• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA KERJA DITJEN KSDAE

Dalam dokumen Penulis Harry Surjadi (Halaman 46-52)

Ditjen KSDAE memiliki pedoman kerja yaitu Rencana Kerja Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Tahun 2018 yang disahkan dengan Peraturan Direktur Jenderal KSDAE No P.7/KSDAE/SET/REN.2/10/2017. Rencana kerja ini mengikuti periode 1 Januari 2018 31 Desember 2018. Rencana Kerja 2018 ini hasil penjabaran Rencana Strategis Ditjen KSDAE 2015-2019 dan prioritas pembangunan nasional.

Rencana Kerja ini mengacu pada prioritas pembangunan nasional dan pagu indikatif. Rencana Kerja ini memuat kebijakan, program dan kegiatan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan bidang

konservasi sumber daya alam dan ekosistem. Di dalam Rencana Kerja ini sama sekali tidak ada program atau kegiatan dengan media.

Ditjen KSDAE dalam Rencan Kerja 2018 menetapkan dua sasaran program konservasi sumber daya alam dan ekosistem yaitu:

1. Peningkatan efektivitas pengelolaan hutan konservasi dan upaya konservasi keanekaragaman hayati; 2. Peningkatan penerimaan devisa dan PNBP dari pemanfaatan jasa lingkungan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati.

Dua sasaran program akan diukur keberhasilannya dengan sembilan indikator kinerja. Dan untuk mewujudkan agar indikator bisa tercapai, Rencana Kerja 2018 menetapkan delapan kegiatan yaitu: 1. Kegiatan konservasi spesies dan genetik berada di bawah tanggung jawab Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati dengan sasaran yang ingin dicapai: terjaminnya efektivitas upaya konservasi spesies dan sumber daya genetik;

2. Kegiatan pengelolaan kawasan konservasi berada di bawah Direktorat Kawasan Konservasi dengan sasaran capaian: terjaminnya efektivitas pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, dan taman buru;

3. Kegiatan pemolaan dan informasi konservasi alam. Kegiatan ini menjadi tanggung jawab Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam. Sasaran yang ingin dicapai dari kegiaan ini adalah terjaminnya efektivitas pemolaan dan penataan pengelolaan kawasan konservasi, juga ketersediaan data dan informasi konservasi alam;

4. Kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan kawasan konservasi menjadi tanggung jawab Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi dengan sasaran capaian: terjaminnya efektivitas pemanfaatan jasa lingkungan hutan konservasi;

5. Kegiatan pembinaan konservasi kawasan ekosistem esensial dilaksanakan oleh Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial dengan sasaran pencapaian: terselenggaranya pembentukan dan pembinaan pengelolaan kawasan ekosistem esensial;

6. Dan Sekjen KSDAE menjalankan kegiatan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya dengan sasaran terwujudnya reformasi tata kelola kepemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen KSDAE;

7. Kegaitan konservasi sumber daya alam hayati berada di bawah tanggung jawab Balai Besar/Balai KSDA di seluruh Indonesia dengan sasaran pencapaian: terjaminnya efektivitas pengelolaan kawasan

konservasi non-taman nasional di tingkat tapak, serta pengelolaan keanekaragaman hayati di dalam dan di luar kawasan hutan;

8. Kegiatan pengelolaan taman nasional menjadi tanggung jawab Balai Besar/Balai Taman Nasional dengan sasaran yang ingin dicapai: terjaminnya efektivitas pengelolaan taman nasional;

Spesifik untuk tahun 2018, Ditjen KSDAE mendapat mandat untuk mensukseskan empat prioritas nasional yaitu kesehatan, pariwisata dan dunia usaha, ketahanan energi, dan pembangunan wilayah. Rencana Kerja 2018 menguraikan sasaran untuk empat prioritas nasional itu.

