• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

I. Perilaku Merokok

5. Representasi tentang Rokok

Representasi yang dimiliki seseorang tentang rokok ternyata juga memberikan kontribusi mengapa seseorang merokok. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Collins, Patricia., Maguire, Moira., & O’Dell, Lindsay (2002) menegaskan peran representasi tentang rokok dalam perilaku merokok. Mereka menemukan bahwa perokok memiliki representasi tentang rokok yang mencakup sisi positif dan negatif dari rokok. Penelitian ini dilakukan pada partisipan dengan usia 22 – 52 tahun dan bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang memberikan kontribusi mengapa seseorang merokok.

Berdasarkan penelitian ini ditemukan perokok memiliki representasi bahwa rokok memiliki sisi positif yaitu sebagai alat sosial, bagian dari identitas,dan peristiwa sosial. Penelitian ini menemukan juga bahwa perokok sebenarnya sadar akan sisi negatif dari rokok. Hal ini menimbulkan identitas ganda dalam diri perokok. Identitas ganda yang dimaksud adalah adanya dua hal yang bertentangan dalam diri perokok. Pada satu sisi perokok merasa merokok itu merupakan perilaku yang tidak aman namun di satu sisi perokok tidak mampu untuk menghentikan perilakunya. Ketidakmampuan ini bukan dikarenakan faktor ketagihan namun karena faktor bahwa rokok sudah menjadi bagian dari identitas diri (Collins et al, 2002).

Selain karena sebagai identitas diri rokok juga merupakan bagian dari alat sosial. Perokok percaya bahwa dengan merokok akan memfasilitasi afiliasi atau ikatan dengan orang lain. Rokok sebagai bagian dari identitas dan alat

sosial semakin mempersulit perokok untuk menghentikan perilaku merokoknya. Adanya dilematis antara keinginan untuk menjadi bukan perokok vs perokok memunculkan munculnya rasa menyesal dan kecewa atas perilaku merokoknya. Namun perokok akhirnya mengambil jalan tengah dengan mengambil tanggung jawab dari perilaku merokoknya tersebut (Collins et al, 2002)

Selain sebagai alat sosial dan identitas diri perokok menganggap merokok merupakan bagian yang mencolok dari kehidupan sosial. Perokok merasa lingkungan sosial mengijinkan untuk merokok dengan landasan bahwa merokok merupakan sebuah pilihan bebas. Namun, perokok tetap sadar dan berhati-hati tentang kemungkinan untuk tidak diterima secara sosial. Mereka mengambil jalan tengah dengan tetap meningkatkan atau menjaga tingkat kepuasan yang didapat dari merokok dalam situasi sosial yang tepat (Collins et al, 2002).

Jadi berdasarkan penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa perokok tetap mempertimbangkan aspek negatif dari rokok dan perilaku merokok mereka bukan hanya karena faktor adiksi. Berdasar penelitian Collins et al (2002) dapat dilihat bahwa rokok memiliki peran penting dalam kehidupan sosial bukan hanya sekedar unsur kenikmatan atau kepuasan.

II. Representasi tentang Rokok

Berdasarkan uraian mengenai faktor-faktor yang membuat individu merokok ternyata dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok tidak hanya

berkaitan dengan faktor adiksi tapi juga dipengaruhi oleh faktor yang lain seperti yang ditemukan dalam penelitian Collins (2002). Collins menemukan bahwa representasi terhadap rokok mempengaruhi bertahannya perilaku merokok seseorang. Hanya saja penelitian Collins tersebut adalah penelitian yang dilakukan tidak di Indonesia. Collins sendiri hanya melakukan pengecekan terhadap representasi rokok saat ini tanpa mempertimbangkan aspek historis rokok yang mungkin menyumbang representasi rokok yang dimiliki dimasa ini. Oleh sebab itu dibawah ini akan diulas mengenai bagaimana sejarah rokok dan perkembangannya di Indonesia.

a. Sejarah Penggunaan Tembakau dan Industri Rokok di Indonesia

Bangsa Indonesia pertama kali mengenal tembakau melalui kebiasaan yang digunakan untuk memperoleh kenikmatan yaitu mengunyah buah pinang dan sirih serta mencampurnya dengan kapur. Pemakaian tembakau sendiri muncul pada abad XVII setelah dimasukkan oleh orang Portugis. Pada abad tersebut tembakau yang digunakan untuk memakan sirih dikenal dengan nama tembakau sugi. Masyarakat Jawa menyebutnya bako susur (Sukendro, 2007).

Tembakau serta kebiasaan merokok menurut Thomas Stamford Raffles orang Belandalah yang telah memperkenalkannya pada tahun 1601. Pada akhir abad XVIII kebiasaan merokok telah populer di kalangan masyarakat Jawa. Rokok kelobot merupakan jenis yang paling digemari orang Jawa dan Madura pada abad XIX ( Sukendro, 2007 ).

