Dasar utama dalam perhitungan proyeksi kebutuhan air untuk setiap tahun perencanaan adalah proyeksi penduduk, kepadatan dan penyebaran penduduk yang akan memberi pengaruh pada pengembangan pelayanan distribusi jaringan air minum. Daerah pelayanan PDAM saat ini didifinisikan sebagai daerah yang mendapatkan pelayanan air bersih PDAM dengan sistem perpipaan, sedangkan pengembangan daerah pelayanan direncanakan berdasarkan gabungan beberapa faktor yang mempengaruhi pengembangan daerah pelayanan PDAM.
Faktor utama adalah rencana pengembangan kota, distribusi dan pengembangan penduduk, pertumbuhan dan perkembangan PDAM, indikasi adanya kebutuhan yang mendesak akan sistem perpipaan PDAM dan ketersediaan sumber air baku. Untuk pengembangan sistem distribusi dan perluasan jaringan pelayanan, maka akan dilakukan perluasan pada wilayah rencana pengembangan Kota
.
Rencana-rencana tersebut adalah sebagai berikut : 1) Rencana Sistem jaringan Air Baku• Kolam Retensi Kacang Pedang di Kecamatan Rangkui (Kelurahan Keramat dan Kelurahan Pintu Air), Kecamatan Gerunggang (Kelurahan Kacang Pedang), Kecamatan Taman Sari (Kelurahan Kejaksaaan);
• Kolong Pedindang di Kelurahan Paridlalang, Kecamatan Rangkui; • Kolong Bacang PDAM di Kelurahan Air Mawar Kecamatan Bukit Intan; • Kolong Bacang di Kelurahan Bacang Kecamatan Bukit Intan.
2) Rencana Sistem jaringan Sumber Air Baku
• Kolong Nangka 1 di Kelurahan Keramat (Kecamatan Rangkui); • Kolong Nangka 2 di Kelurahan Keramat (Kecamatan Rangkui); • Kolong Kenong di Kelurahan Bacang (Kecamatan Bukit Intan);
• Kolong Eks Tambang 6 di Kelurahan Bacang (Kecamatan Bukit Intan); • Kolong Eks Tambang 8 di Kelurahan Air Itam (Kecamatan Bukit Intan); dan • Kolong Sinar Bulan di Kelurahan Sinar Bulan (Kecamatan Bukit Intan). 3) Rencana Sistem Pengendalian Banjir
• Kolam Retensi Kacang Pedang di Kecamatan Rangkui (Kelurahan Keramat dan Kelurahan Pintu Air), Kecamatan Gerunggang (Kelurahan Kacang Pedang), Kecamatan Taman Sari (Kelurahan Kejaksaaan);
• Kolong Teluk Bayur di Kecamatan Bukit Intan (Kelurahan Air Mawar dan Kelurahan Pasir Putih); dan
• Kolam Retensi Linggarjati Hulu di Kecamatan Gerunggang (Kelurahan Bukit Sari) dan Kecamatan Taman Sari (Kelurahan Kejaksaan).
5.3.5 Tingkat Kelayakan
5.3.5.1 Kelayakan TeknisSecara teknis pengembangan Sistem Air Baku secara teknis sangat memungkinkan dilaksanakan karena kondisi wilayah Kota Pangkalpinang berdasarkan kondisi topografi relatif datar dengan kemiringan antara 0 – 25%. Sedangkan dari aspek ketersediaan sumber air masih memungkinkan untuk dikembangkan, namun kondisi sumber air baku saat ini memerlukan perhatian mengingat tingkat kekeruhannya sangat tinggi, sehingga untuk proses penjernihan dan pengolahannya akan memerlukan biaya lebih besar.
