KONTEKS MODERNISASI PONDOK PESANTREN DI LAMPUNG
C. RESPON TERHADAP MODERNISASI PESANTREN DI LAMPUNG
Pendidikan di Indonesia secara umum –yang di dalamnya termasuk juga pesantren -mengalami pembaharuan bermula dari diperluasnya kesempatan belajar bagi penduduk pribumi yang terjadi pada akhir abad ke-19 M pada masa penjajahan Hindia-Belanda.77 Meskipun pola pendidikan yang diterapkan bersifat
penguasaan materi, metodologi, dan pendekatannya. Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren,Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Madrasah Diniyah,(Jakarta: Departemen Agama RI, 2003), h. 4
75Yang umum diajarkan dalam materi teologi adalah kitab
‘Aqidah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah karya Syaikh al- ‘Alim al-‘Allamah ‘Aly Ma’sum, (Pekalongan: Maktabah ibn Mashudi, t th). Sementara untuk materi fiqh kitab-kitab Syafi’iyyah cukup mendominasi seperti KitabFathul Mu’in, Fathul Qârib.Muhammad Maksum S.HI (mantan Kepala Pondok Pesantren Tri Bhakti Attaqwa),Wawancara,tanggal 22 Juni 2008
76Kitab-kitab yang seperti
Ar-radd ‘ala al-mantiqiyyînkarya Ibn Taimiyyah, danrisalah al-tauhîd karya Muhammad ‘Abduh sangat jarang dijumpai diajarkan di pesantren-pesantren salafiyah. Muhammad Maksum S.HI,Wawancara,tanggal 22 Juni 2008
77 Moh Tauchid,
Masalah Pendidikan Rakyat, (Bogor: Dewan Partai-Partai Sosialis Indonesia Bagian Pendidikan dan Penerangan, 1954), h. 7
diskriminatif yaitu didasarkan pada ras dan agama, dikotomis, sekularistik, dan menciptakan mental budak karena didesain untuk menjadi pegawai pada pemerintahan penjajah dengan upah yang murah. Klasifikasi sekolah-sekolah yang didirikan penjajah Hindia-Belanda pada waktu itu adalah : 1)Europeeesce Legere School, diperuntukkan bagi orang Eropa, 2) Hollandsch Chinese School, diperuntukkan bagi orang-orang Cina dan Asia Timur, 3) Hollandsch Inlandsche School, diperuntukkan bagi orang-orang Bumi Putera dari kalangan ningrat, 4) Inlandsche School, khusus sekolah orang pribumi pada umumnya.78
Di lain pihak, Pemerintah Hindia-Belanda memberikan pendidikan dengan sistem perjenjangan. Pertama, dikenal dengan istilah Volkschoolen, artinya Sekolah Rakyat (Sekolah Desa), dengan masa belajar 3 tahun. Jenjang ini setingkat dengan Sekolah Dasar yang kemudian masa belajarnya ditambah 2 tahun. Sekolah tersebut dikenal dengan istilah Vervolgschool (Sekolah Lanjutan yang diselenggarakan di Kota Distrik atau Kabupaten). Kedua, Sekolah Menengah Pertama atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Ketiga, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau Algemene Middelbare Schoolen (AMS).79 Selain model perjenjangan tersebut Belanda juga mengenalkan sistem sekolah yang dalam konteks sekarang diistilahkan berbasis kompetensi, yang setara/ sederajat dengan sekolah perjenjangan menengah pertama dan atas. Seperti untuk pegawai negeri (STOVIA), untuk pembantu dokter pribumi (NIAS), untuk kejuruan (OSVIA) dan untuk teknik (Middle Technische School;MTS).80
Kebijakan Pemerintah Hindia – Belanda ini mendapat respon beragam dari kalangan umat Islam Indonesia pada saat itu. Di Jawa terdapat resistensi yang kuat, sebagai imbas dari rencana pemerintah kolonial Belanda yang berusaha
78Moh Tauchid,
Masalah Pendidikan Rakyat,h. 8-9 79 Moh Tauchid,
Masalah Pendidikan Rakyat,h. 11
80Azyumardi Azra,
Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru,
