K
PP HAM dalam rekomendasinya atas kasus Tragedi Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II menyatakan bahwa pelanggaran HAM telah terjadi, antara lain:(1) Pembunuhan secara sistemik di berbagai tempat dalam waktu panjang, yakni Mei dan November 1998 serta September 1999.
(2) Penganiayaan secara berulang terhadap mahasiswa dan anggota masyarakat yang dilakukan oleh aparat TNI/Polri, di Universitas Trisakti, Universitas Atma Jaya Jakarta, dan Semanggi dengan akibat korban fisik.
(3) Perkosaan atau bentuk kekerasan lain yang setara, terutama pada saat peristiwa Mei 1998, pada sejumlah perempuan sehingga mereka menderita trauma serta penderitaan fisik dan mental.
(4) Penghilangan paksa, pada 1998, terhadap 13 orang aktivis dan anggota masyarakat, yang hingga kini belum jelas keberadaannya.
(5) Perampasan kemerdekaan dan kebebasan fisik, termasuk penggeledahan, penangkapan, dan penahanan yang dilakukan sewenang-wenang dan melampaui batas-batas kepatutan. Unsur serangan yang meluas dan atau sistemik, yang menjadi pengertian standar dalam pelanggaran HAM
berat, juga terdapat dalam peristiwa TSS. Bahkan serangan yang didefinisikan sebagai suatu rangkaian perbuatan yang dilakukan terhadap penduduk sipil sebagai kelanjutan kebijakan penguasa atau kebijakan yang berhubungan dengan organisasi, juga sangat kental menyertai peristiwa TSS tersebut.
Dalam tragedi TSS, aparat TNI/Polri tidak mengindahkan standar internasional tentang penggunaan kekerasan dan senjata api oleh aparatur penegak hukum.
Tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II dapat diidentifikasi sebagai serangan sistemik. Penelusuran fakta lapangan menunjukkan :
(1) Pernyataan verbal yang menunjukkan adanya kebijakan menyerang dengan kekerasan terhadap mahasiswa.
(2) Adanya rencana menghadapi gelombang aksi mahasiswa dan masyarakat yang secara formal dijabarkan dalam kebijakan Operasi Mantap ABRI (1997-1998) dan Operasi Mantap Brata (1999). Kedua kebijakan itu kemudian diturunkan dalam berbagai bentuk operasi dan wilayah (di berbagai Kodam) dengan bentuk penghadangan dan penyerangan terhadap aksi mahasiswa pada tiga tragedi tersebut.
(3) Adanya tujuan politik yang ingin dicapai dari penyerangan itu, yakni untuk mempertahankan rezim politik saat itu - baik Soeharto maupun B.J. Habibie. Dalam konteks mencapai tujuan politik inilah maka mahasiswa dan masyarakat yang menuntut perubahan dipersepsikan sebagai “perusuh negara”.
(4) Pengerahan pasukan dengan segala peralatan kekerasan secara masif.
Sebagai contoh, dalam Tragedi Semanggi I dikerahkan 18.040 pasukan TNI dan Polri, belum termasuk kekuatan sipil seperti Pam Swakarsa yang dihadapkan pada aksi-aksi mahasiswa. Polda Metro Jaya melibatkan kurang-lebih 125 ribu warga sipil pada Tragedi Semanggi I.
Dalam tiga tragedi tersebut unsur meluas terpenuhi. Penyerangan dilakukan secara berulang-ulang dengan penembakan secara membabi-buta dan pemukulan terhadap warga sipil. KPP HAM untuk kasus TSS, setelah menemukan fakta kemudian meminta pertanggungjawaban atas tragedi TSS dalam dua kategori yaitu: (1) Pertanggungjawaban secara langsung oleh mereka yang melakukan salah satu atau lebih dari bentuk-bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan.
(2) Pertanggungjawaban oleh mereka karena kapasitas sebagai penanggungjawab komando. Tanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan tersebut berada pada mereka yang memiliki tugas dan kewenangan pada tiga tingkat, yakni individu yang diduga :
• Melakukan kejahatan kemanusiaan secara langsung di
lapangan, yaitu sejumlah aparat TNI dan Polri.
