Tujuan umum strategi media
1. Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE menjadi acuan media untuk pokok bahasan terkait dengan konservasi secara umum. Secara khusus Ditjen Gakkum menjadi acuan media atau sumber media untuk informasi kasus kejahatan lingkungan/kehutanan dan penegakan hukum dan Ditjen KSDAE menjadi acuan dan sumber untuk informasi konservasi.
2. Setiap hari Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE atau awak Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE dikutip di tiga media massa sebagai nara sumber;
3. Membangun hubungan saling percaya, paling tidak dengan jurnalis yang khusus meliput lingkungan dan sains dari media massa nasional dan daerah, apakah media cetak, media elektronik, dan media online. Agar Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE mudah mencapai tujuan itu, berikut adalah pedoman atau protokol atau strategi bagaimana awak Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE yaitu awak bagian komunikasi dan program atau juru bicara berhubungan dengan jurnalis: 1. Menerapkan formula 5F: fast, factual, frank, fair (cepat, faktual, berterus-terang, adil).
Fast atau cepat adalah sifat kerja media. Jurnalis bekerja dibatasi oleh deadline yang tidak bisa ditawar dan ketika terlewati berita mereka tidak akan disiarkan atau diterbitkan. Strateginya, Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE harus memahami kerja jurnalis dan mencoba mengikutinya. Misalnya, ketika jurnalis menelpon Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE dan meminta informasi maka segeralah mencarikan informasi yang diminta dan mengirimkan sesegera mungkin ke jurnalis itu meskipun sudah di luar jam kerja normal. Jika Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE baru menjawab besok, sudah terlambat. Setiap jurnalis punya dealine yang berbeda. Tetapi intinya, jurnalis bekerja cepat. Frank (berterus-terang): Ketika berhubungan dengan jurnalis Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE jangan pernah memberikan informasi yang salah atau informasi mengandung kesalahan atau informasi yang membawa ke arah yang salah. Jika Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE tidak tahu atau pertanyaan mengenai bidang yang tidak dikuasai, berteru-teranglah. Berusahalah terbuka sebisa mungkin dan menanggapi pertanyaan jurnalis dengan berterus-terang. Sejauh Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE bisa berikan penjelasan apa alasannya, kebanyakan jurnalis akan bisa mengerti dan menghargai nara sumbernya bahkan jika nara sumbernya tidak bisa menjawab
Factual atau faktual adalah berdasarkan fakta. Media hanya melaporkan fakta, strategi agar informasi dari Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE diminati dan diterbitan atau ditayangkan media adalah dengan menyampaikan fakta yang menarik (memenuhi nilai berita). Jurnalis juga menghargai pernyataan yang dramatis, slogan yang kreatif, atau anekdot personal atau kutipan langsung yang menarik (sound byte) yang akan membantu mengilustrasikan pesan yang ingin disampaikan.
Fair atau adil maksudnya bebas dari sikap pilih kasih atau interes pribadi atau bias atau curang sesuai dengan peraturan yang ada. Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE harus fair kepada jurnalis jika Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE berharap jurnalis fair kepada Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE. Fair artinya Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE tidak mengistimewakan satu jurnalis dari media massa tertentu terus-menerus dan mengabaikan jurnalis media massa yang lain. Sikap tidak fair ini memunculkan prasangka jurnalis dari media lain itu merasa tidak dipercaya. Adillah pada semua jurnalis dari media mana pun.
Friendly atau bersahabat. Seperti semua manusia, jurnalis juga menghargai kebaikan, kesopanan, rasa hormat dari nara sumbernya. Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE dan awaknya yang sering menjadi nara sumber diharapkan mengingat nama-nama jurnalis yang pernah meliput, membaca hasil liputan mereka, mendengar apa yang mereka katakan, mengetahui minat mereka, berterima kasih kepada mereka ketika mereka meliput isu yang disampaikan oleh Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE.
2. Mengikuti formula: honesty credibility trust coverage. Selain nilai berita, perilaku atau sikap nara sumber dan hubungan baik dengan juranlis sangat mempengaruhi apakah informasi yang disampaikan nara sumber akan dimuat atau disiarkan atau ditayangkan. Hubungan yang baik secara personal dengan jurnalis adalah kunci membangun relasi dengan media yang efektif dan strategis. Kejujuran akan membentuk kredibilitas. Kredibilitas tinggi akan menimbulkan kepercayaan. Ketika jurnalis atau media sudah percaya maka akan selalu membuahkan penyiaran. Dengan menerapkan formula 5F, Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE bisa membangun kredibilitas dan kepercayaan yang menghasilkan liputan dan penyiaran. Sekali Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE sudah membangun citra sebagai entitas yang bisa dipercaya, kemungkinan besar jurnalis akan kembali lagi meminta Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE sebagai nara sumber. Membangun kepercayaan bukan pekerjaan semalam. Butuh waktu panjang untuk bisa dipercaya media.