Tabel 10. Program Konservasi Spesies dan Genetik Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan

Persentase peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai Red List of Threatened Species IUCN sebesar 10% dari baseline data tahun 2013

Terjaminnya efektivitas upaya konservasi spesies dan sumber daya genetik

Jumlah penambahan jenis satwa liar dan tumbuhan alam yang dikembangkan pada lembaga konservasi sebanyak 10 spesies dari baseline tahun 2013

Jumlah sertifikasi penangkaran yang mengedarkan satwa liar dan tumbuhan alam ke luar negeri sebanyak 50 unit

Jumlah nilai ekspor dan PNBP dari pemanfaatan TSL dan bioprospecting: nilai ekspor pemanfaatan satwa liar dan tumbuhan alam serta bioprospecting sebesar 25 triliun dan besaran PNBP dari hasil pemanfaatan satwa liar dan tumbuhan alam Rp 50 miliar Jumlah ketersediaan data dan informasi sebaran keanekaragaman spesies dan genetik yang valid dan reliable pada 7 wilayah biogeografi

Jumlah prior informed consent (PIC) pemanfaatan sumber daya genetik yang diterbitkan sebanyak 10 PIC

Jumlah hasil assessment aman lingkungan untuk 20 produk rekayasa genetik Jumlah sistem basis data balai kliring askes dan pembagian keuntungan pemanfaatan sumber daya genetik di tingkat nasional yang terbentuk dan beroperasi

Jumlah pusat pengembangbiakan dan suaka satwa (sanctuary) spesies terancam punah yang terbangun sebanyak 50 unit

Jumlah kertas posisi Indonesia dalam pertemuan konvensi internasional bidang perundingan perdagangan internasional berbasis keanekaragaman hayati: persentasi peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data tahun 2013

Pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat sekitar kawasan hutan konservasi non-taman nasional (sarana prasarana WRU): persentasi peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam puna prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data 2013

Pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat di sekitar kawasan hutan konservasi taman nasional (sarana prasarana WRU): persentasi peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data 2013

Tabel 11. Program Pengelolaan Kawasan Konservasi Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan Terjaminnya efektivitas

pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, dan taman buru

Jumlah sarana prasarana pengendalian kebakaran hutan konservasi non-taman nasional: jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi

Jumalh sarana prasarana pengendalian kebakaran hutan konservasi kawasn konservasi di taman nasional: jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi

Jumlah dokumen perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 dokumen rencana pengelolaan

Jumlah kawasan konservasi yang ditingkatkan efektivitas pengelolaannya hingga memperoleh nilai indeks METT minimal 70% pada minimal 260 unit KSA, KPA, dan TB di seluruh Indonesia

Luas kawasan konservasi terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya seluas 100.000 ha

Luas akses masyarakat dalam pemanfaatan potensi kawasan konservasi: luas kawasan hutan konservasi pada zona tradisional yang dikelola melalui kemitraan dengan masyarakat Jumlah KPHK pada kawasan konservasi non-taman nasional yang terbentuk dan beroperasi sebanyak 100 unit KPHK

Jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi

Jumlah desa di daerah penyanggah kawasan konservasi yang dibina sebanyak 77 desa Biodiversity Conservation and Climate Protection di ekosistem Gunung Leuser Tabel 12. Program Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam

Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan Terjaminnya efektivitas

pemolaan dan penataan pengelolaan kawasan konservasi, serta ketersediaan data dan informasi konservasi

Jumlah dokumen perencanaan penataan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 dokumen zonasi dan-atau blok

Jumlah rekomendasi hasil evaluasi kesesuaian fungsi kawasan konservasi untuk 521 unit KSA, KPA, dan TB di seluruh Indonesia

Jumlah paket data dan informasi kawasan konservasi yang valid dan reliable pada 521 KSA, KPA dan TB di seluruh Indonesia

Jumlah KPHK pada kawasan konservasi non-taman nasional yang terbentuk sebanyak 100 unit KPHK

Jumlah kerja sama pembangunan strategis dan kerja sama penguatan fungsi pada kawasan konservasi sebanyak 100 PKS