melakukan Westernisasi atau mem-Belanda-kan peserta didik pribumi.81 Bahkan kalangan Ulama tradisional ada yang menganggap bid’ah mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh penjajah yang nyata-nyata musuh umat Islam. Ini juga terlihat dari cara para Ulama Jawa yang ketika mendirikan suatu Lembaga Pendidikan (baca: pesantren) lebih suka memilih daerah yang masih sepi, jarang penduduknya dengan tujuan menarik diri sejauh-jauhnya dengan pola-pola yang diterapkan Belanda. Maka, tidaklah mengherankan apabila pada saat itu seorang Ulama enggan memakai pakaian ala Belanda (misal celana panjang/ pantalon), makan diusahakan tidak dengan sendok karena hal itu merupakan bentuk ekstrinsik persetujuan terhadap penjajah. Dan dari kalangan penyelenggara pendidikan agama di pesantren juga timbul pertanyaan mengapa Belanda tidak mempunyai keberpihakan terhadap Islam (tidak mengakui pendidikan pesantren). Untuk itu Belanda berdalih untuk menjaga netralitas pendidikan dari pengaruh agama manapun. Akan tetapi pada saat yang sama pemerintah Belanda malah mendirikan Sekolah Tinggi Kristen.82 Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran dari kalangan ulama’ terhadap misi yang dilakukan oleh Belanda. Padahal seharusnya pembaharuan dilakukan sebagai proses perubahan untuk memperbaiki keadaan yang ada sebelumnya ke cara atau situasi dan kondisi yang lebih baik dan lebih maju untuk mencapai suatu tujuan yang lebih baik pula.83
Pada tahun 1882 pemerintah Belanda mendirikan Priesterreden (Pengadilan Agama) yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan pesantren. Tidak begitu lama setelah itu, dikeluarkanOrdonansi tahun 1905 (Staatsblaad No.550) yang berisi peraturan bahwa guru-guru agama yang
81Abdullah Syukri Zarkasyi.M.A.
Gontor & Pembaharuan Pendidikan Pesantren(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005) h. 7
82Sumarsono Moestoko,
Pendidikan di Indonesia dari Zaman ke Zaman, (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), h. 123
83Abdul Rahman Saleh,
Konsepsi dan Pengantar dasar Pembaharuan Pendidikan Islam,
akan mengajar harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat.84 Peraturan yang lebih ketat lagi dibuat pada tahun 1925 yang membatasi siapa saja yang boleh memberikan pelajaran mengaji. Akhirnya, pada tahun 1932 peraturan dikeluarkan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau yang memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah.85
Di lain pihak ternyata kebijakan tersebut mendapat respon yang relatif baik-untuk tidak mengatakan antusias- terhadap didirikannya sekolah-sekolah tersebut, menurut Azyumardi Azra, justru muncul di kalangan Muslim Melayu, khususnya Minangkabau.86 Transmisi atau corak kelembagaan pendidikan Belanda waktu itu lebih sering diadakan di surau-surau dan meunaseh (Aceh), kemudian ditransformasikan menjadi sekolah-sekolah negeri atau diistilahkan sebagai madrasah yang secara yuridis-formal-negara statusnya diakui oleh pemerintah Belanda.87
Dengan demikian terhadap kebijakan pendidikan yang dilakukan penjajah Belanda, di kalangan umat Islam timbul tiga kelompok :
Pertama, kelompok yang mengisolasi diri dan menentang kebijakan tersebut, sambil terus mengobarkan semangat anti penjajah dan mengusirnya lewat
84Maksum,
Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 115
85Maksum,
Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, h. 116 86Azyumardi Azra,
Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, h.92
87Istilah
madrasah adalah lembaga pendidikan (dalam arti luas) yang lebih dikenal di Melayu, khususnya Aceh dan Minangkabau, seiring dengan pengaruh pemikiran modern di Indonesia pada abad ke-20. Kata madrasah di sini sama sekali berbeda penggunaannya dengan istilah dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada pendidikan dasar dan menengah. Pada masa pra-modern, madrasah (Arab)-menurut Azyumardi Azra- menunjuk pada jenis dan jenjang pendidikan tinggi yang secara luas mulai dikenal masyarakat sejak abad ke-5/ 11 M. Lihat, Departemen Agama RI, Sejarah Perkembangan Madrasah dan Azyumardi Azra, Esai-Esai Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam.h. 67