Fungsi rokok sebagai barang dagangan diduga telah ada sejak abad XVII, berdasarkan kisah Pranacitra dan Rara Mendut yang beredar di kalangan masyarakat Jawa. Selain untuk dihisap sekaligus barang dagangan, rokok dalam masyarakat Jawa juga dijadikan sebagai barang sesaji dalam acara ritual tertentu. Contohnya di Jawa Barat, rokok digunakan sebagai sesaji pada upacara menghormati arwah leluhur. Selain itu, di Jawa Tengah ada kebiasaan memberikan rokok kepada seorang dukun atau paranormal yang dimintai petunjuk atau bantuan (Sukendro, 2007).

Industri tembakau di Indonesia sendiri dimulai bersamaan dengan berkuasanya kolonial Belanda. Kota Kudus merupakan salah satu kota asal mula pencetus industri rokok kretek yang dimulai oleh Haji Jamahri (dalam Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara,1987). Hal ini berawal dari rasa nyeri di dada Haji Jamahri yang tak kunjung sembuh. Rasa sakit yang dia rasakan teresebut kemudian dapat berkurang setelah Haji Jamahri mengusapkan dada dan pinggangnya dengan minyak cengkeh, bahkan mengunyah cengkeh. Kemudian timbul gagasan Haji Jamahri untuk mencampur rempah-rempah tersebut dengan tembakau dan dibungkus dengan daun jagung lalu dibakar ujungnya. Haji Jamahri pun menghirup asapnya sampai masuk ke paru-paru dan ia merasa sakit dadanya berangsur-angsur sembuh (Jauhari, Nurdin.2009; Lilik, Agus. 2000; Sukendro, 2007).

Dia pun memberitahukan penemuan ini ke semua orang. Berita tentang rokok obat ini pun cepat tersiar dan menyebar luas hingga permintaan berdatangan. Pada tahun-tahun pertama penjualan rokok hanya terbatas di Kudus dan daerah sekitarnya. Tahun-tahun berikutnya pemasaran meluas hingga ke pulau Jawa (Sukendro, 2007).

Berdasarkan uraian diatas, rokok yang pada awalnya tidak berfungsi sebagai barang industri pada akhirnya berkembang menjadi sebuah barang industri yang populer di masyarakat. Berawal dari eksperimen kecil yang dilakukan oleh Haji Jamahari rokok mampu berkembang menjadi sebuah industri yang hingga saat ini memiliki peran penting dalam perekonomian. Populernya rokok pada saat itu yang mengantar ke perkembangan pesatnya industri rokok adalah kepercayaan masyarakat bahwa rokok dapat berfungsi sebagai obat.

b. Perkembangan Rokok dan Keyakinan Terhadap Rokok Saat Ini

Pada saat ini rokok dianggap sebagai substansi berbahaya dan mengandung 4000 zat kimia berbahaya bagi kesehatan (Asril Bahar, 2002). Selain itu merokok juga akan menimbulkan beberapa risiko kesehatan seperti penyakit jantung, stroke, kanker paru dan mulut, osteoporosis, katarak, psoriasis, kerontokan rambut dan impotensi (Prihatiningsih, 2007).

Penelitian Nina Stovring et al (2004) semakin menguatkan resiko kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok. Berdasarkan penelitian tersebut

ditemukan bahwa merokok tidak hanya meningkatkan resiko kematian namun juga resiko menjadi cacat karena menurunnya kemampuan. Guralnik dan Kaplan dalam Nina Stovring et all (2004) menemukan juga bahwa perokok berat akan beresiko dua kali lebih banyak dari bukan perokok untuk menjadi cacat di usia lanjut.

Bahaya dan resiko kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok tersebut membuat pada saat ini kampanye tentang rokok begitu gencar dilakukan. Gencarnya kampanye tentang rokok membuat tekanan atau propaganda antirokok sudah banyak dilakukan namun sepertinya hal ini tidak berpengaruh terhadap perilaku konsumsi merokok sendiri. Hal ini terlihat dari angka perokok yang semakin meningkat (Sukendro, 2007).

Adanya propaganda anti rokok yang gencar dilakukan menunjukkan bahwa pada saat ini masyarakat memiliki keyakinan yang cenderung negatif terhadap rokok yaitu berbahaya dan merugikan kesehatan. Hal ini berbeda dengan keyakinan masyarakat terhadap rokok di waktu dulu. Pada waktu dulu rokok diyakini sebagai obat dan masyarakat pada waktu itu memiliki keyakinan yang positif mengenai rokok. Adanya perbedaan pandangan ini kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana dengan perokok yang hidup dalam dua masa tersebut dan tetap bertahan merokok hingga saat ini. Bagaimana mereka menyikapi adanya perbedaan pandangan ini ?

Perokok yang mampu menjawab pertanyaan tersebut adalah lansia. Hal ini dikarenakan lansia hidup dalam dua masa tersebut. Lansia perokok

mengalami masa pada saat rokok dipandang secara positif hingga saat ini rokok dianggap sebagai substansi berbahaya dan tetap saja mempertahankan perilaku merokoknya. Keputusan lansia untuk tetap merokok kemudian memunculkan pertanyaan bagaimana lansia memandang mengenai bahaya dan efek rokok yang gencar dikampanyekan selama ini. Apakah keyakinan yang lansia miliki terhadap rokok pada saat ini mengingat pandangan terhadap rokok sendiri telah berubah.

III.Keyakinan (Belief) Lansia Perokok terhadap Rokok