Jumlah data spasial zonasi/blok pengelolaan kawasan konservasi yang terverifikasi dan terintegrasi ke dalam peta RBI skala 1:50.000 (One Map Policy) sebagai dasasr pengelolaan kawasan konservasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat

Forest Programme III Direktorat PIKA

Tabel 13. Program Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan

Terjaminnya efektivitas pemanfaatan jasa lingkungan hutan konservasi

Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi non-taman nasional dan taman nasional: minimal 1,5 juta wisatawan mancanegara dan 20 juta wisatawan nusantara

Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Jumlah pemanfaatan jasa lingkungan air yang beroperasi di kawasan konservasi bertambah sebanyak 25 unit

Jumlah pemanfaatan energi air dari kawasan konservasi untuk keperluan mini/micro hydro power plant bertambah sebanyak minimal 50 unit

Jumlah kemitraan pemanfaatan jasa lingkungan panas bumi yang beroperasi di kawasan konservasi sebanyak minimal 5 unit

Jumah registrasi atau sertifikasi Verified Carbon Standard (VCS) atau Climate Community and Biodiversity Alliance (CCBA) REDD pada 2 unit kawasan konservasi

Tabel 14. Program Pembinaan Konservasi Ekosistem Esensial Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan

Terselenggaranya pembentukan dan pembinaan pengelolaan kawasan ekosistem esensial (KEE)

Jumlah kawasan ekosistem esensial yang memiliki lembaga dan difasilitasi pembentukannya sebanyak 48 KEE

Jumlah rencana aksi pengembangan pengelolaan kawasan ekosistem esensial yang disusun/direview sebanyak 48 dokumen

Jumlah kawasan ekosistem karst yang ditetapkan penataan pengelolaannya pada 6 kawasan Jumlah kawasan ekosistem mangrove yang ditetapkan penataan pengelolaannya pada 6 ekoregion

Jumlah paket data dan informasi kawasan ekosistem esensial yang tersedia sebanyak 48 paket data

Jumlah koleksi spesies lokal/endemik/langka/terancam punah yang diupayakan konservasinya di 30 unit taman kehati sebanyak 300 spesies

Tabel 15. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis lainnya Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan

Terwujudnya reformasi tata kelola

kepemerintahan yang baik di lingkungan Ditjen KSDAE

Nilai SAKIP Ditjen KSDAE dan ekosistem minimal 78,00 poin Layanan dukungan manajemen eselon I

Layanan internal (overhead)

Tabel 16. Program Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan

Terjaminnya efektivitas pengelolaan kawasan konservasi non-taman nasional di tingkat tapak serta pengelolaan keanekaragaman hayati di dalam dan di luar kawasan hutan

Rencana penataan dan pengelolaan kawasan konservasi berbais masyarakat:

1. Jumlah dokumen perencanaan penataan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 dokumen zonasi dan-atau blok

2. Jumlah rekomendasi hasil evaluasi kesesuaian fungsi kawasan konservasi untuk 521 unti KSA, KPA, dan TB di seluruh Indonesia

3. Jumlah paket data dan informasi kawasan konservasi yang valid dan reliable pada 521 KSA, KPA, dan TB di seluruh Indonesia

4. Jumlah KPHK pada kawasan konservasi non-taman nasional yang terbentuk sebanyak 100 unit KPHK

5. Jumlah kerja sama pembangunan strategis dan kerja sama penguatan fungsi pada kawasan konservasi sebanyak 100 PKS

6. Jumlah kawasan konservasi yang ditingkatkan efektivitas pengelolaannya hingga memperoleh nilai indeks METT minimal 70% pada minimal 260 unit KSA, KPA, dan TB di seluruh Indonesia 7. Jumlah dokumen perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 150 dokumen rencana pengelolaan

Sarana prasarana pengendalian kebakaran hutan konservasi: jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi

Pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat di kawasan hutan konservasi kawasan konservasi: jumlah desa di daerah penyanggah kawasan konservasi yang dibina sebanyak 77 desa selama 5 tahun

Pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat di sekitar kawasan hutan konservasi kawasan konservasi: jumlah desa di daerah penyanggah kawasan konservasi yang dibina sebanyak 77 desa selama 5 tahun

Jumlah gangguan yang berhasil diturunkan pada kawasan konservasi dengan pengelolaan kolaboratif berbasis masyarakat:

1. Jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi 2. Jumlah kader konservasi, kelompok pecinta alam, kelompok swadaya masyarakat/kelompok profesi yang berstatus aktif sebanyak 6.000 orang

Pemulihan kawasan konservasi yang terdegradasi secara kolaboratif bersama masyarakat: luas kawasan konservasi terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya seluas 100.000 ha Persentasi peningkatan populasi spesies terancam punah secra kolaboratif dengan masyarakat: 1. Persentasi peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data tahun 2013

2. Jumlah unit pusat pengembangbiakan dan suaka satwa (sanctuary) spesies terancam punah yang terbangun sebanyak 50 unit

3. Jumlah penambahan jenis satwa liar dan tumbuhan alam yang dikembangbiakan pada lembaga konservasi sebanyak 10 spesies dari baseline tahun 2013

4. Jumlah ketersediaan data dan informasi sebaran keanekaragaman spesies dan genetik yang valid dan reliable pada 7 wilayah biogeografi

Jumlah Wildlife Rescue Unit (WRU) yang terbentuk dan beroperasi bersama masyarakat dalam rangka pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat:

1. Persenasi peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data tahun 2013

2. Jumlah penambahan jenis satwa liar dan tumbuhan alam yang dikembangbiakan pada lembaga konservasi sebanyak 10 spesies dari baseline tahun 2013

Besaran PNBP dari hasil pemanfaatan satwa liar dan tumbuhan alam sebesar Rp 50 miliar Sarana dan prasarana ekowisata pada kawasan konservasi di kawasan Danau Toba dan sekitarnya: 1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan

mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara 3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata pada kawasan konservasi di kawasan Borobudur dan sekitarnya: 1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara 3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata dalam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata pada kawasan konservasi di kawasanan Mandalika dan sekitarnya: 1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegar

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara 3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata pada kawasan konservasi:

1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta orang wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara 3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Energi listrik yang dihasilkan dari mini/mikro hidro di kawasan konservasi: jumlah pemanfaatan energi air dari kawasan konservasi untuk keperluan mini/micro hydro power plant bertambah sebanyak minimal 50 unit

Kelembagaan pengelolaan ekosistem esensial yang terbentuk dan berfungsi: jumlah kawasan ekosistem esensial yang memiliki lembaga dan difasilitasi pembentukannya

Tabel 17. Program Pengelolaan Taman Nasional

Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Program/Kegiatan Terjaminnya efektivitas pengelolaan kawasan

konservasi taman nasional di tingkat tapak serta pengelolaan keanekaragaman hayati di dalam dan di luar kawasan hutan

Rencana penataan dan pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat:

1. Jumlah dokumen perencanaan penataan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 50 dokumen zonasi 2. Jumlah rekomendasi hasil evaluasi kesesuaian fungsi kawasan konservasi untuk 50 unit taman nasional di seluruh Indonesia

3. Jumlah paket data dan informasi kawasan konservasi yang valid dan reliable pada 50 unit taman nasional di seluruh Indonesia

4. Jumlah kerja sama pembangunan strategis dan kerja sama penguatan fungsi pada kawasan konservasi sebanyak 100 PKS

5. Jumlah kawasan konservasi yang ditingkatkan efektivitasn

pengelolaannya hingga memperoleh nilai indeks METT minimal 70% pada 50 unit taman nasional di seluruh Indonesia

6. Jumlah dokumen perencanaan pengelolaan kawasan konservasi yang tersusun dan mendapat pengesahan sebanyak 50 dokumen rencana pengelolaan