konsep Perang Suci dengan menjadikan Pondok Pesantren sebagai basisnya serta pengajaran agama Islam sebagai dasarnya.88
Kedua, sikap yang mengimbangi kemajuan yang dicapai pemerintah Belanda dengan cara memodernisasikan lembaga pendidikan tradisional (pesantren khususnya) menjadi madrasah.89
Ketiga, sikap yang mengadopsi model pendidikan Belanda namun di dalamnya masih terdapat pelajaran agama.90
Bagaimanapun penjajah Belanda telah membuka mata sebagian umat Islam untuk memajukan lembaga pendidikannya dalam rangka mengejar keterbelakangannya dalam segala bidang melalui pembaharuan lembaga
88
Pondok Pesantren Tebu Ireng yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari merupakan pesantren yang menolak segala bentuk yang datangnya dari Belanda. Zuharini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h. 202
89Di sebagian besar ulama tradisional pesantren pada masa 70-an dan 80-an cenderung menaruh kecurigaan terhadap apa yang mereka definisikan sebagai Barat dan mereka lebih mengambil sikap apologetik. Di dunia Islam pada umumnya, paling tidak ada tiga sikap kaum muslimin ketika mereka berhadapan dengan Barat, yaitu apologetik, identifikatif, dan affirmatif.
Pertama, sikap apologetik (pembelaan diri) biasanya dilakukan kaum muslimin dengan mengemukakan kelebihan-kelebihan Islam, di samping untuk menjawab hegemoni politik Barat juga tantangan intelektual Barat yang mempertanyakan beberapa aspek dari “ajaran” Islam seperti jihad, poligami, kedudukan perempuan, dan sebagainya. Respon tersebut biasanya mempunyai kecenderungan normative dan idealistic, sehingga cenderung mengabaikan realitas sosial di samping juga mencerminkan sikap ancaman, tantangan dan anti kritik dari luar. Kedua, sikap identifikatif diambil untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi untuk merumuskan respond an sekaligus identitas Islam di masa modern. Respon tersebut sejatinya lebih membuka peluang munculnya pemikiran-pemikiran kreatif dan pro aktif untuk memecahkan masalah yang dihadapi.Ketiga,pendekatan afirmatif dilakukan untuk menegaskan kembali kepercayaan kepada Islam dan sekaligus menguatkan eksistensi masyarakat muslim sendiri. Lihat Azyumardi Azra,Perspektif Politik Islam, dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Postmodernisme,
(Jakarta: Paramadina, 1996), h. iii-vi
90 Sumatera Tawalib merupakan lembaga pendidikan yang berusaha melakukan pembaharuan di bidang pendidikan tanpa mempersoalkan kedudukan Belanda yang sedang menjajah Indonesia. Zuharini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, h. 174. Di lain pihak Abdullah Ahmad mendirikan lembaga pendidikan modern dengan menggunakan sistem yang dilaksanakan penjajah Belanda. Kebijakan ini berbuntut pada kecaman dan tantangan dari para ulama’ tradisionalis. Namun Abdullah tetap pada pendiriannya dan mendirikan lembaga pendidikan
Hollands Maleische School (HMS) atauHollands Inlandsche School (HIS). Perbedaan HIS yang dibangun oleh Abdullah Ahmad dengan HIS yang dibangun Belanda adalah pelajaran agama dan Al-Qur’an merupakan pelajaran wajib selain pengetahuan umum. Dr. H. Abudin Nata, MA,
pendidikannya. Terlebih lagi ketika gerakan pembaharuan atau modernisasi di Timur Tengah memberikan nilai tersendiri bagi perkembangan umat Islam di Tanah Air. Katalisator terkenal gerakan pembaharuan ini adalah Jamaluddin Al-Afghani (1987) yang mengajarkan solidaritas Pan-Islam dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa, dengan kembali kepada Islam dalam suasana secara ilmiah dimodernisasikan. Gerakan ini memberikan pengaruh yang besar terhadap kebangkitan Islam di Indonesia.91 Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau yang disusul oleh pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia.