3. Perlakukan jurnalis sebagai rekan kerja. Tugas atau pekerjaan jurnalis adalah mengisi halaman surat kabarnya atau majalahnya atau waktu siarannya (radio dan televisi). Tugas Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE adalah meyakinkan jurnalis kalau berita atau informasi dari Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE atau kegiatan yang Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE laksanakan sangat menarik (ada nilai beritanya) untuk diliput dan penting diketahui pembaca/pemirsa/pendengar media itu.
4. Bersikaplah hangat, sopan, profesional dan terbuka ketika berhubungan dengan jurnalis.
5. Menghargai jurnalis dengan: tidak menyampaikan informasi yang tidak mereka butuhkan; pastikan informasi akurat; jangan menelpon saat mereka sedang menghadapi deadline sekedar menyampaikan informasi yang tidak penting buat mereka (meskipun penting buat Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE); jangan menyuap atau memberikan uang pada jurnalis; jangan meremehkan kemampuan atau pengetahuan jurnalis dalam memahami persoalan
cheerleader advocate Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau
Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE tidak bisa dimuat atau disiarkan. Ingat bukan Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE atau nara sumber dari Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE yang ditolak jurnalis tetapi ide cerita atau informasi Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE yang ditolak.
7. Pastikan Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE atau awak Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE mudah dihubungi jurnalis
8. Kenali atau pelajari dulu media dan jurnalis sebelum Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE menghubunginya. Bacalah berita hasil liputan si jurnalis atau programnya, pastikan bidang liputannya.
9. Ketika Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE mengirim dokumen atau informasi kepada jurnalis, usahakan menyampaikannya secara personal. Misalnya, janganlah mengirim undangan foto kopian dengan alamat umum tetapi kirim dengan nama dan alamat si jurnalis.
10. Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE dan awaknya harus memahami membangun hubungan baik dengan jurnalis bukanlah untuk mendapatkan keuntungan sesaat tetapi investasi jangka panjang. Manfaatnya baru akan dirasakan ketika waktu berjalan cukup lama.
11. Selalu siap. Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE harus selalu siap menyampaikan pendapat terkait satu isu atau persoalan gambut. Jangan menunda atau menahan informasi yang diminta jurnalis setiap saat.
12. Salah satu prinsip dasar dari kerja media atau junalis adalah akurat, akurat, akurat. Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE atau nara sumber dari Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE menjadi baik atau buruk tergantung dari akurasi informasi yang Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE berikan kepada jurnalis. Jangan pernah memberikan informasi yang tidak akurat atau membingungkan atau menimbulkan pertanyaan.
13. Jangan merasa nara sumber dari Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE menjadi orang penting dengan menghubungi/menelpon jurnalis hanya untuk dikutip. Kadang-kadang Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE jadi nara sumber utama satu cerita dan tetap tidak akan dikutip. Memang bisa membuat frustasi. Ingat jurnalis tidak suka dan akan mengingat nara sumber yang sering mengeluh karena tidak dikutip. Tetaplah jadi nara sumber meskipun Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE kemungkinan tidak akan ada di dalam cerita itu. Mungkin lain waktu Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE akan dikutip.
14. Jangan mengganggu jurnalis atau mengeluh terus-menerus atau sering-sering mengenai siaran pers. semua orang sekedar menyampaikan sudah menerima siaran pers mereka atau belum.
15. Jangan berlebihan. Tidak setiap cerita yang coba Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE sampaikan kepada jurnalis itu memang sangat penting. Keuntungan bagi Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE, isu kejahatan lingkungan/kehutanan memiliki nilai berita yang tinggi. Tetapi tetap saja jurnalis terutama mencari fakta (bukan melulu opini), mencari kutipan untuk menunjukkan sesuatu yang penting atau kontroversi. Mereka tidak perlu kutipan yang berapi-api (padahal mengenai sesuai yang biasa-biasa saja), mereka tidak mencari kutipan seperti pidato penerima Oscar. Berikan kutipan yang wajar, sederhana, tapi mengena.
16. Eksklusif. Memberikan informasi/berita eksklusif hanya untuk satu media bisa menimbulkan hal positif dan negatif. Informasi/berita jika diberikan eksklusif pada media yang pas bisa sehingga menjadi cerita yang mendalam bisa menghasilkan liputan dari media lainnya selain Biro Humas atau Ditjen Gakkum atau Ditjen KSDAE membangun hubungan yang lebih kuat dengan jurnalis itu. Tetapi, bersiaplah mendapat protes dari jurnalis yang tidak mendapatkan informasi itu. Baik-baik saja menanggapi protes itu, lain kali berikan informasi lain untuk mereka. (Catatan: jangan pernah memberikan informasi/berita eksklusif kepada satu jurnalis yang kemudian memberikannya kepada jurnalis lainnya. Jika ingin memberikan sesuatu yang sangat eksklusif berikanlah kepada jurnalis dari media yang memiliki pembaca/pemirsa paling banyak).