Selanjutnya untuk pengembangan Air Bersih
Sistem non Perpipaan, ideal dikembangkan pada wilayah yang belum dan sangat sulit untuk dikembangkan menggunakan sistem perpipaan, sehingga memerlukan perlakuan setempat. Sementara untuk sumber air bakunya dapat menggunakan sumber air baku dari mata air Gunung Mangkol dan Sungai Pedingang atau pun menggunakan sumur dangkal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.15 di bawah ini.
Tabel 5.15
Sumber Bahan Baku Air Bersih PDAM Kota Pangkalpinang
No. Instalasi
Kapasitas Produksi
Kapasitas
Riil (l/dt) Sumber Air Baku Terpasang
(l/dt)
tidak di manfaatkan
(l/dt)
1. Mangkol 15 12 3 Mata air G. Mangkol 2. IPA Pedindang I 300 200 100
1. Sungai Pedindang 2. Kolong Kacang pedang 3. G. Mangkol
3. IPA Pedindang II 20 20 0 Sungai Pedindang 4. IPA UF Bacang 40 40 0 Kolong Bacang 5. IPA I Bacang 20 5 15 Kolong Bacang 6. IPA II Bacang 20 5 15 Kolong Bacang
Jumlah 415 282 133
Sumber: PDAM Kota Pangkalpinang, 2012
5.3.5.2 Kelayakan Sosial
Berdasarkan data yang tersedia, maka tingkat pertumbuhan dan wilayah cakupan pelayanan air bersih PDAM sampai saat ini masih memiliki peluang untuk ditingkatkan dengan menyediakan tambahan jaringan distribusi primer, sekunder dan tersier.
Proyeksi pertumbuhan penduduk masa datang didasarkan pada data kondisi dan proyeksi selama 5 tahun kedepan, termasuk rencana pengembangan dan distribusi
penduduk. Adapun jumlah penduduk pada tahun 2011 berjumlah 189.,910 jiwa, di mana proyeksi jumlah penduduk sampai dengan tahun 2016 akan berjumlah 192.481 ( 2,7 %) dan pada tahun 2032 akan meningkat menjadi 303.393 jiwa ( 40,5%) atau terjadi peningkatan jumlah rata-rata 11,8 % setiap tahunnya, Pola pengembangan distribusi pengembangan air minum akan diprioritaskan pada wilayah yang padat penduduk. Sedangkan pada wilayah jarang akan dikembangkan pola pengembangan non perpipaan.
Sampai saat ini kapasitas terpasang PDAM Kota Pangkalpinang adalah sebesar 415lt/detik, dan dari total kapasitas tersebut masih tersedia idle kapasity sebesar 282 lt/detik dengan j um l a h p e n d u d u k pangkalpinang 165.393 jiwa dengan jumlah total penduduk yang baru terlayani baru 8,72 atau sebesar 18.330 jiwa sehingga saat ini masih ada potensi pemasangan sambungan rumah dan saat ini volume air minum yang disalurkan berjumlah 1.397.858 m3 dengan dominasi pemakaian untuk kebutuhan domestik, yaitu sekitar 70%.
Sumber air bersih Kota Pangkalpinang ini diambil dari 3 (tiga) intake, yaitu di Kolong Kacang Pedang, Kolong Pedindang, (intake yang telah dimanfaatkan sekitar 90 lt/dt dengan jumlah sambungan 892), Kolong Bacang (intake yang telah dimanfaatkan sebesar 20 lt/dt dengan jumlah sambungan 2.710 SR, sehingga untuk pelayanan jaringan air minum ini masih ada peluang potensi pemasangan (dengan asumsi tingkat pelayanan 80%). Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel 5.16 di bawah ini.