Prakarsa awal terhadap pembaharuan ini ditandai dengan kemunculan organisasi-organisasi Islam yang mengarah kepada pembaharuan seperti Jami’at Khair yang didirikan pada tahun 1905, Persyarikatan Ulama (1911), Muhammadiyah (1912), Syarikat Islam atau yang biasa disingkat SI (1912), Al-Irsyad (1913), Persis (1923), dan Nahdlatul Ulama yang didirikan di Surabaya oleh para ulama yang dimotori oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926, dimana organisasi-organisasi tersebut mendirikan lembaga pendidikan dengan corak masing-masing.92
Beberapa corak pembaharuan pendidikan Islam juga marak berdiri di Sumatera sebagai reaksi atas pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Di Padang Panjang, Abdullah Ahmad mendirikan Madrasah Adabiyah (1909). Dua bersaudara, Zaenuddin Labay el-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusi, mendirikan Diniyyah Putera (1915) dan Diniyyah Puteri (1923). Abdul Karim Amrullah di Minangkabau juga mendirikan Sumatera Thawalib (1916). Pada tahun 1931, Mahmud Yunus mendirikan Normal Islam (Islamic Training College) atau yang dikenal Kulliyat al-Mu’allimîn al-Islâmiyah (KMI).
91Badri Yatim,
Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 257-258
92Abdullah Syukri Zarkasyi.M.A.
Diterapkannya sistem hidup berdisiplin di asrama, dan sistem pengajaran bahasanya metode langsung yang mewajibkan para santri-santrinya untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai percakapan sehari-hari.93
Melalui pendidikan, pembaharuan atau tajdid dilakukan dengan cara memperbaharui atau menyegarkan kembali faham-faham dan komitmen terhadap ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan zaman.94 Dalam masa pengaruh Islam berkembang pola pendidikan langgar (mushola/ surau) dan pesantren dengan tujuan memberikan pengetahuan agama dengan orientasi agar murid dapat membaca dan menamatkan bacaan al-Qur’annya. Di sini, metode yang digunakan masih bersifat tradisional dengan lingkungan belajar seadanya, waktu belajar tidak dibatasi, biaya belajarpun serelanya saja, dan apabila murid telah khatam, maka diadakan selamatan/khataman.Setelah memasuki abad XX, di Indonesia muncul upaya-upaya penegakan dan pembaharuan Islam secara benar. Upaya ini diiringi dengan pembaharuan di segala aspek kehidupan termasuk pendidikan.95
Untuk kasus di Lampung, dari dua pesantren besar di atas (Tri Bhakti Attaqwa dan Darussalamah), secara sepintas dapat dianalisa bagaimana modernisasi direspon. Respon yang beragam tersebut adalah hal yang wajar-wajar saja mengingat Pondok Pesantren Salafiyah pada umumnya dimiliki oleh Kyai sebagai pendiri pesantren dan dibantu oleh para sanak keluarga dalam pengelolaannya dan ciri utamanya adalah figur tunggal kyai menjadi dominan. Dominasi kuat dari kyai inilah yang menentukan apakah pesantrennya akan diarahkan kepada modernisasi atau tetap mempertahankan tradisi salafnya. Dalam hal ini masing-masing mempunyai konsekwensi sendiri.