Sarana dan prasarana pengendalian kebakaran hutan konservasi di taman nasional: jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi

Pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat di kawasan masyarakat di kawasan hutan konservasi taman nasional: jumlah desa di daerah penyanggah kawasan konservasi yang dibina sebanyak 50 desa selama 5 tahun

Pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat di sekitar kawasan taman nasional: jumlah desa di daerah penyanggah kawasan konservasi yang dibina sebanyak 50 desa selama 5 tahun

Jumlah gangguan yang berhasil diturunkan pada kawasan taman nasional dengan pengelolaan kolaboratif berbasis masyarakat:

1. Jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi

2. Jumlah kader konservasi, kelompok pencinta alam, kelompok swadaya masyarakat/kelompok profesi yang berstatus aktif sebanyak 6.000 orang Pemulihan kawasan konservasi yang terdegradasi secara kolaboratif bersama masyarakat: luas kawasan konservasi terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya seluas 100.000 ha

Persentase peningkatan populasi spesies terancam punah secara kolaboratif dengan masyarakat:

1. Persentase peningkatan populasi 25 spesies satwa terancam punah prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data tahun 2013 2. Jumlah ketersediaan data dan informasi sebaran keanekaragaman spesies dan genetik yang valid dan reliable pada 7 wilayah biogeografi 3. Jumlah pusat pengembangbiakan dan suaka satwa (sanctuary) spesies terancam punah yang terbanyak sebanyak 50 unit

Jumlah WRU yang terbentuk dan beroperasi bersama masyarakat dalam rangka pengelolaan kolaboratif hutan konservasi bersama masyarakat: 1. Persentase peningkatan populasi 25 jenis satwa terancam punah prioritas sesuai Red List IUCN sebesar 10% dari baseline data tahun 2013 2. Jumlah penambahan jenis satwa liar dan tumbuhan alam yang

dikembangbiakan pada lembaga konservasi sebanyak 10 spesies dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata pada taman nasional di kawasan Danau Toba:

1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara

3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata pada taman nasional kawasan Borobudur dan sekitarnya:

1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara

3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata pada taman nasional di kawasan Mandalika dan sekitarnya:

1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara

3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisaa pada taman nasional:

1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara

3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Sarana dan prasarana ekowisata 3 taman nasional model SBSN: 1. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 1,5 juta wisatawan mancanegara

2. Jumlah kunjungan wisata ke kawasan konservasi minimal sebanyak 20 juta wisatawan nusantara

3. Jumlah unit usaha pemanfaatan pariwisata alam di kawasan konservasi bertambah sebanyak 100 unit dari baseline tahun 2013

Energi listrik yang dihasilkan dari mini/mikro hidro di taman nasional: jumlah pemanfaatan energi air dari kawasan konservasi untuk keperluan mini/micro hydro power plant bertambah sebanyak minimal 50 unit Intervensi metode agroengineering di daerah buffer TN Lore Lindu: luas kawasan konservasi terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya seluas 100.000 ha

Restorasi ekosistem untuk pengendalian penyebaran keong di TN Lore Lindu: luas kawasan konservasi terdegradasi yang dipulihkan kondisi ekosistemnya seluas 100.000 ha

Pengamanan kawasan TN Lore Lindu: jumlah pelaksanaan kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di 34 provinsi Forest Programme II (Development of Integrated Biodiversity

Conservation and Watershed Management) Jambi BBTN Kerinci Seblat Forest Progamme III (BBTN Lore Lindu)

Forest Investmen Program Project 1 (FIP-1) Community-Focused Investment to Address Deforestasi and Forest Degradation (BBTN Betung Kerihun dan Danau Sentarum)

Nilai SAKIP Ditjen KSDAE minimal 78,00

Dalam dokumen Penulis Harry Surjadi (Halaman 46-52)

Dokumen terkait