 60 desa (lebih dari separuh) dengan hanya 1 TPS di setiap desa tersebut.

Persoalan mulai dirasakan dalam pembentukan penyelenggara adhoc, khususnya dalam pembentukan PPS dan KPPS. Bukan persoalan yang mudah untuk membentuk PPS dan KPPS di sebuah desa dengan jumlah DPT-nya di bawah 100 orang dan bahkan terdapat 2 desa di kabupaten Malinau dan 27 desa di kabupaten Nunukan yang jumlah pemilihnya kurang atau sama dengan 50 orang. Bagaimana membentuk PPS dan KPPS dengan jumlah yang cukup dan memenuhi syarat pada desa dengan jumlah pemilih hanya 22 orang?

Idealnya pada Pemilu 2019, pada sebuah desa minimal diperlukan sebanyak 55 personel untuk melaksanakan pemungutan suara, yang terdiri atas PPS sebanyak 3 personel, PPL 1 personel, KPPS dan Linmas 9 personel, pengawas TPS 1 personel, saksi parpol 16 personel, saksi capres 2 personel, serta saksi calon DPD sebanyak 23 personel. Walaupun dalam kenyataannya tidak semua partai politik dan calon anggota DPD menempatkan saksinya, namun banyak desa khususnya di wilayah Kabupaten Malinau dan Nunukan, mengalami kesulitan memenuhi jumlah yang cukup dalam perekrutan penyelenggara adhoc.

Adanya kejadian calon anggota PPS yang meminta penggantian biaya transportasi dan akomodasi sebagai kompensasi mengikuti proses seleksi, menunjukkan kurangnya minat dan kesadaran untuk menjadi penyelenggara adhoc.

Distribusi logistik merupakan persoalan yang sangat krusial bagi 5 (lima) kecamatan di Kabupaten Nunukan, yaitu Kecamatan Krayan, Kecamatan Krayan Tengah, Kecamatan Krayan Barat, Kecamatan Krayan Timur, dan Kecamatan Krayan Selatan dan 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Malinau, yaitu Kecamatan Kayan Selatan, Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Hilir, dan Kecamatan Sungai Boh.

Wilayah tersebut sangat bergantung pada kepastian jadwal pesawat perintis, dengan kapasitas kursi

(seat) serta daya angkut sangat terbatas. Sementara pada 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten Nunukan, yaitu Kecamatan Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis Pan Siangan dan Kecamatan Lumbis Hulu serta 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Malinau yaitu Kecamatan Pujungan, Kecamatan Bahau Hulu, Kecamatan Mentarang Hulu, dan Kecamatan Sungai Tubu harus melalui perjalanan cukup lama melalui sungai, dengan risiko tinggi terhadap keselamatan

(seat) serta daya angkut sangat terbatas. Sementara pada 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten Nunukan, yaitu Kecamatan Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis Pan Siangan dan Kecamatan Lumbis Hulu serta 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Malinau yaitu Kecamatan Pujungan, Kecamatan Bahau Hulu, Kecamatan Mentarang Hulu, dan Kecamatan Sungai Tubu harus melalui perjalanan cukup lama melalui sungai, dengan risiko tinggi terhadap keselamatan