93 Zarkasyi.M.A.
Gontor & Pembaharuan Pendidikan Pesantren,h.9 94 Abdul Gani dan Syamsuddin,
Tajdid Dalam Pendidikan Dan Masyarakat, (Kuala Lumpur: Persatuan Ulama Malaysia, 1989), h. 11
95Mustafa kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban,
Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 87
Dari berbagai pesantren yang ada di Lampung dalam menyikapi modernisasi yang sedang bergulir setidaknya terdapat tiga bagian:
1) Pondok Pesantren yang secara tegas menolak modernisasi. Ini dimotori oleh Pondok Pesantren Darussalamah dan pesantren-pesantren yang dibangun oleh para alumninya. Kendati jumlah santrinya belum begitu banyak, akan tetapi bila dipandang dari lembaga pendidikan/ pesantren jumlahnya cukup signifikan. 96 Ditambah lagi dengan pesantren-pesantren kecil yang tidak secara legal-formal berdiri namun belum diberi nama secara resmi dan ini jumlahnya lebih banyak daripada yang sudah resmi membuat sebuah nama pondok pesantren. Dengan demikian sulit untuk diidentifikasi apakah mereka yang mempertahankan kesalafiyahannya tersebut memang ingin mendirikan pesantren salafiyah, atau karena memang untuk dimodernkan mereka masih terkendala dengan berbagai komponen, misal SDM tenaga pengajar, sarana dan prasarana, managemen, dan lain-lain.
Alasan lain yang menimbulkan resistensi terhadap modernitas pondok pesantren adalah karena modernitas yang ada dalam pesantren bukan berasal dari pesantren yang dahulu pernah dijadikan sang kyai menimba ilmu. Sehingga dianggap berasal dari orang lain dan bukan dari golongannya. Hal ini muncul biasanya berasal dari para kyai yang cukup konservatif.97 Bahkan dalam hal-hal tertentu kebijakan kyai sebuah pesantren masih melibatkan kyainya ketika masih
96 Dari 14 pondok pesantren yang penulis teliti 8 pondok pesantren yang memilih salaf murni dalam pembelajarannya. Dan didominasi oleh alumni-alumni Pondok Pesantren Darussalamah Way Jepara Lampung Timur.
97 Bentuk ketaatan (
sam’an wa ta’atan) yang menjadi karakteristik khusus dalam pesantren salafiyah dapat pula dilihat dari metode pembelajaran di pesantren yang disamakan dengan pesantren dahulu semasa kyainya belajar. Seperti pesantren-pesantren di daerah Serang Banten, terdapat pengajian yang diadakan ketika membahas suatu kitab kuning ditafsirkan dengan menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan sebagai bentuk ketaatan dan ta’zim pada kyainya yang memang orang Jawa dan semasa mengaji dahulu penafsiran suatu kitab kuning menggunakan bahasa Jawa. Zaenal Arifin (tokoh agama/ Pengasuh Pesantren Al-Ma’rifah, Cibitung Barat Kabupaten Bekasi yang pernah nyantri di daerah Serang Banten),Wawancara,tanggal 3 Desember 2007.
di pesantren dulu. Oleh karena itu, jika pesantrennya dahulu bercorak salafiyah, maka pesantren turunannya akan bercorak salafiyah pula.
2) Pesantren yang menerima modernisasi tetapi tidak utuh, artinya dalam beberapa hal setuju dimodernkan akan tetapi dalam hal-hal tertentu menolak. Pada kasus di Lampung, Pondok Pesantren Tri Bhakti Attaqwa termasuk ke dalam bagian ini. Tingkat antusiasme dalam menerima modernisasi lebih didominasi oleh para pengurus pesantren di level bawah sedangkan pada level atas, dalam hal ini para pengelola yayasan dan pengasuh penerimaannya terhadap modernisasi lebih rendah.98 Keadaan ini secara umum karena disebabkan oleh belum tersentuhnya modernisasi ketika para pengasuh mondok dahulu, sedangkan di tingkat bawah (para ustadz) yang juga berasal dari luar pesantren Tri Bhakti Attaqwa, sehingga nilai-nilai modernisasi masuk.