Tabel 5.16
Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Kota Pangkalpinang Tahun 2010-2030
No Uraian Kota Pangkalpinang
2010 2015 2020 2025 2030
1
Sambungan Langsung
Jumlah Penduduk 165.393 192.481 224.007 260.695 303.393 Konsumsi Air (Liter/orang/hari) 150 150 150 150 150
Sub Total Kebutuhan Sambungan Langsung (Liter/Hari) 24.808.950 28.872.150 33.601.050 39.104.250 45.508.950 2 Kebutuhan Non Domestik
Konsumsi Air (Liter/Hari) 4.961.790 5.774.430 6.720.210 7.820.850 9.101.790
Sub Total Kebutuhan Non Domestik (Liter/Hari) 4.961.790 5.774.430 6.720.210 7.820.850 9.101.790 3 Jumlah Air Bersih (Liter/Hari) 29.770.740 34.646.580 40.321.260 46.925.100 54.610.740 Jumlah Air Bersih (m3/hari) 29.770,74 34.646,58 40.321,26 46.925,10 54.610,74 4 Jalur Hijau (5% dari sub total kebutuhan air bersih) 1.488,54 1.732,33 2.016,06 2.346,26 2.730,54 5 Losses (20% dari sub total kebutuhan air bersih) 5.954,15 6.929,32 8.064,25 9.385,02 10.922,15 6 Fasilitas yang lainnya (10% dari sub total kebutuhan
air bersih) 2.977,07 3.464,66 4.032,13 4.692,51 5.461,07
Total Kebutuhan Air Bersih 40.190,50 46.772,88 54.433,70 63.348,89 73.724,50 Sumber : Hasil Analisis 2010
5.4 PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
Bagian ini menjabarkan rencana pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya yang mencakup empat sektor yaitu pengembangan permukiman, penataan bangunan dan Bagian ini menjabarkan rencana pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya yang mencakup empat sektor yaitu pengembangan permukiman, penataan bangunan dan Bagian ini menjabarkan rencana pembangunan infrastruktur bidang Cipta Karya yang Mengacu pada Permen PU Nomor. 08/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum maka Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok Direktorat Jenderal Cipta Karya di bidang kebijakan, pengaturan, perencanaan, pembinaan, pengawasan, pengembangan dan standardisasi teknis di bidang air limbah, drainase dan persampahan permukiman.
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman menyelenggarakanfungsi:
a) Penyusunan kebijakan teknis dan strategi pengembangan air limbah, drainase dan persampahan;
b) pembinaan teknik, pengawasan teknik dan fasilitasi pengembangan air limbah, drainase dan persampahan termasuk penanggulangan bencana alam dan kerusuhan sosial;
c) pembinaan investasi di bidang air limbah dan persampahan;
d) penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta pembinaan kelembagaan dan peran serta masyarakat di bidang air limbah, drainase dan persampahan; dan
e) pelaksanaan tata usaha direktorat.
5.4.1 Sektor Air Limbah
5.4.1.1 Arahan Kebijakan Pengelolaan Air Limbah A. Perundang-undangan
Beberapa peraturan perundangan yang mengatur pengelolaan air limbah, antara lain:
1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan JangkaPanjang Nasional.
Pembangunan dan penyediaan air minum dan sanitasi diarahkan untukmewujudkan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat serta kebutuhan sektorsektorterkait lainnya, seperti industri, perdagangan, transportasi, pariwisata, danjasa sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
2. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
Pasal 21 ayat (2) butir d mengamanatkan pentingnya pengaturan prasarana dan sarana sanitasi dalam upaya perlindungan dan pelestarian sumber air.
3. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan SistemPenyediaan Air Minum.
Peraturan ini mengatur penyelenggaraan prasarana dan sarana air limbah permukiman secara terpadu dengan penyelenggaraan sistem penyediaan airminum.
4. PeraturanMenteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang StandarPelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Tata Ruang.
Mensyaratkan tersedianya sistem air limbah setempat yang memadai dantersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota.
5. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/I/1998 tentangPedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan
Mengamanatkan bahwa Pengolahan yang dilakukan terhadap air buangandimaksudkan agar air buangan tersebut dapat dibuang ke badan air penerimamenurut standar yang diterapkan, yaitu standar aliran (stream standard) danstandar efluen(effluent standard).