• Melakukan kejahatan kemanusiaan karena tindakan dan
posisinya di tingkat komando pengendali operasi lapangan. Mereka adalah pemilik wewenang dan pengendalian efektif terhadap pasukan di lapangan.
• Melakukan kejahatan kemanusiaan karena tindakan
membiarkan dan posisi di tingkat komando strategi dan kebijakan, di mana mestinya mereka melakukan pencegahan atau menghentikan jatuhnya korban. Atas dasar hasil penyelidikan yang dilakukan KPP HAM, Komnas HAM kemudian melakukan pemanggilan terhadap 19 perwira tinggi TNI/Polri yang dianggap bertanggungjawab atas kasus
TSS. Para perwira tinggi tersebut di antaranya adalah: Jenderal TNI (Purn) Wiranto (mantan Panglima TNI), Jenderal Pol (Purn) Dibyo Widodo, Jenderal (Pol) Roesmanhadi (Mantan Kapolri), Mayjen TNI Sjafrie Syamsuddin, Mayjen TNI Djaja Suparman (mantan Pangdam Jaya), Irjen Pol. Hamami Nata dan Irjen Pol. Nugroho Jayusman (mantan Kapolda Metro Jaya), dan sejumlah perwira menengah TNI/Polri.
Meskipun pemanggilan ini hanya bermaksud memeriksa, bukan menjatuhkan vonis, namun pemanggilan tersebut ternyata ditolak. Alasannya, eksistensi KPP HAM tentang kasus TSS dipertanyakan. Alasan kedua, DPR telah merekomendasikan bahwa kasus TSS bukan pelanggaran HAM berat.
Padahal, sebagai mantan pejabat penegak hukum, seharusnya mereka tahu bahwa rekomendasi DPR bukan produk hukum dan karenanya tidak mengikat secara hukum. Sejumlah analisis menilai bahwa pembangkangan sejumlah perwira itu adalah unjuk kekuatan militer, apalagi mengingat KPP-HAM hanyalah institusi sipil.
Hambatan penyelesaian kasus TSS juga datang dari Kejaksaan Agung, yang menolak hasil penyelidikan Komnas HAM oleh KPP-HAM dengan berbagai alasan, di antaranya adalah karena keterangan dari penyelidikan tanpa melalui sumpah sebagaimana dirumuskan oleh KUH (Kitab Undang-Undang Hukum) Acara Pidana tentang penyelidikan.
Menurut Kejaksaan Agung, hasil penyelidikan KPP HAM tidak dapat dijadikan bahan penuntutan. Di samping berbagai alasan teknis administratif, Kejaksaan Agung kembali berlindung di balik rekomendasi DPR yang menyatakan bahwa kasus TSS bukan pelanggaran HAM berat. Akibatnya, berkas penyelidikan Komnas HAM tentang kasus TSS bolak-balik dari Komnas HAM kepada Kejaksaan Agung dan sebaliknya.
Berikut catatan pengembalian berkas penyelidikan Komnas HAM oleh Kejaksaan Agung :
(1) Pada 21 Mei 2002. Alasannya, hasil penyelidikan hanya berupa transkrip wawancara. Penyelidik tidak melakukan sumpah jabatan.
(2) Pada 13 Agustus 2002, dengan alasan: saksi dan penyelidik harus disumpah, para terdakwa dalam kasus Trisakti sudah divonis oleh Mahkamah Militer Tinggi II di Jakarta dan kasus Semanggi I dan Semanggi II masih dalam proses Polisi Militer Kodam Jaya.
(3) Pada 30 Oktober 2002, dengan surat pemberitahuan penolakan menindaklanjuti hasil penyelidikan KPP HAM TSS.
(4) Pada 8 Desember 2004, dengan surat pemberitahuan penolakan menindaklanjuti hasil penyelidikan KPP HAM TSS.
Kemudian, Komnas HAM mengembalikan berkas penyelidikan tersebut kepada Kejaksaan Agung pada 6 Januari 2005.