Pertemuan antara dua kutub salafiyah dan modern inilah menghasilkan wacana baru dengan pola salafiyah-modern. Sehingga dalam beberapa hal dapat dijumpai sistem pendidikan modern dan pada saat yang lain dapat ditemukan pola-pola pesantren salafiyah. Pesantren tipe ini jumlahnya lebih banyak daripada pesantren yang murni salafiyah. Dan umumnnya perkembangannya cukup pesat karena animo masyarakat yang menginginkan anaknya belajar di pesantren salafiyah terpenuhi, dan di saat yang sama mendapatkan ijazah, baik dari Sekolah 98Ciri modernisasi dalam sebuah pesantren diantaranya adalah terbukanya kesempatan masing-masing komponen untuk menyalurkan pendapat/ ide secara bebas dengan prosedur yang berlaku. Demokratisasi dibangun atas dasar permufakatan bersama, tidak didasarkan pada otoritas sepihak. Dalam hal ini keputusan-keputusan bersama yang yang dibangun atas dasar demokrasi pada tataran pengurus pesantren akan menjadi tidak berlaku ketika pihak yayasan tidak menyetujuinya. Peristiwa yang menunjukkan hal tersebut adalah ketika personalia kepengurusan pesantren mengalami regenerasi untuk periode 2005-2006, yayasan memberlakukan sentralisasi keuangan. Segala iuran yang dibebankan kepada santri masuk ke dalam satu pintu Bendahara Yayasan Pendidikan Tri Bhakti Attaqwa. Bendahara Pengurus Pesantren Putra/ Putri tidak diberi kewenangan untuk mengelola anggaran sendiri-sendiri. Bendahara pesantren hanya bertindak sebagai perancang anggaran untuk diajukan kepada Bendahara Yayasan. Permasalahannya tidak setiap anggaran yang diajukan langsung diterima atau besarnya nilai uang yang diajukan diturunkan sehingga dalam pelaksanaan di lapangan perlu merubah dari rencana awal karena berbedanya anggaran. Muhammad Samsul Hadi (Wakil Bendahara Pesantren Putra Tri Bhakti Attaqwa),Wawancara, tanggal 23 Januari 2008
Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas maupun dari Madrasah Tsanawiyah, ataupun Madrasah Aliyah.
Satu hal yang menarik adalah, bahwa pesantren-pesantren yang pada awalnya mendirikan pesantren salafiyah dan kurang berkembang dan setelah memasukkan sistem pendidikan modern kendati tidak secara total pesantren menjadi berkembang pesat. Keadaan ini karena tuntutan masyarakat sekarang yang memang sudah berbeda dengan keadaan sebelumnya, oleh sebab itu pesantren yang menginginkan perkembangannya lebih pesat akan memilih cara ini.99
3) Pesantren yang secara utuh menerima modernisasi.100 Pesantren dalam tipe ini pada umumnya didirikan oleh alumni pesantren modern yang telah kembali ke daerah asalnya, baik Gontor Ponorogo, Al-Amin Madura, maupun pondok pesantren modern lainnya. Di samping itu terdapat pula pesantren-pesantren modern yang pendirinya merupakan alumni dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.101 Namun ada pula pesantren modern yang merupakan hasil perubahan dari pesantren salafiyah, dan perubahan tersebut berubah secara total
99Contoh nyata dari fenomena ini adalah terjadi di Pondok Pesantren Darul Hidayah, setelah mendirikan pesantren dan bercorak salafiyah sekitar sepuluh tahun, grafik perkembangannya cukup lamban, akan tetapi setelah membuka pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah perkembangan pesantren menjadi pesat. Dari jumlah santri yang rata-rata 250 santri (waktu masih salafiyah) menjadi rata-rata 375 santri setelah mempunyai pendidikan formal. KH. Ihwanul Faruq (Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hidayah, Uman Agung Seputih Mataram Lampung Tengah),Wawancara, tanggal 23 Desember 2007
100Istilah modernisasi yang dimaksud dalam hal ini adalah modernisasi yang diadakan di Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur. Karena dalam beberapa kasus pesantren yang menyebut dirinya pesantren modern adalah pesantren yang mengadopsi sistem pembelajaran di Gontor. Dalam hal ini muncul istilah pesantren modern pure Gontor yang mengadopsi seluruh tradisi dan pakem Gontor apa adanya. Di sisi lain muncul pula istilah non-pure Gontor yang mengadopsi sebagian tradisi dan pakem Gontor namun juga menggunakan kurikulum mandiri. Jajang Jahroni, “Merumuskan Modernitas: Mencetak Muslim Modern, Peta Pendidikan Islam Indonesia, h. 125
101 Untuk wilayah Metro yang hanya mempunyai 5 Kecamatan Pondok Pesantren yang didirikan oleh alumni Al-Azhar Mesir adalah Pondok Pesantren Darussalam, 15 A Kampus, Metro Timur dan Pondok Pesantren Wahdatul Ummah yang terletak di 21 C Yosorejo, Metro Timur. Ustadz Ramadhan, LC, (Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Metro Timur, Lampung),
mengadopsi pesantren Gontor tidak secara parsial. Fenomena yang terjadi di Pondok Pesantren Wali Songo yang beralamat di Jl. Ridho No.03 Bandar Keagungan Raya Abung Selatan Kotabumi Lampung Utara 34581adalah sebuah contoh dari perubahan pesantren yang secara keseluruhan pada tahun 2001 meleburkan diri dari pesantren salafiyah ke pesantren ala Gontor. Pada awalnya pesantren didirikan dengan sistem pendidikan salafiyah,102 namun setelah berkisar sembilan belas tahun pesantren membuka pendidikan hanya memiliki jumlah santri di bawah 13 orang saja. Baru setelah dimodernkan ala Gontor dalam jangka tiga tahun jumlah santri pesantren telah mencapai 300 orang santri.103
Modernisasi lainnya yang tak kalah penting adalah managemen yang berkaitan dengan kesejahteraan para ustadz. Kendati usia pesantren tergolong muda, akan tetapi penyediaan sarana dan prasarana sudah cukup memadai, pihak pesantren juga telah mampu memberikan honorarium yang tergolong tinggi kepada para ustadz dan karyawan di sekolah bila dibandingkan dengan sekolah/ madrasah lainnya, fasilitas perumahan para ustadz juga menjadi perhatian serius dari pengsuh pesantren, bahkan dalam setiap musim haji Pesantren Wali Songo mampu memfasilitasi seorang ustadz untuk beribadah haji yang diatur secara bergantian.
Karena Pondok ini pada mulanya bernuansa salafiyah (100% ilmu agama) dan para santrinya pun sebagain besar berasal dari lapisan sosial ekonomi lemah
102Pesantren Wali Songo sebenarnya didirikan oleh alumni Pondok Pesantren Pacul Gowang, Kediri Jawa Timur, (KH. Drs. M. Noer Qomaruddin AS., MH. dan Ustadz Sholihin) dan merupakan figur yang kental dengan pesantren salafiyah, akan tetapi dengan pertimbangan dari berbagai hal akhirnya pesantren dimodernkan dengan mengadopsi pesantren Gontor. Ustadz Hi.Sholihin (Pengasuh Pesantren Modern Wali Songo),Wawancara, tanggal 27 Nopember 2007.
103Pada tahun 1982 dengan modal yang minim dibangunlah 3 lokal ruang belajar beratap seng tanpa jendela dan pintu. Bangunan ini di atas tanah seluas 3.100. m2, pemberian wakaf dari